• Tidak ada hasil yang ditemukan

PETA KONSEP

D. Sifat-Sifat Tuhan

Perdebatan antar aliran kalam tentang sifat-sifat Tuhan tidak terbatas pada persoalan apakah Tuhan memiliki sifat atau tidak, tetapi juga pada persoalan-persoalan cabang sifat-sifat Allah, seperti melihat Tuhan dan esensi al-Qur’an.

1. Aliran Mu’tazilah

Washil bin Atha’ menegaskan bahwa siapa saja yang menetapkan adanya sifat qadim bagi Allah, ia telah menetapkan adanya dua Tuhan. Mu’tazilah berpendapat bahwa Tuhan tidak memiliki sifat, sebab apabila Tuhan memiliki sifat, sifat tersebut harus kekal seperti halnya dzat Tuhan. Jika sifat-sifat itu kekal, maka yang kekal bukan hanya satu tetapi banyak. Tegasnya, kekalnya sifat-sifat membawa pada faham banyak yang kekal. Selanjutnya faham ini akan membawa kepada faham politheisme atau syirik.

Definisi mereka tentang Tuhan, menurut Asy’ari bersifat negative. Tuhan tidak mempunyai pengetahuan, kekuasaan, hajat dan lain sebagainya. Tuhan bagi Mu’tazilah tetap mengetahui, berkuasa dan seabagainya tetapi tidak dengan sifat dalam arti kata yang sebenarnya. Artinya, Tuhan mengetahui dengan pengetahuan dan pengetahuan itu adalah Tuhan sendiri.

Aliran Mu’tazilah memberikan daya yang besar kepada akal berpendapat bahwa Tuhan tidak dapat memiliki sifat-sifat jasmani. Mereka menta’wilkan ayat-ayat yang memberikan kesan bahwa Tuhan bersifat jasmani secara metaforis. Dengan kata lain, ayat-ayat al-Qur’an yang menggambarkan Tuhan bersifat jasmani di ta’wil dengan pengertian yang layak bagi kebesaran dan keagungan Allah. Misalnya, kata “istawa”

dalam surat Thaha ayat lima di ta’wil dengan al-istila wa al-ghalabah (menguasai dan mengalahkan), kata ini dalam surat Thaha ayat 39 dita’wilkan dengan “ilmi”

(pengetahuan-Ku), kata “wajhah” dalam surat al-Qashash ayat 88 dita’wilkan dengan dzatuhu ayy nafsuhu (dzatNya, yakni diriNya), kata yadd dalam surat Shad ayat 75 ditakwilkan dengan al quwwah (kekuatan).

Mu’tazilah berpendapat bahwa Tuhan karena bersifat immateri, tidak dapat dilihat oleh mata kepala. Karena, pertama Tuhan tidak mengambil tempat sehingga tidak dapat dilihat, kedua bila Tuhan dapat dilihat dengan mata kepala, berarti Tuhan dapat dilihat sekarang di dunia, padahal kenyataannya tidak ada seorangpun yang dapat melihat Tuhan di alam ini. Ayat-ayat al-Qur’an yang dijadikan sandaran dalam mendukung pendapat diatas adalah;

- QS. Al An’am (6) ayat 103:

ُهُك ِرْدُت لَ

ُراَصْبلأا َوُه َو

ُك ِرْدُي َراَصْبلأا َوُه َو

ُفيِطَّللا ُريِبَخْلا

( ١٠٣ )

Artinya:

Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala yang kelihatan; dan Dialah yang Maha Halus lagi Maha mengetahui.

- QS. Al Qiyamah (75) ayat 23:

Kepada Tuhannyalah mereka melihat.

- QS. Al A’raf (7) ayat 14:

Artinya: Iblis menjawab: "Beri tangguhlah saya sampai waktu mereka dibangkitkan".

- QS. Al Kahfi (18) ayat 110:

Katakanlah: Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: "Bahwa Sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa".

Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, Maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya".

Dan tidak mungkin bagi seorang manusiapun bahwa Allah berkata-kata dengan Dia kecuali dengan perantaraan wahyu atau dibelakang tabir atau dengan mengutus seorang utusan (malaikat) lalu diwahyukan kepadanya dengan seizin-Nya apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Tinggi lagi Maha Bijaksana.

2. Aliran Asy’ariyah

Menurut Asy’ariyah, Tuhan memiliki sifat karena perbuatan-perbuatannya.

Mereka juga mengatakan bahwa Tuhan mengetahui, berkuasa, menghendaki dan sebagainya serta memiliki pengetahuan, kemauan dan daya. Asy’ariyah berpendapat bahwa sifat-sifat Tuhan itu unik sehingga tidak dapat dibandingkan dengan sifat-sifat manusia

Asy’ariyah memberi daya yang kecil pada akal dan menolak faham Tuhan memiliki sifat-sifat jasmani, jika sifat jasmani dianggap sama dengan sifat manusia.

Tetapi ayat-ayat al-Qur’an yang menggambarkan Tuhan memiliki sifat jasmani, tidak boleh dita’wilkan tetapi harus diterima sebagaimana makna harfiahnya. Oleh sebab itu, Tuhan dalam pandangan Asy’ariyah mempunyai mata, wajah, tangan serta bersemayam di singgasana. Tetapi, semua dikatakan la yukayyaf wa la yuhadd (tanpa diketahui bagaimana cara dan batasnya).

Tuhan dapat dilihat dengan mata kepala kelak di akhirat. Asy’ary menjelaskan bahwa sesuatu yang dapat dilihat adalah sesuatu yang mempunyai wujud. Karena Tuhan

memiliki wujud, Ia dapat dilihat, lebih jauh dikatakan Tuhan melihat apa yang ada.

Dengan demikian, Dia melihat diri-Nya juga. Jika Tuhan melihat diri-Nya, tentu Ia dapat membuat manusia mempunyai kemampuan melihat diri-Nya. Ayat-ayat al-Qur’an yang dijadikan sandaran dalam menopang pendapatnya adalah ;

- QS. Al Qiyamah (75) ayat 22-23:

Artinya: Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. kepada Tuhannyalah mereka melihat. tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, berkatalah Musa: "Ya Tuhanku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau". Tuhan berfirman: "Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku, tapi lihatlah ke bukit itu, Maka jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala) niscaya kamu dapat melihat-Ku". tatkala Tuhannya Menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, Dia berkata: "Maha suci Engkau, aku bertaubat kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman".

- QS. Yunus (10) ayat 26:

mereka Itulah penghuni syurga, mereka kekal di dalamnya.

3. Aliran Maturidiyah

Menurut Maturidiyah, sifat-sifat Tuhan itu mulazamah (ada bersama; inhern) dzat tanpa terpisah (innaha lam takun ain al-dzat wa la hiya ghairuhu). Menetapkan sifat bagi Allah tidak harus membawa kepada pengertian anthropomorphisme, karena sifat tidak berwujud yang terpisah dari dzat, sehingga berbilang sifat tidak akan membawa pada berbilangnya yang qadim (taaddud al-qudama). Tampaknya faham Maturidiyah tentang makna sifat Tuhan cenderung mendekati faham Mu’tazilah.

Perbedaannya, al-Maturidi mengakui adanya sifat-sifat Tuhan, sedangkan Mu’tazilah menolak adanya sifat-sifat Tuhan.

Menurut Maturidi Samarkand, dalam menghadapi ayat-ayat yang memberi gambaran Tuhan memiliki sifat jasmani, mereka mengatakan bahwa yang dimaksud dengan tangan, muka, mata dan kaki adalah kekuasaan Tuhan.

Demikian pula Maturidi Bukhara, mereka sependapat dengan Asy’ariyah dan Maturidi Samarkand bahwa Tuhan dapat dilihat dengan mata kepala. Al-Bazdawi mengatakan, bahwa Tuhan kelak memperlihatkan diri-Nya untuk kita lihat dengan mata kepala, sesuai dengan apa yang Ia kehendaki.

4. Aliran Syi’ah Rafidhah

Sebagian besar tokoh Syi’ah Rafidhah menolak bahwa Allah senantiasa bersifat tahu. Mereka menilai bahwa pengetahuan itu bersifat baru, tidak qadim. Sebagian besar mereka berpendapat bahwa Allah tidak tahu terhadap sesuatu sebelum kemunculannya.

Sebagian dari mereka berpendapat bahwa Allah tidak bersifat tahu terhadap sesuatu sebelum Ia menghendakinya. Ketika Ia menghendaki sesuatu, Ia pun bersifat tahu. Jika Ia tidak menghendaki, maka Ia tidak bersifat tahu. Makna Allah berkehendak menurut mereka adalah bahwa Allah mengeluarkan gerakan (taharraka harkah). Ketika gerakan itu muncul, Ia bersifat tahu terhadap sesuatu itu. Mereka berpendapat pula bahwa Allah tidak bersifat tahu terhadap sesuatu yang tidak ada.

Sebagian dari mereka berpendapat bahwa pengetahuan merupakan sifat dzat Allah dan bahwa Allah tahu tentang diri-Nya sendiri, tetapi Ia tidak dapat di sifati tahu terhadap sesuatu sebelum sesuatu itu ada. Sebagian yang lain berpendapat bahwa Allah senantiasa mengetahui dan pengetahuan-Nya merupakan sifat dzat-Nya. Ia tidak dapat disifati bersifat tahu terhadap sesuatu sebelum sesuatu itu ada, sebagaimana manusia tidak dapat disifati melihat dan mendengar sesuatu sebelum bertemu dengan sesuatu itu sendiri.

Mayoritas tokoh Rafidhah menyifati Tuhannya dengan bada (perubahan).

Mereka beranggapan bahwa Tuhan mengalami banyak perubahan. Sebagian mereka mengatakan bahwa Allah terkadang memerintahkan sesuatu lalu mengubahnya.

Terkadang Ia menghendaki melakukan sesuatu lalu mengurungkannya karena ada perubahan pada diri-Nya. Perubahan ini bukan dalam arti naskh, tetapi dalam arti bahwa pada waktu yang pertama Ia tidak tahu apa yang akan terjadi pada waktu yang kedua.

C. KEGIATAN DISKUSI

Setelah Anda mendalami materi maka selanjutnya lakukanlah diskusi dengan teman sebangku Anda atau dengan kelompok Anda, kemudian persiapkan diri untuk mempresentasikan hasil diskusi tersebut di depan kelas.

Ambillah persoalan-persoalan berikut sebagai bahan diskusi:

1. Hilwa adalah seorang anak yang rajin beribadah dalam kesehariannya Hilwa beramal dengan sangat ikhlas dan tampak tidak berharap hanya keridlaan Allah swt. sampai kedua orang tuanya begitu terharu. Bagaimanakah Hilwa dapat seperti itu?

2. Di sebuah sekolah, siswanya dianjurkan selalu membawa al-Quran setiap pergi ke sekolah. Sesampainya di sekolah, al-Quran dikumpulkan di rak khusus yang berada di kelas masing-masing. Kenapa al-Quran harus ditempatkan di tempat yang khusus?

3. Bakar adalah seorang petani yang hidupnya pas-pasan yang hidup di sebuah desa yang jauh dari kota, dengan kemiskinannya tersirat betapa percayanya dia dengan kekuasaan dan kehendak Allah.

D. PENDALAMAN KARAKTER

Dengan memahami persoalan-persoalan pokok ilmu kalam perspektif aliran kalam, maka seharusnya kita memiliki sikap sebagai berikut :

a. Berpegang teguh pada prinsip dan pendirian.

b. Menghargai pendapat orang lain.

c. Toleran terhadap sesama.

d. Menghindari sikap, perbuatan maupun ucapan yang merugikan orang lain.

e. Berterima kasih dan hormat kepada Guru yang telah dengan sabar membimbing kita menuntut ilmu.

f. Mengamalkan ilmu yang telah diajarkan oleh guru kita.

UJI KOMPETENSI

I. Berilah tanda silang (X) pada huruf a, b, c, d atau e, di depan jawaban yang paling benar !

1. Tuhan memiliki sifat, tetapi tidak sama dengan makhluq-Nya adalah pendapat…..

a. Mu’tazilah b. Asy’ariyah

c. Salafiyah

d. Qadariyah e. Maturidiyah

2. Menurut Mu’tazilah, perbuatan baik dan buruk manusia harus diganjar oleh Tuhan, karena merupakan konsekuensi dari prinsip…..

a. Al-Tauhid b. Al-‘Adl

c. Al-wa’du wal wa’id

d. Al-Manzilah bainal Manzilatain e. Amar ma’ruf-nahi munkar

3. Pendapat Asy’ariyah tentang kekuasaan dan kehendak mutlak Tuhan adalah….

a. Tuhan itu adil dan tidak mungkin berbuat zhalim dengan memaksakan kehendak kepada hamba-hamba-Nya

b. Tuhan memang memiliki kekuasaan mutlak, namun kekuasaan-Nya dibatasi oleh batasan yang diciptakan-Nya sendiri.

c. Tuhan tidak mungkin melanggar janji-janji-Nya, memberi pahala kepada orang yang berbuat baik dan menghukum orang yang berbuat jahat.

d. Tuhan berbuat sesuatu semata-mata adalah kekuasaan dan kehendak mutlak-Nya e. Kekuasaan dan kehendak mutlak Tuhan ikut keinginan manusia.

4. Pandangan aliran Mu’tazilah dengan sifat Allah adalah…..

a. Sifat Allah banyak sekali

b. Allah hanya mempunyai sifat satu c. Tuhan tidak memiliki sifat d. Tuhan memiliki sifat

e. Sifat-sifat Tuhan itu mulazamah

5. “Kalam Allah itu Esa dan Qadim”, ini adalah pendapat aliran………..

a. Asy’ariyah b. Jabariyah c. Murji’ah d. Mu’tazilah e. Wahabiyah

6. Aliran Kalam yang memiliki kesamaan pandangan tentang “Tuhan bersifat adil karena Ia mengganjar perbuatan baik/buruk hasil ikhtiar manusia”, adalah…..

a. Asy’ariyah dan Maturidiyah b. Jabariyah dan Qadariyah c. Syi’ah dan Murji’ah d. Qadariyah dan Mu’tazilah e. Salafiyah dan Wahabiyah

7. “Manusia memiliki daya yang besar dan bebas” adalah merupakan pendapat aliran…….

a. Asy’ariyah b. Jabariyah c. Murji’ah

d. Mu’tazilah e. Wahabiyah

8. Tuhan memiliki sifat karena perbuatan-perbuatannya, adalah pendapat dari aliran……

a. Mu’tazilah b. Maturidiyah c. Asy’ariyah d. Syi’ah e. Murji’ah

9. Perbuatan manusia menurut aliran Qadariyah………..

a. Perbuatan manusia bukan perbuatan yang timbul dari kemauan sendiri, tapi dipaksakan.

b. Perbuatan manusia dilakukan atas kehendak sendiri.

c. Perbuatan manusia terjadi begitu saja tanpa di ketahui.

d. Perbuatan manusia di adakan oleh Tuhan.

e. Perbuatan manusia terjadi tanpa sepengetahuan Tuhan.

10. Kehendak mutlak Tuhan, dibatasi oleh keadilan Tuhan adalah pendapat dari……..

a. Maturidiyah Bukhara b. Maturidiyah Samarkand c. Murji’ah Moderat d. Murji’ah

e. Mu’tazilah

II. Jawablah pertanyaan berikut dengan benar!

1. Bagaimanakah pendapat Mu’tazilah tentang sifat Allah? Sebutkan dalilnya!

2. Bagaimana pendapat aliran Qadariyah tentang perbuatan manusia? Sebutkan dalilnya!

3. Bagaimana pendapat aliran Asy’ariyah tentang kekuasaan dan kehendak muthlak Allah? Sebutkan dalilnya!

4. Jelaskan pendapat aliran Mu’tazilah tentang kalamullah!

5. Jelaskan pendapat aliran Maturidiyah tentang sifat Allah!

Portofolio dan Penilaian Sikap

1.Carilah beberapa ayat dan hadist yang berhubungan dengan persoalan-persoalan pokok ilmu kalam dengan mengisi kolom di bawah ini :

No.

Nama Surat + No. Ayat /

Hadits Riwayat Redaksi Ayat / Hadits

1.

2.

3.

4, 5.

2. Setelah kalian memahami uraian mengenai persoalan-persoalan pokok ilmu kalam perspektif aliran kalam, coba kamu amati perilaku berikut ini dan berikan komentar

No. Perilaku Yang Diamati Tanggapan / Komentar Anda 1.

Qomar anak yang suka mengamuk di kelas

2.

Hanna selalu melakukan sholat dhuha pada waktu istirahat 3.

Ali dan Supri adalah dua siswa yang disukai guru dan teman-temannya

4.

Hartono baru saja menjadi juara I lomba MTQ tingkat provinsi tetapi dia tidak tetap rendah diri 5.

Siti selalu sayang terhadap dua orang adiknya yang masih kecil sekalipun kadang-kadang adiknya ada yang nakal

Hikmah

بحأ لامعلأا

الله يلإ لق نإو اهمودأ

Amal yang paling disukai Allah adalah yang dilakukan terus