• Tidak ada hasil yang ditemukan

melihat keadaanya indonesia ini kan sangat

C. Penanaman Nilai-Nilai Kerukunan Beragama di SMP Muhammadiyah Salatiga

i) Proses Kegiatan Belajar Mengajar

Demi tujuan mulia, Pendidikan sebenarnya dianggap cehauai instrumen penting. Sebab pendidikan sampai sekarang diyakini mempunyai peran besar dalam membentuk karakter individu-individu yang dididiknya, dan mampu menjadi “guiding light” bagi generasi muda penerus bangsa. Melalui sistem pendidikanya, sebuah pendidikan yang berbasis toleransi akan berusaha memelihara dan berupaya menumbuhkan pemahaman yang inklusif pada peserta didik. Dengan suatu orientasi untuk memberikan penyadaran terhadap para peserta didiknya akan pentingnya saling menghargai, menghormati dan bekeija sama dengan agama-agama lain melalui ajaran aqidaii, perlu menekankan pentingnya “persaudaraan” umat beragama.

Dalam mata Pelajaran aqidah, seharusnya bukan sekedar menuntut pada setiap peserta didik untuk menghafal sejumlah mateii yang berkaitan denganya, seperti iman kepada A lla h S W T , N a b i M u h a m a d S A W , dll. T e ta p i

sekaligus menekankan arti pentingnya penghayatan implementasi keimanan tadi dalam kehidupan sehari-hari. Intinya, aqidah harus berbuntut dengan amal perbuatan yang baik atau akhlak al-Karimah pada peserta didik, memiliki

akhlak yang baik pada Tuhan, alam dan sesama umat manusia. Salah seorang guru yang terkait dengan hal ini menjelaskan :

“..saya hanya sebatas menerangkan iman iman ..rukun iman. Itupun waktunya saja sangat kurang, habis di materi. Jadi untuk memasukkan nilai kerukunan belum sempat, .kalau masalah toleransi itu pada mata pelajaran akhlaq yang iampu oleh ibu N i’m ah.f’ (wawancara, SD. 32/5/2010)

lViciiiicu lGaiiia iciacuut, ivicuva. u.i auuiaii pti iuii^a pCuaiiiuaiiaii ncuviu

pelajaran serta menampilkan pendidikan agama yang fokusnya adalah bukan semata kemampuan mual dan keyakinan tauhid, melainkan juga harus sampai pada tataran akhlak sosial dan kemanusiaan.

Dalam proses belajar mengajar, guru memegang pemanan vital. Guru turut menentukan keberhasilan suatu proses pembelajaran. Guru yang memiliki kualifikasi akan menghasilkan keluaran (out put) yang memadai.

Untuk membina anak didik agar menjadi manusia yang toleran, yang memiliki wawasan luas mengenai agama, dan selalu berusaha mewujudkan kehidupan keagamaan yang harmonis, diperlukan guru yang berkualitas dan memiliki kualifikasi. Beberapa hal perlu dilakukan untuk meningkatkan kualitas guru.

Pada lembaga pendidikan SMP Muhammadiyah, terkait penanaman Nilai-Nilai keukunan beragama secara eksplisit lebih ditekankan pada mata pelajaran tertentu. Adapun untuk mata pelajaran yang lainnya yang bersifat umum hanya sebatas menasukkan sebagai tambahan, itupun jikalau

sangat berbeda jauh dengan materi PKN dahulu ketika masih bernama PMP/ Pendidikan Budi Pekerti yang syarat akan nilai-nilai moral kemanusiaan.

Menurut beliau solusinya pada KBM tertentu yang memungkinkan tema bisa dikaitkan dengan nilai moral kemanusiaan seperti kerukunan beragama mereka sisipkan, akan tetapi hal tersebut sifatnya sangat terbatas karena sang guru juga terpaku pada target akhir pada silabi.

Penanaman nilai nilai tasamuh beragama di SMP Muhammadiyah terkesan marih sangat terbatas pada mata pelajran Pendidikan Agama Islam ruang lingkup Akhlaq. Hal tersebut dikarenakan terkadang guru secara tidak sadar telah menanamkan sikap menghargai orang lain. Di SMP Muhammadiyah tasamuh diajarkan melalui beberapa cara. Hal tersebut tergantung guru yang mengajar serta tergantui.g situasi dan kondisi.

Adapun mengenai cara dan metode penanaman nilai tersebut Menurut salah seorang guru menjelaskan cara-cara'' metode yang digunakan berbeda- beda iergantung guru yang mengajar diantaranya:

Cara-cara penanaman nilai-nilai toleransi biasanya melalui pembiasaan yang bersifat kecil dahulu sesama muslim, pemberian contoh nyata dalam kehidupan sehari-hari dengan metode cerita Contextual Learning (CTL)(wawancara,SH.31/5/2010)

Adapun guru lain menambahkan :

“ ..Amak disuruh untuk menulis pengalaman-pengalaman keseharian baik pengalaman diri sendiri maupun pengalaman orang lain disekitamya seperti sebuah tugas portofolio yang nantinya dijadikan bahan diskusi, anak diajak berangan-angan serasa teijun langsung dalam kehidupan yang akhirnya serta memberi tanggapan

baik buruk tentang permasalahan tersebut.” (wawancara,MN.2/6/2010)

Selain itu guru juga membuat beberapa pernyataan yang berkaitan dengan tema kajian yang nantinya sang anak didik hams memberikan tanggapannya. Guru menyampaikan dalil-dalil baik itu dalil naqli maupun dalil aqli tentang tema kajian serta bagaimana kita sebagai hamba Allah SWT mengimplementasikannya dalam kclndiipan sciisn-liaii.

Prinsip pokok dari pengajaran nilai-nilai karakter kerukunan beragama yang mereka tanamkan nada diri anak didik adalah menerapkan prinsip Kesiprokaiiias yaitu ibarat sebuah hubungan timbai balik seperti contoh apabila tidak mau dicubit maka jangan mencubit. Hal itu sejalan dengan sebuah Sikap ketidak sopanan kepada orang yang berbeda keyakinan dengan kita justru akan berbalik menyerang dan berlaku tidak sopan terhauap agama kita, kepada Allah Yang Maha Esa. Tentunya kita sebagai seorang muslim tidak menginginkan hal tersebut terjadi karena secara tegas islam adalah agama damai. Bahkan agama-agama yang ada kesemuanya tersebut mengajarkan kedamaian dan cinta damai. Hal tersebut ditegaskan oleh pendapat sebagian guru:

“..Meskipun berbilang banyaknya, agama-agama mempunyai misi yang sama, yaitu keselamatan dunia dan akherat bagi umat manusia yang menganutnya, yang selalu mengajarkan akan adanya nilai- nilai kebaikan, cinta damai, saling menghargai11 (observasi &wawancara guru.25/5/2010)

Melalui suasana pendidikan seperti itu. tentu saja akan terbangun suasana harmonis dalam kehidupan beragama secara dewasa, tidak ada perbedaan yang berarti di antara “perbedaan”manusia yang pada realitasnya memang berbeda. Tidak dikenal superior ataupun inferior, serta

menurut saya beliau-beliau telah menerapkan contoh sikap kerukunan beragama baik itu sesama umat Islam sendiri juga sesama umat yang berlainan agama

3. Cara-cara penanaman nilai-nilai kerukunan beragama di SMP Muhammadiyah masih dominan bersifat verbalistik dan tergantung guru u u a an g a i u u i y a n g u a i iv c iiu x im jc t v i^ n g c u i iv^mav m a i u i i v a jia n y a n g u i a j c u i v a i i ,

yakni mata pelajaran Agama khususnya Akhlak. Sementara peran guru-guru >.-.ng lain terbatas pada memberikan arahan yang silatnya kecii, itupun bersifat sebagai tambahan. >ni dikarenakan keterbatasan cakupan materi u h»

waktu yang dimiliki guru-guru di luar bidang studi Agama.

Menurut penulis cara-cara penanaman nilai-nilai kerukunan beragama meskipun dominan bersifat verbalistik namun ada kalanya tergantung guru melakukan inovasi -inovasi metodologi pengajarannya yang terkadang diimbangi dengan cerita nyata dan studi kasus (CTL). Hal tersebut sudah sangat baik mengena terhadap hati murid-murid, dikarenakan dengar, mengenalkan dasar- dasar dari beberapa sumber yang kemudian diputuskan secara mandiri oleh peserta didik untuk memilihnya. Sementara sang guru ikut memberi arahan yang baik sehingga anak dapat lebih faham. Sang anak ibarat diajak teijun langsung kepada situasi nyata yang seperti itu iebih mengena dirasakan oleh sang anak.