• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pembahasan

Dalam dokumen Asesmen terhadap Pendidikan dan Pelatiha (Halaman 151-174)

BAB V : PENUTUP

A. Pembahasan

1. POLA ISI/MUATAN PADA HASIL ANALISIS DESKRIPTIF

Untuk merangkum hasil analisis deskriptif sebagaimana terpapar pada tabel 9, 10,

11 dan 12; digunakan prosedur manajemen data yang disebut OLAP (Online Analytical

Processing) Cubes. Melalui OLAP dikalkulasikan total, mean, dan statistik univariat untuk

ringkasan variabel sinambung (ke-38 konsep yang diambil dari keempat coding sheet)

dalam kategori variabel tertentu,

35

yang dalam hal ini adalah variabel Jenis Dokumen.

Hasilnya dapat dilihat pada Tabel 37 berikut:

Tabel 37

Hasil Kalkulasi OLAP Terhadap Ke- 38 Konsep Pada Keempat Coding Sheet

Yang Sudah Dikategorikan Menurut Jenis Dokumen

Coding

Sheet Sum N Mean

Std. Deviation % of Total Sum % of Total N SI STEMATI KA I I I 263 110 2.39 1.150 100.0% 100.0% DELIVERY PLATFORM I V 265 110 2.41 1.168 100.0% 100.0% LEARNING SEQUENCE I V 266 110 2.42 1.144 100.0% 100.0%

BERSI KAP KONSI STEN I I I 267 110 2.43 .990 100.0% 100.0%

BERSI KAP

I NDEPENDEN I 269 110 2.45 1.122 100.0% 100.0%

35

Coding

Sheet Sum N Mean

Std. Deviation % of Total Sum % of Total N

NTI LES of DI L_EFI I V 270 110 2.45 1.089 100.0% 100.0%

NTI LES of ACC_TRN I 269 110 2.45 1.162 100.0% 100.0%

NTI LES of SUMBER I I 269 110 2.45 1.080 100.0% 100.0%

NTI LES of FOKUS I V 270 110 2.45 1.081 100.0% 100.0%

NTI LES of KONTEK I V 272 110 2.47 1.186 100.0% 100.0%

NTI LES of W_I MPLI I V 272 110 2.47 1.155 100.0% 100.0%

NTI LES of S_I NDEP I 273 110 2.48 1.123 100.0% 100.0%

NTI LES of OCCUR I V 273 110 2.48 1.011 100.0% 100.0%

NTI LES of R_4_LAW I 274 110 2.49 1.123 100.0% 100.0%

NTI LES of FAI RNE I 274 110 2.49 1.171 100.0% 100.0%

Coding

Sheet Sum N Mean

Std. Deviation % of Total Sum % of Total N

NTI LES of APROC I V 274 110 2.49 1.029 100.0% 100.0%

NTI LES of R_4_PERS I 275 110 2.50 1.147 100.0% 100.0%

NTI LES of I NSTRUK I I 275 110 2.50 1.056 100.0% 100.0%

NTI LES of SKERJA I I 275 110 2.50 1.147 100.0% 100.0%

NTI LES of TUNTUT I I 276 110 2.51 1.123 100.0% 100.0%

NTI LES of DE_TI M I V 276 110 2.51 1.107 100.0% 100.0%

NTI LES of KEBUT I I 277 110 2.52 1.123 100.0% 100.0%

NTI LES of PE_DETER I V 278 110 2.53 1.029 100.0% 100.0%

NTI LES of PROFESI O I I I 279 110 2.54 1.098 100.0% 100.0%

NTI LES of JABARAN I I 281 110 2.55 1.146 100.0% 100.0%

Coding

Sheet Sum N Mean

Std. Deviation % of Total Sum % of Total N

NTI LES of BAI S I V 280 110 2.55 1.072 100.0% 100.0%

NTI LES of LI _DETER I V 280 110 2.55 1.072 100.0% 100.0%

NTI LES of KETI K I I 282 110 2.56 1.162 100.0% 100.0%

NTI LES of R_TRHEAD I 284 110 2.58 1.078 100.0% 100.0%

NTI LES of KONMAS I I 284 110 2.58 1.078 100.0% 100.0%

NTI LES of P_DEPEN I V 284 110 2.58 1.136 100.0% 100.0%

NTI LES of S_ADI L I I I 285 110 2.59 1.183 100.0% 100.0%

NTI LES of DE_LOC I V 286 110 2.60 1.102 100.0% 100.0%

NTI LES of I NTEGRT I I I 287 110 2.61 1.076 100.0% 100.0%

NTI LES of LAYAN I I I 287 110 2.61 1.166 100.0% 100.0%

Dengan border line pada mean dari dua konsep, yakni Bersikap Independen pada

coding sheet III dan Occurance pada coding sheet IV, Tabel 37 menunjukkan secara

jelas, dari 38 prinsip terdapat hanya 11 prinsip yang dapat dipenuhi secara memadai

hingga sangat memadai; yakni:

a. independece, accountability and transparancy, dan diligences and efficiency pada

coding sheet I,

b.

Kredibilitas Sumber dan Sistematika pada coding sheet II ,

c.

Bersikap Konsisten pada coding sheet I II; dan

d.

Delivery Platform, Learning Sequence, Focus, Context Dependence, dan Workplace

Implications pada coding sheet IV.

Sisinya, yaitu sekitar 65,8% dari kriteria, yang terdiri dari 25 dimensi dapat

dikatakan belum/ atau tidak terpenuhi pada kesemua bahan yang dianalisis. Dengan

demikian baru 34,2% persyaratan terpenuhi.

2. MUATAN PRINSIP-PRINSIP ANTAR JENIS DOKUMEN

a. Respect for The Law

Muatan prinsip Respect for The Law sama-sama tidak diberi tekanan di hampir semua

jenis dokumen. Terkesan kuat adanya sikap ortodoks yang cenderung menempatkan

pernyataan hukum positif sebagai suatu “menara gading” yang kedap untuk dijamah.

Hampir semua dokumen berada pada posisi yang “aman” dan jauh dari risiko untuk

dipersoalkan. Nampaknya hanya para pemegang otoritas yang berkepentingan dengan

implementasi kebijakan sajalah yang berupaya untuk menyentuh, sebagaimana terjadi

pada dokumen Konsinyering.

b. Fairness

Muatan dimensi Fairness memiliki tingkatan berbeda antara yang terdapat pada Makalah

Peserta dan Notulensi. Meski terkesan kadar muatannya rendah, pada Makalah Peserta

terjadi tarik-ulur pandangan di antara pemakalah sehingga tidak muncul satu gambaran

yang homogen apalagi seragam. Sebaliknya, pada notulensi muatan dimensi ini relatif

tinggi; pun disertai dengan tingkat disputasi yang rendah. Artinya, relatif terdapat

kesepakatan perihal pentingnya dimensi ini.

c. I ndependence

Prinsip

independence lebih terkesan sebagai diskursus di antara para pakar hukum

seturut dengan kompetensi dan profisiensi mereka dalam substansi hukum. Persoalan

independence institusional dijadikan sorotan utama di kalangan para pakar, sehingga

terjadi pemaknaan yang bervariasi di antara para pengajar. Terkesan di sini, seolah

“hukum memang bersifat langitan”. Kesulitan muncul manakala para akademisi berusaha

menerjemahkan pernyataan-pernyataan hukum ke dalam bahan ajar. Yang kemudian

terjadi tidak saja kesulitan menerjemahkan, tetapi juga kemunculan multi-interpretasi di

kalangan akademisi.

d. Respect For Persons

Dari notulensi, penghormatan (hak) pribadi menjadi sumbu perdebatan yang

menghadap-hadapkan antara kalangan pakar, di satu pihak; dan para peserta forum

dengar pendapat, di pihak lain. Pada dokumen Makalah Pembicara, selain relatif kurang

ada perhatian tentang Respect For Persons, juga tidak terdapat variasi kadar isi. Ini

menunjukkan, pada dokumen Makalah Pembicara tidak cukup porsi yang memberikan

tempat bagi muatan prinsip ini. Hal yang sebaliknya terjadi pada dokumen lain, utamanya

Notulensi.

e. Diligence- Efficiency dan I ntegrity

Ikhwal pengurusan atau penyelenggaraan yang tertib dan tidak saling tumpang tindih

dan integritas lebih menjadi concern forum dibandingkan para pemakalah. Di sini tesis

yang teoritik-deduktif berhadapan dengan antitesis yang lebih empirik-induktif dari

kalangan peserta forum dengar pendapat.

f. Accountability & Transparency

Konfigurasi ini sungguh menarik bahkan relevan sebagai masukan penting bagi

pendidikan jaksa, sebab nampak betapa senjang antara bahan yang diajarkan di kelas

dan yang dihayati dan disaksikan para peserta didik di lapangan.

g. Responsibility Of Tribunal Head

Evidensi yang didasarkan pada data lebih menggambarkan kaitan antara anggapan

tentang kehidupan korp kejaksaan dan kenyataan di lapangan. Bahan ajar cenderung

aksiomatik-deduktif manakala dikontraskan dengan hasil penelitian atau studi empiris.

Boleh jadi jika bahan ajar diaksentuasi dengan keterampilan olah logika, maka ia akan

lebih kontributif bagi peningkatan Bahan Ajar.

h. Tujuan I nstruksional

Koherensi antara maksud dan tujuan, utamanya pada cara pencapaiannya, lebih

tergambar pada laporan penelitian dibandingkan makalah peserta. Simposium yang me-

release hasil penelitian dalam bidang hukum agaknya lebih banyak berbicara bagi upaya

penyadaran dari pada makalah-makalah yang cenderung deduktif.

i. Keterjabaran

Jalinan fakta-opini yang membangun argumentasi lebih terintegrasi pada bentuk-bentuk

legal statement dari pada bentuk-bentuk gagasan yang dikerucutkan sebagai tanggapan

atas tema yang dicanangkan. Di sini Surat Keputusan/ Juklak dengan segala rujukannya

lebih mengandung penjabaran dibandingkan makalah peserta.

j. Relevansi Dengan Kebutuhan Peserta Didik, Kesesuaian Dengan Kondisi

Masyarakat, Kandungan Etik, dan Sistematika

Relevansi ini berkait erat dengan kepiawaian mengemas gagasan ke dalam metode

penyampaian. Penguasaan academic writing menjadi hal penting yang dapat

direkomendasikan sebagai masukan dalam pendidikan profesi jaksa. Penyampaian

gagasan ini juga perlu dikontekstualisasikan sesuai kondisi masyarakat dan kandungan

etik, pun harus dikemas ke dalam sistematika yang memadai. Mengaitkan ketiganya,

penguasaan academic writing menjadi prasyarat yang sangat menunjang profesi jaksa.

k. Kredibilitas Sumber

Risiko yang besar jika tidak kredibel lebih berlaku pada SK/ Juklak dari pada makalah

peserta. Namun justru di sini masalahnya. Sebab tidaklah mungkin kualitas produk

hukum pada posisi hilir, sebagaimana halnya SK/ Juklak, dapat dijamin tanpa

menyertakan produk hukum pada posisi hulu yang berlangsung selama masa pendidikan

profesi. Profesionalitas jaksa diharapkan tidak semata dilandaskan pada kinerja sebagai

user atas produk hukum yang ada, tetapi hendaknya juga kompeten untuk mengolah

produk atau bahkan menciptakan produk melalui, misal, judicial reviews.

l. Kompetensi Melakukan Tuntutan dan Kompetensi Melakukan Pelayanan

Publik

Hal ini sangat relevan dengan kebutuhan pendidikan jaksa sebagaimana dikemas dalam

Bahan Ajar. Kompetensi melakukan tuntutan dan melakukan layanan publik semestinya

diperdalam dan diberi porsi yang lebih besar mengingat relevansinya dengan

pembentukan kompetensi. Yang justru menarik dikupas, khususnya pada kompetensi

melakukan layanan publik, ialah bahwa kompetensi ini tidak mendapatkan porsi yang

memadai pada Bahan Ajar. Eksplorasi bahan sebagaimana dilakukan dalam dialog yang

direkam dalam Notulen hendaknya ditindaklanjuti dengan memformulasikan ke dalam

bahan Ajar.

m. Kompetensi Profesional

Terdapat perbedaan antara muatan pemahaman tentang profesionalitas pada para pakar

senior yang sudah “terbukti profesional karena senioritasnya”, di satu pihak; dan data

hasil penelitian, di pihak lain. Besaran standard of deviation yang sama-sama 0 pada

kedua jenis dokumen menunjukkan komonalitas muatan, sehingga justru kian

mempertegas kongklusi tentang perbedaan di antara keduanya.

n. Kemampuan Menerapkan Standar Kerja

Sebenarnya standard of operation procedure (SOP) sudah memadai. Mean yang relatif

tinggi (29,13) pada Surat Keputusan/ Juklak menegaskan sinyalemen ini; meski harus

tetap diingat bahwa nilai standard of deviation di sini relatif besar. Artinya tidak semua

Surat Keputusan/ Juklak berlaku sebagai SOP. Namun, perbandingan mean Surat

Keputusan/ Juklak dan Makalah Peserta lebih tepat dibaca bahwa masalah substansial

terletak pada bagaimana mengimplementasikan SOP ke dalam praktik.

o. Kemampuan Kerjasama Dengan Semua Elemen Peradilan

Ikhwal ini –kemampuan bekerjasama dengan elemen-elemen peradilan lain-- sama-

sama tidak didalami (mean= 25.25). Artinya, ikhwal ini masih merupakan daerah

permasalahan yang tak disentuh, tak bertuan, atau enggan dibicarakan karena berisiko

tinggi. Disputasi tentang pembagian kekuasaan negara barangkali menjadi akar

masalahnya.

p. Meningkatkan Kepercayaan Masyarakat, Bersikap Konsisten, Bersikap

Adil, dan Bersikap I ndependen

Agenda pembicaraan yang dipesankan kepada para pemakalah agaknya bergeser dalam

realisasinya di forum. Karena kesenjangan, selain pengayaan yang dimunculkan, forum

dialog semacam ini menjadi sangat penting dan perlu ditingkatkan frekuensinya. Hal ini

diperlukan khususnya berkait dengan persoalan “Meningkatkan Kepercayaan

Masyarakat“, “Bersikap Konsisten“, “Bersikap Adil“, dan “Bersikap Independen“.

q. Purpose

Kontras kadar muatan Purpose antara Makalah Peserta dan Makalah Pembicara

menunjukkan perbedaan tingkat ketajaman dalam sasaran dan bagaimana cara

merealisasikan. Makalah Pembicara lebih relevan dengan tema dibandingkan dengan

Makalah Peserta.

r. Approach

Masalah “pendekatan” atau Approach menjadi soal yang lebih muncul dalam dialog

dibanding pada teks makalah. Dalam dialog (Notulen) muatan pendekatan lebih

akomodatif dibandingkan dengan muatan pendekatan dalam makalah.

s. Occurrence

Keberpijakan pada data yang lebih kontekstual dan relevan dengan kehidupan sehari-hari

nampak lebih mengena dan menggugah dibandingkan dengan pendapat-pendapat yang

aksiomatik-deduktif. Hal ini muncul ketika dibuat perbandingan antara muatan pada

dokumen Notulensi dan Laporan Penelitian, di satu pihak; dan Makalah Peserta, di pihak

lain.

t. Focus

Bahwa

Focus pada Laporan Penelitian lebih intensif dibandingkan Bahan Ajar perlu

dipertanyakan. Semestinya, karena menyangkut peserta didik, bahan ajar hendaknya

lebih fokus. Faktanya, yang terjadi adalah sebaliknya.

u. Basis

Orientasi basis lebih jelas muncul pada dokumen Laporan Penelitian dibanding Makalah

Peserta. Persoalan bagaimana mempertautkan antara data dan asumsi menjadi hal yang

penting untuk diperhatikan kalau yang hendak dicapai adalah efektivitas.

v. Learning Sequence dan Delivery Platform

Persoalan tindak lanjut menjadi hal krusial. Banyak pembicaraan yang kadang tidak perlu

didengar, tetapi banyak dibutuhkan dialog untuk saling mendengarkan. Hal ini, selain

berfungsi mempertautkan orientasi, juga membentuk platform

bersama. Dari sini

ditunjukkan, bibit-bibit gagasan yang tercatat dalam notulensi nampaknya lebih

menggugah ke arah proses pembelajaran profesi dibandingkan dengan yang terdapat

dalam Makalah Peserta.

w . Learning I nitiative Determinant dan Context

Perbandingan muatan tentang sejauh mana telah terjadi learning initiative determinant

menunjukkan bahwa langkah yang lebih operasional menjadi hal yang seharusnya lebih

serius diberi tekanan dalam kaitan dengan kerangka pendidikan. Demikian pula,

kontekstualisasi materi. Memunculkan berbagai gagasan tanpa tindak lanjut mungkin

malahan akan memandegkan semua upaya kepedidikan. Praktik dan learning by doing

menjadi hal lebih penting sehubungan dengan corak pendidikan profesi ini.

x. Person Dependency dan Delivery Location

Kontras dalam hal person dependency dan delivery location menunjukkan, kepakaran

menjadi penting berkait dengan adagium the right man on the right place. Hal ini tidak

hanya menyangkut kompetensi, tetapi juga justifikasi tempat di mana proses pendidikan

dikerjakan/ berlangsung. Artinya, pertanyaan tentang siapa yang menggagas menjadi hal

penting terkait dengan upaya kependidikan. Di sini, peneladanan dan modelling menjadi

faktor penting untuk dijadikan pertimbangan.

y. Delivery Time dan Performance Determinants

Penyelenggaraan forum dan pendalaman data menjadi soal yang serius. Jadi, bukan

forum yang asal mengundang banyak orang, tetapi yang memungkinkan terjadinya

dialog yang tulus, pun menyangkut persoalan praktikalitas dan kinerja.

z. Workforce I mplications

Keterkaitan pendidikan yang ditempuh dan kinerja serta kiprah di masa depan perlu lebih

didukung dengan data. Aganda masa depan bukan pengulangan atau replikasi masa lalu.

Oleh sebab itu bacaan terhadap trends menjadi hal yang lebih penting dibandingkan

dengan pengulangan atas kebiasaan yang sedang berjalan.

3. TEMUAN

a. Beberapa Prediktor dari Misi Bersikap I ndependen, Adil dan Konsisten

Proporsi sebesar 69% dari misi BERSIKAP KONSISTEN dapat diprediksikan

dengan visi KOMPETENSI MELAKUKAN PELAYANAN PUBLIK, dan KOMPETENSI

MELAKUKAN TUNTUTAN. Jadi, untuk bersikap konsisten, yang seharusnya diupayakan

selama proses pendidikan profesi adalah pembentukan kompetensi melakukan pelayanan

publik dan melakukan tuntutan. Sedangkan proporsi 69,5% dari misi BERSIKAP ADIL

dapat diprediksikan dari visi KOMPETENSI MELAKUKAN PELAYANAN PUBLIK. Dengan

memunculkan kompetensi melakukan pelayanan publik selama proses pendidikan, maka

para jaksa diharapkan dapat lebih mampu bersikap adil. Sementara itu, terdapat 63,6%

dari misi BERSIKAP INDEPENDEN dapat diprediksikan dengan visi KOMPETENSI

MENI NGKATKAN KEPERCAYAAN MASYARAKAT, dan KEMAMPUAN MENERAPKAN

STANDAR KERJA. Dengan demikian, dengan catatan bahwa para jaksa mampu

meningkatkan kompetensi membangun kepercayaan masyarakat dan menerapkan

standar kerja, niscaya mereka lebih dipersiapkan untuk memiliki kemampuan bersikap

independen.

Prediktor-prediktor atas misi Bersikap Independen, Adil, dan Konsisten memiliki

karakteristik generik yang melingkupi hampir semua tindakan peran atau artificial person

sebagaimana terjadi manakala seseorang berada dalam sebuah korporasi, di mana

terdapat tiga kelas umum dari tindakan, yakni: legislation, judication, dan execution.

Yang dimaksud ialah kreasi kebijakan atau status (untuk legislation), kreasi proses yang

dirancang untuk menguatkan kebijakan dan status (untuk judication), dan penguatan

kebijakan dan status melalui penunjukan seorang menjadi sosok mercenary agent, officer

atau pelaku tindakan sehubungan dengan kepentingan korporasi (execution). Setiap

tindakan koorporasi melibatkan liabilitas yang saling terpisah, sehingga setiap tindakan

harus dipastikan benar-benar terpisah. Sementara derajat dari setiap tindakan perlu diikat

ke dalam seperangkat kebijakan yang mengikat karakter dari setiap kelas tindakan untuk

mencegah terjadinya ketumpang-tindihan dan kerusakan sistem.

Ikatan di sini menjadi jaminan dari keterlaksanaan jabatan terhadap

kemungkinan pengrusakan baik terhadap integritas pribadi pelakunya maupun properti.

Ikatan ini diterapkan baik ke dalam konsepsi jabatan, ke dalam takaran tentang produk

dari jabatan sehingga setiap langkah atau tahapan senantiasa dapat

dipertanggungjawabkan secara hukum yang meliputi:

i.

konsepsi atau legislasi dari status,

ii.

penguatan atau enforcement dari status, dan

iii.

setiap proses yang berlangsung di antara legislasi dan penguatan (enforcement).

Ikatan tidak diberlakukan pada korporasinya karena akan mengakibatkan efek

gambling terkait dengan perilaku yang akan diproduksi oleh para pelaku/ pejabat. Secara

matematik, pengikatan pada satu status, proses enforcement atau pelaku/ pejabat tidak

mungkin saling ditransfer atau dipertukarkan; sementara kebijakan yang menggerakkan

seluruh sistem dapat ditransfer ke antar subsistem. Dalam peri bahasa, ”the bet on one

horse in a race is transferable to another horse in that race”.

Kiranya jelas dari pembahasan ini, komposisi prediktor-prediktor atas misi

Bersikap Independen, Adil, dan Konsisten menyiratkan kritik yang tajam terhadap fakta,

misalnya, bahwa secara institusional kejaksaan berada di bawah payung eksekutif.

36

Nampak di sini institusionalisasi korporasi di bawah korporasi lainnya (dalam contoh:

kejaksaan sebagai salah satu kementerian dari lembaga eksekutif presiden) sama sekali

tidak menjawab persoalan efisiensi dan efektivitas kelembagaan. Yang terjadi justru

sebaliknya: dependensi, ketidakadilan, dan inkonsistensi. Yang dibutuhkan bukan

subordinasi kelembagaan tetapi penciptaan kebijakan yang menjamin terbentuknya

tindakan yang independen, adil, dan konsisten.

b. Pengaruh Prinsip- Prinsip Penegakan Hukum terhadap Ketiga Misi

Kejaksaan

i.

Satu-satunya prediktor dari misi ”bersikap independen” adalah prinsip independence.

Artinya, peningkatan prinsip independence menjadi hal yang harus dipenuhi agar

para jaksa mampu bersikap independen.

ii.

Dua prediktor dari misi “bersikap adil” adalah prinsip independence dan prinsip

rensponsibility of tribunal head. Artinya, kemampuan bersikap adil dapat dibentuk

dengan cara meningkatkan pemahaman tentang prinsip independence

dan

tanggungjawab pada nama baik korp kejaksaan.

iii.

Tiga prediktor dari visi “bersikap konsisten” adalah prinsip independence, prinsip

diligence and efficiency,

dan prinsip responsibility of tribunal head. Jadi, konsisten

tidaknya seorang jaksa sangat bergantung pada pendalaman prinsip independensi,

ketertiban dan efisiensi dan nama baik korpnya.

c. Pengaruh Prinsip- Prinsip Penegakan Hukum terhadap Keenam Visi

Kejaksaan

i.

Dua prediktor dari visi “Kompetensi Melakukan Tuntutan” adalah prinsip

independence dan prinsip diligence and efficiency.

ii.

Dua prediktor dari visi “Kompetensi Melakukan Pelayanan Publik” adalah prinsip

fairness dan prinsip rensponsibility of tribunal head.

iii.

Dua prediktor dari visi “Kompetensi Profesional” adalah prinsip independence dan

prinsip rensponsibility of tribunal head.

36

iv.

Tiga prediktor dari visi “Kemampuan Menerapkan Standar Kerja” adalah prinsip

fairness,diligence and efficiency dan prinsip responsibiility of tribunal head.

v.

Dua prediktor dari visi “Kemampuan Kerjasama Dengan Semua Elemen Peradilan”

adalah prinsip independence dan diligence and efficiency.

vi.

Satu-satunya prediktor dari visi “Meningkatkan Kepercayaan Masyarakat” adalah

prinsip rensponsibility of tribunal head.

d. Rangkuman Prediktor dan Kriteria Substansi Kejaksaan

Pada Tabel 38 berikut ter-rangkum kesembilan kriteria dari substansi kejaksaan

sebagaimana direpresentasikan pada coding sheet II I berikut prediktornya. Berangkat

dari sini dapat dijelajah beberapa butir bahasan sebagai berikut:

Tabel 38

Kedelapan Kiteria Kejaksaan beserta Prediktornya

NO PREDI KTOR KRI TERI A

1 Prinsip I ndependence

2 Prinsip Rensponsibility Of Tribunal Head

Bersikap Adil

1 Prinsip I ndependence Bersikap I ndependen

1 Prinsip I ndependence 2 Prinsip Diligence And Efficiency

3 Prinsip Rensponsibility Of Tribunal Head

Bersikap Konsisten

1 Prinsip I ndependence 2 Prinsip Diligence And Efficiency

Kemampuan Kerjasama Dengan Semua Elemen Peradilan

1 Prinsip Fairness

2 Prinsip Diligence And Efficiency

3 Prinsip Rensponsibility Of Tribunal Head

Kemampuan Menerapkan Standar Kerja

1 Prinsip Fairness

2 Prinsip Rensponsibility Of Tribunal Head

Kompetensi Melakukan Layanan Publik 1 Prinsip I ndependence

2 Prinsip Diligence And Efficiency

Kompetensi Melakukan Tuntutan 1 Prinsip I ndependence

2 Prinsip Rensponsibility Of Tribunal Head

Kompetensi Profesional

1 Prinsip Rensponsibility Of Tribunal Head Meningkatkan Kepercayaan Masyarakat

Terkait dengan bahasan tentang kaitan antara “bersikap independen, adil, dan

konsisten” dengan prinsip Independence, Rensponsibility Of Tribunal Head, di satu pihak,

dan

Diligence And Efficiency pada sosok jaksa; tidaklah mudah untuk

mengkontekstualisasikan ke dalam makna organisasi, kecuali membatasi pengertian

organisasi sebagai construct dan konsep. Organisasi bukanlah konsep, tetapi construct.

Sebagai construct, organisasi adalah resonansi simbolik yang mempertautkan sekian

banyak karakter psikologik dari para anggota. Pengalaman individu tentang organisasinya

dibentuk berdasar keinginan dan fantasi sehingga faktor yang sebenarnya berperan

dalam pemaknaan mereka tentang organisasi ialah emosi mereka, seperti: loyalitas,

komitmen, tanggungjawab, kebanggan, ketakutan, kontemplasi dan kebencian. Setiap

karakter, dalam bahasan ini personil jaksa, merepresentasikan variasi pengalaman

tentang organisasi di mana ia menjadi anggotanya:

37

a)

Karakter narcissistic cenderung menggagas organisasi sebagai kebersamaan sehingga

organisasi dipahami sebagai koleksi individu yang menyediakan orang-orang

apresiasif. Prinsip Rensponsibility Of Tribunal Head sulit direalisasikan karena mereka

sulit untuk mengakomodasikan diri ke dalam organisasi, cenderung impulsif, tidak

berdisiplin, dan tidak dapat diprediksikan. Hal ini menggambarkan tentang aplikasi

dari prinsip

b)

Karakter yang obsesif, di pihak lain, menunjukkan unsur-unsur, seperti: lebih

birokratis, lebih impersonal dan terstandardisasi, lebih suka mengeliminasi hal-hal tak

terduga dengan cara-cara yang prosedural. Kemampuan bersikap independen, adil,

dan konsisten tidak dapat termanifestasikan pada karakter yang rendah dalam prinsip

Independence, Rensponsibility Of Tribunal Head, tetapi ekstrim pada prinsip Diligence

And Efficiency ini.

c)

Sementara itu, karakter konformist cenderung mengidealisasikan organisasi dan diri

mereka sendiri dengan organisasi serta menekan perbedaan antara diri mereka dan

individualitas mereka dengan organisasi. Biasanya mereka rendah dalam prinsip

Independence dan Diligence And Efficiency, tetapi tinggi dalam Rensponsibility Of

Tribunal Head. Biasanya mereka adalah pemain tim, mau berkorban, meski kadang

bertindak irasional dan immoral ketika berada di tengah kerumunan.

d)

Para “heroic individualists” cenderung mendekati organisasi sebagai sarana untuk

mendapatkan kehormatan, prestasi, dan kemenangan. Biasanya mereka ekstrim

tinggi dalam prinsip Independence dan Diligence And Efficiency, tetapi rendah dalam

Rensponsibility Of Tribunal Head. Mereka mau berkorban sejauh hal itu berakibat

pada popularitas dan nama baik. Mereka umumnya adalah pencari kecemerlangan

dan keberbedaan (keunikan) dibanding dengan orang/ anggota lain.

37

Yiannis Gabriel dan Howard S. Schwartz, “Organizations, from concepts to constructs: Psychoanalytic theories of character and the meaning of organization”. Diakses 6/ 9/ 05 pada Online Documents: http: / / www.sba.oakland.edu/ ispso/ html/ 1998GabrielSchwartz.htm.

e)

Sedang karakter “civic individualists” adalah mereka yang mengalami organisasi

sebagai suatu komunitas normatif, yang melegitimasikan pluralitas kepentingan dan

pandangan. Mereka mengadopsi model-model warga yang memberikan sumbangan

terhadap kesejahteraan bukan karena mereka harus melakukan, tetapi karena

Dalam dokumen Asesmen terhadap Pendidikan dan Pelatiha (Halaman 151-174)