Setiap warga negara Indonesia yang telah berusia 17 tahun wajib untuk memiliki kartu tanda penduduk (KTP). 1) Kepercayaan kepada Tuhan YME, setyotuhu marang sing
maha asih lan Maha Agung.
2) Jujur lan sucine ati kudu setia nindaake angger negara.
3) Melu cawe-cawe cancut tali wondo njaga adeke nusa lan bangsa. 4) Tulung marang sapa wae yen perlu kanti karo oranduweni
pamprih apa wae kejobo rasa welas asih
5) Wani urip kanti kepitoyo saka kekuatane dewe( mandiri)
6) Tanduke marang warga bebrayan kudu sosilo tansah agawe pepadang marang leliyan.
7) Yakin yen kahanan donyo iki owah dusir ( hanyokro manggilingan).
Penghayat aliran kepercayaan Sapto Dharmo tergolong pada kategori penghayat kepercayaan murni karena mereka tidak menganut salah satu agama dari keenam agama yang telah mendapatkan layanan penuh dari pemerintah/ negara. Penganut aliran ini telah mendapat layanan pemerintah dalam hal perkawinan, karena beberapa tokoh Sapto Dharmo telah diberikan kepercayaan untuk menikahkan anggotanya. Beberapa tokoh penghayat aliran kepercayaan di Kabupaten Pati menganut salah satu agama dari keenam agama yang besar di antara tokoh tersebut ketua HPK dan sekretaris HPK. Dilihat dari keasalan penganut aliran kepercayaan antara lain dari Suci Rahayu dan Roso Sejati.
Posisi agama lokal selama ini dianggap sama dengan aliran kepercayaan. Keduanya memang ada titik persamaannya, tetapi juga ada perbedaan mendasar. Jika umumnya penganut kepercayaan adalah ajaran mereka yang lebih filsafati dan teosofi, yang karena itu banyak yang ajarannya berupa filsafat lokal, ajaran leluhur, dan tafsir lokal
Identitas yang terdapat dalam KTP tersebut terdapat kolom agama yang semestinya menunjukkan agama yang dianut oleh si pemilik KTP. Warga negara yang menganut salah satu dari enam agama (Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha, dan Khonghucu) tidak mengalami masalah dalam pencantuman identitas agama, karena di dalam KTP dicantumkan identitas agama yang mereka peluk.
Namun pada KTP milik warga negara yang beragama di luar enam agama tersebut tidak dapat tercantum nama agama yang dianut oleh pemilik KTP. KTP yang dimiliki oleh umat agama Baha’i di Kabupaten Pati dan Malang pada kolom agama hanya terisi tanda strip (-), sehingga tidak menunjukkan identitas pemilik KTP sebagai pemeluk agama Baha’i. Pada saat pengisian blangko pengajuan KTP sejak dari administrasi surat pengantar RT, RW, hingga tingkat desa, umat agama Baha’i ini mencantumkan identitas agama adalah agama Baha’i. Namun setelah KTP diterbitkan oleh Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Pati dan Malang, identitas agama tersebut kosong atau strip (-).
Masalah KTP ini sudah terjadi sejak masa Orde Baru, di mana saat itu warga umat Baha’i bahkan harus mengisi kolom identitas agama dengan memilih salah satu dari lima agama yakni Islam, Kristen, Katolik, Hindu atau Budha. Mulai pemerintahan Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, umat Baha’i tidak lagi ditekan untuk mencamtumkan identitas agama dari lima agama tersebut pada KTP mereka. Walaupun demikian, KTP yang mereka miliki sampai sekarang belum bisa dimunculkan identitas agama Baha’i. Pada kolom identitas tersebut hanya berisi strip (-). Harapan umat Baha’i adalah mereka dapat menunjukkan identitas sebagai pemeluk agama Baha’i dalam kartu identitas KTP tersebut.
Hal yang sama juga terjadi pada umat-umat agama lokal, seperti komunitas Sedulur Sikep atau Samin di Sukolilo Kabupaten Pati dan Agama Marapu di Sumba Barat Nusa Tenggara Timur. Sedulur Sikep meyakini bahwa agama yang mereka anut adalah agama Adam, sebagaimana juga penganut kepercayaan Marapu menganggap agama mereka adalah agama Marapu.
Sikap umat agama lokal ini cenderung sama, tidak terlalu peduli dengan identitas agama dalam kolom agama di KTP. Hal ini karena sikap lugu komunitas Sedulur Sikep yang menjadi ciri perilaku sosial mereka. Bagi Sedulur Sikep, karena pemerintah yang mengeluarkan KTP maka terserah pada kebijakan pemerintah. Umumnya KTP yang dimiliki oleh warga Sedulur Sikep pada kolom agama dituliskan agama Islam, yang di lingkungan mereka merupakan agama yang dianut oleh sebagian besar warga. Masalah KTP ini, memiliki atau tidak memiliki KTP, bahkan bagi sebagian warga komunitas Sedulur Sikep ini bukanlah hal yang penting. Bagi mereka yang penting bagi orang hidup itu adalah berkata benar dan berperilaku yang baik. Namun demikian, mereka menyatakan akan lebih senang kalau pemerintah bisa mengakui bahwa mereka beragama Adam dan identitas sebagai pemeluk agama Adam ini dapat dimunculkan dalam identitas agama pada KTP.
Pada masyarakat kepercayaan Marapu, KTP yang mereka miliki umumnya dalam kolom agama tercantum agama mayoritas di sana, yakni Kristen. Walau demikian, dalam keseharian mereka lebih banyak melakukan amal ibadah kepercayaan Marapu, bahkan banyak yang tidak mengenal ajaran Kristen. Kondisi penganut kepercayaan Marapu ini tidak terdaftar di Kesbangpol, sehingga mereka Identitas yang terdapat dalam KTP tersebut terdapat kolom
agama yang semestinya menunjukkan agama yang dianut oleh si pemilik KTP. Warga negara yang menganut salah satu dari enam agama (Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha, dan Khonghucu) tidak mengalami masalah dalam pencantuman identitas agama, karena di dalam KTP dicantumkan identitas agama yang mereka peluk.
Namun pada KTP milik warga negara yang beragama di luar enam agama tersebut tidak dapat tercantum nama agama yang dianut oleh pemilik KTP. KTP yang dimiliki oleh umat agama Baha’i di Kabupaten Pati dan Malang pada kolom agama hanya terisi tanda strip (-), sehingga tidak menunjukkan identitas pemilik KTP sebagai pemeluk agama Baha’i. Pada saat pengisian blangko pengajuan KTP sejak dari administrasi surat pengantar RT, RW, hingga tingkat desa, umat agama Baha’i ini mencantumkan identitas agama adalah agama Baha’i. Namun setelah KTP diterbitkan oleh Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Pati dan Malang, identitas agama tersebut kosong atau strip (-).
Masalah KTP ini sudah terjadi sejak masa Orde Baru, di mana saat itu warga umat Baha’i bahkan harus mengisi kolom identitas agama dengan memilih salah satu dari lima agama yakni Islam, Kristen, Katolik, Hindu atau Budha. Mulai pemerintahan Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, umat Baha’i tidak lagi ditekan untuk mencamtumkan identitas agama dari lima agama tersebut pada KTP mereka. Walaupun demikian, KTP yang mereka miliki sampai sekarang belum bisa dimunculkan identitas agama Baha’i. Pada kolom identitas tersebut hanya berisi strip (-). Harapan umat Baha’i adalah mereka dapat menunjukkan identitas sebagai pemeluk agama Baha’i dalam kartu identitas KTP tersebut.
juga terkendala untuk dimasukkan dan dilayani sebagai aliran kepercayaan. Kendala yang mereka hadapi adalah kelompok kepercayaan ini umumnya tidak memiliki organisasi keagamaan atau majelis agama yang dapat mewakili mereka untuk melakukan pendaftaran di Kesbangpol, maupun mewakili umatnya untuk bernegosiasi dengan negara.
Pada masa sekarang di Sumba Barat pendaftaran dan pengisian formulir KTP sudah ada poin lain-lain dalam kolom agama. Dalam keterangan poin lain-lain tercantum kepercayaan Marapu. Hal ini menandakan bahwa ada upaya pemerintah Kabupaten Sumba Barat untuk mewadahi warga masyarakat yang menganut kepercayaan Marapu memilih sesuai agama dan kepercayaan yang dianut. Pelayanan dan bimbingan hak-hak sipil bagi umat beragama Marapu selama ini dirasakan sudah lebih baik meskipun masih ada kesan “dipaksakan” untuk masuk agama lain, karena umat agama Marapu harus memilih salah satu agama yang diakui kepemelukannya oleh pemerintah, yakni Islam, Katolik, Kristen Protestan, Hindu, dan Budha. Dalam hal ini, umat agama Marapu memilih agama Kristen untuk dicantumkan dalam KTP. Meskipun demikian, umat agama Marapu dalam kehidupan sehari-hari diberikan kebebasan untuk menjalankan ritual keagamaan sesuai dengan keyakinannya. Bagi umat agama Marapu, mencantumkan agama apapun di dalam KTP bukan masalah, karena esensi beragama tidak berada di KTP, melainkan berada dalam kehidupan sehari-hari atau dalam kehidupan bermasyarakat.
Persoalan KTP ini juga terjadi pada pengikut aliran atau penghayat kepercayaan di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Walaupun aliran kepercayaan ini dipandang bukan termasuk agama, tetapi sebagian penganut penghayat kepercayaan
meyakini bahwa penghayat kepercayan merupakan agama itu sendiri. Kelompok penghayat kepercayaan yang tidak menganut agama tertentu, dan hanya memeluk aliran kepercayaan saja ini disebut penghayat kepercayaan kelompok murni. Kelompok yang berpandangan seperti tersebut tidak bersedia dimasukkan dalam kelompok agama tertentu. Mereka lebih menginginkan untuk disebutkan dalam identitas agama pada KTP adalah nama aliran kepercayaannya atau secara umum penghayat kepercayaan. KTP yang diterbitkan oleh Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil di Kabupaten Pati milik penghayat kepercayaan diisi dengan tanda strip (-).
Penghayat kepercayaan di Kabupaten Pati maupun di Malang dapat dikelompokkan dalam tiga kelompok, yakni kelompok murni, kelompok jalan, dan kelompok alternatif. Penghayat kepercayaan kelompok murni adalah mereka yang menjadikan aliran kepercayaan tersebut sebagai panduan spiritual sepenuhnya sehingga bagi kelompok ini aliran penghayatan dianggap telah cukup untuk menggantikan agama. Penghayat kepercayaan kelompok jalan adalah penghayat kepercayaan yang memiliki agama dan menjadikan aliran kepercayaan ini sebagai jalan untuk semakin menghayati keimanan agama mereka. Kelompok kedua ini tetap dalam agama yang mereka anut dan melaksanakan juga ajaran aliran kepercayaannya sebagai cara memperkaya spiritualitas agama yang mereka yakini. Adapun penghayat kepercayaan kelompok alternatif adalah penganut aliran kepercayaan yang mereka masih beragama tetapi sudah tidak lagi menggunakan agamanya sebagai landasan kerohanian mereka. Mereka mencukupkan diri dengan praktik-praktik ajaran dan religi dari aliran kepercayaan yang mereka anut.
juga terkendala untuk dimasukkan dan dilayani sebagai aliran kepercayaan. Kendala yang mereka hadapi adalah kelompok kepercayaan ini umumnya tidak memiliki organisasi keagamaan atau majelis agama yang dapat mewakili mereka untuk melakukan pendaftaran di Kesbangpol, maupun mewakili umatnya untuk bernegosiasi dengan negara.
Pada masa sekarang di Sumba Barat pendaftaran dan pengisian formulir KTP sudah ada poin lain-lain dalam kolom agama. Dalam keterangan poin lain-lain tercantum kepercayaan Marapu. Hal ini menandakan bahwa ada upaya pemerintah Kabupaten Sumba Barat untuk mewadahi warga masyarakat yang menganut kepercayaan Marapu memilih sesuai agama dan kepercayaan yang dianut. Pelayanan dan bimbingan hak-hak sipil bagi umat beragama Marapu selama ini dirasakan sudah lebih baik meskipun masih ada kesan “dipaksakan” untuk masuk agama lain, karena umat agama Marapu harus memilih salah satu agama yang diakui kepemelukannya oleh pemerintah, yakni Islam, Katolik, Kristen Protestan, Hindu, dan Budha. Dalam hal ini, umat agama Marapu memilih agama Kristen untuk dicantumkan dalam KTP. Meskipun demikian, umat agama Marapu dalam kehidupan sehari-hari diberikan kebebasan untuk menjalankan ritual keagamaan sesuai dengan keyakinannya. Bagi umat agama Marapu, mencantumkan agama apapun di dalam KTP bukan masalah, karena esensi beragama tidak berada di KTP, melainkan berada dalam kehidupan sehari-hari atau dalam kehidupan bermasyarakat.
Persoalan KTP ini juga terjadi pada pengikut aliran atau penghayat kepercayaan di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Walaupun aliran kepercayaan ini dipandang bukan termasuk agama, tetapi sebagian penganut penghayat kepercayaan
Penganut Agama Baha’i dan Penghayat Kepercayaan kepada Tuhan YME boleh mengosongkan kolom agama (tidak memilih enam agama) namun dalam database di Dispendukcapil setempat terekam identitas agama/ kepercayaan mereka. Hal ini karena dalam form isian awal pendaftaran penduduk atau pencatatan perkawinan harus memilih kepercayaan/agama lainnya dan mencantumkan nama kelompok kepercayaannya itu dengan melampirkan bukti dokumen identitas dari pimpinan kelompok/ lembaganya. Pandangan birokrat (Dispendukcapil), pada kartu identitas seseorang jika kolom agamanya tidak terisi maka individu tersebut adalah penganut kepercayaan atau agama lainnya.