• Tidak ada hasil yang ditemukan

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.6 Pembangunan Berkelanjutan

Pembangunan berkelanjutan (sustainable development) adalah pembangunan dengan konsep yang mengintegrasikan antara aspek ekologi, ekonomi, dan sosial budaya. Pembangunan berkelanjutan merupakan konsep pembangunan yang disepakati secara internasional pada saat dilakukan United Nation Conference On The Human Environment di Stockholm tahun 1972. Pada pembangunan berkelanjutan selalu diupayakan agar menjadi pembangunan yang dapat memenuhi kebutuhan generasi sekarang dengan tanpa mengorbankan generasi yang akan datang dalam memenuhi kebutuhannya (WCED, 1987). Hal ini sesuai dengan pernyataan Serageldin (1996) yang menyatakan bahwa suatu kegiatan pembangunan (termasuk pengelolaan sumberdaya alam dan berbagai dimensinya) dinyatakan berkelanjutan jika kegiatan tersebut baik ditinjau dari aspek ekonomi, ekologi, maupun dari aspek sosial budaya bersifat berkelanjutan.

Menurut Plessis (1999), pada saat awal dicanangkan pembangunan berkelanjutan. Pembangunan berkelanjutan relatif hanya diarahkan untuk mengatasi konflik antara proteksi lingkungan dan sumberdaya alam dalam rangka menjawab kebutuhan pembangunan yang berkembang. Selanjutnya disadari bahwa pembangunan berkelanjutan tidak mungkin tercapai tanpa mempertimbangkan perubahan ekonomi dan sosial budaya seperti pengurangan tingkat kemiskinan dan keseimbangan sosial budaya.

Komisi Burtland selanjutnya semakin memperkokoh keinginan yang harus dicapai dalam pembangunan berkelanjutan, antara lain dalam mengintegrasikan keselarasan antara aspek ekologi, ekonomi, dan sosial budaya tidak boleh kaku. Oleh karenanya World Bank menjabarkan konsep dalam mengoperasionalkan paradigma pembangunan berkelanjutan, dalam bentuk kerangka segitiga pembangunan berkelanjutan (sustainable development triangle) seperti yang dapat dilihat pada Gambar 3.

EKONOMI

Efisiensi Pertumbuhan EKOLOGI Sumberdaya alam dan lingkungan SOSIAL Keadilan Pemerataan § Penanggulangan Kemiskinan § Pemerataan § Kelestarian Kesempatan kerja Redistribusi pendapatan Resolusi konflik Nilai-nilai budaya Partisipasi Konsultasi Asesmen lingkungan Valuasi lingkungan Internalisasi

Gambar 3. Segitiga konsep pembangunan berkelanjutan

Adapun arti berkelanjutan dari setiap aspek adalah sebagai berikut: Berkelanjutan secara ekonomi diartikan bahwa suatu kegiatan pembangunan harus dapat membuahkan pertumbuhan ekonomi, pemeliharaan kapital, dan penggunaan sumberdaya serta investasi secara efisien. Berkelanjutan secara ekologi mengandung arti bahwa kegiatan tersebut harus dapat mempertahankan integritas ekosistem, memelihara daya dukung lingkungan, dan konservasi sumberdaya alam termasuk keanekaragaman hayati.

Berkelanjutan secara sosial budaya mengandung arti bahwa suatu kegiatan pembangunan harus dapat menciptakan pemerataan hasil-hasil pembangunan, mobilitas sosial budaya, kohesi sosial budaya, partisipasi masyarakat, pemberdayaan masyarakat, identitas sosial budaya, dan pengembangan kelembagaan, sehingga dapat menciptakan rasa aman dan rasa berkeadilan. Hal tersebut diatas sejalan dengan pendapat Roderic dan Meppem (1997), yang mengatakan bahwa untuk mencapai status berkelanjutan diperlukan pengelolaan terhadap (1) Keberlanjutan ekonomi yang mendukung sistem ekologi, (2) Terdapat pembagian distribusi sumberdaya dan kesempatan antara generasi

sekarang dan generasi yang akan datang secara berimbang/adil, dan (3) Terdapat efisiensi dalam pengalokasian sumberdaya.

Menurut Mitchell (1997) terdapat dua prinsip keberlanjutan yang sangat penting untuk digaris bawahi, yakni prinsip lingkungan/ekologi dan prinsip sosial budaya politik. Prinsip lingkungan/ekologi, merupakan prinsip yang akan selalu berupaya untuk melindungi sistem penunjang kehidupan, memelihara integritas ekosistem, dan mengembangkan dan menerapkan strategi preventif dan adoptif untuk menanggapi ancaman perubahan lingkungan global. Prinsip sosial budaya politik, akan mempertahankan skala fisik dari kegiatan manusia di bawah daya dukung atmosfer. Pada prinsip sosial budaya politik, juga sudah memperhatikan (mengenakan) biaya lingkungan dari kegiatan manusia, dan memperhatikan (mengharuskan) adanya kesamaan sosio, politik dan ekonomi dalam transisi menuju masyarakat yang berkelanjutan.

Berdasarkan hal tersebut di atas, maka Hanley (2001) mengungkapkan bahwa pembangunan berkelanjutan sangat diperlukan terutama dalam hal mengintegrasikan ekonomi, lingkungan sosial budaya dan etika, baik untuk skala nasional maupun skala internasional, sehingga dapat menciptakan kualitas kehidupan yang lebih baik bagi generasi sekarang dan generasi yang akan datang. Oleh karena itu maka implementasi konsep pembangunan berkelanjutan ini perlu diterapkan pada banyak negara. Dalam rangka mengatasi hal tersebut, maka FAO mengembangkan indikator keberlanjutan untuk pembangunan (wilayah) berdasarkan aspek ekologi, ekonomi, sosial budaya, kelembagaan, teknologi, dan aspek pertahanan keamanan.

Pada dasarnya dalam melakukan pembangunan berkelanjutan, di dalamnya pasti akan melakukan pengelolaan lingkungan, yang dapat dikatakan merupakan hal yang sangat dibutuhkan dalam melakukan pembangunan berkelanjutan, sekaligus implementasi dari aspek ekologi pada pembangunan berkelanjutan. Adapun yang dimaksud dengan pengelolaan lingkungan disini adalah pengelolaan lingkungan yang sesuai dengan UU 23/1997 dan No. 32/2009, yakni upaya terpadu untuk melestarikan fungsi lingkungan hidup yang meliputi kebijaksanaan penataan, pemanfaatan, pengembangan, pemeliharaan, pemulihan, pengawasan, dan pengendalian lingkungan hidup (UU PPLH No. 32/2009). Definisi ini dapat dikatakan cukup baik karena mengartikan pengelolaan lingkungan dengan cakupan yang luas, yang tidak saja meliputi upaya-upaya pelestarian lingkungan melainkan juga mencegah proses

terjadinya degradasi lingkungan, khususnya melalui proses penataan lingkungan. Adapun ciri-ciri pembangunan berkelanjutan adalah sebagai berikut:

1. Menjaga kelangsungan hidup manusia dengan cara melestarikan fungsi dan kemampuan ekosistem yang mendukung langsung maupun tidak langsung.

2. Memanfaatkan sumberdaya alam secara optimal dalam arti memanfaatkan sumberdaya alam sebanyak mungkin dan teknologi pengelolaan mampu menghasilkan secara lestari.

3. Memberi kesempatan kepada sektor dan kegiatan lain di daerah untuk ber-kembang bersama-sama baik dalam kurun waktu yang sama maupun berbeda secara berkelanjutan.

4. Meningkatkan dan melestarikan kemampuan dan fungsi ekosistem untuk me- masok sumberdaya alam, melindungi serta mendukung kehidupan secara terus menerus.

5. Menggunakan prosedur dan tata cara yang memperhatikan kelestarian fungsi dan kemampuan ekosistem untuk mendukung kehidupan baik sekarang maupun masa yang akan datang.

2.7. Industri

Industri adalah kegiatan ekonomi yang mengolah bahan mentah, bahan baku, barang setengah jadi, atau barang jadi menjadi barang dengan nilai yang lebih tinggi untuk penggunaannya, termasuk kegiatan rancang bangun dan perekayasaan industri (Undang-undang No. 5 Tahun 1984 tentang Industri). Pada industrialisasi lebih mengarah pada suatu proses atau kegiatan industri yang tengah berlangsung (Soerjani et al., 1987).

Dilaksanakannya kegiatan industri ini pada dasarnya bertujuan untuk meningkatkan kemakmuran dan kesejahteraan rakyat secara adil dan merata dengan memanfaatkan dana, sumber daya alam, atau hasil budidaya serta memperhatikan keseimbangan dan kelestarian lingkungan hidup. Hal ini sejalan dengan pernyataan dari Departemen Perindustrian (2010) yang mengatakan bahwa peran sektor industri dalam pembangunan ekonomi bertujuan untuk memperluas kesempatan kerja, menghasilkan barang dan jasa yang diperlukan masyarakat, menghasilkan devisa melalui ekspor dan menghemat devisa melalui substitusi produk impor. Hal ini juga terbukti dari adanya kenyataan bahwa jika pertumbuhan industri pesat, maka akan dapat merangsang

terjadinya pertumbuhan sektor pertanian dalam rangka menyediakan bahan baku bagi kebutuhan industri tersebut. Menurut Arsyad (1999) selain dapat merangsang pertumbuhan sektor pertanian, pertumbuhan industri juga akan dapat merangsang pengembangan sektor jasa seperti lembaga keuangan, pemasaran, perdagangan, periklanan dan transportasi. Semua sektor jasa tersebut akan mendukung laju pertumbuhan industri yang dapat menyebabkan meluasnya kesempatan kerja yang pada akhimya meningkatkan pendapatan dan daya beli masyarakat. Padahal terdapatnya kenaikan pendapatan dan daya beli masyarakat ini menunjukkan bahwa perekonomian tersebut mengindikasikan terjadi pertumbuhan dan sehat.

Adanya pertumbuhan ekonomi yang sehat ini mendorong setiap daerah melakukan kegiatan industri, oleh karenanya maka dapat dimaklumi jika perkembangan industri dewasa ini dapat dikatakan semakin pesat. Adapun faktor lain yang juga ikut mendorong pertumbuhan dan perkembangan industri antara lain adalah sebagai akibat dari adanya penerapan kemajuan teknologi oleh manusia guna mendapatkan kualitas hidup yang lebih baik. Di lain pihak menurut Allenby (1999) akibat dari adanya dorongan peningkatan kesejahteraan material guna meningkatkan kualitas hidup ini dibutuhkan barang dan jasa yang semakin banyak.

Dalam industrialisasi juga dituntut adanya sumberdaya manusia yang cukup berkualitas, oleh karenanya maka industrialisasi selalu berkaitan dengan diadakannya usaha-usaha untuk meningkatkan mutu sumberdaya manusia serta upaya-upaya untuk meningkatkan kemampuan SDM tersebut di atas dalam memanfaatkan sumberdaya alam dan sumberdaya lain secara optimal. Namun di lain pihak industrialisasi juga dapat mempengaruhi dan mengubah cara pandang masyarakat agraris seperti halnya Indonesia, yang beranggapan bahwa sektor industri adalah sektor yang dapat meningkatkan kesejahteraan, dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi, atau dengan kata lain sektor industri merupakan sektor yang dapat mendongkrak berbagai hal sesuai dengan keinginan semua pihak. Cara pandang masyarakat yang kurang tepat tersebut dapat mendorong masyarakat untuk beramai-ramai melakukan urbanisasi, sehingga masyarakat agraris yang tadinya hidup di perdesaan akan meninggalkan lahan pertaniannya untuk kemudian berpindah ke kota industri dengan bekal keterampilan yang kurang memadai (Allenby, 1999).

Urbanisasi masyarakat perdesaan ke perkotaan hampir sangat sulit untuk dicegah pada era industrialisasi. Faktor penarik utamanya berupa adanya kesempatan kerja yang

lebih baik di kota sehingga dapat meningkatkan penghasilannya, disamping ketersediaan fasilitas yang lebih banyak dan beragam. Faktor pendorong hal tersebut adalah kemiskinan akibat dari tidak seimbangnya pertambahan penduduk dengan ketersediaan lahan atau tanah di desa. Adanya desakan untuk memenuhi kebutuhan hidup ini mengakibatkan mereka tanpa ada paksaan dari siapapun mereka bermigrasi dan cenderung ke arah mendekati tempat kerjanya (industri). Namun demikian menurut Soemarwoto (2001) selain untuk bekerja pada industri, ada diantara mereka yang dalam tujuan migrasinya bukan untuk bekerja menjadi buruh industri, namun bertujuan untuk melakukan kegiatan sosial budaya ekonomi di luar industri, seperti: membuka warung dan pemondokan.

Dalam melaksanakan kegiatan industri tersebut, sudah pasti akan dilakukan pembangunan fisik berupa pembangunan sarana dan prasarana pendukungnya. Namun sayangnya pembangunan sarana dan prasarana tersebut seringkali masih mengabaikan aspek lingkungan, sehingga pembangunan tersebut seringkali tanpa didukung oleh usaha kelestarian lingkungan akan mempercepat proses kerusakan alam (Sunu, 2001). Hal itu dapat ditandai dengan terjadinya kerusakan lingkungan, terkontaminasinya biota-biota yang ada di sekitarnya, terutama biota air yang hidup di perairan penerima limbah cair industri, berkurangnya beberapa biota dan spesies, bahkan terjadi perubahan morfologi dari biota tersebut, sehingga berbeda dari morfologi aslinya (Riani dan Cordova, 2008). Selain hal tersebut, menurut Djajadiningrat (2001) industrialisasi juga dapat mempengaruhi transformasi struktur sosial budaya, seperti urbanisasi, karena industri yang dikembangkan bersifat padat karya.

Di sisi lain, jika terdapat suatu kegiatan industri di suatu tempat, walaupun secara ekonomi terjadi dampak positif berupa terjadinya pertumbuhan ekonomi yang sehat, namun di lain pihak, dapat muncul dampak negatif dari kegiatan industri tersebut. Salah satu contoh dari dampak negatif yang dapat diakibatkan oleh kegiatan industri dan teknologi adalah terjadinya pencemaran lingkungan, baik pencemaran udara, pencemaran air, maupun pencemaran tanah. Terjadinya pencemaran-pencemaran tersebut pada akhirnya dapat mengakibatkan terjadinya berbagai kerugian, seperti lingkungan menjadi tidak sehat, mahluk hidup yang ada di dalamnya menjadi terganggu hidup dan kehidupannya serta akan mengurangi daya dukung lingkungan (Riani dan Cordova, 2008). Oleh karena itu maka dibutuhkan komitmen semua pihak untuk menjaga kelestarian lingkungan agar generasi yang akan datang tidak mewarisi

kerusakan lingkungan yang diakibatkan oleh tindakan manusia saat ini dan dapat menaikan tingkat sosial budaya ekonomi masyarakat (Soemarwoto, 2001).

Menurut Soemarwoto (2001) kualitas lingkungan yang baik akan mempunyai potensi untuk didapatkannya kualitas hidup yang tinggi. Selanjutnya dikatakan bahwa bahwa dalam menilai kualitas hidup tersebut, terdapat tiga buah kriteria yang menunjukkan tercapai tidaknya kualitas hidup yang diinginkan. Adapun ketiga kriteria tersebut, adalah sebagai berikut.

1. Derajat dipenuhinya kebutuhan untuk hidup sebagai makhluk hayati. Kebutuhan ini bersifat mutlak, didorong oleh keinginan manusia untuk menjaga kelangsungan hidup hayatinya. Kelangsungan hidup hayati tidak hanya menyangkut dirinya, melainkan juga masyarakat dan terutama keturunannya. Kebutuhan ini terdiri atas udara, air, pangan. Kesempatan ini untuk mendapatkan keturunan serta perlindungan terhadap serangan penyakit dan sesama manusia. Kebutuhan hidup ini dalam keadaan terpaksa mengalahkan kebutuhan hidup yang lain.

2. Derajat dipenuhinya kebutuhan untuk hidup manusiawi. Kebutuhan hidup ini bersifat relatif, walaupun ada kaitan dengan kebutuhan hidup jenis pertama di atas. Di dalam kondisi iklim Indonesia, rumah dan pakaian, bukanlah kebutuhan yang mutlak untuk kelangsungan hidup hayati, melainkan kebutuhan untuk hidup manusiawi. Kebutuhan hidup manusiawi yang lain adalah pendidikan, agama, seni dan kebudayaan.

3. Derajat kebebasan untuk memilih. Dalam masyarakat yang tertib, derajat kebebasan dibatasi oleh hukum, baik yang tertulis maupun tidak tertulis.

Adanya hubungan antara kualitas lingkungan dengan kualitas hidup yang diukur berdasarkan tiga kriteria tersebut di atas, memperlihatkan bahwa pada dasarnya kualitas lingkungan dapat diukur. Adapun yang dimaksud dengan kualitas lingkungan di sini adalah kondisi lingkungan dalam kaitannya dengan pemenuhan kebutuhan dasar manusia. Semakin tinggi derajat kemampuan lingkungan hidup untuk memenuhi kebutuhan dasar manusia, semakin tinggi pula kualitas hidup dan sebaliknya. Semakin memburuknya kualitas lingkungan maka semakin tinggi dan berat biaya pencapaian tujuan pembangunan yang diinginkan.