• Tidak ada hasil yang ditemukan

PEDOMAN WAWANCARA Kepala Lembaga Bahasa di

Dalam dokumen Gambar 3.1. Skenario Tindakan (Halaman 40-51)

Perguruan Tinggi Berbasis Keagamaan

Tujuan : Mengetahui kepengurusan,

pengelolaan, dan ragam kegiatan lembaga bahasa tersebut.

Nama Lembaga Bahasa : Alamat Lembaga Bahasa :

Nama :

Jabatan :

Hari/Tanggal Wawancara :

Tempat :

A. Rancangan UPTPB 1. Kapankah UPTPB berdiri?

2. Apakah tujuan pendirian UPTPB?

3. Apakah peran utama dari UPTPB bagi Institut?

4. Apa sajakah kegiatan dan program UPTPB di awal pendiriannya?

B. Pengelolaan UPTPB

1. Dimanakah posisi UPTPB? Di bawah Rektor atau Wakil Rektor?

2. Dimanakah posisi Kepala UPTPB? Kepada siapakah Kepala UPTPB bertanggungjawab? Adakah laporan tahunan yang harus dikerjakan oleh Kepala UPTPB setiap tahun?

3. Apakah Kepala UPTPB juga terlibat di dalam Rapim Institut?

377

4. Apakah tugas dan kewajiban Kepala UPTPB? Apakah Kepala UPTPB mempunyai kewenangan untuk membuat keputusan? Dalam batas manakah?

5. Bagaimanakah struktur organisasi di UPTPB? Staf apa sajakah yang membantu Kepala UPTPB?

6. Bagaimanakah dengan pengelolaan keuangan di UPTPB? Apakah seluruh dana operasional ditanggung oleh Institut? Haruskah UPTPB mencari sponsor atau donatur? C. Program dan Kegiatan UPTPB

1. Pengajaran bahasa apa sajakah yang tersedia di UPTPB? 2. Selain pengajaran bahasa, apakah UPTPB juga

melaksanakan kegiatan di bidang penelitian dan pengabdian masyarakat? Jika iya, apa sajakah?

3. Apakah UPTPB terlibat dalam penyusunan kurikulum atau silabus program bahasa di tiap fakultas di Institut? 4. Apakah UPTPB juga mengembangkan kegiatan

kemahasiswaan? Jika iya, apa sajakah?

5. Apakah UPTPB menjalin kerjasama dengan institusi lain dalam menjalankan program dan kegiatannya? Jika iya, institusi manakah dan apa sajakah program dan kegiatan yang telah dan akan dilaksanakan?

378

Lampiran 16

Hasil Wawancara Kepala Lembaga Bahasa di Perguruan Tinggi Berbasis Keagamaan

Tujuan : Mengetahui kepengurusan,

pengelolaan, dan ragam kegiatan lemaga bahasa tersebut.

Nama Lembaga Bahasa : Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pengembangan Bahasa (PB) IAIN Salatiga

Alamat Lembaga Bahasa : Institut Agama Islam Negeri (IAIN)

Jalan Lingkar Salatiga, Pulutan, Kec. Sidorejo, Kota Salatiga, Jawa Tengah 50716

Nama : Hanung Triyoko, S.S., M.Hum., M.Ed.

Jabatan : Kepala

Hari/Tanggal Wawancara : Kamis, 20 Desember 2018

Tempat : Kediaman Bapak Hanung Triyoko, S.S., M.Hum., M.Ed.

1. Kapankah UPTPB berdiri?

Kita mendapatkan kesempatan untuk mengelola sendiri menjadi STAIN pada tahun 1997. Kemudian, 2 tahun sesudahnya, tahun 1999 kita membuat UPTPB, Unit Pelaksana Teknis Pengembangan Bahasa. Dulu namanya UPB, kalau sekarang UPTPB.

379

Dulu kita membuat Unit Pengembangan Bahasa untuk memastikan bahwa mahasiswa-mahasiswa STAIN Salatiga memiliki kemampuan mencukupi, pada utamanya kemampuan yang standar dalam Bahasa Arab dan Bahasa Inggris, sehingga kemampuan standar itu membantu mereka memahami perkuliahan dan memahami buku teks-teks perkuliahan. Utamanya, Bahasa Arab. Di STAIN Salatiga, banyak buku-buku teks berbahasa Arab. Lalu, banyak juga kajian tentang Islam atau studi Agama Islam ditulis di dalam Bahasa Inggris, sehingga kedua kemampuan Arab dan Inggris itu sama dituntutnya supaya standar. Nah, untuk mencapai standar kemampuan itu kita bikin UPTPB. Itu satu. Lalu, yang lain berkaitan dengan penerjemahan dokumen-dokumen yang diperlukan dari pihak universitas untuk misalnya, korespondensi dengan pihak lain atau untuk membantu mahasiswa dalam persyaratan-persyaratan tertentu, menerjemahkan ijazah,dsb, atau bahkan masyarakat umum butuh juga menerjemahkan dokumen-dokumen untuk pernikahan, baik Bahasa Arab ke Bahasa Inggris atau yang harus menikah dengan bule misalnya, banyak dokumen yang harus diterjemahkan dari Bahasa Indonesia ke Bahasa Inggris atau Inggris ke Indonesia. Itu kenapa kita benar-benar butuh UPTPB. Kemudian, juga untuk menyelaraskan atau mengkoordinasikan upaya-upaya untuk meningkatkan keterampilan berbahasa Inggris atau Arab dosen-dosen, misalnya kaitannya dengan studi lanjut. Dalam kaitannya dengan Bahasa Inggris, misalnya pelatihan TOEFL atau IELTS. Itu perlu dilakukan langkah-langkah bersama untuk memfasilitasi dosen-dosen itu latihan. Kalau di Bahasa Arab ILAiK, seperti TOEFL tetapi untuk yang Arab.

3. Berarti, saya melihat saat itu betul-betul ada kebutuhan dari institusi untuk mendirikan UPTPB supaya bisa menguasai

380

dua bahasa utama di institusi. Kemudian, apakah dari awal sudah ada SOP atau deskripsi tentang tugas utama UPTPB? Memang dari awal dimulai dengan meinventarisasi tugas-tugas utama dari unit itu apa saja. Ketika itu sudah makin jelas, maka UPTPB pun semakin terarah program-programnya, tujuan-tujuannya.

4. Jadi, memang tujuan awal untuk memenuhi kebutuhan civitas akademika di dalam dulu?

Iya.

5. Saya sudah mempelajari di web bahwa unit ini di bawah Wakil Rektor 1 Bidang Akademik. Apakah posisi Bapak sebagai manager unit ini setingkat dengan Kaprodi atau bagaimana?

Tidak, kalau dalam struktur berarti malah setingkat dengan Dekan, langsung di bawah Warek.

6. Dan juga anggota Senat?

Kalau anggota Senat belum. Di perguruan tinggi lainnya, utamanya yang sudah UIN, Universitas Islam, UPTPB kemudian berubah menjadi Pusat Bahasa. Direktur Pusat Bahasa itu anggota Senat. Kalau IAIN masih belum, masih unit, belum menjadi anggota Senat.

7. Kalau menurut pandangan Bapak sendiri dalam sistem manajemen pendidikan, apakah sebaiknya pengelola bahasa di institusi setingkat sekolah tinggi atau institut seharusnya menjadi Unit Pelaksana Teknis saja belum ke Pusat?

381

Itu sangat berkaitan dengan banyak hal, misalnya dengan kemampuan lembaga itu sendiri dalam hal pendanaan, pembagian kewenangan. Makin besar lembaga, dalam hal ini seperti kalau di tempat kami Universitas Islam Negeri (UIN), kemudian statusnya menjadi BLU, artinya pihak universitas diberi kewenangan untuk mengelola dana sendiri atau kemudian menarik dana sendiri. Nah itu, kemudian seperti Pusat Pengembangan Bahasa memiliki kewenangan yang jauh lebih besar dalam hal pengajuan dana dan pengelolaan dana, atau bahkan mengambil dana dari masyarakat. Kalau sudah BLU itu bisa, pas menjadi Pusat Bahasa. Tapi sebenarnya itu hanya peristilahan. Tapi sementara istilah umum yang dipakai seperti itu. Kalau masih belum BLU, kita belum boleh mengelola dana sendiri. Semua dana diberikan oleh pemerintah, pengeluarannya juga semua dilaporkan juga pemerintah. Kita tidak boleh menarik dana dari masyarakat dan masih berkaitan dengan kebutuhan internal lembaga, maka untuk kategori itu namanya Unit Pengembangan Teknis.

8. Karena Bapak berada di bawah Wakil Rektor Bidang Akademik, berarti Bapak melaporkan segalanya kepada beliau?

Iya.

9. Lalu, batas kewenangan Bapak sebagai Kepala UPTPB sejauh mana?

Ya, saya bisa memutuskan misalnya program apa saja yang akan diselenggarakan oleh UPTPB setahun dan seberapa pesar penganggaran yang dibutuhkan. Kemudian kita usulkan ke pimpinan, diketahui oleh Warek. Tetapi apakah itu

382

disetujui oleh tidak, hal itu terkait dengan banyak pihak, tidak cuma Warek dan Rektor, tetapi berkaitan dengan dana keseluruhan yang diterima oleh IAIN Salatiga. Kalau misalnya dana mencukupi, apa yang saya ajukan persis bisa terwujud. Tetapi kalau kemudian dana yang dari Jakarta kurang dari perencanaan kita, semua ya dikurangi, tidak cuma UPTPB tetapi juga jurusan-jurusan. Rektor dan Wakil Rektor tidak sampai menyuruh saya untuk melakukan ini itu, kewenangan saya menentukan program dan anggaran unit, tetapi juga terikat dengan pusat juga, Jakarta.

10. Karena keuangan bersumber dari Jakarta?

Iya. Tapi kalau njenengan milik pemerintah? Bukan. Sebenarnya, ini lebih fleksibel. Kalau saran saya, agak nggak apple to apple ya, karena kita milik pemerintah dan njenegan bukan milik pemerintah. Kenyataannya kalau universitas milik pemerintah itu sangat rigid, sangat kaku, utamanya dalam hal pendanaan. Nah, sebenarnya kalau milik njenengan, otomatis sudah BLU karena milik sendiri to, kalau punya mimpi jadi pusat bahasa malah bagus juga. Kalau tempat kita, stratanya harus diikuti dengan rigid itu. Kalau institut berubah menjadi universitas, kita tidak otomatis berubah menjadi pusat bahasa.

11. Dan selalu ada laporan tahunan? Iya.

12. Lalu, yang saya pelajari di web, di dalam UPTPB tidak ada pengajar-pengajar bahasa, hanya ada Sekretaris bidang Bahasa Arab dan Bahasa Inggris.

383

Itu perkembangan mutakhir sekarang ini. Kalau dulu-dulu di awal pembentukannya, kita punya dosen tapi dosen-dosen luar biasa yang membantu kita mengajar di UPTPB berdasarkan jam mengajar. Jadi mereka datang ke UPTPB hanya di jam mengajar saja, lepas dari itu mereka tidak berkewajiban ngantor. Tapi dulu juga kita mengelola dosen-dosen. Tetapi perkembangan mutakhir, karena kita tidak terlibat dalam pembelajaran bahasa Arab dan Inggris yang sifatnya rutin maka kita tidak lagi mengelola dosen-dosen tertentu. Tetapi masih ada dosen-dosen yang membantu kita, tetapi itu sifatnya hanya temporal tidak rutin. Misalnya ada pelatihan, baru kita libatkan, pelatihan 2 minggu, 15 hari. 13. Kegiatan pembelajaran itu sudah sepenuhnya sekarang

dikelola oleh pihak fakultas? Iya.

14. Jadi, saat ini apa peran utama UPTPB bagi IAIN?

Lebih bergeser ke urusan pengembangan diri, bukan terkait dengan kurikulum, jadi pengembangan diri mahasiswa ataupun dosen terkait dengan kemampuan bahasa internasionalnya tetapi yang sifatnya personal, misalnya pelatihan berburu beasiswa luar negeri, pelatihan menulis Arab indah, kaligrafi, pelatihan persiapan tes TOEFL, atau ILAiK. Kita tidak terkait langsung dengan kurikulum.

15. Juga bekerja sama dengan institusi lain?

Iya, seperti misalnya saat ini kita bekerja sama dengan Kedubes Amerika, Regional English Language Office (RELO) itu untuk mendatangkan dosen dari Amerika.

384

16. Kemudian, dalam kaitannya dengan kebutuhan berbahasa di IAIN, apakah selama ini UPTPB selalu berfokus pada Bahasa Arab dan Bahasa Inggris? Atau UPTPB mencoba menghadirkan program bahasa lain?

Pernah kita dulu bekerja sama dengan kursusan Bahasa Jerman. Kita bikin leaflet. Kita sosialisasikan bahwa beasiswa di luar negri itu tidak hanya ke English speaking countries, tetapi juga bisa ke Jerman. Kita bekerja sama dengan itu supaya kalau ada yang berminat kursus Bahasa Jerman bisa kita selenggarakan di UPTPB. Tetapi memang tidak ada peminatnya karena mereka belum melihat kepentingan Bahasa Jerman itu dengan masa depan mereka, meskipun di tempat kami ada profesor lulusan Jerman, tetapi baik mahasiswa ataupun dosen di IAIN Salatiga itu tidak melihat ada kaitan langsung antara masa depan mereka dengan Bahasa Jerman. Orientasi mereka masih Bahasa Inggris dan Bahasa Arab. Itu kenapa fokus kita tetap Bahasa Inggris dan Bahasa Arab.

17. Dari awal apakah memang ada kebutuhan untuk belajar bahasa atau ada instruksi untuk belajar bahasa?

Nah, dinamikanya seperti ini. Dulu ada semacam matrikulasi atau standarisasi kemampuan berbahasa seperti yang saya bilang tadi. Jadi, mahasiswa masuk ke IAIN Salatiga itu dites dulu kemampuan Bahasa Arab dan Bahasa Inggrisnya. Dari test itu, placement test, nanti ketahuan level Bahasa Ingrisnya dimana atau Bahasa Arabnya dimana. Lalu mereka dikumpulkan dalam sesuai dengan kemampuan itu, jadi yang beginner dikumpulkan dengan beginner, yang intermediate dikumpulkan dengan intermediate, yang advanced

385

dikumpulkan dengan advanced, lalu kita kemudian kita bikin SIBA, Studi Intensif Bahasa Asing. Jadi seminggu sampai 4 hari, dari jam 7 sampai jam 12. Itu karena keinginan dari institut untuk mempengaruhi kemampuan mahasiswa. Hal itu berjalan cukup lama. Lalu kemudian ada kesadaran bahwa perubahannya kurang signifikan. Kalaupun ada perubahan yang signifikan hanya ada segelintir mahasiswa saja. Maka kemudian, kita berparadigma kemampuan bahasa itu diserahkan saja ke fakultas lewat kurikulum. Kalau ada mahasiswa yang kurang, hal itu seharusnya sudah menjadi kesadaran mahasiswa itu sendiri untuk, sambil kursus. Nah, kemudian UPTPB di situ, menawarkan kursus-kursus bagi mereka yang membutuhkan, sadar. Tetapi kita tidak memberikan semuanya.

18. Jadi misalnya ada mahasiswa yang ingin belajar Bahasa Spanyol, UPTPB berusaha melayani itu?

Yang terjadi, selain Bahasa Arab dan Bahasa Inggris, seperti yang tadi saya bilang, kami sudah mencoba dengan Bahasa Jerman. Tetapi, tidak ada peminatnya, hanya ada satu dua orang, akhirnya tidak jadi kita selenggarakan karena itu bekerja sama dengan pihak ketiga. Kalau cuma satu atau dua orang tidak mungkin tercakup biayanya, maka kita gagal melaksanakan itu. Makanya sekarang selain Bahasa Arab dan Bahasa Inggris kita tidak bisa melayani. Misalnya ada permintaan Bahasa Spanyol kita hanya menyarankan untuk mencoba menyarankan cari kursusan gratis di internet. Tetapi jika Bahasa Arab dan Bahasa Inggris kita bisa melayani.

386

19. Kemudian kegiatan-kegiatan di UPTPB yang saya lihat ada penelitian kebahasaan, ada pula pengabdian masyarakat. Apakah ada applied linguistics?

Pelatihan pengajaran bahasa? Tidak. Pelatihan pengajaran bahasa ada di Fakultas Tarbiyah. Mereka memiliki FTIK, ada Microteaching. Kita tidak menyelenggarakan pelatihan bahasa yang bersifat pengajaran bahasa kecuali yang sifatnya temporal seperti workshop, berapa hari, 3 hari, 4 hari, mengundang native speaker untuk mengajarkan keterampilan mengajar Bahasa Inggris tertentu, tetapi kalau sifatnya kursus pengajaran Bahasa Inggris tidak.

20. Apakah UPTPB juga menyelenggarakan kegiatan kemahasiswaan?

Iya, kalau kerja sama dengan mahasiswa iya. Misalnya English Camp, Arabic Camp, atau peringatan Hari Bahasa Arab sedunia yang 2 hari lalu kita selenggarakan. Lalu, Bulan Bahasa kita juga kerja sama dengan mahasiswa membuat kompetisi-kompetisi seperti debat, nyanyi dalam Bahasa Inggris dan Bahasa Arab.

387

LAMPIRAN 17

Dalam dokumen Gambar 3.1. Skenario Tindakan (Halaman 40-51)

Dokumen terkait