• Tidak ada hasil yang ditemukan

PEMIKIRAN KALAM ULAMA NUSANTARA 1. Hamzah Fansury

Balasan/pahala itu tergantung pada kadar kecapaian

PEMIKIRAN KALAM ULAMA NUSANTARA 1. Hamzah Fansury

Hamzah Fansury lahir di Sumatera Utara, dikenal sebagai tokoh tasawuf dari Aceh. Ia hidup antara akhir abad ke-16 hingga awal abad ke-17 M. Tokoh sufi ini di tanah air terkenal membawa paham Wahdatul Wujud, yang diambil dari pemikiran Ibnu Arabi. Keluarganya diketahui telah lama dan turun-temurun tinggal di kota Fansur (Barus), sebuah kota pantai di Sumatera.

Berdasarkan bukti hasil karya yang terlacak, Hamzah Fansury adalah peletak dasar bahasa Melayu sebagai bahasa keempat di dunia Islam, setelah bahasa Arab, Persi, dan Turki. Para sejarawan mengasumsikan bahwa ia sudah mulai menulis pada masa Kesultanan Aceh, yaitu pada masa Sultan Alauddin Ri’ayat Syah Sayid al-Mukammal (1589-1604). Sultan Iskandar Muda memiliki peran yang besar dalam mempopulerkan hasil karya-karya Hamzah Fansury. Berbagai daerah yang dikirimi kitab karya Hamzah Amati Gambar Berikut ini

Amati Gambar Berikut

ini

Setelah Anda mengamati gambar disamping buat daftar komentar atau pertanyaan yang relevan

1. ……….

……….

………..

2. ……….

……….

……….

3. ………

………..

………..

Setelah Anda mengamati gambar disamping buat daftar komentar atau pertanyaan yang relevan

1. ……….

……….

………..

2. ……….

……….

……….

3. ………

………..

………..

antara lain Gresik, Kudus, Makassar, Ternate, Malaka, Kedah, Sumatera Barat, dan Kalimantan Barat,

Hampir seluruh hasil karya Hamzah Fansury sebagai sarana mempopulerkan pemikiran Wahdatul Wujud. Beliau memiliki keteguhan dalam berpikir, sekalipun pemikirannya tentang Kesatuan Tuhan dan makhluk ini mendapat tantangan keras dari Nuruddin ar-Raniri. Hamzah dianggap telah menyebarkan ajaran Panteisme. Memang dalam karyanya, Hamzah Fansury sering mengangkat aspek tasybih (keserupaan / kemiripan) antara Tuhan dengan alam ciptaan-Nya. Sekalipun dalam karyanya ia tidak lupa menampilkan aspek tanzih (perbedaan) antara Tuhan dan makhluk, Hanya saja yang banyak ditonjolkan adalah konsep Wahdatul Wujudnya.

2. Syamsuddin as-Sumatrani

Syekh Syamsuddin bin Abdillah as-Sumatrani adalah murid Hamzah Fansury Seperti gurunya, as-Sumatrani juga tokoh penganut paham wahdatul wujud. Walaupun mengikuti aliran yang sama, namun ada perbedaan kentara antara guru dan murid ini.

Hamzah Fansury adalah seorang sufi pencari Tuhan, yang mencoba melakukan pencarian Tuhan karena didorong oleh batinnya. sedangkan, as-Sumatrani seorang ahli sufi dan juga filosuf lebih merasakan kebutuhan mengenali hakikat dari segala sesuatu, serta mengetahui kesatuan yang tersembunyi. As-Sumatrani berpandangan bahwa usaha mengenal Tuhan harus dibimbing oleh guru yang sempurna karena bila tidak maka akan terjerembab dalam kesesatan.

Sebagai murid yang terpercaya, as-Sumatrani mengikuti paham Wahdatul Wujudnya yang dianut gurunya, Dan paham yang dianut oleh as-Sumatrani bertentangan dengan Nuruddin ar-Raniri. Maka oleh ar-Raniri, Ia dianggap menebarkan ajaran yang menyesatkan. Akibatnya karya-karyanya yang berbahasa Arab dan Melayu banyak yang dibakar dan dimusnahkan oleh Nuruddin ar-Raniri atas perintah Sultan Iskandar Sani (1636-1641).

Namun ada Beberapa kitab hasil karya as-Sumatrani yang tersisa dan berhasil diselamatkan tetapi sudah tidak lengkap lagi. Salah satu karya besarnya yang lolos dari pembakaran, Miras al-Mu’min (Warisan Orang yang Beriman), merupakan kitab ilmu kalam yang memuat tanya jawab mengenai kepercayaan Islam. Kitab ini mengupas tentang sifat Allah, sifat para nabi, wahyu, dan hari kebangkitan. Satu kitabnya berjudul Miras al-Muhaqqiqin (Warisan Orang yang Yakin) merupakan kitab tasawuf yang mengupas zikir dan makrifat Allah swt.

3. Nuruddin ar-Raniri

Nuruddin ar-Raniri memiliki nama lengkap Nuruddin Muhammad bin Ali bin Hasanji bin Muhammad bin Hamid ar-Raniri al-Quraisyi asy-Syafi’i. Ia lahir sekitar pertengahan abad ke-16 di Ranir (sekarang Rander) di daerah Gujarat, India, dan meninggal pada tanggal 22 Zulhijah 1069 H atau bertepatan dengan 21 September 1658 M.

Sebagai pendatang, Nuruddin ar-Raniri mulai merantau ke Nusantara, dengan memilih Aceh sebagai tempat tinggalnya. Sebelumnya mengembara, ia mengajar agama dan diangkat sebagai syekh Tarekat Rifaiah di India. Ia datang di Aceh pada tanggal 31 Mei 1637. Ada asumsi bahwa kedatangannya ke Aceh karena Aceh pada saat itu telah menggantikan peran Malaka yang dikuasai Portugis, sebagai pusat perdagangan, politik, dan studi Islam di Kawasan Asia Tenggara.

Nuruddin ar-Raniri terkenal sebagai seorang ulama dan penulis yang sangat produktif. Pada tiap tulisannya, ar-Raniri pun selalu menyebutkan sumber pengambilannya untuk memperkuat argumen yang dipaparkannya. Tulisannya meliputi berbagai cabang ilmu agama, seperti sejarah, fikih, hadits, akidah, mistik, filsafat,

danjuga ilmu perbandingan agama. Karyanya dalam bidang fikih yang cukup populer adalah al-Sirat al-Mustaqim (Jurus Lurus), membahas berbagai masalah ibadah, seperti salat, puasa, dan zakat. Karya-karya lainnya antara lain Bustan al-Salatin (berisi sejarah), dan Asrar al-Ihsan fi Ma’rifat al-Ruh wa al-Rahman (berisi ilmu kalam).

Nuruddin ar-Raniri tertulis dalam sejarah sebagai salah seorang ulama yang mempunyai jasa besar dalam menyebar luaskan bahasa Melayu di kawasan Asia Tenggara. Pada masa itu bahasa Melayu telah tersebar luas menjadi lingua franca.

Nuruddin ar-Raniri mendapat tugas sebagai mufti Kerajaan Aceh pada masa Sultan Iskandar Sani. Posisi penting ini menjadikannya leluasa untuk menerangkan tentang kesesatan ajaran Wihdatul Wujud dan menentang serta memberantas ajaran tersebut yang telah dikembangkan oleh tokoh sufi Hamzah Fansury dan Syamsuddin as-Sumatrani.

Di samping Ar-Raniri memusnakan kitab hasil karya-karya Hamzah Fansury dan Syamsuddin as-Sumatrani, ar-Raniri juga menrbitkan karya tulisan dengan tujuan menyanggah pendapat paham Wujudiyyah yang dianggap sesat tersebut. Karya-karya untuk keperluan tersebut antara lain Asrar al-‘Arifin (Rahasia Orang yang Mencapai Pengetahuan), Syarab al-‘Asyiqin (Minuman Para Kekasih), dan Al-Muntahi (Pencapai Puncak). Di samping berupa tulisan, Ar-Raniri juga melakukan sanggahan melalui polemik-polemik terbuka dengan para pengikut Wujudiyyah.

4. Nawawi al-Bantani

Nawawi al-Bantani nama lengkapnya yaitu Nawawi bin Umar bin Arabi. Di lingkungan keluarganya, ia dikenal dengan sebutan Abu Abdul Mu’ti. Nawawi al-Bantani lahir di Banten pada tahun 1813 M dan meninggal pada tahun 1897 M di Mekah. Makam Nawawi al-Bantani berada di pemakaman Ma’la, berdekatan dengan makam istri Nabi saw. Khadijah. Bila ditelisik dari silsilah keluarga ayahnya, Nawawi adalah salah satu keturunan penguasa pertama kerajaan Banten, Sultan Hasanuddin, putra Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati).

Nawawi al-Bantani adalah salah satu ulama' yang terkenal dan menjadi kebanggaan umat Islam di Asia tenggara, karena dikenal sebagai salah satu ulama besar di kalangan umat Islam internasional. Ia pernah menjabat sebagai imam besar Masjidil Haram. Beberapa juga mendapat julukan kehormatan dari Arab Saudi, Mesir, dan Suriah , seperti Sayid Ulama al-Hejaz, Mufti (Ulama yang dipercaya memberikan Fatwa) dan Faqih ( Ulama' ahli Fiqh). walaupun demikian, Nawawi al-Bantani tetap tampil dengan sangat sederhana.

Pada umur 15 tahun, Nawawi telah melaksanakan ibadah haji dan tinggal di Makkah lebih dari 3 tahun untuk menimba dan memperdalam ilmu agama dari beberapa orang syekh, baik di Mekah maupun di Madinah. Setelah pulang dari Tanah Suci (sekitar tahun 1831 M), Nawawi mengajar di pesantren peninggalan orang tua. Namun karena situasi dan kondisi politik pada sat itu yang tidak menguntungkan, ia memilih kembali lagi ke Mekah dan bermukim di sana hingga akhir hidupnya. Nawawi belajar kepada beberapa orang guru, diantara gurunyanya adalah Syekh Muhammad Khatib Sambas (dari Kalimantan), Syekh Yusuf Sumulaweni ,Syekh Abdul Hamid Dagastani dan Syekh Abdul Gani Bima (dari Nusa Tenggara),.

Karena kecerdasan dan bekal ilmu agama yang ditekuninya selama 30 tahun.

Syekh Nawawi menyampaikan pengajian di Masjidil Haram setiap harinya. Dan pada saat memberikan pengajiannya banyak murid-muridnya yang berasal dari Tanah Air antara lain K.H. Khalil (dari Bangkalan, Madura), K.H. Asy’ari (Bawean, Madura), dan K.H. Hasyim Asy’ari (Jombang, Jawa Timur). Dari Malaysia tercatat nama K.H. Dawud (Perlak), dan masih banyak lagi murid dari berbagai negara. Strateginya melawan penjajahan adalah melalui jalur pendidikan. Nawawi al-Bantani tergolong ulama' yang

tidak agresif dan revolusioner, tetapi Ia tetap anti penjajah. Pada setiap kesempatan Ia selalu memberikan penyadaran kepada murid-muridnya dengan jiwa-jiwa keagamaan serta semangat menegakkan kebenaran di mana saja berada dengan segala tantangan yang dihadapi serta resikonya terutama melawan ketidakadilan yang dilakukan oleh penjajah barat.

Menurut penelitian para sejarah ditemukan bukti bahwa tulisan Syekh Nawawi al-Bantani banyak mempunyai kelebihan dan keistemawaan, diantaranya adalah pemakian bahasa yang sederhana sehingga mudah dan enak dipahami oleh pembaca, hasil karyanya bisa menjelaskan istilah-istilah sulit yang sulit dipahami oleh kebanyakan pembaca, dan kemampuannya menghidupkan isi tulisan sehingga para pembaca dapat menjiwai isinya. Di negara-negara Timur Tengah, kitab-kitab karya Syekh Nawawi sudah tidak asing lagi, karena menjadi bacaan dan bahan materi serta acuan dalam berbagai kelompok kajian.

5. Syekh Ahmad Khatib as-Sambasi

Syekh Ahmad Khatib Sambasi nama belakangnya sambasi yang artinya adalah putral dari Sambas, Kalimantan. Ia adalah seorang ahli tarekat dan mendirikan Tarekat Qadiriyah Naqsyabandiyah yang banyak kita jumpai dan tersebar di tanah Air. Ahmad Khatib lahir di Kalimantan. Tanggal lahirnya tidak terlacak secara pasti. Masa hidupnya lebih banyak dihabiskan di Mekah hingga wafatnya pada tahun 1878 M. Ia mengabdikan hidup dan mendedikasikan ilmu agama yang dikuasainya untuk menjadi guru hingga wafatnya. Menurut Snouck Hurgronje, meskipun Nawawi al-Bantani tetap menunjukkan sikap netralnya terhadap gerakan tarekat, namun ia tetap mengakui sebagai pengikut atau murid guru besar Syekh Ahmad Khatib as-Sambasi.

Hasil karya Syekh Ahmad Khatib Sambasi yang sangat terkenal dan membawa pengaruh kuat terhadap praktik sufisme di daratan tanah Melayu adalah kitab Fath

al-‘Arifin (Kemengan Orang-orang yang Makrifat). Kitab ini adalah panduan praktis berzikir dan berdoa, serta pengamalan kata-kata tertentu tanpa putus. Menurut pendapatnya, hal tersebut merupakan bagian utama dari aktivitas tarekat.

Syekh Ahmad Khatib Sambasi mempunyai pengaruh yang luas. Murid-muridnya berasal dari berbagai belahan penjuru dunia. Di samping Nawawi al-Bantani, murid lainnya antara lain Haji Muhammad Syah dan Haji Fadil (dari Malaysia). Pengaruh tarekat yang dikembangkan oleh dua orang muridnya di Johor Malaysia ini berhasil menghimpun kurang lebih 14.000 pengikut yang loyal sekitar tahun 1940-an.

C. KEGIATAN DISKUSI

Setelah Anda mendalami materi maka selanjutnya lakukanlah diskusi dengan teman sebangku Anda atau dengan kelompok Anda, kemudian persiapkan diri untuk mempresentasikan hasil diskusi tersebut di depan kelas.

D. PENDALAMAN KARAKTER

Dengan memahami Pemikiran Kalam Ulama Modern; pemikiran kalam ulama nusantara, maka seharusnya kita memiliki sikap sebagai berikut :

1. Berpegang teguh pada prinsip dan pendirian.

2. Menghargai pendapat orang lain.

3. Toleran terhadap sesama.

4. Menghindari sikap, perbuatan maupun ucapan yang merugikan orang lain.

5. Berterima kasih dan hormat kepada Guru yang telah dengan sabar membimbing kita menuntut ilmu.

6. Mengamalkan ilmu yang telah diajarkan oleh guru kita.

UJI KOMPETENSI

I. Berilah tanda silang (X) pada huruf a, b, c, d atau e, di depan jawaban yang paling benar !

1. Hamzah Fansury lahir di………

a. Sumatera barat b. Sumatera selatan c. Sumatera utara d. Jawa timur e. Madura

2. Hamzah Fansury terkenal sebagai tokoh…….

a. Fiqih b. Hadis c. Tafsir d. Tasawuf e. Sejarah

3. Faham wahdatul wujud dibawa oleh a. Hamzah Fansury

b. Nuruddin ar-Raniri c. Nawawi al-Bantani d. Syamsuddin as-Sumatrani

e. Syekh Ahmad Khatib as-Sambasi

4. Asrar al-Ihsan fi Ma’rifat al-Ruh wa al-Rahman adalah kitab ilmu kalam, karangan………

a. Hamzah Fansury b. Nuruddin ar-Raniri c. Nawawi al-Bantani d. Syamsuddin as-Sumatrani

e. Syekh Ahmad Khatib as-Sambasi

5. Miratsul al-Mu’min (Warisan orang beriman) adalah kitab ilmu kalam karangan…….

a. Hamzah Fansury b. Nuruddin ar-Raniri c. Nawawi al-Bantani d. Syamsuddin as-Sumatrani

e. Syekh Ahmad Khatib as-Sambasi

6. Nawawi al-Bantani lahir di Banten pada tahun…….

a. 1812 b. 1813 c. 1814 d. 1912 e. 1913

7. Makam Nawawi al-Bantani terletak di pemakaman…...

a. Baqi’

b. Haram c. Nabawi d. Arafah e. Ma’la

8. Syekh Ahmad Khatib as-Sambasi lahir di……

a. Sumatera b. Sulawesi c. Kalimantan d. Aceh

e. Banten

9. Nuruddin ar-Raniri lahir di Ranir daerah Gujarat India, kemudian merantau ke nusantara dan bertempat tinggal di………

a. Bali b. Sulawesi c. Kalimantan d. Aceh e. Banten

10. Diantara karya Syekh Ahmad Khatib as-Sambasi adalah kitab …..

a. Fath al-arifin b. Fath al-qarib c. Fath al-mu’in d. Fath al-wahab e. Fath al-jawwad

II. Jawablah Pertanyaan berikut dengan benar!

1. Jelaskan apa yang anda ketahui dengan konsep wahdatul wujud-nya Hamzah Fansury?

2. Apa jabatan yang diemban Nuruddin ar-Raniri dalam kerajaan Aceh? Dan apa yang dilakukan?

3. Kapan dan dimanakah Syekh Ahmad Khatib as-Sambasi wafat?

4. Thariqah apa yang dianut oleh Syekh Ahmad Khatib as-Sambasi?

5. Sebutkan diantara karya Syamsuddin as-Sumatrani!

Portofolio dan Penilaian Sikap

1.Carilah beberapa ayat dan hadist yang berhubungan dengan pemikiran kalam ulama modern, dengan mengisi kolom di bawah ini :

No.

Nama Surat + No. Ayat /

Hadits Riwayat Redaksi Ayat / Hadits

1.

2.

3.

4, 5.

2. Setelah kalian memahami uraian mengenai pemikiran kalam ulama modern, coba kamu amati perilaku berikut ini dan berikan komentar

No. Perilaku Yang Diamati Tanggapan / Komentar Anda 1.

Andik selalu menghormati pendapat adiknya yang masih di bangku Madrasah Ibtidaiyah.

2.

Suwarno adalah anak yang jago dalam berdebat di madrasahnya 3.

Hazeem tadarus al-Quran setiap hari ba’da maghrib bersama kakak dan adiknya

4.

Cipto dan Rauf sedang dihukum oleh bapak guru karena rambutnya gondrong

5.

Amirah menjadi juara I lomba baca puisi tingkat kabupaten/kota, dia menjadi sombong dihadapan teman-temannya

توملا دعب امل لمعو هسفن اند نم س يكلا

Orang cerdas/pintar itu adalah orang yang mampu mengendalikan