SITUASI SUMBER DAYA KESEHATAN
A. SARANA KESEHATAN
A. SARANA KESEHATAN
1. KETERSEDIAAN OBAT MENURUT JENIS OBAT
Ketersediaan obat-obatan salah satu jaminan pelayanan kesehatan yang akan diberikan kepada masyarakat, oleh karenanya akses masyarakat terhadap obat mencakup ketersedian dan keterjangkauan bagi seluruh masyarakat harus terjamin. Upaya perlindungan masyarakat secara komprehensif terhadap penggunaan sedian farmasi, alat kesehatan (alkes), dan makanan terus ditingkatkan karena merupakan kewajiban bagi pemerintah dan institusi pelayanan kesehatan baik publik maupun swasta. Tujuan dari Program Kefarmasian dan Alat Kesehatan yang utama adalah mengupayakan ketersediaan, distribusi dan keamanan, mutu, efektifitas, keterjangkauan obat, vaksin dan alat kesehatan, serta penggunaan obat yang rasional.
Penyediaan obat-obatan diselenggarakan oleh Pemerintah Kota Bandung berasal dari anggaran APBD Kota Bandung dan dana alokasi khusus (DAK)-APBN. Selain itu juga tersedia droping alkes dan oabt-obatan program kesehatan tertentu dan buffer stock bersumebr APBD Provinsi Jawa Barat.
BPJS-Kesehatan men-supply juga obat-obatan kepada UPKD dan dan Dinas Kesehatan Kota Bandung menyediakan obat, bahan obat, dan alat kesehatan habis pakai di tahun 2016 terhadap 144 jenis.
Daftar ketersediaan jenis obat, bahan obat, dan alat kesehatan habis pakai di tahun dari tahun ke tahun bervariasi. Pada tahun 2012 ketersediaannya
73 Profil Kesehatan Kota Bandung Tahun 2016 sebanyak 180 jenis, tahun 2013 terdapat 287 jenis, sedangkan tahun 2014 terdapat 191 jenis dan pada tahun 2015 dan 2016 terdapat 144 jenis obat, bahan obat, dan alat kesehatan. Obat-obatan ini didistribusikan ke 75 puskesmas dan 2 UPT di bawah kordinasi dinas kesehatan.
Tingkat ketersediaan berbagai macam obat, bahan obat, dan alat habis pakai, dengan kebutuhan pemakaian sangat beragam. Ada beberapa jenis obat, bahan, dan alat kesehatan yang tingkat ketersediaanya rendah ada pula yang telah mencukupi. Ketersediaan obat lebih lanjut dapat diamati pada Tabel 66 dalam lampiran Profil Kesehatan Kota Bandung Tahun 2016 ini.
2. JUMLAH SARANA PELAYANAN KESEHATAN MENURUT KEPEMILIKAN
Upaya kesehatan diselenggarakan oleh pemerintah (termasuk TNI dan POLRI), pemerintah daerah provinsi/ kabupaten/ kota, dan kalangan swasta melalui peningkatan kesehatan, pencegahan penyakit, pengobatan, dan pemulihan kesehatan, di fasilitas pelayanan kesehatan. Fasilitas pelayan kesehatan di Kota Bandung bertujuan untuk meningkatkan akses pelayanan kesehatan masyarakat Kota Bandung. Fasilitas tersebut dapat dipilah menurut jumlah, jenis , maupun kepemilikannya. Jenis fasilitas dan jumlah pelayanan kesehatan dan tenaga kesehatan yang ada di Kota Bandung dapat dilihat dalam table berikut.
74 Profil Kesehatan Kota Bandung Tahun 2016
Perorangan dan di Sarana Kesehatan
9 Praktik Doker Gigi Perorangan dan di Sarana Kesehatan
1.493 1.493 10 Praktik Doker Gigi Spesialis
Perorangan dan di Sarana Kesehatan
536 536
11 Apotek 26 639 665
12 Optik
13 Laboratorium 2 23 25
14 Toko Obat 124 124
15 Pengobatan Tradisional 233 233
Sumber : Pendayagunaan Sarana dan Tenaga Kesehatan Dinas Kesehatan Kota Bandung Tahun 2016
Kepemilikan rumah sakit di Kota Bandung terdiri dari 3 rumah sakit milik Kementerian Kesehatan, 3 rumah sakit milik Pemerintah Kota Bandung, 3 rumah sakit milik TNI / POLRI, 1 rumah sakit milik universitas negeri, dan 23 rumah sakit milik swasta. Berdasarkan data di atas, fasilitas pelayanan kesehatan di Kota Bandung berdasarkan kepemilikannya banyak dimiliki oleh swasta. Hal ini menegaskan bahwa peran sektor swasta dalam pembangunan kesehatan masyarakat sangat dominan. Jumlah rumah sakit di Kota Bandung tahun 2016 tidak mengalami penambahan dibandingkan tahun sebelumnya yaitu sebanyak 33 rumah sakit.
GAMBAR V.1
PETA SEBARAN RUMAH SAKIT DI KOTA BANDUNG TAHUN 2016
Sumber : Seksi Pelayanan Kesehatan Rujukan Dinas Kesehatan Kota Bandung Tahun 2016
75 Profil Kesehatan Kota Bandung Tahun 2016 Terdapat 75 Puskesmas di Kota Bandung dengan rasio puskesmas terhadap 30.000 penduduk (rasio puskesmas terhadap 30.000 penduduk adalah rasio ideal yang ditetapkan oleh Kemenkes) di Kota Bandung yakni sebesar 0,90. Hal ini berarti satu Puskesmas melayani lebih dari 30.000 penduduk sehingga agar mencapai target ideal tersebut perlu dilakukan penambahan Puskesmas terutama di wilayah yang masih rendah rasio Puskesmas dan penduduknya.
GAMBAR V.2
PETA SEBARAN PUSKESMAS DI KOTA BANDUNG TAHUN 2016
Sumber : Dinas Kesehatan Kota Bandung Tahun 2016
3. SARANA PELAYANAN KESEHATAN DENGAN KEMAMPUAN LABKES, MEMILIKI 4 SPESIALIS DASAR, DAN PONEK
Laboratorium kesehatan adalah sarana penunjang pelayanan kesehatan di semua tahap upaya kesehatan mulai dari promotif, preventif, hingga rehabilitatif yang memeriksa, menganalisa, menguraikan, dan mengidentifikasi material secara kualitatif dan kuantitatif kesehatan individu maupun masyarakat. Sebagai sarana peunjang laboratorium kesehatan memiliki fungsi pelayanan baik terhadap kebutuhan individu maupun masyarakat dalam mendukung maupun menegakan sebuah diagnosis atau kondisi kesehatan serta meningkatkan kesehatan yang optimal. Terdapat 2 jenis laboratorium
76 Profil Kesehatan Kota Bandung Tahun 2016 kesehatan; 1. laboratorium kesehatan masyarakat dan 2. laboratorium klinis.
Laboratorium kesehatan masyarakat melaksanakan pemeriksaan yang berkaitan dengan kepentingan kesmas dan kesling terutama untuk menunjang upaya pencegahan penyakit dan peningkatan status kesmas. Sedangkan laboratorium klinis adalah laboratorium kesehatan yang melaksanakan pelayanan pemeriksaan di bidang hematologi, kimia klinik, mikrobiologi klinik, parasitologi klinik, imunologi klinik, patologi anatomi dan atau bidang lain yang berkaitan dengan kepentingan kesehatan perorangan terutama untuk menunjang upaya diagnosis penyakit, penyembuhan penyakit dan pemulihan kesehatan.
Sarana kesehatan yang memiliki laboratorium kesehatan klinis antara lain, rumah sakit, klinik pratama, utama, puskesmas, laboratorium. Semua rumah sakit (33 rumah sakit) di Kota Bandung di tahun 2016 telah memiliki kemampuan laboratorium kesehatan klinis, yang terdiri 20 rumah sakit umum dan 13 rumah sakit khusus. Pada tingkat unit pelayanan kesehatan primer, terdapat 30 Puskesmas memiliki pelayanan laboratorium kesehatan dari 75 Puskesmas yang ada di Kota Bandung. Selain itu, terdapat 25 laboratorium dengan rincian 23 laboratorium kesehatan klinis milik swasta dan 2 labotorium kesehatan milik pemerintah daerah. Dua laboratorium kesehatan masyarakat tersebut satu dimiliki oleh pemerintah daerah Provinsi Jawa Barat dan satu kepemilikan Pemerintah Kota Bandung.
Sarana pelayanan kesehatan dengan kemampuan 4 spesialis dasar yaitu sarana pelayanan kesehatan yang telah memiliki kemampuan spesialis bedah, spesialis penyakit dalam, spesialis anak dan spesialis kandungan, dan kebidanan. Semua rumah sakit umum di Kota Bandung, yaitu 20 rumah sakit, telah memiliki kemampuan spesialis dasar, sedangkan dari 13 rumah sakit khusus yang ada terdapat 4 rumah sakit khusus yang telah lengkap memenuhi kemampuan 4 spesialis dasar.
Kota Bandung mempunyai 6 Puskesmas dengan tempat perawatan (DTP). Puskesmas DTP ditujukan untuk memberikan pelayanan rawat inap khususnya pelayanan obstetrik. Pelayanan obstetri dan neonatal regional di tingkat Puskesmas merupakan upaya penyediaan pelayanan bagi ibu dan bayi
77 Profil Kesehatan Kota Bandung Tahun 2016 baru lahir secara terpadu dalam bentuk Pelayanan Obstetri Neonatal Emergensi Dasar (PONED).
Pelayanan Obstetri Neonatal Emergensi Komprehensif (PONEK) di berikan di Rumah Sakit. Rumah sakit PONEK 24 jam merupakan bagian dari sistem rujukan dalam pelayanan kedaruratan maternal dan neonatal, yang sangat berperan dalam menurunkan angka kematian ibu dan bayi baru lahir.
Terdapat 26 rumah sakit dengan kemapuan PONEK di Kota Bandung di tahun 2016. Fasilitas dengan standar PONEK disiapkan dengan ketersediaan tenaga kesehatan yang sesuai kompetensi, prasarana, sarana, dan manajemen handal.
4. POSYANDU MENURUT STRATA DAN KADER POSYANDU
Posyandu adalah salah satu bentuk upaya kesehatan bersumber daya masyarakat (UKBM), yang dikelola dan diselenggarakan dari, oleh, untuk, dan bersama masyarakat dalam penyelenggaraan pembangunan kesehatan, guna memberdayakan masyarakat dan memberikan kemudahan kepada masyarakat dalam memperoleh pelayanan kesehatan dasar untuk mempercepat penurunan angka kematian ibu dan bayi. Selain itu, Posyandu berfungsi sebagai wadah pemberdayaan masyarakat dalam alih informasi dan keterampilan dari petugas kepada masyarakat dan antar sesama masyarakat juga untuk mendekatkan pelayanan kesehatan dasar.
Tahun 2016, di Kota Bandung terdapat 1.378 Posyandu, yang berarti rata-rata terdapat 13 Posyandu dalam satu kelurahan di Kota Bandung.
Posyandu tersebar di seluruh Kota Bandung dengan Kecamatan Coblong sebagai kecamatan dengan Posyandu terbanyak yakni 102 Posyandu, sedangkan Bandung Wetan dengan Posyandu paling sedikit yakni 26 Posyandu.
Berdasarkan perkembangannya, Posyandu dibagi dalam beberapa strata yang terdiri dari pratama, madya, purnama, dan mandiri. Posyandu yang ada di Kota Bandung pada tahun 2016 berjumlah 1.978 buah yang terdiri dari, Madya 600 buah (30,33 %), Purnama 980 buah (49,54 %), Mandiri 398 buah (20,12 %). Tahun 2016 Kota Bandung sudah tidak terdapat Posyandu dengan strata Pratama.
78 Profil Kesehatan Kota Bandung Tahun 2016 dengan strata strata pratama, sehingga upaya yang perlu ditingkatkan adalah pengembangan kegiatan Posyandu ke arah strata Posyandu mandiri.
79 Profil Kesehatan Kota Bandung Tahun 2016 1.926 Posyandu. Rasio Posyandu per-100 balita di Kota Bandung adalah 0,92 yang berarti satu Posyandu melayani lebih dari 100 balita. Oleh karenanya Kota Bandung, meski kecenderungan jumlah Posyandu meningkat, masih terdapat kekurangan Posyandu. Perkembangan jumlah Posyandu dari tahun ke berbagai cara antara lain meningkatkan promosi kesehatan (promkes) kepada masyarakat dan pengembangan UKBM di berbagai tingkatan. Sedangkan pemerintah dapat membuka akses informasi dan dialog, menyiapkan regulasi, dan membekali masyarakat dengan pengetahuan dan keterampilan serta dukungan sumber daya untuk membangun kemandirian pengembangan UKBM.
Upaya kesehatan bersumber daya masyarakat diantaranya berupa Posyandu, pos obat desa, pos kesehatan pesantren, Saka Bhakti Husada, usaha kesehatan kerja, dana sehat, kelurahan/RW Siaga dan lain – lain.
Kondisi UKBM di Kota Bandung tahun 2016 dapat dilihat pada tabel di bawah ini.
80 Profil Kesehatan Kota Bandung Tahun 2016 TABEL V.2
SARANA KESEHATAN BERSUMBER MASAYARAKAT (UKBM) DI KOTA BANDUNG TAHUN 2016
JENIS UKBM JUMLAH
POSYANDU 1.973 Posyandu
POSBINDU (Pos Pembinaan Terpadu) 900 Posbindu
KELURAHAN SIAGA 151 Kelurahan
RW SIAGA 1.229 RW
POSKESTREN (Pos Kesehatan Pesantren) 2 Poskestren
SBH (Saka Bhakti Husada) 52 Gudep
POS UKK (Usaha Kesehatan Kerja) 10 Pos
DANA SEHAT (RW) 1.378 RW
TOGA (Tanaman Obat Keluarga) 7.260 KK
UKGMD (Usaha Kesehatan Gigi Masyarakat Desa) 557 Buah RBM (Rehabilitasi Bersumber daya Masyarakat) 30 Kecamatan
WPA (Warga Peduli AIDS) 30 Kecamatan
Sumber : Seksi Promosi Kesehatan Dinas Kesehatan Kota Bandung Tahun 2016