BAB III RANCANGAN PENELITIAN
3.4 Skenario Pengujian
3.4.2 Pengujian saat Trafik Sibuk
Pengujian saat trafik sibuk adalah pengujian yang dilakukan dengan mengirimkan paket antar personal komputer dan personal komputer ke server ataupun sebaliknya secara bersamaan. Pengiriman akan menggunakan trafik generator yang sudah ada pada simulator jaringan dan proses pengiriman akan menggunakan simulation panel. Skenario pengiriman paket HTTP saat trafik tunggal dan trafik sibuk dapat dilihat pada tabel 3.4. Skenario pengiriman paket ICMP dan HTTP berlaku untuk setiap besaran paket. Masing-masing paket yang dikirim akan dicari nilai parameter Quality of Service (QoS). Pada tabel 3.3 dan tabel 3.4 terdapat bagian yang berwarna abu-abu yaitu pengiriman antara PC 16 dan PC 31, Server dan PC 35. Pengiriman tersebut akan menjadi pengiriman yang diamati, sedangkan
Gambar 3. 8 Simulation Panel
yang lainnya akan disimulasikan untuk pengiriman supaya trafik menjadi sibuk. Paket HTTP dan PING pada trafik sibuk akan menggunakan TTL 255, sequance number 1, TOS 255, dan trafik generator untuk HTTP terdapat destination port yang akan diisi 80. Pengiriman paket ICMP dan HTTP dilakukan sebanyak 3 kali percobaan. Setting akan berlaku untuk setiap pengiriman paket pada setiap perangkat yang diujikan pada masing-masing besaran paket atau size.
33
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Perubahan Rancangan
Pada subab ini berisi mengenai perubahan terkait implementasi dari rancangan yang ada pada Bab 1 dan Bab 3.
4.1.1 Batasan Masalah
Perubahan yang terjadi terdapat pada subab 1.3 mengenai batasan masalah pada poin 7. Perubahan tersebut yaitu terdapat penambahan paket yang akan digunakan selain PING dan HTTP. FTP (File Transfer Protokol) akan ditambahkan sebagai salah satu paket yang akan digunakan saat melakukan pengujian dan pengambilan data. Penambahan paket untuk pengiriman dilakukan agar dapat mencari nilai throughput sebagai salah satu parameter dalam pengujian menggantikan HTTP.
4.1.2 Skenario Pengujian
Terjadi perubahan pada subab 3.4 yaitu mengenai skenario pengujian untuk besaran data yang akan digunakan dan perubahan paket untuk mencari nilai throughput. Besaran data mengalami perubahan dimana besaran dalam bit perlu diubah terlebih dahulu menjadi byte untuk menyamakan ukuran yang digunakan pada trafik generator. Besaran paket dalam satuan bit yaitu 4000 bit, 8000 bit, 15000 bit dikonvert kedalam satuan byte menjadi yaitu 500byte, 1000byte, dan 1875byte.
Rancangan pengambilan data untuk mencari nilai throughput awalnya dilakukan dengan mengirimkan file HTTP menggunakan tiga besaran data sesuai skenario, namun pada saat pengujian paket HTTP nilai throughput tidak dapat terlihat dan hanya waktu pengiriman (delay) yang dapat diambil menjadi data. Berdasarkan hal tersebut, agar hasil throughput bisa didapatkan sebagai salah satu parameter dalam pengujian, dilakukan penambahan file FTP untuk menggantikan HTTP dalam mencari nilai throughput.
File Transfer Protocol (FTP) digunakan untuk mengakses dan melakukan kegiatan transfer file di dalam jaringan. FTP biasanya digunakan untuk melakukan upload dan download file antara suatu server.
4.2 Hasil Implementasi
Pada subab ini berisi mengenai hasil implementasi dari rancangan penelitian yang ada bab 3.
Gambar 4. 1 Hasil implementasi jaringan BGP dan OSPF
4.2.1 Jaringan
Rancangan yang telah dibuat pada bab sebelumnya, perlu untuk diimplementasikan ke dalam aplikasi simulasi jaringan. Gambar 4.1 menunjukan gambar jaringan hasil implementasi menggunakan topologi tree untuk routing Open shortest path first (OSPF) dan Border Gateway Protocol (BGP). Dalam penerapannya diperlukan beberapa perangkat untuk mendukung kinerja dari jaringan tersebut, antara lain router, switch, server, PC, kabel straigh-throught dan kabel serial DTE sebagai media transmisi antar perangkat. Sesuai rancangan, hasil implementasi sesuai gambar 4.1 memiliki total 10 jaringan.
4.2.2 Penomoran IP
Setiap jaringan yang terbentuk memiliki alamat IP berupa penomoran, tiap perangkat memiliki alamatnya masing-masing. Penomoran IP digunakan sebagai alamat untuk memudahkan saat terjadi pengiriman paket data dari sumber ke tujuannya. Selain itu, juga bertujuan untuk mempermudah dalam proses konfigurasi dan implementasi pada jaringan.
Topologi jaringan Border Gateway Protocol (BGP) dan Open Shortest Path First (OSPF) yang terlihat pada Gambar 4.1 memiliki alamat IP pada setiap perangkat seperti server, router, PC, dan tiap port. Dalam menyambungkan tiap port terdapat media transmisi, untuk port FastEthernet menggunakan kabel straigh-throught sedangkan untuk yang port serial menggunakan kabel serial DTE.
Tabel 4. 1 IP Fakultas Teknik dan BAPSI
Gedung Perangkat Port Alamat IP Subnetmask Gateway BAPSI Server FastEthernet0/0 172.17.1.1 255.255.255.240 172.17.1.2 Fakultas
Teknik
Router FastEthernet0/0 172.17.1.2 255.255.255.248 - Serial1/0 128.1.1.1 255.255.255.248 - Serial1/1 128.2.1.1 255.255.255.248 - Serial1/2 128.3.1.1 255.255.255.248 -
Pada tabel 4.1 menunjukan alamat IP perangkat server yang berperan sebagai BAPSI dan router dari Fakultas Teknik. Server memiliki IP jaringan 172.17.1.0/28. Server hanya memiliki satu port yaitu FastEthernet0/0, port tersebut diberi nomor IP 172.17.1.1 dengan subnetmask /28 atau 255.255.255.240. Gateaway merupakan pintu jalur dari perangkat router yang terkoneksi dengan server dan berfungsi sebagai penghubung antar jaringan yang berbeda. Server memiliki nomor IP 172.17.1.2. Gateaway di router Fakultas Teknik dengan port FastEthernet0/0 merupakan port yang masih menjadi satu bagian dari jaringan yang ada pada server. Pada perangkat router terdapat empat port, satu port terhubung dengan server dan tiga port terhubung dengan dengan router yang menjadi tetangganya. Port yang menggunakan kabel serial DTE memilik alamat IP 128.1.1.0/29. Port pertama yang terhubungan dengan router Tenik Elektro adalah port serial1/0 yang diberi nomor IP 128.1.1.1 dengan subnetmask /29 atau 255.255.255.248. Port kedua adalah serial1/1 yang terhubung dengan router teknik mesin dan diberi nomor IP 128.2.1.1 dengan subnetmask /29 atau 255.255.255.248. Port ketiga adalah serial1/2 yang terhubung dengan router Fakultas Ekonomi dan diberi nomor IP 128.1.1.1 dengan subnetmask /29 atau 255.255.255.248.
Tabel 4. 2 IP Program Studi Tenik Elektro
Gedung Perangkat Port Alamat IP Subnetmask Gateway DNS Server
Tenik Elektro
Router Serial1/0 128.1.1.2 255.255.255.248 - - FastEthernet0/0 172.18.1.1 255.255.255.240 - -
PC 0 FastEthernet0/2 172.18.1.2 255.255.255.240 172.18.1.1 172.17.1.1 PC 1 FastEthernet0/3 172.18.1.3 255.255.255.240 172.18.1.1 172.17.1.1 PC 2 FastEthernet0/4 172.18.1.4 255.255.255.240 172.18.1.1 172.17.1.1 PC 3 FastEthernet0/2 172.18.1.5 255.255.255.240 172.18.1.1 172.17.1.1 PC 4 FastEthernet0/3 172.18.1.6 255.255.255.240 172.18.1.1 172.17.1.1 PC 5 FastEthernet0/4 172.18.1.7 255.255.255.240 172.18.1.1 172.17.1.1
PC 6 FastEthernet0/2 172.18.1.8 255.255.255.240 172.18.1.1 172.17.1.1 PC 7 FastEthernet0/3 172.18.1.9 255.255.255.240 172.18.1.1 172.17.1.1 PC 8 FastEthernet0/4 172.18.1.10 255.255.255.240 172.18.1.1 172.17.1.1
Pada tabel 4.2 menunjukan alamat IP dari perangkat router Teknik Elektro dan PC0 sampai PC8. Masing masing PC terhubung langsung ke switch, dan switch yang akan terhubung dengan router Teknik Elektro. Terdapat dua port yang digunakan pada router yaitu port serial1/0 dengan nomor IP 128.1.1.2 subnetmask /29 atau 255.255.255.248 yang terhubung dengan router Fakultas Teknik, dan port FastEthernet0/0 diberi nomor IP 172.18.1.1 dengan subnetmask /28 atau 255.255.255.240 yang terhubung dengan switch. Port ini merupakan pintu jalur untuk menuju kepada PC dari router sehingga gateaway untuk tiap PC adalah 172.18.1.1.
Daerah PC yang terhubung dengan switch memiliki IP jaringan 172.18.1.0/28, tiap PC hanya memiliki satu port yang digunakan yaitu FastEthernet. Skala IP ada PC yaitu dari 172.18.1.2 sampai 172.18.1.10 dengan subnetmask /28 atau 255.255.255.240. DNS Server yang terlihat pada tabel adalah IP dari BAPSI atau server.
Tabel 4. 3 IP Program Studi Teknik Mesin
Gedung Perangkat Port Alamat IP Subnetmask Gateway DNS Server
Teknik Mesin
Router Serial1/0 128.2.1.2 255.255.255.248 - - FastEthernet0/0 172.19.1.1 255.255.255.240 - -
PC 9 FastEthernet0/2 172.19.1.2 255.255.255.240 172.19.1.1 172.17.1.1 PC 10 FastEthernet0/3 172.19.1.3 255.255.255.240 172.19.1.1 172.17.1.1 PC 11 FastEthernet0/4 172.19.1.4 255.255.255.240 172.19.1.1 172.17.1.1 PC 12 FastEthernet0/2 172.19.1.5 255.255.255.240 172.19.1.1 172.17.1.1 PC 13 FastEthernet0/3 172.19.1.6 255.255.255.240 172.19.1.1 172.17.1.1 PC 14 FastEthernet0/4 172.19.1.7 255.255.255.240 172.19.1.1 172.17.1.1 PC 15 FastEthernet0/2 172.19.1.8 255.255.255.240 172.19.1.1 172.17.1.1 PC 16 FastEthernet0/3 172.19.1.9 255.255.255.240 172.19.1.1 172.17.1.1 PC 17 FastEthernet0/4 172.19.1.10 255.255.255.240 172.19.1.1 172.17.1.1
Pada tabel 4.3 menunjukan alamat IP dari perangkat router Teknik Mesin dan PC9 sampai PC 17. Masing masing PC terhubung langsung ke switch, dan switch yang akan terhubung dengan router Teknik Mesin. Terdapat dua port yang digunakan pada router yaitu port serial1/0 dengan nomor IP 128.2.1.2 subnetmask /29 atau 255.255.255.248 yang terhubung dengan router Fakultas Teknik, dan port FastEthernet0/0 diberi nomor IP 172.19.1.1 dengan subnetmask /28 atau 255.255.255.240 yang terhubung dengan switch. Port ini merupakan
pintu jalur untuk menuju kepada PC dari router sehingga gateaway untuk tiap PC adalah 172.19.1.1.
Daerah PC yang terhubung dengan switch memiliki IP jaringan 172.19.1.0/28, tiap PC hanya memiliki satu port yang digunakan yaitu FastEthernet. Skala IP ada PC yaitu dari 172.19.1.2 sampai 172.19.1.10 dengan subnetmask /28 atau 255.255.255.240. DNS Server yang terlihat pada tabel adalah IP dari BAPSI atau server.
Tabel 4.4 IP Fakultas Ekonomi
Pada tabel 4.4 menunjukan alamat IP perangkat router dari Fakultas Ekonomi yang menggunakan tiga port, port tersebut terhubung dengan router yang menjadi tetangganya.
Port pertama adalah serial1/0 dengan IP jaringan 128.3.1.2 subnetmask /29 atau 255.255.255.248 yang terhubung dengan Fakultas Teknik. Port kedua adalah serial1/1 yang terhubung dengan router Akuntansi dan diberi nomor IP 128.4.1.1 dengan subnetmask /29 atau 255.255.255.248. Port ketiga adalah serial1/2 yang terhubung dengan router Manajemen dan diberi nomor IP 128.5.1.1 dengan subnetmask /29 atau 255.255.255.248.
Tabel 4. 5 IP Program Studi Teknik Mesin
Gedung Perangkat Port Alamat IP Subnetmask Gateway DNS Server Fakultas
Subnetmask Gateway DNS Server
Pada tabel 4.5 menunjukan alamat IP dari perangkat router Akuntansi dan PC18 sampai PC26. Masing masing PC terhubung langsung ke switch, dan switch yang akan terhubung dengan router Akuntansi. Terdapat dua port yang digunakan pada router yaitu port serial1/0 dengan nomor IP 128.4.1.2 subnetmask /29 atau 255.255.255.248 yang terhubung dengan router Fakultas Teknik, dan port FastEthernet0/0 diberi nomor IP 172.20.1.1 dengan subnetmask /28 atau 255.255.255.240 yang terhubung dengan switch. Port ini merupakan pintu jalur untuk menuju kepada PC dari router sehingga gateaway untuk tiap PC adalah 172.20.1.1.
Daerah PC yang terhubung dengan switch memiliki IP jaringan 172.20.1.0/28, tiap PC hanya memiliki satu port yang digunakan yaitu FastEthernet. Skala IP ada PC yaitu dari 172.20.1.2 sampai 172.20.1.10 dengan subnetmask /28 atau 255.255.255.240. DNS Server yang terlihat pada tabel adalah IP dari BAPSI atau server
Tabel 4. 6 IP Program Studi Manajemen Gedung Perangk
at
Port Alamat
IP
Subnetmask Gateway DNS Server Router Serial1/0 128.5.1.2 255.255.255.
248
Manajemen
Pada tabel 4.6 menunjukan alamat IP dari perangkat router Manajemen dan PC27 sampai PC35. Masing masing PC terhubung langsung dengan switch, dan switch yang akan terhubung dengan router . Terdapat dua port yang digunakan pada router yaitu port serial1/0 dengan nomor IP 128.5.1.2 subnetmask /29 atau 255.255.255.248 yang terhubung dengan router Fakultas Ekonomi, dan port FastEthernet0/0 diberi nomor IP 172.21.1.1 dengan subnetmask /28 atau 255.255.255.240 yang terhubung dengan switch. Port ini merupakan pintu jalur untuk menuju kepada PC dari router sehingga gateaway untuk tiap PC adalah 172.21.1.1. Daerah PC yang terhubung dengan switch memiliki IP jaringan 172.21.1.0/28, tiap PC hanya memiliki satu port yang digunakan yaitu FastEthernet. Skala IP ada PC yaitu dari 172.21.1.2 sampai 172.21.1.10 dengan subnetmask /28 atau 255.255.255.240. DNS Server yang terlihat pada tabel adalah IP dari BAPSI atau server
4.2.3 Simulasi Pengujian
Simulasi pengujian dilakukan saat trafik tunggal atau tidak sibuk dan saat trafik sibuk. Pengujian pada trafik tunggal atau tidak sibuk yaitu mengamati proses saat dilakukan pengiriman paket dari PC sebagai sumber dan PC/Server sebagai tujuannya. Pengiriman pada trafik tidak sibuk dilakukan satu persatu. Hal-hal yang diperhatikan saat proses pengujian yaitu perangkat seperti PC/Server dan waktu pengirimannya. Pada simulation panel akan terlihat waktu pengiriman dan jalur yang dilewati paket data saat proses pegujian
Gambar 4. 2 Simulasi pengiriman Trafik Tunggal
dilakukan, waktu pengiriman terdata saat paket data dikirim dari PC sampai kepada tujuannya dan kembali lagi pada posisi saat paket data akan dikirim. Perjalanan yang terjadi yaitu perjalanan pergi sampai pulang (round trip). Constant Delay yang ada pada simulation panel tidak diaktifkan atau tidak digunakan karena dapat berpengaruh terhadap waktu pengiriman dan mengakibatkan waktu yang terdata tidak valid. Pengujian akan menggunakan 3 besaran data yaitu 500byte, 1000byte, dan 1875 byte. Jenis file yang digunakan untuk mencari delay yaitu ICMP. Pada trafik tunggal, pengiriman paket menggunakan ukuran data 500byte dan 100byte bisa dilakukan dengan sekali kirim pesan karena masih memenuhi kapasitas byte dalam satu paket. Sedangkan untuk ukuran data 1875byte dibagi menjadi dua paket karena terdapat kapasitas dalam 1 paket yang disediakan oleh simulator.
Pada pengujian trafik tunggal seperti yang ditunjukan Gambar 4.2 jalur perjalanan paket dimulai dari PC1 sebagai sumber melewati switch pertama dan kedua pada ke router Teknik Elektro (TE) hingga sampai ke router TE, paket data menyebrang dan menuju router Teknik Mesin melewati router Fakultas Teknik kemudian melewati switch pertama dan kedua hingga sampai pada tujuannya yaitu PC10. Jika pengiriman paket berhasil maka terjadi respon balik paket saat kembali berada di PC1 dengan menampilkan tanda centang berwarna hijau sebagai bukti bahwa pengiriman berhasil. Waktu pengiriman tercatat 0.047 ms, waktu ini yang akan diambil sebagai data untuk parameter delay.
Pada pengujian trafik sibuk, pengiriman paket dilakukan secara bersamaan dalam kurun waktu yang sama. Pengujian akan menggunakan 3 besaran data yaitu 500byte,
Gambar 4. 3 Simulasi trafik sibuk sebelum pengiriman pada 500byte dan 1000byte 1000byte, dan 1875 byte. Pengiriman paket menggunakan ukuran data 500byte dan 100byte dapat dilakukan dengan sekali kirim pesan seperti yang ditunjukan oleh Gambar 4.3. Hal tersebut dikarenakan masih memenuhi kapasitas byte dalam satu paket. Sedangkan pengiriman saat besar data 1875byte dibagi menjadi dua paket seperti yang ditunjukan pada Gambar 4.4. Hal tersebut dikarenakan 1 paket pesan yang disediakan oleh simulator hanya bisa menampung 1472byte, sehingga terjadi dua kali pengiriman dengan paket pertama akan dikirim terlebih dahulu kemudian disusul dengan paket kedua.
Seperti yang dapat dilihat pada gambar 4.3 terdapat 8 paket dan pada Gambar 4.4 terdapat 16 paket yang akan dikirim dari berbagai sumber, tiap pengiriman dilakukan antar jaringan. Masing-masing paket akan berada pada waktu yang sama sebelum pengiriman
Gambar 4. 4 Simulasi trafik sibuk sebelum pengiriman pada 1875byte
dilakukan, dimana waktu berada pada posisi awal 0.000 ms. Saat pengujian dilakukan akan diamati waktu pengiriman dari salah satu PC untuk diambil sebagai data sebagai pengujian dari trafik sibuk. Pada simulation panel akan terlihat waktu pengiriman dan jalur yang dilewati paket data saat proses pegujian dilakukan, waktu pengiriman terdata saat paket data dikirim dari PC sampai kepada tujuannya dan kembali lagi pada posisi saat paket data akan dikirim. Perjalanan yang terjadi yaitu perjalanan pergi sampai pulang (round trip). Constant Delay yang ada pada simulation panel tidak diaktifkan atau tidak digunakan karena dapat berpengaruh terhadap waktu pengiriman dan mengakibatkan waktu yang terdata tidak valid.
Gambar 4. 5 Simulasi pengiriman Trafik Sibuk
Simulasi pengiriman trafik sibuk seperti yang ada pada Gambar 4.5 akan dimulai dari masing-masing PC sumber. Pada simulation panel akan tercatat jalur yang dilalui paket data saat pengiriman dari masing-masing PC. PC yang akan diamati yaitu PC 16 yang tujuannya adalah PC 31. PC 16 sebagai sumber melewati switch pertama dan kedua pada ke router Teknik Mesin (TM) hingga sampai ke router TM, paket data akan menyebrang dan menuju router manajemen melewati router Fakultas Teknik, dan Fakultas Ekonomi kemudian melewati switch pertama dan kedua hingga sampai pada tujuannya yaitu PC10.
Pada pengiriman ini paket data melewati 3 router untuk sampai kepada tujuannya, sehingga membutuhkan waktu yang lama. Saat pengujian juga terjadi paket tunggu, dimana beberapa paket mengantri untuk melewati suatu jalur. Jika pengiriman paket berhasil maka terjadi respon balik paket saat kembali berada di PC16 dengan menampilkan tanda centang berwarna hijau sebagai bukti bahwa pengiriman berhasil. Waktu pengiriman yang tercatat
Gambar 4. 6 Simulasi Pengujian Packetloss
untuk parameter delay adalah 0.060 ms dari PC sumber menuju PC tujuan dengan perjalanan round trip. waktu ini yang akan diambil sebagai data untuk parameter delay.
Simulasi pengujian untuk parameter packetloss yaitu menggunakan trafik generator dan command prompt. Spesifikasi untuk pengiriman dilakukan pada trafik generator, kemudian melakukan PING IP tujuan pada command prompt dari PC sumber, dan setelah itu disimulasikan. Pengujian packetloss dapat dilihat pada Gambar 4.6. Pengujian dilakukan sama seperti mencari hasil delay yaitu pada 2 situasi saat trafik tunggal dan trafik sibuk menggunakan file ICMP. Hasil packetloss dapat dilihat pada jendela command prompt.
Gambar 4. 7 Pengujian FTP menggunakan Comman Prompt
Simulasi pengujian untuk parameter throughput yaitu menggunakan file FTP dengan menggunakan command prompt seperti yang dapat dilihat pada Gambar 4.7. Pengujian ini menggunakan jendela realtime dan bukan simulation karena membutuhkan waktu yang sangat lama. Pengiriman paket dengan file FTP tidak menggunakan 3 besaran data yang digunakan sebagai skenario, melainkan mengambil 3 besaran data pada server kemudian server akan mentransfer paket tersebut pada PC. Sebelum itu, perlu diberikan perintah “FTP IP server” untuk menghubungkan PC dengan server, jika sudah terhubung server akan meminta username dan password untuk melakukan log in. Kemudian saat username dan password yang dimasukan benar makan log in berhasil dan prompt akan berubah menjadi ftp> . Setelah itu proses pengambilan besaran data dilakukan dengan menggunakan perintah
“get (nama file dari besar data)”. Jika transfer berhasil maka akan ditampilakan waktu pengiriman dan nilai throughput dalam bentuk bytes/sec. Data tersebut akan dikonvert menjadi bit/sec dan akan diambil untuk hasil dari parameter throughput.
4.3 Parameter
4.3.1 DelayBerdasarkan pengujian yang telah dilakukan dengan mengirimkan paket ICMP dari PC sumber ke PC tujuan menggunakan trafik generator, didapatkan hasi parameter delay-nya. Hasil perbandingan akan dilihat dari waktu rerata yang dihasilkan saat trafik sibuk dan tidak sibuk untuk teknik routing Border Gateway Protocol (BGP) dan Open Shortest Path First (OSPF). Pengiriman paket data dilakukan antar jaringan dalam satu area hingga diluar area. Hasil perbandingan rerata delay dapat dilihat pada tabel 4.7.
Tabel 4. 7 Perbandingan Delay ICMP Teknik Routing
Data (bytes) Delay rerata OSPF (ms) Delay rerata BGP (ms) Trafik Tunggal Trafik Sibuk Trafik Tunggal Trafik Sibuk
500 50.875 64.6 44.5 63
1000 60.75 84.6 68.125 84
1875 93.375 129 83.237 134.3
Dari hasil perbandingan berdasarkan yang ada pada tabel 4.7 didapatkan hasil rerata dari parameter delay berupa grafik seperti yang dapat dilihat pada Gambar 4.8. Pada gambar tersebut terdapat 2 grafik pengujian, yaitu trafik tunggal dengan trendline berwarna hijau
0
Linear (Trafik Sibuk) Linear (Trafik Sibuk)
Gambar 4. 8 Grafik Perbandingan Rerata Delay OSPF
dan trafik sibuk dengan trendline berwarna biru. Pada grafik terlihat pengaruh besaran data pada sebuah trafik dimana terjadi peningkatan pada setiap besaran data.
Pada Gambar 4.8 menunjukan hasil dari trafik tunggal dengan besar data 500byte waktu rerata yang dicapai yaitu 50.875 ms, sedangkan untuk trafik sibuk dengan besar data 500byte adalah 64.6 ms, sehingga menghasilkan selisih waktu rerata yaitu 13.725 ms. Begitu juga yang terjadi pada trafik tunggal saat besar data 1000byte waktu rerata yang dicapai yaitu 60.75 ms, dan trafik sibuk saat besar data 1000byte yaitu 84.6 ms sehingga menghasilkan selisih waktu rerata yang yaitu 23.85 ms. Perbedaan waktu rerata pada besar data 1000byte mengalami peningkatan yang cukup signifikan dilihat dari nilai selisihnya. Kemudian untuk besar data 1875byte saat trafik tunggal yaitu 93.375 ms, dan 129 ms untuk besar data 1875byte saat trafik sibuk memiliki selisih rerata waktu yang dicapai yaitu 35.625. Hasil selisih waktu pada besar data 1875byte mengalami peningkatan yang cukup besar jika dibandingkan dengan hasil selisih pada besar data 500byte dan 1000byte.
Berdasarkan hasil pengujian pada masing-masing besaran dapat dilihat bahwa trafik sibuk memiliki waktu rerata yang lebih besar jika dibandingkan dengan trafik tunggal. Hal tersebut dikarenakan saat pengiriman pada trafik sibuk terjadi antrian dimana paket dikirimkan secara bersamaan dalam jumlah yang banyak, sehingga adanya waktu tunggu yang menyebabkan selisih waktu rerata nya cukup besar. Pada pengiriman trafik tunggal, paket dikirim dengan sejumlah data secara satu per-satu sehingga tidak terjadi kepadatan.
Hal tersebut menyebabkan penggunaan waktu nya sedikit untuk paket bisa sampai pada tujuannya dari PC sumber, sehingga rata-rata waktu yang dihasilkan cukup rendah.
Gambar 4. 9 Grafik Perbandingan Rerata Delay BGP
Linear (Trafik Tunggal) Linear (Trafik Sibuk)
Berdasarkan hasil pengujian pada OSPF, delay yang dihasilkan oleh trafik tunggal lebih sedikit jika dibandingkan dengan trafik sibuk. Jika dilihat indikator delay menurut standar TIPHON di Tabel 2.2 menunjukan bahwa waktu rerata untuk trafik tunggal dan trafik sibuk pada teknik routing OSPF masuk dalam kategori sangat bagus. Hal tersebut dikarenakan waktu rerata yang dihasilkan oleh kedua trafik berada di bawah 150 ms, sehingga nilai indeks untuk trafik tunggal dan trafik sibuk adalah 4.
Dari hasil perbandingan berdasarkan yang ada pada tabel 4.7 didapatkan hasil rerata dari parameter delay berupa grafik garis seperti yang dapat dilihat pada Gambar 4.9. Pada gambar tersebut terdapat dua grafik pengujian, yaitu trafik tunggal denga trendline berwarna hijau dan trafik sibuk dengan trendline berwarna biru. Pada grafik trafik tunggal dan trafik sibuk menunjukan pengaruh disetiap besaran data dari teknik routing Border Gateway Protocol (BGP). Pengaruh yang dimaksud yaitu terjadi kenaikan waktu rerata delay mengikuti besarnya data.
Pada gambar 4.9 menunjukan hasil dari trafik tunggal dengan besar data 500byte waktu rerata yang dicapai yaitu 44.5 ms, sedangkan untuk trafik sibuk dengan besar data 500byte adalah 63 ms sehingga menghasilkan selisih waktu rerata yang yaitu 18.5 ms. Begitu juga yang terjadi pada trafik tunggal saat besar data 1000byte waktu rerata yang dicapai yaitu 68.125 ms, dan trafik sibuk saat besar data 1000byte yaitu 84 ms sehingga menghasilkan selisih waktu rerata yang yaitu 15.875 ms. Hasil selisih waktu pada besar data 1000byte tidak terlalu jauh jika dibandingkan dengan hasil selisih pada besar data 500byte. Kemudian untuk
Pada gambar 4.9 menunjukan hasil dari trafik tunggal dengan besar data 500byte waktu rerata yang dicapai yaitu 44.5 ms, sedangkan untuk trafik sibuk dengan besar data 500byte adalah 63 ms sehingga menghasilkan selisih waktu rerata yang yaitu 18.5 ms. Begitu juga yang terjadi pada trafik tunggal saat besar data 1000byte waktu rerata yang dicapai yaitu 68.125 ms, dan trafik sibuk saat besar data 1000byte yaitu 84 ms sehingga menghasilkan selisih waktu rerata yang yaitu 15.875 ms. Hasil selisih waktu pada besar data 1000byte tidak terlalu jauh jika dibandingkan dengan hasil selisih pada besar data 500byte. Kemudian untuk