• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sistematika Penulisan

Dalam dokumen Oleh: Triva Ariva NIM (Halaman 28-0)

BAB I PENDAHULUAN

H. Metode Penelitian

I. Sistematika Penulisan

Agar penulisan ini lebih terarah dan sistematis dan agar tidak terjadi penyimpangan, maka penulisan ini di atur dalam 5 bab yang setiap babnya mempunyai beberapa sub bab.

Bab pertama merupakan pendahuluan yang berisi hal-hal yang sifatnya mengatur bentuk dan isi skripsi, mulai dari latar belakang masalah, identifikasi masalah, pembatasan masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, kajian terdahulu, metode penelitian dengan sub pembahasan terdiri dari jenis penelitian, pendekatan penelitian, sumber data, teknik pengumpulan data, teknik analisis data, dan sistematika penulisan.

Bab kedua adalah pembahasan terkait perceraian dalam kajian normatif. Dalam bab ini menguraikan kerangka konseptual dan kerangka teori. Adapun kerangka konseptual terdiri dari sub pembahasan pengertian, dalil dan rukun perceraian, hukum perceraian, macam-macam perceraian, dan akibat hukum perceraian.

Sedangkan kerangka teori memuat sub pembahasan teori keadilan dan teori efektivitas hukum.

Bab ketiga membahas tentang perceraian di luar Pengadilan Agama di Desa Batang Malas yang memuat tentang sejarah Desa Batang Malas dengan sub pembahasan letak geografis, dan kondisi sosiologis yang membahas pendidikan, agama, ekonomi, dan rutinitas masyarakat Desa Batang Malas. Lalu dilanjut dengan membahas fenomena perceraian di luar Pengadilan Agama di Desa Batang Malas.

Bab keempat di dalam bab ini menguraikan analisis perceraian di luar Pengadilan Agama masyarakat Desa Batang Malas yang terbagi dalamiga sub pembahasan yaitu pelaksanaan perceraian di luar Pengadilan Agama oleh masyarakat Desa Batang Malas, jaminan nafkah anak setelah melakukan perceraian di luar Pengadilan Agama, dan respon Kantor Urusan Agama (KUA) setempat terhadap perceraian yang terjadi di luar Pengadilan Agama.

Bab kelima bab ini merupakan bab terakhir penulisan yang berisikan penutup meliputi simpulan serta saran-saran.

16 BAB II

PERCERAIAN DALAM KAJIAN NORMATIF A. Kerangka Konseptual

1. Pengertian, Dalil, dan Rukun Perceraian

Perceraian dalam bahasa Indonesia berarti “pisah” berasal dari kata “cerai”.44 Menurut istilah perceraian merupakan sebutan untuk melepaskan ikatan pernikahan. Menurut Subekti perceraian adalah penghapusan perkawinan dengan putusan hakim atau tuntutan salah satu pihak dalam sebuah perkawinan.45 Dalam fiqh perceraian dikenal dengan istilah “Thalaq” atau

“Furqah.” Thalaq berasal dari kata Al-Ithlaq yang secara bahasa artinya lepasnya ikatan dan pembebasan. Adapun menurut syariat talak ialah lepasnya ikatan pernikahan dengan lafaz thalaq dan yang sejenisnya.46 Sedangkan furqah yakni bercerai yang merupakan lawan kata dari berkumpul. Sedangkan menurut istilah, beberapa definisi mengenai talak yang dikemukakan oleh para ahli fiqh, diantaranya:

“Thalaq ialah lepasnya ikatan dan berakhirnya hubungan perkawinan atau hubungan suami istri.”47

Abdu Ar-Rahman Al-Jaziri mengemukakan istilah talak dengan:48

َِإ

44 Khoirul Abror, Hukum Perkawinan dan Perceraian, (Yogyakarta: Ladang Kata, 2020), h., 161.

45 Soebekti, Pokok-pokok Hukum Perdata,.. h., 42.

46 Wahbah Zuhaili, Fiqh Islam Wa Adillatuhu, (T.tp.: Daar al-Fikr, t.th.), h., 318.

47 Sayyid Sabiq, Fiqh Sunnah, (Beirut: Dar Al-Kitab Al-Arabi, 1973, cet. Ke-2), Jilid 2, h., 241.

48 ‘Abdu ar-Rahman al-Jaziri, Kitabu al-Fiqh ‘ala al-Mazahib al-Arba’ah Juz IV, Penerjemah Yusuf Sinaga, dkk, (Johor Baru: Perniagaan Jahabersa, 2011, Cet. Pertama), h., 216.

“Hilangnya ikatan perkawinan atau berkurangnya kehalalan perkawinan dengan lafaz khusus, atau menghilangkan perkawinan seluruhnya atau sebagiannya.”

Ulama Syafi’yah menjelaskan talak dengan pernyataan:49

ََح

“Melepaskan ikatan perkawinan dengan lafaz thalaq dan sejenisnya.”

Dari beberapa pengertian di atas, dapat ditarik simpulan bahwa talak merupakan lepasnya atau hilangnya sebuah ikatan perkawinan dalam rumah tangga dengan lafaz talak atau yang semakna dengan itu. Adapun maksud dari mengurangi pelepasan yaitu berkurangnya bilangan talak yang menjadi hak suami dari semula berjumlah 3 talak menjadi 2 talak. Sedangkan menghilangkan yaitu hilangnya hubungan ikatan perkawinan serta kehalalan antara suami dan istri. Secara umum, masyarakat memahami talak sebagai sebuah perceraian atau perpisahan yang terjadi anatar suami dan istri, sehingga sudah menjadi bahasa sehari-hari bilamana seseorang menyebutkan talak berarti perceraian.50

Adapun dalil tentang diperbolehkannya perceraian adalah berikut:

َُت قَلَطََذِإَ يِب نلاَاَه يَآَي ... مُك ب َرََهللاَا وُق تلاَوََة دِع لاَا وُص حََأَوَ نِهِتَ دِعِلَ نُهَوُقِ لَطَفََءآَسِ نلاَُم

Hai Nabi, Apabila kamu menceraikan istri-istrimu hendaklah kamu ceraikan mereka pada waktu mereka dapat (menghadapi) iddahnya (yang wajar) dan hitunglah waktu iddah itu serta bertaqwalah kepada Allah

Tuhanmu... (QS. at-Thalaq [65]:1)51

49 Saiful Millah dan Asep Saepudin Jahar, Dualisme Hukum Perkawinan Islam di Indonesia, h., 150

50 R.M Dahlan, Fikih Munakahat, (Yogyakarta: Deepublish, 2015), h., 112.

51 Kamarusdiana, Ayat-Ayat Al-Quran Tentang Hukum keluarga, h., 27.

52 Nurhayati dan Ali Imran Sinaga, Fiqh dan Ushul Fiqh, (Jakarta: Prenada Media Group, 2018), h., 137.

18

Dari ‘Umar bahwa Rasulullah SAW bersabda: perbuatan hahal yang sangat dibenci oleh Allah ‘Azza wajalla ialah talak. (HR Sunan Abu Dawud, Kitab at-Thalaq No. 1863)

Untuk terjadinya perceraian, diperlukan rukun. Rukun talak merupakan unsur-unsur pokok yang harus ada dalam perceraian serta terjadinya perceraian tergantung pada lengkapnya unsur-unsur yang dimaksud. Masing-masing rukun harus memenuhi syarat tertentu. Beberapa rukun dan syarat talak yang telah disepakati, yaitu:53

1. Suami, adapun syarat seorang suami agar bisa menjatuhkan talak haruslah seseorang yang telah dewasa, sehat akalnya, serta sadar dan atas kehendaknya sendiri untuk menjatuhkan talak.

2. Istri, perempuan yang akan ditalak masih berada di bawah kekuasaan suami yang akan mentalaknya. Seseorang yang menjatuhkan talak kepada wanita yang belum menjadi istrinya adalah tidak sah, sekalipun pada akhirnya wanita tersebut menjadi istrinya. Hal ini berdasarkan pada Hadist Nabi:

َ:لاقَملسوَهيلعَهللاَىلصَيبنلاَنعَبلَاطَيبأَنبَيلعَنع

Dari Ali b. Abi Thalib, dari Nabi saw bahwasannya beliau bersabda:

tidak ada talak sebelum ada pernikahan. (HR Bukhori Ibnu Majah dan Abu Daud)54

3. Sighat, lafadz yang dipahami sebagai ucapan yang mengandung makna talak (perceraian) baik lafadz tersebut diucapkan dalam bentuk sharih (jelas) ataupun kinayah (sindiran).

4. Saksi, ulama Syi’ah Imamiyah menambahkan keharusan adanya seorang saksi sebagai rukun untuk terjadinya perceraian. Saksi harus hadir dan menyaksikan saat suami mengucapkan talak kepada istrinya. Apabila talaknya tidak dihadiri oleh seorang saksi, maka talak tersebut dinyatakan

53 Amir Syarifuddin, Hukum Perkawinan Islam di Indonesia, h., 202-214.

54 Abu Abdullah Muhammad bin Yazid al-Qazwini, Sunan Ibnu Majah, (Beirut: Dar al-Fikr, 824-827 M), Nomor 2048, h., 353.

belum terlaksana. Adapun saksi disyaratkan harus 2 orang, keduanya adalah laki-laki tidak boleh perempuan maupun campuran, dan saksi tersebut harus adil.55

2. Hukum Perceraian

Adapun hukum melakukan percraian menurut pendapat yang paling shahih (mazhab Hanafi dan Hambali) hukum talak itu dilarang (makruh) kecuali dalam keadaan darurat.56 Sedangkan menurut Jumhur ulama bahwasannya talak diperbolehkan namun sebaiknya tidak dilakukan karena mengandung pemutus rasa dekat kecuali karena ada sebab.57 Akan tetapi dalam keadaan-keadaan tertentu, hukum talak dapat berubah diantaranya sebagai berikut:

1. Wajib, hukum talak menjadi wajib apabila terjadi syiqaq yatu perselisihan suami istri yang terjadi secara terus menerus dan keduanya tidak mungkin untuk rukun kembali, dan kedua pihak memandang perceraian merupakan jalan terbaik untuk mengakhiri persengketaan yang terjadi. Termasuk talak wajib adalah talak dari orang yang melakukan ila’ terhadap istrinya setelah lewat 4 bulan.58

2. Haram, hukum talak menjadi haram ketika dijatuhkan dengan tanpa disertai alasan yang jelas. Talak ini diharamkan karena tidak merugikan salah satu pihak yaitu suami atau istri, serta tidak ada kemaslahatan yang ingin dicapai antara suami dan istri.59

3. Mubah, talak diperbolehkan ketika suami mempunyai alasan untuk mentalak istrinya.60

55 Amir Syarifuddin, Hukum Perkawinan Islam di Indonesia, h., 214.

56 Mardani, Hukum Keluarga Islam di Indonesia, (Jakarta: Prenamedia Group, 2016), h., 146.

57 Wahbah Zuhaili, Fiqh Islam Wa Adillatuhu, h., 323.

58 Tihami dan Sohari Sahrani, Fikih Munakahat: Kajian Fikih Nikah Lengkap, h., 249-250.

59 Sayyid Sabiq, Fiqh Sunnah, h., 5.

60 R.M Dahlan, Fiqh Munakahat, h., 119.

20

4. Sunnah, yaitu apabila istrinya tidak taat terhadap hukum Allah seperti meninggalkan sholat, sementara suami tidak mampu memaksanya.61 5. Makruh, hukum asal dari talak.62

3. Macam-macam Perceraian

Adapun macam-macam perceraian dapat dijabarkan berdasarkan beberapa kategori diantaranya:63

1. Perceraian dilihat dari segi waktu jatuhnya talak:

a. Talak sunny, yaitu talak yang dijatuhkan oleh suami terhadap istrinya sesuai dengan ajaran Sunnah Nabi, dalam KHI pasal 121 juga disebutkan bahwa talak sunni adalah talak yang dibolehkan yaitu talak yang dijatuhkan terhadap istri yang sedang suci dan tidak dicampuri dalam waktu suci tersebut.

b. Talak bid’i, yakni talak yang tidak sesuai dengan ketentuan agama.

Contohnya suami mentalak istri dalam waktu haid atau nifas atau di waktu suci sesudah ia setubuhi.64 Pasal 122 KHI menyebutkan talak bid’i adalah talak yang dilarang.

c. Talak la sunny wa la bid’i, yang termasuk dalam talak ini yaitu:65 (1) Talak yang dijatuhkan terhadap istri yang belum pernah

disetubuhi.

(2) Talak yang dijatuhkan terhadap istri yang belum pernah haid atau istri yang telah menopause.

(3) Talak yang dijatuhkan terhadap istri yang sedang hamil.

2. Perceraian dilihat dari segi lafaz yang digunakan suami untuk menjatuhkan talak kepada istrinya. Terbagi menjadi 2 yaitu:

61 Ilfah Muzammil, Fiqh Munakahat Hukum Pernikahan Dalan Islam, h., 131.

62 Amir Syarifuddin, Hukum Perkawinan Islam di Indonesia, h., 201.

63 R.M Dahlan, Fiqh Munakahat, h., 112-117.

64 Nurhayati dan Ali Imran Sinaga, Fiqh dan Ushul Fiqh, h., 140.

65 Khoirul Abror, Hukum Perkawinan dan Perceraian, h., 189.

a. Talak sharih (jelas), yaitu talak yang apabila seorang suami menjatuhkan talak terhadap istrinya dengan menggunakan kata-kata at-thalaq, al-firaq, atau as-sara. Ketiga kata ini adalah jelas artinya yakni menceraikan istri, dengan menggunakan kata-kata tersebut meskipun tidak diiringi dengan niat maka jatuh talaknya secara hukum.66

b. Talak kinayah (sindiran), yaitu talak yang dilakukan oleh suami terhadap istri dengan menggunakan kata-kata selain kata-kata pada lafaz sharih. Jika seorang suami mentalak istri dengan menggunakan lafaz kinayah maka jatuh talaknya apabila disertai dengan niat. Imam Malik dan Imam Syafi’i berpendapat bahwasannya bilamana seorang suami menjatuhkan talak secara kinayah terhadap istrinya tanpa maksud untuk mentalak maka talaknya tidak jatuh. Hal ini dikarenakan lafaz kinayah mempunyai makna ganda dan yang dapat menjelaskan makna dari lafaz kinayah itu sendiri adalah niat dan tujuan orang yang mengucapkannya.67 3. Perceraian ditinjau dari segi susunan kata (sighat) yang digunakan

untuk mentalak, terbagi menjadi 2 yaitu:

a. Talak tanjiz yaitu talak yang dijatuhkan suami dengan menggunakan ucapan langsung tanpa dikaitkan pada waktu baik menggunakan ucapan sharih atau kinayah, 68 seperti suami mengucapkan kepada istrinya: “sekarang engkau aku talak!”69 b. Talak ta’liq, yakni talak yang dijatuhkan suami dengan

menggunakan ucapan yang pelaksanaannya digantungkan pada

66 Khoirul Abror, Hukum Perkawinan dan Perceraian, h., 190.

67 Sayyid Sabiq, Fiqh Sunnah, h., 20.

68 Amir Syarifuddin, Hukum Perkawinan Islam di Indonesia, (Jakarta: Prenada Media, 2007), h., 225.

69 Sayyid Sabiq, Fiqh Sunnah, h., 29.

22

suatu waktu atau syarat tertentu. 70 Baik bentuk ucapan talaknya sharih ataupun kinayah

seperti ucapan “bila ayahmu pulang dari luar negeri engkau saya talak.” Talak dalam bentuk ini baru terlaksana secara efektif setelah syarat yang digantungkan itu terjadi.71

4. Perceraian dilihat dari segi hak bekas suami atas bekas istrinya setelah suami menjatuhkan talaknya. Ada 2 macam:

a. Talak raj’i, yakni talak yang dijatuhkan suami terhadap istrinya yang memungkinkan mereka berdua untuk kembali bersama (rujuk) sebagai suami istri.72 Allah memperbolehkan talak hanya sampai dua kali agar laki- laki tidak leluasa menceraikan istrinya apabila terjadi perselisihan.73Talak satu dan talak dua masih memungkinkan untuk melakukan rujuk, dalam arti apabila suami sudah mentalak istrinya sampai dua kali, maka ia masih diperbolehkan untuk menjadi suami dari perempuan yang sudah ditalaknya melalui proses rujuk.74 Dasar hukum dari talak raj’i ini adalah Al-Quran Surah Al-Baqarah: 229

ََت رَمَُقََلاَطلَا

ََ نَس حَِإِبٌَحي ِر سَتَ وََأَ فَوُر عَمِبٌَكَاَس مَِإَفَِنَا

Talak (yang dapat dirujuki) dua kali. Setelah itu boleh rujuk lagi dengan cara yang ma’ruf atau menceraikannnya dengan cara yang baik. (Q.S Al-Baqarah:229)75

70 Sayyid Sabiq, Fiqh Sunnah, h., 30.

71 Amir Syarifuddin, Hukum Perkawinan Islam di Indonesia, h., 225.

72 Nurhayati dan Ali Imran Sinaga, Fiqh dan Ushul Fiqh, h., 141.

73 Sudarto, Fiqh Munakahat, (Yogyakarta: Deepublish, 2021), h., 107.

74 Sudirman, Pisah Demi Sakinah Kajian Kasus Mediasi Perceraian Di Pengadilan Agama, (Jember: Buku Pustaka Radja, 2018), h., 11.

75 Kamarusdiana, Ayat-Ayat Al-Quran Tentang Hukum Keluarga, h., 25.

b. Talak ba’in, adalah talak yang tidak memungkinkan suami kembali kepada istrinya, kecuali dengan dengan melakukan akad nikah baru.

76 Talak ba’in terbagi menjadi 2 yaitu:

(1) Talak ba’in sughra, yakni talak yang menyebabkan hilangnya hak bekas suami untuk rujuk kepada bekas istrinya tetapi ia dapat menikah kembali dengan akad yang baru tanpa melalui muhallil.77 Adapun yang termasuk dalam kategori talak ba’in sughra adalah:78

a. talak yang dijatuhkan oleh suami terhadap istri yang antara keduanya belum pernah terjadi dukhul (bersetubuh).

b. talak yang dilakukan dengan cara tebusan atau khulu’.

c. talak yang dijatuhkan oleh Pengadilan Agama.79

(2) Talak ba’in kubra, yakni talak yang mengakibatkan hilangnya hak rujuk kepada bekas istri, walaupun kedua bekas suami istri ingin melakukannya baik di waktu iddah atau sesudahnya.80 Hal ini berdasakan pada Al-Quran Surah Al-Baqarah:233. Adapun yang termasuk dalam kategori talak ba’in kubra yaitu talak yang ketiga dari talak-talak yang telah dijatuhkan oleh suami kepada istrinya.81

5. Perceraian dilihat dari segi siapa yang berkehendak untuk melakukan perceraian, ada 3 macam yaitu:82

a. Talak, yakni perceraian yang terjadi atas kehendak suami dengan menggunakan lafaz talak atau yang semakna dengan itu kepada istrinya.

76 Ansari, Hukum Keluarga Islam Di Indonesia, (Yogyakarta: Deepublish, 2020), h., 149

77 Amir Syarifuddin, Hukum Perkawinan Islam di Indonesia, h., 221.

78 Sudarto, Fiqh Munakahat, h., 108.

79 Amir Syarifuddin, Hukum Perkawinan Islam di Indonesia, h., 222.

80 Tihami dan Sohari Sahrani, Fikih Munakahat: Kajian Fikih Nikah Lengkap, h., 246.

81 R.M Dahlan, Fikih Munakahat, h., 116.

82 R.M Dahlan, Fikih Munakahat, h., 117.

24

b. Khulu’, yakni perceraian yang terjadi atas kehendak istri dengan membayar ‘iwadh atau tebusan kepada suami.

c. Fasakh, yakni perceraian atas kehendak suami atau istri atau pengadilan karena adanya hal-hal yang dianggap berat, seperti suami dan istri diketahui masih saudara kandung, atau salah satu pihak murtad.

6. Perceraian ditinjau dari segi suami menyampaikan lafaz talak kepada istrinya, terbagi dalam beberapa macam diantaranya:

a. Talak dengan ucapan, yakni talak yang diucapkan langsung oleh suami terhadap istri dan istri mendengar secara langsung lafaz yang diucapkan suami. 83

b. Talak dengan surat, diperbolehkan menjatuhkan talak dengan surat atau tulisan meskipun yang bersangkutan dapat berbicara. Ulama fiqh memberikan dua syarat utama keabsahan talak dengan tulisan.

Pertama harus jelas dan dapat dibaca. Kedua mengandung tujuan yang jelas. Contohnya menulis “Wahai Siti, engkau saya talak.”84 c. Talak dengan isyarat, dalam hal ini seorang tuna wicara

diperbolehkan menggunakan isyarat dalam menjatuhkan talaknya.

Sebagian ulama fiqh mensyaratkan bahwa seorang tuna wicara dianggap sah talaknya apabila ia tidak bisa menulis. Akan tetapi, jika seorang tuna wicara bisa menulis maka tidak sah talaknya menggunakan isyarat, karena tulisan mengandung maksud yang lebih jelas daripada isyarat.85

d. Talak dengan utusan, talak tetap sah hukumnya dan jatuh. Talak ini pengucapannya tidak dilakukan oleh suami, namun dilakukan oleh

83 Sayyid Sabiq, Fiqh Sunnah, h., 19.

84 Sudarto, Ilmu Fikih (Refleksi Tentang: Ibadah, Muamalah, Munakahat, dan Mawaris), (Yogyakarta: Deepublish, 2018), h., 192.

85 Sayyid Sabiq, Fiqh Sunnah, h., 23

orang lain atas nama suami. 86 Seorang utusan datang untuk menyampaikan kehendaknya (suami) terhadap istrinya yang berada di tempat yang berbeda bahwa utusan tersebut bermaksud menceraikan istri dengan cara bertindak sebagai orang yang menalak (suami).87

4. Akibat Hukum Perceraian

Perceraian adalah masalah hukum yang konsekuensinya diatur oleh hukum. Putusnya hubungan perkawinan yang disebabkan perceraian bukan berarti hubungannya sudah selesai, akan tetapi masih ada serangkaian akibat hukum yang ditimbulkan dari perceraian. Berikut merupakan akibat yang timbul karena perceraian:

1. Akibat terhadap anak-anak

Jika perkawinan putus karena perceraian, bekas suami istri yang bersangkutan merupakan ayah dan ibu dari anak-anaknya tetap berkewajiban memelihara dan mendidik anak-anaknya. Bila terjadi perselisihan mengenai anak-anak tersebut pengadilan memberikan keputusan ikut bersama siapa anak-anak itu.88 Dan terhadap anak-anak yang belum mumayyiz ketentuan hadahanah termuat dalam Kompilasi Hukum Islam Pasal 156:

a. Anak yang belum mumayyiz berhak mendapatkan hadhanah dari ibunya,

b. Anak yang sudah mumayyiz berhak memilih untuk mendapatkan dari ayah atau ibunya.

c. Semua biaya hadhanah dan nafkah menjadi tanggung jawab ayah menurut kemampuannya, sekurang-kurangnya sampai anak tersebut dewasa dan dapat mengurus dirinya sendiri (21 tahun).

86 Amir Syarifuddin, Hukum Perkawinan Islam di Indonesia, h., 226.

87 Sayyid Sabiq, Fiqh Sunnah, h., 25.

88 Riduan Syahrani, Seluk Beluk Dan Asas-Asas Hukum Perdata, h., 106.

26

d. Bilamana terjadi perselisihan menenai hadhanah dan nafkah anak, Pengadilan Agama memberikan putusanya berdasarkan huruf (a), (b), (c), dan (d).

e. Pengadilan dapat pula dengan mengingat kemampuan ayahnya menetapkan jumlah biaya untuk pemeliharaan dan pendidikan anak-anak yang tidak turut padanya.

Kewajiban memberi nafkah hadhanah juga termuat pada pasal 41 Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang perkawinan menyebutkan:

a. Baik Ibu atau Bapak tetap berkewajiban memelihara dan mendidik anak-anaknya, semata-mata berdasarkan kepentingan anak.

Bilamana ada perselisihan mengenai penguasaan anak-anak, pengadilan memberi keputusannya.

b. Bapak yang bertanggung jawab atas semua biaya pemeliharaan dan pendidikan yang diperlukan anak itu. Bilamana bapak dalam kenyataanya tidak dapat memenuhi kewajiban tersebut, pengadilan dapat menentukan bahwa ibu ikut memikul biaya tersebut.

c. Pengadilan dapat mewajibkan kepada bekas suami untuk memberikan biaya penghidupan dan/atau menentukan suatu kewajiban bagi bekas suami.

Berdasarkan ketentuan-ketentuan di atas, meskipun hubungan perkawinannya telah usai akan tetapi, ayah dan ibu berkewajiban memelihara dan mendidik anak-anaknya semata-mata untuk kepentingan anak meskipun dalam pelaksanaanya hanya dijalankan oleh salah satu pihak dari mereka.89

2. Akibat terhadap hubungan suami istri

Terhadap suami istri yang telah putus hubungan perkawinannya, maka tidak halal lagi bagi mereka untuk melakukan hubungan suami

89 Titik Triwulan Tutik, Hukum Perdata Dalam Sistem Hukum Nasional, h., 139.

istri kecuali suami istri rujuk. Setelah melakukan perceraian, mantan suami berkewajiban memberikan nafkah mut’ah terhadap mantan istri.

Mut’ah yang diberikan kepada istri boleh berbentuk uang atau barang.

Kewajiban memberi mut’ah kepada istri tercantum dalam pasal 149 Kompilasi Hukum Islam yaitu:90

a. Memberikan mut’ah yang layak kepada bekas istrinya, baik berupa uang atau benda kecuali bekas istri qabla al dukhul.

b. Memberi nafkah dan kiswah kepada bekas istri selama dalam iddah, kecuali bekas istri telah dijatuhi talak ba’in atau nusyuz dan dalam keadaan tidak hamil.

c. Melunasi mahar yang masih terhutang seluruhnya dan separuh apabila qabla al dukhul.

3. Akibat terhadap harta bersama

Apabila perkawinan putus karena perceraian, terhadap harta kekayaan yang dimilki selama perkawinan karena usaha bersama antara suami dan istri menjadi milik bersama yang digunakan untuk kepentingan bersama.91 Lebih lanjut harta kekayaan setelah berakhirnya perkawinan, diatur pada pasal 36 Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang perkawinan yang menyebutkan:

a. Mengenai harta bersama, suami atau istri wajib bertindak atas persetujuan kedua belah pihak.

b. Mengenai harta bawaan masing-masing, suami dan istri mempunyai hak sepenuhnya untuk melakukan perbuatan hukum mengenai harta bendanya.

Jika terjadi perselisihan terhadap harta bersama, pada pasal 37 Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan

90 Moh Ali Wafa, Hukum Perkawinan Di Indonesia Sebuah Kajian dalam Hukum Islam dan Hukum Materil, (Tangerang Selatan: Yasmi, 2018), h., 386-287.

91 Jamaluddin dan Nanda Amalia, Buku Ajar Hukum Perkawinan, h., 104.

28

menyerahkan pengaturannya kepada hukum masing-masing yaitu hukum agama, hukum adat, dan hukum lainnya.92

4. Akibat terhadap status

Apabila perkawinan putus disebabkan perceraian maka suami dan istri tidak lagi terikat dalam tali perkawinan dengan menyandang status sebagai duda dan janda. Suami dan istri juga boleh melakukan perkawinan dengan orang lain atau kembali hidup bersama sepanjang tidak dilarang oleh undang-undang serta agama mereka. 93

B. Kerangka Teori 1. Teori Keadilan94

Socrates hingga Francois Geny tetap mempertahankan keadilan sebagai mahkota dari sebuah hukum. Teori hukum alam mengutamakan “the search for justice.” Berbagai macam teori tentang keadilan dan masyarakat yang adil, adapun teori ini menyangkut pada hak dan kebebasan, peluang kekuasaan, pendapatan, dan kemakmuran. Diantara teori itu dapat disebut dengan teori keadilan.

Pada dasarnya, pandangan keadilan ini sebagai suatu pemberian hak persamaan tetapi bukan pemerataan. Aristoteles membedakan hak persamaannya sesuai dengan hak proposional. Kesamaan hak dipandangan manusia sebagai suatu unit atau wadah yang sama. Inilah yang dapat dipahami semua orang bahwa setiap warga negara dihadapan hukum adalah sama. Kesamaan proposional memberu tiap orang apa yang menjadi haknya sesuai dengan kemampuan dan presetasi yang telah dilakukan.

Lebih lanjut keadilan menurut aristoteles dibagi dalam dua kategori yaitu: keadilan distributief dan keadilan communitatief. Keadilan distributif

92 Riduan Syahrani, Seluk Beluk Dan Asas-Asas Hukum Perdata, h., 106.

93 Wati Rahmi Ria, Hukum Perdata Islam, Suatu Pengantar, (Bandar Lampung: Anugrah Utama Raharja (AURA), 2018), h., 118.

94 L. J. Van Apeldoorn, Pengantar Ilmu Hukum, (Jakarta: Prandnya Paramita, 1996), cet kedua puluh enam, h., 11-12

adalah keadilan yang memberikan setiap orang porsi menurut prestasinya, adapun keadilan komutatif adalah memberikan sama banyaknya kepada setiap orang tanpa membeda-bedakan prestasinya dalam hal ini berkaitan dengan peranan tukar menukar barang dan jasa.

Menurut Aristoteles keadilan distributi berfokus pada distribusi, honor, kekayaan dan baran-barang lain yang sama-sama bisa di dapatkan dalam masyarakat. Dengan mengesampingkan pembuktian matematis, maka jelas bahwa apa yang di maksud Aristoteles adalah distribusi kekayaan dan

Menurut Aristoteles keadilan distributi berfokus pada distribusi, honor, kekayaan dan baran-barang lain yang sama-sama bisa di dapatkan dalam masyarakat. Dengan mengesampingkan pembuktian matematis, maka jelas bahwa apa yang di maksud Aristoteles adalah distribusi kekayaan dan

Dalam dokumen Oleh: Triva Ariva NIM (Halaman 28-0)

Dokumen terkait