• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kemampuan perusahaan untuk meraih dan mempertahankan keunggulan bersaing yang berkelanjutan pada abad ke-21 ini sangat ditentukan oleh beberapa faktor penting seperti: analisis yang mendalam terhadap lingkungan pemasaran global, evaluasi yang mendalam terhadap perubahan perilaku konsumen, formulasi strategi bersaing yang efektif dan pentingnya budaya dan desain organisasi.

Menurut Kotabe & Helson (2010:2) globalisasi pemasaran di abad ke-21 dipicu oleh beberapa faktor strategis

dalam lingkungan pemasaran yang telah mengalami perubahan secara fundamental sejak tahun 1980. Beberapa faktor strategis yang telah mengubah arena bersaing pemasaran di era globalisasi ini adalah: (1) kejenuhan pasar domestik, (2) munculnya pasar baru di negara yang perekonomiannya sedang tumbuh dan berkembang (emerging market), (3) persaingan global, (4) revolusi internet dan (5) munculnya perusahaan global. Pertama, kejenuhan pasar domestik di negara-negara industri telah memaksa banyak perusahaan untuk mencari peluang pasar di luar batasan negaranya. Pertumbuhan penduduk dan ekonomi di negara-negara yang sedang berkembang memberikan dorongan bagi perusahaan untuk membuka berbagai cabang di luar negeri. Beberapa perusahaan seperti: Samsung dan Hyundai dari Korea Selatan, atau Cemex dari Mexico telah menyerang ke negara-negara maju di seluruh dunia. Logika sebaliknya juga terjadi pada perusahaan-perusahaan di negara-negara maju yang menyerang pasar di seluruh negara dengan perekonomian yang sedang berkembang. Seperti masuknya Dôme Coffee dari perusahaan raksasa kopi Australia yang membangun kerajaan toko kopi di seluruh kawasan Asia dan Timur Tengah, bersaing dengan Starbuck dari Amerika, telah menciptakan persaingan bisnis yang sangat tajam untuk meraih dominasi pasar.

Kedua, selama abad ke-20 dominasi perdagangan dunia sebagian besar terletak di jalur segi tiga dunia, yaitu: Amerika Utara, Eropa Barat dan Jepang yang secara kolektif

menghasilkan 80% GDP dunia dengan jumlah populasi

hanya 20% dari populasi dunia. Namun, 10 sampai 20 tahun kemudian, peluang pemasaran dunia bergeser ke negara-negara dengan perekonomian yang sedang tumbuh dan berkembang pesat yang meliputi kawasan Asia-Pasifik yang saat ini telah menjadi penggerak ekonomi dunia dan menjadi pusat gravitasi perdagangan dan investasi yang paling menarik di dunia. Negara-negara yang termasuk dalam BRIC (Brasil, Rusia, India dan Cina) akan menjadi pasar sekaligus pesaing baru dalam arena persaingan bisnis dunia. Tingkat pertumbuhan GDP riil Cina 20 tahun yang lalu secara rata-rata berkisar

sebesar 9,5% per tahun, sementara India hanya 5,7% per tahun, saat ini telah meningkat lebih dari 50% dibandingkan GDP riil Amerika yang hanya sebesar 3% per tahun. Indikator ini menunjukkan bahwa milenium ekonomi dunia telah berubah secara signifikan selama dua dekade dan tingkat persaingan usaha yang akan semakin kompetitif yang akan muncul dari negara-negara dengan perekonomian yang sedang tumbuh dan berkembang menggeser jalur segi tiga ekonomi perdagangan dunia.

Ketiga, 30 tahun yang lalu pabrik mobil terbesar di dunia adalah General Motor, Ford dan Chrysler yang menguasai 15% pasar automotif di Amerika Serikat. Saat ini, perusahaan seperti: Toyota, Honda, Hyundai, BMW dan Renault berdiri sebagai pesaing dalam pasar mobil global. Pangsa pasar Toyota saat ini di Amerika Serikat telah mencapai 14% melebihi General Motor dan pada 2008 hasil produksi Toyota di seluruh dunia melebihi General Motor dan menjadi perusahaan pembuat mobil terbesar di dunia. Hal yang sama terjadi dalam industri komputer di mana IBM yang sebelumnya mendominasi pasar PC dunia, kini pasar komputer diramaikan oleh Dell, Hewlett Packard (HP) dari Amerika, Sony dan Toshiba dari Jepang, Samsung dari Korea danAccer dari Asia. Persaingan global telah menggeser pangsa pasar perusahaan-perusahaan yang sebelumnya telah berdiri kokoh di pasar dengan munculnya pendatang baru yang lebih efisien dan lebih hebat memunculkan persaingan hiper kompetisi.

Keempat, perkembangan pesat dunia internet dan e- commerce yang telah mejelajah dunia. Jumlah pengguna internet di seluruh dunia pada 2008 telah mencapai 1,4 milyar orang di seluruh dunia atau meningkat tiga kali lipat dibandingkan pada 2000. Menurut data Internet World Stat, 41,2% pengguna internet berasal dari negara Asia, yang diikuti 24,6% berasal dari Eropa dan 15,7% dari Amerika Utara. Pada saat yang sama, pengguna internet di Asia dan wilayah Caribbean masing-masing tumbuh sebesar 475% dan 861%. Perkembangan dunia internet telah mendorong tumbuh pesatnya perkembangan perdagangan e-commerce dan

mengubah cara-cara orang dalam melakukan bisnis. Business to consumers (B2C) e-commerce dan business to business (B2B) e-commerce meningkat pesat dengan distribusi geografik secara global hampir merata. Meningkatnya kebebasan arus barang dan jasa, modal, orang dan teknologi, dibarengi dengan cepatnya perkembangan teknologi telah berdampak terhadap ledakan global B2B e-commerce. Pangsa pasar negara-negara yang kemungkinan akan menerima ledakan global B2B e-commerce akan bergantung pada beberapa faktor seperti: tingkat pendapatan, ukuran populasi, ketersediaan fasilitas pembiayaan, infrastruktur, telekomunikasi, pajak dan insentif lain dan peraturan pemerintah yang bisa mempengaruhi investasi perusahaan dibidang R&D.

Kelima, perusahaan-perusahaan global juga mendorong sengitnya persaingan global. Persaingan ini paling jelas terlihat dalam industri teknologi informasi. Persaingan antara industri komputer PC antara IBM dengan Toshiba, Sony dari Jepang membuat kedua perusahaan raksasa global ini mengalami penurunan pangsa pasar yang sangat tajam dan daur hidup produk yang lebih pendek dan penurunan tingkat profitabilitas dari masing-masing perusahaan dan membuat masing-masing perusahaan harus mengubah strategi bersaingnya.

Demikian pula dengan industri mobil yang juga mengalami hal yang sama antara Ford, General Motor dari Amerika dengan pesaing dari Jepang dengan Toyota, Nissan dan Honda atau masuknya pesaing industri mobil Eropa seperti Renault, Mercedes dan BMW. Perusahaan raksasa global ini juga menyadari bahwa kompetisi yang keras hanya akan melahirkan strategi win-lose strategy perusahaan global ini mulai menyadari pentingnya melakukan aliansi strategis untuk menciptakan win-win strategy dengan membangun kerja sama yang saling menguntungkan di antara global bisnis, seperti kerja sama perusahaan Sony, Toshiba dari Jepang dengan IBM dari Amerika dalam pembuatan prosesor semikonduktor canggih secara bersama sama. Hal yang sama juga terjadi dalam industri automotif seperti akuisisi strategis 38,6% Renault dari Prancis terhadap saham Nissan Motor dari Jepang

memungkinkan perusahaan ini untuk melakukan kerja sama produksi mobil secara lebih efisien.

Faktor pemasaran penting lainnya yang juga memberi pengaruh sangat signifikan terhadap daya saing dan keunggulan bersaing yang berkelanjutan dalam persaingan usaha pada abad ke- 21 adalah perilaku konsumen, pola perilaku konsumen harus menjadi perhatian serius dari para pemasar di era global ini, karena menentukan besarnya tingkat konsumsi suatu produk. Perilaku konsumen mencerminkan totalitas keputusan konsumen yang berhubungan dengan perolehan, penggunaan dan pembuangan barang, jasa, aktivitas, pengalaman, orang dan gagasan oleh unit yang membuat keputusan. Perilaku konsumen tidak hanya berarti sebagai cara konsumen dalam membeli produk, tetapi juga bagaimana cara konsumen menggunakan jasa, aktivitas, pengalaman dan gagasan untuk memuaskan keinginannya.Menurut Hoyer and MacInnis (2010:5), perilaku konsumen adalah sebuah proses dinamis yang melibatkan banyak orang dengan berbagai keputusan, dengan melibatkan faktor rasa. Memahami cara-cara bagaimana konsumen membeli sangat penting bagi pemasar yang berhubungan

dengan cara memperoleh, menggunakan, dan membuang

produk, karena berpengaruh signifikan terhadap loyalitas konsumen dan keunggulan bersaing yang berkelanjutan bagi perusahaan di masa depan. Perilaku konsumen adalah proses dinamis yang menyangkut rangkaian perolehan, penggunaan dan pembuangan produk bisa terjadi sepanjang waktu: jam, hari, minggu, bulan dan tahun. Sebagai ilustrasi, misalnya sebuah keluarga berkeinginan untuk membeli sebuah produk, maka si pemakai akan memberikan informasi kepada keluarganya apakah produk itu baik, handal dan berkualitas dan tidak merusak lingkungan, maka akan banyak informasi tentang produk tersebut yang harus dipertimbangkan sebelum menentukan keputusan untuk membeli suatu produk. Seluruh pasar didesain di sekitar rangkaian suatu keputusan penggunaan dan penempatan produk oleh konsumen terhadap keputusan perolehan produk oleh konsumen sehingga merupakan suatu rangkaian keputusan yang dinamis.

Perilaku konsumen tidak sepenuhnya mencerminkan tindakan pribadi konsumen tersebut. Kelompok seperti: teman, sahabat dan keluarga bisa mempengaruhi keputusan pembelian, di samping itu individu yang terlibat dalam perilaku konsumen dapat mengambil lebih dari satu peran. Misalnya, pembelian suatu produk bisa melibatkan satu atau lebih keluarga yang berperan sebagai pengumpul informasi dengan melakukan pencarian informasi yang berbeda tentang produk yang diinginkan, sedangkan individu yang lain bisa berfungsi sebagai pemberi pengaruh yang mendorong proses pembelian produk, dan individu lainnya juga bisa berfungsi sebagai pembeli atau juru bayar. Perilaku konsumen sangat dipengaruhi oleh emosi. Beberapa studi empiris (Johnson and Stewart, 2004; Bagozzi et al., 1999) menunjukkan bahwa emosi positif dan negatif, serta emosi tertentu seperti: harapan, takut, penyesalan, rasa bersalah dan rasa malu serta suasana hati bisa mempengaruhi cara bagaimana konsumen berpikir, membuat pilihan, apa yang mereka lakukan setelah membuat keputusan, apa yang mereka ingat, seberapa banyak mereka menikmati pengalaman. Emosi seperti rasa cinta dan kasih sayang, bisa menjelaskan bagaimana kita merasakan kepemilikan suatu produk atau brand tertentu. Konsumen juga sering menggunakan produk untuk mengatur perasaan dan suasana hatinya. Para peneliti juga mempelajari bagaimana emosi karyawan di bagian pelayanan dari lubuk hatinya bisa mempengaruhi emosi konsumen. Para peneliti juga telah mempelajari bagaimana konsumen mengatasi pilihan sulit dan susunan barang dan jasa yang melimpah yang harus dipilih. Bagaimana konsumen menggunakan barang dan jasa untuk mengatasi hal-hal sulit ketika mengalami stress atau perasaan tertekan seperti: terjangkit kanker ganas yang mematikan. Perilaku konsumen tidak saja dipengaruhi oleh bagaimana aktivitas konsumen seperti: membeli, menggunakan dan membuang produk dipengaruhi oleh respons konsumen seperti: mental, emosi dan perilaku yang akhirnya berpengaruh terhadap kinerja bisnis.

Perilaku konsumen memiliki dimensi yang lebih luas dari hanya sekedar aktivitas konsumen yang meliputi: membeli, menggunakan dan membuang produk, tetapi termasuk respons konsumen seperti: respons emosi, mental dan perilaku. Perilaku konsumen dalam dimensi yang lebih luas pada hakikatnya adalah sinergi dari aktivitas konsumen dengan respons konsumen (Kardes et al., 2011:8). Dimensi aktivitas konsumen terdiri dari beberapa faktor yang meliputi, membeli, menggunakan dan membuang produk adalah hal-hal yang perlu mendapatkan perhatian serius dari para pemasar agar perusahaan dapat meningkatkan daya saing perusahaan di pasar, karena pengelompokan aktivitas konsumen berdasarkan jenis aktivitas sangat penting, karena respons konsumen terhadap stimulan bisa berbeda bergantung pada bagaimana mereka membeli, menggunakan dan membuang produk tertentu.

Aktivitas pembelian adalah aktivitas bagaimana konsumen memperoleh barang dan jasa. Aktivitas pembelian juga termasuk segala sesuatu yang dilakukan yang mengarah kepada pembelian barang dan jasa oleh konsumen, seperti mengumpulkan dan mengevaluasi informasi, memilih di mana akan membeli, metode pembelian serta jasa tambahan yang diinginkan. Faktor-faktor unik lain seperti: situasi, suasana, desain, alasan pembelian dan banyaknya waktu yang dibutuhkan untuk membuat keputusan pembelian berpengaruh penting terhadap dorongan aktivitas pembelian konsumen. Aktivitas penggunaan menjelaskan di mana, kapan dan bagaimana konsumen melakukan konsumsi. Sedangkan

aktivitas pembuangan produk adalah cara konsumen

menyingkirkan produk setelah di konsumsi termasuk mencampakkan produk, daur ulang, penggunaan kembali

dan penjualan kembali. Respons konsumen menyangkut

aktivitas psikologis konsumen yang berhubungan dengan cara bagaimana konsumen membuat keputusan pembelian terhadap stimulus pemasaran yang menyangkut faktor-faktor, seperti: respons emosional, mental dan perilaku, berpengaruh penting terhadap perilaku konsumen. Terutama dalam kaitannya

dengan membuat keputusan untuk membeli atau menggunakan produk, sehingga perlu mendapatkan perhatian serius dari pemasar, karena dapat meningkatkan daya saing perusahaan di pasar. Respons emosional sering juga disebut respons afektif, mencerminkan emosi konsumen, perasaan dan suasana hati. Respons mental sering juga disebut respons kognitif, meliputi: proses berpikir konsumen, pendapat, keyakinan, sikap dan keinginan tentang produk. Respons mental bisa bersifat evaluatif karena berhubungan dengan keputusan yang menyangkut pertimbangan nilai. Terakhir adalah respons perilaku yang termasuk keputusan dan tindakan jelas konsumen selama aktivitas pembelian penggunaan dan pembuangan produk.

Fenomena pemasaran menarik lainnya yang menjadi tren pasar pada saat ini adalah masuknya psikologi sosial menjadi salah satu faktor yang berpengaruh penting dalam menentukan perilaku konsumen. Psikologi sosial mampu memberikan penjelasan teoritik yang lebih dalam tentang bagaimana, perilaku, rasa, emosi dan pikiran konsumen dalam situasi sosial tertentu, mempengaruhi keputusan pembelian. Menurut Baron & Branscombe (2012:5), psikologi sosial didefinisikan sebagai the scientific field that seeks to understand the nature and causes of individual behavior, feelings, and thought in sosial situations. Dengan kata lain, sosial psychology investigates the ways in which our thoughts, feelings, and actions are influenced by the sosial environments in which we live—by other people or our thoughts about them. Psikologi sosial terikat secara mendalam dengan nilai-nilai: akurasi, objektivitas, skeptisme dan keterbukaan pikiran dengan menggunakan nilai- nilai tersebut untuk memahami sifat perilaku sosial.

Studi Wânke (2009:7) menunjukkan bahwa beberapa aspek psikologi sosial berhubungan erat dengan stimuli dan perilaku konsumen. Menurut Wânke (2009), keputusan konsumen bisa terjadi di mana-mana. Konsumen membuat keputusan secara terus menurus tanpa memperhatikan ruang dan waktu, bahkan sebagian besar dari keputusan konsumen sehari-hari tidak melibatkan keputusan yang memerlukan logika rumit, melainkan hanya keputusan yang biasa-biasa

saja tanpa melibatkan banyak pertimbangan, misalnya seseorang akan mengikuti fitness atau olah raga sepak bola, menonton film di bioskop dilakukan tanpa membutuhkan pertimbangan dan pemikiran serius. Menjadi peserta BPJS untuk pemeliharaan kesehatan atau memakan makanan menu pelengkap, seperti buah untuk menjaga kebugaran merupakan beberapa contoh bahwa sebagian besar keputusan konsumen sehari-hari adalah keputusan yang hanya biasa-biasa saja, tetapi memiliki konsekuensi penting terhadap konsumsi dan pembelian produk. Di samping itu pula, kebanyakan perilaku konsumen sehari-hari juga tidak membutuhkan keputusan yang disengaja, perilaku tersebut lebih merupakan kebiasaan. Keseharian konsumen sebagian besar diisi dengan keputusan- keputusan kecil yang tak terhitung jumlahnya atau merupakan konsekuensi dari keputusan sebelumnya.

Pilihan konsumen terhadap produk bertujuan untuk mengisi fungsi identitas sosial. Meskipun sebagian besar orang menjadi konsumen bukan menjadi tujuan utama dari identitas dirinya, namun demikian kebanyakan keputusan konsumen terkait dengan relevansi identitas dirinya yang sejauh ini berhubungan dengan sekumpulan nilai dan keyakinan, dan mengungkapkan aspek penting dari ekspresi dirinya. Beberapa contoh nyata dalam kehidupan sehari-hari konsumen, misalnya mengendarai mobil bergengsi super car seperti: Ferari, Lamborghini, Porsche, Mercedes Benz untuk menunjukkan identitas bahwa si pengendara adalah orang berkelas yang secara ekonomis telah mencapai tingkat kemakmuran ekonomi sangat tinggi. Makan vegetarian merefleksikan bahwa konsumen memiliki perhatian terhadap masalah-masalah kesehatan dan gaya hidup (lifestyle). Berlibur di resort mewah di kepulauan Bermuda untuk menunjukkan identitas sosial si pelancong sebagai wisatawan jet set. Contoh-contoh di atas menunjukkan bahwa perilaku konsumen terhadap produk atau brand tidak semata-mata untuk tujuan pemenuhan kebutuhan saja melainkan untuk menjaga aspek identitas diri konsumen tersebut (Olson and Mayo, 2000; Shavitt, 1990). Konsumen juga sering memandang produk sebagai refleksi dari dirinya

dalam arti yang lebih luas (Belk,1988). Misalnya, konsumen mengidentifikasikan dirinya dengan mobil kesayangannya seperti hobi merawat mobil tua seperti Volkswagen, Harley-Davidson Club atau kegemaran dengan mobil baru dengan merek terkenal seperti: Mercedes, BMW, Audi, Toyota dan Honda, atau memelihara binatang seperti: anjing dan kucing sebagai refleksi identitas dan ekspresi diri. Brand, produk dan kebiasaan konsumsi bukan hanya membangun konektivitas sosial tetapi juga sebagai simbol sosial. Pilihan konsumen mempengaruhi persepsi sosial. Merek dan produk tertentu yang dikonsumsi adalah bagian dari ekspresi sosial, tidaklah mengejutkan bahwa orang dinilai berdasarkan merek dan produk yang mereka gunakan. Studi (Shavitt and Nelson, 2000) menunjukkan produk dari fungsi identitas sosial digunakan sebagai dasar untuk menarik kesimpulan tentang sifat kepribadian dari targetnya. Misalnya, pilihan rokok atau makanan yang dikonsumsi semuanya menunjukkan pengaruh kesan sosial. Memakan makanan yang lebih sehat seperti vegetarian dipersepsikan lebih feminin dan secara umum dinilai lebih baik dari pada makan makanan junk food yang dinilai kurang sehat dan berisiko terhadap penyakit jantung (Vartanian, Herman, and Polivy, 2007). Rasa dan emosi (affective) terhadap perilaku konsumen. Konsumsi atau penggunaan barang dan jasa bisa memberikan rasa senang, puas, sedih, frustrasi atau gembira. Misalnya, banyak orang mengungkapkan rasa senang atau puas ketika tim sepak bola kesayangannya menang atau menundukkan lawannya dengan skor telak. Banyak orang sedih dan prihatin ketika menyaksikan di layar televisi serangan teroris mematikan 9 September 2001 terhadap dua menara kembar WTC di Amerika Serikat. Beberapa studi empiris menunjukkan bahwa rasa dan emosi memiliki korelasi yang sangat kuat terhadap perilaku konsumen. Studi (Botti and Iyengar, 2004) menunjukkan bahwa konsumen merasa senang ketika terdapat kebebasan memilih terhadap produk dengan lebih banyak pilihan.

Studi (Huffan & Kahn, 1998), konsumen merasa bingung dengan banyaknya pilihan produk. Studi (Chernev,

2003), konsumen merasa frustrasi terhadap pilihan yang terbatas untuk memenuhi kebutuhan tertentunya. Hubungan konsumen memberikan interaksi sosial yang unik. Kita jarang menciptakan hubungan yang dalam dan bermakna dengan konsumen. Hubungan konsumen memberikan banyak interaksi sosial sepanjang hari, interaksi ini adalah sumber pengalaman emosi. Misalnya, senyum, keramahan, atau keluhan terhadap pelayanan sebuah hotel berbintang terhadap wisatawan yang menginap di hotel adalah beberapa contoh bagaimana interaksi konsumen dapat menciptakan suasana senang, dihormati, dihargai atau bernilai. Tantangan utama dalam mengelola konsumen pada lingkungan pemasaran yang kompleks dan kompetitif di era globalisasi ini adalah penerapan strategi pemasaran yang efektif. Efektivitas strategi pemasaran sangat ditentukan oleh kemampuan manajemen untuk menyesuaikan sekumpulan sumber daya dan kemampuan unik atau kompetensi utama (corek competence) dengan lingkungan pemasaran yang senantiasa berubah. Organisasi berusaha untuk memaksimalkan retur kepada para pemegang saham dengan menciptakan keunggulan bersaing dengan mengidentifikasi memberikan, mengkomunikasikan dan memberikan nilai kepada konsumen atau dalam pengertian yang lebih luas adalah proses membangun hubungan konsumen yang saling memuaskan dengan konsumen (Bradley, 2003:2).

Keunggulan bersaing perusahaan pada dasarnya adalah kemampuan perusahaan untuk mencapai tingkat pengembalian bagi para pemegang saham (return) melebihi rata-rata return dari industri di mana perusahaan tersebut beroperasi. Jika kemampuan untuk memperoleh return abnormal tersebut terjadi secara terus menerus dan berkesinambungan, ketika pesaing tidak mampu melakukannya, maka perusahaan dikatakan telah mencapai tingkat keunggulan bersaing yang berkesinambungan (sustainable competitive advantage).

Perusahaan yang mencapai tingkat keunggulan bersaing yang berkesinambungan akan mampu secara terus menerus memberikan nilai bagi para steakholder: pemegang saham, masyarakat, konsumen, karyawan, kreditur dan supplier. Bagi

konsumen nilai tersebut merujuk kepada besarnya manfaat yang diperoleh dari konsumsi sebuah produk dibandingkan dengan biaya yang dikorbankannya. Dua penjelasan pada tingkat yang paling luas dalam literatur manajemen strategis yang menjelaskan tentang strategi keunggulan bersaing perusahaan yang masih relevan sampai saat ini adalah: (1) model keunggulan bersaing (I/O) Industrial-organisasi yang dikembangkan oleh Porter (1981) yang mendasarkan pada paradigma structure-conduct-performance (SCP) dari studi Bain (1956). (2) Model keunggulan bersaing berbasis sumber daya (resources base) yang dikembangkan oleh Barney (2007) yang mendasarkan model keunggulan bersaing perusahaan didasarkan pada kemampuan perusahaan untuk merespons kebutuhan konsumen secara efektif dan efisien sebagaimana yang dikemukakan oleh Demsetz (1973) dengan penjelasan teoritik yang mengambil teori harga neoklasik (Fross and Knudsen, 2003). Model 5 (lima) kekuatan dari Porter (1981) menjelaskan mengapa beberapa perusahaan secara terus-menerus mampu mencapai keunggulan bersaing, sedangkan perusahaan lainnya tidak mampu meraihnya bahkan sulit untuk bertahan. Berdasarkan model keunggulan bersaing dari Porter (1981), solusi keunggulan bersaing perusahaan ditentukan oleh kemampuan perusahaan dalam menganalisis 5 (lima) kekuatan dalam lingkungan industri, yaitu: (1) kekuatan pemasok, (2) kekuatan penawaran konsumen, (3) ancaman pendatang baru, (4) produk substitusi dan (5) tingkat persaingan yang ada pada saat ini di pasar.

Di samping kemampuan analisis yang akurat terhadap lingkungan industri pemasaran, keunggulan bersaing perusahaan ditentukan oleh ketepatan dalam menerapkan strategi keunggulan bersaing. Porter menganjurkan solusi bersaing dengan 3 (tiga) pilihan strategi untuk menciptakan keunggulan bersaing yang berkelanjutan (sustainable

competitive advantage), yaitu: (1) strategi keunggulan biaya

(cost leadership), (2) Strategi keunggulan dengan diferensiasi (differentiation), (3) strategi fokus. Penjelasan teoritik model ini berfokus pada pengaruh kekuatan pasar (market power)

terhadap kemampuan perusahaan dalam meningkatkan harga jual produk di atas rata-rata pesaing, serta adanya hambatan masuk terhadap pendatang baru diberlakukan kepada konsumen sehingga berdampak terhadap perbedaan kinerja secara terus menerus.

Keberhasilan model keunggulan bersaing yang berkelanjutan dari Poter (1981) sangat ditentukan oleh kemampuan perusahaan secara cermat dalam memformulasikan rantai nilai (value chain) sebagai model bisnisnya. Analisis konfigurasi dari model bisnis rantai nilai ini membagi aktivitas perusahaan ke dalam 2 (dua) kategori aktivitas, yaitu: (1) aktivitas primer yang terdiri atas: logistik ke dalam, operasi, logistik keluar, pemasaran dan pelayanan. (2) aktivitas