BAB IV TANGAN DEWA DOTU DARI SIPAPAGA
4.6 Pandangan Masyarakat pada Pengobatan Tradisional
4.6.1 Dotu / Dukun Penyembuh
Disamping pengobatan modern oleh bidan, perawat dan dokter di fasilitas kesehatan yaitu Puskesmas, tempat praktik pribadi dan rumah sakit, kebanyakan orang-orang Sipapaga yang kami wawancarai tidak melepaskan cara-cara pengobatan tradisional, baik dengan meracik obat sendiri (self medication) atau mencari dotu.
Menurut Sciortiono, terapi tradisional itu dapat
diklasifikasikan dalam dua kategori besar. Kategori pertama terdiri dari terapi teknis-sekuler yang menggunakan “ilmu lahir” (ilmu luar, teknis atau alami) seperti pengobatan mandiri dengan jamu-jamuan dan pijit, serta dukun semacam dukun bayi, dukun atau tukang pijit dan tukang atau penjual jamu. Semua spesialis ini menerapkan metode-metode pengobatan yang bersifat teknis ketika melakukan pengobatan . Meskipun do’a dapat digunakan, namun kekuatan spiritual atau dukungan roh-roh halus tidak esensial pada sukses pengobatan. Kategori kedua terdiri dari terapi-terapi yang menggunakan “ilmu batin” (ilmu dalam,spiritual atau magis) seperti orang tua,orang pintar, dukun ‘prewangan’ dan dukun kebatinan. Pengobatannya selalu menggunakan kekuatan batin si dukun atau pembantu supernaturalnya, meskipun dapat pula dikombinasikan dengan praktek yang bersifat teknis seperti pijit atau jamu-jamuan. Agar mampu melakukan pengobatan semacam ini, seseorang harus mempunyai pengetahuan yang melampaui pemahaman rasional mengenai dunia nyata. Mereka memerlukan intuisi, ‘rasa’ dan ilmu (ngelmu) mengenai aspek magis –spiritual, sebuah realitas yang tidak terlihat dengan mata kasar. Untuk mendapatkan ilmu ini dan pada gilirannya mempunyai kemampuan menyembuhkan penyakit, si calon dukun harus melakukan meditasi, berpuasa dan bertapa.9
Berdasarkan kenyataan di lapangan, banyak praktek pengobatan yang masih dilakukan oleh masyarakat terutama untuk penyakit-penyakit yang mereka anggap penyakit dirasa atau tarpangan rasa dengan mencari pertolongan pengobatan kepada
dotu atau dukun itu sendiri. Menggunakan tenaga dotu maupun
orang pintar juga biasa dilakukan mayarakat dalam mengobati patah tulang ataupun keseleo berurut jika . Selain itu, dukun juga menjadi alternatif pertama jika ada yang akan melahirkan ataupun menjadi pilihan berkusuk untuk pemeriksaan ibu hamil.
Berobat ke dotu atau dukun masih menjadi pilihan pertama ketika masyarakat menduga bahwa sakitnya disebabkan oleh :
1. Dirasa atau diracun dengan guna-guna yang ditebar di makanan 2. Kasus cedera misalnya: patah tulang dan terkilir akibat
kecelakaan
3. Penyakit akibat angin yang ditandai dengan nyeri perut, rasa tidak enak badan dan demam
4. Kasus penyakit menahun yang tidak kunjung sembuh setelah berobat ke dokter
5. Ketinggalan tondi , atau ketinggalan jiwa. Jiwa seseorang
dianggap tertinggal di suatu tempat misalnya: pohon, badan orang lain,dsbnya karena kaget atau emosi terguncang di tempat tersebut. Bisa pula karena diganggu jin di hutan.
6. Menangani persalinan 7. Gangguan kesuburan
8. Rasinge (Nyeri Kepala Menahun)
Dotu adalah orang –orang tertentu yang dipercaya bisa
menyembuhkan suatu penyakit dengan sarana ramu-ramuan yang sudah didoakan. Orang percaya justru doa pada bahan-bahan ramuan itulah yang bisa membuat ramuan itu memiliki efek obat. Istilah yang digunakan ialah “Obat kampung” untuk membedakan dengan “Obat” saja yang berarti terapi oleh tenaga medis.
Ketika warga mengeluh kurangnya informasi yang disampaikan oleh tenaga kesehatan saat berobat, kami menjumpai bahwa masyarakat menganggap dotu tidak pelit informasi, malahan bisa sering bertemu untuk konsultasi. Tentu dotu menjelaskan dengan pemahamannya yang tradisional.
Gambar 4.14: Dotu
melakukan pengobatan
Sumber : dokumentasi peneliti
Dotu A.M adalah salah seorang dotu yang cukup dipercaya di desa ini. Dalam melakukan pengobatan dotu cukup dengan mendoakan bahan ramuan herbal yang sudah dikumpulkan di dalam kantong plastik. Dotu A.M bahkan tidak menambahkan bahan apapun ke dalam ramuan obat tersebut, hanya membacakan doa dan menyemburkan sedikit ludah lalu diserahkan kembali ke orang sakit itu. (Jawa: disuwuk).
Uniknya, setiap penyakit ada dotu sendiri- sendiri yang dianggap ahli dalam hal itu. Misalnya: Sakit dirasa atau ketinggalan
tondi, orang percaya dotu M di Desa Aek Banir( Desa tetangga
Sipapaga) dianggap ahlinya. Sementara, dotu A.M di desa Sipapaga lebih dipercaya untuk kasus cedera. Mirip dokter saja di mana seorang dokter dianggap lebih ahli pada, misalnya: kasus syaraf. Bedanya dokter menyandang gelar ahli tertentu setelah menempuh pendidikan formal, yaitu gelar spesialis untuk keahlian khusus di bidang tertentu.
Gambar 4.15: ilustrasi Pembagian dotu berdasarkan keahliannya Sumber: dokumentasi peneliti
Dotu “terspesialisasi” berdasarkan keahlian-keahlian tertentu
sesuai yang dipercaya masyarakat. Masih banyak dotu lainnya yang menjadi pilihan penduduk Sipapaga. Yang tertulis di atas hanyalah yang tinggal di Sipapaga dan desa-desa tetangga saja.
Kami menanyai seorang informan, “Kemarin keluarga
bilangnya ketinggalan tondi, lalu abang berobat ke Aek Banir, bukan ke om A.M yang dekat sini saja itu?”
“Lho itu kan pintarnya mengobati patah tulang Mas.10 Kalau sakit saya kemarin ya cari dotu yang lain di Aek Banir”. I.S. 32 tahun,
seorang tukang bangunan menceritakan pengalamannya sakit demam tinggi dan kesadaran menurun sekitar 3 bulan lalu. Sebelum muncul demam, sempat sakit kepala dan sulit tidur sampai mata merah. Lama kelamaan kakinya jadi dingin dan lemas susah dipakai berjalan.
I.S mengaku tidak pernah digigit tupai, anjing, kelelawar ataupun binatang liar lainnya. Kalau nyamuk tentu saja di hutan banyak. Jangankan di hutan, di rumah saja banyak.
10Responden memanggil peneliti dengan sebutan “Mas” begitu mengetahui bahwa Sar,70 tahun,Dukun Bersalin dan kusuk/ pijat
masalah kesuburan
A,M, Masalah cedera dan Rasinge/ nyeri kepala
Spnj, Ketinggalan Tondi /ruh , terpangan rasa /diracun dan Rakat / luka borok
Ny.Tmn(+- 100thn), Desa Aek Banir, Dukun Bersalin
Saat itu sempat berunding apakah sebaiknya dibawa ke rumah sakit saja. Tapi keluarga memilih memanggil dotu saja dan pakai “obat
kampung” dulu. Dotu M dari Aek Banir dijemput dan setelah
memeriksa ia berkata, ini sakit ketinggalan tondi akibat sembarangan menebang kayu saat mencari kayu manis di hutan, lalu diganggu jin. Harusnya permisi dulu sebelum menebang kayu.
Maka diadakanlah upacara pemanggilan tondi di tempat menebang kayu untuk bahan kayu manis itu lalu informan ini dimandikan dengan air limau. Ada pula dibalurkan di kepala, campuran daun yang tidak diketahui apa namanya, bawang putih dan beras, ditumbuk halus.
Keluarga akhirnya memanggil bidan untuk memasang infus dan memberi obat, tidak dibawa ke rumah sakit untuk bertemu dokter. Disamping anggapan ini penyakit yang disebabkan ketinggalan
tondi, alasan kedua mengapa tidak dibawa ke rumah sakit adalah
repot siapa yang nanti menjaga. Istri I.S saat itu hamil, dan anaknya masih kecil-kecil 2 orang. Soal biaya, sebetulnya bukan masalah karena I.S memegang kartu BPJS. Butuh waktu sekitar 3 minggu sebelum penyakitmya mulai membaik dan 2 minggu lagi sebelum benar-benar sembuh dan bisa berjalan seperti semula
4.6.2 penggunaan obat kampung (bahan-bahan herbal)
Bahan dasar pembuatan ramuan herbal umumnya mudah ditemukan di pekarangan, kebun-kebun atau dibeli saja di pasar.Dotu setempat dan adik pemilik rumah yang kami tempati menemani keliling kebun-kebun dan menunjukkan beberapa diantaranya. (Semua gambar di bawah ini adalah dokumentasi pribadi)Tarsapo/ sakit sehabis mimpi bertemu nenek yang sudah meninggal
“Awak pernah bangun tidur, sakit kepala , badan juga rasanya ngga
enak semua.Semalam sebelumnya mimpi ketemu nenek sama paman yang sudah meninggal, tertawa-tawa bersama”
Ptn, 27 menceritakan pengalamannya disembur salingbatuk di perut, lutut,kaki dan kepala. Sebelumnya, batang salingbatuk dibelah 4 bagian dan didoakan. Menurutnya,tarsapo bisa terjadi karena tidak baca doa sebelum tidur. Tidak cukup disembur salingbatuk, orang yang kena tarsapo sebaiknya juga menyumbang pakaian kepada anak yatim sambil mengucapkan niat, “ Ini baju, hadiah buat nenek”.
Gambar 4.16 Salingbatuk Sumber: Dokumentasi peneliti
4.6.3 Rasinge/ Sakit kepala kronis
Bertahun-tahun Tamim, 50 tahun menderita sakit kepala yang kambuh tiap tahun 2-3x. Begitu kambuh,bisa bertahan berhari-hari. Dioleskannya air yang berisi campuran bahan-bahan herbal ke kepala setiap pagi sekitar saat matahari terbit, tengah hari dan sekitar saat menjelang matahari terbenam.
Mengenai pemilihan waktu pengolesan, alasannya sakit kepala itu bisa muncul sepanjang hari dan malam. Maka, dotu menyarankan ramuan itu dioleskan beberapa saat sebelum muncul serangan nyeri, yang artinya memang harus dioles sepanjang hari 3x.
“Sangkil, silinjuang, katunggal dan jeruk yang sudah ada airnya dicampur, dibawa ke dotu buat didoakan. Sudah itu saja, ngga pakai
obat-obat atau pil lainnya. Pernah ke dokter bayar 130 atau seratus lima puluh ribu kira-kira. Sama saja, tidak hilang ini sakit kepala”
Gambar 4.17: Katunggal Sumber: Dokumentasi peneliti
Lalu, ditunjukkanlah baskom berisi ramuan herbal untuk sakit kepala dan kami diajak berkelililing kebun melihat secara langsung tanaman yang digunakan sebagai bahan ramuan.
Kami pun hanya bisa menduga-duga jenis sakit kepala apa yang diderita, apakah ini sakit kepala tipe tegang, migrain atau cluster. Demikian pulapenyebabnya, apakah tumor intrakranial (
dalam rongga kepala) ataukah idiopathic (tak diketahui
penyebabnya), mengingat Tamim tidak melanjutkan pengobatan di sarana dan tenaga kesehatan.
Gamba 4.18 : Sirinjuang Sumber: Dokumentasi peneliti
Gambar 4.19: Sangkil putih dan Sangkil hitam Sumber: Dokumentasi peneliti
Gambar 4.20: Air campuran sangkil, silinjuang, katunggal dan
jerukdioleskan ke kepala untuk obat rasinge.
Sumber: Dokumentasi peneliti
4.7 Masuk angin dan kemiripan dengan konsep angin patologis