• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pelabelan Pangan

Dalam dokumen BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. (Halaman 124-128)

SNI UKM

J. Pelabelan Pangan

1. Evaluasi Berdasarkan Kondisi saat Ini

Berdasarkan hasil pengamatan kemasan produk roti pisang cokelat keju di UKM “Syifa Cake and Bakery”, pelabelan yang tertera pada kemasan yaitu merk dagang, nomor P.IRT, telepon, dan media sosial. Belum dicantumkan label halal, komposisi, kode produksi, dan tanggal produksi. UKM “Syifa Cake and Bakery” telah melakukan pendugaan umur simpan dengan cara sederhana yaitu menyimpan produk sampai beberapa hari dan kemudian diamati dengan cara organoleptik mengenai kelayakan untuk dikonsumsi.

Namun, meskipun telah melakukan upaya pendugaan umur simpan, UKM juga tetap harus mencantumkan tanggal kadaluwarsa pada kemasan. Label halal seharusnya dicantumkan untuk meyakinkan konsumen ketika akan membeli produk. Komposisi bahan untuk membuat produk seharusnya dicantumkan untuk meyakinkan konsumen terhadap keamanan bahan yang digunakan. Kode produksi seharusnya juga dicantumkan untuk pelacakan waktu produksi. Begitupun dengan tanggal kadaluwarsa seharusnya juga dicantumkan agar konsumen dapat mengetahui umur simpan roti tersebut sehingga layak untuk dikonsumsi.

Gambar 4.58 Label Kemasan UKM “Syifa Cake and Bakery”

(Sumber: dokumentasi kegiatan) 2. Konsep dan Usulan CPPB

Menurut Peraturan Pemerintah Nomor 69 Tahun 1999 tentang Label dan Iklan Pangan atau perubahannya; dan peraturan lainnya tentang label dan iklan pangan. Label pangan sekurang-kurangnya memuat:

177

a. Nama produk sesuai dengan jenis pangan IRT yang ada di Peraturan Kepala Badan POM HK.03.1.23.04.12.2205 Tahun 2012 tentang Pemberian Sertifikat Produksi Pangan Industri Rumah Tetangga.

b. Daftar bahan atau komposisi yang digunakan c. Berat bersih atau isi bersih

d. Nama dan alamat IRTP

e. Tanggal, bulan dan tahun kadaluwarsa f. Kode produksi

g. Nomor P-IRT

Selain itu, berdasarkan UU No. 33 Tahun 2014 tentang Jaminan Produk Halal yang disahkan pada tanggal 17 Oktober 2014, telah ditetapkan bahwa produk yang masuk, beredar, dan diperdagangkan di Wilayah Indonesia wajib bersertifikat halal. Undang-Undang No.33 Tahun 2014 tentang Jaminan Produk Halal mengamanatkan agar produk yang beredar di Indonesia terjamin kehalalannya.

Berdasarkan pengamatan yang dilakukan pada pelabelan kemasan roti pisang cokelat keju di UKM “Syifa Cake and Bakery”, label kemasan belum sesuai dengan konsep CPPB. Hal ini dikarenakan kemasan yang digunakan pelabelannya belum lengkap. Label kemasan yang belum tercantum diantaranya yaitu komposisi bahan yang digunakan, berat bersih, alamat IRTP, tanggal kadaluwarsa, dan kode produksi. Komposisi bahan seharusnya dicantumkan agar konsumen yakin dengan keamanan bahan yang digunakan.

Kode produksi seharusnya dicantumkan agar pada saat ada keluhan dari konsumen, maka dapat diketahui roti yang mengalami keluhan tersebut diproduksi kapan. Jika tidak ada kode produksi maka akan kesulitan untuk melacaknya sehingga evaluasi juga sulit dilakukan. Tanggal kedaluwarsa sangat penting untuk dicantumkan agar konsumen dapat mengetahui sampai kapan roti tersebut masih dapat dan layak untuk dikonsumsi. Konsumen harus mengecek sendiri secara sensori untuk kadaluwarsa roti manis isi kacang tersebut. Meskipun telah melakukan pendugaan umur simpan dengan cara pengamatan organoleptik, UKM “Syifa Cake and Bakery” tetap perlu untuk

178

melakukan pengujian umur simpan yang dilakukan di laboratorium, sehingga didapatkan umur simpan yang akurat, bukan hanya pendugaan saja. Konsep pelabelan kemasan UKM “Syifa Cake and Bakery” yang baik dapat dilihat pada Gambar 4.59 berikut ini.

Gambar 4.59 Konsep Label UKM “Syifa Cake and Bakery”

(Sumber: dokumentasi kegiatan) K. Pengawasan oleh Penanggung Jawab

1. Evaluasi Berdasarkan Kondisi saat Ini

Suatu proses produksi yang dilakukan di sebuah IRTP, tentunya perlu pengawasan dan tanggung jawab oleh seseorang. Pengawasan dan penanggung jawaban tersebut dilakukan agar seluruh kegiatan yang dilaksanakan secara tertib dan terjamin dengan baik, mulai dari proses pembelian bahan baku, hingga distribusi produk jadi kepada konsumen.

Selain itu, dengan adanya penanggung jawab tersebut juga bertujuan untuk menghindari terjadinya penyimpangan baik dalam pembelian bahan baku maupun selama proses produksi. Penanggung jawab memiliki wewenang untuk menegur apabila terdapat karyawan yang melakukan penyimpangan.

179

Di UKM “Syifa Cake and Bakery”, pengawas dan penanggung jawab dilakukan langsung oleh pemilik UKM. Pemilik UKM “Syifa Cake and Bakery” mengontrol seluruh kegiatan yang ada di UKM mulai dari pembelian bahan baku, penanganan bahan baku, proses produksi, pengemasan, hingga distribusi produk kepada konsumen. Pengawasan bahan baku yang dilakukan diantaranya adalah pemilihan bahan baku pada saat pembelian, sedangkan untuk pengawasan proses produksi dilakukan setiap hari pada saat proses berlangsung. proses produksi dilakukan pemilik sembari melakukan proses produksi bersama karyawan lain. Pemilik UKM pernah mengikuti seminar penyuluhan keamanan pangan yang diselenggarakan oleh dinas kesehatan kabupaten/kota setempat. UKM memiliki sertifikat penyuluhan dan keamanan pangan Nomor: 079/3312/15. Sertifikat tersebut diberikan kepada pemilik sebagai tanda telah mengikuti Penyuluhan Keamanan Pangan (PKP) dalam rangka Pemberian Sertifikat Produksi Pangan Industri Rumah Tangga (SPP-IRT) berdasarkan Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia tentang Pedoman Pemberian Sertifikat Produksi Pangan Industri Rumah Tangga Nomor HK.03.1.23.04.12.2205 tahun 2012.

Walaupun pernah mengikuti pelatihan, akan tetapi masih terdapat beberapa tindakan yang belum sesuai dengan prinsip-prinsip higiene dan sanitasi. Contohnya yaitu pengendalian hama yang masih kurang baik, penanganan sampah juga masih kurang baik ditunjukkan dengan tempat sampah yang diletakkan dekat dengan meja kerja dan tidak dilengkapi dengan penutup.

2. Konsep dan Usulan CPPB

Menurut BPOM (2012), penanggung jawab pada IRTP diperlukan untuk melakukan pengawasan terhadap seluruh tahap proses produksi serta pengendaliannya yang berfungsi untuk menjamin mutu dan keamanan produk yang dihasilkan. Penanggung jawab minimal harus mempunyai pengetahuan tentang prinsip-prinsip dan praktek higiene dan sanitasi pangan serta proses produksi pangan yang sedang ditangani dibuktikan dengan kepemilikan

180

Sertifikat Penyuluhan Keamanan Pangan (Sertifikat PKP). Penanggung jawab seharusnya melakukan pengawasan secara rutin mulai dari pengawasan bahan baku hingga proses, Apabila ditemukan tindakan yang menyimpang maka penanggung jawab seharusnya melakukan tindakan terhadap kejadian tersebut.

Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan di UKM “Syifa Cake and Bakery”, pemilik UKM yang bertugas sebagai penanggung jawab seluruh kegiatan produksi pernah mengikuti sejumlah pelatihan dan telah melakukan pengawasan bahan, proses, serta melakukan tindakan pengendalian dan tindakan koreksi. Walaupun demikian dalam beberapa hal pemilik UKM masih belum melakukan tindakan yag sesuai dengan prinsip higiene dan sanitasi pangan. Sehingga dapat dikatakan bahwa pengawasan oleh penanggung jawab di UKM “Syifa Cake and Bakery” masih kurang sesuai dengan konsep CPPB yang seharusnya. Maka dari itu pemilik UKM perlu melakukan evaluasi serta perbaikan.

Dalam dokumen BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. (Halaman 124-128)