BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
4.4 Skrip
4.4.2 Border Gateway Protocol (BGP)
Hasil implementasi jaringan dari sebuah rancangan perlu untuk dikonfigurasi terlebih dahulu sebelum dilakukan pengujian. Konfigurasi pada perangkat dimulai dengan konfigurasi alamat IP kemudian konfigurasi jaringan. Salah satu cara konfigurasi pada router adalah menggunakan Command Line Interface (CLI) yang ada pada Router. Pada Gambar 4.21 dapat dilihat konfigurasi untuk alamat IP pada router Fakultas Teknik.
Konfigurasi ini yaitu memberikan alamat IP untuk setiap port yang digunakan pada perangkat router.
Gambar 4. 25 Konfigurasi alamat IP Border Gateway Protocol (BGP)
Hal pertama yang dilakukan sebelum memulai konfigurasi yaitu memberikan perintah “enable” agar terjadi perpindahan dari user mode ke privilaged mode yang ditandai dengan tanda > menjadi #. Saat Privilaged mode diafktifkan, administrator bisa mengakses semua perintah yang tersedia pada router. Kemudian masuk pada mode yang lebih tinggi yaitu global configuration mode, dengan memeberikan perintah “config t atau configure terminal” dan ditandai dengan perubahan dari Router# menjadi Router(config)#. Saat global configuration mode aktif, administrator dapat melakukan konfigurasi pada perangkat, konfigurasi yang akan dijalankan dapat berdampak pada perangkat itu sendiri karena perangkat akan bekerja sesuai dengan konfigurasi yang sudah diterapkan. Konfigurasi untuk
Gambar 4. 26 Konfigurasi Border Gateway Protocol (BGP)
tiap port dilakukan dengan memberikan perintah “nama port’ yang dimana port tersebut akan diberikan nomor IP beserta subnetmasknya. Namun sebelum itu, perlu untuk masuk terlebih dahulu pada interface configuration mode agar bisa mengkonfigurasi semua parameter yang berkaitan dengan interface, misalnya menambahkan alamat IP pada sebuah port. Setelah memberikan alamat IP beserta subnetmasknya disetiap port pada perangkat, perlu untuk memberikan perintah ”no shutdown” agar port statusnya berada di posisi ON.
Setelah selesai mengkonfigurasi, untuk menyimpan seluruh konfigurasi yang telah dibuat diberikan perintah ”write atau write memory”. Jika dalam jaringan semua port sudah berisi alamat IP, selanjutnya yang harus dilakukan yaitu mengkonfigurasi teknik routing pada router.
Konfigurasi teknik routing Border Gateway Protocol (BGP) dapat dilihat pada Gambar 4.22. Terdapat beberapa hal yang perlu dilakukan sebelum melakukan konfigurasi teknik routing pada sebuah router. Dalam mengkonfigurasi teknik routing, perlu untuk masuk pada router configuration mode dari global configuration mode. Router configuration mode digunakan jika ingin mengaktifkan suatu routing protokol (routing dinamis) tertentu pada router. Berikan perintah “router bgp 100” untuk masuk pada mode tersebut sekaligus mengaktifkan teknik routing Border Gateway Protocol (BGP). Angka 100 dibelakang perintah bgp merupakan Autonomous System Number (ASN). BGP menggunakan ASN untuk mebangun hubungan dengan tetangganya. Aktifnya teknik routing ditandai dengan perubahan prompt dari FakTeknik(config)# menjadi FakTeknik(config-router)#. Kemudian agar router BGP mengetahui neighbor dan network address-nya perlu dikonfigurasi atau diset dengan memasukan IP neighbor dan network addres kedalam perintah. Selain memberikan IP tetangga, administrator perlu juga untuk memberikan remote-as sebagai BGP peers sesuai dengan yang sudah ditentukan. Beberapa
informasi yang diperlukan oleh router yaitu alamat IP neighbor, IP jaringan, subnetmask, nomor remote-as, dan nomor ASN.
Masing-masing router pada jaringan memiliki routing table. Routing table merupakan tabel yang memuat seluruh informasi alamat IP dari interface router lain agar router yang satu dan lainnya dapat saling berkomunikasi. Pada Gambar 4.23 menunjukan routing table dari sebuah router melalui Command Line Interface (CLI), dengan memberikan perintah “show IP route” maka informasi mengenai interface router lainnya akan muncul. Huruf yang berada di depan IP disebut Flag yang menyatalan jenis routing atau sebuah kode terhadap IP tersebut. Flag “C” atau directly connected pada routing table menunjukan bahwa IP tersebut merupakan IP dari router lain yang bisa langsung terhubung dengan router tersebut. Flag “B” atau BGP menunjukan bahwa IP tersebut merupakan IP jaringan yang tidak terhubung langsung dengan router tersebut. Next_hop yang tercatat pada tabel routing adalah interface gateaway yang terhubung langsung dengan router tersebut, dan adalah pintu pertama yang akan dilalui sebuah paket untuk menuju jaringan yang dituju.
Gambar 4. 27 Tabel Routing BGP
Gambar 4. 28 Tabel Neighbor BGP
67
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil pengujian jaringan dan hasil analisa dari kinerja masing-masing teknik routing pada Local Area Network menggunakan topologi tree, dapat ditarik kesimpulan sebagai berikkut;
1. Berdasarkan hasil pengujian parameter delay untuk pengiriman ICMP dan HTTP teknik routing OSPF lebih baik jika dibandingkan dengan teknik routing BGP, dilihat dari rata-rata delay saat trafik tunggal maupun trafik sibuk. Delay yang rendah menunjukan baiknya kualitas jaringan tersebut.
2. Pengujian pada teknik routing OSPF dan BGP menggunakan topologi tree
menghasilkan nilai packetloss sebesar 0% yang berarti tidak ada paket yang hilang selama pengiriman untuk kedua routing.
3. Berdasarkan hasil pengujian parameter throughput untuk pengiriman FTP saat trafik tunggal dan trafik sibuk teknik routing BGP memiliki nilai throughput lebih besar dibanding teknik routing OSPF.
5.2 Saran
Penelitian yang telah dilakukan ini masih memiliki beberapa kekurangan, sehingga saran yang bisa diberikan untuk penelitian selanjutnya yaitu;
1. Simulasi dapat dikembangkan dengan menggunakan simulator yang berbeda sehingga dapat menjadi perbandingan.
2. Penelitian selanjutnya dapat menambahkan variasi topologi lainnya, file paket, dan parameter sebagai bahan perbandingan unjuk kerja sebuah teknik routing.
68
DAFTAR PUSTAKA
[1] Kodar, Achmad., 2010, Analisa Dan Uji Kinerja PC Router yang Menjalankan Protokol Routing Border Gateway Protocol (BGP) Menggunakan Zebra/Quagga, Seminar Nasional Pengaplikasian Telematika, Fakultas Ilmu Komputer, Universitas Mercu Buana, Jakarta.
[2] Musril, H.A.,2017, SIMULASI INTERKONEKSI ANTARA AUTONOMOUS SYSTEM (AS) MENGGUNAKAN BORDER GATEWAY PROTOCOL (BGP), Jurnal Nasional Informatika dan Teknologi Jaringan, vol.2, no.1, hal 1-9.
[3] Ernawati, Tati., Endrawan, Jemi., 2018, Peningkatan Kinerja Jaringan Komputer dengan Border Gateway Protocol (BGP) dan Dynamic Routing (Studi Kasus PT Estiko Ramanda), Jurnal Ilmu Komputer dan Informatika, vol.4, no.1, hal 35-41.
[4] Argenta, L,R.,2016, Analisis Unjuk Kerja RIP dan OSPF pada Topologi Sederhana dan Kompleks, Tugas Akhir, Jurusan Teknik Informatika, FST, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.
[5] Jati, W,S., Nurwasito,Heru., Data, Mahendra., 2018, Perbandingan Kinerja Protokol Routing Open Shortest Path First (OSPF) dan Routing Information Protocol (RIP) Menggunakan Simulator Cisco Packet Tracer, Jurnal Pengembangan Teknologi Informasi dan Ilmu Komputer, vol. 2, no. 8, hal. 2442-2448.
[6] M, Lady, S., Suhardi., 2011, Pengaruh Model Jaringan Terhadap Optimasi Routing Open Shortest Path First (OSPF), Jurnal Teknologi, vol. 1, no. 2, hal. 68-80.ch
[7] Wulandari, Rika., 2016, Analisis QoS ( Quality of service) pada jaringan Internet (Studi Kasus : UPT Loka Uji Teknik Penambangan Jampang Kulon-LIPI), Jurnal Teknik Informasi dan Sistem Informasi, Vol, No. 2. E-ISSN 2443-2229, Hal. 162-172.
[9] Pramono, Eko., Kusrini., Pamungkas, W, Sumbogo., 2018, Analisis Quality of Service (QoS) pada jaringan Hotspot SMA Negeri XYZ, Jurnal Sistem Informasi dan Teknologi Informasi, Vol. 7, No. 2, Hal. 142-152.
[10] ---.,2019, Dynamic Routing : A Complete Guide for Beginner and Expert, https://www.gns3jaringan.com/dynamic-routing-complete-guide-for-beginner-and-expert/
diakses tanggal 19 November 2020.
[11] Murod, A, F., 2017, Evaluasi kinerja routing protokol RIPng, OSPFv3, EIGRP dengan BGP pada jaringan IPv6, Tugas Akhir, Jurusan Teknik Informatika, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
[12] Syafrizal, M.,2005, Pengantar Jaringan Komputer, Andi, Yogyakrta.
[13] ---.,2003, SERIES M: TMN AND JARINGAN MAINTENANCE: INTERNATIONAL TRANSMISSION SYSTEMS, TELEPHONE CIRCUITS, TELEGRAPHY, FACSIMILE AND LEASED CIRCUITS Telecommunications management jaringan, TELECOMMUNICATION STANDARDIZATION SECTOR OF INTERNATIONAL TELECOMMUNICATION UNION, M-3017.
[14] ---.,---., IANA (Internet Assigned Numbers Authority) : Number Resources, IANA — Number Resources diakses tanggal 11 Februari 2021.
[15] Pummill, Troy., Manning, Bill., 1995, Variable Length Subnet Table For Ipv4, RFC 1878, hal 1-8, https://tools.ietf.org/html/rfc1878 diakses tanggal 11 Februari 2021.
[16] Rekhter, Yakov., Moskowitz, G, Robert., Karrenberg, Daniel., Groot, Geert., Lear, Eliot., 1996, Address Allocation for Private Internets, RFC 1918, hal 1-9, https://tools.ietf.org/html/rfc1918 diakses tanggal 11 Februari 2021.
[17] Adi, P, Tri., 2008, Program Simulasi Routing IP pada Jaringan Lokal, Tugas Akhir, Teknik Informatika, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Sanata Dharma.
70
LAMPIRAN
1. Lampiran 1 Tabel Hasil Paket ICMP Trafik Tidak Sibuk 500 Byte.
Tabel Hasil Paket ICMP Traffik tidak sibuk 500 byte IP Asal IP Tujuan Delay (s) Packet Loss (%)
2. Lampiran 2 Tabel Hasil Paket ICMP Trafik Tidak Sibuk 1000 Byte.
Tabel Hasil Paket ICMP Traffik tidak sibuk 1000 byte IP Asal IP Tujuan Delay (s) Packet Loss (%)
3. Lampiran 3 Tabel Hasil Paket ICMP Trafik Tidak Sibuk 1875 Byte.
Tabel Hasil Paket ICMP Traffik tidak sibuk 1875 byte IP Asal IP Tujuan Delay (s) Packet Loss (%)
4. Lampiran 4 Tabel Hasil Paket ICMP Trafik Sibuk 500 Byte.
Tabel Hasil Paket ICMP Traffik sibuk 500 byte
IP Asal IP Tujuan Delay (s) Packet Loss (%)
5. Lampiran 5 Tabel Hasil Paket ICMP Trafik Sibuk 1000 Byte.
Tabel Hasil Paket ICMP Traffik Sibuk 1000 byte IP Asal IP Tujuan Delay (s) Packet Loss (%)
6. Lampiran 6 Tabel Hasil Paket ICMP Trafik Sibuk 1875 Byte.
Tabel Hasil Paket ICMP Traffik Sibuk 1875 byte IP Asal IP Tujuan Delay (s) Packet Loss (%)
7. Lampiran 7 Tabel Hasil Delay Paket HTTP
HTTP Trafik Tidak Sibuk
Rata-rata 0.081375 0.083875
8. Lampiran 8 Tabel Hasil Delay Paket HTTP Rata-rata 0.064666667 0.063
9. Lampiran 9 Tabel Hasil FTP Trafik Tidak Sibuk 2877440 byte Throughput 2877440 byte
IP Asal IP Tujuan Throughput (Bps) Rata-rata 13383712 14760952
10. Lampiran 9 Tabel Hasil Paket FTP Trafik Tidak Sibuk 5571584 Byte.
Throughput 5571584 byte Rata-rata 2288384 2512960
11. Lampiran 10 Tabel Hasil Paket FTP Trafik Tidak Sibuk 15522644 Byte.
Throughput 15522644 byte IP Asal IP Tujuan Throughput (Bps) Rata-rata 3417088 3406488
12. Lampiran 11 Tabel Hasil Paket FTP Trafik Sibuk 2877440 Byte Tabel Hasil Paket FTP Traffik Sibuk 2877440 byte
IP Asal IP Tujuan Delay (s)
OSPF BGP
PC 35 Server 0.061 0.06
PC 35 Server 0.066 0.064
PC 35 Server 0.067 0.065
Rata-rata 0.064666667 0.063
13. Lampiran 10 Tabel Hasil Paket FTP Trafik Sibuk 5571584 Byte Tabel Hasil Paket FTP Traffik Sibuk 5571584 byte
IP Asal IP Tujuan Delay (s) OSPF BGP
PC 35 Server 23640 31264
PC 35 Server 22960 29848
PC 35 Server 24200 31208
Rata-rata 70800 92320
14. Lampiran 10 Tabel Hasil Paket FTP Trafik Sibuk 15522644 Byte Tabel Hasil Paket FTP Traffik Sibuk 15522644 byte
IP Asal IP Tujuan Delay (s)
OSPF BGP
PC 35 Server 44752 44016
PC 35 Server 56512 42040
PC 35 Server 44896 43368
Rata-rata 48720 129424
Konfigurasi IP Address Gedung Fakultas Teknik Router>en
Router#config t
Router(config)#hostname FakTeknik FakTeknik(config)#interface fa0/0
FakTeknik(config-if)#ip address 172.17.1.2 255.255.255.240 FakTeknik(config-if)#no shutdown
FakTeknik(config-if)#exit
FakTeknik(config)#interface se1/0
FakTeknik(config-if)#ip address 128.1.1.1 255.255.255.248 FakTeknik(config-if)#no shutdown
FakTeknik(config-if)#exit
FakTeknik(config)#interface se1/1
FakTeknik(config-if)#ip address 128.2.1.1 255.255.255.248 FakTeknik(config-if)#no shutdown
FakTeknik(config-if)#exit
FakTeknik(config)#interface se1/2
FakTeknik(config-if)#ip address 128.3.1.1 255.255.255.248 FakTeknik(config-if)#no shutdown
FakTeknik(config-if)#exit FakTeknik(config)#exit FakTeknik #write
Konfigurasi IP Address Gedung Teknik Elektro Router>en
Router#config t
Router(config)#hostname TE TE(config)#interface fa0/0
TE(config-if)#ip address 172.18.1.1 255.255.255.240 TE(config-if)#no shutdown
TE(config-if)#exit
TE(config)#interface se1/0
TE(config-if)#ip address 128.1.1.2 255.255.255.248 TE(config-if)#no shutdown
TE(config-if)#exit TE(config)#exit TE#write
Konfigurasi IP Address Gedung Teknik Mesin Router>en
Router#config t
Router(config)#hostname TM TM(config)#interface fa0/0
TM(config-if)#ip address 172.19.1.1 255.255.255.240 TM(config-if)#no shutdown
TM(config-if)#exit
TM(config)#interface se1/0
TM(config-if)#ip address 128.2.1.2 255.255.255.248 TM(config-if)#no shutdown
TM(config-if)#exit TM(config)#exit TM#write
Konfigurasi IP Address Gedung Fakultas Eknomi Router>en
Router#config t
Router(config)#hostname FE FE(config)#interface se1/0
FE(config-if)#ip address 128.3.1.2 255.255.255.248 FE(config-if)#no shutdown
FE(config-if)#exit
FE(config)#interface se1/1
FE(config-if)#ip address 128.4.1.1 255.255.255.248 FE(config-if)#no shutdown
FE(config-if)#exit
FE(config)#interface se1/2
FE(config-if)#ip address 128.5.1.1 255.255.255.248 FE(config-if)#no shutdown
FE(config-if)#exit FE(config)#exit FE#write
Konfigurasi IP Address Gedung Akuntansi Router>en
Router#config t
Router(config)#hostname Akuntansi Akuntansi(config)#interface se1/0
Akuntansi(config-if)#ip address 128.4.1.2 255.255.255.248 Akuntansi(config-if)#no shutdown
Akuntansi(config-if)#exit
Akuntansi(config)#interface fa0/0
Akuntansi(config-if)#ip address 172.20.1.1 255.255.255.240 Akuntansi(config-if)#no shutdown
Akuntansi(config-if)#exit Akuntansi(config)#exit Akuntansi#write
Konfigurasi IP Address Gedung Manajemen Router>en
Router#config t
Router(config)#hostname Manajemen Manajemen(config)#interface se1/0
Manajemen(config-if)#ip address 128.5.1.2 255.255.255.248 Manajemen(config-if)#no shutdown
Manajemen(config-if)#exit
Manajemen(config)#interface fa0/0
Manajemen(config-if)#ip address 172.21.1.1 255.255.255.240 Manajemen(config-if)#no shutdown
Manajemen(config-if)#exit Manajemen(config)#exit Manajemen#write
OSPF Gedung Fakultas Teknik FakTeknik>en
FakTeknik#config t
FakTeknik(config)#router ospf 1
FakTeknik(config-router)#network 172.17.1.0 255.255.255.240 area 1 FakTeknik(config-router)#network 128.1.1.0 255.255.255.248 area 1 FakTeknik(config-router)#network 128.2.1.0 255.255.255.248 area 0 FakTeknik(config-router)#network 128.3.1.0 255.255.255.248 area 0 FakTeknik(config-router)#exit
FakTeknik(config)#exit FakTeknik#write
OSPF Gedung Teknik Ekonomi TE>en
TE#config t
TE(config)#router ospf 2
TE(config-router)#network 128.1.1.0 255.255.255.248 area 1 TE(config-router)#network 172.18.1.0 255.255.255.240 area 1 TE(config-router)#exit
TE(config)#exit TE#write
OSPF Gedung Teknik Mesin TM>en
TM#config t
TM(config)#router ospf 3
TM(config-router)#network 128.2.1.0 255.255.255.248 area 0 TM(config-router)#network 172.19.1.0 255.255.255.240 area 0 TM(config-router)#exit
TM(config)#exit TM#write
OSPF Gedung Fakultas Ekonomi FE>en
FE#config t
FE(config)#router ospf 4
FE(config-router)#network 128.3.1.0 255.255.255.248 area 0 FE(config-router)#network 128.4.1.0 255.255.255.248 area 0 FE(config-router)#network 128.5.1.0 255.255.255.248 area 2 FE(config-router)#exit
FE(config)#exit FE#write
OSPF Gedung Akuntansi Akuntansi>en
Akuntansi#config t
Akuntansi(config)#router ospf 5
Akuntansi(config-router)#network 172.20.1.0 255.255.255.240 area 0 Akuntansi(config-router)#network 128.4.1.0 255.255.255.248 area 0 Akuntansi(config-router)#exit
Akuntansi(config)#exit Akuntansi#write
OSPF Gedung Manajemen Manajemen>en
Manajemen#config t
Manajemen(config)#router ospf 6
Manajemen(config-router)#network 172.21.1.0 255.255.255.240 area 2
Manajemen(config-router)#network 128.5.1.0 255.255.255.248 area 2 Manajemen(config-router)#exit
Manajemen(config)#exit Manajemen#write
BGP Gedung Fakultas Teknik FakTeknik>en
FakTeknik#config t
FakTeknik(config)#router bgp 100
FakTeknik(config-router)#neighbor 128.1.1.2 remote-as 200 FakTeknik(config-router)#neighbor 128.2.1.2 remote-as 300 FakTeknik(config-router)#neighbor 128.3.1.2 remote-as 400
FakTeknik(config-router)#network 128.1.1.0 mask 255.255.255.248 FakTeknik(config-router)#network 128.2.1.0 mask 255.255.255.248 FakTeknik(config-router)#network 128.3.1.0 mask 255.255.255.248 FakTeknik(config-router)#exit
FakTeknik(config)#exit FakTeknik#write
BGP Gedung Teknik Elektro TE>en
TE#config t
TE(config)#router bgp 200
TE(config-router)#neighbor 128.1.1.1 remote-as 100
TE(config-router)#network 172.18.1.0 mask 255.255.255.240 TE(config-router)#exit
TE(config)#exit
TE#write
BGP Gedung Teknik Mesin TM>en
TM#config t
Enter configuration commands, one per line. End with CNTL/Z.
TM(config)#router bgp 300
TM(config-router)#neighbor 128.2.1.1 remote-as 100
TM(config-router)#network 172.19.1.0 mask 255.255.255.240 TM(config-router)#exit
TM(config)#exit TM#write
BGP Gedung Fakultas Ekonomi E>en
FE#config t
Enter configuration commands, one per line. End with CNTL/Z.
FE(config)#router bgp 400
FE(config-router)#neighbor 128.2.1.1 remote-as 100 FE(config-router)#neighbor 128.4.1.2 remote-as 500 FE(config-router)#neighbor 128.5.1.2 remote-as 600
FE(config-router)#network 128.3.1.0 mask 255.255.255.248 FE(config-router)#network 128.4.1.0 mask 255.255.255.248 FE(config-router)#network 128.5.1.0 mask 255.255.255.248 FE(config-router)#exit
FE(config)#exit FE#write
BGP Gedung Fakultas Ekonomi Akuntansi>en
Akuntansi#config t
Enter configuration commands, one per line. End with CNTL/Z.
Akuntansi(config)#router bgp 500
Akuntansi(config-router)#neighbor 128.4.1.1 remote-as 400
Akuntansi(config-router)#network 172.20.1.0 mask 255.255.255.240 Akuntansi(config-router)#exit
Akuntansi(config)#exit Akuntansi#write
BGP Gedung Manajemen Manajemen>en
Manajemen#config t
Manajemen(config)#router bgp 600
Manajemen(config-router)#neighbor 128.5.1.1 remote-as 400 Manajemen(config-router)#neighbor 128.5.1.1 Up
Manajemen(config-router)#network 172.21.1.0 mask 255.255.255.240 Manajemen(config-router)#exit
Manajemen#write