DAN ANcAMAN hIlANGNyA PulAu
DI PERbAtASAN KEPRI
I
su pemanasan global (global warming) menjadi topik yang begitu hangat dibicarakan dalam beberapa dekade terakhir. Bahkan isu ini begitu menarik untuk dijual, sehingga dalam kampanye pemilihan presiden di sejumlah negara, termasuk di Amerika, isu ini menjadi salah satu topik utama yang ditawarkan kepada pemilih.Pemanasan global bermula dari sebuah kekhawatiran, tentang naiknya suhu bumi yang akan berdampak pada sejumlah akibat, seperti misalnya mencairnya lapisan es di Antartika dan Greenland. Bila ini terjadi, sudah pasti permukaan laut akan naik dan akan mengakibatkan sejumlah pulau tenggelam. Bagi negara-negara kepulauan, seperti negara di kawasan Oseania, maupun Indonesia, Filiphina, Singapura, dan sejumlah negara lainnya, dampak ini tentu menjadi sebuah kekhawatiran. Sebab, hilangnya sebuah pulau tidak sekedar mengurangi luas kedaulatan sebuah negara, melainkan pula akan berdampak para persoalan batas wilayah. Berdasarkan UNCLOS 1982, batas negara kepulauan dihitung dari pulau terdepan yang dimiliki oleh negara tersebut sejauh 12 mil. Apabila sebuah pulau terdepan saja hilang dari permukaan laut, maka sudah pasti garis batas negara tersebut bakal menyusut. Hal ini disebabkan
92 pulau terdepan Indonesia itu dijadikan sebagai titik dasar (TD), yaitu patokan ditariknya garis pantai menurut aturan Hukum Laut Internasional. Meski yang hilang sebut saja sebuah pulau karang tanpa potensi apapun, namun hal ini tetap akan berdampak kerugian pada Indonesia. Hal ini mengingat kandungan sumber daya alam tidak saja terdapat di daratan, melainkan juga di lautan.
Penyebab pemanasan global memang tidak saja dilakukan oleh negara-negara kepulauan. Meningkatnya suhu bumi akibat emisi karbon dari aktivitas manusia seperti efek rumah kaca, atau juga karena semakin menyusutnya hutan akibat pembalakan liar dan sebagainya, terjadi di banyak negara. Namun dampak paling nyata nantinya akan dirasakan oleh negara-negara kepulauan.
Saat ini diperkirakan kenaikan permukaan laut global mencapai sekitar tiga hingga sembilan mili meter per tahun akibat pemanasan global tersebut. Hasil pemantauan satelit altimetri yang diterbitkan oleh AVISO Perancis menunjukkan bahwa kenaikan permukaan laut mencapai sekitar sembilan mili meter per tahun di Indonesia bagian timur. Kawasan ini langsung menghadap ke Samudra Pasiik. Memang angka tiga sampai sembilan mili meter ini tak akan terlalu membawa dampak besar bagi penyusutan garis pantai. Namun satu hal yang juga harus diwaspadai bahwa pemanasan global telah me- nimbulkan dampak semakin seringnya siklon dan badai yang di- sertai banjir besar di perbagai kawasan pantai, seperti di Amerika, Bangladesh, bahkan sampai Myanmar. Karena itu, pemanasan global tidak saja ancaman tenggelam nya pulau, melainkan pula telah menyebabkan perubahan iklim. Perubahan ini dapat kita lihat dari fenomena cuaca yang semakin tidak menentu, intensitas curah hujan yang tinggi, ombak semakin besar, banjir, kebakaran hutan, dan kekeringan.
Bagi Kepri sendiri, sebuah provinsi kepulauan dengan 1.795 pulau yang tersebar dari ujung Natuna hingga Karimun, pemanasan global juga bisa merupakan kekhawatiran tersendiri. Bila melihat secara isik, pulau-pulau di Kepri bukanlah daratan yang luas.
Bahkan ada pulau yang luasnya hanya beberapa meter persegi saja. Kehilangan sebuah pulau jelas sebuah kerugian tersendiri bagi Kepri, dan ini akan menjadi isu nasional. Meski pulau tersebut adalah pulau kosong tanpa ada lahan petani bercocok tanam, namun di era kebangkitan wisata dunia seperti saat ini. Pulau-pulau tadi bisa disulap menjadi kawasan tujuan wisata yang akan memberikan keuntungan ekonomis tersendiri.
Persoalan akan menjadi semakin pelik apabila yang tenggelam akibat pemanasan global tersebut adalah pulau di perbatasan. Sebagai mana dijelaskan di atas, keberadaan pulau di perbatasan tidak lain adalah sebagai titik pengukuran batas kedaulatan negara. Kalau satu pulau hilang, sudah tentu batas negara pun akan bergeser. Dan potensi hilangnya pulau-pulau perbatasan Indonesia di Kepri juga tidak kecil. Sebut saja misalnya Pulau Batu Berhanti. Pulau yang menjadi pembatas antara teritorial Indonesia dengan Singapura ini hanyalah kumpulan batu karang yang teronggok di permukaan laut. Satu-satunya penanda bahwa pulau tersebut adalah bagian tak terpisahkan dari Indonesia adalah keberadaan lampu suar. Perairan di sekitar Batu Berhanti sendiri adalah kawasan lalu lintas laut inter- nasional yang padat. Perairan ini dilalui oleh kapal-kapal supertanker berukuran raksasa. Karena itu, hantaman gelombang ke babatuan karang di Batu Berhanti sendiri adalah hal yang rutin terjadi, dan ini berpotensi bagi terjadinya abrasi. Di tambah lagi dengan ancaman kenaikan permukaan air laut akibat pemanasan global, bukan tidak mungkin suatu saat nanti Pulau Batu Berhanti akan hilang dari permukaan laut.
Bila Pulau Batu Berhanti terdiri dari karang cadas yang kokoh, lain halnya dengan Pulau Pelampong, yang menjadi satu dari 19 pulau terdepan Kepri, berbatasan langsung degan Singapura. Luas Pulau Pelampong hanya sekitar 0,23 kilo meter persegi. Menurut penuturan penduduk yang tinggal di pulau yang pantainya berpasir itu, abrasi kerap terjadi. Luas pulau pun semakin hari semakin menyusut. Meski gelombang laut di sekitar pulau hanya berada
pada ketinggian nol sampai satu setengah meter, namun hantaman ombak dari kapal super tanker yang lalu lalng di depan pulau menjadi faktor yang mempercepat menyusutnya luas pulau.
International Panel on Climate Change (IPCC) menyimpulkan bahwa peningkatan laju pencairan es di kutub telah mampu me- ningkat kan tinggi permukaan air laut antara 10-20 cm selama abad 20. IPCC juga memprediksikan bahwa rata-rata permukaan laut akan meningkat antara 9 hingga 88 cm yang akan terjadi antara tahun 1990 hingga tahun 2110. Hal ini sejalan dengan peningkatan suhu bumi dengan kisaran antara 1,4 hingga 5,8 ºC.1
Inilah ancaman yang sebenarnya dihadapi Kepri saat ini. Untuk menyelamatkan 19 pulau perbatasan di Kepri ini tentu tidak sekedar tindakan lokal saja, melainkan diperlukan gerakan nasional yang diperkuat oleh diplomasi Indonesia di forum internasional. Pulau- pulau perbatasan Indonesia, terutama di Anambas dan Natuna, adalah titik terdepan penjaga perairan yang di dasar lautnya menyimpan cadangan gas alam dan minyak bumi dalam jumlah besar. Karena itu, mengamankan pulau terdepan Indonesia di kawasa Anambas dan Natuna, berarti juga menjaga kekayaan alam yang bisa digunakan untuk pembangunan negeri ini.
Mari kita lihat, berapa besar potensi kekayaan alam berupa gas dan minyak bumi yang akan hilang bila pulau-pulau perbatasan Indonesia di Natuna dan Anambas tenggelam. Dua kabupaten yang langsung berbatasan dengan Laut China Selatan ini adalah kawasan yang sangat kaya. Berdasarkan data dari Direktorat Jendral Minyak dan Gas (Ditjen Migas) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Indonesia, cadangan minyak bumi di dasar laut Natuna dan Anambas mencapai sekitar 346,4 MMSTB. Sementara seluruh cadangan minyak bumi di Indonesia, baik yang sudah ter- bukti maupun yang masih potensial mencapai 7.998,54 MMSTB. Berarti setidaknya, cadangan minyak bumi di Natuna dan Anambas
1 Data dikutip dari http://sssg.co/index.php/Berita/indonesia-negara- kepulauan.html
mencapai sekitar empat persen nya dari cadangan minyak bumi nasional. Natuna dan Anambas tercatat sebagai daerah penyimpan cadangan minyak bumi terbesar keenam terbesar di Indonesia setelah Riau, Jawa Timur, Sumatera Selatan, Kalimantan Timur, dan Jawa Barat.
Meski kandungan cadangan minyak buminya keenam terbesar atau hanya empat persen dari total nasional, namun untuk gas alam, ternyata Natuna dan Anambas menjadi yang terbesar. Cadangan gas alam di kawasan ini diperkirakan mencapai sekitar 52,15 TSFC dengan sebaran yang terdapat di cekungan Kabupaten Kepulauan Anambas dan Kabupaten Natuna. Jumlah cadangan gas alam nasional yang sudah terbukti maupun potensial untuk dieksplorasi sekitar 159,64 TSFC. Berarti cadangan gas alam di Natuna dan Anambas ini mencapai hampir 33 persen dari jumlah nasional. Dan Natuna serta Anambas tercatat sebagai daerah terbesar penyimpan cadangan gas alam di negeri ini, jauh mengungguli Kalimantan, Papua, dan Sumatera Selatan.
Nah, bila karena hilangnya pulau perbatasan yang kemudian berdampak pada penyusutan batas kedaulatan Indonesia, maka negeri ini juga harus menanggung hilangnya potensi kekayaan alam yang luar biasa tersebut. Pada titik inilah, kajian tentang perbatasan menjadi sebuah hal yang menarik untuk dilakukan dan di- kembangkan.