• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II : KONSEP PENDIDIKAN KARAKTER BANGSA

C. Pendidikan Karakter Bangsa

Di atas telah disinggung bahwa pendidikan karakter bukan hanya sekedar memberikan pengertian atau definisi-definisi tentang yang baik dan yang buruk, melainkan sebagai upaya mengubah sifat, watak, kepribadian dan keadaaan batin manusia sesuai dengan nilai-nilai yang dianggap luhur dan terpuji. Melalui pendidikan karakter ini diharapkan dapat melahirkan manusia yang memiliki kebebasan menentukan pilihannya, tanpa paksaan dan penuh tanggung jawab. Yaitu manusia Indonesia yang religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat/komunikatif,cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, tanggung jawab (Puskur-Balitbang Kemendiknas, 2010: 4). “Pendidikan karakter adalah sebuah sistem yang menanamkan nilai-nilai karakter pada peserta didik, mengandung komponen pengetahuan, kesadaran individu, tekat, serta adanya kemauan dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai, baik terhadap Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan maupun bangsa, sehingga akan terwujud insan kamil” (Auinillah, 2011: 19).

Pendidikan Karakter sebagai usaha membangun kesadaran melakukan berbagai kebajikan untuk menciptakan dunia yang lebih baik. Menurut Hill (Budimansyah, 2012: 5), karakter menentukan pikiran pribadi seseorang dan tindakan yang dilakukannya, karakter yang baik adalah motivasi batin untuk melakukan apa yang benar, sesuai dengan standar tertinggi perilaku, dalam setiap situasi. Dengan demikian pendidikan karakter mengajarkan kebiasaan cara berfikir dan berprilaku yang membantu individu untuk hidup dan bekerja sama sebagai keluarga, masyarakat, dan warga Negara serta dengan membantu mereka membuat keputusan yang dapat dipertanggung jawabkan.

Seseorang dianggap memiliki karakter mulia apabila mempunyai pengetahuan yang mendalam tentang potensi dirinya serta mampu mewujudkan potensi itu dalam sikap dan tingkahlakunya. Adapun ciri yang dapat dicermati pada seseorang yang mampu memanfaatkan potensi dirinya adalah terpupuknya sikap-sikap terpuji, seperti penuh reflektif, percaya diri, rasional, logis, kritis, analitis, kreatif-inovatif, mandiri, berhati-hati, rela berkorban, berani, dapat dipercaya, jujur, menepati janji, adil, rendah hati, malu berbuat salah, pemaaf, berhati lembut, setia, bekerja keras, tekun, ulet, gigih, teliti, berinisiatif, berpikir positif, disiplin, antisipatif, visioner, bersahaja, bersemangat, dinamis, hemat, efisien, menghargai waktu, penuh pengabdian, dedikatif, mampu mengendalikan diri, produktif, ramah, cinta keindahan, sportif, tabah, terbuka, dan tertib (Majid dan Andayani, 2011: 8).

Seseorang yang memiliki karakter positif juga terlihat dari adanya kesadaran untuk berbuat yang terbaik dan unggul, serta mampu bertindak sesuai potensi dan kesadarannya tersebut. Dengan demikian karakter atau karakteristik adalah realisasi

akhlak yang dirumuskan oleh ibn Maskawaih dalam desertasi yang dikutip oleh Suwito adalah merupakan perwujudan sikap batin yang mampu mendorong secara spontan untuk melahirkan semua perbuatan yang bernilai baik sehingga memperoleh kesempurnaan dan memperoleh kebahagiaan.

Pendidikan karakter yang ditanamkan sejak dini akan akan memiliki potensi karakter yang kuat yang bertindak tanpa ada paksaan untuk melakukan sesuatu yang baik yang sesuai dengan ajaran agam dan norma social. Bila peserta didik bertindak sesuai dengan potensi dan kesadarannya tersebut maka disebut sebagai pribadi yang berkarakter baik atau unggul indikatornya adalah mereka selalu berusaha melakukan hal-hal yang terbaik terhadap Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan, negara, serta dunia internasional pada umumnya, dengan mengoptimalkan potensi (pengetahuan) dirinya disertai dengan kesadaran, emosi dan motivasi (Aunillah, 2011: 19). Di antara karakter baik yang hendak dibangun dalam kepribadian peserta didik adalah bisa bertanggung jawab, jujur, dapat dipercaya, menepati janji, ramah, peduli kepada orang lain, percaya diri, pekerja keras, bersemangat, tekun, tak mudah putus asa, bisa berpikir rasional dan kritis, kreatif dan inovatif, dinamis, bersahaja, rendah hati, tidak sombong, sabar, cinta ilmu dan kebenaran, rela berkorban, berhati-hati, bisa mengendalikan diri, tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang buruk, mempunyai inisiatif, setia, menghargai waktu, dan bisa bersikap adil (Azzet, 2011: 29).

Pendidikan karakter adalah suatu sistem penanaman nilai-nilai karakter kepada siswa maupun warga sekolah yang meliputi komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan, dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut. Dalam pendidikan karakter di sekolah, semua komponen harus dilibatkan, termasuk komponen-komponen pendidikan itu sendiri, yaitu isi kurikulum, proses pembelajaran dan penilaian, penanganan atau pengelolaan mata pelajaran, pengelolaan sekolah, pelaksanaan aktivitas, pemberdayaan sarana prasarana, pembiayaan, dan etos kerja seluruh warga sekolah/lingkungan. Terdapat sembilan pilar karakter yang berasal dari nilai-nilai kehidupan, yaitu: pertama, karakter cinta Tuhan dan segenap ciptaan-Nya; kedua, kemandirian dan tanggungjawab; ketiga, kejujuran/amanah; keempat, hormat dan santun; kelima, dermawan, suka tolong-menolong dan gotong royong/kerjasama; keenam, percaya diri dan pekerja keras; ketujuh, kepemimpinan dan keadilan; kedelapan, baik dan rendah hati, dan; kesembilan, karakter toleransi, kedamaian, dan kesatuan (http://imamkarawang.wordpress.com/2012/01/18/9-pilar-pendidikan-berkarakter diakses tangggal 3 Juli 2014).

Kesembilan pilar karakter itu, diajarkan secara sistematis dan terkondisikan. Sehingga tumbuh kesadaran bahwa, orang mau melakukan perilaku kebajikan karena dia cinta dengan perilaku kebajikan itu. Setelah terbiasa melakukan kebajikan, maka kebiasaan itu akan berubah menjadi kebiasaan.Lebih lanjut bahwa pendidikan karakter adalah segala sesuatu yang dilakukan guru, yang mampu mempengaruhi karakter peserta didik. Guru membantu membentuk watak peserta

didik. Hal ini mencakup keteladanan bagaimana perilaku guru, cara guru berbicara atau menyampaikan materi, bagaimana guru bertoleransi, dan berbagai hal terkait lainnya (Samani dan Haryanto, 2011: 105).

Kesepakatan Nasional Pengembangan Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa dinyatakan sebagai berikut: pertama, Pendidikan budaya dan karakter bangsa merupakan bagian integral yang tak terpisahkan dari pendidikan nasional secara utuh. Kedua, pendidikan budaya karakter bangsa harus dikembangkan secara komprehensif sebagai proses pembudayaan. Oleh karena itu, pendidikan dan kebudayaan secara kelembagaan perlu diwadahi secara utuh. Ketiga, pendidikan budaya karakter bangsa merupakan tanggung jawab bersama antara Pemerintah, masyarakat, sekolah dan orang tua. Oleh karena itu, pelaksaaan Pendidikan budaya dan karakter bangsa harus melibatkan keempat unsur tersebut. Keempat, dalam upaya merevitalisasi Pendidikan budaya dan karakter bangsa diperlukan gerakan nasional guna menggugah semangat kebersamaan dalam pelaksanaan di lapangan (Samani dan Haryanto, 2011: 106).

Dewasa ini banyak pihak ataupun lembaga menuntut peningkatan intensitas dan kualitas pelaksanaan pendidikan karakter pada lembaga pendidikan formal. Tuntutan tersebut didasarkan pada fenomena sosial yang sedang terjadi, yakni meningkatnya kenakalan remaja dalam masyarakat, seperti perkelahian massal, perkosaan, minum minuman keras, mencuri, dan lain sebagainya. Bahkan di kota-kota besar tertentu, gejala tersebut telah sampai pada taraf yang sangat meresahkan. Oleh karena itu, lembaga pendidikan formal atau biasa disebut sekolah dijadikan sebagai wadah resmi pembinaan generasi muda diharapkan dapat meningkatkan peranannya dalam pembentukan kepribadian peserta didik melalui peningkatan intensitas dan kualitas pendidikan karakter agar muncul suatu generasi yang handal (Samani dan Haryanto, 2011: 107).

Pembentukan karakter merupakan salah satu tujuan pendidikan nasional. Pasal I UU Sisdiknas tahun 2003 menyatakan bahwa di antara tujuan pendidikan nasional adalah mengembangkan potensi peserta didik untuk memiliki kecerdasan, kepribadian dan akhlak mulia. Amanah UU Sisdiknas tahun 2003 itu bermaksud agar pendidikan tidak hanya membentuk insan Indonesia yang cerdas, namun juga berkepribadian atau berkarakter, sehingga nantinya akan lahir generasi bangsa yang tumbuh berkembang dengan karakter yang bernafas nilai-nilai luhur bangsa serta agama (Budimansyah, 2012: 8).

Pendidikan karakter di nilai sangat penting untuk di mulai pada anak usia dini karena pendidikan karakter adalah proses pendidikan yang ditujukan untuk mengembangkan nilai, sikap, dan perilaku yang memancarkan akhlak mulia atau budi pekerti luhur. Nilai-nilai positif dan yang seharusnya dimiliki seseorang menurut ajaran budi pekerti yang luhur adalah amal saleh, amanah, antisipatif, baik sangka, bekerja keras, beradab, berani berbuat benar, berani memikul resiko, berdisiplin, berhati lapang, berhati lembut, beriman dan bertaqwa, berinisiatif, berkemauan keras, berkepribadian, berpikiran jauh ke depan, bersahaja,

ikhlas, jujur, kesatria, komitmen, kooperatif, kosmopolitan (mendunia), kreatif, kukuh hati, lugas, mandiri, manusiawi, mawas diri, mencintai ilmu, menghargai karya orang lain, menghargai kesehatan, menghargai pendapat orang lain, menghargai waktu, patriotik, pemaaf, pemurah, pengabdian, berpengendalian diri, produktif, rajin, ramah, rasa indah, rasa kasih sayang,rasa keterikatan, rasa malu, rasa memiliki, rasa percaya diri, rela berkorban, rendah hati, sabar, semangat kebersamaan, setia, siap mental, sikap adil, sikap hormat, sikap nalar, sikap tertib, sopan santun, sportif, susila, taat asas, takut bersalah, tangguh, tawakal, tegar, tegas, tekun, tepat janji, terbuka, ulet, dan sejenisnya (Budimansyah, 2012: 9-10).

Dalam buku Pengembangan Pendidikan Budaya Dan Karakter Bangsa yang diterbitkan oleh Kemendiknas (Puskur-Balitbang Kemendiknas, 2010: 4) dijelaskan

bahwa “Pendidikan budaya dan karakter bangsa dimaknai sebagai pendidikan yang

mengembangkan nilai-nilai budaya dan karakter bangsa pada diri peserta didik sehingga mereka memiliki nilai dan karakter sebagai karakter dirinya, menerapkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan dirinya, sebagai anggota masyarakat, dan warganegara yang religius, nasionalis, produktif dan kreatif.”

Anak-anak adalah generasi yang akan menentukan nasib bangsa di kemudian hari. Karakter anak-anak yang terbentuk sejak sekarang akan sangat menentukan karakter bangsa di kemudian hari. Karakter anak-anak akan terbentuk dengan baik, jika dalam proses tumbuh kembang mereka mendapatkan cukup ruang untuk mengekspresikan diri secara leluasa. Pendidikan karakter akan berjalan efektif dan utuh jika melibatkan tiga institusi, yaitu keluarga sekolah dan masyarakat. Pendidikan karakter tidak akan berjalan dengan baik jika mengabaikan salah satu institusi, terutama keluarga. Pendidikan informal dalam keluarga memiliki peran penting dalam proses pembentukan karakter seseorang. Hal ini disebabkan keluarga merupakan lingkungan tumbuh dan berkembangnya anak sejak mulai usia dini hingga menjadi dewasa. Melalui pendidikan dalam keluargalah karakter seorang anak dibentuk (Syarbini, 2014: 3). Mengapa perlu melakukan pendidikan karakter? Bagi bangsa Indonesia sekurang-kurangnya memiliki empat alasan utama, yakni historis, yuridis, sosiologis, dan paedagogis.

1. Alasan historis

Alasan historis perlunya pendidikan karakter terkait dengan proses perjalanan sejarah perjuangan bangsa sejak perlawanan yang bersifat kedaerahan, kebangkitan nasional, revolusi fisik merebut kemerdekaan, hingga mempertahankan kemerdekaan. Pada setiap periode perlawanan tersebut terdapat etos perjuangan yang patut diteladani, seperti jiwa sepi in pamrih rame ing gawe. Mentalis tersebut dimanifestasikan oleh perjuangan yang tanpa pamrih, tidak mengharapkan imbalan jasa, yang penting Indonesia terbebas dari penjajahan yang menghisap darah Ibu Pertiwi. Berholopis kuntul baris, rawe-rawe rantas malang-malang putung adalah mentalis bekerja sama yang kokoh antara rakyat dan pemimpin, antara sesame rakyat, maupun antara sesama pemimpin sehingga daya juang waktu itu sangat

atau “ketapel” berani menghalau pesawat tempur; “bedil dorlok” sanggup

melumpuhkan senapan otomatis . kalau bukan karena daya juang yang sangat dahsyat, sepertinya sangat mustahil para pejuang dengan bambu runcing sanggup melumpuhkan altileri Belanda. Generasi sekarang berada sudah semain jauh dari sumbu perjuangan tersebut. Oleh karena itu jika etos perjuangan tidak diajarkan , maka generasi pemuda kita tidak akan mewarisi karakter pejuang itu. Bagaimana jadinya Indonesia jika generasi mudanya yang nota bene sebagai pewaris bangsa menjadi generasi yaang lemah, tidak berkarakter tangguh. Dalam konteks demikianlah pendidikan karakter diperlukan untuk mewariskan etos perjuangan bangsa (Puskur-Balitbang Kemendiknas, 2010: 5).

2. Alasan yuridis

Alasan yuridis adalah alasan berdasarkan undang-undang. Misalnya menurut Undang-undang Nomor 17 tahun 2007 tentang Rencana pembangunan Nasional Jangka Panjang 2005-2025 ditegaskan bahwa Visi Pembangunan Nasional adalah

“…terwujudnya karakter bangsa yang tangguh, kompetitif, berakhlak mulia, dan

bermoral berdasarkan Pancasila, yang dicirikan dengan watak dan perilaku manusia dan masyarakat Indonesia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan yang Maha Esa, berbudi luhur, bertoleran, bergotong royong, berjiwa patriotic, berkembang dinamis, dan berorientasi iptek.” Selanjutnya dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional ditegaskan bahwa “Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan serta membentuk watak dan peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab.” (Puskur-Balitbang Kemendiknas, 2010: 5)

Jika memperhatikan visi pembangunan nasional “…terwujudnya karakter bangsa yang tangguh…” tentu saja program pendidikan karakter mutlak perlu

dilakukan, jika tidak mustahil karakter bangsa yang tangguh akan terwujud. Demikian pula halnya dengan fungsi pendidikan nasional “…membentuk watak dan peradaban bangsa…” serta sepuluh tujuan pendidikan nasional: beriman,

bertakwa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kraetif, mandiri, demokratis, dan bertanggung jawab mengindikasikan perlunya pendidikan karakter untuk mewujudkannyab(Puskur-Balitbang Kemendiknas, 2010: 6-7).

3. Alasan Sosiologis

Alasan sosiologis adalah alasan yang timbul dari adanya kenyataan dimasyarakat seper ti merebaknya berbagai perilaku buruk yang sangat jauh dari kehidupan berkarakter yang melanda Indonesia. Kondisi demikian mendorong Pemerintah untuk melakukan penguatan kembali proses pendidikan hingga menyentuh aspek pengembangan karakter tidak saja dirasakan bangsa Indonesia

Kebutuhan dimaksud lebih didorong oleh adanya kenyataan semakin menurunnya moralitas warganegara terutama sejak memasuki era global satu decade terakhir (Puskur-Balitbang Kemendiknas, 2010: 8).

4. Alasan Pedagogis

Alasan pedagogis adalah alasan perlunya pendidikan karakter dilakukan untuk mendidik warga Negara. Secara psikopedagogis anak adalah seseorang warga Negara hipotetik. Artinya, warga Negara yang belum jadi yang masih harus dididik menjadi seorang yang sadar akan kewajibannya dan hak- haknya sebagai insan Tuhan, insane sosial , dan insan politik. Dengan demikian hidup berkarakter itu tidak lahir dengan sendirinya melainkan harus dibina melalui proses pendidikan. Dalam konteks demikianlah pendidikan karakter dibutuhkan dan diperlukan untuk membina peserta didik agar hidup berkarakter, yakni kehidupan yang menempuh jalan lurus mengikuti kaidah-kaidah nilai dan norma sesuai dengan fitrah manusian yang berorientasi kebenaran dan keluhuran. Ada tiga tujuan pendidikan karakter yakni pribadi yang berkarakter, sekolah /kampus yang berkarakter, dan masyarakat yang berkarakter. Ketiga tujuan tersebut harus dicapai dan diwujudkan secara terintegrasi. pencapaian tujuan yang satu dipengaruhi dan mempengaruhi tujuan yang lain. Pribadi berkarakter misalnya dapat dihasilkan oleh sekolah atau perguruan tinggi yang bekarakter. Sekolah atau perguruan tinggi yang berkarakter juga akan menjadi cahaya bagi masyarakat sekitarnya. Sebaliknya kehidupan masyarakat yang berkarakter akan menjadi lahan subur bagi pembentukan sekolah dan kampus berkarakter, termasuk bagi tumbuh kembangnya pribadi-pribadi berkarakter (Puskur-Balitbang Kemendiknas, 2010: 6).

Ada 18 nilai-nilai dalam pengembangan pendidikan budaya dan karakter bangsa yang dibuat oleh Diknas. Mulai tahun ajaran 2011, seluruh tingkat pendidikan di Indonesia harus menyisipkan pendidikan berkarakter tersebut dalam proses pendidikannya. Delapan belas (18) nilai-nilai dalam pendidikan karakter menurut Diknas (Puskur-Balitbang Kemendiknas, 2010: 9-10) adalah:

1. Religius. Sikap dan perilaku yang patuh dalam melaksanakan ajaran agama yang dianutnya, toleran terhadap pelaksanaan ibadah agama lain, dan hidup rukun dengan pemeluk agama lain.

2. Jujur. Perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan dirinya sebagai orang yang selalu dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan, dan pekerjaan.

3. Toleransi. Sikap dan tindakan yang menghargai perbedaan agama, suku, etnis, pendapat, sikap, dan tindakan orang lain yang berbeda dari dirinya.

4. Disiplin. Tindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan patuh pada berbagai ketentuan dan peraturan.

5. Kerja Keras. Tindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan patuh pada berbagai ketentuan dan peraturan.

6. Kreatif. Berpikir dan melakukan sesuatu untuk menghasilkan cara atau hasil baru dari sesuatu yang telah dimiliki.

7. Mandiri. Sikap dan perilaku yang tidak mudah tergantung pada orang lain dalam menyelesaikan tugas-tugas.

8. Demokratis. Cara berfikir, bersikap, dan bertindak yang menilai sama hak dan kewajiban dirinya dan orang lain.

9. Rasa Ingin Tahu. Sikap dan tindakan yang selalu berupaya untuk mengetahui lebih mendalam dan meluas dari sesuatu yang dipelajarinya, dilihat, dan didengar.

10.Semangat Kebangsaan. Cara berpikir, bertindak, dan berwawasan yang menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan diri dan kelompoknya.

11.Cinta Tanah Air.Cara berpikir, bertindak, dan berwawasan yang menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan diri dan kelompoknya. 12.Menghargai Prestasi. Sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk

menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat, dan mengakui, serta menghormati keberhasilan orang lain.

13.Bersahabat/Komunikatif. Sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat, dan mengakui, serta menghormati keberhasilan orang lain.

14.Cinta Damai.Sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat, dan mengakui, serta menghormati keberhasilan orang lain.

15.Gemar Membaca. Kebiasaan menyediakan waktu untuk membaca berbagai bacaan yang memberikan kebajikan bagi dirinya.

16.Peduli Lingkungan. Sikap dan tindakan yang selalu berupaya mencegah kerusakan pada lingkungan alam di sekitarnya, dan mengembangkan upaya-upaya untuk memperbaiki kerusakan alam yang sudah terjadi.

17.Peduli Sosial. Sikap dan tindakan yang selalu ingin memberi bantuan pada orang lain dan masyarakat yang membutuhkan.

18.Tanggung Jawab. Sikap dan perilaku seseorang untuk melaksanakan tugas dan kewajibannya, yang seharusnya dia lakukan, terhadap diri sendiri, masyarakat, lingkungan (alam, sosial dan budaya), negara dan Tuhan Yang Maha Esa.

Dokumen terkait