• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pemahaman tentang Jemaat

Dalam dokumen Visi Misi GKPA 2016 2041 (Halaman 36-39)

5. Dasar Teologis

5.3. Pemahaman tentang Jemaat

GKPA percaya bahwa yang mendirikan jemaat adalah Yesus Kristus yang memanggil dan mempertemukan orang percaya di dalam jemaat-Nya yang kudus. GKPA bukan didirikan atas kehendak sendiri dan golongan tertentu. GKPA meyakini bahwa pertumbuhan jemaat terjadi jika GKPA memberitakan Injil dengan murni, menjalankan sakramen baptisan dan perjamuan kudus dan melaksanakan hukum siasat Gereja dengan sebaik-baiknya.

5.3.1. Arti dan tujuan pembangunan Jemaat

Usaha perbaikan hidup dan karya gereja itu secara garis besar dapat dibagi ke dalam dua tujuan pokok, yaitu: pertumbuhan ekstensif (pertumbuhan keluar) dan pertumbuhan intensif (pertubuhan ke dalam). Pertumbuhan ekstensif tampak melalui adanya pertambahan anggota jemaat baru. Hal ini diinspirasi oleh pengalaman gereja pada zaman para Rasul dalam memberitakan Injil kepada bangsa lain. Usaha itu mengakibatkan munculnya gereja- gereja baru yang menggembirakan, karena ada banyak orang-orang baru yang dibaptiskan (Kis. 2:41). Namun, kegembiraan itu segera disusul oleh adanya keprihatinan di mana tidak adanya kesinambungan pelayanan kepada jemaat baru tersebut. Itulah sebabnya dibutuhkan pertumbuhan yang intensif untuk memberikan pendalaman dan penghayatan iman kepada jemaat yang baru. Paulus mengatakan bahwa dalam rangka pertumbuhan ke dalam, orang yang percaya baru sejak semula harus diperhatikan (1Kor. 14:23-25). Hubungan pertumbuhan ke dalam dan ke luar juga ditegaskan oleh kenyataan bahwa jemaat yang berkembang dengan baik, selalu menimbulkan daya tarik untuk orang luar (bd. Kis. 2:41-47). Dari sisi lain, perhatian ke luar juga penting bagi pembangunan ke dalam. Gereja yang sibuk dengan rutinitas dirinya sendiri, niscaya akan kehilangan daya tariknya. Secara singkat dapat dikatakan dalam rangka memperbaiki kehidupan gereja, perlu usaha serempak membenahi pertumbuhan ke dalam dan juga pengembangan/penginjilan ke luar.

Namun tujuan pembangunan jemaat itu pertama-tama dan terutama bukan demi pertumbuhan ke luar dan ke dalam itu semata. Tujuan pembangunan jemaat agar gereja dalam hidup dan karyanya di dunia sungguh-sungguh menjadi alat Tuhan untuk turut ambil bagian dalam karya penyelamatan Allah atas seluruh umat manusia (Kis. 13:2; 17:18; Mt. 4:18-22; 2Tim. 1:7-9, 2:4).31

5.3.2. Peran Para Pelayan

Untuk mendewasakan dan memperlengkapi warga jemaat dalam rangka pembangunan tubuh Kristus, GKPA menetapkan Pelayan-pelayan Gerejawi yang terdiri dari Pendeta, Guru Parlagutan, Sintua (Penatua), Evangelis, Diakon/Diakones dan Parjamita Ina (Bibelvrouw) serta seluruh anggota Jemaat yang terpanggil untuk turut mengambil bagian dalam pelayanan Gerejawi tersebut sesuai dengan Firman Allah (1Ptr. 2:9). Secara umum tugas para pelayan GKPA adalah penginjilan, pelayanan, pembinaan dan pemeliharaan rohani dari warga GKPA.

5.3.3. Peran Anggota Jemaat

Pembangunan gereja sebenarnya pekerjaan Allah sendiri. Namun dalam rangka melaksanakan pekerjaan-Nya itu, Allah melibatkan orang-orang beriman untuk ikut ambil bagian dalam karya-Nya (1Ptr. 2:5). Hal ini menunjukkan, meskipun orang beriman sebagai manusia memiliki berbagai keterbatasan dan kelemahan, Allah sendiri yang memperlengkapi orang-orang beriman untuk ikut ambil bagian dalam pekerjaan-Nya (1Kor. 12:4, 14:12) dan pada akhirnya Allah jugalah yang menyempurnakan pekerjaan orang beriman dalam pembangunan Gereja-Nya (1Kor. 13:8-12) sehingga Kerajaan Allah semakin terwujud di dunia ini menuju kepada kesempurnaan, yang berlangsung secara bertahap sebagai suatu pertumbuhan (1Kor. 3:6; Why. 21:2).

Dalam rangka pembangunan jemaat yang vital dan menarik, peran serta jemaat sangatlah penting. Karena itu jemaat yang vital dan menarik merupakan dua pengertian yang tidak boleh dipisahkan. Jemaat yang hanya menarik saja cenderung menjadi komunitas nostaligis. Jemaat yang hanya vital saja cenderung menjadi komunitas yang fanatik.32 Jemaat yang vital dan menarik adalah jemaat yang dengan senang hati berpartisipasi, di mana partisipasi itu membawa hasil bagi mereka sendiri maupun bagi realisasi tujuan-tujuan jemaat33. Mengupayakan jemaat yang vital dan menarik, adalah sesuatu hal yang penting dalam perubahan zaman yang akan dihadapi jemaat. Dalam perkembangan zaman yang terus berubah, umat kristiani ditantang untuk berpartisipasi secara kreatif.34 Peran jemaat itu juga sangat kuat dipengarui oleh konteks35 jemaat itu sendiri.

Diharapkan seluruh warga jemaat GKPA setia mendukung pelayanan di seluruh lini GKPA melalui mempersembahkan dirinya sendiri sebagai persembahan yang hidup (Rm. 12:1), persembahan bulanan, persembahan syukuran, persembahan persepuluhan (Mal. 3:10), dan persembahan lainnya. Persembahan ini merupakan sumber keuangan GKPA untuk mewujudnyatakan setiap program yang ditetapkan mulai dari tingkat Pusat, Distrik, Resort dan Parlagutan.

32Jan Hendriks, Jemaat …, hl. 20. 33Ibid.

34 Rob Van Kessel, Enam Tempayan Air Pokok-Pokok Pembangunan Jemaat, (Yogyakarta:Kanisius, 1997), hl.

1.

35 Yang dimaksud dengan konteks adalah situasi sekarang yang ditentukan oleh banyak faktor, masa lalu,

5.3.4. Faktor Pentingnya pemberdayaan Jemaat

Pemberdayaan yang dimaksud dalam hal ini adalah, mengupayakan agar semua warga jemaat berpatisipasi dalam Gereja. Partisipasi yang diharapkan tentu bukan saja melalui kehadiran dalam kebaktian minggu, tetapi partisipasi dalam rangka, ikut memikirkan dan mengupayakan pelayanan-pelayanan dalam gereja serta semua tindak-tanduk dalam kehidupan gereja. Agar Gereja dapat memberdayakan warga jemaat, tentu terlebih dahulu harus mengenali bakat, talenta dan potensi yang dimiliki warga jemaat. Dengan demikian, penting ada relasi yang baik di antara pelayan Gereja dan jemaat. Relasi, tidak cukup hanya dengan kelompok-kelompok yang aktif dalam Gereja, tetapi relasi harus diutamakan kepada jemaat yang jarang ke gereja dan kepada jemaat tamu.

Peran serta anggota jemaat dalam pekerjaan Allah dapat berlangsung secara optimal apabila menjadi gereja yang hidup dan bermakna bagi warganya maupun masyarakat yang ada di sekitarnya.

Ada lima faktor penting dalam rangka pemberdayaan jemaat, yaitu:

a. Keterlibatan anggota jemaat yang sangat dipengaruhi iklim gereja36. Yang dimaksud dengan iklim ialah pengakuan dan perlakuan terhadap setiap anggota jemaat sebagai subyek dalam hidup dan karya Gereja. Pengakuan dan perlakuan sebagai subyek itu akan terwujud apabila:

- Talenta dan potensi yang dikaruniakan Tuhan kepada setiap anggota jemaat

diakui, dihargai dan didayagunakan secara optimal.

- Informasi yang benar dan jujur yang diperlukan bagi hidup berkeluarga,

bergereja, dan bermasyarakat disebarluaskan kepada setiap anggota jemaat.

- Hal-hal yang berkenaan dengan hidup dan karya Gereja diputuskan oleh pemimpin gereja dengan melibatkan sebanyak mungkin anggota jemaat.

b. Gaya dan sifat kepemimpinan Gereja37. Yang dimaksud dengan kepemimpinan

adalah gaya dan sifat kepemimpinan yang dipraktikkan baik oleh pejabat Gereja maupun para pelayan Gereja lainnya dalam menjalankan tugas mereka. Gaya dan sifat kepemimpinan akan memampukan para pemimpin sendiri maupun anggota jemaat yang dipimpinnya apabila:

- Gaya dan kepemimpinan kolektif-kolegial, partisipatif dan kemampuan anggota jemaat dikembangkan.

- Pengembangan diri para pemimpin Gereja dan para pelayan gereja lainnya

diperhatikan secara memadai

- Sifat kepemimpinan yang saling melayani/menggembalakan diberlakukan. c. Keterlibatan aggota jemaat dalam merumuskan tujuan dan tugas gereja. Yang

dimaksud dengan tujuan gereja adalah segala sesuatu yang ingin diraih oleh gereja, sedangkan tugas gereja adalah keseluruhan kegiatan yang dilakukan dalam 36 Jan Hendriks, Jemaat.., hl. 48-64.

rangka mencapai tujuan gereja. Tujuan dan tugas gereja akan jelas, relevan, terjangkau, dan menarik apabila:

- Dirumuskan secara jelas oleh pemimpin Gereja dengan melibatkan sebanyak mungkin anggota jemaat.

- Karya gereja dituangkan dalam perencanaan yang mengacu pada visi-misi

gereja.

- Karya gereja memberi peluang bagi anggota jemaat untuk dapat belajar lebih

banyak tentang hidup dan karya orang beriman.

d. Struktur Gereja38. Struktur gereja adalah keseluruhan relasi timbal balik antara anggota jemaat secara individual maupun bersama-sama dengan para pejabat gereja dan pelayan gereja lainnya. Relasi itu bisa formal maupun informal. Struktur gereja akan relevan dengan tuntutan hidup dan karya apabila:

- Keanekaragaman dan keberadaan anggota jemaat (usia, pekerjaan, minat,

aspirasi politik, tradisi bergereja) diakui ditata dalam struktur.

- Karya kelompok-kelompok anggota jemaat diintegrasikan dengan visi-misi Gereja.

- Komunikasi dan kerjasama timbal balik saling memampukan antar kelompok

anggota jemaat dan antara kelompok anggota jemaat dengan lembaga gerejawi maupun non-gerejawi dijalankan dengan baik.

e. Identitas diri anggota jemaat. Yang dimaksud dengan jatidiri dan identitas diri

adalah pemahaman yang dihayati oleh setiap anggota jemaat tentang siapa dan apa tugas mereka sebagai orang beriman maupun sebagai gereja. Penghayatan jatidiri/identitas yang baik akan menjadi sumber inspirasi bagi setiap anggota jemaat dalam menjalani hidup dan karya gereja. Penghayatan jatidiri atau identitas diri akan inspiratif apabila:

- Latarbelakang keberadaan dan tradisi gereja dihayati oleh segenap anggota

jemaat.

- Pemahaman tentang inti gereja dihayati oleh segenap anggota jemaat

- Konteks di mana anggota jemaat dan gereja menjalani hidup dan karyanya disadari dan dikenal dengan baik oleh segenap anggota jemaat.

- Panggilan, peran, dan fungsi setiap anggota jemaat sebagai orang beriman

dipahami oleh segenap anggota jemaat.

Dalam dokumen Visi Misi GKPA 2016 2041 (Halaman 36-39)