• Tidak ada hasil yang ditemukan

Indonesia terkenal dengan keberagaman etnis yang dimilikinya. Wertheim (1999) menyebutkan bahwa Bhineka Tunggal Ika, yang berarti “persatuan dalam perbedaan” merupakan motto resmi Republik Indonesia yang secara tidak

langsung ungkapan ini mengekspresikan suatu keinginan kuat, tidak hanya kalangan pemimpin politik tetapi juga kalangan berbagai lapisan penduduk, untuk mencapai kesatuan meskipun ada karakter yang heterogen pada negara yang baru terbentuk itu. Pernyataan tersebut secara tidak langsung menunjukkan bahwa Indonesia memang memiliki karakteristik budaya dan masyarakat yang berbeda. Perbedaan tersebut menurut Wertheim (1999) dapat terlihat dari kondisi geografis Indonesia. Geografis Indonesia memperlihatkan perbedaan (diversitas). Sekian banyak pulaunya, besar dan kecil, yang tersebar di atas permukaan laut yang luasnya melebihi seluruh wilayah daratan Amerika Serikat mengakibatkan isolasi budaya, walaupun budaya dari pulau-pulau yang berbeda itu mempunyai akar yang sama. Penyebab kedua perbedaan itu dapat ditemukan pada etnik.

Keberagaman yang tinggi dalam suatu daerah atau negara pada umumnya dalam memahami karakteristik daerah tersebut digunakan konsep-konsep masyarakat majemuk. Furnivall dalam Sayifudin (2006) mengatakan bahwa masyarakat majemuk adalah kumpulan orang yang mereka bergaul tapi tidak bercampur. Setiap kelompok memegang agama mereka sendiri, kebudayaan dan bahasa sendiri, gagasan dan cara hidup sendiri. Sebagai individu-individu mereka bertemu satu sama lain tetapi hanya di pasar-pasar, ketika berjual-beli. Mengacu pada pandangan Furnivall terlihat bahwa pada dasarnya masing-masing kelompok memiliki aturan dan kelembagaannya sendiri sehingga hubungan antara kelompok-kelompok yang berbeda lebih kepada hubungan jual beli saja. Konsep ini tidak sepenuhnya dapat menjelaskan kondisi masyarakat majemuk di Indonesia, sehingga banyak para ahli yang tetap memulai penelitian hingga menemukan konsep masyarakat multikultur. Konsep masyarakat multikultur seperti yang dijelaskan oleh Syaifudin (2006) lebih menekankan relasi antar-kebudayaan dengan pengertian bahwa keberadaan suatu antar-kebudayaan harus mempertimbangkan keberadaan kebudayaan lainnya. Hal ini secara tidak langsung memperlihatkan bahwa pada dasarnya hubungan antar etnik juga mempengaruhi kondisi masyarakat tersebut. Pemahaman mengenai konsep-konsep masyarakat majemuk dalam upaya untuk memahami karakteristik masyarakat yang memiliki tingkat keberagaman yang tinggi penting untuk dilihat mengingat keberagaman merupakan suatu hal yang pada dasarnya telah menjadi ciri khas masyarakat Indonesia khususnya etnisitas.

Masyarakat Indonesia yang memiliki karakteristik berbeda walaupun bernaung dalam suatu wadah bersama yaitu negara dan dengan nilai-nilai nasionalisme yang dibangun oleh masyarakat, tetap tidak membuat identitas maupun atribut etnis yang dipegang atau digunakan oleh setiap individu tersebut memudar, melainkan justru identitas etnis dan atribut etnis tersebut tetap melekat dan digunakan oleh individu-individu baik secara terang-terangan maupun tidak. Sebagai contoh dalam penelitian yang dilakukan oleh Firdaus (2012) dikota Binjai

2

menunjukkan bahwa dalam interaksi dengan warga diluar kota Binjai, orang-orang muda Binjai menyebut diri sebagai orang-orang Binjei sehingga di kota Medan,

misalnya, dikenal istilah “robin” (rombongan Binjei) untuk menyebut orang-orang Binjai yang setiap hari pergi ke dan pulang dari Medan (komuter) untuk urusan pekerjaan atau pendidikan. Mereka tidak menyebutkan diri sebagai orang Jawa, Minang, Melayu dan lainnya. Kecuali itu, dalam pembicaraan lebih lanjut untuk kepentingan tertentu – seperti politik, asosiasi dan lain sebagainya – latar belakang etnis baru dibicarakan. Hal ini secara tidak langsung menjelaskan bahwa pada dasarnya identitas etnik masih terus dipertahankan dan digunakan untuk kepentingan tertentu walaupun secara umum tidak terlihat penggunaannya.

Fenomena ini tentunya memberikan konsekuensi munculnya kelompok-kelompok etnik khususnya bagi mereka yang merantau atau tidak tinggal di daerah asal. Keberagaman etnisitas di Indonesia memberikan warna tersendiri bagi kehidupan bangsa Indonesia yang tentunya juga berdampak pada munculnya organisasi-organisasi dengan landasan etnisitas atau terkadang dikenal dengan sebutan paguyuban. Indonesia memiliki banyak daerah yang memiliki paguyuban, namun belum ada penelitian yang cukup banyak mengungkap mengenai hal ini. Maka dari itu paguyuban pada dasarnya juga merupakan suatu sumberdaya yang belum sepenuhnya dimanfaatkan secara optimal.

Lubis (2005) menegaskan bahwa satu kelompok etnik memiliki suatu identitas khas yang berbeda dengan kelompok etnik lain, yang dengan mudah terlihat dari cara mereka mengekspresikan atau mengartikulasikan kebudayaannya, termasuk dalam hal bagaimana mereka mengkonsepsikan dan menata pengelolaan dan penguasaan terhadap sumberdaya (alam, ekonomi, dan politik). Hal ini menekankan bahwa adalanya pola-pola relasi yang dibangun dan digunakan didalam kelompok etnik untuk mengelola sumberdaya khususnya dalam sektor ekonomi dan politik. Dimana pola-pola relasi ini tentunya tidak terlepas dari jaringan kekerabatan yang dibangun oleh masing-masing kelompok etnik. Selain itu Firdaus (2012) menyebutkan bahwa kajian tentang harmoni antar etnik dapat dilihat dalam tulisan Usman pelly (1994). Pelly lebih fokus pada adaptasi dan misi budaya dua etnis di kota Medan dalam mempertahankan identitas etnis mereka. Menurut pelly, orang Minangkabau dan Mandailing dalam merantau membawa misi budaya suku bangsa mereka. Salah satu strategi yang digunakan oleh etnis Minang dan Mandailing di kota Medan adalah dengan membentuk asosiasi-asosiasi sukarela untuk menjaga identitas.

Balikpapan merupakan daerah dengan masyarakat multietnik yang pada umumnya bukan merupakan penduduk asli Balikpapan, melainkan pendatang. Tribun Kaltim edisi 30 september 2012 menyebutkan bahwa terdapat 104 paguyuban etnis di Balikpapan. Secara tidak langsung hal tersebut menggambarkan kondisi keberagaman etnis yang ada di Balikpapan. Masing-masing etnis maupun kelompok-kelompok etnis tersebut memiliki norma, relasi maupun jaringan kekerabatan satu dengan lainnya, khususnya untuk kepentingan ekonomi dan politiknya. Hal ini tentunya memiliki konsekuensi pada semakin kuatnya identitas etnik dari masing-masing etnis di Balikpapan.

Penguatan identitas etnik dan adanya situasi politik yang memberikan toleransi yang tinggi terhadap perbedaan mendorong semakin tingginya keberagaman di Balikpapan. Nilai-nilai primordial yang terus melekat ditengah-tengah masyarakat industri tentunya melahirkan bentuk masyarakat majemuk

3 tersendiri di Balikpapan yang memberikan dampak terhadap kondisi sosial, ekonomi, dan politik di Balikpapan. Todaro (2006) menyebutkan bahwa kini sudah cukup banyak bukti yang menunjukkan bahwa negara-negara yang masyarakatnya beragam secara etnik dan agama pun bisa meraih kemajuan-kemajuan yang mengaggumkan. Sejumlah negara seperti Malaysia dan Mauritius telah berhasil memadukan kemajuan ekonomi dengan integrasi sosial, dan di Amerika Serikat, keragaman sering disebut sebagai sumber kreativitas dan inovasi. Hal yang perlu digaris bawahi di sini adalah komposisi etnik dan agama memainkan peran penting bagi pembangunan. Keragaman bisa mengakibatkan konflik, namun bisa juga menumbuhkan kerja sama yang akan menciptakan sinergi.

Tentunya masing kelompok etnis memiliki kepentingan masing-masing dalam peranannya terhadap pembangunan, tidak hanya pembangunan yang berpusat pada kota, tetapi juga pembangunan ekonomi di pedesaan. Pembangunan di pedesaan tentunya tidak terlepas dari pembangunan perkotaan, dalam menunjukkan keterkaitan hal tersebut McGee (2009) menyebutkan mengenai zona desa-kota, McGee menjelaskan bahwa zona desa-kota adalah di mana sebagian besar dari kegiatan didaerah tersebut adalah perkotaan dan didominasi oleh bangunan perkotaan. Wilayah ini mungkin sebelumnya telah ditandai dengan pertanian dan fase awal industrialisasi padat karya namun kegiatan tersebut sekarang telah banyak diganti dengan kegiatan perkotaan yang berhubungan erat dengan inti kota. Pemaparan dari McGee ini menunjukkan bahwa ada keterkaitan antara kota dan desa, dan tentunya ada pertukaran-pertukaran terjadi antara kepentingan kota dan desa. Pertukaran-pertukaran-pertukaran ini pada akhirnya akan menimbulkan proses pengkotaan wilayah desa-kota. Pengkotaan desa-kota ini muncul dikarenakan adanya kebijakan-kebijakan pembangunan yang dilakukan untuk kepentingan kota.

Desa dalam UU Desa pasal 1 adalah desa dan desa adat atau yang disebut dengan nama lain, selanjutnya disebut Desa, adalah kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas wilayah yang berwenang untuk mengatur dan mengurus urusan pemerintahan, kepentingan masyarakat setempat berdasarkan prakarsa masyarakat, hak asal usul, dan/atau hak tradisional yang diakui dan dihormati dalam sistem pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Kepentingan masyarakat desa merupakan faktor penting dalam pembangunan di pedesaan, namun pada kenyataannya pembanguan di pedesaan masih erat kaitannya dengan kondisi sosial, ekonomi, dan politik kota. Pengkotaan wilayah desa-kota sebagai dampak dari adanya kebijakan pembangunan untuk kepentingan kota membawa dampak tersendiri bagi masyarakat setempat, khususnya bagi mereka yang tidak dapat mengambil manfaat langsung dari pembangunan tersebut yang dapat berujung pada terjadinya proses pemiskinan pada masyarakat setempat. Hal ini seperti yang dijelaskan oleh Townsend (1970) bahwa “Poverty must be regarded as a general form of relative deprivation which is the effect of the maldistribution of resources”. Secara tidak langsung Townsend menunjukkan bahwa kemiskinan adalah dampak dari kesalahan distribusi sumberdaya. Hal ini berarti sangat berkaitan dengan akses terhadap sumberdaya tersebut.

Masyarakat yang tidak dapat mengambil manfaat dari pembangunan tersebut akhirnya memberikan respon dengan mencari lembaga atau naungan lain yang dapat membantu mereka untuk bertahan dalam kondisi pembangunan yang

4

tinggi namun tidak diiringi dengan ketersediaan akses yang dapat dijangkau oleh masyarakat dalam mengambil manfaat dari pembangunan tersebut. Paguyuban sebagai organisasi etnik dengan nilai dan norma-norma yang masih mempengaruhi individu dalam berprilaku, memiliki peluang sebagai lembaga yang dapat menjadi naungan masyarakat setempat sebagai respon dari pembangunan itu sendiri. Maka dari itu penting untuk melihat bagaimana pengaruh paguyuban berdasarkan etnik dalam mempengaruhi bentuk masyarakat majemuk di Balikpapan dan dampaknya terhadap pengkotaan desa-kota. Hal ini penting dilihat dalam kaitannya untuk menganalisis lebih jauh dampak proses tersebut terhadap perekonomian masyarakat desa dan khususnya masyarakat miskin. Oleh sebab itu posisi penelitian ini ingin secara khusus melihat bagaimana peran paguyuban berdasarkan etnik dalam menahan pemiskinan akibat dampak dari pengkotaan desa-kota.

Perumusan Masalah

Keberagaman etnisitas di Balikpapan tentunya berdampak pada munculnya paguyuban-paguyuban etnisitas yang memiliki peranan tersendiri di masyarakat, tidak terkecuali dalam pembangunan kawasan pedesaan. Oleh sebab itu, pada dasarnya pertanyaan besar dari penelitian ini adalah melihat bagaimana peran paguyuban berdasarkan etnik dalam menahan pemiskinan akibat dampak dari pengkotaan desa-kota. Adapun tentunya dalam memahami hal tersebut, perlu juga untuk memahami bagaimana latar belakang kelompok etnis terbentuk dan menetap di Balikpapan, maka penting untuk mengetahui bagaimana sejarah keberagaman etnis, kota, dan paguyuban di Balikpapan serta proses pengkotaan kawasan desa-kota di Balikpapan?

Terkait hal tersebut seperti yang dijelaskan sebelumnya bahwa masing-masing etnisitas memiliki nilai-nilai maupun aturan-aturan yang mempengaruhi pola-pola relasi yang mereka lakukan khususnya pada sektor ekonomi dan politik, sehingga perlu mengetahui bagaimana pola hubungan kelompok etnis dan peran paguyuban sebagai organisasi politik bagi masyarakat di Balikpapan? Selanjutnya dalam memahami peran paguyuban juga tidak terlepas dari bentuk masyarakat majemuk di Balikpapan, maka dari itu penting untuk melihat bagaimana bentuk masyarakat majemuk di Balikpapan dan dampaknya pada posisi paguyuban itu sendiri? Hal ini kemudian berlanjut pada pertanyaan mendasar yaitu bagaimana situasi ini berperan dalam dalam menahan pemiskinan akibat dampak dari pengkotaan desa-kota?

Tujuan Penelitian

Penelitian ini pada dasarnya bertujuan untuk menjelaskan peran paguyuban berdasarkan etnik dalam menahan pemiskinan akibat dampak dari pengkotaan desa-kota. Adapun dalam menjelaskan hal tersebut, diperlukan untuk menjelaskan dan menganalisis beberapa hal diantaranya sebagai berikut:

1. Menjelaskan sejarah keberagaman etnis, kota, dan paguyuban, serta proses pengkotaan desa-kota di Balikpapan.

2. Menjelaskan pola hubungan kelompok etnis dan peran paguyuban sebagai organisasi politik bagi masyarakat di Balikpapan.

5 3. Menjelaskan bagaimana bentuk masyarakat di Balikpapan dan peran paguyuban berdasarkan etnik dalam menahan pemiskinan akibat dampak dari pengkotaan desa-kota.

Manfaat Penelitian

Kegunaan penelitian ini pada dasarnya adalah untuk melihat bagaimana peran paguyuban berdasarkan etnik dalam menahan pemiskinan akibat dampak dari pengkotaan desa-kota. Adapun penelitian ini memberikan manfaat untuk mahasiswa selaku pengamat dan akademisi, masyarakat, perguruan tinggi dan pemerintah. Manfaat yang diperoleh yaitu: Pertama, bagi mahasiswa penelitian ini bermanfaat menjadi tambahan literatur penelitian mengenai hubungan antara pengaruh etnisitas dalam wadah paguyuban terhadap pembangunan kawasan pedesaan sehingga kedepannya dapat mempermudah dalam menganalisis terkait topik etnis untuk penelitian selanjutnya. Kedua, bagi perguruan tinggi penelitian ini merupakan perwujudan dari Tridharma Perguruan Tinggi yang diharapkan dapat meningkatkan khasanah ilmu pengetahuan dan menjadi sumber rujukan dalam topik etnis khususnya dalam menganalisis manfaat dari penggunaan nilai-nilai etnisitas sehingga secara tidak langsung dapat meningkatkan kualitas perguruan tinggi. Ketiga, bagi pemerintah hasil dari penelitian ini akhirnya melahirkan suatu kesimpulan akan manfaat dan peran-peran etnisitas dalam wadah paguyuban yang dapat digunakan sebagai bahan referensi pemerintah maupun pihak-pihak terkait dalam membuat kebijakan untuk kesejahteraan masyarakat dalam berbagai aspek. Keempat, bagi masyarakat hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan masyarakat mengenai hubungan etnisitas dan peranannya dalam masyarakat.

2 TINJAUAN PUSTAKA

Perkembangan Konsep Masyarakat Majemuk Hingga Konsep Multikulturalisme dan Pilarisasi Masyarakat

Balikpapan terkenal dengan daerah yang memiliki masyarakat yang majemuk, dalam memahami masyarakat majemuk (plural) banyak para ahli memulai pemahaman mereka akan masyarakat majemuk diawali dengan mengacu pada pendapat J.S. Furnival. Adapun ciri utama masyarakat majemuk (plural society) menurut Furnivall (1940) seperti yang dikutip oleh Pelly (2005) adalah orang yang hidup berdampingan secara fisik, tetapi karena perbedaan sosial mereka terpisah-pisah dan tidak bergabung dalam sebuah unit politik. Selain itu lebih jelasnya seperti yang dijelaskan Furnivall (1948) dalam Sayifuddin (2006) mengenai kebijakan dan praktik kolonial di Indonesia dan Burma. Ia menguraikan masyarakat majemuk sebagai masyarakat di mana orang-orang yang secara rasial berbeda hanya bertemu di pasar-pasar, suatu gambaran mengenai politik ekonomi kolonial. Furnivall mengatakan bahwa masyarakat majemuk adalah “… kumpulan orang … mereka bergaul tapi tidak bercampur. Setiap kelompok memegang

6

sendiri. Sebagai individu-individu mereka bertemu satu sama lain tetapi hanya di pasar-pasar, ketika berjual-beli. Inilah masyarakat majemuk, dengan bagian-bagian komunitas yang hidup berdampingan, tetapi terpisah dalam satuan politik

yang sama” (Furnivall (1948: 304) dalam Sayifudin (2006))

Mengacu pada pendapat Furnivall terlihat bahwa masyarakat majemuk adalah masyarakat yang terdiri dari masyarakat yang berbeda secara ras maupun etnis namun tidak ada hubungan diantara mereka kecuali dalam kepentingan ekonomi. Indonesia merupakan negara yang dibangun dari masyarakat majemuk yang tidak hanya berbeda suku bangsa namun juga agama. Maka dari itu saat Indonesia merdeka mulai dibangun nilai-nilai yang dapat mendukung terjadinya integrasi nasional dengan harapan akan menciptakan masyarakat yang satu dan kokoh. Suparlan (2000) menjelaskan bahwa dalam zaman pemerintahan Presiden Sukarno kesukubangsaan sebagai potensi kekuatan politik dilarang untuk digunakan; demi keutuhan bangsa Indonesia dan memenangkan semangat nasionalisme. Termasuk di dalamnya, pelarangan kajian-kajian mengenai sukubangsa dan kesukubangsaan, yang didorong untuk diungkapkan adalah kesukubangsaan dalam ekspresi-ekspresi seni. Kebijakan politik kesukubangsaan—demi persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia pada waktu itu—adalah politik amalgasi, atau peleburan sukubangsa-sukubangsa menjadi sebuah bangsa, yaitu Indonesia, melalui perkawinan antarwarga sukubangsa yang berbeda-beda. Dalam zaman pemerintahan Presiden Suharto, pelarangan penggunaan sukubangsa sebagai acuan kepentingan politik ditambah dengan pelarangan penggunaan potensi politik dari agama dan ras, yang dikenal dengan nama SARA. Pelarangan yang dilakukan secara represif dengan menggunakan kekuatan militer yang otoriter, sebetulnya hanya meredam berbagai gejolak primordial yang dirasakan sebagai tantangan terhadap hegemoni kekuasaan pemerintahan Presiden Suharto. Bahkan Suparlan juga menegaskan bahwa saat dibawah kekuasaan orde baru, Presiden Suharto pada dasarnya juga menggunakan isu SARA ini untuk memperkuat kedudukannya, bahkan yang lebih ekstrim adalah adanya upaya menyeragamkan corak pemerintahan pada tingkat pedesaan yang secara tradisional bercorak semi-otonomi, menjadi bercorak seperti pemerintahan desa Jawa yang dikuasai dan dikendalikan oleh pemerintah yang dilakukan oleh Ditjen PUOD. Bahkan lebih tegas lagi Apa yang menarik dari uraian Furnival (1948b) dalam Suparlan (2000) menyebutkan antara lain adalah, penguasa masyarakat jajahan atau masyarakat majemuk itu sebenarnya hanya berkuasa untuk memantapkan kepentingan ekonomi mereka. Selain itu banyak anggapan bahwa masyarakat plural pada dasarnya harus dipimpin oleh pemimpin yang otoriter dengan harapan akan terciptanya integrasi nasional. Atau pilihan disisi lain adalah reduksi nilai-nilai primordial dan mewujudkan masyarakat kelas (Class Society) yang memiliki indentitas sama yaitu warga Negara Indonesia.

Namun ternyata usaha yang dilakukan kedua rezim tersebut untuk menghilangkan kekuatan dari primordialisme tidak sepenuhnya berhasil mengingat isu primordialisme kembali munculnya khususnya setelah setelah jatuhnya rezim orde baru, dimana kesukubangsaan mulai kembali muncul dengan berbagai bentuk yang berbeda disetiap daerah dan hal ini memberikan dampak-dampak sosial yang tidak hanya dampak-dampak positif melainkan juga dampak-dampak negatif. Maka dari itu banyak para ahli yang mulai untuk menganalisis bagaimana bentuk

7 masyarakat majemuk di Indonesia dan kaitannya terhadap solusi yang ditawarkan untuk mengurangi dampak negative dari munculnya kembali primordialisme ini.

Dalam menganalisis hal tersebut Pelly (2005) menyebutkan bahwa setidaknya dewasa ini ada dua konsep masyarakat majemuk yang muncul dari

berbagai hasil penelitian: (1) konsep “kancah pembauran” (melting pot), dan (2)

konsep “pluralisme kebudayaan” (cultural pluralism). Teori kancah pembauran pada dasarnya, mempunyai asumsi bahwa integrasi (kesatuan) akan terjadi dengan sendirinya pada suatu waktu apabila orang berkumpul pada suatu tempat yang berbaur, seperti di sebuah kota atau pemukiman industri. Sebaliknya konsep pluralisme kebudayaan justru menentang konsep kancah pembauran di atas. Menurut Horace Kallen salah seorang pelopor konsep pluralisme kebudayaan tersebut (dalam Pelly (2005)), menyatakan bahwa kelompok-kelompok etnis atau ras yang berbeda tersebut malah harus di dorong untuk mengembangkan sistem mereka sendiri dalam kebersamaan, memperkaya kehidupan masyarakat majemuk mereka. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa konsep kancah pembauran hanyalah suatu mitos. Mitos yang tidak pernah menjadi kenyataan, sedang pluralisme kebudayaan menurut berbagai ahli telah mengangkat Amerika Serikat, Cina, Rusia, Kanada, dan India menjadi negara yang kuat.

Pelly (2005) menambahkan bahwa urbanisasi dan industrialisasi Indonesia, seperti dibuktikan dalam sejarah, tidak dengan sendirinya mengikis unsur-unsur kemajemukan masyarakatnya, malah dalam berbagai studi menunjukkan kecenderungan penguatan aspek-aspek primordialisme (suku, agama, dan sistem simbolik lainnya) dalam kehidupan masyarakat kota. Ironisnya, kemajemukan primordialisme ini berkembang bersama proses transformasi masyarakat kota itu sendiri dari masyarakat agraris ke masyarakat industri, sehingga kemajemukan dalam aspek kehidupan tersebut menjadi berganda. Sehingga menurut Pelly (2005) masyarakat majemuk Indonesia lebih sesuai didekati dari konsep pluralism kebudayaan, sebab integrasi nasional yang hendak diciptakan tidak berkeinginan untuk melebur identitas ratusan kelompok etnis bangsa kita, bahkan di samping hal itu dijamin oleh UUD 45, tetapi juga memerlukan pluralisme itu dalam pembangunan nasional.

Pelly (2005) dalam analisisnya menyebutkan bahwa apabila faktor-faktor kemajemukan masyarakat kota dapat diklasifikasikan ke dalam dua kategori, horizontal dan vertikal, maka faktor-faktor tersebut dapat dijabarkan sebagai berikut: Pertama, faktor horizontal terdiri dari etnis, bahasa daerah, adat-istiadat/perilaku, agama, dan pakaian/makanan (budaya material). Kedua, faktor vertical terdiri dari penghasilan (income), pendidikan, pemukiman, pekerjaan, dan kedudukan politis. Faktor kemajemukan horizontal merupakan faktor-faktor yang diterima seseorang sebagai warisan (ascribed-factors), sedang faktor-faktor kemajemukan vertical lebih banyak diperolehnya dari usahanya sendiri (achievement-factors). Kemajemukan akan menjurus ke arah konflik yang sangat potensial apabila faktor kemajemukan horizontal bersatu dengan faktor kemajemukan vertikal. Dengan kata lain, apabila suatu kelompok etnis tertentu tidak hanya dibedakan dengan kelompok etnis lainnya karena faktor-faktor

ascribed” lainnya seperti bahasa daerah, agama, dan lain-lain, tetapi juga karena

perbedaan faktor “achievement” seperti ekonomi, pemukiman dan kedudukan

politis, maka intensitas konflik akan dapat menjurus kepada suasana permusuhan. Sebaliknya, apabila kemajemukan faktor-faktor horizontal tidak diperkuat oleh

8

faktor-faktor vertikal, maka intensitas konflik sangat kecil dan mudah untuk dijuruskan kepada persesuaian atau harmoni.

Adapun terkait konsep masyarakat plural, berikutnya Suparlan (2000) menyebutkan bahwa corak masyarakat majemuk sebenarnya bukan hanya seperti yang digambarkan oleh Furnival tersebut di atas, yang otoriter dan militeristik. Bila kita melihat keanekaragaman corak masyarakat majemuk sebagai berada dalam suatu garis berkesinambungan, maka pada kutub yang satu terdapat masyarakat majemuk yang ororiter dan militeristik; sedangkan pada kutub lainnya adalah masyarakat majemuk yang demokratis. Adapun masyarakat majemuk yang otoriter dan militeristik mempunyai ciri-ciri kekejaman dan kekerasan terhadap rakyatnya sendiri (van den Berghe 1990 dalam Suparlan). Kekejaman dan kekerasan oleh negara atau pemerintah terhadap rakyatnya sendiri tersebut dikarenakan penguasa Negara atau oknum-oknumnya tidak menginginkan adanya ketidakpatuhan dan penentangan terhadap tindakan-tindakan eksploitatif yang rakus dan sewenang-wenang dari para penguasa tersebut. Dampak dari kekerasan