IAIN Batusangkaryang mengobati kecuali bila kalian memberi upah. Akhirnya mereka
F. PRODUKSI TERLARANG DALAM ISLAM
1. Orang yang Selalu Meminta-minta (Pengemis)
Orang yang mampu bekerja serta kesehatannya memungkin kan, akan tetapi ia tidak mau bekerja untuk mencari rezeki Allah dengan alasan sibuk beribadah atau tawakal kepada Allah, dan mengandalkan rezeki dari orang lain atau memintaminta sedekah dari orang lain padahal ia mampu untuk memenuhi kebutuhannya dengan bekerja, maka dua hal di atas hukumnya haram. Rasulullah mencela seseorang yang memintaminta padahal ia masih mampu bekerja. Salah satu dalilnya, yaitu:
َساَّنلا َلَأَس ْنَم َمَّلَسَو ِهْيَلَع ُهَّللا ىَّلَص ِهَّللا ُلوُسَر َلاَق َلاَق َةَرْـيَرُه ِبَأ ْنَع
ملسم هاور( ْرِثْكَتْسَيِل ْوَأ َّلِقَتْسَيْلَـف اًرَْج ُلَأْسَي اََّنِإَف اًرُّـثَكَت ْمَُلهاَوْمَأ
“Dari Abu Hurairah ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ‘Siapa yang meminta-minta kepada orang banyak untuk menumpuk harta kekayaan, berarti dia hanya meminta bara api. Sa-ma saja halnya, apakah yang diteriSa-manya sedikit atau banyak’” (H.R. Muslim).2. Prostitusi
Prostitusi merupakan fenomena yang sudah ada sejak lama di dunia, tak terkecuali di Indonesia. Prostitusi bermula semenjak ke rajaaankerajaan Jawa yang menggunakan wanita sebagai bagian dari komoditas feodal. Adapun menurut Laden Marpung dalam bukunya Kejahatan Terhadap Kesusilaan dan Masalah Prevensinya, ia berpendapat bahwa faktorfaktor yang menyebabkan seseorang jatuh ke dunia prostitusi, yaitu: Pertama, faktor ekonomi, dan ke dua faktor sosial. Faktor ekonomi dipengaruhi oleh penghasilan dan kebutuhan seseorang, sedangkan faktor sosial dipengaruhi
IAIN Batusangkar
95 BAB 4 — PRODUKSI
oleh lingkungan maupun pendidikan seseorang (Laden Marpung, 2008: 2).
Prostitusi terjadi akibat kurangnya kesejahteraan lahir dan ba tin. “Kesejahteraan lahir batin” tidak terlepas dari aspek kehidup an atau penghidupan manusia, termasuk rasa aman dan tenteram yang dapat dicapai. Kesulitan untuk memenuhi kebutuhan bagi se gelintir wanita yang tidak memiliki keterampilan (skill), meng aki batkan pada jalan pintas dengan menjajakan dirinya di tempat tempat tertentu (di luar lokalisasi WTS). Ini tentunya menimbulkan pemandangan yang tidak berkenan di hati.
Islam melarang praktik prostitusi serta memberikan ultimatum bagi pelakunya, karena perbuatan ini dapat mengaburkan masa lah keturunan, merusak keturunan, menghancurkan rumah tangga, me re takkan hubungan, merajalelanya penyakit sifilis dan sebagai nya.
Islam mengharamkan praktik prostitusi, dan juga menutup sarana prasarana yang mengakibatkan terjadinya praktik prostitusi, serta mengharamkan cara apa saja serta pengantar yang mengarah pada perbuatan prostitusi, maka dari itu apa saja yang dapat meng arahkan nafsu seksualitas secara ilegal (di luar pernikahan), serta mendorong seseorang yang melakukan perbuatan terkeji tersebut atau mendekati ke arah perbuatan tersebut. Allah menggambarkan perbuatan prostitusi sebagai perbuatan keji yang sangat buruk dan seburukburuknya jalan. Allah berfirman dalam QS. al-Isrā [17]: 32.
َءاَسَو ًةَشِحاَف َناَك ُهَّنِإ َنَِِّزلا اوُبَرْقَ ت لاَو
لايِبَس
Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. dan suatu jalan yang buruk (QS. al-Israز [17]: 32).
Syariat Islam diturunkan untuk kemashlahatan umat manusia baik di dunia maupun di akhirat. Kemaslahatan tersebut dapat terwujud dengan terpenuhinya kebutuhankebutuhan hidup. Salah satu kebutuhan hidup manusia adalah terpenuhinya kebutuhan atas harta. Dan agar terpenuhinya kebutuhan atas harta tersebut,
IAIN Batusangkar
Allah menyuruh hambaNya untuk bekerja dan Allah juga telah menganugerahkan sumbersumber daya produktif, hal ini dijelas kan dalam firmanNya dalam QS. al-Baqarah [2]: 29.
َُّث اًعيَِجَ ِضْرلأا ِفِ اَم ْمُكَل َقَلَخ يِذَّلا َوُه
ِءاَمَّسلا َلَِإ ىَوَ تْسا
ٍءْيَش ِِّلُكِب َوُهَو ٍتاَواََسَ َعْبَس َّنُهاَّوَسَف
ميِلَع
Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh la-ngit. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu (QS. al-Baqarah [2]: 29).
Beberapa prinsipprinsip yang harus diperhatikan dalam mem produksi suatu barang, sebagaimana penulis mengutip pendapat Muhammad alMubarak dalam bukunya Nizāmu al-Islmāiy
al-Iqtis-hādiy Mabadi wa Qawā’id Ammah (1972: 199).
1. Dilarang memproduksi barang dan memperdagangkan komo diti yang tercela karena bertentangan dengan syariat, dan ber sifat haram.
Dalam ekonomi Islam, komoditi yang dihasilkan (baik mela lui hasil produksi, maupun hasil perdagangan) dan dikon sumsi harus diperhatikan, karena tidak semua barang layak diproduksi atau dikonsumsi. Islam secara tegas mengklasifi ka si kan komoditi menjadi dua bagian. Pertama, komoditi yang disebut oleh AlQur’an thayyibat yaitu komoditi yang le gal dikonsumsi dan diproduksi, dan kedua khabaits yaitu ko mo diti ilegal untuk dikonsumsi maupun diproduksi, seperti dite gas kan oleh AlQur’an QS. al-A’raaf ayat 157
َّيِِّملأا َِّبَِّنلا َلوُسَّرلا َنوُعِبَّتَ ي َنيِذَّلا
ِفِ ْمُهَدْنِع ابًوُتْكَم ُهَنوُدَِيَ يِذَّلا
ِليِْنْلإاَو ِةاَرْوَّ تلا
ُمَُلَ ُّلُِيَُو ِرَكْنُمْلا ِنَع ْمُهاَهْ نَ يَو ِفوُرْعَمْلِبً ْمُهُرُمَْيَ
ْمُهَرْصِإ ْمُهْ نَع ُعَضَيَو َثِئاَبَْلْا ُمِهْيَلَع ُمِِّرَُيَُو ِتاَبِِّيَّطلا
ِتَِّلا َللاْغلأاَو
َع ْتَناَك
ُهوُرَّزَعَو ِهِب اوُنَمآ َنيِذَّلاَف ْمِهْيَل
َلِزْنُأ يِذَّلا َروُّنلا اوُعَ بَّ تاَو ُهوُرَصَنَو
ُمُه َكِئَلوُأ ُهَعَم
َنوُحِلْفُمْلا
IAIN Batusangkar
97 BAB 4 — PRODUKSI
(yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang Ummi yang (na-manya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma’ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang munkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka, maka orang-orang yang beriman kepadanya memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al-Qur’an), mereka itulah orang-orang yang beruntung.
Berdasarkan firman Allah di atas, Ar Razi dalam bukunya
Tafsir al-Razi (dalam M. Farah, 1998: 67), berpendapat bah
wa ayat di atas mengandung makna yang luas, sebab itu, ia menyimpulkan bahwa kriteria al-Thayyibat dan khabaits tidak hanya berlaku pada komoditi barang saja tetapi juga berlaku kepada komoditi jasa. Hal ini juga ditegaskan dalam Hadis Nabi, yaitu:
ِرْكَب ِبَأ ْنَع ٍباَهِش ِنْبا ْنَع ٌكِلاَم اَنَرَـبْخَأ َفُسوُي ُنْب ِهَّللا ُدْبَع اَنَـثَّدَح
ِهَّللا َلوُسَر َّنَ ُهْنَع ُهَّللا َيِضَر ِّيِراَصْنَْلأا ٍدوُعْسَم ِبَأ ْنَع ِنَْحَّرلا ِدْبَع ِنْب
ِنِهاَكْلا ِناَوْلُحَو ِّيِغَبْلا ِرْهَمَو ِبْلَكْلا ِنََث ْنَع ىَهَـن َمَّلَسَو ِهْيَلَع ُهَّللا ىَّلَص
)هيلع قفتم هاور(
“Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Yusuf telah mengabarkan kepada kami Malik dari Ibnu Syihab dari Abu Bakar bin ‘Abdurrahman dari Abu Mas’ud Al Anshariy radliallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shal-lallahu ‘alaihi wasallam melarang uang hasil jual beli anjing, mahar seorang pezina dan upah bayaran dukun” (H.R. Muttafaqu Alaihi).2. Dilarang melakukan kegiatan produksi yang mengarahkan ke pada kezaliman (Taqiyuddin Nabbhani, 1996: 6465).
Apabila suatu transaksi mengandung kezaliman terhadap sa lah satu pihak, maka transaksi tersebut hukumnya makruh. Ini diperkuat oleh Firman Allah Swt. dalam QS. al-Nisaa’ ayat 29.
ْمُكالااوْماأ اوُلُكْاتَ لا اوُنامآ انيِذَّلا ااهُّ ياأ ايَ
ًةارااِتِ انوُكات ْناأ لاِإ ِلِطاابْلِبِ ْمُكانْ يا ب
لااو ْمُكْنِم ٍضاارا ت ْناع
اًميِحار ْمُكِب انااك اَّللَّا َّنِإ ْمُكاسُفْ ناأ اوُلُ تْقا ت
IAIN Batusangkar
ْمُكالااوْماأ اوُلُكْاتَ لا اوُنامآ انيِذَّلا ااهُّ ياأ ايَ
ًةارااِتِ انوُكات ْناأ لاِإ ِلِطاابْلِبِ ْمُكانْ يا ب
لااو ْمُكْنِم ٍضاارا ت ْناع
اًميِحار ْمُكِب انااك اَّللَّا َّنِإ ْمُكاسُفْ ناأ اوُلُ تْقا ت
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu Sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.
Menurut Quraisy Shihab dalam bukunya Tafsir al-Misbah, ia berpendapat bahwa larangan memakan harta dengan menggu na kan kata “bainakum” memberikan qarinah bahwa memakan/mem peroleh harta yang dilarang adalah larangan melakukan tran saksi/ perpindahan harta yang tidak mengantarkan masyarakat ke pada kesuksesan, akan tetapi mengantarkan masyarakat kepada kehan curan dan kebejatan seperti praktik jual beli yang mengan dung riba, perjudian, dan penipuan (M. Quraisy Shihab, 2002: 499). Dalam transaksi yang mengandung nilai riba, judi, dan pe nipuan mengandung kezaliman terhadap salah satu pihak yakni pihak pembeli. Adapun salah satu syarat sahnya jual beli adalah keridha an kedua belah pihak, baik secara lisan ataupun melalui qa rinah. Maka, apabila transaksi tersebut tidak ridha, maka tran saksi jual beli tidak sah.
Adapun bentukbentuk transaksi jual beli yang mengandung un sur kezaliman adalah sebagai berikut:
1) al-Ghisy
ِنَْحَّرلا ِدْبَع ِنْب ِء َلاَعْلا ْنَع ٍرَفْعَج ُنْب ُليِعَْسِإ اَنَرَـبْخَأ ٍرْجُح ُنْب ُّيِلَع اَنَـثَّدَح
ٍةَرْـبُص ىَلَع َّرَم َمَّلَسَو ِهْيَلَع ُهَّللا ىَّلَص ِهَّللا َلوُسَر َّنَأ َةَرْـيَرُه ِبَأ ْنَع ِهيِبَأ ْنَع
ِماَعَّطلا َبِحاَص اَي َلاَقَـف ًلاَلَـب ُهُعِباَصَأ ْتَلاَنَـف اَهيِف ُهَدَي َلَخْدَأَف ٍماَعَط ْنِم
َّتىَح ِماَعَّطلا َقْوَـف ُهَتْلَعَج َلاَفَأ َلاَق ِهَّللا َلوُسَر اَي ُءاَمَّسلا ُهْتَـباَصَأ َلاَق اَذَه اَم
ِبَأَو َرَمُع ِنْبا ْنَع باَبْلا ِفيَو َلاَق اَّنِم َسْيَلَـف َّشَغ ْنَم َلاَق َُّث ُساَّنلا ُهاَرَـي
وُبَأ َلاَق ِناَمَيْلا ِنْب َةَفْـيَذُحَو ٍراَيِن ِنْب َةَدْرُـب ِبَأَو َةَدْيَرُـبَو ٍساَّبَع ِنْباَو ِءاَرْمَْلا
َدْنِع اَذَه ىَلَع ُلَمَعْلاَو ٌحيِحَص ٌنَسَح ٌثيِدَح َةَرْـيَرُه ِبَأ ُثيِدَح ىَسيِع
IAIN Batusangkar
99 BAB 4 — PRODUKSI
(يذمترلا هاور( ٌماَرَح ُّشِغْلا اوُلاَقَو َّشِغْلا اوُهِرَك ِمْلِعْلا ِلْهَأ
“Telah menceritakan kepada kami Ali bin Hujr, telah mengabarkan ke-pada kami Isma’il bin Ja’far dari Al ‘Ala` bin Abdurrahman dari ayahnya dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam me -le wati setumpuk makanan, lalu beliau memasukkan tangan ke da-lam nya dan jari-jarinya mengenai sesuatu yang basah, beliau pun me ngatakan: ‘Wahai pemilik makanan, apa ini?’ ia menjawab: Ter kena hujan, wahai Rasulullah. Beliau mengatakan: ‘Mengapa engkau tidak menempatkannya di atas makanan ini hingga orang-orang melihat-nya?’ Kemudian beliau bersabda: ‘Barangsiapa berbuat curang, ia tidak termasuk golongan kami.’ Ia mengatakan; Dalam hal ini ada Hadis serupa dari Umar, Abu Al-Hamra`, Ibnu Abbas, Abu Burdah bin Niyar dan Hudzaifah bin Al Yaman. Abu Isa berkata; Hadis Abu Hurairah adalah Hadis hasan shahih dan menjadi pedoman amal menurut para ulama, mereka memakruhkan perbuatan curang, mereka mengatakan: perbuatan curang adalah haram” (H.R. Turmidzi).2) Najasy
ُهَّللا َيِضَر َرَمُع ِنْبا ْنَع ٍعِفاَن ْنَع ٌكِلاَم اَنَـثَّدَح َةَمَلْسَم ُنْب ِهَّللا ُدْبَع اَنَـثَّدَح
(يراخبلا هاور( ِشْجَّنلا ْنَع َمَّلَسَو ِهْيَلَع ُهَّللا ىَّلَص ُِّبَّنلا ىَهَـن لاَق اَمُهْـنَع
“Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Maslamah telah men-ceritakan kepada kami Malik dari Nafi’ dari Ibnu ‘Umar radliallahu ‘anhuma berkata; Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melarang dari me -nam bahkan harga barang dagangan yang mengandung unsur peni-puan terhadap orang lain” (H.R. Bukhariy).Hadis Lainnya