INDUSTRI KECIL DI KOTA BANDA ACEHJOURNAL OF ECONOMIC MANAGEMENT & BUSINESS
PEMBAHASAN Perkembangan Tenaga Kerja dan Nila
Produksi Industri Kecil
Tenaga kerja dipilah ke dalam dua kelompok yaitu angkatan kerja dan bukan angkatan kerja. Angkatan kerja adalah tenaga kerja yang beker- ja atau punya pekerjaan sementara, tidak bekerja dan sedang mencari pekerjaan. Sedangkan yang termasuk bukan angkatan tenaga kerja yang tidak mempunyai pekerjaan dan sedang tidak mencari pekerjaan, yakni orang-orang kegiatannya ber- sekolah (pelajar dan mahasiswa), mengurus ru- mah tangga (ibu-ibu yang bukan wanita karir), serta menerima pendapatan tetapi bukan imbalan langsung atas jasa kerjanya (pensiun).
Angkatan kerja yang tumbuh sangat cepat tentu saja akan membawa beban tersendiri bagi perekonomian, yakni penciptaan atau perluasan lapangan kerja. Jika lowongan kerja baru tidak mampu menampung semua angkatan kerja baru (dengan kata lain : tambahan permintaan akan te- naga kerja lebih sedikit dari pada tambahan pe- nawaran angkatan kerja), maka sebagian angka- tan kerja baru itu akan memperpanjang barisan penganggur yang sudah ada. Penciptaan lapangan kerja inilah yang sekarang menjadi salah satu masalah rawan dalam pembangunan ekonomi di Indonesia. Kerawananan yang ada, bukan semata- -mata masalah jumlah; yakni bagaimana memacu jumlah yang diminta agar mampu menyerap ju- mlah yang ditawarkan, akan tetapi juga masalah mutu. Kualitas tenaga kerja Indonesia, sebagai- mana tercermin dari tingkat pendidikan angkatan kerja dan produktivitas pekerja yang ada, masih relatif rendah.
Adapun perkembangan tenaga kerja di Kota Banda Aceh periode 1999-2010 dapat diperhati- kan pada Tabel 2.
Sedangkan perkembangan nilai produksi sek- tor Industri Kecil di Kota Banda Aceh dapat diper- hatikan dalam Tabel 3.
Pengaruh Tenaga Kerja Terhadap Nilai Produksi Pada Industri Kecil di Kota Banda Aceh
Untuk melihat pengaruh tenaga kerja terhadap nilai produksi pada Industri Kecil di Kota Banda
Aceh, dilakukan dengan menggunakan peralatan regresi linear sederhana, hasil penelitian dapat dilihat pada Tabel 4.
Berdasarkan hasil perhitungan dengan meng- gunakan SPSS seperti terlihat pada Tabel 4, maka diperoleh persamaan regresi linier yaitu NP= -78.140.969 + 29.125TK. Persamaan tersebut mengandung pengertian bahwa: konstanta sebesar 78.140.969 artinya apabila tenaga kerja sektor in- dustri dianggap tetap maka nilai produksi sektor industri kecil di Kota Banda Aceh akan menga- lami penurunan sebesar 78.140.969,86 ribu ru- piah. Demikian juga apabila variabel tenaga kerja mengalami perubahan sebesar 1 jiwa maka ber- pengaruh terhadap meningkatnya nilai produksi sektor industri kecil di Kota Banda Aceh sebesar 29.125,87 ribu rupiah dengan asumsi variabel lain selain tenaga kerja yang berpengaruh terhadap ni- lai produksi sektor industri kecil dianggap tetap.
Dari Tabel 5, diperoleh koeisien korelasi (R) sebesar 0,961 atau 96,1 persen yang menggam- barkan bahwa variabel tenaga kerja sektor indus- tri kecil sangat erat hubungannya terhadap nilai produksi sektor industri kecil di Kota Banda Aceh sebesar 96,1 persen. Sementara koeisien deter- minan (R2) bernilai 0,923 atau 92,3 persen men-
unjukkan bahwa tenaga kerja sangat berpengaruh terhadap nilai produksi sektor industri kecil di Kota Banda Aceh sebesar 92,3 persen dan sisanya sebesar 7,7 persen dipengaruhi oleh variabel lain- nya diluar model penelitian ini.
Pembuktian Hipotesis
Pembuktian bahwa variabel tenaga kerja ber- pengaruh terhadap nilai produksi sektor Industri Kecil di Kota Banda Aceh maka dilakukan pen- gujian tersendiri secara partial dengan uji-t pada tingkat kepercayaan (Convidence Interval 95%).
Dari Tabel 6 diperoleh t-hitung untuk variabel tenaga kerja sebesar 10,973 lebih besar dari ttabel yaitu 2,0518 maka dapat disimpulkan bahwa vari- abel tenaga kerja secara partial berpengaruh sig- niikan terhadap nilai produksi Industri Kecil di Kota Banda Aceh.
Uji F dilakukan untuk mengetahui bagaimana pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat,
Tabel 2
Perkembangan Tenaga Kerja Industri Kecil di Kota Banda Aceh
Tahun Jumlah Tenaga Kerja (Jiwa) Persentase
1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 10.112 7.131 5.144 5.130 5.127 4.837 4.007 4.768 5.557 5.079 5.383 11.483 - -29,47 -27,86 -0,272 -0,058 -5,656 -17,159 18,991 16,547 -8,601 5,985 113,319
Sumber : Badan Pusat Statistik Aceh (diolah), 2012
Tabel 3
Perkembangan Nilai Produksi Industri Kecil di Kota Aceh
Tahun Nilai Produksi sektor Industri (Ribuan Rupiah) Pertumbuhan (Persentase) 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 225.109.487 80.178.523 75.038.066 73.247.811 72.807.800 70.117.904 62.495.394 65.480.408 68.172.399 83.903.034 62.365.727 271.658.008 - -64,382 -6,411 -2,385 -0,601 -3,694 -10,871 4,776 4,111 23,074 -25,669 335,588
Sumber : Badan Pusat Statistik Aceh (diolah), 2012
Tabel 4 Coeficients
Unstandardized
Coeficients Standardized Coeficients 95% Conidence Interval for B
B Std, Error Beta Lower Bound Upper Bound
(Constant) -78.140.969,86 17336379,014 -116768818 -39513120 Tenaga Kerja 29.125,87 2654,427 0,961 23211 35040
Sumber: Data sekunder yang diolah.
Tabel 5 Model Summary R R Square Adjusted R Square Change Statistics Durbin- Watson R Square Change F Change df1 df2 Sig, F Change 0,961 0,923 0,916 0,923 120,397 1 10 0,000 2,437
Sumber: Data sekunder yang diolah.
Tabel 6 Model Summary
t Sig. 95% Conidence Interval for B Lower Bound Upper Bound (Constant) -4,507 0,001 -116768818,859 -39.513.120,878
Tenaga Kerja 10,973 0,000 23211,444 35.040,303
uji F memperlihatkan signiikansi pengaruh vari- abel bebas secara bersama-sama terhadap variabel terikat.
Dari Tabel 7 menunjukan bahwa F-hit dalam persamaan ini adalah sebesar 120,397 lebih be- sar dari F-tabel yaitu 3,354, yang menggambarkan bahwa variabel tenaga kerja secara keseluruhan berpengaruh signiikan terhadap nilai produksi sektor Industrim Kecil di Kota Banda Aceh.
KESIMPULAN
Hasil perhitungan menghasilkan persamaan akhir estimasi yaitu NP = -78.140.969 +29.125TK. Konstanta sebesar 78.140.969 artinya apabila tenaga kerja sektor industri dianggap tetap maka nilai produksi sektor industri kecil di Kota Ban- da Aceh akan mengalami penurunan sebesar Rp. 78.140.969,86 ribu rupiah.
Apabila variabel tenaga kerja mengalami peru- bahan sebesar 1 jiwa maka berpengaruh terhadap meningkatnya nilai produksi sektor industri kecil
di Kota Banda Aceh sebesar Rp. 29.125,87 ribu rupiah dengan asumsi variabel lain selain tenaga kerja yang berpengaruh terhadap nilai produksi sektor industri kecil dianggap tetap.
Koeisien determinan (R2) bernilai 0,923 atau
92,3 persen menunjukkan bahwa tenaga kerja sangat berpengaruh terhadap nilai produksi sek- tor industri kecil di Kota Banda Aceh sebesar 92,3 persen dan sianya sebesar 7,7 persen dipengaruhi oleh variabel lainnya diluar model penelitian ini.
Pembuktian baik yang dilakukan dengan menggunakan uji t-tes menunjukkan bahwa vari- abel tenaga kerja secara partial berpengaruh sig- niikan terhadap nilai produksi Industri Kecil di Kota Banda Aceh.
SARAN
Diharapkan adanya kebijakan investasi yang dilakukan oleh pemerintah di sektor industri ke- cil sehingga penyerapan tenaga kerja akan lebih banyak.
Tabel 7 ANOVA
Sum of Squares df Mean Square F Sig.
Regression 49.637.403.121.290.200 1 49.637.403.121.290.200 120.397 0.000 Residual 4.122.802.706.699.907 10 412.280.270.669.990
Total 53.760.205.827.990.100 11
REFERENSI
Badan Pusat Statistik (2010). Aceh Dalam Angka, Kota Banda Aceh.
Bakir, Zainab dan Chris Manning. (1984). Angkatan Kerja Indonesia, CV. Rajawali. Jakarta.
Depnakertrans. (2005). Pedoman Kerja Pelayanan Antar Kerja. Direktorat Jenderal Pembinaan dan Penetapan Tenaga Kerja Dalam Negeri. Jakarta.
Dewi, Risna. (1998). Dampak Kemitraan Usaha Antara BUMN Dengan Usaha Kecil / Koperasi Terhadap Kinerja Usaha Kecil / Koperasi di Kota Madya Banda Aceh. Skripsi (Tidak Dipubli- kasikan). Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh.
Djojohadikusumo, Sumitro (1995). Pembangunan Ekonomi Industri. Sinar Agape Press. Jakarta. Girt (1994). Indonesia Dalam Perkembangan Dunia Ketiga di Indonesia, LP3ES, Jakarta.
Hadi, Suharto. (1995). Beberapa Cara Pendekatan Industri Kecil dan Masalah-Masalah Usaha- wan Industri. Edisi XIV, Jakarta.
Hasibuan, M.S.P. (1997). Ekonomi Pembangunan dan Perekonomian Indonesia. CV. Armico. Bandung.
Kakisina, Stephen. 2003. Posisi Strategik Perbankan Mikro dalam Pembiayaan Usaha Mikro Kecil, dan Menengah di Provinsi Papua. Jurnal Studi Pembangunan Interdisiplin. Edisi Desember. Vol: 15. No: 3. Hal: 333 – 347.
Maulana, M., S. Mardianto dan A.H. Mailan. (2003). Dinamika Tenaga Kerja Sektor Pertanian di Indo- nesia. Jurnal Ekonomi Rakyat.
Munandar. (1991). Pengembangan Sumber Daya Manusia Dalam Rangka Pembangunan Nasio- nal. Lembaga Pembinaan dan Pengembangan Manajemen. Jakarta.
Republik Indonesia. Undang-Undang No.13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan. Jakarta.
Rizieq, Rahmatullah. 2001. Analisis Dampak Pemanfaat Dana Bantuan BUMN terhadap Pendapatan Usaha Kecil dan Koperasi di Daerah Istimewa Aceh. Jurnal Ekonomi dan Bisnis. Edisi Desember. Vol: 2. No: 44. Hal: 11 – 21.
Republik Indonesia. Undang-Undang No.25 Tahun 1997 tentang Ketenagakerjaan. Jakarta. Suryana. (2001). Kewirausahaan. Salemba Empat, Jakarta.
Simanjuntak, Payaman J. (1998). Pengantar Ekonomi Sumber Daya Manusia. LP3ES. Jakarta. Soekartawi (1989). Teori Ekonomi Produksi. dengan Pokok Bahasan Analisis Fungsi Cobb Douglas.
Triwahyudi, Endy. (1999). Peranan Industri Kecil dalam Pengembangan Ekonomi di Kotamadya Banda Aceh. Skripsi (tidak dipublikasikan), FE Unsyiah, Banda Aceh.
Wijono, Wiloejo Wirjo. (2005). “Pemberdayaan Lembaga Keuangan Mikro Sebagai Salah Satu Pilar Sistem Keuangan Nasional: Upaya Konkrit Memutus Mata Rantai Kemiskinan”. Kajian Ekonomi dan Keuangan. Edisi Khusus November 2005.
Winardi (1998). Beberapa Aspek Industri Dalam Pembangunan Regional, Prisma No.5. LP3ES, Jakarta.