BAB III METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Paradigma Penelitian
Paradigma adalah suatu cara pandang untuk memahami kompleksitas dunia nyata. Paradigma tertanam kuat dalam sosialisasi para penganut dan praktisinya. Paradigma menunjukan pada mereka apa yang penting, absah, dan masuk akal.Setiap metodologi penelitian berbasis paradigma sebagai landasan filosofinya.Paradigma merupakan seperangkat konsep, keyakinan, asumsi, nilai, metode, atau aturan yang membentuk kerangka kerja pelaksanaan sebuah penelitian.
1. Positivisme
Paradigma positivisme menurut beberapa pendapat yaitu komunikasi merupakan sebuah proses linier atau proses sebab akibat yang mencerminkan upaya pengirim pesan untuk mengubah pengetahuan penerima pesan yang pasif (Ardianto, 2009). Jadi, paradigma Positivisme ini memandang proses komunikasi ditentukan oleh pengirim (source-oriented). Berhasil atau tidaknya sebuah proses komunikasi bergantung pada upaya yang dilakukan oleh pengirim dalam mengemas pesan, menarik perhatian penerima ataupun mempelajari sifat dan karakteristik penerima
untuk menentukan strategi penyampaian pesan.Teori yang termasuk dalam paradigma positivisme diantaranya yaitu Teori Agenda Setting dan Teori Kulitivasi (Cultivation Theory).
2. Post-positivisme
Post-positivisme meyakini semua ilmu mesti didasarkan pandangan dan cara kerja ilmu-ilmu alam. Sehingga tidak mengherankan keyakinan tentang realitas itu diadopsi dan diadaptasi untuk semua ilmu, termasuk ilmu-ilmu sosial dan budaya.
3. Konstruktivisme
Paradigma ini hampir merupakan antitesis terhadap paham yang menempatkan pentingnya pengamatan dan objektivitas dalam menemukan suatu realitas atas ilmu pengetahuan.Secara ontologis, aliran ini menyatakan bahwa realitas itu ada dalam beragam bentuk konstruksi mental yang didasarkan pada pengalaman sosial, bersifat lokal dan spesifik, serta tergantung pada pihak yang melakukannya.Aliran ini menyatakan bahwa hubungan epitomologis antara pengamat dan objek merupakan satu kesatuan, subjektif dan merupakan hasil perpaduan interaksi di antara keduanya.
4. Kritis
Aliran ini mengajukan metode dialog sebagai sarana transformasi bagi ditemukannya kebenaran realitas yang hakiki.
Pada tataran epistemologis, aliran ini memandang hubungan antara periset dan objek sebagai hal yang yang tak terpisahkan.Lantaran berkeyakinan bahwa nilai-nilai yang dianut periset ikut serta dalam menentukan kebenaran sesuatu hal, maka aliran ini sangat menekankan konsep subjektivitas dalam menentukan suatu ilmu pengetahuan.
Penulis menggunakan paradigma Konstruktivisme untuk mengetahui Strategi Marketing Public Relations apa yang dilakukan PT. Dua Synergy Communication dalam meningkatkan jumlah pengguna jasa Event Organizer. Alasan penulis menggunakan Paradigma Konstruktivisme pada penelitian ini karena Paradigma Konstruktivisme dianggap mampu melihat bagaimana realitas sosial dari Strategi Marketing Public Relations PT. Dua Synergy Communincations dalam meningkatkan Jumlah pengguna jasa Event Organizer, dapat dipahami sebagai suatu realitas yang telah dikonstruksikan dan bagaimana konstruksi tersebut terbentuk.
3.2 Pendekatan Penelitian
Pendekatan penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah dengan pendekatan kualitatif. Metode penelitian kualitatif adalah metode penelitian yang sistematis yang digunakan untuk mengkaji atau meneliti suatu objek pada latar alamiah tanpa ada manipulasi di dalamnya.Tanpa ada pengujian hipotesis, dengan metode-metode yang alamiah ketika hasil penelitian yang diharapkan bukanlah generalisasi
berdasarkan ukuran-ukuran kuantitas, namun makna (segi kualitas) dari fenomena yang diamati (Prastowo, 2011: 24).
Pendekatan kualitatif bertujuan untuk mendapat pemahaman yang sifatnya umum terhadap kenyataan sosial dari perspektif partisipan. Pemahaman tersebut tidak ditentukan terlebih dulu, tetapi diperoleh setelah melakukan analisis terhadap kenyataan sosial yang menjadi fokus penelitian dan kemudian ditarik suatu kesimpulan berupa pemahaman umum tentang kenyataan tersebut.
Peneliti menggunakan jenis penelitian kualitatif supaya penelitian dapat dipahami dan dimaknai secara mendalam dan komprehensif, tanpa menggunakan rumus-rumus atau angka-angka statistik. Dengan menggunakan teknik pengumpulan data melalui wawancara, penelitian akan menghasilkan jawaban yang lebih subyektif, mendalam, dan lebih mendetail.
3.3 Metode Penelitian
Penelitian yang dilakukan dalam skripsi ini bersifat “deskriftif”. Penelitian deskriftif bertujuan mengumpulkan informasi secara rinci dengan melukiskan gejala yang ada, mengidentifikasi masalah, atau memeriksa kondisi dan praktek yang berlaku.
Menurut M. Iqbal Hasan (2002:98) dalam buku Pokok-Pokok Metode Penelitian dan Aplikasinya menyatakan metode deskriftif bertujuan untuk:
a) “Mengumpulkan informasi actual secara rinci yang melukiskan gejala yang ada.
b) Mengidentifikasikan masalah atau memeriksa kondisi dan praktek-praktek yang berlaku.
c) Membuat perbandingan atau evaluasi.
d) Menentukan apa yang dilakukan orang lain dalam menghadapi masalah yang sama dan belajar dari pengalaman mereka untuk menetapkan rencana dan keputusan pada waktu yang akan datang”.
Penelitian deskriptif adalah penelitian yang berusaha untuk menuturkan pemecahan masalah yang ada berdasarkan data yang dikumpulkan dan bukan melalui angka-angka.Jadi, dalam penelitian kualitatif yang bersifat deskriptif ini juga bisa menganalisis dan menginterpretasi serta menggambarkan suatu keadaan atau gejala yang ada secara detail. Penelitian deskriptif bisa bersifat komparatif dan koleratif.
Dalam penelitian deskriptif data yang dikumpulkan berupa kata-kata gambar dan bukan angka-angka. Hal ini disebabkan oleh adanya penerapan metode kualitatif. Selain itu, semua yang dikumpulkan berkemungkinan menjadi kunci terhadap apa yang akan diteliti dan yang sudah diteliti.
Dengan demikian laporan penelitian akan berisi kutipan-kutipan data untuk memberi gambaran penyajian laporan tersebut. Data tersebut bisa berasal dari wawancara, catatan lapangan, foto, videotape, dokumen pribadi, catatan atau memo, dan dokumen resmi lainnya.
Dalam penelitian deskriptif, peneliti hanya memaparkan data yang ada di lapangan tentunya dengan teori yang ada dan dapat mengidentifikasi fokus penelitian. Dalam penelitian ini, penulis akan coba meneliti mengenai bagaimana Strategi Marketing Public Relations PT. Dua Synergy Communications dalam meningkatkan jumlah jasa Event Organizer.
3.4 Objek dan Subjek Penelitian 3.4.1 Objek Penelitian
Yang menjadi objek dalam penelitian ini adalah PT. Dua Synergy Communication yang beralamat di Komplek Duta Mas Fatmawati C2 No.9 Jl. R.S. Fatmawati No. 39, Jakarta Selatan – 12150 INDONESIA.
3.4.2 Subjek Penelitian
Yang menjadi subjek dalam penelitian ini adalah narasumber yang akan diwawancara untuk dapat memberikan informasi tentang penelitian ini. Menurut kamus bahasa Indonesia definisi narasumber yaitu orang yg memberi (mengetahui secara jelas atau menjadi sumber) informasi. Jadi, pengertian narasumber adalah orang yang memberi informasi atau sumber informasi utama yang masih dalam lingkup yang sedang diteliti.
Narasumber dalam penelitian ini berasal dari internal perusahaan PT. Dua Synergy Communication dan eksternal, yakni adalah:
1. Abi W. Farman CEO PT. Dua Synergy Communications
2. Ari Wibowo Divisi Public Relations PT. Dua Synergy Communications