• Tidak ada hasil yang ditemukan

Para ahli psikologi budaya memiliki perbendaharaan kata untuk berbicara tentang proses psikologis budaya dan dunia, yaitu bahasa etik dan emik. Etik mengacu kepada proses yang konsisten di sepanjang budaya yang berbeda. Jadi, etik mengacu kepada proses psikologis universal. Emik mengacu kepada proses yang berbeda di sepanjang budaya. Oleh karena itu, emik mengacu kepada proses spesifik budaya. Istilah ini muncul dalam studi bahasa Pike (1954) dengan fonetik yang mengacu kepada aspek bahasa dan perilaku verbal. Etik dan emik ini umum di sepanjang budaya dan fonem yang mengacu kepada aspek bahasa yang khusus pada budaya dan bahasa tertentu. Barry (1969) adalah ahli pertama yang menggunakan konsep bahasa ini untuk menjelaskan aspek perilaku universal lawan aspek perilaku kultural. Jadi, budaya mempengaruhi cara kita berkomunikasi, berpikir dan menyampaikan pendapat, serta menyusun kata-kata dan membuat keputusan.

Implikasi penting budaya linguistik dan efek psikologi yang ditimbulkan dari istilah budaya bahasa etik dan emik bagi pemasaran adalah para pemasar yang mampu berkomunikasi secara efektif terhadap pasar sarannya akan dengan mudah memperoleh akseptasi dari pasar karena bahasa dan pesan produk maupun iklan yang ditampilkan lebih komunikatif dengan pasar sasaran, serta komunikasi pemasaran dengan bahasa budaya bisa menciptakan suasana akrab, sejuk dan cair, sehingga pemasar kemudian bisa menyampaikan informasi keunggulan produknya secara lebih efektif dibandingkan dengan pesaing, sehingga tercipta citra yang lebih kuat di pasar dan positioning produk di benak konsumen dengan lebih baik. Di samping itu juga keuntungan dari hubungan dengan konsumen yang semakin sejuk dan cair akan menghalangi pesaing untuk menguasai pasar karena konsumen bisa berbalik membela perusahaan di pasar dan tindakan ini menciptakan hambatan masuk bagi pesaing yang berdampak terhadap kemampuan dalam mempertahankan keunggulan bersaing yang berkelanjutan. Contoh penggunaan budaya linguistik etik

dan emik dalam layanan iklan radio oleh beberapa sekolah tinggi komputer di Bali, misalnya STIKOM menggunakan iklan berbahasa daerah Bali dengan logat daerah yang kental merangsang persepsi konsumen untuk terus mengingat iklan tersebut dan tak jarang menggunakan pesan iklan tersebut sebagai pesan canda verbal sesama teman mahasiswa. Komunikasi ini berdampak terhadap meluasnya pasar oleh komunikasi verbal serta meningkatnya konsumen potensial yang akan memilih sekolah komputer yang saling bersaing. Contoh lainnya adalah pesan iklan layanan masyarakat di Bali melalui radio dalam rangka menyukseskan program keluarga berencana atau pelestarian lingkungan yang menggunakan bahasa etik dan etik dengan logat kedaerahan yang kental lebih berhasil dalam mengajak masyarakat untuk mengikuti program yang disampaikan oleh pemerintah. Daya tarik budaya linguistik terhadap psikologi konsumen memiliki korelasi yang sangat kuat terhadap aspek kognif dan rasa melalui proses komunikasi pemasaran yang efektif.

Menurut Lancaster& Massingham (2011:235) proses komunikasi pemasaran yang efektif diawali dengan pengirim pesan (sender) yang memiliki makna yang akan dikirim atau dibagi kepada audien yang diinginkan. Untuk melakukan ini, komunikator perlu menulis sandi (encoding) terhadap tanda atau simbol yang menggabungkan pesan atau makna. Tanda atau simbol tersebut bisa dalam bentuk visual (seperti: gambar atau kata-kata) atau oral (seperti: pidato atau suara). Proses sandi (encoding) harus memperhitungkan audien yang diinginkan dan konsisten terhadap audien sasaran agar proses sandi bisa dibaca (decoding) sesuai dengan pesan dan makna yang diinginkan. Selanjutnya, pesan yang dibaca dikirim melalui berbagai saluran media untukmenarik segmen tersebut. Secara konvensional saluran media tersebut meliputi: televisi, radio, internet, koran, majalah dan foster serta armada penjualan perusahaan. Bidang perencanaan penting dalam komunikasi pemasaran adalah perencanaan media (media

planning). Bukan hanya satu media utama dalam anggaran

rencana dan luas cakupannya membuat pilihan terhadap saluran untuk komunikasi pesan menjadi sesuatu yang sangat penting. Penerima adalah audien sasaran yang diinginkan di mana komunikasi ditujukan. Audien ini bisa saja merupakan konsumen nyata atau potensial, namun demikian perusahaan mungkin saja ingin mengkomunikasikan pesan kepada publik seperti: pemerintah, lembaga keuangan, komunitas lokal, dan para pemegang saham.

Komunikasi memerlukan pesan yang ditulis diproses agar bisa dibaca oleh penerima yang diinginkan dan proses

decoding ini memerlukan hasil pada audien sasaran yang

menerima dan menginterpretasikan secara akurat pesan yang pengirim maksudkan. Banyak faktor dapat berfungsi mengurangi akurasi proses decoding. Seperti penerima pesan telah memiliki sikap untuk menetapkan terlebih dahulu pesan yang diinginkan akan mempengaruhi bagaimana mereka menerima pesan. Audien sasaran yang seperti ini cenderung mendengar apa yang ingin mereka dengar dan cenderung tidak memperhatikan pesan atau informasi yang tidak mereka inginkan yang dalam istilah komunikasi disebut dengan

selective perception. Beberapa audien secara tidak sadar

menambah atau menghilangkan makna penting dari pesan ketika terjadi proses penerjemahan pesan atau decoding proses dalam istilah komunikasi hal ini disebut dengan distorsi.

Selective perception dan distorsi dalam konsep

komunikasi sering juga disebut gangguan atau noise yang adalah segala sesuatu yang berfungsi untuk mengurangi kualitas dari komunikasi yang terjadi. Sumber utama gangguan atau noise dalam komunikasi pemasaran adalah pesan yang diperkenalkan oleh pengirim lainnya. Misalnya, kita sering dibombardir dengan pesan dari pemasar yang meminta perhatian dan daya beli kita merupakan salah satu gangguan utama terhadap kualitas komunikasi. Iklan komersial saat jeda dalam acara di televisi merupakan gangguan terhadap kualitas komunikasi yang membuat pemirsa terkadang mengalihkan informasi ke saluran televisi lainnya. Agar sukses dalam komunikasi pemasaran, maka pemasar harus memahami

dengan baik proses komunikasi pemasaran yang efektif. Agar komunikasi pemasaran efektif, pengirim pesan harus memahami pasar sasaran di mana komunikasi pesan ditujukan, dengan menggunakan pendekatan psikologi budaya linguistik yang baik melalu alat komunikasi budaya etik dan emik pesan komunikasi yang ingin disampaikan akan lebih mudah diterima oleh pasar sasaran dan tujuan dari komunikasi tersebut kepada pasar sasaran menjadi lebih efektif dan efisien.

KEPUASAN KONSUMEN DAN