Dari hasil wawancara dengan beberapa pegawai LPMP Provinsi Maluku berkaitan dengan kineraja pegawai dalam memberikan pelayanan publik kepada peserta kediklatan, secara keseluruhan dapat dikatakan bahwa proses kediklatan berjalan dengan baik, namun yang peneliti mendapatkan informasi dari pegawai bahwa semua program yang dijalankan tidak didasarkan pada sistem manajemen mutu internasioanl (SMM-ISO).
Dengan demikian strategi pelaksanaan program kediklatan di LPMP Provinsi Maluku perlu dilakukan pemyesuaian berdasarkan standar mutu. Untuk pelaksanaan program kediklatan dalam meningkatkan kinerja pegawai LPMP Provinsi Maluku, maka tidak semua standar yang tertera dalam SMM-ISO di LPMP diimplementasikan. Hal ini disebabkan karena kurangnya fasilitas/ alat dalam penunjang pelaksanaan program tersebut. Oleh karena itu pegawai LPMP Provinsi Maluku sering menggunakan standar sistem manajemen mutu, sehingga kualitas kinerja pegawai LPMP dalam melaksanakan tugas kediklatan sesuai dengan apa yang ditetapkan. Hasil penelitian evaluasi kinerja pegawai yang dikembangkan, dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel 2. Evaluasi Kinerja Pegawai LPMP Provinsi Maluku
No Komponen Aspek Sumber Data Hasil yang Diperoleh
1 Konteks - Latar belakang penerapan ISO
- Provil LPMP
- Analisis Kebutuhan Diklat
Kepala LPMP Sistem yang digunakan belum semua berdasarkan pada program SMM-ISO
2 Input (Perancangan) - Peserta
- Pembuat panduan - Pembuat bahan ajar - Widyaswara - Sarana Belajar - Sarana Asrama - Lingkungan Asrama
Kepala LPMP Melakukan perancangan yang berhubungan dengan kediklatan, di mana semua peserta di undang secara resmi, kemudian bahan ajar yang disediakan disesuaikan dengan jumlah peserta kediklatan. Semua fasilitas yang berhubungan dengan kediklatan disiapkan, baik tempat tidur, ruang diskusi, maupun sarana yang lainnya 3 Proses (Pelaksanaan) - Pemanggilan peserta - Penerima peserta - Aktivitas panitia - Aktivitas widyasuara - Aktivitas pesertaat - Penggunaan modul - Kemanfaatn prasarana belajar
Kepala LPMP Peserta kediklatan dipanggil, dan diregristasi berdasarkan tujuan dari pelaksanaan kegiatan.
4 Output/Produk (Hasil)
- Sertifikat - Modul
Kepala LPMP Akhir dari proses kediklatan semua peserta diberikan sertifikat dan bahan ajar (modul) 5 Outcomes - Kepuasaan peserta Kepala LPMP Akhir dari proses kediklatan
dilakukan tes akhir, yang fungsinya sebagai bahan evaluasi kediklatan
Berdasarkan Tabel 2, dapat dikatakan bahwa kinerja pegawai LPMP Provinsi Maluku dapat dikategorikan baik, namun tidak semua standar mutu dilaksanakan.
B. Temuan Hasil Penelitian
Berdasarkan hasil evaluasi yang dilakukan, maka dapat dikatakan bahwa proses diklat di LPMP Provinsi Maluku dapat dipantau pada setiap tahapannya untuk memastikan bahwa proses diklat mencapai hasil yang direncanakan. Proses yang perlu ditindaklanjuti dan dilakukan identifikasi yang relevan dengan realisasi produk diklat, maka perlu divalidasi; pemasaran diklat, penerimaan tenaga kependidikan baru, pendataan peserta diklat, layanan peserta diklat, dan pembelian bahan praktek untuk diklat.
Hasil evaluasi yang dilakukan dapat mampu menelusuri produk jasa diklat, yakni berupa proses diklat yang telah dilaksanakan diidentifikasi dan dapat ditelusuri melalui dokumen dan dan hasil rekaman, identifikasi sistem rekaman proses diklat dengan metode data base, identifikasi produk jasa diklat diberikan pada semua kegiatan diklat. Hasil penelitian ini juga didukung oleh Safarudin (2003) yang menyatakan bahwa kinerja pelayanan kediklatan ada hubungannya dengan pemahaman pegawai terhadap pelayanan prima dan motivasi meningkatkan pelayanan kediklatan. Hasil survei di LPMP Provinsi Maluku, dihasilkan bahwa pemahaman pegawai terhadap pelayanan prima dan motivasi meningkatkan pelayanan kediklatan dapat dikategori sedang. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan dalam meningkatkan kinerja pelayanan kediklatan. Dengan meningkatnya kinerja pelayanan akan tercipta situasi pembelajaran yang kondusif, sehingga tercapai hasil pendidikan dan pelatihan yang optimal. Hasil penelitian ini didukung oleh Westerman (1997: 161) menyatakan bahwa evaluasi kinerja mempunyai beberapa tujuan, yaitu meningkatkan kecakapan seseorang untuk meningkatkan pelaksanaan nilai tambah, mengidentifikasi kesulitan-kesulitan, dan menyetujui suatu rencana untuk mencapai peningkatan yang telah diproyeksikan, pengukuran-pengukuran subyek yang tidak tepat dapat merusak motivasi-motivasi, dan orang-orang merasa kuatir kalau yang dinilai adalah peragai pribadinya. Sementara itu Gomes (1997: 35) juga menyatakan bahwa: Tujuan evaluasi kinerja secara umum, dapat dibedahkan menjadi dua macam, yaitu; untuk menilai kinerja sebelumnya dan untuk memotivasi perbaikan kinerja pada waktu yang akan datang. Selanjutnya Simamora juga menjelaskan bahwa, tujuan pokok penilaian ialah untuk mendapatkan informasi yang akurat dan valid berkenan dengan prestasi seseorang dalam suatu organisasi. Semakin akurat dan semakin valid informasi yang dihasilkan oleh system evaluasi kinerja, semakin besar potensi nilainya terhadap organisasi. Lebih lanjut Soeprihanto menyatakan tujuan evaluasi kinerja adalah untuk; 1). Mengetahui keadaan ketrampilan secara rutin, 2). Digunakan sebagai dasar perencanaan bidang personalia, khususnya penyempurnaan kondisi kerja secara optimal, peningkatan mutu kinerja, 3). Dapat digunakan sebagai dasar pengembangan dan pendayagunaan staf, sehingga antara lain dapat diarahkan jenjang kariernya atau perencanaan karier, kenaikan pangkat, dan kenaikan jabatan, 4). Mendorong terciptanya hubungan timbal balik yang sehat antara atasan dan bawahan, 5). Mengetahui kondisi kantor secara keseluruhan dari bidang personalia, khususnya kinerja staf, 6). Secara pribadi staf dapat mengetahui kelebihan dan kekurangannya masing-masing, sehingga dapat memacu perkembangan kariernya, 7). Dijadikan masukan bagi para peneliti demi perkembangan di dalam bidang umumnya, khususnya bidang personalia.
KESIMPULAN
Adapun kesimpulan dari hasil penelitian ini adalah:
1. Pada tingkat keberhasilan pelaksanaan diklat di LPMP Provinsi Maluku berturut-turut menurut peringkat keberhasilan adalah; diklat teknis perpustakaan, diklat teknis
pelaksanaan yang mendapat penilaian sudah baik adalah aspek widyaswara, sedangkan sebagian besar penilaiannya berimbang antara baik dan cukup meliputi aspek kurikulum, sarana dan prasarana, penyelenggara, dan akomodasi kecuali untuk diklat kearsipan proporsi penilaian cukup lebih banyak ketimbang penilaian baik.
2. Kinerja atau prestasi kerja ditentukan oleh pemahaman pegawai LPMP Provinsi Maluku terhadap program kerjanya, pengetahuan pegawai tentang pelayanan kediklatan dan motivasi dalam bekerja.
SARAN
Sehubungan dengan hasil penelitian, maka peneliti menyarankan bahwa dengan meningkatnya kinerja pelayanan akan tercipta situasi pembelajaran yang kondusif, sehingga tercapai hasil pendidikan dan pelatihan yang optimal. Oleh sebab itu dalam pelaksanaan proses kediklatan perlu diperhatikan hal-hal yang berhubungan dengan manajemen mutu, sehingga akan menghasilkan kualitas kediklatan secara optimal.