• Tidak ada hasil yang ditemukan

Jaminan Nafkah Anak Setelah Melakukan Perceraian

Dalam dokumen Oleh: Triva Ariva NIM (Halaman 65-0)

BAB IV ANALISIS PRAKTIK PERCERAIAN DI LUAR PENGADILAN

B. Jaminan Nafkah Anak Setelah Melakukan Perceraian

perceraiannya dikarenakan akan menikah lagi, namun saat mengetahui syarat-syaratnya ia menganggap syarat untuk melakukan perceraian terlalu banyak, hingga akhirnya ia mengurungkan niatnya untuk mendaftarkan perceraiannya di Pengadilan Agama.

3. Alasan selanjutnya adalah ekonomi yang rendah. Ibu Nurhidayah, Ibu Zaimah, Ibu Rini, Ibu Zaemah, Ibu Wiwin, Bapak Agus, dan Bapak Nahrowi adalah para pelaku yang memilih bercerai di luar Pengadilan Agama dikarenakan tidak mempunyai biaya jika harus melakukan perceraian di Pengadilan Agama. Bapak Nahrowi berpendapat bahwa selain tidak mempunyai biaya untuk melakukan perceraian, juga merasa bahwa perceraian adalah urusan pribadi yang sifatnya rahasia, jadi tidak perlu di

“umbar.”

4. Tidak ingin repot mengurus perceraian di Pengadilan Agama. Ibu Siti Walijah mengungkapkan jika ia tidak ingin repot mengurus perceraiannya di Pengadilan Agama, menurutnya yang menceraikan lah yang harusnya mengurus ke Pengadilan Agama.

B. Jaminan Nafkah Anak Setelah Melakukan Perceraian Di Luar Pengadilan Agama

Setelah melakukan perceraian maka muncul serangkaian akibat yang harus dilakukan oleh suami ataupun sitri. Salah satu akibat dari perceraian adalah terhadap anak-anak yang dalam hal ini termuat secara tegas dalam Kompilasi Hukum Islam (KHI) Pasal 149 (d) yang menyebutkan:

“memeberikan biaya hadhanah untuk anak-anaknya yang belum mencapai umur 21 tahun.” Lebih lanjut termuat pada pasal 156 (d) yang menyatakan:

“semua biaya hadhanah dan nafkah anak menjadi tanggungan ayah menurut kemampuannya, sekurang-kurangnya sampai anak tersebut dewasa dan dapat

52

mengurus dirinya sendiri (21 tahun).” Maka jelaslah dengan adanya pasal ini sebagai orang tua yang telah melakukan perceraian khususnya seorang ayah harus menafkahi anaknya hingga anak tersebut dewasa.

Berangkat dari hasil wawancara dengan pelaku, jaminan nafkah terhadap anak setelah bercerai di luar Pengadilan Agama dapat dilihat dalam 2 kategori, yaitu:

(a) Anak-anak tetap mendapatkan nafkahnya meskipun orang tuanya bercerai

Dari hasil wawancara yang dilakukan dengan pelaku cerai di luar pengadilan, lima orang dari pelaku yang dalam hal ini suami yakni Bapak Nahrowi, Bapak Agus Riyanto, Suami Ibu Sufiatin, dan Suami Ibu Siti Walijah dan suami Ibu Siti Sarofah tetap memberikan nafkah terhadap anak-anaknya layaknya seorang ayah. Pemberian nafkah dari ayah kepada anak-anak diberikan secara rutin setiap bulannya meskipun hanya sedikit,130 kecuali Suami Ibu Siti Walijah, ia mengatakan suaminya hanya memberikan nafkah untuk anak-anaknya setiap setahun sekali saat hari raya idul fitri.131 Adapun besaran nafkah yang diberikan untuk anak-anak tidak ditentukan nominalnya melainkan berdasarkan kemampuan ekonomi sang ayah. 132 Meskipun perceraiannya dilakukan di luar pengadilan, dengan kata lain tidak mempunyai kekuatan hukum untuk memaksa suami memberikan nafkah kepada anak-anak namun jaminan nafkah untuk anak-anak tetap terealisasi dengan baik.

Tentunya hal ini sejalan dengan Pasal 156 (d) KHI yang menyebutkan: “Semua biaya hadhanah dan nafkah anak menjadi tanggung jawab ayah menurut kemampuannya, sekurang-kurangnya sampai anak tersebut dewasa dan dapat

130 Wawancara dengan Ibu Sufiatin, Pelaku Cerai Di Luar Pengadilan Di Desa Batang Malas, 01 April 2021, 15:00 WIB.

131 Wawancara dengan Ibu Siti Walijah, Pelaku Cerai Di Luar Pengadilan Di Desa Batang Malas, 01 April 2021, 16:09 WIB.

132 Wawancara Dengan Bapak Nahrowi, Pelaku Cerai Di Luar Pengadilan Di Desa Batang Malas, 01 April 2021, 17:05 WIB.

mengurus dirinya sendiri (21 Tahun).” Selain itu Al-Quran al-Baqarah:233 juga sudah menegaskan akan kewajiban nafkah terhadap anak-anak adalah salah satu kewajiban orang tua khususnya ayah dengan kadar kesanggupannya.

Meski hubungan antara suami dan istri tersebut telah putus karena perceraian, akan ttapi anak tetaplah anak, dan tidak ada namanya mantan anak karena hubungan anak dan ayah tidak akan pernah putus hingga waktu yang tak terhitung.

َِفوُر عَم لَاِبَ نُهُتَ َو سِكَ َوَ نُهُق ز ِرَُهَلَِدوِل وَمل اَىَلَعَ َو Artinya:

Dan kewajiban ayah menanggung nafkah dan pakaian mereka dengan cara yang patut. (Q.S al-Baqarah:233)

(b) Anak tidak mendapatkan nafkah setelah orang tuanya bercerai

Dari hasil wawancara dengan pelaku cerai di luar Pengadilan Agama, didapati beberapa dari anak-anak tidak mendapatkan nafkahnya setelah orang tuanya bercerai di luar Pengadilan Agama. Sebanyak empat orang yaitu Suami Ibu Wiwin, Suami Ibu Rini, Suami Ibu Zaimah, dan Suami Ibu Nurhidayah.

Para pelaku menyatakan bahwasannya setelah bercerai dari suaminya di luar pengadilan agama, tidak ada nafkah yang diberikan untuk anak-anak sebagai hak-haknya. Pemberian nafkah untuk anak-anak merupakan suatu keharusan untuk dilakukan bagi orang tua, terutama ayah yang berperan sebagai kepada keluarga. Hadirnya anak memberikan dampak pada hak-hak tertentu seperti hak material misalnya sandang, pangan, dan papan, dan hak inmaterial misalnya perhatian, kasih sayang, interaksi sosial dan bahkan pendidikan. Nafkah terhadap anak merupakan salah satu diantara hak-hak yang harus dipenuhi oleh seorang ayah, dan apabila seorang ayah tidak melaksanakan kewajibannya terhadap seorang anak maka ia telah melanggar perintah Allah. Kewajiban tersebut sebagaimana yang tertulis di dalam Al-Quran Surah al-Baqarah: 233

َُفِ لَكُتَ َلاَ ِفوُر عَم لَاِبَ نُهُتَ َو سِكَ َوَ نُهُق ز ِرَُهَلَِدوِل وَمل اَىَلَعَ َو

َاَهَع سَ ُوَ لاِاَ ٌس فَنَ Artinya:

54

Dan kewajiban ayah menanggung nafkah dan pakaian mereka dengan cara yang patut. Seseorang tidak dibebani lebih dari kesanggupannya. (Q.S al-Baqarah:233)133

Kata di atas dipahami bahwa kalimat فوُر ِِع َِِم ِِلَا ِِِِِب memberikan isyarat kepada seorang ayah yakni yang mempunyai kewajiban menafkahi anak-anaknya dengan ma’ruf. Artinya kualitas dan juga kuantitas nafkah yang diberikan kepada anak-anak sesuai dengan adat/kebiasaan untuk orang yang sederajat dengan anak itu di daerahnya. Ketentuan hukum islam tentang kewajiban ayah untuk mencari nafkah bagi anak-anaknya merupakan bentuk jaminan bagi pihak yang berhak mendapatkan nafkah serta dianggap juga dapat menghindari dampak negatif dari kemungkinan kelalaian pihak yang harusnya tanggung jawabnya. Kewajiban seorang ayah untuk membersarkan seorang anak adalah karena anak tersebut membawa nama sang ayah begitupun nama ayah akan disandang oleh anak. Hak-hak anak yaitu nafkah tetap ada kepada orang tuanya meskipun keduanya telah bercerai karena tidak ada istilah hukum mantan anak.

Berdasarkan hasil penelitian, didapati beberapa alasan yang menyebabkan tidak terlaksananya pemberian nafkah terhadap anak-anak:

a. Suami telah menikah lagi

Penyebab perceraian yang dilakukan pelaku salah satunya adalah karena adanya wanita idaman lain yang hadir dalam rumah tangga tersebut.

Suami pergi merantau untuk mencari pekerjaan dan dalam perjalanan hidupnya di perantauan menenemukan wanita idaman lain lalu menikah lagi sehingga memicu keretakan dalam rumah tangga yang sedang dibina.

Setelah jatuh talak, suami pelaku hanya fokus terhadap keluarga barunya dan memilih melupakan kewajiban terhadap anak yang ditinggalkan. Anak-anak tidak mendapatkan nafkah sebagai hak-haknya baik itu dari segi

133 Kamarusdiana, Ayat-Ayat Al-Quran Tentang Hukum Keluarga, h., 13.

materi maupun non materi dari ayah. Itulah yang dialami oleh Ibu Nurhidayah, suaminya meranau untuk bekerja namun suami Ibu Nurhidayah malah menemukan wanita lain dan menikahinya. Setelah bercerai, suaminya tidak memberikan nafkah kepada anak-anaknya layaknya seorang ayah yang bertanggung jawab. Pelaku hanya bersabar dan tidak menuntut meskipun itu jelas sebagai hak anak-anaknya karena ia merasa masih mampu memenuhi kebutuhan anak-anaknya tanpa bantuan suaminya.134

b. Suami pergi jauh untuk merantau

Setelah bercerai, suami Ibu Zaimah memilih untuk pergi ke jawa untuk merantau mengadu nasib. Namun semenjak perceraiannya terjadi suami Zaimah tidak pernah memberikan nafkah terhadap anaknya, bahkan menanyakan kabar saja tidak ada. Akibatnya Ibu Zaimah menanggung sendiri beban untuk menafkahi anaknya. 135

c. Suami tidak bertanggung jawab sejak awal

Semenjak menikah, suami Ibu Wiwin kurang bertanggung jawab terhadap keluarga. Sehingga membuat Ibu Wiwin merasa marah terhadap sikap suaminya. Seorang suami adalah seorang kepala keluarga yang harusnya melindungi dan menafkahi istri dan anak-anaknya. Akan tetapi dalam hal ini suami Ibu Wiwin adalah contoh seorang suami yang kurang tanggung jawab terhadap keluarga khususnya dalam hal nafkah untuk anak-anak, hal inilah yang memicu perceraian diantara keduanya.

Kewajiban ayah memberikan nafkah berdasarkan kemapuan merupakan kewajiban bagi orang tua terutama seorang ayah yang memiliki tanggung jawab terhadap anak-anaknya sekurang-kurangnya sampai anak tersebut dewasa dan

134 Wawancara Ibu Nurhidayah, Pelaku Cerai Di Luar Pengadilan Di Desa Batang Malas, 1 April 2021, 16:020 WIB.

135 Wawancara Ibu Zaimah, Pelaku Cerai Di Luar Pengadilan Di Desa Batang Malas, 1 April 2021, 15:48 WIB.

56

dapat mengurus dirinya sendiri.136 Jika implementasi pemberian hak anak-anak usai perceraian tidak terlaksana dengan baik sehingga pihak yang harus dinafkahi menjadi terlantar, akibatnya tidak sedikit anak-anak yang terlantar tanpa nafkah dari seorang ayah. Maka dari itu, suami dan istri yang akan bercerai sebaiknya melakukan perceraiannya sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan oleh pemerintah yakni di depan sidang pengadilan. selain mempunyai kekuatan hukum yang pasti, implementasi hak-hak yang seharusnya didapatkan anak-anak akan sejalan dengan putusan hakim dan perundang-undangan.

C. Respon Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) Setempat Terhadap Perceraian Di Luar Pengadilan Agama

Kepala KUA Kecamatan Tebing Tinggi Barat menyatakan bahwa fenomena yang terjadi di Desa Batang Malas yakni perceraian di luar Pengadilan Agama dipandang sah secara agama. Menurutnya: “talak yang dijatuhkan diluar pengadilan hukumnya sudah jatuh, hal ini berdasarkan dalil Nabi yang berbunyi: ada 3 perkara yang sungguh-sungguhnya menjadi sungguh-sungguh dan senda guraunya menjadi sungguh-sungguh yaitu nikah talak dan rujuk. Namun karena kita di negara hukum talak yang dijatuhkan di luar pengadilan dipandang tidak jatuh talaknya, karena bertentangan dengan pasal 39 (1) undang-undang nomor 1 tahun 1974 tentang perkawinan dan pasal 115 kompilasi hukum islam. Keduanya menegaskan talak itu hanya sah jika dilakukan di sidang pengadilan agama setelah pengadilan yang bersangkutan berusaha dan tidak berhasil mendamaikan kedua belah pihak.”137

Lebih lanjut dijelaskan “memang ya kalau dalam fiqh klasik talak itu kan hak mutlak suami, suami bebas melakukan talak dimana saja. Namun

136 Kompilasi Hukum Islam, Pasal 156 (d).

137 Wawancara Dengan Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) Bapak Amat Mukhlas, 30 September 2021, 10:05 WIB

praktik yang seperti inilah yang malah banyak menimbulkan masalah kedepannya dan bahkan lebih banyak merugikan kaum perempuan.

Legalitasnya tidak ada, bahkan jika secara undang-undang orang yang melakukan perceraian di luar Pengadilan Agama itu masih dalam ikatan perkawinan yang sah. Sebab tak ada bukti yang konkrit bahwa pasangan tersebut sudah bercerai. Kalau sudah seperti ini akan susah nantinya untuk menikah lagi di KUA ya karena tidak ada bukti kalau pasangannya ini telah berstatus janda/duda. Oleh karena itu, lebih baik melakukan perceraiannya di proses oleh pengadilan agama supaya lebih terjamin kepastiannya, dan menghindari adanya korban dari praktik perceraian di luar Pengadilan Agama.”

Dari paparan diatas, maka peneliti menyimpulkan bahwa respon kepala KUA terhadap perceraian yang terjadi di luar Pengadilan Agama yang dilakukan oleh masyarakat Desa Batang Malas yaitu:

Perceraian yang dilakukan tanpa proses sidang Pengadilan Agama hanya dianggap sah secara hukum agama saja karena berdasarkan dalil yang dikemukakan oleh Nabi yang berbunyi ada 3 perkara yang sungguhnya menjadi sungguh dan senda guraunya menjadi sungguh-sungguh yaitu nikah talak dan rujuk.

Selain itu, kepala KUA juga menegaskan bahwa jika dilihat secara undang-undang yang berlaku di Indonesia perceraian yang terjadi di luar Pengadilan Agama maka tidak sah disebabkan tidak sesuai dengan ketetapan yang ada, dan bahkan bertentangan dengan undang-undang.

Menurutnya, perceraian di luar Pengadilan Agama hanya akan menimbulkan lebih banyak masalah-masalah bagi pasangan yang melakukan perceraian di luar Pengadilan Agama terutama perempuan yang menjadi korban prkatik perceraian di luar Pengadilan Agama. Seperti tidak mempunyai legalitas yang pasti, pasangan yang bercerai di luar pengadilan tidak bisa membuktikan perceraiannya, dan bahkan nantinya akan kesulitan saat hendak

58

melangsungkan perkawinannya secara undang-undang. Ia menegaskan sebagai warga negara yang baik hendaknya mematuhi aturan yang telah dibuat oleh pemerintah. Berdasarkan al-Quran Surah An-Nisa’:59 yang menyebutkan selain kita harus taat terhadap Allah dan Rasul-Nya, kitapun harus taat terhadap para pemimpin. Maka dalam perkara perceraian, pemimpin negara telah memberikan kepercayaan kepada instansi yakni Pengadilan Agama yang berhak menyelesaikan perkara perceraian khususnya bagi orang yang beragama Islam dengan mengikuti aturan-aturan yang tercantum di dalam perundang-undangan.

D. Analisis Penulis

Di negara indonesia ini sangat jelas bahwa perkara perceraian merupakan perkara yang kewenangannya di pegang oleh Pengadilan, baik itu Pengadilan Negeri maupun Pengadilan Agama. Perceraian hanya sah jika dilakukan di depan sidang Pengadilan Agama khususnya bagi masyarakat yang beragama Islam. Hal ini ditunjukan pada Kompilasi Hukum Islam Pasal 117 yang menyatakan: perceraian hanya dapat dilakukan di depan sidang Pengadilan Agama setelah Pengadilan tersebut berusaha dan tidak berhasil mendamaikan kedua belah pihak.

Akan tetapi, tidak selamanya suatu peraturan selalu ditaati oleh masyarakatnya, sebagaimana yang dilakukan beberapa masyarakat Desa Batang Malas. Meskipun pada dasarnya sebagian besar pelaku sudah mengetahui mengenai peraturan perceraian. Hal ini berdasarkan wawancara yang dilakukan dengan pelaku yang melakukan perceraian di luar Pengadilan Agama,

Dalam hal ini, di dapati beberapa faktor-faktor yang melatarbelakangi masyarakat Desa Batang Malas melakukan lebih memilih bercerai di luar Pengadilan Agama, salah satu faktornya adalah ekonomi yang rendah yang menjadi penyebab perceraian di luar Pengadilan Agama. Meskipun tidak ada sanksi pidana secara langsung bagi para pelaku, namun dampak negatif yang

ditimbulkan dapat dirasakan oleh pelaku. Status percerainnya yang tidak jelas karena tidak mempunyai bukti yang mempunyai kekuatan hukum mengikat, menyebabkan pelaku tidak bisa menikah lagi di KUA, karena jika dilihat dari undang-undang yang berlaku di indonesia pelaku masih dalam ikatan perkawinan yang sah meskipun sudah melakukan perceraian di luar Pengadilan Agama.

Dampak negatif perceraian di luar Pengadilan Agama yang dilakukan masyarakat Desa Batang Malas tidak hanya berdampak kepada suami dan istri saja, namun juga terhadap anak-anak. Akibatnya anak tidak mendapatkan nafkahnya karena tidak ada putusan yang mempunyai kekuatan hukum sehingga tidak dapat memaksa ayah untuk memberikan nafkahnya baik dari segi waktunya maupun jumlah materi yang diberikan.

Pada dasarnya, Aristoteles sudah menawarkan konsep keadilan sebagai bentuk persamaan. Berdasarkan prinsip persamaan ini maka setiap orang pada dasarnya memiliki hak dan kewajiban yang sama. Dalam soal perkawinan kedudukan antara suami dan istri sebenarnya seimbang sebagaimana yang termuat dalam undang-undang perkawinan yang telah mengatur secara jelas adanya persamaan kedudukan antara suami dan istri. Namun demikian penyebutan peran suami dan istri berbeda, suami sebagai kepala keluarga sehingga berkewajiban memberikan nafkah, pakaian, dan rumah serta melindungi istri dan memberikan segala sesuatu keperluan hidup berumah tangga sesuai dengan kemampuan suami. Adapun peran suami sebagai seorang ayah untuk anak-anaknya selain terlibat dalam pertumbuhan dan perkembangan anak, seorang ayah juga merupakan penyedia kebutuhan baik dari segi sandang pangan dan papan untuk anak-anaknya.

Jika dikaitkan dengan teori keadilan Aristoteles, terhadap perceraian yang dilakukan di luar pengadilan masyarakat Desa Batang Malas dimana anak-anak tidak mendapatkan jaminan hak-haknya terpenuhi maka dalam hal ini seorang suami sebagai ayah dari anak-anaknya telah melanggar kewajibannya

60

yang berperan sebagai ayah terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak-anaknya. Anak-anak yang seharusnya di pandang sama yaitu sebagai bagian dari keluarga, maka ini dirasa tidak adil karena pada dasarnya hubungan seorang ayah dan anak tidak pernah putus. Dalam pandangan aristoteles keadilan sebagai sebuah kebajikan utama karena membawa manfaat terhadap orang lain, maka seharusnya kewajiban seorang ayah meskipun telah bercerai bisa memberikan manfaat bagi anak-anaknya, bukan malah melupakan darah dagingnya sendiri.

Dengan mempertimbangkan teori keadilan yang diungkapkan oleh Thomas Aquinas yang menitik beratkan pada pemenuhan hak dan kewajiban kepada pihak lain. Maka dalam konsep hubungan ayah dan anak, seorang ayah wajib memenuhi kewajibannya terhadap anaknya meskipun telah bercerai, karena kewajiban yang tunaikan oleh ayah merupakan hak yang harus didapatkan oleh seorang anak. Meskipun kewajiban menafkahi anak adalah tugas orang tua yaitu Ayah dan Ibu, namun jika hanya salah satu pihak saja yang menunaikan kewajiban tersebut maka terlihat jelas ketidakadilan yang dialami oleh seorang istri. Menurut padangan Thomas Aquinas, salah satu dari kewajiban adalah hidup sesuai dengan moralitas karena moralitas adalah kewajiban yang harus dilaksanakan sehingga hubungan ayah dan anak adalah kewajiban kepada anak dan kepada Tuhan.

Adapun terhadap budaya hukum yang ada di Desa Batang Malas, jika dilihat lagi masyarakat Desa Batang Malas pada dasarnya mempunyai sistem hukum yang tersusun, seperti adanya penegak hukum yang menjalankan kewajibannya di desa tersebut, substansi perundang-undangan yang jelas, dan memiliki budaya hukum yang terbilang cukup baik sebagaimana yang ungkapkan oleh teori sistem hukum Lawrence M. Friedman. Masyarakat Desa Batang Malas tertib terhadap aturan-aturan yang ada dalam artian taat terhadap hukum baik itu hukum islam maupun hukum positif yang berlaku di Indonesia.

Hal ini dibuktikan dengan terlaksananya pencatatan perkawinan bagi pihak

yang akan melangsungkan perkawinan, dan perceraian yang didaftarkan di kepaniteraan Pengadilan Agama sejalan dengan yang termuat dalam perundang-undangan.138 Adapun mengenai pihak-pihak yang memilih bercerai di luar Pengadilan Agama dikarenakan faktor ekonomi yang rendah serta kesadaran hukum yang kurang. Salah satu faktor bagi penegakan hukum yang efektif adalah kesadaran masyarakat akan hukum yang ada. Semakin tinggi kesadaran masyarakat terhadap hukum maka akan terbentuk budaya hukum yang baik pula serta dapat mengubah pola pikir masyarakat.

Soerjono Soekanto mengatakan bahwa masalah yang berpengaruh terhadap efektivitas hukum tertulis dilihat dari segi aparat karena tergantung pada hal-hal berikut:139

a. Sampai sejauh mana petugas terikat oleh peraturan yang ada.

b. Sampai batas mana petugas diperkenankan memberikan kebijaksanaan.

c. Teladan yang seperti apa yang sebaiknya diberikan kepada masyarakat dari petugas.

d. Sampai sejauh mana derajat sinkronisasi penugasan yang diberikan kepada petugas sehingga memberikan batas yang tegas pada wewenangnya.

Soerjono Soekanto menyatakan bahwa jika para penegak hukum tidak menjalankan tugasnya dengan baik maka peraturan yang dibuat tidak ada artinya dalam praktik. Namun sebaliknya jika petugas hukum menjalankan tugasnya dengan baik meskipun hukum yang dibuat tidak sempurna, maka hukum tersebut akan terlaksana dengan baik pula. Dalam hal ini, para penegak hukum yang ada di Desa Batang Malas sudah menjalankan tugas dan kewajibannya dengan semaksimal mungkin, sehingga masyarakatnya taat terhadap hukum yang berlaku.

138 Wawancara dengan Mas Sapto, Pegawai Di Kantor Desa Batang Malas, 25 Maret 2020, 09:35 WIB.

139 Soerjono Soekanto, Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Penegakan Hukum, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2008), h., 82

62 BAB V PENUTUP A. Simpulan

Dari hasil penelitian yang telah dipaparkan sebelumnya, maka dapat diambil simpulan sebagai berikut:

1. Pada tahun 2019 hingga Maret 2021 beberapa warga muslim di Desa Batang Malas lebih memilih untuk bercerai di luar proses Pengadilan Agama karena beberapa alasan, yaitu karena tidak mengerti harus melalui proses Pengadilan Agama, syarat dari Pengadilan Agama yang banyak, ekonomi yang rendah, serta tidak ingin repot untuk mengurus ke pengadilan Agama. Adapun untuk pelaksanaan perceraian di luar pengadilan pada masyarakat Desa Batang Malas dilakukan dengan beberapa cara yakni sebagai berikut:

Pertama, bercerai disaksikan Imam Masjid dan RT. Pelaku menghadirkan Imam Masjid dan Rukun Tetangga (RT) ke rumah sebagai saksi dari perceraiannya. Pelaku menganggap perceraiannya sudah sah bila disaksikan oleh Imam Masjid dan RT dan jika ingin perceraiannya tercatat secara negara maka suamilah yang mengurus perceraiannya ke Pengadilan Agama.

Kedua, bercerai disaksikan keluarga dan saudara. Permasalahan yang diselesaikan secara kekeluargaan sudah menjadi adat di Desa Batang Malas, begitu pula dengan perkara perceraian. Beberapa pelaku menceraikan istrinya dengan disaksikan keluarga dan saudara-saudara saja dan tidak diurus ke pengadilan.

Ketiga, bercerai disaksikan teman. Pelaku mengungkapkan bahwasannya saat itu perceraianya hanya di saksikan oleh teman satu sel suaminya nya.

Pelaku belum mengurus ke Pengadilan Agama lantaran ekonominya yang rendah.

Keempat, bercerai tanpa disaksikan. pelaku cerai di luar Pengadilan Agama mengungkapkan bahwasannya perceraiannya tidak disaksikan oleh siapapun. Pelaku sudah pernah datang ke Pengadilan Agama namun mengetahui syaratnya yang terlalu banyak, ia enggan mengurusnya kembali, dan merasa bahwa perceraian hal yang bersifat rahasia.

2. Adapun jamina nafkah anak setelah orang tuanya bercerai di luar

2. Adapun jamina nafkah anak setelah orang tuanya bercerai di luar

Dalam dokumen Oleh: Triva Ariva NIM (Halaman 65-0)

Dokumen terkait