BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.3 Pembahasan
Berdasarkan hasil analisis elemen pokok dan elemen pelengkap wacana argumentasi dalam artikel opini harian Tribun Jogja di atas, ketiga elemen pokok
wacana argumentasi ditemukan dalam setiap wacana, sedangkan untuk ketiga elemen pelengkap wacana argumentasi, diketahui bahwa tidak semua elemen wacana argumentasi ditemukan dalam setiap wacana. Penentuan elemen pokok dan elemen pelengkap wacana argumentasi tersebut digolongkan berdasarkan kesamaan sifat dan perannya dalam pembentukan wacana argumentasi serta berdasarkan kriteria tertentu yang dimiliki masing-masing elemen. Deskripsi mengenai keberadaan elemen pokok dan elemen pelengkap wacana argumentasi dalam artikel opini harian Tribun Jogja akan dibahas sebagai berikut.
4.3.1 Analisis Elemen Pokok Wacana Argumentasi
Elemen pokok yang ditemukan dalam artikel opini harian Tribun Jogja sebagai sumber data mencakup 3 elemen, yaitu (1) elemen pernyataan (sesuatu yang diyakini kebenarannya oleh penutur dan dikemukakan kepada mitra tutur agar dapat diterima dengan alasan-alasan mendasar yang dapat dibuktikan), (2) elemen alasan (bukti-bukti yang bersifat khusus yang diperlukan untuk mendukung pernyataan), dan (3) elemen pembenaran (pernyataan yang menunjukkan kaidah-kaidah umum untuk mempertahankan pernyataan). Temuan ini sesuai dengan yang disampaikan Abdul Rani (2004:40). Berdasarkan tiga macam elemen pokok wacana argumentasi, sebuah wacana argumentasi terbukti mengandung ketiga elemen pokok tersebut.
Berdasarkan analisis data yang telah dilakukan, elemen pokok yang ditemukan dalam artikel opini harian Tribun Jogja berupa elemen pernyataan, alasan dan pembenaran. Elemen pokok yang terdapat dalam sebuah kalimat
ditandai dengan adanya kata, frasa, dan/atau klausa yang mencirikan bahwa kalimat yang dimaksud termasuk salah satu dari tiga elemen pokok wacana argumentasi. Berikut ini merupakan pembahasan mengenai elemen pokok wacana argumentasi.
4.3.1.1 Elemen Pernyataan
Elemen pokok wacana argumentasi yang pertama adalah elemen pernyataan. Pernyataan pada wacana argumentasi adalah sesuatu yang diyakini kebenarannya oleh penutur dan dikemukakan kepada mitra tutur agar diterima dengan alasan-alasan mendasar yang dapat dibuktikan. Ada tiga macam pernyataan, yaitu pernyataan tentang fakta, pernyataan tentang nilai, dan pernyataan tentang kebijakan. Fakta sendiri dapat berupa peristiwa, waktu, subyek, dan tempat. Dengan demikian, jika dalam suatu kalimat terdapat kata, frasa dan/atau klausa yang merujuk pada fakta, nilai, dan kebijakan, kalimat tersebut merupakan elemen pokok wacana argumentasi berupa pernyataan.
Elemen pokok wacana argumentasi pada kalimat “Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) X sebagai raja Kasultanan Ngayogyakarta, pada tanggal 6 Maret lalu mengeluarkan Sabdatama”(I1.1, 07/04/15) merupakan elemen pernyataan yang memaparkan fakta. Fakta yang terdapat pada kalimat tersebut yaitu fakta berupa waktu, peristiwa dan adanya subyek. Kalimat tersebut tergolong dalam elemen pernyataan karena sesuai dengan indikator wacana argumentasi Abdul Rani (2004:40), yaitu berupa fakta. Dalam kalimat tersebut, penulis mencoba meyakinkan pembaca berupa fakta bahwa pada tanggal 16 Maret, Sultan telah mengeluarkan Sabdatama.
4.3.1.2 Elemen Alasan
Elemen pokok wacana argumentasi yang kedua adalah elemen alasan. Alasan pada wacana argumentasi adalah bukti-bukti yang bersifat khusus yang diperlukan untuk mendukung pernyataan. Alasan atau bukti pendukung dapat berupa data statistik, contoh, ilustrasi, penalaran, observasi eksperimental, dan materi ilmu pengetahuan umum, maupun pengujian. Dengan demikian, jika dalam suatu kalimat terdapat kata, frasa dan/atau klausa yang merujuk pada substansi pada elemen alasan, kalimat tersebut merupakan elemen pokok wacana argumentasi berupa alasan.
Elemen pokok wacana argumentasi pada rangkaian kalimat “Misalnya, rencana menghilangkan kewenangan penyadapan (Pasal 7), rencana memberikan kewenangan penghentian perkara (Pasal 40), dan penyitaan harus dengan izin pengadilan (Pasal 47). Bila substansi materi itu terealisasi dalam amandemen UU KPK mendatang, maka KPK jelas bukan semakin kuat, melainkan semakin lemah dan mudah diintervensi”(H4.2 dan H4.3, 03/03/15) merupakan elemen alasan yang memaparkan penalaran. Penalaran yang terdapat pada kalimat tersebut ditandai dengan adanya kata “misalnya”, “bila”, “maka”, dan “melainkan”. Berdasarkan penemuan kata-kata tersebut maka kalimat di atas tergolong dalam elemen alasan karena sesuai dengan indikator wacana argumentasi Abdul Rani (2004:40), yaitu alasan berupa penalaran.
4.3.1.3 Elemen Pembenaran
Elemen pokok wacana argumentasi yang ketiga adalah elemen pembenaran. Pembenaran pada wacana argumentasi adalah pernyataan yang menunjukkan
kaidah-kaidah umum untuk mempertahankan pernyataan. Pembenaran sebagai jembatan penghubung antara pernyataan dan alasan. Dengan demikian, jika dalam suatu kalimat terdapat kata, frasa dan/atau klausa yang merujuk pada substansi pada elemen pembenaran, kalimat tersebut merupakan elemen pokok wacana argumentasi berupa pembenaran.
Elemen pokok wacana argumentasi pada rangkaian kalimat “Keterlibatan institusi dalam upaya melindungi diri secara satire pernah dikritik oleh budayawan Emha Ainun Najib dalam bukunya Kiai Bejo, Kiai Untung, dan Kiai Hoki. Dalam tulisannya ia menyebut, “Kita adalah masyarakat yang melarang siapa pun melakukan korupsi, kecuali kita kecipratan. Kita tidak ikhlas ada KKN, kalau tidak dilibatkan di dalamnya. Korupsi tidak haram asalkan yang melakukan adalah keluarga kita sendiri, bapak kita, tokoh parpol kita, atau ulama panutan kita”(C7.1, C7.2, C7.3, dan C.7, 27/02/15) merupakan pernyataan yang memaparkan pembenaran.
Pembenaran yang terdapat pada kalimat tersebut ditandai dengan adanya kalimat yang berfungsi untuk menguatkan pernyataan yang sebelumnya dituangkan penulis. Keempat rangkaian kalimat di atas untuk membenarkan pernyataan penulis bahwa instansi kepolisian juga melakukan manuver ketika anggotanya berseteru dengan KPK, upaya ini sesuai dengan yang disampaikan Emha Ainun Najib, yaitu membela diri.
Berdasarkan penemuan pernyataan-pernyataan penguat tersebut maka rangkaian kalimat di atas tergolong dalam elemen pembenaran karena sesuai
dengan indikator wacana argumentasi Abdul Rani (2004:40), yaitu memaparkan kalimat yang bersifat membenarkan.
4.3.2 Analisis Elemen Pelengkap Wacana Argumentasi
Elemen pelengkap yang ditemukan dalam artikel opini harian Tribun Jogja sebagai sumber data mencakup 3 elemen, yaitu (1) elemen pendukung (kriteria yang digunakan untuk membenarkan pernyataan yang dikemukakan dalam pembenaran), (2) elemen modal (adanya kata, frasa, atau keterangan digunakan sebagai penanda kepastian antara lain perlu, pasti, tentu dan tentu saja), dan (3) elemen sanggahan (lingkungan atau situasi di luar kebiasan yang dapat mengurangi atau menguatkan pernyataan. Piranti kohesi yang digunakan untuk menandai elemen sanggahan antara lain kecuali, namun dan jika). Temuan ini sesuai dengan yang disampaikan Abdul Rani (2004:40). Berdasarkan tiga macam elemen pelengkap yang terdapat dalam wacana argumentasi, setidaknya ada satu elemen pelengkap terkandung di dalamnya.
Berdasarkan analisis data yang telah dilakukan, satu elemen pelengkap yang terdapat dalam sebuah kalimat ditandai dengan adanya kata, frasa, dan/atau klausa yang mencirikan bahwa kalimat yang dimaksud termasuk salah satu dari tiga elemen pelengkap wacana argumentasi. Berikut ini merupakan pembahasan mengenai elemen pokok wacana argumentasi.
4.3.2.1 Elemen Pendukung
Elemen pelengkap wacana argumentasi yang pertama adalah elemen pendukung. Pendukung pada wacana argumentasi adalah kriteria yang digunakan untuk membenarkan pernyataan yang dikemukakan sebelumnya. Dalam hal ini,
dukungan dapat berupa pengalaman yang diyakini, pernyataan para pakar, hasil penelitian, atau hasil wawancara. Dengan demikian, jika dalam suatu kalimat terdapat kata, frasa dan/atau klausa yang merujuk pada subtansi yang terkandung dalam elemen pendukung, kalimat tersebut merupakan elemen pelengkap.
Elemen pelengkap wacana argumentasi pada rangkaian kalimat “Identifikasi. Meningitis merupakan infeksi cairan otak sekaligus radang pada lapisan selaput otak dan korda spinalis (bagian dari sistem saraf pusat). Secara umum, meningitis terdapat dua jenis yaitu meningitis viral dan meningitis bakterialis. Meningitis viral disebabkan virus, dapat menyebar melalui batuk, bersin dan lingkungan tidak higenis. Umumnya, meningitis virus tidak terlalu parah dan dapat hilang sendiri tanpa pengobatan spesifik”(L4.1, L4.2, L4.3, dan L4.4, 31/03/15) merupakan elemen pendukung berupa hasil penelitian mengenai identifikasi penyakit meningitis. Rangkaian kalimat tersebut tergolong dalam elemen pendukung karena sesuai dengan indikator wacana argumentasi Abdul Rani (2004:40), yaitu berupa hasil peneitian. Selain itu, penulis juga merupakan seorang pakar dalam bidang kesehatan, hal ini juga memenuhi indikator yang menyebutkan bahwa elemen pendukung dapat berupa pernyataan oleh seorang pakar.
4.3.2.2 Elemen Modal
Elemen pelengkap wacana argumentasi yang kedua adalah elemen modal. Modal pada wacana argumentasi dibedakan menjadi dua, yaitu modal sebagai penanda kepastian dan modal sebagai penanda kemungkinan. Adapun kata, frasa, atau keterangan digunakan sebagai penanda kepastian antara lain perlu, pasti,
tentu dan tentu saja, sedangkan penanda kemungkinan antara lain agaknya, kiranya, rupanya, kemungkinannya, sejauh bukti yang ada, sangat mungkin, mungkin sekali, dan masuk akal. Dengan demikian, jika dalam suatu kalimat terdapat kata atau frasa seperti yang disebutkan di atas, kalimat tersebut merupakan elemen modal.
Elemen pelengkap wacana argumentasi pada rangkaian kalimat “Untuk mengangkat (kembali) popularitas Mobil Esemka tentunya perlu dukungan banyak pihak”(E7.1, 10/03/15) merupakan elemen modal, ditandai dengan adanya kata “tentunya”. Kalimat tersebut tergolong dalam elemen modal karena sesuai dengan indikator wacana argumentasi Abdul Rani (2004:40), yaitu dengan ditemukannya kata “tentunya”. Modal penanda kepastian ini mengindikasikan bahwa pernyataan yang dijelaskan penulis adalah sesuatu yang pasti ia yakini.
4.3.2.3 Elemen Sanggahan
Elemen pelengkap wacana argumentasi yang ketiga adalah elemen sanggahan. Elemen sanggahan pada wacana argumentasi adalah lingkungan atau situasi di luar kebiasan yang dapat mengurangi atau menguatkan pernyataan. Jika suatu kondisi yang dapat melemahkan suatu pernyataan dapat dikontrol dengan menghadirkan elemen sanggahan/penolakan, kedudukan argumen semakin kuat. Penggunaan elemen sanggahan juga berarti membuat pernyataan lebih spesifik. Piranti kohesi yang digunakan untuk menandai elemen sanggahan antara lain kecuali, namun dan jika. Dengan demikian, jika dalam suatu kalimat terdapat kata atau frasa seperti yang disebutkan di atas, kalimat tersebut merupakan elemen sanggahan.
Elemen pelengkap wacana argumentasi pada rangkaian kalimat “Jika bukan termasuk penyelenggara negara, Budi Gunawan dalam menjalankan fungsinya kala itu mengatasnamakan apa? Jika kita merujuk Pasal 1 angka 1 Undang- undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggara Negara yang Bersih dan Bebas dari Korupsi, Kolusi dan Nepotisme, penyelenggara negara adalah pejabat negara yang menjalankan fungsi eksekutif, legislatif, yudikatif dan pejabat lain yang fungsi dan tugas pokoknya berkaitan dengan penyelenggaraan Negara sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.” (F8.2, 17/02/15) merupakan elemen sanggahan, teridentifikasi dengan adanya frasa “jika”. Kalimat yang berlaku sebagai elemen sanggahan tersebut untuk menyanggah pernyataan bahwa pihak BG mengelak bahwa kala menjalankan tugasnya, BG bukanlah bertindak sebagai penyelenggara Negara, namun pembelaan tersebut bertentangan dengan pasal-pasal yang disebutkan pada kalimat di atas.
4.3.3 Analisis Pola Pengembangan Wacana Argumentasi
Pola pengembangan wacana ini terdiri dari enam pola. Enam pola ini diklasifikasikan menjadi dua macam, yaitu elemen pokok dengan dua elemen pelengkap dan elemen pokok dengan satu elemen pelengkap. Lebih jelasnya dapat dibaca pada uraian di bawah ini.
4.3.3.1 Pola Tiga Elemen Pokok dengan Dua Elemen Pelengkap
Pola pengembangan wacana ini terdiri dari tiga elemen pokok dan dilengkapi dengan dua elemen pelengkap. Berdasarkan analisis data, ditemukan empat wacana yang memiliki pola pengembangan demikian. Dua wacana ini
diklasifikasi berdasarkan tiga macam pola, yaitu: (1) tiga elemen pokok dengan elemen pendukung dan modal, (2) tiga elemen pokok dengan elemen modal dan sanggahan, dan (3) tiga elemen pokok dengan elemen pendukung dan sanggahan.
4.3.3.1.1 Tiga Elemen Pokok dengan Dua Elemen Pelengkap (PER-AL-PEM+PEN- MO)
Berdasarkan analisis data yang telah dilakukan, wacana yang memiliki pola tiga elemen pokok dengan dua elemen pelengkap (pendukung dan modal) ada satu. Wacana yang dimaksudkan berjudul “Menimbang Wacana Perppu Imunitas KPK”(3/2).Wacana ini memuat ketiga elemen pokok lalu diperkuat dengan pendukung dan modal.
4.3.3.1.2 Tiga Elemen Pokok dengan Dua Elemen Pelengkap (PER-AL-PEM+MO-SA) Berdasarkan analisis data yang telah dilakukan, wacana yang memiliki pola tiga elemen pokok dengan dua elemen pelengkap (modal dan sanggahan) ada dua, yaitu wacana yang berjudul “Kaum Intelektual Harus Jadi Model Generasi
Muda”(20/01), dan “Nalar Sesat Peluang Remisi Untuk Koruptor”(24/3).
Wacana ini memuat ketiga elemen pokok lalu diperkuat dengan modal dan sanggahan.
4.3.3.1.3 Tiga Elemen Pokok dengan Dua Elemen Pelengkap (PER-AL-PEM+PEN-SA) Berdasarkan analisis data yang telah dilakukan, wacana yang memiliki pola tiga elemen pokok dengan dua elemen pelengkap (pendukung dan sanggahan) ada satu, yaitu wacana yang berjudul “Daulat Hukuman Mati di Indonesia”(24/02).
Wacana ini memuat ketiga elemen pokok lalu diperkuat dengan pendukung dan sanggahan.
Tabel 4.4
Sample Hasil Analisis Wacana Argumentasi Pola PER-AL-PEM-PEN-SA
No Kalimat Per Al Pem Pen Mo Sa
1
Daulat Hukuman Mati di Indonesia Pada era Pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla, kementerian yang paling sering mengeluarkan kebijakan kontroversial bisa jadi adalah Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham).
V
2 Kebijakan kontroversial yang pernah dikeluarkan oleh kementerian itu di antaranya terkait pengesahan kepengurusan Partai Persatuan Pembangunan (PPP) versi Romahurmuziy dan pengesahan kepengurusan Partai Golongan Karya (Golkar) versi Agung Laksono.
V
3 Teranyar, kementerian yang dinahkodai oleh kader Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Yasonna H Laoly itu berencana memperlonggar cara memperoleh pemotongan tahanan (remisi) bagi narapidana, tak terkecuali bagi narapidana korupsi.
V
4 Manuver itu akan dilakukan melalui revisi Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 99 Tahun 2012 tentang Syarat dan Tata Cara Pelaksanaan Hak Warga Binaan Masyarakat.
V
5 Menurut Yasonna, setiap narapidana harus diberikan perlakuan sama sebagaimana norma Pasal 5 Undang-Undang Nomor 12 tahun 1995 tentang Pemasyarakatan.
V
6 Itu artinya, besar kemungkinan keberadaan Pasal 34A PP Nomor 99 Tahun 2012 yang salah satunya mensyaratkan agar narapidana bersedia bekerjasama dengan penegak hukum untuk membantu membongkar perkara tindak pidana yang dilakukan bakal akan diamputasi.
7 Jika hal itu benar terjadi, maka akan sangat mudah bagi para koruptor untuk mendapatkan remisi.
V V
8 Kulminasi terburuknya, bukan tidak mungkin akan terjadi fenomena “hujan remisi” bagi koruptor.
V
9 Apalagi, mafhum diketahui saat ini masih banyak oknum-oknum di lingkungan lembaga pemasyarakatan yang dengan gampang bisa disuap untuk memudahkan narapidana memperoleh remisi.
V
Tidak Tepat (Anak Judul)
10 Bila mengacu pada ketentuan Konvensi Perserikatan Bangsa-bangsa Antikorupsi (United Nations Convention Againts Corruption/ UNCAC), utamanya Pasal 37 ayat (2), argumentasi yang dikemukakan oleh Yasonna H Laoly untuk merevisi PP Nomor 99 Tahun 2012 tentu tidak sepenuhnya tepat.
V
11 Pada pasal itu disebutkan bahwa setiap negara peserta konvensi wajib mempertimbangkan memberikan kemungkinan dalam kasus-kasus tertentu untuk mengurangi hukuman dari seorang pelaku yang memberikan kerjasama yang substansial dalam penyelidikan atau penuntutan suatu kejahatan yang diterapkan dalam konvensi tersebut.
V
12 Di samping itu, manuver Yasonna H Laoly itu justru berpotensi mempersulit para penegak hukum (KPK, Polri, Kejaksaan) untuk menuntaskan pelbagai kasus korupsi yang sedang ditangani.
V
13 Sebagai gambaran, dalam konteks kekinian pemerintah telah menawarkan perlindungan dan remisi bagi narapidana korupsi yang bersedia bekerja sama (justice collaborator) membongkar kasus korupsi sampai ke akar- akarnya.
V
14 Faktanya, sampai saat ini narapidana korupsi yang bersedia menjadi justice collaborator bisa dihitung dengan jari.
V
15 Apabila peran justice collaborator yang termaktub dalam PP Nomor 99 Tahun 2012 itu kemudian
diamputasi, tentu bisa dibayangkan betapa sulitnya para penegak hukum negara ini untuk menuntaskan pelbagai kasus korupsi yang terjadi.
16 Pada titik ini, Yasonna H Laoly jelas tidak peka dalam memahami gagasan sembilan program prioritas (Nawa Cita) yang diusung oleh Pemerintahan Joko Widodo- Jusuf Kalla.
V
17 Pada poin keempat Nawa Cita disebutkan bahwa menolak negara lemah dengan melakukan reformasi sistem dan penegakan hukum yang bebas korupsi, bermartabat, dan terpercaya.
V
18 Sedangkan memperlonggar mekanisme memperoleh remisi, termasuk narapidana korupsi jelas adalah simbol pengakuan bahwa negara lemah terhadap koruptor.
V
19 Oleh sebab itu, seyogianya Pemerintahan Joko Widodo- Jusuf Kalla segera mengambil tindakan tegas terhadap para menterinya yang kerap bertindak di luar orientasi Nawa Cita, termasuk Menkumham Yasonna H Laoly.
V
20 Jika tidak, maka dapat dipastikan Nawa Cita hanya akan terus menjadi gagasan usang pemerintah yang tidak pernah terealisasi. Wallahu a‟lam. (*)
V
Total 3 13 3 - 1 2 Berdasarkan analisis data, ketiga elemen pokok ditemukan pada wacana ini, sedangkan pada elemen pelengkap ditemukan dua macam elemen saja, yaitu elemen modal dan sanggahan. Wacana ini menganut pola pengembangan wacana argumentasi PER-AL-PEM-MO-SA.
Tabel di atas menunjukkan jenis wacana argumentasi dengan pola pengembangan tiga elemen pokok dengan dua elemen pelengkap. Elemen pokok yang terdiri dari pernyataan, alasan dan pembenaran selalu ada dalam setiap wacana argumentasi, sedangkan pada elemen pelengkap tidak selalu ada ketiganya dalam setiap wacana argumentasi. Elemen pelengkap yang digunakan penulis pada wacana di atas ada dua, yaitu modal dan sanggahan.
4.3.3.2 Pola Tiga Elemen Pokok dengan Satu Elemen Pelengkap
Pola pengembangan wacana ini terdiri dari tiga elemen pokok dan dilengkapi dengan satu elemen pelengkap. Berdasarkan analisis data, ditemukan 10 wacana yang memiliki pola pengembangan demikian. Sepuluh wacana ini diklasifikasi berdasarkan tiga macam pola, yaitu (1) tiga elemen pokok dengan elemen pendukung, (2) tiga elemen pokok dengan elemen modal, dan (3) tiga elemen pokok dengan elemen sanggahan.
4.3.3.2.1 Tiga Elemen Pokok dengan Elemen Pendukung (PER-AL-PEM+PEN) Berdasarkan analisis data yang telah dilakukan, wacana yang memiliki pola tiga elemen pokok dengan elemen pendukung ada tiga, yaitu wacana yang berjudul “Membaca Pesan Sabdatama Sultan HB X”(10/3) “Mengkritisi Ingatan Kolektif Bangsa”(17/3), “Gejala Meningitis Layaknya Flu Biasa”(31/3), dan “Melepas Kebaya dan Sanggul Kartini”(21/4).
4.3.3.2.2 Tiga Elemen Pokok dengan Elemen Modal (PER-AL-PEM+MO)
Berdasarkan analisis data yang telah dilakukan, wacana yang memiliki pola tiga elemen pokok dengan elemen modal ada tiga, yaitu wacana yang berjudul “Mengangkat (Kembali) Popularitas Mobil Esemka Untuk Saingi Proton”(10/2), “Mewaspadai Pelemahan UU KPK”(3/3), dan “Subsidi Rakyat Dialihkan untuk Bantu Pejabat Beli Mobil Baru”(7/4).
4.3.3.2.3 Tiga Elemen Pokok dengan Elemen Sanggahan (PER-AL-PEM+SA)
Berdasarkan analisis data yang telah dilakukan, wacana yang memiliki pola tiga elemen pokok dengan elemen pendukung ada tiga, yaitu wacana yang berjudul “Menimbang-Nimbang Calon Kapolri Pilihan Jokowi”(13/1), “KPK dan Telikungan Habitus Korup”(27/1), dan “Berbagai Implikasi Pasca-vonis Praperadilan BG”(17/2).
Tabel 4.5
Sample Hasil Analisis Wacana Argumentasi Pola PER-AL-PEM-PEN
No Kalimat Per Al Pem Pen Mo Sa
1
Gejala Meningitis Layaknya Flu Biasa Kematian komedian Olga Syahputra beberapa hari yang lalu sangat mengejutkan publik.
V
2 Betapa tidak, ia merupakan seorang komedian multitalenta yang sedang naik daun di jagat hiburan nusantara.
V
3 Kabarnya, ia meninggal disebabkan penyakit meningitis yang ia derita belakangan ini.
V
4 Karena itu, kita perlu mewaspadai penyakit meningitis yang berbahaya ini.
V 5 Gejala meningitis awalnya agak sulit
dibedakan dengan gejala flu, sehingga kadang orang sering salah mengenali.
V
6 Gejala umum meningitis pada mereka yang berusia di atas 2 tahun adalah demam tinggi, sakit kepala, lemah, dan kekakuan leher.
V
7 Gejala ini bisa berkembang dari beberapa jam, atau mungkin sampai 1-2 hari.
V 8 Gejala lain bisa berupa mual, muntah,
tidak nyaman dengan cahaya terang, bingung, dan mengantuk.
V
9 Pada bayi yang baru lahir atau anak-anak di bawah 2 tahun, gejala klasik seperti sakit kepala dan leher kaku seringkali agak sulit terdeteksi, karena mereka
belum bisa menyampaikan keluhannya. 10 Bayi dengan meningitis biasanya
menunjukkan gejala lesu (kurang aktif), muntah, rewel, dan tidak mau makan.
V
11 Dengan berjalannya waktu dan penyakit, maka pada pasien meningitis (di segala usia) bisa timbul gejala berupa kejang- kejang.
V
Identifikasi (Anak Judul)
12 Meningitis merupakan infeksi cairan otak sekaligus radang pada lapisan selaput otak dan korda spinalis (bagian dari sistem saraf pusat).
V
13 Secara umum, meningitis terdapat dua jenis yaitu meningitis viral dan meningitis bakterialis.
V
14 Meningitis viral disebabkan virus, dapat menyebar melalui batuk, bersin dan lingkungan tidak higenis.
V
15 Umumnya, meningitis virus tidak terlalu parah dan dapat hilang sendiri tanpa pengobatan spesifik.
V
16 Sementara, meningitis bakterialis disebabkan oleh bakteri Neisseria Meningitidis, Streptococcus, dan Listeria Monocytogenes (listeria) yang dapat ditemukan di banyak tempat, misalnya dalam debu dan makanan yang terkontaminasi, seperti keju, hot dog dan daging sandwich yang mana bakteri ini berasal dari hewan lokal (peliharaan).
V
17 Belakangan bakteri Listeria ini sedang cukup ramai dibicarakan karena diberitakan mengkontaminasi beberapa jenis apel asal Amerika Serikat, yakni apel Gala dan Granny Smith.
V
18 Meningitis akibat bakteri ini umumnya sangat parah dan dapat menyebabkan kerusakan otak, hilangnya pendengaran, dan gangguan kognitif, bahkan kematian.
V
19 Pada meningitis akibat bakteri, sangat penting pula mengetahui macam bakteri penyebabnya, sehingga dapat dipilihkan antibiotika yang sesuai.
V
pada mengobati.
21 Kita perlu mengetahui tata cara menghindarkan diri dari penyakit meningitis.
V
22 Di antara tata caranya adalah pertama, cuci tangan dengan baik dan sering, terutama mereka yang merawat atau berada berdekatan dengan pasien meningitis.
V
23 Kedua, bersihkan permukaan-permukaan yang bisa terkontaminasi (handel pintu, remote TV,dll) dengan sabun dan air kemudian bilas dengan desinfektan atau cairan pemutih yang mengandung chlorine untuk mencegah penyebaran virus.
V
24 Ketiga, tutupi mulut saat batuk. V 25 Dan terakhir, lakukan vaksinasi
meningitis.
V 26 Demikianlah, uraian singkat penulis
tentang penyakit meningitis.
V V 27 Kita perlu waspada, berhatihati, dan
menghindarkan diri dari penyakit tersebut.
V 28 Namun, jika ada gejala yang dicurigai
sebagai penyakit meningitis, segeralah pergi ke dokter dan memeriksakannya.
Total 10 7 5 6 - - Berdasarkan analisis data, ketiga elemen pokok ditemukan pada wacana ini, sedangkan pada elemen pelengkap hanya ditemukan satu macam elemen saja,