BAB II DASAR TEORI
2.5 Quality of Service (QoS)
2.5.3 Packetloss
Packetloss merupakan suatu parameter yang menggambarkan suatu kondisi yang menunjukkan jumlah total paket yang hilang. Kegagalan paket tersebut dalam mencapai tujuan, dapat disebabkan oleh beberapa kemungkinkan, diantaranya yaitu[7]:
Kategori Penilaian Besar Delay (ms) Indeks
Sangat Bagus <150 4
Bagus 150 – 300 3
Sedang 300 – 450 2
Buruk >450 1
Kategori Penilaian Throughput Indeks
Sangat Bagus 100 1
Bagus 75 2
Sedang 50 3
Buruk <25 4
a. Congestion atau terjadi kemacetan trafik didalam jaringan b. Tabrakan (collision) dalam jaringan
c. Paket data yang corrupt
d. Kesalahan yang terjadi pada media.
Implementasi pada jaringan, nilai packetloss sangat diharapkan mempunyai nilai yang minimum. Dalam mencari nilai dari packetloss, terdapat persaaman perhitungannya ;
𝑃𝑎𝑐𝑘𝑒𝑡 𝑙𝑜𝑠𝑠 =𝑃𝑎𝑘𝑒𝑡 𝑑𝑎𝑡𝑎 𝑑𝑖𝑘𝑖𝑟𝑖𝑚−𝑝𝑎𝑘𝑒𝑡 𝑑𝑎𝑡𝑎 𝑑𝑖𝑡𝑒𝑟𝑖𝑚𝑎
𝑃𝑎𝑘𝑒𝑡 𝑑𝑎𝑡𝑎 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑑𝑖𝑘𝑖𝑟𝑖𝑚 × 100% (2.3)
Secara umum terdapat empat kategori penurunan performansi jaringan berdasarkan nilai packetloss seperti pada tabel 2.4.
Tabel 2. 4 Kategori Packetloss [9]
Kategori Penilaian Packetloss (%) Indeks
Sangat Bagus 0 – 3 4
Bagus 3 – 15 3
Sedang 15 – 25 2
Buruk < 25 1
22
BAB III
RANCANGAN PENELITIAN
3.1 Parameter Simulasi
Proses simulasi terdiri dari tiga bagian yaitu mengirimkan sejumlah paket data yaitu 4000bit, 8000bit, 15000bit dengan tipe file HTTP dan ICMP, kemudian paket data akan di proses pada jaringan dengan menggunakan topologi tree. Paket data akan di proses pada jaringan yang telah dikonfigurasikan teknik routing Border Gateway Protocol (BGP) dan Open Shortest Path First (OSPF). Paket data yang dikirim berupa random data. Router dengan teknik Border Gateway Protocol (BGP) dan Open Shortest Path First (OSPF) akan memproses paket data yang dikirim untuk mencapai tujuannya. Dari proses tersebut akan menghasilkan data yang kemudian akan digunakan untuk mencari parameter pengujian yaitu delay, packetloss, dan throughput. Diagram blok proses simulasi ditunjukan pada Gambar 3.1.
Dalam proses simulasi akan menggunakan beberapa parameter dan akan terus digunakan pada setiap pengujian. Parameter tersebut dapat dilihat pada tabel 3.1.
Gambar 3. 1 Proses Simulasi
Tabel 3. 1 Parameter Simulasi
Parameter Value
Routing Protokol BGP dan OSPF
Tipe Jaringan Kampus
IP Address IP versi 4
Tipe Router Cisco 2811
Jumlah Router 6 Router
Tipe Switch Switch 2950-24
Jumlah Switch 16 switch
Jumlah End-Device (PC/Server) 36 PC/ 1 Server
Jenis Paket Data ICMP dan HTTP
Size Paket Data 4000 bit, 8000 bit, 15000 bit
3.2 Perancangan Topologi Jaringan
Jaringan yang dirancang adalah jaringan lokal atau Local Area Network (LAN) dengan arsitektur dari topologi tree. Perancangan akan dibuat menggunakan simulator jaringan yaitu Cisco Packet Tracer. Perancangan jaringan dengan topologi dimulai dengan membuat sebuah jaringan yang arsitektur nya disesuaikan dengan bentuk dari topologi tree.
Dari visualnya, jaringan dibangun menggunakan perangkat keras seperti server, router, switch, dan komputer. Perangkat-perangkat yang ada akan disambungkan menggunakan media transmisi berupa kabel. Jaringan yang telah dibuat akan di berikan IP address versi 4 sebagai identitas dan diperlukan saat melakukan konfigurasi teknik routing dan pengujian.
Jaringan yang telah diberi identitas akan dikonfigurasi menggunakan teknik routing Border Gateway Protocol (BGP) dan Open Shortest Path First (OSPF) dan dilakukan pengujian dengan mengirimkan sejumlah paket. Pengujian akan dilakukan dengan memperhatikan parameter Quality of Service yaitu delay, throughput, dan packetloss.
Persiapan perancangan jaringan adalah dengan mengamsumsikan daerah kampus atau perkantoran yang terdiri lima Gedung (Gedung A, B, C, D, E, dan F). Router A dan B diasumsikan sebagai Gedung Fakultas, dan Router C, D, E, dan F merupakan Gedung Program Studi. Masing-masing Gedung memiliki 9 komputer (klien). Rancangan jaringan dapat dilihat pada gambar 3.2. Pada gambar tersebut terdapat label seperti J1, J2, J3 sampai
J10 dimana hal tersebut merupakan jumlah jaringan yang menjadi pembeda untuk menetukan alamat IP.
Pada gambar 3.2 merupakan rancangan jaringan yang menggunkan topologi tree.
Topologi tree merupakan arsitektur jaringan bertingkat atau seperti pohon, dimana tingkat pertama terletak pada router A dan B. Tingkat kedua berada pada Router C, D, E, F, begitu seterusnya hingga tingkatan terakhir berada pada komputer/PC. Topologi tree juga merupakan kombinasi dari topologi bus dan star. Topologi bus terliat pada router A dan B yang terhubung sejajar, sedangkan topologi star terlihat pada Router C, D, E, F yang terhubung pada switch, dan switch terhubung dengan komputer.
Jaringan tersebut dibangun menggunakan perangkat keras yaitu server, router, switch, dan komputer. Agar perangkat tersebut dapat terhubung secara fisik diperlukannya media transmisi. Media transmisi yang digunakan untuk menyambungkan antar router yaitu kabel serial DTE. Kabel serial DTE digunakan sebagai interface antara perangkat terminal komunikasi data sedangkan antar switch menggunakan kabel jenis over. Kabel cross-over digunakan untuk menghubungkan dua perangkat jaringan yang sama jenis. Sedangkan yang menyambungkan perangkat router ke switch yaitu kabel straigh-throught, begitu juga dengan switch ke tiap komputer. Kabel straigh-throught digunakan untuk menghubungkan dua perangkat jaringan yang berbeda jenis. Jaringan yang dibangun tersebut akan dikonfigurasi secara topologi jaringan, sehingga dapat melakukan setting alamat IP untuk
Gambar 3. 2 Rancangan Topologi BGP dan OSPF
masing-masing perangkat yang digunakan. Tiap perangkat dan port kabel penghubung akan diberikan nomor alamat IP. Pengalamatan IP address akan menggunakan IP address versi 4 jenis publik.
3.2.1 Jaringan OSPF
Perancangan jaringan Open Shortest Path First (OSPF) akan dibagi berdasarkan area, pmbagian area yang lebih dari satu disebut multiple area. Model jaringan multiple area OSPF yang dirancang terdiri dari tiga area yaitu area 0, area 1, dan area 2. Multiple area OSPF berguna dalam penyebaran jaringan yang lebih besar untuk mengurangi overhead pemrosesan dan memori. Dengan menggunakan konsep area routing sistem penyebaran informasi menjadi lebih teratur dan tersegmentasi, karena tidak menyebar kemana-mana.
Dengan begitu, penggunaan bandwidth nya akan lebih efisien, lebih cepat mencapai konvergensi, dan lebih baik dalam menentukan rutenya. Pembagian area OSPF dapat dilihat pada Gambar 3.3.
3.2.2 Jaringan BGP
Rancangan jaringan Border Gateway Protocol (BGP) yang dibangun memiliki beberapa Autonomous System (AS), untuk membedakan antar AS diperlukan Autonomous System Number (ASN). AS memiliki identifier untuk bertukar informasi dengan AS lain berupa nomor yang disebut Autonomous System Number (ASN). Dalam rancangan jaringan tersebut menggunakan AS 100, 200, 300, 400, 500, dan 600 untuk saling membedakan. AS yang digunakan termasuk dalam kategori multihomed AS. Multihomed adalah AS yang mempunyai koneksi ke lebih dari satu AS lainnya.
Gambar 3. 3 Rancangan area multiple OSPF
Gambar 3. 4 Perancangan jaringan BGP
Seperti pada Gambar 3.4 AS 100 dan AS 400 mempunyai lebih dari satu gerbang keluaran jaringan sedangkan AS 200, AS 300, AS 500, dan AS 600 merupakan Stub AS atau single homed karena berada pada jaringan ujung dan hanya memiliki satu gateaway untuk menuju AS lainnya. Dalam pertukaran informasi antar AS terdapat dua tipe pertukaran pada BGP yaitu Internal BGP dan External BGP. IBGP melakukan pertukaran diantara AS sedangkan EBGP melakukan pertukaran dalam AS yang sama. EBGP dan IBGP akan saling bekerjasama untuk melakukan pertukaran rute. Rancangan jaringan BGP dapat dilihat pada Gambar 3.4.
3.3 IP Address
Pengalamatan IP akan menggunakan IP publik dan IP lokal. IP publik digunakan pada setiap antar gedung (router), sedangkan pada area server dan klien (komputer) menggunakan IP lokal. Kelas IP Address yang digunakan adalah kelas B, networkID dan hostID pada IP Address kelas B memiliki panjang bit yang sama yaitu 16 bit. Kelas B dapat menampung 16.384 jaringan, dan 65.534 alamat IP, sehingga kelas B dapat digunakan untuk jaringan menengah sampai besar. Konfigurasi IP Address dilihat pada Tabel 3.1.
3.4 Skenario Pengujian
Dalam menentukan kinerja suatu teknik routing protokol, diperlukan sebuah pengujian. Pengujian dilakukan pada jaringan yang telah dikonfigurasi teknik routing Open Shortest Path First (OSPF) dan Border Gateway Protocol (BGP). Pengujian dilakukan dengan mengirimkan 3 besara paket, yaitu 4000bit , 8000bit, dan 15000bit [5]. Jenis paket yang dikirim adalah paket Internet Control Message Protoco (lCMP) dan paket Hypertext Transfer Protocol (HTTP). Dari simulasi akan dicari nilai dari parameternya yaitu delay, throughput, dan packetloss. Pengujian dilakukan dengan dua skenario yaitu;
Tabel 3. 2 Alamat IP Jaringan Jaringan IP Jaringan Netmask
J1 172.17.1.0 255.255.0.0 J2 128.1.1.0 255.255.0.0 J3 128.2.1.0 255.255.0.0 J4 172.18.1.0 255.255.0.0 J5 172.19.1.0 255.255.0.0 J6 128.3.1.0 255.255.0.0 J7 128.4.1.0 255.255.0.0 J8 128.5.1.0 255.255.0.0 J9 172.20.1.0 255.255.0.0 J10 172.21.1.0 255.255.0.0
3.4.1 Pengujian saat Trafik Tunggal
Pengujian saat trafik tunggal atau trafik tidak sibuk adalah pengujian yang dilakukan secara manual yaitu pengiriman paket antar personal komputer dan personal komputer ke server ataupun sebaliknya. Pengiriman manual akan menggunakan trafik generator yang sudah ada pada perangkat komputer dan server. Skenario pengirimannya untuk paket ICMP saat trafik tunggal dan trafik sibuk dapat dilihat pada tabel 3.3. Dalam jaringan skenario pengiriman antar komputer dapat dilihat pada gambar 3.5, sedangkan untuk skenario pengiriman dari server ke komputer dapat dilihat pada gambar 3.6. Skenario pengiriman paket ICMP dan HTTP berlaku untuk setiap besaran paket. Masing-masing paket yang dikirim akan dicari nilai parameter Quality of Service (QoS).
Tabel 3. 3 Skenario Pengiriman Paket ICMP saat Trafik Tunggal dan Trafik Sibuk
Tabel 3. 4 Skenario Pengiriman Paket HTTP saat Trafik Tunggal dan Trafik Sibuk
Trafik Tunggal Trafik Sibuk
IP Asal IP Tujuan IP Asal IP Tujuan
Trafik Tunggal Trafik Sibuk
IP Asal IP Tujuan IP Asal IP Tujuan
Pada trafik generator seperti pada gambar 3.7 terdapat source settings, PDU settings, dan simulation settings. Bagian source setting terdapat variabel seperti source IP address , destination IP address yang merupakan alamat IP asal atau sumber dan IP tujuan. Bagian PDU settings terdapat variabel Time To Live (TTL), sequance number, size, dan Type Of Service (TOS) merupakan field dalam header IP versi 4 yang memiliki panjang 8 bit (255).
Gambar 3. 5 Skenario pengiriman trafik tunggal dan trafik sibuk paket ICMP
Gambar 3. 6 Skenario pengiriman trafik tunggal dan trafik sibuk paket HTTP
TTL merupakan nilai waktu pengiriman dan biasanya diset 255 dan dalam proses pengiriman, nilai TTL akan terus berkurang hingga mencapai tujuannya. Nilai TTL ini akan dikurangi setiap kali paket data melewati router. Ketika nilai TTL sebuah paket data sudah habis atau memiliki nilai 0, maka paket tersebut akan di drop atau dibuang karena. TOS digunakan untuk menandakan kualitas transmisi data yang digunakan oleh datagram untuk disampaikan ke router-router yang ada pada jaringan tersebut. Sequance number merupakan field dalam header TCP yang memiliki panjang 4 byte (32 bit) dan digunakan untuk mengidentifikasi nomor urut dari oktet 1 pada sebuah data yang akan dikirim. Sequance number harus selalu di set ketika memulai koneksi dan biasanya akan beernilai 0 atau 1. Size merupakan besaran paket atau ukuran sebuah paket.
Pada bagian simulation setting digunakan untuk menentukan banyaknya pengulangan pengiriman paket. Packet Internet Gopher (PING) digunakan untuk memeriksa konektivitas perangkat dalam sebuah jaringan ataupun antar jaringan melalui protokol TCP/IP, dengan mengirimkan pesan ICMP. Hypertext Transfer Protocol (HTTP) merupakan protokol jaringan TCP/IP yang digunakan untuk membantu proses transfer informasi seperti dokumen, gambar, video. Paket HTTP dan PING pada trafik tunggal akan menggunakan TTL 255, sequance number 1, TOS 255, dan trafik generator untuk HTTP terdapat destination port yang akan diisi 80 dan starting source port 1026. Pada bagian simulation setting saat trafik tunggal akan menggunakan single shot sedangkan saat trafik sibuk akan digunakan periodic interval. Setting akan berlaku untuk setiap pengiriman paket pada setiap perangkat yang diujikan.pada masing-masing besaran paket atau size.
Gambar 3. 7 Trafik Generator
Saat melakukan pengiriman paket, pada simulator jaringan terdapat simulation panel seperti gambar 3.8. Simulation Panel berfungsi untuk menampilkan proses perjalanan dan waktu paket saat proses pengiriman, sehingga dapat dilakukan pencatatan saat pengiriman dilakukan. Hasil data tersebut kemudian akan digunakan untuk menghitung nilai delay, throughput, dan packetloss. Hasil perhitungan akan dibandingkan dengan indeks/kategori standar nilai dari layanan quality of service.
3.4.2 Pengujian saat Trafik Sibuk
Pengujian saat trafik sibuk adalah pengujian yang dilakukan dengan mengirimkan paket antar personal komputer dan personal komputer ke server ataupun sebaliknya secara bersamaan. Pengiriman akan menggunakan trafik generator yang sudah ada pada simulator jaringan dan proses pengiriman akan menggunakan simulation panel. Skenario pengiriman paket HTTP saat trafik tunggal dan trafik sibuk dapat dilihat pada tabel 3.4. Skenario pengiriman paket ICMP dan HTTP berlaku untuk setiap besaran paket. Masing-masing paket yang dikirim akan dicari nilai parameter Quality of Service (QoS). Pada tabel 3.3 dan tabel 3.4 terdapat bagian yang berwarna abu-abu yaitu pengiriman antara PC 16 dan PC 31, Server dan PC 35. Pengiriman tersebut akan menjadi pengiriman yang diamati, sedangkan
Gambar 3. 8 Simulation Panel
yang lainnya akan disimulasikan untuk pengiriman supaya trafik menjadi sibuk. Paket HTTP dan PING pada trafik sibuk akan menggunakan TTL 255, sequance number 1, TOS 255, dan trafik generator untuk HTTP terdapat destination port yang akan diisi 80. Pengiriman paket ICMP dan HTTP dilakukan sebanyak 3 kali percobaan. Setting akan berlaku untuk setiap pengiriman paket pada setiap perangkat yang diujikan pada masing-masing besaran paket atau size.
33
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Perubahan Rancangan
Pada subab ini berisi mengenai perubahan terkait implementasi dari rancangan yang ada pada Bab 1 dan Bab 3.
4.1.1 Batasan Masalah
Perubahan yang terjadi terdapat pada subab 1.3 mengenai batasan masalah pada poin 7. Perubahan tersebut yaitu terdapat penambahan paket yang akan digunakan selain PING dan HTTP. FTP (File Transfer Protokol) akan ditambahkan sebagai salah satu paket yang akan digunakan saat melakukan pengujian dan pengambilan data. Penambahan paket untuk pengiriman dilakukan agar dapat mencari nilai throughput sebagai salah satu parameter dalam pengujian menggantikan HTTP.
4.1.2 Skenario Pengujian
Terjadi perubahan pada subab 3.4 yaitu mengenai skenario pengujian untuk besaran data yang akan digunakan dan perubahan paket untuk mencari nilai throughput. Besaran data mengalami perubahan dimana besaran dalam bit perlu diubah terlebih dahulu menjadi byte untuk menyamakan ukuran yang digunakan pada trafik generator. Besaran paket dalam satuan bit yaitu 4000 bit, 8000 bit, 15000 bit dikonvert kedalam satuan byte menjadi yaitu 500byte, 1000byte, dan 1875byte.
Rancangan pengambilan data untuk mencari nilai throughput awalnya dilakukan dengan mengirimkan file HTTP menggunakan tiga besaran data sesuai skenario, namun pada saat pengujian paket HTTP nilai throughput tidak dapat terlihat dan hanya waktu pengiriman (delay) yang dapat diambil menjadi data. Berdasarkan hal tersebut, agar hasil throughput bisa didapatkan sebagai salah satu parameter dalam pengujian, dilakukan penambahan file FTP untuk menggantikan HTTP dalam mencari nilai throughput.
File Transfer Protocol (FTP) digunakan untuk mengakses dan melakukan kegiatan transfer file di dalam jaringan. FTP biasanya digunakan untuk melakukan upload dan download file antara suatu server.
4.2 Hasil Implementasi
Pada subab ini berisi mengenai hasil implementasi dari rancangan penelitian yang ada bab 3.
Gambar 4. 1 Hasil implementasi jaringan BGP dan OSPF
4.2.1 Jaringan
Rancangan yang telah dibuat pada bab sebelumnya, perlu untuk diimplementasikan ke dalam aplikasi simulasi jaringan. Gambar 4.1 menunjukan gambar jaringan hasil implementasi menggunakan topologi tree untuk routing Open shortest path first (OSPF) dan Border Gateway Protocol (BGP). Dalam penerapannya diperlukan beberapa perangkat untuk mendukung kinerja dari jaringan tersebut, antara lain router, switch, server, PC, kabel straigh-throught dan kabel serial DTE sebagai media transmisi antar perangkat. Sesuai rancangan, hasil implementasi sesuai gambar 4.1 memiliki total 10 jaringan.
4.2.2 Penomoran IP
Setiap jaringan yang terbentuk memiliki alamat IP berupa penomoran, tiap perangkat memiliki alamatnya masing-masing. Penomoran IP digunakan sebagai alamat untuk memudahkan saat terjadi pengiriman paket data dari sumber ke tujuannya. Selain itu, juga bertujuan untuk mempermudah dalam proses konfigurasi dan implementasi pada jaringan.
Topologi jaringan Border Gateway Protocol (BGP) dan Open Shortest Path First (OSPF) yang terlihat pada Gambar 4.1 memiliki alamat IP pada setiap perangkat seperti server, router, PC, dan tiap port. Dalam menyambungkan tiap port terdapat media transmisi, untuk port FastEthernet menggunakan kabel straigh-throught sedangkan untuk yang port serial menggunakan kabel serial DTE.
Tabel 4. 1 IP Fakultas Teknik dan BAPSI
Gedung Perangkat Port Alamat IP Subnetmask Gateway BAPSI Server FastEthernet0/0 172.17.1.1 255.255.255.240 172.17.1.2 Fakultas
Teknik
Router FastEthernet0/0 172.17.1.2 255.255.255.248 - Serial1/0 128.1.1.1 255.255.255.248 - Serial1/1 128.2.1.1 255.255.255.248 - Serial1/2 128.3.1.1 255.255.255.248 -
Pada tabel 4.1 menunjukan alamat IP perangkat server yang berperan sebagai BAPSI dan router dari Fakultas Teknik. Server memiliki IP jaringan 172.17.1.0/28. Server hanya memiliki satu port yaitu FastEthernet0/0, port tersebut diberi nomor IP 172.17.1.1 dengan subnetmask /28 atau 255.255.255.240. Gateaway merupakan pintu jalur dari perangkat router yang terkoneksi dengan server dan berfungsi sebagai penghubung antar jaringan yang berbeda. Server memiliki nomor IP 172.17.1.2. Gateaway di router Fakultas Teknik dengan port FastEthernet0/0 merupakan port yang masih menjadi satu bagian dari jaringan yang ada pada server. Pada perangkat router terdapat empat port, satu port terhubung dengan server dan tiga port terhubung dengan dengan router yang menjadi tetangganya. Port yang menggunakan kabel serial DTE memilik alamat IP 128.1.1.0/29. Port pertama yang terhubungan dengan router Tenik Elektro adalah port serial1/0 yang diberi nomor IP 128.1.1.1 dengan subnetmask /29 atau 255.255.255.248. Port kedua adalah serial1/1 yang terhubung dengan router teknik mesin dan diberi nomor IP 128.2.1.1 dengan subnetmask /29 atau 255.255.255.248. Port ketiga adalah serial1/2 yang terhubung dengan router Fakultas Ekonomi dan diberi nomor IP 128.1.1.1 dengan subnetmask /29 atau 255.255.255.248.
Tabel 4. 2 IP Program Studi Tenik Elektro
Gedung Perangkat Port Alamat IP Subnetmask Gateway DNS Server
Tenik Elektro
Router Serial1/0 128.1.1.2 255.255.255.248 - - FastEthernet0/0 172.18.1.1 255.255.255.240 - -
PC 0 FastEthernet0/2 172.18.1.2 255.255.255.240 172.18.1.1 172.17.1.1 PC 1 FastEthernet0/3 172.18.1.3 255.255.255.240 172.18.1.1 172.17.1.1 PC 2 FastEthernet0/4 172.18.1.4 255.255.255.240 172.18.1.1 172.17.1.1 PC 3 FastEthernet0/2 172.18.1.5 255.255.255.240 172.18.1.1 172.17.1.1 PC 4 FastEthernet0/3 172.18.1.6 255.255.255.240 172.18.1.1 172.17.1.1 PC 5 FastEthernet0/4 172.18.1.7 255.255.255.240 172.18.1.1 172.17.1.1
PC 6 FastEthernet0/2 172.18.1.8 255.255.255.240 172.18.1.1 172.17.1.1 PC 7 FastEthernet0/3 172.18.1.9 255.255.255.240 172.18.1.1 172.17.1.1 PC 8 FastEthernet0/4 172.18.1.10 255.255.255.240 172.18.1.1 172.17.1.1
Pada tabel 4.2 menunjukan alamat IP dari perangkat router Teknik Elektro dan PC0 sampai PC8. Masing masing PC terhubung langsung ke switch, dan switch yang akan terhubung dengan router Teknik Elektro. Terdapat dua port yang digunakan pada router yaitu port serial1/0 dengan nomor IP 128.1.1.2 subnetmask /29 atau 255.255.255.248 yang terhubung dengan router Fakultas Teknik, dan port FastEthernet0/0 diberi nomor IP 172.18.1.1 dengan subnetmask /28 atau 255.255.255.240 yang terhubung dengan switch. Port ini merupakan pintu jalur untuk menuju kepada PC dari router sehingga gateaway untuk tiap PC adalah 172.18.1.1.
Daerah PC yang terhubung dengan switch memiliki IP jaringan 172.18.1.0/28, tiap PC hanya memiliki satu port yang digunakan yaitu FastEthernet. Skala IP ada PC yaitu dari 172.18.1.2 sampai 172.18.1.10 dengan subnetmask /28 atau 255.255.255.240. DNS Server yang terlihat pada tabel adalah IP dari BAPSI atau server.
Tabel 4. 3 IP Program Studi Teknik Mesin
Gedung Perangkat Port Alamat IP Subnetmask Gateway DNS Server
Teknik Mesin
Router Serial1/0 128.2.1.2 255.255.255.248 - - FastEthernet0/0 172.19.1.1 255.255.255.240 - -
PC 9 FastEthernet0/2 172.19.1.2 255.255.255.240 172.19.1.1 172.17.1.1 PC 10 FastEthernet0/3 172.19.1.3 255.255.255.240 172.19.1.1 172.17.1.1 PC 11 FastEthernet0/4 172.19.1.4 255.255.255.240 172.19.1.1 172.17.1.1 PC 12 FastEthernet0/2 172.19.1.5 255.255.255.240 172.19.1.1 172.17.1.1 PC 13 FastEthernet0/3 172.19.1.6 255.255.255.240 172.19.1.1 172.17.1.1 PC 14 FastEthernet0/4 172.19.1.7 255.255.255.240 172.19.1.1 172.17.1.1 PC 15 FastEthernet0/2 172.19.1.8 255.255.255.240 172.19.1.1 172.17.1.1 PC 16 FastEthernet0/3 172.19.1.9 255.255.255.240 172.19.1.1 172.17.1.1 PC 17 FastEthernet0/4 172.19.1.10 255.255.255.240 172.19.1.1 172.17.1.1
Pada tabel 4.3 menunjukan alamat IP dari perangkat router Teknik Mesin dan PC9 sampai PC 17. Masing masing PC terhubung langsung ke switch, dan switch yang akan terhubung dengan router Teknik Mesin. Terdapat dua port yang digunakan pada router yaitu port serial1/0 dengan nomor IP 128.2.1.2 subnetmask /29 atau 255.255.255.248 yang terhubung dengan router Fakultas Teknik, dan port FastEthernet0/0 diberi nomor IP 172.19.1.1 dengan subnetmask /28 atau 255.255.255.240 yang terhubung dengan switch. Port ini merupakan
pintu jalur untuk menuju kepada PC dari router sehingga gateaway untuk tiap PC adalah 172.19.1.1.
Daerah PC yang terhubung dengan switch memiliki IP jaringan 172.19.1.0/28, tiap PC hanya memiliki satu port yang digunakan yaitu FastEthernet. Skala IP ada PC yaitu dari 172.19.1.2 sampai 172.19.1.10 dengan subnetmask /28 atau 255.255.255.240. DNS Server yang terlihat pada tabel adalah IP dari BAPSI atau server.
Tabel 4.4 IP Fakultas Ekonomi
Pada tabel 4.4 menunjukan alamat IP perangkat router dari Fakultas Ekonomi yang menggunakan tiga port, port tersebut terhubung dengan router yang menjadi tetangganya.
Port pertama adalah serial1/0 dengan IP jaringan 128.3.1.2 subnetmask /29 atau 255.255.255.248 yang terhubung dengan Fakultas Teknik. Port kedua adalah serial1/1 yang terhubung dengan router Akuntansi dan diberi nomor IP 128.4.1.1 dengan subnetmask /29 atau 255.255.255.248. Port ketiga adalah serial1/2 yang terhubung dengan router Manajemen dan diberi nomor IP 128.5.1.1 dengan subnetmask /29 atau 255.255.255.248.
Tabel 4. 5 IP Program Studi Teknik Mesin
Gedung Perangkat Port Alamat IP Subnetmask Gateway DNS Server Fakultas
Subnetmask Gateway DNS Server
Pada tabel 4.5 menunjukan alamat IP dari perangkat router Akuntansi dan PC18 sampai PC26. Masing masing PC terhubung langsung ke switch, dan switch yang akan terhubung dengan router Akuntansi. Terdapat dua port yang digunakan pada router yaitu port serial1/0 dengan nomor IP 128.4.1.2 subnetmask /29 atau 255.255.255.248 yang terhubung dengan router Fakultas Teknik, dan port FastEthernet0/0 diberi nomor IP 172.20.1.1 dengan subnetmask /28 atau 255.255.255.240 yang terhubung dengan switch. Port ini merupakan pintu jalur untuk menuju kepada PC dari router sehingga gateaway untuk tiap PC adalah 172.20.1.1.
Daerah PC yang terhubung dengan switch memiliki IP jaringan 172.20.1.0/28, tiap PC hanya memiliki satu port yang digunakan yaitu FastEthernet. Skala IP ada PC yaitu dari 172.20.1.2 sampai 172.20.1.10 dengan subnetmask /28 atau 255.255.255.240. DNS Server yang terlihat pada tabel adalah IP dari BAPSI atau server
Tabel 4. 6 IP Program Studi Manajemen Gedung Perangk
at
Port Alamat
IP
Subnetmask Gateway DNS Server Router Serial1/0 128.5.1.2 255.255.255.
248
Manajemen
Pada tabel 4.6 menunjukan alamat IP dari perangkat router Manajemen dan PC27 sampai PC35. Masing masing PC terhubung langsung dengan switch, dan switch yang akan terhubung dengan router . Terdapat dua port yang digunakan pada router yaitu port serial1/0 dengan nomor IP 128.5.1.2 subnetmask /29 atau 255.255.255.248 yang terhubung dengan router Fakultas Ekonomi, dan port FastEthernet0/0 diberi nomor IP 172.21.1.1 dengan subnetmask /28 atau 255.255.255.240 yang terhubung dengan switch. Port ini merupakan pintu jalur
Pada tabel 4.6 menunjukan alamat IP dari perangkat router Manajemen dan PC27 sampai PC35. Masing masing PC terhubung langsung dengan switch, dan switch yang akan terhubung dengan router . Terdapat dua port yang digunakan pada router yaitu port serial1/0 dengan nomor IP 128.5.1.2 subnetmask /29 atau 255.255.255.248 yang terhubung dengan router Fakultas Ekonomi, dan port FastEthernet0/0 diberi nomor IP 172.21.1.1 dengan subnetmask /28 atau 255.255.255.240 yang terhubung dengan switch. Port ini merupakan pintu jalur