• Tidak ada hasil yang ditemukan

Paksaan Sebagai Alasan Pembatalan Perjanjian

Dalam dokumen HUKUM UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN (Halaman 85-90)

BAB III AKIBAT UNSUR PAKSAAN DALAM PERJANJIAN YANG

B. Paksaan Sebagai Alasan Pembatalan Perjanjian

Syarat sahnya suatu perjanjian ditentukan dalam Pasal 1320 KUHPer, yaitu : a. kesepatan para pihak ;

b. kecakapan/ kewenangan para pihak ; c. Suatu hal tertentu ;

d. Suatu sebab yang halal ;

Syarat subjektif tidak terpenuhi (tidak cakap atau memberikan perizinannya secara tidak bebas), seperti perjanjian dibawah paksaan dan atau terdapat pihak dibawah umur atau dibawah pengawasan, maka perjanjian ini dapat dimintakan pembatalan (canceling) kepada hakim oleh pihak yang tidak mampu termasuk wali atau pengampunya. Dengan kata lain, apabila tidak dimintakan pembatalan maka

90E.Y Kanter, dan S.R Sianturi, Asas – Asas Hukum Pidana di Indonesia dan Penerapannya, (Jakarta : PT.Storia Grafika, 2002), hal.273-276.

perjanjian tersebut tetap mengikat para pihak. Dalam hal syarat objektif tidak terpenuhi (hal tertentu atau causa yang halal), tidak ada atau tidak didasari pada itikad yang baik, maka dengan sendirinya perjanjian tersebut batal demi hukum (null and void) dalam kondisi ini perjanjian dianggap tidak pernah ada dan lebih lanjut para pihak tidak memiliki dasar penuntutan di depan hakim.

Selain ketentuan syarat sahnya suatu perjanjian sebagaimana diatur dalam pasal 1320 KUHPer, terdapat beberapa perjanjian yang diatur oleh undang-undang yang mewajibkan dipenuhinya suatu formalitas untuk dinyakan sah, perjanjian ini dikenal dengan perjanjian formil. Formalitas tertentu itu, misalnya tentang bentuk atau format perjanjian yang harus dibuat dalam bentuk tertentu, yakni dengan akta otentik ataupun akta dibawah tangan.91

Hak meminta pembatalan hanya ada pada satu pihak saja. Pihak yang oleh UU diberi perlindungan, yaitu pihak yang tidak cakap dan pihak yang tidak bebas dalam memberikan sepakat, diatur dalam pasal 1454 KUHPer berbunyi:

Waktu tersebut mulai berlaku dalam hal Kebelum dewasaan, sejak hari kedewasaan, dalam hal paksaan, sejak hari paksaan itu telah berhenti, dalam hal kekhilafan atau penipuan, sejak hari diketahuinya kekhilafan atau penipuan itu. Waktu yang disebutkan diatas ini, yang ditetapkan untuk mengajukan tuntutan, tidaklah berlaku terhadap kebatalan yang dimajukan selaku pembelaan atau tangkisan, yang mana selalu dapat dikemukakan.

Didalam Pasal 1320 KUHPer mengenai Kesepakatan para pihak kesepakatan merupakan perwujudan dari kehendak para pihak dalam perjanjian mengenai apa yang mereka kehendaki untuk dilaksanakan, bagaimana cara melaksanakannya,

91 Elly Herawati dan Herlien Boediono, Penjelasan Hukum Tentang Kebatalan Perjanjian, (Jakarta: PT.Gramedia, Nasional Legal Reform Program, NLRP, 2010), hal.6

kapan harus dilaksanakan, dan siapa yang harus melaksanakannya. kebebasan dalam sepakat tersebut mempunyai batasan seperti yang diatur dalam Pasal 1321 KUHPer,

“tidak ada sepakat yang sah apabila sepakat itu diberikan karena kekhilafan, atau diperolehnya dengan paksaan atau penipuan”.

Kehilafan (Kesesatan) terjadi apabila orang dalam suatu persesuaian kehendak mempunyai gambaran yang keliru mengenai orangnya dan mengenai barangnya.92

Sebagaimana dalam Pasal 1322 KUH Perdata, berbunyi:

Kehilafan tidak mengakibatkan batalnya suatu persetujuan selain apabila kekhilafan itu terjadi mengenai hakikat barang yang menjadi pokok persetujuan. Kehilafan tidak menjadi sebab kebatalan, jika kekhilafan itu hanya terjadi mengenai dirinya orang dengan siapa seorang bermaksud membuat suatu persetujuan, kecuali jika persetujuan itu telah dibuat terutama karena mengingat dirinya orang tersebut”.

Menurut Mariam Darus Badrulzaman Ada 2 (dua) macam kehilafan:

a. error in persona, yaitu kekeliruan pada orangnya, contohnya, sebuah perjanjian yang dibuat dengan artis yang terkenal tetapi kemudian perjanjian tersebut dibuat dengan artis yang tidak terkenal hanya karena dia mempunyai nama yang sama.

b. error in substantia, yaitu kekeliruan yang berkaitan dengan karakteristik suatu benda, contohnya seseorang yang membeli lukisan Basuki Abdullah tetapi kemudian setelah sampai di rumah orang itu baru sadar bahwa lukisan yang dibelinya tadi adalah lukisan tiruan dari lukisan Basuki Abdullah.93

Paksaan adalah setiap perbuatan atau ancaman yang melanggar undang-undang, paksaan yang dimaksud adalah kekerasan jasmani yang menimbulkan ketakutan sehingga pihak yang mengalami tekanan membuat perjanjian atau

92Purwahid Patrik, Dasar-Dasar Hukum Perikatan (Perikatan yang lahir dari perjanjian dan dari undang-undang), (Bandung : PT. Mandra Maju, 1994), hal.58

93 Mariam Darus Badrulzaman, Kompilasi Hukum Perikatan, (Bandung : PT.Citra Aditya Bakti, 2001), hal.75.

perizinan tetapi secara tidak benar atau menghalangi kebebasan kehendak para pihak, paksaan tersebut bertujuan agar pada akhirnya pihak lain memberikan hak, kewenangan ataupun hak istimewanya, Paksaan inilah yang dimaksudkan undang-undang dapat dipergunakan menuntut batalnya perjanjian.94

Unsur paksaan yang mengakibatkan cacat kehendak dari pihak yang membuat sehingga terancam pembatalan.95 diatur dalam Pasal 1323 KUHPer “Paksaan yang dilakukan terhadap orang yang membuat suatu persetujuan, merupakan alasan untuk batalanya persetujuan, juga apabila paksaan itu dilakukan oleh seorang pihak ketiga, untuk kepentingan siapa persetujuan tersebut tidak telah dibuat”. Serta didalam Pasal 1325 KUHPerdata “Paksaan menjadikan suatu persetujuan batal, bukan hanya bila dilakukan terhadap salah satu pihak yang membuat persetujuan, melainkan juga bila dilakukan terhadap suami atau istri atau keluarganya dalam garis ke atas maupun ke bawah”.

Paksaan yang tidak dapat dibatalkan mengandung unsur yang diatur dalam Pasal 1326 KUHPerdata, yaitu: “rasa takut karena hormat terhadap ayah, ibu atau keluarga lain dalam garis lurus ke atas, tanpa disertai kekerasan, tidak cukup untuk membatalkan persetujuan”. Meskipun paksaan atau ancaman dilakukan terhadap suatu orang lain yang mungkin juga memiliki keterkaitan hubungan psikologis yang kuat, namun jika tidak termasuk dalam Unsur Pasal 1325 KUHPerdata, maka paksaan

94Pontas Efendi, Ketua Pengadilan Negeri Bandung, Pada tanggal 7 Mei 2015 (diolah)

95Ibid.

atau ancaman tersebut tidak dapat digunakan sebagai alasan untuk membatalkan perjanjian yang telah dibuat dibawah paksaan atau ancaman tersebut.96

Penipuan itu dilakukan dengan sengaja dari pihak lawan, untuk mempengaruhi ketujuan yang keliruatau supaya mempunyai gambaran yang keliru.

Penipuan tidak sekedar bohong tetapi dengan segala upaya akal tipu muslihat dengan kata-kata atau diamyang menimbulkan kekeliruan dalam kehendaknya.97 Penipuan terjadi apabila salah satu pihak dengan sengaja memberikan keterangan-keterangan yang palsu atau tidak benar disertai dengan tipu muslihat untuk membujuk pihak lawannya memberikan persetujuannya untuk mengikatkan dirinya dalam perjanjian, pihak yang menipu bertindak secara aktif untuk menjerumuskan pihak lawannya.98 Penipuan ini tidak mudah dibuktikan, sehingga pihak yang membuktikan adalah pihak yang ditipu dalam perjanjian yang mereka sepakati.

Sebagaimana dalam Pasal 1328 KUH Perdata, berbunyi:

Penipuan merupakan suatu alasan untuk pembatalan persetujuan, apabila tipu-muslihat yang dipakai oleh salah satu pihak, adalah sedemikian rupa hingga terang dan nyata bahwa pihak yang lain tidak telah membuat perikatan itu jika tidak dilakukan tipu-muslihat tersebut. Penipuan tidak dipersangkakan, tetapi harus dibuktikan.

Pembatalan perjanjian merupakan suatu upaya untuk menghapus persetujuan atau kesepakatan dalam perjanjian yang dibuat sehingga perjanjian tersebut tidak memiliki kekuatan hukum dan pelaksanaannya tidak dapat dipaksakan. Hapusnya persetujuan dalam perjanjian dapat disebabkan hal-hal sebagai beriukut :

96Kartini Muljadi dan Gunawan Widjaja, Perikatan yang Lahir dari Perjanjian, (Jakarta : PT.

Raja Grafindo Persada, 2002), hal.33.

97Purwahid Patrik, Op.Cit, hal.60.

98Mariam Darus, Op.Cit , hal. 65

a). Ditentukan dalam persetujuan oleh para pihak

b). Undang-undang menentukan batas berlakunya suatu perjanjian c). Para pihak atau undang-undnag menentukan bahwa dengan

terjadinya peristiwa tertentu maka persetujuan akan hapus d). Pernyataan penghentian persetujuan

e). Disebabkan putusan hakim

f). Tujuan dari perjanjian telah tercapai g). Dengan persetujuan para pihak99

Didalam Praktek Persidangan Ada dua cara untuk meminta pembatalan perjanjian

1. Pihak yang berkepentingan secara aktif sebagai penggugat meminta kepada hakim upaya perjanjian itu dibatalkan.

2. Menunggu sampai ia digugat di depan hakim untuk memenuhi perjanjian tersebut, kemudian mengemukakan bahwa perjanjian tersebut telah disetujuinya ketika ia masih belum cakap, atau karena diancam, ditipu atau khilaf mengenai objek perjanjian. Di depan sidang pengadilan itu ia memohon kepada hakim supaya perjanjian dibatalkan. Meminta pembatalan secara pembelaan inilah yang tidak dibatasi waktunya.100

C. Pembatalan Perjanjian Menurut Putusan Pengadilan

Dalam dokumen HUKUM UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN (Halaman 85-90)