Reformulasi Kriteria “Agama” dalam Konteks Pelayanan Negara
Agama yang dimaksudkan pada bagian ini adalah agama dalam perspektif pelayanan negara dengan mempertimbangkan konteks empiris masyarakat Indonesia. Realitas keberagamaan dalam masyarakat Indonesia, terdapat berbagai agama dan kepercayaan yang dianut oleh bangsa Indonesia. Hal ini sesungguhnya telah diungkapkan pula dalam PNPS No. 1 tahun 1965, yang menyatakan bahwa : Agama-agama yang dipeluk oleh penduduk di Indonesia ialah Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha dan Khong Hu Cu (Confusius). Hal ini dapat dibuktikan dalam sejarah perkembangan Agama-agama di Indonesia. Karena enam macam Agama ini adalah agama-agama yang dipeluk hampir seluruh penduduk Indonesia, maka kecuali mereka mendapat jaminan seperti yang diberikan oleh Pasal 29 Ayat 2 Undang-Undang Dasar, juga mereka mendapat bantuan- bantuan dan perlindungan seperti yang diberikan oleh pasal ini. Ini tidak berarti bahwa agama-agama lain, misalnya: Yahudi, Zarathustra, Shinto, Taoism dilarang di Indonesia. Mereka mendapat jaminan penuh seperti yang diberikan oleh Pasal 29 Ayat 2 dan mereka dibiarkan adanya, asal tidak melanggar ketentuan-ketentuan yang terdapat dalam peraturan ini atau peraturan perundangan lain.
pada saat digali harus menggunakan pompa air karena lubang kubur berisi air.
Aliran penghayat kepercayaan juga ada kasus penganut penghayat kepercayaan ditolak dimakamkan di pemakaman umum desa, karena diklaim pemakaman tersebut pemakaman muslim. Solusi yang ditawarkan pihak desa adalah agar anggota keluarganya mau dimakamkan di pemakaman tersebut maka keluarganya harus menyatakan diri masuk Islam. Padahal dalam Peraturan Pemerintah Nomor 9 tahun 1987 tentang penyediaan penggunaan tanah untuk keperluan tempat makam membedakan antara pemakaman umum, pemakaman bukan umum, dan pemakaman khusus. Pemakaman umum adalah areal tanah yang disediakan untuk keperluan pemakaman jenazah bagi setiap orang tanpa membeda-bedakan agama dan golongan yang pengelolaannya dilakukan oleh pemerintah daerah tingkat II atau pemerintah desa. Pemakaman bukan umum apabila pengelolaannya dilakukan oleh badan sosial dan/atau keagamaan. Sedangkan pemakaman khusus untuk pemakaman yang memiliki arti khusus karena faktor sejarah dan kebudayaan. Oleh karena itu penolakan dengan alasan makam desa adalah makam umum muslim tidak ada dasar hukumnya.
Hal yang bisa disimpulkan dari PNPS tersebut adalah bahwa di negara ini terdapat dua kategori agama, yaitu agama yang dipeluk oleh hampir seluruh penduduk Indonesia yang mencakup enam agama (Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha dan Khonghucu); dan agama lainnya. Agama lainnya tersebut adalah agama-agama selain enam agama tersebut yang dipeluk pula oleh penduduk Indonesia. Selain istilah agama, PNPS ini juga menunjukkan adanya badan/aliran kebatinan yang sekarang ini dikenal sebagai aliran atau penghayat kepercayaan.
Pelayanan negara terhadap agama dan kepercayaan ini dibedakan, yaitu untuk agama dilayani oleh kementerian agama, sedangkan untuk aliran kepercayaan dilayani oleh kementerian yang membidangi kebudayaan. Pelayanan terhadap aliran kepercayaan ini telah diatur dalam PBM Menteri Dalam Negeri dan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata nomor 43 dan 41 tahun 2009 tentang pedoman pelayanan kepada penghayat kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
Adapun pelayanan terhadap enam agama (Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha dan Khonghucu) dilakukan oleh Kementerian Agama dalam bentuk struktur dalam Kementerian Agama, di mana masing-masing agama tersebut dilayani oleh direktorat jenderal. Pada struktur Kementerian Agama Republik Indonesia baru ada lima Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat, yaitu Ditjen Bimas Islam, Ditjen Bimas Kristen, Ditjen Katolik, Ditjen Hindu dan Ditjen Buddha. Sementara untuk Agama Konghucu masih bernaung di bawah Sekretariat Jenderal Kementerian Agama Republik Indonesia, dan berada di dalam eselon II yaitu Pusat Kerukunan Umat Beragama (PKUB). Khusus untuk Agama Islam, dalam
struktur Kementerian Agama juga terdapat Direktorat Jenderal Pendidikan Islam, Direktorat Jenderal Penyelenggara haji dan Umroh, dan Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal.
Pemerintah, melalui struktur dalam Kementerian Agama melakukan pelayanan-pelayanan terhadap enam agama tersebut. Pelayanan negara terhadap enam agama selain melalui struktur dalam Kementerian Agama, juga dilaksanakan oleh kementerian lainnya. Salah satunya adalah pelayanan dalam bidang pencatatan perkawinan, di mana khusus umat Islam pencatatan perkawinan dan penerbitan akte perkawinan dilaksanakan oleh Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan. Adapun perkawinan dari umat beragama selain Agama Islam dilayani oleh Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kementerian Dalam Negeri.
Persoalan yang muncul adalah tidak adanya institusi negara yang melakukan pelayanan terhadap kelompok agama lainnya, yaitu kelompok agama di luar agama yang enam dan di luar aliran kepercayaan. Negara perlu mengakomodasi kepentingan kelompok agama lainnya ini melalui sebuah kelembagaan, apakah dalam struktur tersendiri dalam Kementerian Agama atau kementerian lainnya. Namun pemerintah juga memerlukan kejelasan tentang kriteria agama yang dapat dilayani. Hal ini karena agama lainnya, agama yang dianut penduduk Indonesia di luar enam agama, jumlahnya bisa sangat banyak. Apabila negara harus melayani semua agama-agama tersebut maka akan memberatkan negara, terutama berkaitan dengan anggaran pelayanan. Dengan demikian kriteria ini dimaksudkan untuk menentukan apakah suatu agama tersebut dapat dilayani atau tidak.
Hal yang bisa disimpulkan dari PNPS tersebut adalah bahwa di negara ini terdapat dua kategori agama, yaitu agama yang dipeluk oleh hampir seluruh penduduk Indonesia yang mencakup enam agama (Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha dan Khonghucu); dan agama lainnya. Agama lainnya tersebut adalah agama-agama selain enam agama tersebut yang dipeluk pula oleh penduduk Indonesia. Selain istilah agama, PNPS ini juga menunjukkan adanya badan/aliran kebatinan yang sekarang ini dikenal sebagai aliran atau penghayat kepercayaan.
Pelayanan negara terhadap agama dan kepercayaan ini dibedakan, yaitu untuk agama dilayani oleh kementerian agama, sedangkan untuk aliran kepercayaan dilayani oleh kementerian yang membidangi kebudayaan. Pelayanan terhadap aliran kepercayaan ini telah diatur dalam PBM Menteri Dalam Negeri dan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata nomor 43 dan 41 tahun 2009 tentang pedoman pelayanan kepada penghayat kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
Adapun pelayanan terhadap enam agama (Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha dan Khonghucu) dilakukan oleh Kementerian Agama dalam bentuk struktur dalam Kementerian Agama, di mana masing-masing agama tersebut dilayani oleh direktorat jenderal. Pada struktur Kementerian Agama Republik Indonesia baru ada lima Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat, yaitu Ditjen Bimas Islam, Ditjen Bimas Kristen, Ditjen Katolik, Ditjen Hindu dan Ditjen Buddha. Sementara untuk Agama Konghucu masih bernaung di bawah Sekretariat Jenderal Kementerian Agama Republik Indonesia, dan berada di dalam eselon II yaitu Pusat Kerukunan Umat Beragama (PKUB). Khusus untuk Agama Islam, dalam
Negara mempunyai kewajiban agar tidak melanggar hak asasi manusia yang dilindungi oleh Kovenan Hak Sipil dan Politik. Pembatasan yang dilakukan atas hak terkait memang diperbolehkan oleh ketentuan yang ada dalam kovenan, tetapi negara harus dapat menunjukkan bahwa pembatasan itu memang diperlukan dan dilakukan secara proporsional. Pembatasan yang dilakukan juga harus tetap menjamin perlindungan hak asasi manusia tetap efektif dan terus-menerus, serta tidak boleh dilakukan dengan cara yang dapat mengancam terlindunginya hak tersebut (Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 140/PUU-VII/2009).
Sebagaimana prinsip hukum tidak berlaku surut, maka pelayanan terhadap enam agama tidak perlu dipersoalkan lagi. Persoalan yang mendesak adalah adanya kelompok agama di luar agama yang enam tersebut yang belum dilayani, sehingga harus dipikirkan solusi agar hak-hak mereka sebagai warga negara pun dapat dipenuhi oleh negara. Dengan demikian, kriteria yang dibutuhkan adalah kriteria yang akan diterapkan terhadap agama-agama di luar enam agama.
Suatu kriteria atau definisi tidak dipungkiri juga bersifat inklusi dan eksklusi. Suatu kriteria akan memasukkan sebagian yang sesuai dengan kriteria tersebut, dan akan mengeluarkan sebagian yang lain karena tidak sesuai. Penyusunan kriteria agama ini tidak lepas dari proses inklusi dan eksklusi tersebut. Namun hal ini tentu bukan berarti ada warga negara yang tidak terlayani, karena dalam kaitannya dengan hak-hak sipil, negara berkewajiban untuk memberikan jaminan. Hal ini karena dalam PNPS No.1 Tahun 1965 menjelaskan bahwa agama lainnya, di luar enam agama, juga mendapatkan jaminan dan dibiarkan adanya. Mahkamah Konstitusi menjelaskan bahwa makna kata “dibiarkan” yang
terdapat di dalam Penjelasan Pasal 1 paragraf 3 UU Pencegahan Penodaan Agama harus diartikan sebagai tidak dihalangi dan bahkan diberi hak untuk tumbuh dan berkembang, dan bukan dibiarkan dalam arti diabaikan (Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 140/PUU-VII/2009).
Dengan demikian kriteria agama ini merujuk pada agama dalam kategori agama lainnya dalam PNPS No. 1 tahun 1965 tersebut. Hasil dari kegiatan Workshop tentang penyusunan kriteria agama yang dapat dilayani negara yang diselenggarakan di Surabaya, 22-25 Agustus 2015, dan hasil FGD yang diselenggarakan terkait tema ini, dapat diusulkan suatu kriteria tentang agama yang dapat dilayani negara sebagai berikut:
“Agama yang secara de facto telah ada dan berkembang di wilayah Indonesia dengan tidak bertentangan dengan peraturan perundangan yang berlaku di Negara Kesatuan Republik Indonesia, serta secara de jure telah mendapatkan
pengakuan dari pemerintah”
Agama yang dimaksud dalam kriteria di atas adalah sistem keyakinan yang bersifat sakral, berasal dari Tuhan Yang Maha Esa sebagai pedoman umat manusia untuk berhubungan dengan Tuhan, melalui suatu ritual ibadah, dan berhubungan sesama manusia, dan alam lingkungan melalui tindakan moral, dalam bentuk ajaran suci yang bertujuan pada kebaikan di kehidupan ini dan setelahnya. Agama dalam konteks pelayanan negara membutuhkan “wakil” untuk berkoordinasi dengan negara, oleh karena itu, pada syarat tambahan dari agama adalah adanya lembaga/institusi keagamaan atau majelis agama sebagai wakil yang merepresentasikan agama tersebut. Dengan demikian dapat disederhanakan syarat agama adalah:
Negara mempunyai kewajiban agar tidak melanggar hak asasi manusia yang dilindungi oleh Kovenan Hak Sipil dan Politik. Pembatasan yang dilakukan atas hak terkait memang diperbolehkan oleh ketentuan yang ada dalam kovenan, tetapi negara harus dapat menunjukkan bahwa pembatasan itu memang diperlukan dan dilakukan secara proporsional. Pembatasan yang dilakukan juga harus tetap menjamin perlindungan hak asasi manusia tetap efektif dan terus-menerus, serta tidak boleh dilakukan dengan cara yang dapat mengancam terlindunginya hak tersebut (Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 140/PUU-VII/2009).
Sebagaimana prinsip hukum tidak berlaku surut, maka pelayanan terhadap enam agama tidak perlu dipersoalkan lagi. Persoalan yang mendesak adalah adanya kelompok agama di luar agama yang enam tersebut yang belum dilayani, sehingga harus dipikirkan solusi agar hak-hak mereka sebagai warga negara pun dapat dipenuhi oleh negara. Dengan demikian, kriteria yang dibutuhkan adalah kriteria yang akan diterapkan terhadap agama-agama di luar enam agama.
Suatu kriteria atau definisi tidak dipungkiri juga bersifat inklusi dan eksklusi. Suatu kriteria akan memasukkan sebagian yang sesuai dengan kriteria tersebut, dan akan mengeluarkan sebagian yang lain karena tidak sesuai. Penyusunan kriteria agama ini tidak lepas dari proses inklusi dan eksklusi tersebut. Namun hal ini tentu bukan berarti ada warga negara yang tidak terlayani, karena dalam kaitannya dengan hak-hak sipil, negara berkewajiban untuk memberikan jaminan. Hal ini karena dalam PNPS No.1 Tahun 1965 menjelaskan bahwa agama lainnya, di luar enam agama, juga mendapatkan jaminan dan dibiarkan adanya. Mahkamah Konstitusi menjelaskan bahwa makna kata “dibiarkan” yang
1. Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa 2. Sistem peribadahan/ritual
3. Sistem ajaran atau kitab suci 4. Umat
5. Lembaga agama
Agama yang dapat dilayani oleh negara Indonesia secara de facto telah ada dan berkembang di Indonesia. Pembuktian suatu agama tersebut nyata ada dan berkembang di Indonesia harus dibuktikan bahwa umat penganutnya adalah penduduk Indonesia dengan jumlah dan lingkup penyebaran yang cukup representatif, agama tersebut ada dan dipraktikkan di Indonesia dalam waktu yang relatif lama sehingga menjadi bukti bahwa agama tersebut telah berkembang dan dapat diterima oleh lingkungan di wilayah Indonesia.
Agama yang dapat dilayani juga suatu agama yang tidak bertentangan dengan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia. Hal ini mensyaratkan agar agama harus: menerima Pancasila dan UUD 1945; menjaga keutuhan NKRI; tidak mengajarkan pandangan yang melawan ideologi negara; dan tidak mengajarkan melawan hukum dan peraturan perundangan yang berlaku di Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Agama untuk dilayani oleh negara juga harus memenuhi syarat de jure atau legalitas. Oleh karena itu agama harus mendapatkan pengakuan dari negara. Pengakuan ini berupa sistem registrasi kepada negara, dan negara mendaftar agama-agama tersebut sesuai dengan kriteria dan syarat di atas. Untuk kepentingan registrasi agama-agama (lainnya) ini
maka dibutuhkan suatu institusi tersendiri untuk melakukan verifikasi kelayakan agama tersebut untuk terdaftar sebagai agama lainnya yang dapat dilayani oleh negara. Proses regstrasi ini haruslah dilakukan oleh kelembagaan yang mewakili agama.
Agama-agama yang tidak memenuhi kriteria yang berkaitan dengan syarat de facto dan de yure, tidak berarti tidak boleh ada di Indonesia. Agama-agama tersebut tetap mendapatkan jaminan dan perlindungan dari negara, tetapi tidak mendapatkan bantuan sebagaimana agama yang telah teregistrasi. Adapun agama yang tidak memenuhi kriteria yang berkaitan dengan persyaratan tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku, dengan sendirinya tidak boleh ada dan dilarang keberadaannya. Hal ini karena agama tersebut dapat merusak sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara.
Proses-proses pengakuan negara teradap agama ini akan melahirkan kategorisasi agama-agama dalam konteks pelayanan negara di Indonesia. Kategori tersebut adalah : 1. Enam agama besar (Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha,
Khonghucu) 2. Agama lainnya 3. Agama lokal 4. Aliran kepercayaan
Kategori agama lainnya dan agama lokal perlu untuk dibedakan. Agama lainnya lebih merujuk pada konsep agama universal, yakni agama yang telah nyata-nyata ada dan dianut oleh penduduk di negara-negara lain. Pada agama-agama yang bersifat universal umumnya telah 1. Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa
2. Sistem peribadahan/ritual 3. Sistem ajaran atau kitab suci 4. Umat
5. Lembaga agama
Agama yang dapat dilayani oleh negara Indonesia secara de facto telah ada dan berkembang di Indonesia. Pembuktian suatu agama tersebut nyata ada dan berkembang di Indonesia harus dibuktikan bahwa umat penganutnya adalah penduduk Indonesia dengan jumlah dan lingkup penyebaran yang cukup representatif, agama tersebut ada dan dipraktikkan di Indonesia dalam waktu yang relatif lama sehingga menjadi bukti bahwa agama tersebut telah berkembang dan dapat diterima oleh lingkungan di wilayah Indonesia.
Agama yang dapat dilayani juga suatu agama yang tidak bertentangan dengan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia. Hal ini mensyaratkan agar agama harus: menerima Pancasila dan UUD 1945; menjaga keutuhan NKRI; tidak mengajarkan pandangan yang melawan ideologi negara; dan tidak mengajarkan melawan hukum dan peraturan perundangan yang berlaku di Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Agama untuk dilayani oleh negara juga harus memenuhi syarat de jure atau legalitas. Oleh karena itu agama harus mendapatkan pengakuan dari negara. Pengakuan ini berupa sistem registrasi kepada negara, dan negara mendaftar agama-agama tersebut sesuai dengan kriteria dan syarat di atas. Untuk kepentingan registrasi agama-agama (lainnya) ini
memiliki sistem pengorganisasian tertib dan sumber daya manusia yang baik. Oleh karena itu. Agama-agama yang bersifat universal ini dapat melakukan registrasi untuk dapat dilayani oleh negara.
Adapun pada kelompok agama-agama lokal yang berbasis ajarannya berkaitan erat dengan tradisi, adat, dan budaya lokal dikategorikan sendiri dalam kategori agama lokal. Ada beberapa persoalan agama lokal ini untuk disamakan dengan agama lainnya. Penganut ajaran agama lokal seringkali tumpang tindih dengan agama yang lain, terutama enam agama besar. Ada penganut salah satu dari enam agama besar tetapi ia sekaligus menjalankan ajaran-ajaran agama lokal yang dianggap sebagai bagian dari tradisi. Pada masyarakat Dayak misalnya, banyak tokoh-tokoh adat Dayak yang berbasis tradisi Kaharingan adalah muslim, bahkan sudah melaksanakan ibadah haji. Demikian pula di agama Marapu, dan juga di lingkungan komunitas Sedulur Sikep, banyak tokohnya yang telah menjadi pemeluk salah satu dari enam agama besar. Oleh karena itu, para pemeluk agama lokal yang “murni” tidak memeluk agama lainnya, dapat masuk dalam kategori ini.
Rekonstruksi Pelayanan Negara terhadap Agama
Usulan pelayanan terhadap agama lainnya dan agama lokal ini dibedakan. Agama lainnya diusulkan untuk dilayani dalam struktur Kementerian Agama, Adapun agama lokal dengan basis tradisi dan sifat perlu mendapatkan dukungan untuk proses pelembagaannya, sehingga bisa menjadi wakil dalam berkoordinasi dengan pemerintah, maka tetap dilayani di bawah kementerian yang membidani kebudayaan bersama
dengan aliran kepercayaan. Adapun dalam persoalan- persoalan yang menyangkut peribadatan umum (forum
eksternum) dari agama lokal dan aliran kepercayaan perlu
untuk dikoordinasikan antara Kementerian Agama, Kementerian Dalam Negeri, dan kementerian yang membawahi kebudayaan.
Sesuai dengan PNPS No.1 Tahun 1965 dan penjelasan Mahkamah Konstitusi, maka selain enam agama besar, semua agama dan kepercayaan lainnya juga harus mendapatkan jaminan dan pelayanan dari negara. Namun negara juga perlu mempertimbangkan dari berbagai perspektif, seperti aspek anggaran. Apakah negara memiliki anggaran yang cukup untuk menerapkan suatu kebijakan pelayanan terhadap semua agama secara sama. Oleh karena itu, juga menjadi penting untuk menerapkan kebijakan secara proporsional. Oleh karena itu tidak salah disusun gradasi pelayanan terhadap agama-agama di Indonesia secara proporsional dengan tetap menjamin terpenuhinya hak asasi manusia yang dilindungi oleh konstitusi.
memiliki sistem pengorganisasian tertib dan sumber daya manusia yang baik. Oleh karena itu. Agama-agama yang bersifat universal ini dapat melakukan registrasi untuk dapat dilayani oleh negara.
Adapun pada kelompok agama-agama lokal yang berbasis ajarannya berkaitan erat dengan tradisi, adat, dan budaya lokal dikategorikan sendiri dalam kategori agama lokal. Ada beberapa persoalan agama lokal ini untuk disamakan dengan agama lainnya. Penganut ajaran agama lokal seringkali tumpang tindih dengan agama yang lain, terutama enam agama besar. Ada penganut salah satu dari enam agama besar tetapi ia sekaligus menjalankan ajaran-ajaran agama lokal yang dianggap sebagai bagian dari tradisi. Pada masyarakat Dayak misalnya, banyak tokoh-tokoh adat Dayak yang berbasis tradisi Kaharingan adalah muslim, bahkan sudah melaksanakan ibadah haji. Demikian pula di agama Marapu, dan juga di lingkungan komunitas Sedulur Sikep, banyak tokohnya yang telah menjadi pemeluk salah satu dari enam agama besar. Oleh karena itu, para pemeluk agama lokal yang “murni” tidak memeluk agama lainnya, dapat masuk dalam kategori ini.
Rekonstruksi Pelayanan Negara terhadap Agama
Usulan pelayanan terhadap agama lainnya dan agama lokal ini dibedakan. Agama lainnya diusulkan untuk dilayani dalam struktur Kementerian Agama, Adapun agama lokal dengan basis tradisi dan sifat perlu mendapatkan dukungan untuk proses pelembagaannya, sehingga bisa menjadi wakil dalam berkoordinasi dengan pemerintah, maka tetap dilayani di bawah kementerian yang membidani kebudayaan bersama
PNPS No. 1 Tahun 1965 telah menunjukkan adanya gradasi pelayanan negara terhadap agama-agama di Indonesia. Bagian penjelasan PNPS menunjukan bahwa enam agama yang dianut oleh hampir seluruh penduduk Indonesia mendapatkan jaminan (kemerdekaan beragama), bantuan- bantuan, dan perlindungan. Adapun agama lainnya mendapatkan jaminan dan dibiarkan adanya, yang dalam penjelasan Mahkamah Konstitusi diartikan sebagai tidak dihalangi dan bahkan diberi hak untuk tumbuh dan berkembang. Pembedaan pelayanan ini proporsional mengingat penganut agama adalah subyek pelayanannya, di mana enam agama nyata-nyata dianut oleh hampir seluruh penduduk Indonesia wajar mendapatkan perhatian yang lebih besar pula.
Gradasi pelayanan negara paling minimal adalah terjaminnya kebebasan memeluk agama dan menjalankan ibadah sesuai dengan agama dan kepercayaannya itu. Dengan demikian pelayanan negara tidak boleh kurang dari jaminan dan perlindungan terhadap umat beragama untuk memeluk agama dan beribadah sesuai agamanya tersebut. Berikut usulan gradasi pelayanan oleh negara:
1. Pelayanan dasar: menjamin perlindungan untuk menganut dan menjalankan agama dan kepercayaan yang tidak bertentangan dengan hukum dan norma yang berlaku.
2. Pelayanan pengakuan: menjamin perlindungan untuk menganut dan menjalankan agama dan kepercayaan, dan pengakuan terhadap identitas agama dalam pencatatan sipil.
3. Pelayanan kelembagaan: menjamin perlindungan untuk menganut dan menjalankan agama dan kepercayaan, pengakuan terhadap identitas agama dalam pencatatan sipil, dan bantuan-bantuan yang dikelola melalui struktur dalam Kementerian Agama
Kemerdekaan memeluk agama dan beribadah merupakan hak setiap warga yang dijamin oleh konstitusi UUD 1945. Oleh karena itu, sekalipun suatu agama atau aliran kepercayaan tidak teregistrasi, juga akan mendapatkan hak jaminan kemerdekaan beragama dan berkeyakinan tersebut.