SITUASI UPAYA KESEHATAN
A. PELAYANAN KESEHATAN
1. PELAYANAN KESEHATAN IBU HAMIL PEMERIKSAAN IBU HAMIL
K1 atau ANC (Antenatal Care) minimal 1 kali adalah proporsi kelahiran yang mendapat pelayanan kesehatan ibu hamil minimal 1 kali tanpa memperhitungkan periode waktu pemeriksaan. Sementara K1 ideal adalah proporsi kelahiran yang mendapat pelayanan kesehatan ibu hamil pertama kali pada trimester 1. Semua kriteria pelayanan kesehatan di atas diberikan oleh tenaga kesehatan sesuai dengan standar yang ditetapkan dalam standar pelayanan kebidanan (SPK).
Jumlah estimasi ibu hamil di Kota Bandung tahun 2016 sebanyak 46.628 bumil. Kunjungan K1 pada tahun 2016 adalah sebesar 45.906 bumil (98,45 %). Grafik perkembangan tahunan cakupan kunjungan bumil K1 dapat diamati sebagai berikut.
40 Profil Kesehatan Kota Bandung Tahun 2016 GRAFIK IV.1
LAYANAN KUNJUNGAN IBU HAMIL PERTAMA KALI (K1) DI KOTA BANDUNG TAHUN 2014 - 2016
Sumber : Seksi Pelayanan Kesehatan Dasar Dinkes Kota Bandung Tahun 2016
Cakupan layanan kunjungan ibu hamil pertama kali / K1 menunjukkan tren yang meningkat dalam 3 tahun terakhir. Untuk satuan per wilayah, cakupan K1 bervariasi di Kota Bandung mulai dari yang terkecil yaitu 91,50 % hingga yang terbesar 115,71 %. Wilayah dengan cakupan K1 tertinggi terdapat di Kecamatan Gedebage (115,71%).
Sementara wilayah cakupan K1 terendah berada di Kecamatan Sumur Bandung dengan besaran 91,50 %. Angka lebih dari seratus persen ditemui dikarenakan jumlah pelayanan kunjungan ibu hamil K1 melebihi dari estimasi ibu hamil di wilayah tersebut.
K4 adalah proporsi kelahiran yang mendapat pelayanan kesehatan ibu hamil selama 4 kali dan memenuhi kriteria 1-1-2 yaitu minimal 1 kali pada trimester 1, minimal 1 kali pada trimester 2 dan minimal 2 kali pada trimester 3. Pemeriksaan minimal kehamilan yang dianjurkan oleh tenaga kesehatan seorang ibu hamil adalah 4 kali selama kehamilan.
Cakupan K4 pada tahun 2016 di Kota Bandung sebanyak 43.997 bumil atau 94,36 % dari sasaran ibu hamil. Bila dibandingkan tahun sebelumnya tampak penurunan yang cukup bersar. Penurunan persentase yang besar itu dikarenakan juga oleh capaian K4 tahun 2015 melampaui 100% dari sasaran ibu hamil di populasi. Penetapan sasaran target kelompok kesehatan menjadi penting karena menentukan acuan kerja dan kualitas kesehatan masyarakat setempat. Oleh sebab itu penetapan
41 Profil Kesehatan Kota Bandung Tahun 2016 sasaran kelompok kesehatan yang ideal bersumber pada data senyata mungkin dilapangan. Grafik perkembangan tahunan cakupan kunjungan bumil K4 dapat diamati sebagai berikut.
GRAFIK IV.2
KONDISI CAKUPAN LAYANAN KUNJUNGAN IBU HAMIL K4 DI KOTA BANDUNG TAHUN 2012 - 2016
Sumber : Seksi Pelayanan Kesehatan Dasar Dinkes Kota Bandung Tahun 2016
1.2. IMUNISASI TETANUS TOXOID (TT) IBU HAMIL
Upaya pencegahan Tetanus Neonatorum dilakukan dengan memberikan imunisasi TT (Tetanus Toksoid) pada ibu hamil dan juga pada wanita usia subur (WUS). Konsep imunisasi TT adalah life long immunization yaitu pemberian imunisasi imunisasi TT1 sampai dengan TT5 pada bumil / WUS.
Imunisasi TT pada bumil pada kehamilan pertama diberikan 2 kali sebelum usia kehamilan 8 bulan untuk mendapatkan kekebalan imunisasi TT lengkap. TT1 dapat diberikan sejak diketahui positif hamil biasanya diberikan pada kunjungan pertama ibu hamil ke sarana kesehatan. Berikut adalah tabel yang menguraikan jumlah ibu hamil yang diimunisasi TT di Kota Bandung tahun 2016.
42 Profil Kesehatan Kota Bandung Tahun 2016 TABEL IV.1
JUMLAH PEMBERIAN IMUNISASI TT PADA IBU HAMIL DI KOTA BANDUNG TAHUN 2016
JENIS IMUNISASI TT JUMLAH
TT-1 28,170
TT-2 24,288
TT-3 11,369
TT-4 7,936
TT-5 5,783
TT2+ 49,376
Sumber : Seksi Pelayanan Kesehatan Dasar Dinkes Kota Bandung Tahun 2016
Terminologi TT2+ digunakan untuk menerangkan pemberian imunisasi tetanus toxoid yang diterima oleh ibu hamil minimal 2 kali di masa kehamilannya.
1.3. PEMBERIAN TABLET BESI (Tablet Fe) PADA IBU HAMIL Kesehatan ibu hamil dan pertumbuhan janinnya sangat dipengaruhi oleh asupan gizi yang memadai. Asupan gizi juga menentukan kesiapan dan keselamatan seorang ibu hamil dalam mengahadapi proses persalinan. Zat besi sangat diperlukan untuk menjaga kesehatan seorang ibu hamil dari kondisi anemia (kurang darah). Kementerian Kesehatan menganjurkan agar ibu hamil mengkonsumsi paling sedikit 90 tabletl besi selama kehamilannya.
Pemberian Tablet Fe1 kepada ibu hamil tahun 2016 di Kota Bandung sebanyak 46.628 bumil atau 95.98 %-nya dan pemberian Tabet Fe3 sebanyak 43.320 bumil atau 92,90 %-nya. Perkembangan capaian pemberian tablet Fe kepada ibu hamil yang tercatat di Dinkes Kota Bandung dapat diamati sebagai perbandingan melalui grafik di bawah ini.
43 Profil Kesehatan Kota Bandung Tahun 2016 GRAFIK IV.3
KONDISI CAKUPAN PEMBERIAN TABLET BESI PADA IBU HAMIL DI KOTA BANDUNG
TAHUN 2012 – 2016
Sumber : Seksi Pelayanan Kesehatan Dasar Dinkes Kota Bandung Tahun 2016
Bila ditinjau dari kewilayahan, pemberian tablet Fe 90 atau tablet Fe3 terbesar terdapat di Kecamatan Gedebage dengan cakupan 112,31 %, sedangkan terkecil terdapat di Sumur Bandung dengan cakupan 80.07 %.
1.4. KOMPLIKASI KEBIDANAN / RISIKO TINGGI (RISTI) BUMIL YANG DITANGANI OLEH TENAGA KESEHATAN
Masa bersalin merupakan periode kritis bagi seorang ibu hamil.
Masalah komplikasi atau adanya faktor penyulit menjadi faktor risiko terjadinya kematian ibu sehingga perlu dilakukan tindakan medis sebagai upaya untuk menyelamatkan nyawa ibu dan bayinya. Komplikasi kebidanan adalah kesakitan pada ibu hamil, ibu bersalin, ibu nifas yang dapat mengancam ibu dan / atau bayi.
Kasus komplikasi kebidanan di Kota Bandung pada tahun 2016 ditemukan sebanyak 6.661 kasus. Keseluruhan kasus yang ditemui tersebut telah ditangani sesuai standar pada tingkat pelayanan dasar dan rujukan. Cakupan penanganan komplikasi kebidanan pada ibu hamil dengan dengan kasus bumil yang ditemui adalah sebesar 100,00 %. Bumil komplikasi ditemui dan ditangani terbanyak ada di wilayah Kecamatan Kiaracondong sejumlah 401 bumil, sedangkan wilayah terkecil ada di Kecamatan Bandung Wetan sejumlah 12 bumil.
44 Profil Kesehatan Kota Bandung Tahun 2016 1.5. PERTOLONGAN PERSALINAN OLEH TENAGA KESEHATAN
Proses persalinan merupakan proses yang kritis dan menentukan baik bagi ibu maupun bagi bayinya. Oleh karenanya memerlukan kesiapan yang baik dan terencana termasuk merencanakan penolong persalinan dan tempat persalinan. Dengan demikian semua ibu bersalin (bulin) diharapkan mendapat pertolongan dari tenaga kesehatan yang mempunyai kompetensi kebidanan. Tenaga yang kompeten sebagai tenaga persalinan adalah dokter kebidanan dan kandungan, dokter umum, dan bidan.
Capaian pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan berkompetensi kebidanan di Kota Bandung pada tahun 2016 sebanyak 41.433 persalinan, atau 93,09 % dari 44.508 perkiraan persalinan.
Proporsi persalinan yang ditolong oleh nakes tahun 2015 sebesar 98,93%
sehingga disimpulkan terjadi penurunan cakupan pertolongan persalinan oleh nakes di tahun 2016. Dalam grafik berikut ini dijelaskan mengenai perkembangan cakupan layanan persentase linakes tahunan di Kota Bandung.
GRAFIK IV.4
CAKUPAN PENANGANAN BUMIL RISTI/KOMPLIKASI DI KOTA BANDUNG TAHUN 2012 – 2016
Sumber : Seksi Pelayanan Kesehatan Dasar Dinkes Kota Bandung Tahun 2016
1.6. PELAYANAN NIFAS DAN PEMBERIAN VITAMIN A KEPADA IBU NIFAS (BUFAS)
Periode setelah proses persalinan (6 jam) hingga 42 hari disebut masa nifas. Periode ini merupakan periode kritis yang menentukan keberlangsungan hidup ibu setelah proses persalinan. Kematian ibu seringkali terjadi dalam periode nifas sehingga layanan kesehatan nifas
45 Profil Kesehatan Kota Bandung Tahun 2016 sangat diperlukan dalam mencegah terjadinya kematian ibu. Upaya pelayanan kesehatan nifas berbentuk kunjungan ibu nifas pertama kali pada minggu pertama, pada mingu ke 2 atau KF2, dan minggu ke 4 atau KF 3 setelah bersalin.
GRAFIK IV.5
CAKUPAN KUNJUNGAN IBU NIFAS (KF3) DI KOTA BANDUNG TAHUN 2014 – 2016
Sumber : Seksi Pelayanan Kesehatan Dasar Dinkes Kota Bandung Tahun 2016
Proporsi pelayanan kesehatan bufas tahun 2016 di Kota Bandung sebesar 93,00%. Sebanyak 41.395 ibu nifas berkunjung ke pelayanan kesehatan untuk mendapatkan pelayanan kesehatan ibu nifas.
Seperti tampak pada garfik di atas, pola cakupan layanan kesehatan ibu nifas menunjukkan tren kenaikan dari tahun 2014. Angka ini naik berturut-turut dari capaian tahun-tahun sebelumnya yaitu 81,39
% dan 87,14 %.
Pemberian Vitamin A merupakan salah satu bagian layanan kesehatan pada ibu nifas. Vitamin A diberikan bertujuan untuk meningkatkan dan memlihara kualitas kesehatan ibu paska persalinan dan bayi melalui pemberian ASI. Pada tahun 2016 di Kota Bandung telah diberikan vitamin A sebanyak 39.825 kepada bufas atau 89.48 % dari estimasi bufas yang ada. Capaian ini meningkat dibandingkan tahun 2015 dan juga 2015 yang sebesar 87, 14 % dan 71,96 %. Ketersediaan Vitamin A yang memadai dan pendistribusiannya yang merata di fasilitas kesehatan dapat meningkatkan cakupan pemberian Vitamin A kepada ibu nifas.
46 Profil Kesehatan Kota Bandung Tahun 2016 GRAFIK IV.6
CAKUPAN PEMBERIAN VITAMIN A PADA IBU HAMIL DI KOTA BANDUNG TAHUN 2014 – 2016
Sumber : Seksi Pelayanan Kesehatan Dasar Dinkes Kota Bandung Tahun 2016