X Y
Z
Sumber: Hasil wawancara diolah penulis
Dengan pekerjaan kru supir yang tidak begitu rumit dan memerlukan berbagai jenis tugas, korelasi internal dalam PT. CAT kebanyakan tidak terlalu kompleks. Bisa dipastikan tugas kru supir (X,Y,Z) tidak terlalu bergantung pada konseptual skills. Sesuai hasil wawancara, PT. CAT membuat satu tim gugus kendali kerja dengan lima orang per tim. Setiap manajer mengawasi 25 orang (lima tim)
d. Analisis teori
Contoh pekerjaan kru supir memiliki rentangan subjektif, dalam faktor ini corak pekerjaan beranekaragam rentang kontrol sempit, jarak atau letak para pejabat bawahan (pengawas) itu berdekatan rentangan kontrol luas, sedang apabila jarak atau atau letak para pejabat bawahan itu saling berjauhan rentangan kontrol sempit, span of control lebih sempit bila organisasi dalam keadaan labil (permintaan BBM yang
fluktuatif) dan lebih luas bila stabil, rentang sempit bila jumlah tugas pokok pejabat atasan dan bawahan banyak, dan jika waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan pekerjaan itu singkat, rentang kontrol luas, sebaliknya waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan tiap pekerjaan itu lama, rentang kontrol sempit.
Untuk menghitung korelasi berlaku rumus: Korelasi Internal =n. (n-1)/2; n=Jumlah anak buah. Jumlah n berdasarkan hasil wawancara biasanya adalah lima orang dalam satu tim gugus kendali. Hitungan kasar korelasi dalam PT. CAT = 5. (5-1)/2 = 10 korelasi dari segi jumlah untuk setiap tim. Jadi bila ada 3000 anak buah dibagi lima menjadi 600 tim dikali 10 berarti seluruh korelasi tim dalam PT. CAT berjumlah 6000 korelasi.
Dari hasil wawancara setiap manajer mengawasi paling sedikit 25 orang maka korelasi internalnya 25. (25-1)/ 2= 300 orang. Bila ditambahkan total korelasi internal seluruhnya yang ada didalam PT. CAT sekitar 6300 korelasi. Manajer yang memiliki variasi kompleksitas dan korelasi internal yang tinggi disarankan memiliki jumlah anak buah yang lebih sedikit, dari pada manajer dengan jumah korelasi internal yang sedikit dan tingkat kompleksitas yang rendah atau cenderung seragam.
3. Posisi dalam organisasi a. Kondisi
Proses posisi dalam jabatan dalam PT. CAT belum melakukan pengelompokkan pemetaan dalam jenis bisnis seperti pada Gambar II-7 (bab II hal 42).
b. Klasifikasi data (1) Kriteria
(2) Temuan
Sesuai hasil wawancara, beberapa aspek posisi dalam jabatan didalam PT. CAT terdiri dari:
(a) Berdasarkan pertimbangan kontrol untuk meminimlkan risiko terjadinya fraud dan konflik kepentingan. PT. CAT menerapkan segregation of duties. Ketika terdapat pembelian komputer untuk departemen SDM maka,
bukan menjadi tugas departemen SDM dalam melakukan pengadaan komputer bagi departemennya, melainkan tugas dari bagian pengadaan barang yang masuk dalam manajemen operasional dan logistik.
(b) Pertimbangan berdasarkan sistem dan prosedur kerja yang telah dinyatakan, sehingga hubungan pekerjaan dalam setiap aktivits dan parameter ukurannya adalah TQM.
(c) Terkahir dikarenakan pertimbangan sinergi yang menguntungkan, misalkan dikarenakan untuk saling berbagai peralatan dan fasilitas atau sinergi sehingga kedua bagian tersebut sering bertemu secara informal untuk memperkuat koordinasi yang diperlukan. Contohnya departemen HRD dapat memanfaatkan atau meminta bantuan departemen tenaga pemasar dari divisi pemasaran untuk memasarkan lowongan pekerjaan.
c. Analisis teori
Tidak terdapat pengelompokkan posisi dalam jenis pemetaan bisnis yang jelas berakibat tidak sinerginya bisnis, fungsi, sub-fungsi, area, tim yang menjadi sistem pendukung (HRD, pemasaran, keuangan) dan sistem inti (kegiatan operasional dari
input-proses-output) menjadikan kurang maksimalnya PT. CAT dilihat dengan adanya load information ketika penulis melakukan observasi.
Adanya tumpang tindih kegiatan bisnis antara distribusi bahan bakar dengan bisnis advertising atau dengan bisnis lainnya yang dilakukan PT. CAT. Bukan banyaknya jenis atau jumlah bisnis yang menggangu dan menjadikan load information namun tidak jelasnya pengelompokkan posisi dalam jenis pemetaan
bisnis secara tertulis yang menjadi tidak komperhensifnya pengertian para satkeholders yang bisa jadi tidak langsung mengerti struktural personil yang bekerja
saat datang ke head office.
4. Penamaan jabatan a. Kondisi
Proses penamaan jabatan dalam PT. CAT belum menunjukkan adanya penamaan jabatan yang komperhensif artinya tidak ada integral antara foto, bentuk kotak nama jabatan agar dapat membedakan secara langsung wewenang dan tanggung jawab yang diemban, serta ketidakcocok kan penamaan “PT. Cahaya Andhika Tamara Team” pada struktur organisasi perusahaan. Foto atasan dan bawahan berguna untuk memotivasi, dan membuat orang dari luar perusahaan maupun karyawan internal (terutama karyawan yang baru) tahu siapa melapor ke siapa.
Untuk aspek penamaan struktur, walaupun menurut penulis seharusnya
dinamakan “ Struktur Multidivisonal PT. Cahaya Andhika Tamara” namun untuk
untuk menciptakan agar perusahaan dipandang sebagai team yang solid secara pilihan kata.
b. Klasifikasi data (1) Kriteria
Tidak ada kriteria internal khusus yang mengatur (2) Temuan
Dari penggambaran struktur, hanya direktur utama saja yang terdapat foto, nama lengkap dan jabatannya. Didalam penamaan jabatan PT. CAT belum ada terdaftar penamaan jabatan didalam struktur organisasi yang jelas, hanya ada kejelasan dalam penamaan dijabatan direktur utama dengan foto dan nama serta gelar yang lengkap.
c. Analisis teori
Terkait penamaan Jabatan, sangat disarankan untuk menggunakan istilah umum, sehingga memudahkan pelanggan, pemasok, pembaca iklan lowongan dan pihak eksternal. Ketika dilakukkan pengelompokkan jabatan berdasarkan tempat, waktu kerja atau jenis pelanggan, dan berniat membedakannya dengan jabatan, maka tempatkan informasi terebut dibagaian bawah dari nama jabatan.
5. Struktur organisasi a. Kondisi
Proses struktur dalam PT. CAT sudah dalam strategi bisnis yang sesuai dikarenakan telah melihat secara fungsional dan divisional. Proses struktur formalnya
adalah kebijakan dan prosedur sesuai dengan budaya organisasi yang tertuang dalam visi, misi maka struktur perilaku berdasarkan kebijakan dan prosedur organisasi yang telah ditetapkan.
b. Klasifikasi data (1) Kriteria
Efisien dan efektif menjadi pedoman yang difokuskan untuk mencapai profit oriented (2) Temuan
Dari struktur organisasi PT. CAT terlihat bahwa turunan struktur organisasinya adalah struktur fungsional dan turun lagi khusus melalui fungsi operasional menjadi struktur divisional, mempunyai kesamaan lokasi membentuk turunan struktur lagi berupa struktur divisional secara geografis.
Dapat dikatakan bahwa PT. CAT memakai struktur campuran. Tepatnya campuran fungsional dengan divisional. Isu kontrol karena jumlah lokasi yang luas maka model pengelompokkan berdasarkan geografis yang tepat merupakan alasan perusahaan ini memakai struktur campuran ini.
Direktur Utama DR. Hendrik H Sitompul
Marketing Human Resources Operational Acounting Finanace
BM Medan BM Bandung BM Jakarta BM Surabaya BM Makasar BM Purwokerto BMSemarang BM Palembang 122