PAPARAN DATA DAN HASIL PENELITIAN
B. Paparan Data dan Hasil Penelitian
1. Paparan Data SD Islam Surya Buana Malang
a. Karakteristik Siswa Kelas IV SD Islam Surya Buana Malang Ketika Berpikir Kritis Melalui Problem Posing dalam Pembelajaran Matematika
Berpikir kritis berbeda dengan sikap mengancam orang lain. Berpikir kritis bersifat netral dan objektif yang berdasarkan pada fakta. Siswa yang berpikir kritis mampu meningkatkan potensi yang ada pada dirinya dalam melihat masalah, mengidentifikasi informasi yang relevan dan yang tidak relevan, memecahkan masalah dan mengoreksi dirinya sendiri terhadap apa yang telah direfleksikannya.
Siswa yang berpikir kritis berbeda dengan siswa yang belum berpikir kritis. Perbedaan tersebut dapat terlihat pada karakteristiknya. Dalam konteks siswa kelas IV SD Islam Surya Buana Malang, terdapat karakteristik-karakteristik yang melekat pada siswa yang berpikir kritis ketika melakukan problem posing di dalam kelas tersebut. Adapun karakteristiknya sebagai berikut:
1) Mengemukakan pertanyaan-pertanyaan dan masalah penting
Awal yang dilakukan oleh siswa ketika melakukan pengajuan masalah yaitu mengemukakan apa yang menjadi masalah utama dalam materi tersebut. Cara yang dilakukan yaitu mengajukan masalah yang didapatkan setelah memahami materi. Hal demikian dapat dilihat pada gambar berikut:
Gambar 4.1 Menuliskan masalah yang didapatkan setelah memahami materi
Senada dengan data yang diperoleh dari hasil dokumentasi, hasil wawancara kepada Bu Ririn beliau mengatakan:
„‟Masalah yang dijadikan soal cerita tersebut dari lingkungan sekitar mereka, sehingga mereka dapat langsung mengemukakan masalah yang terdapat dalam soal karena memahami konteks masalah yang dihadapinya.‟‟79
Berdasarkan hasil wawancara salah satu siswa juga menyampaikan masalah yang dihadapinya setelah membaca soal tersebut, beliau mengatakan:
„‟ Soal pertama tentang bunda membeli beras 3 kg dan telur 10 hg. Berapa dag jumlah belanjaan ibu„‟.80
79
Wawancara dengan Ibu Ririn, guru kelas IV SD Islma Surya Buana Malang pada tanggal 30 April 2019 pukul 09:15.
80 Wawancara dengan Azka, siswa kelas IV SD Islam Surya Buana Malang, pada tanggal 6 Mei 2019.
Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan, setelah siswa membaca dan memahami materi yang dijelaskan guru, kemudian siswa mulai membuat pertanyaan terkait dari materi tersebut.
2) Mengumpulkan dan menilai informasi-informasi yang relevan
Karakteristik ini menunjukkan siswa barupaya mencari informasi-informasi yang relevan dengan masalah yang dihadapinya ketika membuat soal. Siswa bekerja sama dengan temannya untuk bersama-sama mencari informasi yang dibutuhkan dan membuka buku cetak dan buku tulis lainnya untuk menemukan soal yang relevan dengan konteks permasalahan. Hal demikian dapat dilihat pada gambar berikut:
Gambar 4.2 Siswa berdiskusi membuat soal81
Selain itu berdasarkan wawancara dengan Bu Ririn menunjukkan data bahwa ketika mengumpulkan informasi, siswa tersebut bertanya
kepada teman sekelasnya yang mampu dan jika tidak bisa langsung bertanya kepada guru, Bu Ririn mengatakan:
„‟Ada siswa yang mencari informasi dengan cara bertanya kepada teman yang lebih mampu. Bahkan sebelumnya sudah saya tekankan untuk bertanya kepada teman sebangkunya atau teman satu kelompoknya. Jika temannya belum mampu, siswa dapat langsung bertanya kepada gurunya. Hal demikian tidak hanya pada saat pembelajaran berlangsug, akan tetapi pada saat waktu istirahat dan luang mereka dapat gunakan untuk bertanya dan berdiskusi.‟‟82
Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan, banyak siswa yang bertanya tentang hal yang belum dipahaminya kepada teman sekelompoknya baik kepada teman laki-laki mapun perempuan. Mereka membentuk kelompok yang terdiri dari 4-5 orang tiap kelompoknya.83
3) Menarik kesimpulan dengan alasan yang kuat
Karakteristik ini ditunjukkan dengan adanya prosedur yang dilakukan oleh siswa agar mendapat ide pertanyaan yang tepat dari materi yang sedang dipelajarinya. Siswa menuliskan prosedurnya hingga memperoleh pertanyaan dan memiliki alasan tersendiri mengapa prosedur itu mereka gunakan. Prosedur penyelesaian yang disusun oleh siswa dapat dilihat pada gambar berikut:
82
Wawancara dengan Ibu Ririn, guru kelas IV SD Islma Surya Buana Malang pada tanggal 30 April 2019.
83 Observasi, siswa kelas IV SD Islam Surya Buana Malang, dikutip pada tanggal 29 April 2019.
Gambar 4.3 Prosedur penyelesaian pembuatan soal pada kertas soal yang disediakan guru
Selain itu, data dari hasil wawancara kepada siswa mengungkapkan alasan kenapa prosedur itu digunakan. Siswa bernama Azka mengatakan:
„‟Alasan saya menggunakan cara ini karena biasanya ketika ibu akan berbelanja ke pasar selalu menulis apa saja yang akan dibeli, seperti beberapa macam buah. Dan ketika sudah di tempat orang jualan buah ibu menyebutkan buah apa yang akan dibeli serta beratnya berapa setiap buah kemudian penjualnya bilang total semua berat buah yang dibeli ibu.‟‟84
Selain yang dikatakan Rafly, ada yang mengatakan:
„‟Saya menggunakan cara ini karena tau ketika sedang pergi ke supermarket. Disana disetiap keranjang buah selalu ada tulisan harga buah dan beratnya. Biasanya ibuk mengambil buahnya sedikit-sedikit tapi bermacam-macam kemudian sama ibu di timbangkan ke petugas supermarketnya dan di kantong plastinya ada tulisan berat buah yang di beli ibu dan ada juga yang satuan beratnya berubah.‟‟85
Wawancara dengan Azka, siswa kelas IV SD Islma Surya Buana Malang pada tanggal 6 Mei 2019.
85 Wawancara dengan Rafly, siswa kelas IV SD Islma Surya Buana Malang pada tanggal 6 Mei 2019.
Ketika observasi dilakukan, siswa yang sudah mampu membuat soal atau pertanyaan yang relevan berdasarkan permasalahan dalam materi tersebut, lalu mereka menuliskan bunyi pertanyaannya secara prosedural.86
Hasil jwaban siswa yang berpikir kritis berbeda pula dengan hasil jawaban siswa yang belum berpikir kritis. Karena memiliki kelebihan seperti berani menyampaikan pendapat, memiliki cara lain selain yang diajarkan oleh guru, dan berani menyampaikan cara yang dimilikinya itu sebagaimana yang telah disampaikan oleh Bu Ririn, beliau mengatakan:
„‟Hasilnya lebih baik yang kritis dalam hal nilai. Karena anak yang berpikir kritis memiliki kelebihan seperti menyampaikan pendapat. Jika ada pertanyaan lessan dan lain-lain anaknya itu langsung bisa, dan berani mengungkapkan pendapatnya. Jika gurnya menggunakan pertanyaan A anaknya dapat membat pertanyaan dari segi B, seperti memiliki cara lain dalam bertanya dan berani menyampaikannya kepada guru.‟‟87
4) Mampu mengatasi kebingungan
Ketika mengerjakan soal dalam pengajuan masalah, ada beberapa diantara siswa yang masih mengalami kebingungan. Siswa kelas IV SD Islam Surya Buana yang berpikir kritis akan mampu mengatasi kebingugan yang dialami dengan cara bertanya kepada guru dan menuliskan soal yang paling muda hingga pada soal yang lebih sulit
86
Observasi, siswa kelas IV SD Islam Surya Buana Malang, dikutip pada tanggal 29 April 2019.
87Wawancara dengan Ibu Ririn, guru kelas IV SD Islma Surya Buana Malang pada tanggal 30 April 2019.
sesuai dengan materi yang sudah disampaikan sebelumnya. Hal tersebut sebagaimana yang dikatan oleh Bu Ririn:
„‟Ada siswa yang mengalami kebingungan, mereka langsung bertanya kepada gurunya. Misalnya saya intruksikan mereka membuat satu pertanyaan dari contoh soal yang sudah saya berikan, siswa hanya diminta untuk merubah nama dan nominal dari soal yang akan mereka buat, tetapi siswa terkadang masih bingung dalam menentukan nominal yang akan mereka tuliskan di soal.‟‟ 88
Ha tersebut diperkuat dengan hasil dokumentasi siswa yang telah membuat soal pada buku matematikanya. Adapun gambar dapat dilihat sebagai berikut:
Gambar 4.4 Siswa mendiskusikan soal yang belum dimengertinya untuk dibuat
88 Wawancara dengan Ibu Ririn, guru kelas IV SD Islma Surya Buana Malang pada tanggal 30 April 2019.
Selain itu, dari hasil observasi menunjukkan ketika siswa mengalami kebingungan, mereka lebih dulu bertanya kepada temannya terutama teman satu kelompoknya. Jika temannya tidak mampu menjawab atau memberikan bantuan, dengan segera mereka bertanya kepada gurunya secara langsung.89
b. Proses Berpikir Kritis Siswa Kelas IV SD Islam Surya Buana Malang dalam Problem Posing Matematika
Berpikir kritis merupakan kemampuan alamiah yang dimiliki setiap siswa yang membutuhkan latihan melalui pendidikan. Siswa yang berpikir kritis akan mampu merefleksikan pikirannya untuk menemukan dan menggali kembali informasi yang dulu pernah dimiliki. Kemudian dengan informasi itu ia gunakan untuk menentukan sebuah keputusan terhadap apa yang harus dilakukan ataupun memperkuat apa saja yang diyakini. Dalam konteks berpikir kritis, terdapat tahapan-tahapan atau proses yang biasanya dilalui oleh siswa yang berpikir kritis. Tidak sedikit para tokoh mengemukakan teorinya tentang proses berpikir kritis siswa. diantara tokoh yang memiliki teori tentang proses berpikir kritis diantaranya; a) Ennis dan Norris (klarifikasi elementer, dukungan dasar, penarikan kesimpulan, klarifikasi lanjut, strategi dan taktik), b) Perkins dan Murphy (klarifikasi, assesmen, penyimpulan dan strategi), c) Henri (klarifikasi dasar, klarifikasi mendalam, inferensi, assesmen, dan membuat strategi),
89 Observasi, siswa kelas IV SD Islam Surya Buana Malang, dikutip pada tanggal 29 April.
d) Facione (interpretasi, analisis, inference, evaluasi, eksplanasi, pengendalian diri).
Proses berpikir kritis siswa kelas IV SD Islam Surya Buana Malang tidak terlepas dari proses berpikir kritis yang dikemukakan oleh para tokoh. Adapun proses yang dilalui oleh siswa kelas IV SD Islam Surya Buana Malang antara lain sebagai beriku:
1) Klarifikasi
Klarifikasi adalah merupakan proses awal dalam berpikir kritis menurut Penkins dan Murphye. Tahap ini merupakan tahap menyatakan, mengklarifikasi, menggambarkan (bukan menjelasakan) atau mendefinisikan masalah. Tahap ini mengenali permasalahan apa yang menjadi fokus perhatiannya agar dapat menentukan langkah berikutnya dalam pengajuan masalah.
Dalam konteks siswa kelas IV SD Islam Surya Buana Malang, klarifikasi merupakan tahapan awal yang dilakukan siswa dalam menyatakan masalah dan menggali masalah. Soal cerita yang merupakan interpretasi dari pengajuan masalah, diklarifikasikan oleh siswa agar dapat dinyatakan permasalahannya yang jelas. Siswa menyatakan masalah dalam soal tersebut kedalam bentuk format tulisan soal cerita agar mudah dipahami. Tulisan tersebut dapat dilihat dalam gambar berikut:
Gambar 4.5 Menuliskan soal dengan berbentuk soal cerita Hal tersebut juga diperkuat dengan wawancara dari salah satu siswa bernama Azka yang menyatakan bahwa:
„‟Ibu berbelanja ke pasar membeli gula 2 kg, kemudian membeli beras 3 kg. Ketiaka hendak pulang ibu membeli buah apel 3 hg. Pertanyaanya jumlah seluruh belanjaan ibu dalam satuan hg.‟‟90
Senada dengan yang disampaikan oleh Azka siswa yang bernama Rafly juga mengatakan:
„‟kakak membeli buah-buhanan yaitu apel 2 kg, jeruk 3 kg dan anggur 5 kg. Jumblah seluruh buah yang dibeli kaka jika dirubah pada satuan berat gram.‟‟91
Berdasarkan hasil observasi yang telah dilakukan, setelah siswa membaca dan memahami materi yang di jelaskan guru, seketika itu
90
Wawancara dengan Azka, siswa kelas IV SD Islma Surya Buana Malang pada tanggal 6 April 2019.
91 Wawancara dengan Rafly, siswa kelas IV SD Islma Surya Buana Malang pada tanggal 6 April 2019.
juga siswa mulai membuat format soal berdasakan materi, dan juga membuat jawaban dari soal yang sudah mereka buat. 92
Dari paparan diatas dapat disimpulkan bahwa pada tahap klarifikasi, siswa menyatakan lebih jelas pengajuan soal yang termaktub didalam materi.
2) Dukungan Dasar
Pada tahap berikutnya, siswa melalui proses dukungan dasar. Proses dukungan dasar memungkinkan siswa untuk menelaah sumber yang telah dimiliki berupa materi yang pernah di pelajarinya. Merilis dan menimbangkan materi yang pernah di pelajarinya untuk dapat digunakan dalam membuat soal tersebut. Sebagaimana hal ini didukung oleh jawaban siswa yang bernama Naila menyatakan:
“ Materi yang digunakan untuk membuat soal adalah Satuan konversi satuan berat “.93
Hal demikian di perkuat dengan hasil dokumnetasi sebagai berikut:
92 Dokumentasi, kertas jawaban siswa diambil pada tanggal 6 Mei 2019.
93 Wawancara dengan Naila, siswa kelas IV SD Islma Surya Buana Malang pada tanggal 6 April 2019
Gambar 4.6 guru mengulang kembali materi yang sudah dipelajari sebelumnya
Berdasarkan hasil observasi yang telah di lakukan, banyak siswa yang bertanya tentang hal yang belum dimengertinya keteman sekelompoknya baik laki-laki dan perempuan. Mereka membentuk kelompok yang berjumlah 4-5 orang tiap kelompoknya.94
Dari paparan diatas dapat disimpulkan bahwa pada tahap dukungan dasar, siswa mengingat kembali materi yang sudah di pelajarinya lalu menggunakan konsep materi yang sudah di pelajarinya untuk pengajuan soal tersebut. Selain itu juga siswa memilih dan menelaah sumber buku cetak lainnya agar lebih memahami dalam penyusunan soal yang dibuatnya.
94 Observasi, siswa kelas IV SD Islam Surya Buana Malang, dikutip pada tanggal 29 April 2019
3) Interpretasi
Interpretasi merupakan proses memahami dan mengungkapkan suatu makna dari penelitian terhadap suatu masalah. pada tahap ini siswa mengkategorikan, menguraikan dan atau menjelaskan makna masalah yang terdapat dalam soal. Bentuknya siswa menguraikan dan menyampaikan apa yang diketahuinya setelah memahami materi dalam pengajuan soal. Hal ini didukung oleh Azka yang menyampaikan:
„‟
Menuliskan barang yang dibeli yaitu berupa minyak, beras, dan ayam potong. Kemudian menentukan jumlah satuan masing-masing dari belanjaan tersebut‟‟.95Begitu pula hasil wawancara siswi bernama Kiara yang mengatakan:
“ Berat minyak 2 jg, beras 4 kg, dan ayam potong 3 kwintal.‟‟96
Hal yang tampak saat observasi dilakukan, ketika proses berpikir siswa pada tahap interpretasi, yang dilakukan siswa adalah menyebutkan dan mengatakan informasi yag didapat setelah memahami materi dipelajari kepada dirinya sendiri dan juga kepada teman sebangkunya.
Berdasarakan pemaparan data diatas, dapat disimpulkan pada tahap interpretasi siswa menguraikan, menyebutkan informasi-informasi penting yang terdapat dalam soal. Pada pemaparan tersebut, siswa
95
Wawancara dengan Azka, siswa kelas IV SD Islma Surya Buana Malang pada tanggal 6 April 2019
96 Wawancara dengan Kiara, siswa kelas IV SD Islma Surya Buana Malang pada tanggal 6 April 2019.
menyebutkan informasi jenis barang yang dibeli serta berat satuan masing-masing dari belanjaan yang dibeli yang dapat digunakannya untuk mengajukan masalah.
4) Analsis
Setelah siswa mengetahui masalah yang dihadapi di dalam soal, siswa pemikir kritis akan masuk ke proses analisis. Pada tahap ini siswa mengidentifikasi masalah, lalu menghubungkan dengan konsep penyelesaian yang dimiliki. Indikator yang ditunjukkan oleh siswa ketika pada tahap analisis yaitu siswa mampu menentukan dan menguji ide/gagasan yang diajukan untuk memecahkan masalah yang ada di dalam soal. Pada tahap analisis dapat diajukan dari beberapa hasil wawancara yang dilakukan kepada siswa bernama Rafly yang mengatakan:
„‟Ide nya kalau soal yang berat minyak dan beras satuannya sama-sama kg, kemudian untuk ayam potongnya satuannya kwintal. Sedangakan untuk soalnya yang ditanyakan jumlah berat belanjaan dalam bentuk gram berapa. Jadi masing masing beraat belanaannya siti harus dirubah dulu menjadi satuan gram kemudian baru dijumlahkan begitu.‟‟97
Berdasarkan hasil observasi, pada proses analisis, siswa menuliskan cara yang diperolehnya dari buku tulis dan buku cetak lalu menggunakannya untuk mengajukan masalah.
97 Wawancara dengan Rafly, siswa kelas IV SD Islma Surya Buana Malang pada tanggal 6 April 2019.
5) Inference
Proses berpikir kritis berikutnya yang siswa lalui setelah analisis yaitu proses inference. Proses ini merupakan proses dimana siswa menggunakan data-data dan konsep materi yang dimiliki untuk membuat kesimpulan melalui penalaran deduktif ataupun induktif. Ringkasnya membuat soal itu dengan konsep yang sesuai dengan materi yang digunakan dalam pengajuan masalah itu sendiri. Adapun tahap inference ini dapat dilihat dari hasil wawancara siswa bernama Azka mengerjakan soal yang mengatakan:
„‟Langkah awal dalam membuat soal yaitu menentukan subjek dalam soal cerita kemudian kegiatan yang dilakukan dan selanjutnya menentukan nominal serta satuan berat yang dijadikan sebagai satuan dalam barang tersebut seperti Siti membeli minyak 2 kg, beras 4 kg dan ayam potong 2 kwintal. Berapakah jumlah berat belanjaan siti dalam satuan gram‟‟.98
Berdasarkan hasil observasi, ketika proses berpikir kritis siswa pada tahap inference, siswa menuliskan prosedur penyelesaian soal sampai diperoleh rumusan soal dari materi tersebut.
Adapun hasil dokumentasi prosedur dan jawabnannya dapat dilihat sebagai berikut:
98 Wawancara dengan Azka, siswa kelas IV SD Islma Surya Buana Malang pada tanggal 6 April 2019.
Gambar 4.7 Prosedur penyelesaian pada kertas jawaban siswa 6) Eksplanasi
Pada tahap ini, siswa mempertahankan prosedur yang disusunnya untuk mengajukan masalah dalam materi dengan cara memberikan alasan digunakannya prosedur tersebut. Sebagaimana hasil wawancara siswa bernama Kiara yang mengatakan:
“Alasan saya menggunakan cara ini karena cara ini merupakan cara yg paling mudah, yaitu dengan cara jika maju ke kiri maka dibagi dan kalau maju ke kanan di kali. Setiap maju ke kiri atau maju ke kanan, maju satu langkah ditambah nol satu, maju dua ditambah nol dua dan seterusnya.”99
Selain yang dikatakan Kiara, ada juga yang mengatakan:
“Alasannya karena cara ini membuat saya lebih mudah membuatnya dan bisa dimengerti oleh diri saya sendiri. Karena saya juga harus bisa mengerjakannya, jika dibagi dan angkanya dicoret kalau turun angkanya di tambah, oleh sebab itu saya mengerti setiap bagian-bagiannya.”100
99
Wawancara dengan Kiara, siswa kelas IV SD Islma Surya Buana Malang pada tanggal 6 April 2019.
100 Wawancara dengan Naila, siswa kelas IV SD Islma Surya Buana Malang pada tanggal 6 April 2019.
c. Hasil Belajar Siswa Kelas IV SD Islam Surya Buana Malang dalam Mengajukan Masalah Matematika
Siswa yang berpikir kritis akan berpengaruh pada hasil belajar belajar dirinya. Hasil belajar merupakan sejumlah kemampuan, ketrampilan, dan sikap siswa setelah menyelesaikan suatu hal yang baik menyelesaikan soal pengajuan soal ataupun dari hasil proses pembelajaran yang pernah dilakukannya. Hasil belajar siswa yang berpikir kritis terlihat pada ketiga ranah baik itu ranah kognitif, ranah efektif, maupun ranah psikomotor. Dalam konteks sisw kelas IV SD Islam Surya Buana Malang menemukan hasil belajar siswa yag berpikir kritis dilihat dari ketiga ranah tersebut, adapun demikian sebagai berikut:
1) Ranah Kognitif
Ranah kognitif berkaitan dengan intelekual siswa. ranah tersebut melibatkan siswa ke arah proses berpikir seperti mengingat, memahami, menerapkan, menganalisis, mengevaluasi, dan mencipta.
Dalam konteks kelas IV SD Islam Surya Buana Malang, siswa yang berpikir kritis dilihat dari ranah kognitifnya, siswa tersebut memiliki ingatan yang kuat yaitu mampu menyebutkan setiap satuan berat dengan urut. Hal demikian sesuai yang dikatakan oleh Bu Ririn yang mengatakan:
„‟Dari yang saya amati, siswa yang memiliki ingatan yang cukup kuat, maksudnya siswa tersebut mampu menyebutkan setiap satuan berat dengan urut‟‟.101
Berdasarkan hasil observasi, ketika siswa mengerjakan soal yang diberikan oleh guru, mereka mengerjakan dengan penuh antusias dan jika ada yang belum dimengerti mereka tidak sungkan dan takut utuk bertanya kepada guru dan teman-temannya.
Selain itu, siswa berpikir kritis mampu menerapkan pengetahuan matematikanya yang diperoleh di dalam kehidupan sehari-hari, seperti halnya dalam jual beli dan berbelanja sebagaimana yang dikatan oleh Bu Ririn:
„‟Soal cerita yang dikerjakan oleh siswa dibuat berdasarkan lingkungan sekitar mereka. Sehingga berdampak pada kehidupannya sehari-hari. Prakteknya dapat dilihat ketika siswa melakukan jual beli ataupun melihat ibu mereka berbelanja. Dari aktivitas tersebut siswa dapat memperhitungkan berapa jumlah berat belanjaan belanjaan tersebut.‟‟102
Hasil belajar siswa yang berpikir kritis juga mampu mengevaluasi keputusan yang guru buat dengan bentuk koreksi atau kritikan. Sebagaimana yang disampaikan Bu Ririn:
„‟Terdapat siswa yang mampu mengkoreksi penjelasan tentang materi satuan berat yang saya jelaskan kepada siswa. Dia langsung mengatakan „‟bu kenapa kok begini?, seharusnya kan begini. Kalau seandanya menggunakan cara seperti punya saya bagaimana bu? Hasilnya kenapa juga sama padahal ceranya berbeda?‟‟ Sampai guru-guru yang lain
101
Wawancara dengan Ibu Ririn, guru kelas IV SD Islma Surya Buana Malang pada tanggal 30 April 2019.
102 Wawancara dengan Ibu Ririn, guru kelas IV SD Islma Surya Buana Malang pada tanggal 30 April 2019.
memiliki keluhan yang sama. Ternyta siswa tersebut sudah berjalan mulai dari kelas 1.‟‟103
Siswa yang berpikir kritis akan mampu merumuskan pertanyaan selain yang pernah dicontohkan gurunya, bahkan tanpa mencari dan memahami lagi materi di buku paket matematikanya, sebagaimana yag disampaikan oleh Bu Ririn:
„‟Ketika saya meminta kepada siswa untu membuat soal seperti yang saya contohkan di papan tulis dengan mengubah subyek dankegiatan yang dilakukan serta jumblah nominal berat belanjaan, tetapi yang dilakukan oleh siswa yang berpikir kritis ia mampu mengubah satuan-satuan tiap barang serta berat satuan yang ditanyakan dalam bentuk satuan lain.‟‟104
2) Ranah Afektif
Hasil belajar siswa yang berpikir kritis akan berpengaruh juga pada ranah efektifnya. Siswa yang berpikir kritis di kelas IV SD Islam Surya Buana Malang, sikapnya ada yang sopan dan ada pula yang lebih paham namun terkadang kurang memperhatikan penjelasan dan yang guru sampaikan. Sebagaimana yang disampaikan oleh Bu Ririn:
„‟Ada siswa yang memiliki sikap yang sopan dan ada juga siswa yang sudah memahami materi, tetapi terkadang kurang memperhatikan ketika guru sedang menjelaskan. Seperti sudah sangat mengerti dan tidak membutuhkan arahan lagi. Sebelumnya sudah saya sampaikan, „‟walaupun bisa,