KAJIAN PUSTAKA
D. Perspektif Islam Tentang Berpikir Kritis dalam Problem Posing
Kemampuan berpikir kritis matematis adalah kemampuan yang ditandai dengan kemampuan mengidentifikasi, merumuskan pokok-pokok permasalahan, mengungkap data, definisi, dan kemampuan mengevaluasi argumen yang relevan terhadap penyelesaian suatu masalah dalam pembelajaran matematika.69 Sebagaimana yang tertuang dalam ayat Al-Qur‟an yang menerangkan tentang berpikir kritis dalam problem posing secara tersirat terdapat dalam Q.S. Al-A‟raf ayat 176, Allah berfirman:
لَو
ِمَثًََك ۥُهُهَثًََف ُُۚهَٰىَىَٰ َعَجَّرٱَو ِض ۡزَ ۡلْٱ ًَنِإ َدَه ۡخَأ ٓۥُهَُِّكََٰنَو بَهِث ُهََُٰ ۡعَفَسَن بَُۡئِش ۡو ََ
ْاىُثَّرَك ٍََِرَّنٱ ِو ۡىَتۡنٱ ُمَثَي َ ِنََّٰذ ُۚثَهۡهََ ُه ۡكُسۡزَر ۡوَأ ۡثَهۡهََ ِهَُۡهَع ۡمًِ َٰۡر ٌِإ ِتۡهَكۡنٱ
ِة
ِصُصۡقٱَف ُۚبَُِزَََٰا ََ َ
ٌَوُسَّكَفَزََ ۡىُهَّهَعَن َصَصَتۡنٱ
Artinya: Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga). Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami.
69 Chandra Novtiar and Usman Aripin, „Meningkatkan Kemampuan Berfikir Kritis Matematis Dan Kepercayaan Diri Siswa SMP Melalui Pendekatan Open-Ended‟, Jurnal PRISMA, Vol. 4, No.2, (2017), 120.
Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir. (Q.S Al-A‟raf: 176)
Ayat tersebut memberikan gambaran bahwa manusia diharapkan mampu memahami dan berfikir terhadap apa yang sudah menjadi ketetapan Allah dan mengimani yang menjadi dasar dalam ketetapannya. Agama Islam mengajarkan kepada umatnya untuk selalu menggunakan akal fikirannya dan mampu berfikir secara kritis terhadap fenomena ataupun pengetahuan yang didapatkannya.
Al-Qur‟an telah menyeru kepada seluruh manusia untuk berfikir, Allah berfirman dalam Q.S As-Saba‟ ayat 4:
حَدِح ََٰىِث ىُكُظِعَأ ٓبًَََِّإ ۡمُق۞
بَي ُْۚاوُسَّكَفَزَر َّىُث َٰيَد ََٰسُفَو ًََُٰۡثَي ِ َّ ِللَّ ْاىُيىُتَر ٌَأ
ٖدَِدَش ٖةاَرَع ٌَۡدََ ٍََُۡث ىُكَّن ٞسَِرََ َّلَِّإ َىُٰ ٌِۡإ ُۚ خَُِّج ٍأي ىُكِجِحبَصِث
Artinya: Katakanlah: "Sesungguhnya aku hendak memperingatkan kepadamu suatu hal saja, yaitu supaya kamu menghadap Allah (dengan ikhlas) berdua-dua atau sendiri-sendiri; kemudian kamu fikirkan (tentang Muhammad) tidak ada penyakit gila sedikitpun pada kawanmu itu. Dia tidak lain hanyalah pemberi peringatan bagi kamu sebelum (menghadapi) azab yang keras. (Q.S As-Saba‟: 46).
Ayat tersebut merupakan sebuah seruan yang jelas untuk melihat, menganalisis dan mengkaji secara ilmiah tentang semua makhluk dan tentang semua fenomena kosmologi.
Terkait kemampuan berfikir kritis, setiap muslim diperintahkan untuk mengamati dan memikirkan hasil ciptaan Allah Swt. Baik di langit maupun di bumi. Mengamati keanekaragaman ciptaan Allah guna menguatkan iman dan mengambil pelajaran yang tersirat didalamnya. Sebagaimana yang termaktub dalam al-Qur‟an surah al- Imron ayat 190-191 yang berbunyi:
ِتََٰجۡنَ ۡلْٱ ٍِن ْوُ ألْ ٖذَََٰٓ َلْ ِزبَهَُّنٱَو ِمَُّۡنٱ ِفََٰهِز ۡخٱَو ِض ۡزَ ۡلْٱَو ِد ََٰى ًَََّٰسنٱ ِقۡهَخ ٍِف ٌَِّإ
ِقۡهَخ ٍِف ٌَوُسَّكَفَزَََو ۡىِهِثىُُُج ًََٰهَعَو ا ٗدىُعُقَو ب ًََُِٰٗق َ َّللَّٱ ٌَوُسُك ۡرََ ٍََِرَّنٱ
ۡتَهَخ بَي بََُّثَز ِض ۡزَ ۡلْٱَو ِد ََٰى ًَََّٰسنٱ
ِزبَُّنٱ َةاَرَع بَُِتَف َ َُ ََٰٰۡجُب ٗا ِلََٰث اَرََٰٰ َذ
Artinya: Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka. (Q.S Al-Imron ayat 191). Ayat tersebut menjelaskan bahwa orang-orang yang mendalam pemahamannya dan berfikir tajam (Ulul Albab), yaitu orang yang berakal, orang yang mau menggunakan pikirannya, mengambil faedah dan hidayah serta menggambarkan keagungan Allah.
E. Kerangka Berpikir
Berpikir kritis merupakan proses bagaimana cara berpikir dan belajar bekerja dengan menggunakan keterampilan yang lebih tinggi untuk memahami masalah, menganalisis, mensintesis, dan menilai ide tersebut secara logis. Keterampilan berpikir kritis akan mendorong siswa untuk berpikir mandiri dan menyelesaikan masalah di sekolah atau dalam konteks kehidupan sehari-hari. Dalam pemecahan masalah matematika diperlukan pemikiran-pemikiran kreatif dalam merumuskan, menafsirkan dan menyelesaikan model atau perencanaan pemecahan masalah dengan cara atau metode yang mendorong ketrampilan berpikir kreatif siswa dalam belajar matematika yaitu melalui problem posing.
Problem posing sebagai sarana komunikasi matematika siswa, serta mampu merangsang peningkatan kemampuan matematika siswa. Dengan
menekankan pada problem posing, siswa akan mampu menginterpretasi dan menganalisis permasalahan yang dihadapi dan terdorong menggunakan pengetahuan yang dimiliki untuk mememcahkan masalah tersebut sehingga dapat melibatkan pemikiran kritis, sistematis, logis, kreatif dan kemampuan bekerja sama yang efektif dapat dikembangkan melalui pendidikan matematika.
Dalam problem posing, pertama mereka harus memahami masalahnya kemudian mencari informasi-informasi yang dibutuhkan dalam menyelasaikan masalah tersebut dan mengolah informasi-informasi tersebut untuk memecahkan masalah yang dihadapi. Sedangkan dalam mengajukan masalah atau perumusan soal-soal yang berhubungan dengan materi, yang dilakukan oleh siswa dari informasi awal yang berupa cerita kontekstual yang disajikan oleh guru, siswa dihadapkan pada suatu informasi tertentu dan diminta untuk membuat soal yang terkait dengan informasi yang telah diberikan. Di sini siswa dituntut untuk berpikir lebih mendalam tentang masalah yang relevan yang dapat diajukan ketika menghadapi situasi yang telah diberikan guru.
Di samping itu tugas pengajuan masalah juga dapat membantu guru untuk membuat siswa mengkomunikasikan ide-ide matematis mereka, sebab mereka dapat membuat soal-soal yang sesuai dengan topik yang mereka pelajari dan memodifikasinya sesuai dengan informasi awal serta dengan pengetahuan yang telah mereka peroleh sebelumnya. Dalam hal ini siswa dituntut untuk berpikir kritis memahami masalah pokok dan mengidentifikasi informasi-informasi yang dibutuhkan untuk memecahkan masalah pokok
tersebut. Dengan demikian model pembelajaran pengajuan dan pemecahan masalah memungkinkan untuk dapat mengajarkan tentang berpikir kritis sekaligus mengetahui kemampuan berpikir kritis siswa.
Untuk menanamkan berpikir kritis melalui problem posing, salah satunya dapat diterapkan dalam pembelajaran matematika di sekolah dasar. Hal ini dilakukan karena siswa sekolah dasar dinilai sudah mampu mendayagunakan komponen sikap dan pengetahuan mereka dalam aspek bertanya atau membuat soal pertanyaan dalam menumbuhkan keahlian masing-masing. Pembelajaran matematika di sekolah dasar, khususnya kelas IV dengan materi pecahan digunakan sebagai wadah untuk siswa bereksplorasi diri dalam meningkatkan sikap dan pengetahuan.
Berdasarkan penjelasan di atas dapat diasumsikan bahwa dengan model pendekatan problem posing ini dapat meningkatkan berpikir kritis siswa dalam pembelajaran matematika di kelas IV SD Islam Surya Buana dan SD Islam As-Salam Malang.
Adapun penjelasan kerangka berpikir di atas akan dijabarkan dalam bentuk skema kerangka konseptual menurut penelitian yang dikembangkan dari teori Widha Nur Shanti Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis melalui Problem Posing hasil literasi, Volume VIII, No. 1, tahun 2017 sebagai berikut:
Gambar 2.2 Skema Kerangka Konseptual Penelitian Sumber : (Widha Nur Shanti, 2007)
Pembelajaran Matematika Siswa Sekolah Dasar
Problem Posing
Aktivitas Pembelaajaran Siswa
Hasil Kemampuan Berpikir Kritis
BAB III