sedang terjadi, yang semuanya sesungguhnya terkait erat dengan aspek teknis-finansial produksi dan aspek sosial-ekonomi budaya masyarakat setempat.
Kajian pengembangan budidaya rumput laut yang berkaitan dengan pengaruhnya terhadap kesejahteraan masyarakat pesisir telah dilaksanakan oleh Ikhsan (2001) di Kepulauan Seribu, dan yang berkaitan dengan analisis kebijakan dilakukan oleh Ismail (2000) di Lombok. Berdasarkan hasil kedua penelitian tersebut pengembangan budidaya rumput laut memberikan dampak peningkatan pendapatan keluarga yang cukup besar (mencapai 66%) dan merupakan kegiatan usaha yang waktu pengembalian modalnya (pay back period) relatif singkat, yaitu kurang dari satu tahun, serta dapat dikembangkan di kawasan taman wisata alam laut secara optimal walaupun harus secara terpadu antara kegiatan budidaya dengan konservasi.
2.6. Pertumbuhan dan Karaginan Rumput Laut Jenis Eucheuma cottonii
Pertumbuhan adalah perubahan ukuran suatu organisme yang dapat berupa berat atau panjang dalam waktu tertentu. Pertumbuhan rumput laut Eucheuma cottonii sangat dipengaruhi oleh dua faktor yaitu faktor eksternal dan faktor internal. Faktor internal yang berpengaruh terhadap pertumbuhan rumput laut antara lain jenis, galur, bagian thallus dan umur. Sedangkan faktor eksternal yang berpengaruh antara lain keadaan lingkungan fisik dan kimiawi perairan. Namun demikian selain faktor-faktor tersebut, ada faktor lain yang sangat menentukan keberhasilan pertumbuhan dari rumput laut yaitu faktor pengelolaan yang dilakukan oleh manusia. Faktor pengelolaan oleh manusia dalam kegiatan rumput laut kadang merupakan faktor utama yang harus diperhatikan seperti pemilihan lokasi perairan dan juga jarak tanam bibit dalam satu rakit apung (Syahputra, 2005).
Pertumbuhan juga merupakan salah satu aspek biologi yang harus diperhatikan. Ukuran bibit rumput laut yang ditanam sangat berpengaruh terhadap laju pertumbuhan dan bibit thallus yang berasal bagian ujung akan memberikan laju pertumbuhan lebih tinggi dibandingkan dengan bibit thallus dari bagian pangkal. Menurut Puslitbangkan (1991) dan Sukardi et al. (2004), laju pertumbuhan bobot rumput laut yang dianggap cukup menguntungkan adalah diatas 3%
pertambahan berat per hari, sedangkan Soegiarto (1978), menyatakan berkisar antara 2-3% per hari. Pada percobaan penanaman dengan menggunakan rakit terapung dengan tiga lapisan kedalaman, tampak bahwa tanaman yang lebih dekat dengan permukaan (30 cm) tumbuh lebih baik dari lapisan kedalaman dibawahnya. Cahaya matahari merupakan faktor penting untuk pertumbuhan rumput laut. Pada kedalaman yang tidak terjangkau cahaya matahari rumput laut tidak dapat tumbuh. Demikian pula iklim, letak geografis dan faktor oceanografi sangat menentukan pertumbuhan rumput laut.
Rumput laut adalah organisme laut yang memiliki syarat-syarat lingkungan tertentu agar dapat hidup dan tumbuh dengan baik. Semakin sesuai kondisi lingkungan perairan dengan areal yang akan dibudidayakan, akan semakin baik pertumbuhannya dan hasil yang akan didapat (Syahputra, 2005).
Karaginan merupakan ”getah” rumput laut yang diekstrasi dengan air atau larutan alkali dari spesies tertentu dari kelas Rhodophyceae (alga merah). Spesies
Eucheuma cottonii merupakan penghasil kappa karaginan, sedangkan spesies
spinosum merupakan penghasil iota karaginan.
Karaginan didalam thallus Eucheuma sp. terdapat pada dinding sel. Dinding sel alga merah tersusun atas dua lapisan, yaitu lapisan dalam dan lapisan luar. Lapisan dalam yang lebih keras banyak mengandung selulosa sedang lapisan luar terdiri dari substansi pektik yang mengandung agar dan karaginan (Levring et al., 1969 ; Fritsch, 1986 dalam Iksan, 2005). Sementara itu, menurut Glicksman (1983), terdapat tiga fraksi karaginan yang bernilai penting yaitu kappa, iota dan lambda, serta empat fraksi yang kurang penting yaitu mu, nu, theta dan xi.
Istilah karaginan mencakup sekelompok polisakarida linear sulfat dari D-galaktosa dan 3,6-anhidro-D-Galaktosa yang diekstraksi dari jenis-jenis alga merah (Glicksman, 1983). Karaginan merupakan senyawa hidrokoloid yang terdiri dari ester kalium, natrium, magnesium dan kalium sulfat, dengan galaktosa dan 3,6 anhydrogalaktocopolimer. Karaginan dapat diperoleh dari hasil pengendapan dengan alkohol, pengeringan dengan alt (drum drying) dan pembekuan. Jenis alkohol yang dapat digunakan untuk pemurnian yaitu metanol, ethanol dan isopropanol.
2.7. Berbagai Metode Analisis Pengelolaan Wilayah Perairan
2.7.1. Sistem Informasi Geografis (SIG)
Gambaran yang lengkap pada citra melalui analisis Sistem Informasi Geografis (SIG), memungkinkan penggunaannya dalam pelbagai kajian, sehingga untuk kajian pola tata guna lahan pada ekosistem pesisir digunakan data citra penginderaan jauh (Sutanto, 1987). Zetka (1985), mengemukakan bahwa ekosistem pesisir memiliki masalah bervariasi dalam perolehan datanya sebab pesisir merupakan area yang luas meliputi daratan pesisir, estuaria dan perairan pesisir. Dilain pihak ada daerah tertentu seperti kota dan perairan dekat pesisir yang bersifat heterogen sehingga membutuhkan citra penginderaan jauh dengan resolusi spasial dan spektral yang tinggi.
Menurut Hartono (1995), langkah-langkah untuk melakukan evaluasi kesesuaian lahan melalui interpretasi data citra dijelaskan secara ringkas sebagai berikut : (1) Pemetaan satuan lahan melalui interpretasi foto udara dengan menggunakan hasil tumpang susun (overlay) antara bentuk lahan dengan lereng (satuan lahan minus penggunaan lahan) sebagai satuan evaluasi lahan (2). Penurunan informasi karakteristik (kualitas) lahan pada setiap satuan lahan (3). Pencocokan (matching) antara kualitas lahan dengan persyaratan untuk peruntukan tertentu. Evaluasi kesesuaian lahan akhir dengan mempertimbangkan tingkat kesesuaian terhadap peruntukan yang lain dan penggunaan lahan yang ada saat ini.
Sistem Informasi geografis (SIG) diartikan sebagai alat yang dapat digunakaan untuk : pengumpulan, penyimpanan, mendapatkan kembali informasi dan menampilkan suatu data untuk tujuan tertentu. Data yang dimaksud meliputi data spasial atau ruang maupun data atribut. Pada prinsipnya sistem informasi geografis mempunyai beberapa langkah yang berurutan dan berkaitan erat mulai dari perencanaan, penelitian, persiapan, inventarisasi, pemetaan tematik, penggabungan peta, mengedit hingga pemetaan secara otomatisasi (Burrough, 1986). Jadi Sistem Informasi Geografis adalah sebuah sistem untuk pengolahan, penyimpanan, pemrosesan atau manipulasi, analisis dan penayangan data secara spasial.
Sistem Informasi Geografis untuk penanganan data spasial daerah terutama untuk penyimpanan, editing, penampilan, perubahan dan pemodelan. Tiga Kegunaannya adalah pertama berkaitan dengan pengolahan data tersebut bagi presentasi dan penyajian data, sedang kegunaan untuk mengetahui perubahan sangat bermanfaat untuk kegiatan monitoring, terutama variabel yang cepat berubah. Pemodelan sangat penting untuk menghasilkan informasi baru untuk perencanaan dan pelaksanaan pembangunan. Pembangunan wilayah pada dasarnya merupakan suatu usaha untuk memanfaatkan potensi sumberdaya lahan semaksimal mungkin untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat dan pendapatan daerah tanpa meninggalkan aspek konservasi (Hartono, 1995).
Teknologi SIG menjadi pilihan untuk menjawab permasalahan perencanaan, mengingat kemampuan yang dimilikinya yaitu dapat menampung, menyimpan, mengolah dan memanipulasi data spasial, sehingga menghasilkan keluaran sesuai dengan tujuan. Kemudian SIG juga merupakan suatu alat yang dapat digunakan untuk menunjang pengelolaan sumberdaya wilayah pesisir yang berwawasan lingkungan. Analisis keruangan (spatial analysis) dan pemantauan terhadap perubahan lingkungan pesisir dan laut akan dapat dilakukan dengan mudah dan cepat dengan menggunakan SIG. Kemampuan SIG dalam analisis keruangan dan pemantauan dapat digunakan untuk mempercepat dan mempermudah penataan ruang (pemetaan potensi) sumberdaya wilayah yang sesuai dengan daya dukungnya.
2.7.2. Pendekatan Analisis SWOT (Strength, Weakness,Opportunities and Threats)
Untuk memformulasikan strategi dan kebijakan pengelolaan dan pengembangan pada pemanfaatan areal budidaya rumput laut khususnya di perairan Teluk Tamiang Kotabaru berdasarkan berbagai faktor secara sistematis dan pertimbangan lainnya maka dibutuhkan suatu kerangka kerja / analisis alternatif yaitu analisis SWOT. Pendekatan analisis ini berdasarkan pada logika yang dapat memaksimalkan kekuatan (strengths) dan peluang (opportunities), namun secara bersamaan dapat meminimalkan kelemahan (weakness) dan ancaman (threats) (Rangkuti, 2001).
Pendekatan analisis SWOT adalah merupakan penelitian tentang hubungan atau interaksi antara unsur-unsur internal yaitu kekuatan dan kelemahan terhadap unsur-unsur eksternal yaitu peluang dan ancaman. Analisis tersebut dipakai dalam usaha penyusunan suatu rencana yang matang untuk mencapai tujuan dalam jangka pendek maupun jangka panjang.
Dalam menyusun suatu perencanaan yang baik, perlu dilakukan penelaahan tentang kondisi dan kenyataan di lapangan, untuk mengetahui segala unsur kekuatan maupun segala kelemahan yang ada. Namun demikian, dilain pihak perlu diperhatikan unsur-unsur eksternal yang dihadapi yaitu peluang atau kesempatan yang ada atau diperkirakan akan timbul kelak, serta segala hambatan atau ancaman yang ada atau diperkirakan akan timbul kelak, serta segala hambatan /ancaman yang ada atau diperkirakan akan muncul dan mempengaruhi kestabilan kawasan.
Selanjutnya untuk mentransformasikan SWOT kedalam penanganan konflik kewenangan maka perlu melihat kombinasi faktor eksternal (dampak langsung dari luar) dengan faktor internal (dampak langsung dari dalam). Lingkungan eksternal yaitu peluang dan ancaman (Opportunities and Threats) yang disingkat EFAS (External Strategyc Factor Summary) dan lingkungan internal yaitu kekuatan dan kelemahan (Strengths and Weaknesses) yang disingkat IFAS (Internal Strategyc Factors Summary). Kedua faktor tersebut memberikan dampak positif yang berasal dari peluang dan kekuatan, serta dampak negatif yang berasal dari ancaman dan kelemahan.
Dalam analisis SWOT, teknik menentukan strategi adalah melalui strategi silang dari keempat faktor tersebut, yaitu :1) Strategi SO yaitu strategi yang memanfaatkan seluruh kekuatan untuk merebut dan memanfaatkan peluang yang sebesar-besarnya 2) Strategi WO yaitu strategi yang meminimalkan kelemahan untuk memanfaatkan peluang 3) Strategi ST yaitu strategi yang menggunakan kekuatan untuk mengatasi ancaman 4) Strategi WT yaitu strategi yang meminimalkan kelemahan untuk menghindari ancaman.