METODOLOGI PENELITIAN
E. Pemeriksaan Keabsahan Data
Hal penting yang merupakan bagian dari proses penelitian adalah soal validitas dan reliabilitas data. Validitas dan reliabilitas sesungguhnya merupakan istilah khas penelitian kuantitatif mengenai derajat ketepatan dan ketaat-asasan data penelitian. Dalam penelitian kuantitatif, instrumen penelitian harus diuji untuk mendapatkan data yang valid dan reliabel. Hal itu berbeda dengan penelitian kualitatif yang diuji lebih kepada datanya. Pengujian validitas dan reliabilitas pada penelitian kualitatif disebut dengan pemeriksaan keabsahan data. Formulasi pemeriksaan keabsahan data menyangkut kriteria derajat kepercayaan (credibility), keteralihan (tranferability), kebergantungan (dependability), dan kepastian (confirmability) (Hadi, 2016).
1) Kredibilitas
Derajat kepercayaan atau credibility dalam penelitian kuantitatif adalah istilah validitas yang berarti instrumen yang dipergunakan dan hasil pengukuran yang dilakukan menggambarkan keadaan yang sebenarnya. Sebaliknya dalam penelitian kualitatif digunakan istilah kredibilitas atau derajat kepercayaan untuk menjelaskan keadaan objek yang sesungguhnya (Helauddin & Wijaya, 2019). Adapun teknik pengujian kredibilitas yang penulis lakukan dalam penelitian ini, yaitu:
1) Perpanjangan Keikutsertaan atau Prolonged Engagement Penelitian kualitatif akan sulit dipercayai jika peneliti hanya sekali datang ke lapangan. Walaupun dengan dalih waktu yang digunakan seharian penuh di lapangan. Oleh karena itu dalam penelitian ini penulis memperpanjang waktu pengamatan karena jika hanya sekali datang lokasi penelitian maka akan sulit mendapatkan link atau chemistry dengan partisipan.
Adapun lama perpanjangan pengamatan tergantung pada kedalaman dan keluasan menggali kepastian data hingga
dalam penelitian ini penulis memperoleh makna dibalik yang tampak tersebut.
2) Ketekunan Pengamatan ( Persistent Engagement atau Observation)
Dalam penelitian kualitatif harus mengumpulkan data yang benar, aktual, akurat dan lengkap. Peneliti harus menunjukkan kegigihannya dalam mengejar data yang sudah diperoleh untuk lebih diperdalam dan hal yang belum ada terus diupayakan keberadaannya. Dengan meningkatkan ketekunan dan kegigihan, berarti peneliti melakukan pengamatan secara lebih cermat dan berkesinambungan.
Dalam hal ini penulis berupaya untuk memperdalam dan memperinci temuan setelah data dianalisis. Penulis melakukan pengecekan ulang apakah temuan sementara yang penulis peroleh telah sesuai dan telah menggambarkan konteks penelitian yang spesifik. Apakah temuan penulis sudah mendeskripsikan secara lengkap konteks penelitian dan perspektif para partisipan.
3) Triangulasi
Triangiulasi merupakan pendekatan multimetode, dilakukan peneliti ketika mengumpulkan dan menganalisis data. Pemikiran dasarnya bahwa fenomena penelitian dapat dipahami dengan baik dan diperoleh tingkat validitas tinggi jika didekati dengan berbagai dimensi. Mengidentifikasi fenomena penelitian tunggal dari dimensi berbeda akan diperoleh informasi yang andal. Triangulasi merupakan usaha untuk mengecek data dengan cara memeriksa ulang data. Pemeriksaan ulang dapat dilakukan sebelum atau sesudah data dianalisis. Pemeriksaan dengan cara triangulasi dilakukan untuk meningkatkan derajat kepercayaan dan akurasi data (Firdaus & Zamzam, 2018).
Adapun triangulasi terbagi menjadi 3 bagian yaitu triangulasi sumber data, triangulasi metode, dan triangulasi dengan peneliti lain. Dimana triangulasi sumber data berarti
peneliti menggunakan berbagai jenis sumber data dan bukti dari situasi yang berbeda. Ada 3 sub jenis yaitu orang, waktu dan ruang. Orang, data-data dikumpulkan dari orang-orang berbeda yang melakukan aktivitas sama. Waktu, data-data dikumpulkan pada waktu yang berbeda. Ruang, data-data dikumpulkan di tempat yang berbeda. Bentuk paling kompleks triangulasi sumber data yaitu menggabungkan beberapa sub-tipe atau semua level analisis. Jika data-data konsisten, maka validitas ditegakkan. Dan triangulasi metode berarti peneliti memeriksa konsistensi temuan yang dihasilkan oleh metode pengumpulan data yang berbeda seperti penggabungan metode kualitatif dengan data kuantitatif atau melengkapi data wawancara dengan data observasi. Sedangkan triangulasi dengan peneliti lain berarti pelibatan beberapa peneliti berbeda dalam proses analisis. Bentuk kongkrit biasanya sebuah tim evaluasi yang terdiri dari rekan-rekan yang menguasai metode spesifik ke dalam Focus Group Discussion (FGD). Triangulasi ini biasanya digunakan oleh profesional yang menguasai teknik spesifik dengan berkeyakinan bahwa ahli dari teknik berbeda membawa perspektif berbeda (Muhdi, 2018).
Dalam penelitian ini, penulis menggunakan triangulasi sumber data, dimana peneliti berusaha mewawancarai lebih dari satu orang di pondok pesantren tersebut yakni pengasuh pondok pesantren yang juga sebagai pengajar kitab Adabul ‘Alim wa al-Muta’allim, dan beberapa santri yang belajar kitab tersebut, serta mengumpulkan data-data yang dibutuhkan dari operator pondok pesantren seperti profil pondok pesantren, data pondok pesantren, dan data santri yang ada di pondok pesantren tersebut. Hal ini peneliti lakukan guna memperoleh data yang lebih luas, tuntas, dan pasti. Disamping itu, dengan triangulasi diyakini akan lebih meningkatkan kekuatan data, bila dibandingkan dengan satu pendekatan.
2) Transferabilitas
Kriteria ini dalam penelitian kuantitatif disebut dengan validitas eksternal, yakni sejauh mana hasil penelitian dapat diaplikasikan atau digunakan dalam situasi lain. Dengan kata lain transferabilitas ini berkaitan dengan generalisasi. Menurut nasution (1988), bagi peneliti kualitatif, transferabilitas tergantung pada pengguna, yakni hingga manakah hasil penelitian itu dapat mereka gunakan dalam konteks dan situasi tertentu (Rukajat, 2018).
Oleh karena itu transferabilitas hasil penelitian ini diserahkan kepada para pengguna. Apabila pengguna melihat ada situasi yang identik dengan penelitian ini, maka pengguna dipersilahkan mengaplikasikannya. Namun demikian tentu tidak ada situasi yang sama persis di tempat dan kondisi yang berbeda.
3) Dependabilitas
Dependabilitas atau ketergantungan adalah satu kriteria kebenaran dalam penelitian kualitatif yang pengertiannya sejajar dengan reliabilitas dalam penelitian kuantitatif, yakni mengupas tentang konsistensi hasil peneitian. Konsep ketergantungan lebih lugas daripada reliabilitas, karena peninjauannya lebih dari segi konsep tetapi memperhitungkan segala-galanya yang ada pada reliabilitas itu sendiri (Rukajat, 2018).
Sebuah penelitian dapat dikatakan reliabel jika orang lain dapat megulangi proses penelitian tersebut. Pengujian ini dilakukan dengan cara mengaudit keseluruhan proses penelitian mulai dari menentukan masalah, menentukan sumber data, pengambilan atau pembangkitan data, melakukan analisis data, memeriksa keabsahan data, dan membuat kesimpulan (Helauddin & Wijaya, 2019). Adapun proses auditing dalam penelitian ini dilakukan oleh auditor yang idependen yaitu dosen pembimbing dan juga penulis dengan cara mengaudit keseluruhan kegiatan peneliti dalam melakukan penelitian.
4) Konfirmabilitas
Konfirmabilitas atau kepastian berasal dari konsep objektivitas menurut penelitian non-kualitatif. Agar kebenaran dan objektivitas hasil penelitian dapat dipertanggungjawabkan, maka dilakukan dengan cara “audit trail”, yakni dengan melakukan pemeriksaan ulang sekaligus konfirmasi untuk meyakinkan bahwa hal-hal yang dilaporkan dapat dipercaya dan sesuai dengan situasi yang nyata (Rukajat, 2018).
Untuk menentukan kepastian data, peneliti mengkonfirmasi data kepada para informan dan/atau informan lain yang berkompeten. Konfirmabilitas ini dilakukan bersamaan dengan pengauditan dependabilitas. Perbedaannya terletak pada orientasi penilaiannya. Konfirmabilitas digunakan untuk menilai hasil penelitian yang didukung oleh bahan-bahan yang tersedia, terutama berkaitan dengan deskripsi, temuan penelitian dan pembahasan temuan penelitian.