• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tabel 1.Hasil Pengamatan Awal Penentuan Lokasi Penelitian

IFAS EFAS

5.1. Lingkungan Perairan

5.2.3. Pasang Surut

masih digenangi air sedalam minimal 30-60 cm, sehingga penyerapan makanan dapat berlangsung terus dan tanaman terhindar dari kerusakan akibat sinar matahari. Kondisi demikian dapat menghindari rumput laut mengalami kekeringan dan mengoptimalkan perolehan sinar matahari.

Gambar 8. Gambar peta tematik kedalaman perairan Teluk Tamiang

Kedalaman parairan pada lokasi penelitian pada peta tematik (Gambar 8) tersebut termasuk kawasan pola perairan landai yang sempit dibagian pesisir perairan terbuka. Kedalaman perairan naik kembali pada minggu ke 3 dan ke 6 seiring dengan bergesernya pasang purnama. Dengan demikian faktor kedalaman untuk lokasi penelitian sesuai untuk persyaratan budidaya rumput laut jenis

Eucheuma cottonii (Gambar 7).

5.2.3. Pasang Surut

Rambatan pasang surut yang bergelombang panjang dari laut menyebabkan gerakan mengalir suatu massa air. Keadaan pasang surut menunjang sirkulasi air dan unsur hara yang dibutuhkan oleh rumput laut untuk tumbuh dan berkembang dengan baik serta menghindarkan pengedapan oleh kotoran atau biota pengganggu

lainnya. Selain itu pula kebanyakan spora rumput laut bersifat planktonis sehingga gerakan dan sebarannya dipengaruhi pola dan sifat pasang surut .

Perairan Teluk Tamiang secara keseluruhan dari ketiga stasiun memiliki fluktuasi pasang surut antara 0,0-2,7 m (Gambar 9). Kisaran tersebut masih dibawah rata-rata kedalaman baik stasiun A yaitu 5,6 ± 0,1 - 6,8 ± 0,7 m, stasiun B yaitu 8,5 ± 0,3 - 9,9 ± 0,9 m maupun stasiun C yaitu 12,9 ± 0,4 - 14,0 ± 0,4 m (Tabel 13).

Tabel 13. Parameter pasang surut perairan (m) Teluk Tamiang Bulan Mei s/d Juli 2006

MINGGU PASANG SURUT (m)

Pagi Siang Sore

1 0,7 1,5 2,7 2 0,4 1,2 2,4 3 0,0 0,9 2,0 4 0,4 1,2 2,4 5 0,7 1,5 2,7 6 0,4 1,2 2,4 7 0,0 0,9 2,0 8 0,4 1,2 2,4

Sumber : Data Olah, 2006

Data pasang surut dari Dinas Hidro-Oseanografi TNI AL Jakarta untuk wilayah perairan Kabupaten Kotabaru diperoleh kisaran antara 0,0-2,8 m, sedangkan khusus perairan Teluk Tamiang memiliki kisaran 0,0-2,7 m (Gambar 9).

0.0 0.5 1.0 1.5 2.0 2.5 3.0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 Waktu (jam) Nilai Pasut (m)

Gambar 9. Grafik parameter pasang surut (m) perairan Teluk Tamiang Bulan Mei s/d Juli 2006

Pasang surut di Teluk Tamiang yang telah diamati dan data dari Dinas Hidro-Oseanografi menunjukkan pasang surut memiliki tipe cenderung campuran dominan tunggal. Menurut Aslan (1998), kedalaman perairan tidak boleh kurang dari 2 (kaki) (sekitar 60 cm) pada saat surut terendah sebab bila tidak demikian tanaman akan kekeringan pada saat air surut terendah dan akan mempersulit baik pada saat penanaman, pemeliharaan maupun pemanenan hasil. Berdasarkan hasil penelitian, menunjukkan bahwa lokasi berada dalam kisaran kedalaman tumbuh yang layak untuk budidaya rumput laut.

5.2.4. Pergerakan air : Arus dan Gelombang

Pergerakan air adalah salah satu faktor ekologi utama yang penting bagi komunitas rumput laut. Arus dan gelombang memiliki pengaruh yang besar terhadap aerasi, transportasi nutrien dan pengadukan air. Lokasi untuk budidaya rumput laut Eucheuma sp. harus terlindung dari arus (pergerakan air) dan hempasan ombak/gelombang yang terlalu kuat karena akan dapat merusak dan meng-hanyutkan thallus. Lokasi yang baik biasanya berupa teluk, mempunyai karang penghalang atau pulau-pulau yang berfungsi sebagai tanggul untuk menghalangi pengaruh dari laut lepas sehingga rumput laut yang dibudidayakan terlindungi. Parameter arus perairan di kawasan Teluk Tamiang memiliki perbedaan (Tabel 14). Tabel 14. Parameter arus perairan (cm/det) Teluk Tamiang Bulan Mei s/d Juli 2006

LOKASI PENELITIAN WAKTU PEMELIHARAAN ( MINGGU ) A B C 1 16,7±5,8 23,3±7,6 25,0±5,0 2 23,3±2,9 30,0±5,0 31,6±2,9 3 18,3±2,9 26,6±5,8 31,6±2,9 4 20,0±0,0 28,3±2,9 31,6±2,9 5 20,0±0,0 29,3±2,9 35,0±5,0 6 18,3±2,9 28,3±7,6 36,6±5,8 7 21,6±5,8 26,6±5,8 31,6±2,9 8 18,3±2,9 31,6±5,8 36,6±5,0

Sumber : Data Olah, 2006

Kecepatan arus di perairan Teluk Tamiang (Gambar 10 dan Gambar 11) berkisar antara 18,3-36,6 cm/detik. Pada stasiun A kecepatan arus berkisar antara 16,7 ± 5,8 - 23,3 ± 2,9 cm/detik, pada stasiun B kecepatan arus berkisar antara 23,3

± 7,6 - 31,6 ± 5,8 cm/detik dan pada stasiun C kecepatan arus berkisar antara 25,0 ± 5,0 - 36,6 ± 5,8 cm/detik (Gambar 10). 0.0 5.0 10.0 15.0 20.0 25.0 30.0 35.0 40.0 1 2 3 4 5 6 7 8 M i n g g u A r u s (cm/det) A B C

Gambar 10. Grafik parameter arus (cm/det.) perairan Teluk Tamiang dari minggu ke 1-8 Bulan Mei s/d Juli 2006

Arus perairan Teluk Tamiang pada peta tematik arus menujukkan perbedaan besaran (Gambar 11). Hal ini disebabkan oleh kondisi topografi, gaya hidrologi dan pengaruh fisika oseanografi lainnya.

Gambar 11. Gambar peta tematik arus perairan Teluk Tamiang

Kecepatan arus yang terukur lebih rendah dari kecepatan arus untuk budidaya rumput laut yang terukur di Guruaping Oba Maluk Utara dengan kisaran

Juni Juni Juni Juni Juli Juli

Mei Mei

31-45 cm/detik (Iksan, 2005), akan tetapi lebih tinggi dari penelitian di Teluk Lhok Seudu Aceh yang dilakukan oleh Syahputra (2005) yang mendapatkan didapat kisaran arus 12-25 cm/detik serta penelitian Eucheuma cottonii oleh Wahyuningrum (2001) di Teluk Lampung dengan mendapatkan kisaran arus antara 6,5-19,9 cm/detik. Kajian sumberdaya pesisir di Biak Numfor Papua pada bulan Februari sampai Juli menunjukkan bahwa arus bergerak ke timur dengan kecepatan antara 18-38 cm/detik (Soesilisa, 2006).

Menurut Kadi dan Atmaja (1988) dan Anggadiredja et al. (2006) menyatakan bahwa kecepatan arus yang baik bagi budidaya Eucheuma sp. adalah 20-40 cm/detik. Rumput laut merupakan organisme yang memperoleh makanan (nutrients) melalui aliran air yang melewatinya dan gerakan air yang cukup akan membawa nutrients yang cukup pula dan sekaligus mencuci kotoran yang menempel pada thallus, membantu pengudaraan serta mencegah fluktuasi suhu air yang besar (Sukardi et al. , 2004).

Bentuk Teluk yang terlindungi oleh pulau-pulau kecil di depannya diduga penyebab tidak terlalu besarnya arus yang yang terjadi di Teluk Tamiang walaupun waktu penelitian arus yang berasal dari arah Tenggara, dimana pada saat penelitian ini berlangsung terjadi peralihan dari musim Barat ke musim Timur. Berdasarkan grafik parameter dan peta tematik kecepatan arus terlihat bahwa stasiun A memiliki rata-rata kecepatan arus sedikit dibawah 20 cm/detik. Hal ini diduga karena stasiun A berada posisi yang mencolok kedalam dan terlindung oleh substrat yang berkarang/batu-batuan besar, sedangkan stasiun B dan C masih dalam kisaran layak untuk pertumbuhan rumput laut (lihat grafik arus). Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa arus pada kisaran tersebut adalah layak untuk pertumbuhan rumput laut.

Gelombang yang terjadi di laut umumnya disebabkan oleh hembusan angin. Besar kecilnya gelombang disebabkan oleh kuatnya hembusan angin, lamanya hembusan dan jarak tempuh angin.

Tabel 15. Parameter gelombang perairan (cm) Teluk Tamiang Bulan Mei s/d Juli 2006 WAKTU PEMELIHARAAN ( MINGGU ) LOKASI PENELITIAN A B C 1 26,7±2,9 31,7±5,8 35,0±5,0 2 31,7±2,9 35,0±5,0 36,7±2,9 3 18,3±7,6 30,0±13,2 35,0±10,0 4 18,3±2,9 30,0±5,0 35,0±5,0 5 16,7±5,8 26,7±10,4 34,5±11,5 6 18,3±2,9 30,0±7,6 35,0±5,0 7 18,3±2,9 31,6±7,6 36,7±7,6 8 20,0±5,0 30,0±5,0 36,6±3,9

Sumber : Data Olah, 2006

Parameter gelombang dari ketiga satsiun pengamatan memiliki nilai yang berbeda (gambar 12). 0.0 5.0 10.0 15.0 20.0 25.0 30.0 35.0 40.0 1 2 3 4 5 6 7 8

Mei Mei Juni Juni Juni Juni Juli Juli

Gelombang (cm)

A B C

Gambar 12. Grafik parameter gelombang (cm) perairan Teluk Tamiang Bulan Mei s/d Juli 2006 dari minggu ke 1-8

Ketinggian gelombang di perairan Teluk Tamiang berkisar antara 15-40 cm (Gambar 12 dan 13). Pada stasiun A ketinggian gelombang berkisar antara 18,3 ± 2,9 cm - 27,0 ± 2,6 cm, stasiun B ketinggian gelombang berkisar antara 26, 7 ± 10,4 cm - 35,0 ± 5,0 cm dan stasiun C ketinggian gelombang berkisar antara 28,3 ± 11,5 cm - 36,7 ± 3,9 cm. Dari hasil pengukuran, fluktuasi gelombang yang tidak terlalu besar diduga karena adanya pulau-pulau kecil yang menghalangi ke perairan Teluk.

Gambar 13. Gambar peta tematik gelombang perairan Teluk Tamiang

Stasiun A memiliki rata-rata ketinggian gelombang sedikit lebih rendah. Hal ini diduga karena stasiun A berada posisi yang mencolok kedalam dan terlindung oleh substrat yang berkarang/batu-batuan besar serta tingkat kedalaman yang landai, sedangkan stasiun B dan C masih dalam keadaan terbuka sehingga relatif lebih besar dan mulai agak curam.

Gelombang yang terukur lebih rendah dari gelombang yang terukur di Biak Numfor Papua dengan kisaran 1,12-1,21 meter (Soselisa, 2006) dan gelombang yang terukur di Teluk Lampung dengan kisaran 0,5-1,0 meter (Wahyuningrum, 2001). Gelombang sampai ketinggian 1 meter masih baik untuk budidaya rumput laut terutama untuk metode apung dan ketinggian gelombang akan mempengaruhi pertambahan tali pelampung dan kekuatan konstruksi budidaya (Wahyuningrum, 2001). Kisaran gelombang pada kawasan Teluk Tamiang cukup layak untuk pertumbuhan rumput laut.

5.2.5. Cahaya dan Kecerahan

Intensitas cahaya matahari adalah merupakan sumber energi dalam proses fotosintesis, sedangkan kecerahan adalah suatu kondisi yang menunjukkan kemampuan cahaya untuk menembus lapisan air pada kedalaman tertentu.

Tabel 16. Intensitas cahaya permukaan perairan (lux) Teluk Tamiang Bulan Mei s/d Juli 2006.

MINGGU JAM CAHAYA (lux)

A B C 1 07.00 5.746 6.059 6.529 12.00 39.662 38.466 38.332 17.00 7.678 7.348 6.993 2 07.00 5.314 5.529 5.835 12.00 47.661 46.879 46.982 17.00 7.482 7.335 7.150 3 07.00 5.900 6.424 7.004 12.00 42.591 42.759 43.450 17.00 7.397 7.268 6.987 4 07.00 6.846 7.318 7.699 12.00 43.146 42.549 42.118 17.00 7.822 7.555 7.051 5 07.00 4.856 5.948 6.271 12.00 45.301 44.928 44.632 17.00 7.452 7.356 7.020 6 07.00 4.779 5.373 5.689 12.00 46.697 45.915 45.545 17.00 7.032 6.671 5.948 7 07.00 5.036 5.671 6.402 12.00 45.128 45.221 45.361 17.00 7.190 6.971 6.581 8 07.00 5.452 5.710 6.045 12.00 42.196 46.437 45.002 17.00 7.348 7.013 6.581

Sumber : Data Olah, 2006

Parameter cahaya adalah merupakan salah satu faktor penentu untuk tumbuh dan berkembangnya rumput laut pada kegiatan budidaya rumput laut di Teluk Tamiang (Gambar 14 dan 15).

0 10000 20000 30000 40000 50000 60000 07.00 12.00 17.00 07.00 12.00 17.00 07.00 12.00 17.00 07.00 12.00 17.00 07.00 12.00 17.00 07.00 12.00 17.00 07.00 12.00 17.00 07.00 12.00 17.00 1 2 3 4 5 6 7 8 Minggu Intensitas cahaya kedalaman 0.3 m (lux) A B C

Gambar 14. Grafik parameter intensitas cahaya pada permukaan dari minggu ke 1-8 Bulan Mei s/d Juli 2006

Prosentasi intensitas cahaya pada kedalaman 0,3 meter yang merupakan posisi tumbuh rumput laut memiliki nilai yang relatif sama (Gambar 15).

0 20 40 60 80 100 07.00 12.00 17.00 07.00 12.00 17.00 07.00 12.00 17.00 07.00 12.00 17.00 07.00 12.00 17.00 07.00 12.00 17.00 07.00 12.00 17.00 07.00 12.00 17.00 1 2 3 4 5 6 7 8 Minggu

Prosentasi intensitas cahaya

(%)

A B C

Gambar 15. Grafik parameter prosentasi intensitas cahaya pada kedalaman 0,3 m dari minggu ke 1-8 Bulan Mei s/d Juli 2006

Intensitas cahaya perairan Teluk Tamiang pada peta tematik intensitas cahaya menunjukkan relatif sama atau searah dari ketiga stasiun (Gambar 16).

Juni Juni

Juni Juni Juni Juli Juni

Mei Mei

Juni Juni Juni Juni Julii Juli

Mei Mei

Minggu

Gambar 16. Gambar peta tematik intensitas cahaya perairan Teluk Tamiang Intensitas cahaya matahari pada kedalaman 0,3 m secara keselurahan berkisar 4.779-46.982 lux dengan prosentasi cahaya berkisar antara 74,68-86,47 %. Pada stasiun A intensitas cahaya berkisar antara 4.779-47.661 lux dengan prosentasi antara 78,35-80,37 %, pada stasiun B intensitas cahaya berkisar antara 5.372-46.878 lux dengan prosentasi antara 79,00-81,25 % dan pada stasiun C intensitas cahaya berkisar antara 5.689-46.981 lux dengan prosentasi antara 80,12-82,14 %.

Penelitian yang dilakukan di perairan Pantai Carita pada kedalaman 3 meter oleh Purwangka (2002), diperoleh besarnya intensitas cahaya yang berkisar antara 0 lux - 9.500 lux (pagi), sekitar 27.000 lux (siang) dan 2.100 lux - 0 lux (senja). Penetrasi cahaya matahari akan mengalami pengurangan sekitar 10% di lapisan permukaan atau 90% mencapai lapisan permukaan laut (Iwasaka et al. dalam

Alianto, 2006). Berdasarkan hasil pengukuran pada kedalaman tumbuh 30 cm tersebut, menunjukkan bahwa hasil prosentase intensitas cahaya di Teluk Tamiang

berada dalam kisaran yang baik untuk pertumbuhan dan perkembangan budidaya rumput laut.

Kecerahan suatu perairan dapat menunj ukkan banyaknya padatan terlarut atau ”kotoran” yang terdapat dalam perairan tersebut. Kecerahan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi kedalaman penetrasi cahaya di dalam laut. Pada penelitian ini Curah hujan dari BMG dan pengamatan kecerahan (Tabel 17 dan 18). Tabel 17. Data Curah Hujan dari Badan Meteorologi dan Geofisika Jakarta

NO. STA

NAMA

STASIUN JAN PEB MAR APR MEI JUN JUL AGT SEP OKT NOP DES

15450 Stagen-Kotabaru 225 - 355 229 296 242 95 94 119 185 264 339

Tabel 18. Parameter kecerahan perairan (m) Teluk Tamiang Bulan Mei s/d Juli 2006

WAKTU PEMELIHARAAN ( MINGGU ) LOKASI PENELITIAN A B C 1 4,1±0,2 5,3±0,1 5,9±0,2 2 4,6±0,2 5,9±0,3 6,3±0,3 3 4,2±0,2 5,6±0,2 6,4±0,3 4 4,3±0,1 5,4±0,3 6,2±0,2 5 4,4±0,1 5,9±0,2 6,5±0,2 6 4,2±0,2 5,5±0,2 5,9±0,2 7 4,3±0,1 5,7±0,2 6,2±0,1 8 4,6±0,3 5,8±0,4 6,2±0,4

Sumber : Data Olah, 2006

Stasiun A kecerahan berkisar antara 4,1 ± 0,2 m - 4,6 ± 0,3 m, pada stasiun B kecerahan berkisar antara 5,3 ± 0,1 m - 5,9 ± 0,3 m dan pada stasiun C kecerahan berkisar antara 5,9 ± 0,2 m - 6,4 ± 0,3 m (Gambar 17 dan 18). Nilai kecerahan stasiun A dan B agak rendah jika dibandingkan dengan stasiun C, hal ini karena stasiun A dan B sebagian memiliki substrat dasar berlumpur yang diduga telah terjadi pengadukan sedimen pantai oleh gelombang dan suspensi yang dibawa oleh arus sepanjang pantai.

0 1 2 3 4 5 6 7 1 2 3 4 5 6 7 8 M i n g g u Kecerahan (m) A B C

Gambar 17. Grafik parameter kecerahan (m) perairan Teluk Tamiang dari minggu ke 1-8 Bulan Mei s/d Juli 2006

Kecerahan perairan Teluk Tamiang pada peta tematik, terlihat bahwa parameter kecerahan menunjukkan terdapat perbedaan besaran antara ketiga stasiun pengamatan (Gambar 18)

Gambar 18. Gambar peta tematik kecerahan perairan Teluk Tamiang

Juni Juni Juni Juli Juli

Mei Juni

Mei

Kecerahan yang terukur untuk budidaya rumput laut Eucheuma cottonii di Teluk Lhok Seudu Aceh yang dilakukan oleh Syahputra (2005) relatif sama, didapat kisaran kecerahan 5-12 meter dan hasil penelitian Yusron (2005) di Kepulauan Seribu berkisar antara 3-8 meter serta penelitian Eucheuma cottonii oleh Wahyuningrum (2001) di Teluk Lampung dengan mendapatkan kisaran prosentasi kecerahan antara 35-100% namun lebih tinggi pada kajian sumberdaya pesisir di Biak Numfor Papua yang berkisar sampai pada nilai > 15 meter (Soesilisa, 2006).

Kecerahan perairan berhubungan erat dengan penetrasi cahaya matahari. Menurut Sukardi et al. (2004) dari Ditjenkanbud bahwa kecerahan perairan yang baik lebih dari 1 meter. Berdasarkan data hasil penelitian tersebut, menunjukkan bahwa kondisi kecerahan di perairan ini adalah cukup baik untuk pertumbuhan rumput laut, hal ini diduga karena dipengaruhi oleh kondisi perairan yang belum tercemar dan kondisi terumbu karang yang masih bagus.

5.2.6. Keterlindungan dan Kondisi Substrat Dasar Perairan

Untuk menghindari kerusakan fisik sarana budidaya dan tumbuhan rumput laut, maka diperlukan lokasi yang terlindung dari pengaruh angin dan gelombang yang besar. Lokasi yang terlindung biasanya didapatkan di perairan teluk atau perairan terbuka tetapi terlindung oleh adanya penghalang atau pulau di dapannya. Tabel 19. Kondisi keterlindungan perairan Teluk Tamiang

LUAS TELUK TAMIANG

STASIUN TITIK KOORDINAT POSISI

LOKASI ± 2.289,8 Ha atau ± 22.898.000 m² A B C 116o 03’ 54’’ BT 04o 02’ 54,6’’ LS 116o 04’ 5,484’’ BT 04o 04’ 6,852’’ LS 116o 04’ 9,588’’ BT 04o 05’ 18,888’’ LS Berada di dekat daratan/pantai Berada di tengah teluk

Berada di muara teluk Sumber : Data Olah, 2006

Kondisi Teluk Tamiang berada dibelakang beberapa pulau kecil dan terlindung dari arus serta gelombang yang besar (Tabel 19 dan Gambar 19).

Pada peta tematik keterlindungan di kawasan Teluk Tamiang (Gambar 19), menunjukkan bahwa kawasan teluk tersebut terlindung dan cukup baik untuk kegiatan budidaya rumput laut.

Gambar 19. Gambar peta tematik keterlindungan perairan Teluk Tamiang Tipe substrat perairan yang berbeda akan mengakibatkan jenis-jenis biota perairan berbeda pula. Hal ini berhubungan dengan kemampuan adaptasi dan toleransi individu-individu terhadap kondisi lingkungan perairan teluk, terutama untuk jenis-jenis rumput laut dan biota bentik.

Pada stasiun A terletak pada posisi 04o 04’ 850’’ LS 116o 06’ 500’’ BT berada di dekat daratan/pantai dan memiliki substrat dasar pecahan karang, pasir berbatu dan lumpur, pada stasiun B terletak pada posisi 04o 06’ 737’’ LS 116o 06’ 932’’ BT berada di tengah teluk yang memiliki substrat dasar sebagian karang dan pecahan karang, pasir berbatu dan sedikit lumpur dan stasiun C terletak pada posisi 04o 08’ 858’’ LS116o 06’ 933’’ BT berada di muara teluk yang memiliki substrat dasar pecahan karang dan karang (Gambar 20).

Kondisi substrat dasar perairan Teluk Tamiang pada ketiga stasiun memiliki perbedaan (Gambar 20).

Gambar 20. Gambar peta tematik substrat dasar perairan Teluk Tamiang Lokasi penelitian berada di kawasan teluk semi terbuka, yang terlindung oleh pulau-pulau kecil bersubstrat dasar terdiri dari karang mati, pasir, sebagian berlum-pur. Menurut Aji dan Murdjani (1986), bahwa kondisi perairan haruslah terlidung dari pengaruh angin yang kencang, gelombang yang besar dan cuaca musiman yang buruk karena dapat merusak dan menghanyutkan rumput laut serta sarana budidaya itu sendiri. Menurut Aslan (2004), substratnya harus stabil dan dasar perairan terdiri atas campuran karang mati dan campuran karang kasar. Kondisi dasar perairan yang demikian merupakan petunjuk adanya gerakan air yang baik (Sukardi, 2004). Lokasi yang terlindung biasanya didapatkan di perairan teluk atau perairan terbuka tetapi terlindung oleh adanya penghalang atau pulau di depannya.

Lokasi atau kawasan Teluk Tamiang dengan substrat dasar karang, pecahan karang, pasir dan sebagian berlumpur sangat baik untuk pertumbuhan rumput laut.

5.3. Parameter Kimia Perairan

5.3.1. Salinitas

Setiap organisme laut memiliki toleransi yang berbeda terhadap salinitas, sehingga salinitas merupakan salah satu parameter lingkungan yang penting untuk kelangsungan hidup suatu organisme. Parameter salinitas perairan Teluk Tamiang dari ketiga stasiun relatif sama (Tabel 20 dan Gambar 21) .

Tabel 20. Parameter salinitas perairan (‰) Teluk Tamiang Bulan Mei s/d Juli 2006

LOKASI PENELITIAN WAKTU PEMELIHARAAN ( MINGGU ) A B C 1 33,2±0,9 33,4±0,9 33,5±0,9 2 33,1±0,9 33,2±0,9 33,3±0,9 3 33,3±0,9 33,4±1,0 33,6±1,1 4 33,7±0,6 33,9±0,8 34,0±0,8 5 33,8±0,9 34,0±0,7 34,2±0,7 6 33,9±0,9 34,1±0,8 34,3±0,8 7 34,6±0,4 34,8±0,4 35,0±0,2 8 34,7±0,4 34,9±0,3 35,2±0,1

Sumber : Data Olah, 2006

Salinitas perairan Teluk Tamiang dari ketiga stasiun memiliki nilai yang relatif searah atau sama besar (Gambar 21). Salinitas di perairan Teluk Tamiang berkisar antara 33,2 ± 0,9 ‰ - 35,2 ± 0,1 ‰. Pada stasiun A kisaran salinitas antara 33,1 ± 0,9 ‰ - 34,7 ± 0,4 ‰, pada stasiun B kisaran salinitas antara 33,2 ± 0,9 ‰ - 34,9 ± 0,3 ‰ dan pada stasiun C kisaran salinitas antara 33,5 ± 0,9 ‰ - 35,2 ± 0,1 ‰. Salinitas pada ketiga stasiun cenderung konstan, tetapi stasiun A dan B sedikit lebih rendah, hal ini diduga karena adanya aliran air dari sungai kecil yang bermuara di stasiun ini, sehingga terjadi percampuran air laut dengan air tawar dari sungai yang mengakibatkan sedikit berbeda salinitasnya. Selain itu juga stasiun A dan B memiliki kecenderungan menerima limbah cair dari pemukiman penduduk karena masih posisinya didalam kawasan teluk yang langsung berhubungan dengan kegiatan di daratan.

32.0 32.5 33.0 33.5 34.0 34.5 35.0 35.5 1 2 3 4 5 6 7 8 M i n g g u Salinitas (‰) A B C

Gambar 21. Grafik parameter salinitas (‰) perairan Teluk Tamiang dari minggu ke 1-8 Bulan Mei s/d Juli 2006

Salinitas perairan Teluk Tamiang pada peta tematik salinitas ( Gambar 22), menunjukkan bahwa besaran nilai salinitas ketiga stasiun relatif sama besar.

Gambar 22. Gambar peta tematik salinitas perairan Teluk Tamiang

Juni Juni Juni Juli Juli

Mei Juni

Mei

Salinitas adalah merupakan salah satu parameter kimia perairan yang sangat penting dan berperan dalam budidaya rumput laut, terutama dalam mengatur tekanan osmose yang ada dalam tubuh organisme dengan cairan lingkungannya.

Salinitas yang terukur di perairan Teluk Lampung lebih bervariasi, yaitu berkisar 23-34‰ (Wahyuningrum, 2001), tetapi penelitian yang dilakukan oleh Iksan (2005) di Maluku Utara relatif sama antara 31-35‰ serta penelitian Teluk Lhokseudu Aceh berkisar 30-35‰ (Syahputra, 2005).

Menurut Anggadiredja et al. (2006) bahwa salinitas untuk pertumbuhan rumput laut Eucheuma sp. yang optimal berkisar antara 28-33‰. Eucheuma sp.

adalah rumput laut yang bersifat stenohaline yang tidak tahan terhadap fluktuasi salinitas yang tinggi dan kisaran salinitas yang baik untuk budidayanya adalah 28-35 ‰ (Sukardi et al., 2004). Kadi dan Atmaja (1988) menyatakan bahwa kisaran salinitas yang baik untuk pertumbuhan rumput laut adalah 30-34 ‰. Menurut Effendi (2003 ) disebutkan bahwa nilai salinitas perairan laut berkisar antara 30-40 ‰. Salinitas pada daerah penelitian dapat dikatakan berada dalam batas yang kisaran yang layak untuk pertumbuhan rumput laut (Gambar 21).

Dokumen terkait