I
nilah pulau terdepan Indonesia yang paling sering mendapat sorotan dan menjadi bahan pembicaraan sejak lama. Pulau ini adalah titik terdepan Indonesia, yang langsung berhadap-hadapan dengan Singapura. Pulau ini ada di Kota Batam. Jarak Batam dengan Singapura sendiri hanya sekitar 12,5 mil atau sekitar 20 kilo meter, dan pulau ini persis berada di tengah jarak yang memisahkan kedua wilayah ini.Uniknya, meski sering menjadi pembicaraan, penyebutan nama pulau ini sendiri sering salah. Dalam peta Indonesia dan dunia, pulau ini diberi nama Pulau Nipa. Namun dalam keseharian, bahkan penulisan di beberapa media, masing menggunakan nama Pulau Nipah. Huruf terakhir memang tidak memberikan perbedaan bunyi yang kentara pada penyebutan nama pulau ini. Namun dalam penulisan, perbedaanya tentu sangat mencolok.
Pulau ini pada tahun 2002 lalu, sudah nyaris tenggelam. Ketika air pasang, maka yang tampak di permukaan adalah beberapa batang pohon bakau saja. Sementara bagian pasirnya sudah hilang. Disinyalir, pulau ini menjadi rusak parah dan nyaris tenggelam, tidak lain karena aktivitas penambangan pasir ilegal. Pada tahun- tahun itu, memang pemerintah Indonesia masih memperbolehkan ekspor pasir laut ke Singapura. Pasir biasanya diambil dari sejumlah kawasan di Kepri, seperti dari Karimun, pesisir Batam, Pulau Bintan
dan beberapa pulau kecil lainnya. Di tengah aktivitas ekspor pasir itu, ternyata Pulau Nipa yang waktu itu belum mendapat pengawasan yang ketat, menjadi sasaran aktivitas penambangan pasir ilegal. Hal ini dapat mengerti apabila melihat kedekatan jarak antardua wilayah ini. Selain itu, pasir yang terkandung di Nipa juga memenuhi standar ekspor. Karena itu, ada aktivitas ilegal yang dilakukan oleh tangan-tangan tak bertanggung jawab untuk membawa pasir dari Nipa ke Singapura. Pada awalnya, hanya bagian tengah pulau yang dikeruk. Sehingga kalau dilihat dari atas, bagian tengah ini menyisakan kubangan, seperti danau raksasa. Namun belakangan, aktivitas penambangan ilegal bahkan menjalar ke seluruh pulau, yang nyaris menenggelamkan tapal batas kedaulatan Indonesia di selat ini.
Karena itu, sejak beberapa tahun lalu, pemerintah Indonesia pun mengambil sejumlah tindakan serius untuk menjaga eksistensi Pulau Nipa. Di pulau ini juga ditempatkan sejumlah prajurit TNI untuk berjaga-jaga. Pulau Nipa sendiri merupakan satu bagian dari kawasan perbatasan antara Indonesia dengan Singapura. Singapura sendiri adalah negara pulau, dengan luas sekitar 500 Km persegi. Sampai saat ini, sisi barat dan timur batas laut wilayah Indonesia dan Singapura masih terdapat area yang belum mempunyai perjanjian perbatasan. Di mana wilayah itu merupakan wilayah perbatasan tiga negara, yakni Indonesia, Singapura dan Malaysia.
Nipa sendiri sebenarnya lebih dikenal masyarakat sekitar dengan sebutan Pulau Angup. Penggunaan kata Nipa sendiri sesuai dengan peta Dishidros TNI-AL. Pulau ini masuk wilayah Desa Pemping, Kecamatan Belakangpadang, Kota Batam. Luasnya saat ini sekitar 63 hektar ketika permukaan air laut sedang dalam posisi terendah, atau 58 hektar ketika permukaan air laut berada dalam titik rata-rata, atau 28 hektar saat permukaan air laut berada dalam
titik tertinggi. Koordinat Pulau Nipah 103 39’04.68” - 103 39’ 39.384” BT dan 1 8’ 26.88” - 1 9’ 12.204” LU.29
Secara geologi Pulau Nipa adalah kelanjutan gugusan pulau Batam-Rempang-Galang, khusunya Pulau Pemping, Pulau Kelapa Jerih, dan Pulau Bulan. Secara geograis Pulau Nipah terletak antara Selat Singapura, yang berbatasan langsung dengan Singapura. Pulau Nipa merupakan batas laut antara Indonesia dan Singapura sejak 1973, di mana terdapat Titik Referensi (TR 190) yang menjadi dasar pengukuran dan penentuan media line antara Indonesia dan Singapura. Hilangnya titik referensi ini dikhawatirkan akan meng- geser batas wilayah Indonesia.30
Tahun-tahun belakangan, memang Nipa terus menjadi per- hatian dan mengalami pembangunan pesat. Namun pada Februari 2004, Presiden Megawati Sukarnoputri mengunjungi Nipa dan menanam pohon cemara laut, Pulau Nipah yang hanya tersisa 0,62 hektar saat pasang. Dengan kucuran dana Rp 300 Milyar, reklamasi kembali Pulau Nipa dilakukan di bulan Oktober 2004. Dan setelah lima tahun kemudian, 5 Februari 2009 luas reklamasi telah mencapai 60 hektar. Peran Saka Nasional di Batam dan Pulau Nipah pada 16- 21 Juni 2010 melakukan aktivitas penanaman bakau (mangroove) sebanyak sekitar sepuluh juta pohon.31
Di pulau ini, kini sudah terbangun Pos Satuan Tugas Peng- amanan Korps Marinir TNI Angkatan Laut. Pos luasnya setengah lapangan sepakbola. Pada salah satu bagiannya, terdapat genangan air ketika hujan turun. Fungsi genangan air itu adalah untuk cadangan air untuk mandi dan masak. Maklum, Nipa adalah pulau tanpa sumber air bersih. Karena itu, pilihan untuk menikmati air
29 Data dikutip dari http://info.tnial.mil.id/dispotmar/NewsArticles/Articles/ tabid/224/articleType/ArticleView/articleId/136/12-PULAU-TERLUAR. aspx
30 Ibid.
bersih hanyalah dengan dua cara, memanfaatkan air tadah hujan atau mengambil dari pulau di sekitarnya.
Untuk memanfaatkan air tadah hujan, maka diletakkan tangki penampung di sejumlah tempat. Namun bila dalam waktu lebih dari tiga hari tak ada hujan, maka air pun habis. Dan kalau itu terjadi, maka cadangan air yang kedua dimanfaatkan, yakni yang berbentuk genangan air di tanah tadi.
Jumlah personil TNI yang ditempatkan di pulau ini mencapai sekitar 60 orang. 30 lainnya ditempatkan di Pulau Sambu. Mereka menjalani rotasi tiap enam bulan sekali. Tentu persediaan air men- jadi persoalan tersendiri. Untuk mengatasi persoalan air ini, sebenar- nya bisa memanfaatkan teknologi penyulingan air laut menjadi air tawar. Namun dana operasionalnya besar, karena membutuhkan persediaan solar.
Di tempat ini juga, para tentara memasak dengan menggunakan gas elpiji, atau ada juga yang menggunakan kayu. Kayu diambil dari perairan sekitar, sisa-sisa pembuangan dari kapal. Keterbatasan lain di pulau ini adalah ketersediaan listrik. Andai malam hari kita duduk di luar bangunan dan menatap ke seberang, maka kerlap kerlip jutaan lampu Singapura di antara gedung-gedung ber tingkat- nya, terasa begitu kontras dengan Pulau Nipa. Di Nipa, malam gelap begitu panjang, sementara di seberang sana, lampu Singapura begitu indah dipandang dan menggoda untuk dikunjungi. Memang ada listrik di Pulau Nipa. Listrik ini memanfaatkan teknologi sel surya. Kalau langit terang dan sinar matahari banyak yang tertangkap oleh penampang kecil sel surya itu, maka persediaan listrik bisa mengalir dari pagi sampai sekitar pukul 20.00 WIB. Namun, saat hujan atau mendung, maka kadang lepas maghrib, sudah tidak ada energi yang bisa digunakan untuk menghidupan lampu. Sebenarnya ada mesin pembangkit listrik. Namun karena solarnya mahal, maka mesin itu hanya dioperasikan secara terbatas, yakni dari pukul 20.00 WIB sampai 00.00 WIB.
Memang serba salah juga hidup di Pulau Nipa. Bila kita berdoa agar sepanjang hari panas, agar bisa mendapat pasokan listrik, maka yang terjadi adalah tangki air tadah hujan akan berkurang, atau kering. Sementara bila kita berhadap agar turun hujan sepanjang hari agar persediaan air cukup, maka siap-siaplah untuk menikmati gelap gulita datang lebih cepat di malam hari.
Untuk bisa mengakses Pulau Nipa, tidak ada transportasi umum. Satu-satunya akses yang bisa digunakan secara rutin adalah pompong nelayan. Titik teramai paling dekat adalah Belakang Padang. Dari pulau kecil itu, butuh ratusan ribu rupiah untuk membayar ongkos kapal. Selain itu, karena terlalu dekat dengan Singapura, maka sinyal operator seluler di negara pulau itu lebih dominan di Nipa.
Meski pulau ini relatif kecil, namun pemerintah sendiri sudah punya sejumlah perencanaan pengembangan menjadi kawasan ter- padu di sektor ekonomi dan pertahanan-keamanan. Dari 43,37 hektar luas daratannya, 28,47 hektar akan dikembangkan menjadi kawasan industri jasa maritim di bawah Kementerian Kelautan dan Perikanan. Adapun 15 hektar lagi akan dikembangkan menjadi kawasan pertahanan-keamanan di bawah Kementerian Pertahanan.32
Pembangunan kawasan ini sendiri akan mulai dilakukan pada 2013 nanti. Ada juga perencanaan untuk menggunakan areal seluas 12 hektar untuk bangunan fasilitas labuh kapal. Selain labuh jangkar, juga akan dikembangkan usaha yang berkaitan dengan itu, yaitu pengisian bahan bakar dan penjualan air. Bahan bakar akan dipasok dari Depo Pertamina Pulau Sambu sedangkan air dari Pulau Karimun Besar. Diperkirakan kebutuhan bahan bakar untuk usaha itu sebanyak 6 juta liter. Sedang air bersih sebanyak 2,5 juta liter.33
Gambarannya, kalau itu bisa terwujud, maka Pulau Nipa akan mampu melayani lima kapal berbobot 50 ribu GT. Jelas ini adalah peluang ekonomi yang cukup menjanjikan.
32 Kompas, Kamis, 28 Juli 2011 33 Kompas, Minggu, 3 Juni 2012
Pulau Nipa, adalah pulau yang sering diperbincangkan. Reklamasi pulau telah membuat kawasan ini menjadi cukup luas. Ke depan, pulau ini bakal dikembangkan sebagai kawasan dengan nilai ekonomis tinggi. masuk wilayah Kota Batam. Keterangan: Foto milik Tim Ekspedisi Garis Depan Nusantara/ Lembaga Partisipasi Masyarakat Garis Depan Nusantara.