BAB IV TANGAN DEWA DOTU DARI SIPAPAGA
4.4 Pandangan Masyarakat Desa Sipapagan tentang
Berdasarkan standar yang ditetapkan dalam IPKM ( Indeks Pembangunan Kesehatan Masyarakat). Definisi imunisasi dasar lengkap (PPI) adalah:
Imunisasi yang telah diperoleh anak umur 12-23 bulan. Lengkap jika anak tersebut telah diimunisasi 1 kali BCG, 3 kali DPT,dan minimal 3 kali Polio, dan 1 kali campak. (Riskesdes. 2007
Imunisasi yang telah diperoleh anak umur 12-59 bulan. Lengkap jika anak tersebut telahdiimunisasi 1 kali BCG, 3 kali DPT,dan minimal 3 kali Polio, dan 1 kali campak. (Riskesdes. 2013).
Selain imunisasi dasar , ada pula imunisasi tambahan yang juga dianjurkan oleh IDAI ( Ikatan Dokter Anak Indonesia) yaitu : Hib, MMR, demam tifoid, varisela, hepatitis A, polivalen pneumokok , meningokok, influenza, rotavirus.8
Gambar 4.6 Jadwal dan rekomendasi
imunisasi menurut IDAI Sumber: dokumentasi
peneliti
Melihat data dari Puskesmas Panyabungan Jae, cakupan imunisasi dasar, khususnya BCG dan Hepatitis B awal, masih jauh dari target 100%. Kami khawatir, dengan cakupan imunisasi yang masih rendah, maka angka insidens Hepatitis B dan Tuberculosis akan sulit ditekan. Dan, masih banyak lagi warga yang akan tarpangan rasa (rasa atau diguna-guna
4.5 Imunisasi di Sipapaga
Paling kurang setiap bulan, diadakan Posyandu di Sipapaga. Ruang kolong tribun lapangan bola menjadi tempat kegiatan Posyandu. Di situlah diadakan ceramah kesehatan semacam penyuluhan kecil-kecilan, pemberian imunisasi dasar dan pemberian makanan tambahan.
Pagi harinya, diumumkan melalui pengeras suara masjid dalam bahasa Sipapaga atau bahasa Mandailing, bahwa nanti siang jam sekian akan dilaksanakan kegiatan Posyandu dan imunisasi.
Gambar 4.7 Kolong tribun lapangan bola tempat posyandu dan imunisasi Sumber: dokumentasi peneliti Imunisasi di desa Sipapaga bukan merupakan hal yang mudah untuk dilaksanakan. Hali ini bukan karena tidak adanya vaksin imunisasi, tetapi masyarakat desa yang merasa khawatir kalau anak atau bayinya diimunisasi bukannya sembuh, tetapi malah berakibat sakit pada si kecil. Berikut adalah pernyataan
Bidan Desa Aek Banir dalam petikan wawancara di bawah ini:
“…imunisasi susah, kalo suami selalu marah-marah jika pulang dari kebun anak-anak rewel dan menangis semalaman…Ada juga nenek (ibu dari salah seorang informan) tidak memperbolehkan cucunya diimunisasi karena rewel, demam dan nangis sehingga mamaknya tidak bisa ke kebun sedangkan cucunya kan nenek yang ngasuh…”.
Berikut adalah bagan pelaksanaan imunisasi dan pandangan masyarakat terhadap imunisasi
Gambar 4.8
Bagan pelaksanaan Imunisasi desa Sipapagan 1. Anak rewel
2. Dilarang suami atau mertua 3. Belum paham manfaat dan
penyakit apa yang bisa dicegah 4. Belum paham kenapa anak sehat
harus disuntik
Alasan Tidak mau Imunisasi
Hasil: Tidak terbentuk herd immunity Rentan terkena hepatitis B, TB ataupun penyakit lainnya
Bidan lainnya di desa yang sama juga mengemukakan hal yang serupa terkait pelaksanaan imunisasi. Berikut adalah pernyataan bidan I:
“Jarang ada yang mau imunisasi di Posyandu. Datang ke
Posyandu paling-paling maunya dapat Vitamin A, BCG dan Polio saja.Sama dapat makanan tambahan.Apalagi imunisasi DPT, habis disuntik kan anaknya demam lalu malas makan gitu, orang makin gak mau imunisasi DPT. Padahal waktu penyuluhan sudah kami beritahu, mending sekarang demam dan rewel daripada nanti sakit lebih parah.”
Sulitnya melakukan imunisasi pada masyarakat juga tercermin dari tabel cakupan imunisasi polio di puskesmas Sipapaga. Dari data cakupan imunisasi polio dan DPT, masih perlu banyak usaha untuk mendekati angka 100%.
Gambar 4.9: Cakupan imunisasi polio dan DPT tahun 2014 Sumber: Data Imunisasi Puskesmas Sipapaga
Kami tidak mendapatkan data khusus dari Desa Sipapaga mengenai berapa cakupan imunisasi BCG, vaksinasi untuk mencegah TB. Untuk data kecamatan Panyabungan Jae yang meliputi seluruh desa di luar Sipapaga baru tercakup 63%.
Imunisasi dasar memang gratis.Tapi, bukan biaya yang menjadi alasan masyarakat tidak mau membawa anaknya untuk diimunisasi. Selain alasan tidak mau anak rewel, ada pula yang menganggap bahwa memberi suntikan seharusnya pada seseorang yang dianggap sakit dan bukan pada anak yang sehat. Berikut pernyataan A, salah seorang informan:
“Ngapain anak sehat kok disuntik? Yang disuntik kan orang
sakit. Mana anak saya takut jarum. Saya bilang, kalau di sekolah ada yang mau suntik, ya sudah lari pulang saja”
Gambar 4.10
Imunisasi di Posyandu Sipapaga Sumber : dokumentasi peneliti
Ketika ditanya, apakah informan tahu bahwa imunisasi itu suatu bahan untuk mencegah penyakit dan memang diberikan kepada anak yang sehat.Dan apakah sudah tahu bahwa imunisasi memang bukan obat, jadi tidak diberikan kepada anak sakit atau tahukah penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi dan bagaimana mengenali gejala awalnya?Semua informan yang kami jumpai menjawab tidak tahu atas semua pertanyaan di atas.
“Cuma diumumkan saja di masjid,bahwa siang nanti akan
tahu awak apa itu imunisasi,itu buat mencegah sakit apa” (S, 24)
Informan lain (L) berkata, “Saya sih maunya imunisasi lengkap,
tapi dilarang sama bapaknya ama mertua saya.” Pengambilan
keputusan dalam keluarga tak bisa dilepaskan dari peran suami dan mertua (orang tua pihak laki-laki) dan ketika pihak suami tidak ingin anaknya diimunisasi, maka anak itu pun tentu tidak tercakup program imunisasi
Kami lalu menanyai informan S, 38 tahun,
“Jadi mungkin maunya soal imunisasi ini sebaiknya
disebarluaskan lewat brosur, selebaran atau mungkin dimasukkan TV ya? Supaya orang tahu apa itu vaksin, penyakit apa yang bisa dicegah lalu efek sampingnya seperti demam yang sebenarnya tidak perlu dikhawatirkan, dsbnya.”
Gambar 4.11
Wadah cool box
penyimpanan vaksin dan tempat pembuangan
jarum bekas.
Agar tidak rusak, vaksin harus disalurkan dengan cara cold
chain dan jarum bekas sekali pakai dibuang dalam wadah khusus
demi keamanan pasien dan petugas medis. Jarum bekas akan dimusnahkan dengan incenerator khusus.
Di tengah usaha tenaga kesehatan setempat yang mengadakan penyuluhan, ternyata pesan mengenai pentingnya
penolakan warga. Tenaga kesehatan tetap melayani imunisasi sesuai prosedur yang ada meskipun banyak masyarakat yang menolak imunisasi terhadap anak dan bayinya.
“Ya, maunya sih begitu, kalau tidak kami juga tidak mau
imunisasi, saya sendiri tidak tahu kalau orang Puskesmas bikin penyuluhan.”
Kemungkinan karena penyuluhan dilakukan pada jam kerja, biasanya masyarakat juga melaksanakan kegiatannya pada pagi sampai siang hari.
“siang orang pergi bekerja, susah mengharapkan semua orang datang berkumpul apalagi untuk mendengarkan penyuluhan, bukan pembagian beras Raskin”
Hal lain yang membuat masyarakat enggan untuk pergi ke posyandu dan mendengarkan penyuluhan atau informasi dari tenaga kesehatan adalah tempat dilakukannya kegiatan penyuluhan, yaitu penyuluhan diberikan di teras Posyandu dan orang harus berdiri di sana untuk mendengarkan, tanpa kursi atau bangku duduk. Media penyuluhan pun berukuran kecil berupa booklet yang kurang pas untuk bahan berbicara di depan banyak orang.
Gambar 4.12
Penyuluhan dilakukan di teras Posyandu dengan berdiri. Sumber: dokumentasi peneliti
Belum ada media penyuluhan yang memadai berupa gambar, poster ataupun alat peraga lainnya
Pemberian makanan tambahan merupakan bagian dari pelaksanaan posyandu di desa Sipapaga. Dibandingkan dengan pelaksanaan munisasi yang lebih sulit diterima oleh masyarakat setempat, maka sebaliknya kegiatan pemberian makanan tambahan merupakan hal yang sangat dinantikan oleh masyarakat. Rupanya pemberian makanan tambahan Posyandu yang lebih bisa diterima dibandingkan imunisasi. Di Sipapaga, pemberian makanan tambahan pada masyarakat berupa biskut dan bubur bayi dalam kemasan.
Gambar 4.13
Pemberian Makanan Tambahan Pada Kegiatan Posyandu Sumber: dokumentasi pemeliti
4.5.1 Cakupan Imunisasi Di Desa Sipapaga
Cakupan imunisasi di Desa Sipapaga menurut Bidan desa setempat dibawah 50%. Hal ini disebabkan karena banyak keluarga baik dalam keluarga inti maupun keluarga luas menolak anak atau cucunya diimunisasi, karena biasanya setelah diimunisasi bayi atau anak mereka pasti rewel sehingga mengakibatkan ibu, bapak dan keluarga lainnya terganggu dalam beraktifitas sehari-hari.
Hal ini seperti yang diungkapkan oleh Bidan desa Sipapaga berikut ini : “ …susah kalo disini, suami mereka marah-marah kalo pulang ke
rumah anak rewel dan menangis habis diimunisasi…mereka tidur terganggu jika anak rewel… ” .