• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sunnah Fi’liyah

Dalam dokumen MUAMALAH KONTEMPORER. IAIN Batusangkar (Halaman 41-48)

Perbuatan Nabi saw. yang dilakukan di hadapan para Sa ha­ batnya, kemudian Sahabat tersebut menyampaikannya pada orang lain dan diteruskan kepada generasi selanjutnya sampai pada ting­ katan mukharij Hadis. Berkenaan dengan Sunnah Fi’liyah para ula­ ma ushul membagi perbuatan Nabi menjadi tiga macam (Nas run Haroen, 1996: 40), yaitu:

a. Perbuatan yang muncul dari pribadi Rasulullah sebagai ma­ nusia biasa, seperti makan, duduk, dan berpakaian. Perbuatan ini tidak termasuk Sunnah yang wajib diikuti umatnya, karena perbuatan ini merupakan ciri khas Nabi sebagai manusia biasa. Termasuk di dalamnya adalah perbuatan Rasulullah akibat keahlian dan pengamalan hidup dalam urusan duniawi, se­ per ti perdagangan, pertanian, peperangan, dan pengobatan.

IAIN Batusangkar

b. Perbuatan yang dilakukan khusus untuknya seperti shalat ta­ hajud tiap malam, mengawini wanita lebih dari empat, dan tidak menerima sedekah dari orang lain. Perbuatan ini khusus untuknya dan tidak wajib diikuti umatnya.

c. Perbuatan mengenai hukum dan alasannya, perbuatan ini ber­ kaitan dengan wajib, sunnah, boleh, makruh, dan haram. Ini wajib diikuti dan merupakan sandaran hukum.

Adapun contoh Hadis fi’liyah adalah kebolehan akad istisna:

ِمَجَعْلا َلىِإ َبُتْكَي ْنَأ َداَرَأ َناَك َمَّلَسَو ِهْيَلَع ُهَّللا ىَّلَص ِهَّللا َِّبَن َّنَأ ٍسَنَأ ْنَع

ٍةَّضِف ْنِم اًَتاَخ َعَنَطْصاَف ٌَتاَخ ِهْيَلَع اًباَتِك َّلاِإ َنوُلَـبْقَـي َلا َمَجَعْلا َّنِإ ُهَل َليِقَف

)ملسم هاور(

Dari Anas bahwa ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam hen-dak mengirim surat kepada orang-orang ‘Ajam (selain orang Arab), dikatakan kepada beliau bahwa mereka (orang-orang ‘Ajam) tidak mau membaca surat tanpa ada stempelnya. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam membuat sebuah cincin dari perak.” (HR. Muslim)

3. Sunnah Taqririyah

Ialah perbuatan atau ucapan sahabat yang dilakukan di dekat Rasulullah dan dilakukan dengan sepengetahuannya, akan tetapi Rasullullah diam atau tertawa dan tidak menghalanginya. Sikap diam dan tertawa Nabi tersebut merupakan qarinah bahwa Nabi menyetujui tindakan sahabat tersebut dan ini dapat dijadikan se­ bagai sumber hukum (Nasrun Haroen, 1996: 40). Adapun con toh­ nya dalam masalah muamalah adalah keabsahan akad ju’a lah (sa­ yembara), yaitu:

ىَّلَص ِِّبَّنلا ِباَحْصَأ ْنِم ٌرَفَـن َقَلَطْنا َلاَق ُهْنَع ُهَّللا َيِضَر ٍديِعَس ِبَأ ْنَع

ِبَرَعْلا ِءاَيْحَأ ْنِم ٍّيَح ىَلَع اوُلَزَـن َّتىَح اَهوُرَـفاَس ٍةَرْفَس ِفي َمَّلَسَو ِهْيَلَع ُهَّللا

ِّلُكِب ُهَل اْوَعَسَف ِّيَْلا َكِلَذ ُدِّيَس َغِدُلَـف ْمُهوُفِّـيَضُي ْنَأ اْوَـبَأَف ْمُهوُفاَضَتْساَف

اوُلَزَـن َنيِذَّلا َطْهَّرلا ِء َلاُؤَه ْمُتْيَـتَأ ْوَل ْمُهُضْعَـب َلاَقَـف ٌءْيَش ُهُعَفْـنَـي َلا ٍءْيَش

اَنَدِّيَس َّنِإ ُطْهَّرلا اَهُّـيَأ اَي اوُلاَقَـف ْمُهْوَـتَأَف ٌءْيَش ْمِهِضْعَـب َدْنِع َنوُكَي ْنَأ ُهَّلَعَل

IAIN Batusangkar

33 BAB 2 — DASAR HUKUM MUAMALAH

َلاَقَـف ٍءْيَش ْنِم ْمُكْنِم ٍدَحَأ َدْنِع ْلَهَـف ُهُعَفْـنَـي َلا ٍءْيَش ِّلُكِب ُهَل اَنْـيَعَسَو َغِدُل

اَنوُفِّـيَضُت ْمَلَـف ْمُكاَنْفَضَتْسا ْدَقَل ِهَّللاَو ْنِكَلَو يِقْرََلأ ِّنِإ ِهَّللاَو ْمَعَـن ْمُهُضْعَـب

ِمَنَغْلا ْنِم ٍعيِطَق ىَلَع ْمُهوَُلاَصَف ًلاْعُج اَنَل اوُلَعَْت َّتىَح ْمُكَل ٍقاَرِب اَنَأ اَمَف

ٍلاَقِع ْنِم َطِشُن اََّنَأَكَف َيِمَلاَعْلا ِّبَر ِهَّلِل ُدْمَْلا ُأَرْقَـيَو ِهْيَلَع ُلِفْتَـي َقَلَطْناَف

َلاَقَـف ِهْيَلَع ْمُهوَُلاَص يِذَّلا ْمُهَلْعُج ْمُهْوَـفْوَأَف َلاَق ٌةَبَلَـق ِهِب اَمَو يِشَْيم َقَلَطْناَف

ِهْيَلَع ُهَّللا ىَّلَص َِّبَّنلا َِتْأَن َّتىَح اوُلَعْفَـت َلا ىَقَر يِذَّلا َلاَقَـف اوُمِسْقا ْمُهُضْعَـب

ىَّلَص ِهَّللا ِلوُسَر ىَلَع اوُمِدَقَـف اَنُرُمْأَي اَم َرُظْنَـنَـف َناَك يِذَّلا ُهَل َرُكْذَنَـف َمَّلَسَو

ْمُتْبَصَأ ْدَق َلاَق َُّث ٌةَيْـقُر اَهَّـنَأ َكيِرْدُي اَمَو َلاَقَـف ُهَل اوُرَكَذَف َمَّلَسَو ِهْيَلَع ُهَّللا

َمَّلَسَو ِهْيَلَع ُهَّللا ىَّلَص ِهَّللا ُلوُسَر َكِحَضَف اًمْهَس ْمُكَعَم ِل اوُبِرْضاَو اوُمِسْقا

)يراخبلا هاور(

“Dari Abu Sa’id radliallahu ‘anhu berkata: Ada rombongan beberapa orang dari sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang bepergian dalam suatu perjalanan hingga ketika mereka sampai di salah satu perkampungan Arab penduduk setempat mereka meminta agar bersedia menerima mereka sebagai tamu peenduduk tersebut namun penduduk menolak. Kemudian kepala suku kampung tersebut terkena sengatan binatang lalu diusahakan segala sesuatu untuk menyembuhkannya namun belum berhasil. Lalu di antara mereka ada yang berkata: Coba kalian temui rambongan itu semoga ada di antara mereka yang memiliki sesuatu. Lalu mereka mendatangi rambongan dan berkata: ‘Wahai ram bongan, sesungguhnya kepala suku kami telah digigit binatang dan kami telah mengusahakan pengobatannya namun belum berhasil, apa kah ada di antara kalian yang dapat menyembuhkannya?” Maka berkata, seorang dari rambongan: Ya, demi Allah aku akan mengobati namun demi Allah kemarin kami meminta untuk menjadi tamu kalian namun kalian tidak berkenan maka aku tidak akan menjadi orang yang mengobati kecuali bila kalian memberi upah. Akhirnya mereka sepakat dengan imbalan puluhan ekor kambing. Maka dia berangkat dan membaca alhamdulillah rabbil ‘alamiin (QS. al-Fatihah) seakan penyakit lepas dari ikatan tali padahal dia pergi tidak membawa obat apa pun. Dia berkata: Maka mereka membayar upah yang telah mereka sepakati kepadanya. Seorang dari mereka berkata: “Bagilah kam bing-kambing itu!’ Maka orang yang mengobati berkata: ‘Jangan kalain bagikan hingga kita temui Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam lalu kita ceritakan kejadian tersebut kepada beliau shallallahu ‘alaihi wasallam dan kita tunggu apa yang akan Beliau perintahkan kepada

IAIN Batusangkar

kita’. Akhirnya rombongan menghadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi

wasallam lalu mereka menceritakan peristiwa tersebut. Beliau berkata: “Kamu tahu dari mana kalau al-Fatihah itu bisa sebagai ruqyah (obat)?” Kemudian beliau melanjutkan: ‘Kalian telah melakukan perbuatan yang benar, maka bagilah upah kambing-kambing tersebut dan masuk kan-lah aku dalam sebagai orang yang menerima upah tersebut’” (H.R. Bukhariy).

Ulama sepakat bahwa hadis Rasulullah dalam bentuk qauliyah,

fi’liyah, dan taqririyah merupakan sumber asli hukum­hukum sya ra’

dan menempati posisi kedua setelah Al­Qur’an. (Nasrun Haroen: 1996: 47), Adapun alasan yang dipakai untuk menguatkan per nya­ taan di atas, yaitu:

1. QS. al-Hasyr [59]: ayat 7

ُهْنَع ْمُكاَهَ ن اَمَو ُهوُذُخَف ُلوُسَّرلا ُمُكَتَآ اَمَو ْمُكْنِم ِءاَيِنْغلأا

اوُقَّ تاَو اوُهَ تْ ناَف

ِباَقِعْلا ُديِدَش ََّللَّا َّنِإ ََّللَّا

… Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. …

2. QS. al-Nisā [4]: 59

اَّللّا اوُعيِطاأ اوُنامآ انيِذَّلا ااهُّ ياأ ايَ

ْنِإاف ْمُكْنِم ِرْملأا ِلِوُأاو الوُسَّرلا اوُعيِطاأاو

ءْياش ِفِ ْمُتْعازاانا ت

َِّللِّبِ انوُنِمْؤُ ت ْمُتْ نُك ْنِإ ِلوُسَّرلااو َِّللّا الَِإ ُهوُّدُرا ف

ِمْوا يْلااو

لايِوْاتَ ُناسْحاأاو ٌرْ ياخ اكِلاذ ِرِخلآا

Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya (QS. an-Nisaa [4]: 59).

Pemberlakuan sunnah sebagai sumber hukum Islam dan da­ lil menempati urutan kedua setelah Al­Qur’an. Sunnah sebagai sumber hukum Islam diberlakukan sebagai penjelas hukum yang

IAIN Batusangkar

35 BAB 2 — DASAR HUKUM MUAMALAH

terdapat di dalam Al­Qur’an, untuk mengisi kekosongan hukum yang tidak terdapat dalam Al­Qur’an, dan memperkuat hukum yang telah dijelaskan oleh Al­Qur’an. Sebagai penjelas terhadap hukum­hukum yang terdapat di dalam Al­Qur’an ada beberapa bentuk yaitu: (Nasrun Haroen, 1996: 48).

1. Menjelaskan dengan perinci hukum global (mujmal) yang ada di dalam Al­Qur’an, seperti kehalalan transaksi jual beli dan keha raman riba. Transaksi jual beli masih bersifat global, ka­ rena tidak dijelaskan tentang macam­macamnya, larangan di dalam transaksi jual beli, rukun dan syaratnya yang secara substansi terdapat di dalam Sunnah Nabi, seperti larangan jual beli sesuatu yang belum sampai di tangan.

َلاَقَـف ُتْلَعَـف اَم ُناَوْرَم َلاَقَـف اَبِّرلا َعْيَـب َتْلَلْحَأ َناَوْرَمِل َلاَق ُهَّنَأ َةَرْـيَرُه ِبَأ ْنَع

َمَّلَسَو ِهْيَلَع ُهَّللا ىَّلَص ِهَّللا ُلوُسَر ىَهَـن ْدَقَو ِكاَكِّصلا َعْيَـب َتْلَلْحَأ َةَرْـيَرُه وُبَأ

اَهِعْيَـب ْنَع ىَهَـنَـف َساَّنلا ُناَوْرَم َبَطَخَف َلاَق َفىْوَـتْسُي َّتىَح ِماَعَّطلا ِعْيَـب ْنَع

م )ملسم هاور( ِساَّنلا يِدْيَأ ْنِم اَهَـنوُذُخْأَي ٍسَرَح َلىِإ ُتْرَظَنَـف ُناَمْيَلُس َلاَق

“Dari Abu Hurairah bahwa dia berkata kepada Marwan: ‘Apakah ka mu menghalalakan jual beli riba?’ Marwan menjawab; Saya tidak meng-halalkannya. Abu Hurairah melanjutkan; “Kamu menghalalkan jual beli shikak (surat kertas) yang dikeluarkan oleh penguasa, bertu liskan sejumlah makanan atau selainnya yang diberikan kepada orang yang berhak). Sungguh Rasulullah shallallu ‘alaihi wasallam mela rang men-jual bahan makanan sampai ia ditimbang terlebih da hulu.’ Sulai man berkata: ‘Lantas Marwan mengumumkan kepada orang-orang dan me-larang jual beli seperti itu.’ Sulaiman berkata: ‘Saya dan para pe ngawal mengambilnya dari tangan orang-orang’” (HR. Muslim).

2. Menjelaskan maksud hukum mutlak yang ada di dalam Al­ Qur’an, seperti perintah potongan bagi pelaku tindak pidana eko nomi pencurian. Perintah Allah untuk memotong tangan tersebut tidak menjelaskan ukuran yang dipotong, dan nisab harta yang dicuri. Fungsi Rasullulah adalah mengakadkan hu­ kum yang bersifat mutlak tersebut, sehingga hukum tersebut menjadi sejelas­jelasnya. Dalam permasalahan ini, Rasulullah

IAIN Batusangkar

mengaitkan hukum potong tangan di dalam Al-Qur’an, yang di potong hanya sampai pergelangan tangan (H.R. al-Bukhāriy, Muslim).

3. Mengkhususkan hukum yang bersifat am di dalam Al-Qur’an, se perti contoh pembagian harta warisan/tirkah.

١١ ... ِرَكَّذلِل ْمُكِدَلاْوَأ ِْف ُهَّللا ُمُكْيِصْوـُي

“Allah mensyariatkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu... ” (QS. an-Nisaa' [4]: 11).

Kalimat “anak-anakmu” dalam firman Allah di atas masih ber-sifat am (umum), yaitu setiap anak-anak baik yang berakh-lak baik atau buruk. Akan tetapi, apabila anak tersebut ber-akh lak tercela dengan menghabisi nyawa orangtua demi meng harapkan warisan, apakah ia mendapatkannya. Dalam per ma salahan ini Rasulullah menjelaskan “Pembunuh tidak

men da patkan warisan” (H.R. Muslim).

Para ahli ushûl al-Fiqhiy berbeda pendapat dalam memahami makna posisi Rasulullah sebagai pembuat hukum baru yang tidak terdapat di dalam Al-Qur’an, di antaranya sebagai berikut (Nasrun Haroen, 1996: 50).

a. Jumhur ulama

Jumhur ulama berpendapat bahwa Rasulullah dibolehkan membuat hukum baru, karena pada dasarnya hukum-hukum tersebut tidak dijelaskan di dalam Al-Qur’an. Ini dite-kankan bahwa ketaatan seorang Muslim kepada Rasulullah, di kait kan dengan ketaatan kepada Allah. Contohnya larangan mengonsumsi daging himar kampung.

b. Sebagian ahli ushûl al-Fiqhiy.

Bahwa Rasulullah tidak dibolehkan menetapkan hukum yang tidak ada dasarnya di dalam Al-Qur’an. Hukum-hukum yang ditetapkan oleh Rasulullah adalah hasil interpretasi Ra sullah terhadap ayat-ayat Al-Qur’an melalui metode qiyās, me tode

mashlahah, atau kaidah-kaidah yang terdapat di dalam

IAIN Batusangkar

37 BAB 2 — DASAR HUKUM MUAMALAH

yang berbentuk tambahan, merupakan hasil Ijtihad beliau da lam memahami ayat­ayat Al­Qur’an, yang tidak terlepas da ri kandungan Al­Qur’an. sehingga secara tidak langsung Ra sulullah bukanlah menetapkan hukum baru, tetapi hasil ijti had beliau berdasarkan Al­Qur’an.

E. IJMĀ’

Secara etimologi ijmā’ mengandung dua definisi yakni (Syari­ fuddin, 1997: 112):

1. Ijmā’ dengan arti

ئيش ىلع مزعلا

adalah ketetapan hati untuk melakukan sesuatu atau keputusan untuk berbuat sesuatu. Dalam pengertian ini Ijmā’ berarti pengambilan keputusan. Hal ini terlihat pada firman Allah di dalam QS. Yûnus ayat 7.

…)١٧( .… ْمُكَءاَكَرُشَو ْمُكَرْمَأ اوُعِْجَأَف

…Karena itu bulatkanlah keputusanmu dan (kumpulkanlah)

sekutu-sekutumu (untuk membinasakanku)…

2. Ijmā’ dengan arti kesepakatan. Ijmā’ dalam arti kesepakatan da pat dilihat dari firman Allah QS. Yûsuf [12]: 15.

ِف ُهوُلَعمَيَ منَأ اوُعَمجَْأَو ِهِب اوُبَهَذ اَّمَلَ ف

ممُهَّ نَ ئِِّبَنُ تَل ِهميَلِإ اَنم يَحموَأَو ِِّبُملْا ِةَباَيَغ

اَذَه ممِهِرممَِبِ

َنوُرُعمشَي لا ممُهَو

Maka tatkala mereka membawanya dan sepakat memasukkannya ke dasar sumur (QS. Yusuf [12]: 15).

Adapun secara terminologi menurut para ushullin, ada perbe­ daan pendapat tentang perumusan makna ijmā’. Perbedaan ini terletak pada jumlah pelaku yang melakukan suatu kesepakatan, akan tetapi mereka sepakat bahwa substansi ijma’ adalah kesepa­ katan.

Imam al­Ghazaliy (dalam Nasrun Haroen, 1996: 52) ber pen ­ dapat bahwa ijma’ merupakan “kesepakatan umat Muhammad

IAIN Batusangkar

Dalam dokumen MUAMALAH KONTEMPORER. IAIN Batusangkar (Halaman 41-48)