• Tidak ada hasil yang ditemukan

PETA KONSEP

A. Perbuatan Manusia

Masalah perbuatan manusia, bermula dari pembahasan sederhana yang di lakukan oleh kelompok Jabariyah dan kelompok Qodariyah, yang kemudian di lanjutkan lebih mendalam oleh aliran Mu’tazilah, Asy’ariyah dan Maturidiyah.

1. Aliran Jabariyah

a. Aliran Jabariyah Ekstrim

Aliran ini berpendapat, bahwa segala perbuatan manusia bukanlah merupakan perbuatan yang timbul dari kemauannya sendiri, Tetapi kemauan yang dipaksakan atas dirinya karena tidak mempunyai daya, tidak mempunyai kehendak sendiri, dan tidak memunyai pilihan.

b. Aliran Jabariyah Moderat

Aliran ini berpendapat, bahwa Tuhan menciptakan perbuatan manusia, baik perbuatan jahat maupun perbuatan baik, tetapi manusia mempunyai peranan di dalamnya. Tenaga yang diciptakan dalam diri manusia mempunyai efek untuk mewujudkan perbuatannya.

Amati Gambar Berikut iniut ini Setelah Anda mengamati gambar disamping buat daftar komentar atau pertanyaan yang relevan

1. ……….

……….

………..

2. ……….

……….

……….

3. ………

………..

………..

Setelah Anda mengamati gambar disamping buat daftar komentar atau pertanyaan yang relevan

1. ……….

……….

………..

2. ……….

……….

……….

3. ………

………..

………..

Amati Gambar Berikut ini

2. Aliran Qadariyah

Aliran Qodariyah menyatakan bahwa segala tingkah manusia dilakukan atas kehendaknya sendiri. Manusia mempunyai kewenangan untuk melakukan segala perbuatannya atas kehendaknya sendiri, baik berbuat baik maupun berbuat jahat. Oleh karena itu, ia berhak mendapatkan pahala atas kebaikan yang di lalkukannya dan berhak mendapatkan hukuman atas kejahatan yang di perbuatnya. Semua perbuatan manusia adalah pilihannya sendiri, bukan oleh kehendak atau takdir Tuhan.

Aliran Qodariyah berpendapat bahwa tidak ada alasan yang tepat menyandarkan segala perbuatan manusia kepada perbuatan Tuhan. Banyak ayat yang mendukung pendapat ini, misalnya dalam surat Al-Kahfi [18] ayat 29:

ِلُق َو

Dan Katakanlah: "Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; Maka Barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan Barangsiapa yang ingin (kafir) Biarlah ia kafir". Sesungguhnya Kami telah sediakan bagi orang orang zalim itu neraka, yang gejolaknya mengepung mereka. dan jika mereka meminta minum, niscaya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan muka. Itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek.

Dalam surat Ali Imran [3] ayat 165:

اَّمَل َوَأ

telah menimpakan kekalahan dua kali lipat kepada musuh-musuhmu (pada peperangan Badar), kamu berkata: "Darimana datangnya (kekalahan) ini?" Katakanlah: "Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri". Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Dalam surat Al-Ra’d [13] ayat 11:

ُهَل

Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak merobah Keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, Maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.

Dalam surat Al-Nisa [4] ayat 111:

ْنَم َو

Artinya:

Barang siapa yang mengerjakan dosa, Maka Sesungguhnya ia mengerjakannya untuk (kemudharatan) dirinya sendiri. dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.

3. Aliran Mu’tazilah

Aliran Mu’tazilah memandang manusia memiliki daya yang besar dan bebas.

Oleh karena itu, mereka sefaham dengan Qodariyah dengan faham free will. Daya yang ada pada diri manusia adalah tempat terciptanya perbuatan. Jadi, Tuhan tidak dilibatkan dalam perbuatan manusia.

Dalam faham ini, Mu’tazilah mengakui Tuhan sebagai pencipta awal, sedangkan manusia berperan sebagai fihak yang berkreasi untuk merubah bentuknya. Untuk membela fahamnya, mereka mengungkapkan firman Allah surat al-Sajdah (32) ayat:7:

يِذَّلا

Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan yang memulai penciptaan manusia dari tanah.

Yang dimaksud dengan ahsana pada ayat diatas adalah semua perbuatan Tuhan adalah baik. Dengan demikian perbuatan manusia bukan perbuatan Tuhan, karena di antara perbuatan manusia ada perbuatan jahat.

Disamping argumentasi naqliyah (dalil naqli) diatas, aliran ini mengungkapkan argumentasi rasional (dalil ‘aqli) mereka sebagai berikut:

a. Apabila Allah menciptakan perbuatan manusia, sedangkan manusia sendiri tidak mempunyai perbuatan, batallah taklif syar'i. Hal ini karena syariat adalah ungkapan perintah dan larangan yang merupakan thalab, pemenuhan thalab tidak terlepas dari kemampuan, kebebasan, dan pilihan.

b. Apabila manusia tidak bebas untuk melakukan perbuatannya. Runtuhlah teori pahala dan hukuman yang muncul dari konsep faham al-wa'd wa al-wa'id (janji dan ancaman). Hal ini karena perbuatan itu menjadi tidak dapat di sandarkan kepadanya secara mutlak sehingga berkonsekwensi pujian atau celaan.

c. Apabila manusia tidak mempunyai kebebasan dan pilihan, pengutusan para Nabi tidak ada gunanya sama sekali. Bukankah tujuan pengutusan itu adalah dakwah dan dakwah harus dibarengi dengan kebebasan pilihan?

Dari faham di atas, Mu’tazilah berpendapat bahwa manusia terlibat dalam penentuan ajal, karena ajal ada dua macam, yang pertama al-ajal al-thabi’i. ajal inilah yang dipandang oleh Mu’tazilah sebagai kekuasaan mutlak Tuhan untuk menentukannya. Ajal yang kedua, ajal yang dibikin oleh manusia itu sendiri, misalnya membunuh seseorang atau bunuh diri di tiang gantungan atau minum racun. Ajal ini bisa dipercepat atau diperlambat.

4. Aliran Asy’ariyah

Dalam faham Asy’ari, manusia ditempatkan pada posisi yang lemah. Aliran ini lebih dekat dengan faham Jabariyah. Untuk menjelaskan dasar pijakannya, Asy’ari memakai teori kasb (acquisition, perolehan), segala sesuatu terjadi dengan perentaraan daya yang diciptakan, sehingga menjadi perolehan dari muktasib (yang memperoleh kasb) untuk melakukan perbuatan, manusia kehilangan keaktifan, sehingga manusia hanya bersikap pasif dalam perbuatan-perbuatannya. Argument yang di pakai oleh Al-Asy’ari untuk membela keyakinannya adalah Q.S. Ash-shaffat (37) ayat 96:

َُّاللّ َو

Artinya:

“Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu".

Wa ma ta’malun pada ayat di atas, di artikan Al Asy’ari dengan apa yang kamu perbuat dan bukan apa yang kamu buat. Dengan demikian ayat ini mengandung arti Allah menciptakan kamu dan perbuatan-perbuatanmu. Dengan kata lain dalam Asy’ariyah yang mewujudkan kasab atau perbuatan manusia adalah Tuhan.

5. Aliran Maturidiyah

Ada perbedaan antara Maturidiyah Samarkand dan Bukhara mengenai perbuatan manusia:

a. Maturidiyah Samarkand

Kehendak dan daya buat pada diri manusia tapi posisinya lebih kecil daripada daya yang terdapat dalam faham Mu’tazilah. Oleh karena itu, manusia dalam faham Al-Maturidi Samarkand, tidaklah sebebas manusia dalam faham Mu’tazilah.

b. Maturidiyah Bukhara.

Manusia tidak mempunyai daya untuk melakukan perbuatan, hanya Tuhanlah yang dapat menciptakan, dan manusia hanya dapat melakukan perbuatan yang telah diciptakan Tuhan baginya.