• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pendidikan Karakter Dalam Perencanaan Pembelajaran Matematika

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian

1. Pendidikan Karakter Dalam Perencanaan Pembelajaran Matematika

karakter, SMP Muhammadiyah I Temanggung melakukannya dalam 2(dua) tahap. Menurut Waka Kurikulum, tahap pertama perencanaan pembelajaran dilakukan oleh sekolah dan tahap yang kedua dilakukan oleh pengampu mata pelajaran. Sekolah menyusun perencanaan tersebut secara global kemudian guru wajib untuk mengembangkannya.

Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) disusun berdasarkan silabus yang telah dikembangkan oleh sekolah. Sedangkan RPP yang

dibuat sudah memenuhi kriteria secara umum yaitu tersusun atas SK, KD, tujuan pembelajaran, karakter-karakter pendidikan yang diterapkan,indikator pencapaian kompetensi, alokasi waktu, materi pembelajaran, metode pembelajaran, langkah-langkah pembelajaran, sumber belajar, dan penilaian.

Adapun RPP nilai-nilai karakter yang dibuat guru adalah berdasarkan RPP yang sudah ada yang terdapat pada kolom tersendiri .Tidak semua nilai karakter bisa diimplementasikan secara terpadu dalam pembelajaran matematika, sehingga dipilih nilai-nilai karakter yang relevansinya kuat dengan pembelajaran tersebut.

Dalam merencanakan pembelajaran matematika, guru memasukkan nilai-nilai karakter dalam RPP (by design) dan secara by chance menanamkan nilai-nilai tersebut pada setiap kegiatan pembelajaran matematika. Pendidikan karakter akan tercapai dengan sendirinya dalam pembelajaran matematika tanpa ditulis atau dituangkan dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Seperti nampak pada awal kegiatan, peserta didik dibiasakan membaca do’a dan membaca Al Qur’an. Sehingga dapat dikatakan secara tidak langsung nilai karakter religius diterapkan dalam kegiatan pembelajaran tanpa dicantumkan dalam RPP.

Adapun nilai-nilai karakter yang dicantumkan pada RPP meliputi disiplin, rasa hormat dan perhatian (respect), tekun (diligence), dan tanggung jawab (responsibility). Materi pembelajaran matematika dalam RPP adalah Operasi Aljabar, sehingga nilai-nilai karakter tersebut secara

implisit ada pada tujuan pembelajaran. Yaitu 1) setelah mempelajari Operasi Aljabar peserta didik dapat menyelesaikan operasi penjumlahan, pengurangan, perkalian, pembagian, dan perpangkatan pecahan bentuk aljabar dengan penuh tanggungjawab; 2)setelah mempelajari Operasi Aljabar peserta didik dapat menyelesaikan operasi penjumlahan, pengurangan, perkalian, pembagian, dan perpangkatanpecahan bentuk aljabar dengan tekun; 3)setelah mempelajari Operasi Aljabar peserta didik dapat menyederhanakan pecahan bentuk aljabar dan pecahan bersusun dengan penuh kedisiplinan.

Sedangkan pada silabus, nilai karakter diimplementasikan secara terperinci pada tiap-tiap Kompetensi Dasar (KD) yang terbagi dalam 2(dua) kali pertemuan sebagai berikut:

Kompetensi Dasar pada pertemuan pertama;

a. Melakukan Operasi aljabar (KD 1),nilai karakter yang diharapkan teliti, tanggungjawab, kerja sama dan menghargai oranglain.

b. Menguraikan bentuk aljabar ke dalam faktor-faktornya (KD 2), nilai karakter yang diterapkan adalah berpikir logis, teliti dan ulet. Pada saat diskusi, nilai karakter yang diharapkan kerja sama, menghargai orang lain dan tanggung jawab.

c. Memahami relasi dan fungsi (KD 3), nilai karakter yang akan dicapai adalah kemandirian, percaya diri dan kejujuran.

d. Menentukan nilai fungsi (KD 4), nilai karakter yang diharapkan adalah kemandirian, ketelitian, kejujuran dan berpikir serta sistematis.

e. Membuat Sketsa fungsi sederhana pada sisitem koordinat cartesius (KD 5), nilai karakter yang akan dicapai adalah ulet, mandiri, teliti, berpikir logis dan sistematis.

f. Menentukan gradient persamaan dan grafik garis lurus (KD 6), nilai karakter yang diharapkan percaya diri, kerja sama, tanggungjawab dan menghargai orang lain.

Kompetensi Dasar pada pertemuan kedua, yaitu:

a. Menyelesaikan sistem persamaan dua variabel (KD1), nilai karakter yang diharapkan percaya diri, kerja sama, tanggung jawab, menghargai orang lain, ulet,ulet, teliti dan jujur.

b. Membuat model matematika dari masalah yang berkaitan dengan sistem persamaan linier dua variabel (KD 2), nilai karakter yang akan dicapai percaya diri, kerja sama, tanggung jawab dan menghargai orang lain. c. Menyelesaikan model matematika dari masalah yang berkaitan dengan

sistem persamaan linier dua variabel dan penafsirannya (KD 3), nilai karakter yang diharapkan adalah percaya diri, mandiri, teliti, jujur, ulet dan sistematis.

2. Pendidikan Karakter Pada Pelaksanaan Pembelajaran Matematika. Pelaksanaan observasi dikelas pada saat pembelajaran Matematika, peneliti memasuki dua kelas yaitu, VIII A dan VIII B. Rencana awal peneliti akan mengamati apa yang dilakukan 2 (dua) guru dalam mengimplementasikan pendidikan secara terpadu dalam pembelajaran

matematika. Namun pada saat observasi dilakukan, guru matematika kelas VIII B tidak berada di tempat (sedang menjalankan ibadah haji), digantikan oleh guru matematika kelas A. Sehingga peneliti melaksanakan pengamatan di dua kelas dengan guru yang sama. Materi ajar yang diberikan guru tentang Faktorisasi Suku Aljabar yang disampaikan dalam 2 (dua) kali pertemuan.

Peserta didik di kelas VIII A nampak lebih aktif dan merespons dengan baik apa yang disampaikan guru, serta suasana pembelajaran lebih kondusif, sehingga peran guru dalam hal ini lebih dominan sebagai fasilitator. Sedangkan metode yang diterapkan sedikit metode ceramah pada saat penyampaian materi, dan metode tanya jawab yang nampak lebih mendominasi.

Adapun peserta didik di kelas VIII B terkesan lebih pasif, dan suasana pembelajaran pun kurang kondusif. Beberapa peserta didik kelihatan lesu, tidak antusias, sebagian besar peserta didik bahkan ramai dan diskusi tidak jelas dengan teman sebangkunya, hanya beberapa gelintir saja yang memperhatikan penjelasan guru. Dalam hal ini guru lebih banyak menerapkan metode ceramah dan pemberian tugas.

Langkah-langkah kegiatan pembelajaran meliputi 2 (dua) kali pertemuan, yaitu pertemuan pertama dan kedua. Pada pertemuan pertama yaitu pendahuluan, diawali dengan apersepsi, yaitu guru memberi salam, dan doa bersama .Dilanjutkan dengan penyampaian tujuan pembelajaran yang ditulis di white board ,kemudian guru memotivasi peserta didik

dengan memberi penjelasan tentang pentingnya mempelajari materi yang akan diajarkan. Sebagai teladan atau panutan nilai disiplin sudah diterapkan oleh guru matematika dengan cara memasuki kelas tepat waktu, sehingga dapat ditiru peserta didik. Nilai karakter yang ditanamkan pada pada kegiatan pendahuluan meliputi nilai disiplin, rasa hormat dan perhatian (respect).

Pada kegiatan inti, peserta didik diberikan stimulus berupa pemberian materi oleh guru tentang cara menyelesaikan operasi penjumlahan, pengurangan, perkalian, pembagian, dan perpangkatan pada bentuk aljabar, kemudian antara peserta didik dan guru mendiskusikan materi tersebut. Materi diambil dari dari buku paket Matematika kelas VIII semester I. Setelah diberikan materi guru memberikan contoh soal yang dibahas secara bersama-sama. Kegiatan selanjutnya guru memberikan latihan soal. Guru memfasilitasi peserta didik untuk berlatih memecahkan soal tersebut.

Tahap selanjutnya guru memfasilitasi peserta didik untuk membuat laporan eksplorasi yang dilakukan secara lisan maupun tertulis baik kelompok maupun individual; diteruskan dengan penyajian hasil kerja secara kelompok maupun individual.

Setelah selesai tugas menyajikan hasil kerja, guru mempersilakan peserta didik untuk mengerjakan soal-soal dari “Cek Pemahaman” yang ada dalam buku Paket tentang penentuan koefisien, variabel, konstanta, suku sejenis, dan derajat dari ubin aljabar dan sifat distributif, serta

penentuan hasil perpangkatan dari penjumlahan atau perkalian suku dua dengan suku dua.

Disamping itu, peserta didik juga mengerjakan beberapa soal dari “Bekerja Aktif” dalam buku paket mengenai penentuan bentuk aljabar dari suatu masalah dan penyederhanaan bentuk aljabar tersebut, kemudian tentang penyelesaian perkalian suku satu dengan suku dua menggunakan ubin aljabar, lalu penyederhanaan perkalian suku dua dengan suku dua dengan menggunakan model ubin aljabar. Setelah itu peserta didik dan guru secara bersama-sama membahas jawaban soal tersebut.

Tugas akhir pada kegiatan inti ini guru memberikan latihan pada peserta didik yang ada dalam “Kompetensi Berkembang Melalui Latihan” mengenai penentuan koefisien, variabel, konstanta, suku sejenis, dan derajat dari bentuk aljabar; penentuan bentuk aljabardari suatu masalah, dan penentuan apakah bentuk aljabaryang diberikan merupakan monomial, binomial, trinomial, atau polinomial; mengenai penentuan penjumlahan dan pengurangan serta pembagian hasil perkalian suku dua dengan suku dua. Kemudian peserta didik bersama guru membahas beberapa jawaban soal tersebut.

Dalam kegiatan konfirmasi, guru memberikan umpan balik (feed back) positif dan penguatan dalam bentuk lisan, tulisan pada buku tugas (seperti best, good, sipp dan seterusnya), isyarat maupun reward terhadap keberhasilan peserta didik.

Nilai karakter yang diterapkan dalam kegiatan inti ini meliputi nilai komunikatif, respek, tanggungjawab, berpikir kritis, disiplin, kerja keras, kreatif, rasa ingin tahu. Kemudian guru memberikan refleksi dari proses penyelesaian soal tersebut yang berupa pengulangan beberapa bagian materi pembelajaran dan refleksi sikap. Refleksi pembelajaran juga dilakukan guru dengan mengecek jawaban dan langkah-langkah penyelesaian soal. Refleksi soal dilakukan guru dengan cara memberikan motivasi pada peserta didik yang kurang atau belum berpartisipasi aktif agar sering berlatih dan mengulangi di rumah dalam menyelesaikan soal.

Dalam kegiatan penutup, guru memberikan kesimpulan materi yang sudah dipelajari. Kemudian guru memberikan motivasi kepada peserta didik yang kurang aktif agar rajin belajar dan kepada peserta didik yang sudah bisa memahami materi agar lebih ditingkatkan lagi prestasinya. Untuk latihan di rumah ,guru memberikan PR kepada peserta didik. Kemudian guru menyampaikan rencana kegiatan tindak lanjut dalam bentuk pembelajaran remidi, program pengayaan ,layanan konseling dan /atau memberikan tugas individual maupun kelompok sesuai dengan hasil belajar peserta didik. Setelah itu kegiatan pembelajaran diakhiri dengan berdoa bersama dan salam.

Pada pertemuan kedua, tahap pendahuluan diawali dengan apersepsi, yaitu menyampaikan tujuan pembelajaran yang dituliskan pada white board bagian atas, kemudian guru memberikan motivasi dengan

penjelasan tentang pentingnya mempelajari materi yang akan disampaikan. Seterusnya membahas pekerjaan rumah.

Tahap kegiatan inti pada pertemuan kedua pada dasarnya sama dengan pertemuan pertama, hanya yang membedakan pada materi yang diberikan oleh guru. Guru memberikan materi tentang cara menyelesaikan operasi penjumlahan, pengurangan, perkalian, pembagian, dan perpangkatan pada pecahan dalam bentuk aljabar serta cara menyederhanakan pecahan bentuk aljabar dan pecahan bersusun. Kemudian guru bersama peserta didik mendiskusikan materi tersebut. Materi diambil dari buku Matematika Kelas VIII semester I tentang penyelesaian operasi pecahan dalam bentuk aljabar.

Selanjutnya peserta didik mengkomunikasikan secara lisan atau mempresentasikan materi tersebut; diteruskan dengan membahas contoh soal dalam buku paket bersama dengan guru. Guru nampak melibatkan peserta didik secara aktif dalam pembelajaran.

Berikutnya guru menyuruh peserta didik untuk mengerjakan soal-soal latihan dari “Cek Pemahaman” dan “Kompetensi Berkembang Melalui Latihan” dalam buku paket. Kemudian peserta didik dan guru secara bersama-sama membahas beberapa jawaban soal tersebut.

Dalam kegiatan konfirmasi guru memberikan umpan balik positif, dan memfasilitasi peserta didik melakukan refleksi tentang pengalaman belajar yang telah dilakukan. Kegiatan akhir yaitu penutup, peserta didik membuat rangkuman subbab yang telah dipelajari. Kemudian peserta didik

diberikan pekerjaan rumah (PR) dari soal-soal “Kompetensi Berkembang Melalui Latihan” yang ada dlam buku paket yang belum terselesaikan di kelas. Kegiatan pembelajaran diakhiri dengan doa bersama dan salam.

Hasil wawancara yang peneliti lakukan dengan perwakilan peserta didik, yaitu Zulfikar Almunbaits di kelas VIII A dan Aji Pangestu di kelas VIII B; pada awalnya mereka tidak tahu apa yang dimaksudkan nilai-nilai karakter yang terintegrasi dalam pembelajaran matematika. Mereka hanya ingin bisa memahami dengan baik apa yang disampaikan guru, sehingga mereka sering bertanya, dan berusaha mengerjakan soal maupun tugas dari guru dengan baik. Menurut mereka, guru hampir selalu menegaskan bahwa dalam belajar matematika itu harus sabar, teliti, tekun dan percaya diri. Disamping itu pada saat mengerjakan soal guru juga sering mengingatkan bahwa mereka harus bekerja sendiri atau mandiri dan jujur, tidak perlu menyontek teman. Ketika diskusi kelompok, menurut mereka guru menuntun mereka untuk latihan bermusyawarah dengan cara bekerja sama dan mencoba untuk mendengarkan serta memperhatikan apa yang disampaikan temannya. Kemudian selalu mengingatkan untuk konsekwen sebagai seorang peserta didik, agar selalu belajar tanpa bosan dan bertanggungjawab mengerjakan PR.

Sedangkan guru Matematika, yaitu Ibu Sunarti,S.Pd menyampaikan bahwa ia sudah berusaha untuk memenuhi target mengajar matematika sesuai dengan tuntutan kurikulum. Ia sangat menyadari bahwa tidak semua peserta didik suka belajar matematika, karenanya ia tidak memaksakan

peserta didiknya untuk bisa memahami matematika dengan sempurna. Apabila menghadapi peserta didik yang kurang kemampuannya dalam matematika ,ia lebih mengarahkan peserta didik tersebut untuk berusaha belajar, dan hasil belajar yang ditargetkan asal minimal terpenuhi nilai KKM (kriteria ketuntasan minimal).

Hasil wawancara dengan Waka Bidang Kurikulum yaitu Ibu Hening Wismisari, S.Pd, disampaikan bahwa kurikulum yang diterapkan di SMP Muhammadiyah I Temanggung masih KTSP. Adapun nilai-nilai karakter secara umum sudah terintegrasi pada semua mata pelajaran termasuk dalam pembelajaran matematika. Tetapi dalam pelaksanaannya kadang-kadang ada guru yang tidak konsisten. Dalam pengamatannya, pembelajaran matematika khususnya di kelas VIII , guru pengampu sudah cukup baik dalam merespons nilai-nilai karakter yang perlu diterapkan. Guru tersebut sudah sangat paham bahwa penilaian knowledge (pengetahuan) bukan segalanya, sehingga lebih mengutamakan penilaian afektif yang tidak lain adalah nilai-nilai karakter tersebut.

Nilai-nilai karakter peserta didik yang diharapkan secara administratif sudah tertuang pada perencanaan pembelajaran yaitu pada RPP dan Silabus. Sedangkan dalam pelaksanaan maupun evaluasi pembelajaran tergantung dengan pengembangan action atau tindakan guru. Adapun supervisi klinis dilakukan secara insidental atau pun pada saat-saat tertentu oleh Waka Kurikulum ,sedangkan setiap satu semester sekali oleh Kepala Sekolah. Pendidikan karakter dalam pembelajaran

sangat didukung oleh beberapa kegiatan peserta didik, seperti kegiatan paskibraka, pramuka, pengajian rutin, olah raga, hafalan Al Quran, shalat Dhuhur berjamaah, berdoa sebelum dan sesudah belajar dan pencak silat. Dalam kegiatan tersebut, peserta didik ditanamkan nilai-nilai karakter seperti kerja sama, sportivitas, semangat, religius, keberanian, kemandirian, dan sebagainya.

Disamping itu, pendidikan karakter juga dilaksanakan oleh seluruh warga sekolah mulai dari kepala sekolah, dewan guru, tenaga tata usaha sampai dengan seluruh peserta didik, sebagai suatu komunitas untuk mencapai tujuan pendidikan karakter. Dalam hal ini pendidikan karakter tercermin pada budaya mengucapkan salam, berpakaian bersih dan rapi serta tertib.

3. Pendidikan Karakter Pada Evaluasi Pembelajaran Matematika.

Pada tahap evaluasi pembelajaran matematika, peneliti mengamati pada saat pelaksanaan ulangan harian atau post tes. Dalam mengerjakan ulangan dibutuhkan kemandirian, kejujuran dan tanggung jawab. Guru setiap kali memperingatkan sekaligus mengingatkan peserta didik yang melihat atau bahkan menyontek pekerjaan temannya. Demikian pula bagi peserta didik yang mendapatkan hasil belajar dengan nilai yang baik guru memberikan penghargaan berupa tulisan dibuku tugas seperti good, best dan sejenisnya. Kadang-kadang guru menyuruh salah satu peserta didik maju kedepan untuk menyelesaikan soal di papan tulis. Jika peserta didik

tersebut benar mengerjakannya, maka teman-temannya disuruh untuk memberikan tepuk tangan.

Berdasarkan hasil wawancara, guru tidak hanya melihat hasil belajar peserta didik saja namun juga proses belajarnya. Misalnya apakah peserta didik pada saat pembelajaran matematika menunjukkan ada minat atau tidak, ada keberanian bertanya atau tidak, ada tanggungjawab menyelesaikan soal atau tidak, dan sebagainya. Hal tersebut menjadikan guru memberikan nilai tambahan atau sebagai penghargaan bagi mereka yang afeksinya baik. Sedangkan bagi peserta didik yang melanggar peraturan yang sudah menjadi konsensus bersama dalam pembelajaran matematika akan dikenakan sanksi. Sebagai contoh apabila tidak mengerjakan PR ,guru memberi sanksi kepada peserta didik supaya mengerjakannya sebanyak sepuluh kali dan apabila sudah 3(tiga) kali berturut-turut, maka tidak diperbolehkan mengikuti pembelajaran matematika selanjutnya.

Disamping itu, guru melakukan evaluasi secara berkesinambungan yang bertujuan untuk memantau proses dan kemajuan belajar peserta didik serta untuk meningkatkan efektifitas kegiatan pembelajaran. Sebagaimana yang diungkapkan oleh guru matematika bahwa;

“menurut saya, kegiatan evaluasi adalah pertama, untuk

mengetahui sejauhmana peserta didik mencapai kompetensi dalam indikator-indikator pembelajaran; kedua untuk mengetahui sejauhmana peserta didik menguasai materi yang diajarkan; dan ketiga untuk

mengetahui kompetensi indikator pembelajaran yang sudah tercapai maupun yang belum; keempat untuk mengetahui sejauhmana efektifitas pembelajaran yang dilakukan; dan kelima untuk mengetahui kemajuan dan perkembangan peserta didik.”

Berkaitan dengan pembelajaran matematika, guru matematika setelah mengetahui hasil belajar peserta didik maka guru akan melakukan tindak lanjut untuk melihat nilai karakter yang ditunjukkan peserta didik. Sebagaimana dicontohkan, misalnya peserta didik memperoleh nilai 80, berarti sudah melampaui nilai KKM, kemudian guru melihat bagaimana dengan nilai-nilai karakter yang tercermin pada perilaku peserta didik.

Disamping itu, guru matematika di kelas VIII ini mengadakan ulangan setelah selesai satu pokok bahasan. Berkas ulangan peserta didik dikembalikan lagi sesudah dikoreksi, kemudian diberi komentar sesuai dengan hasil yang diperoleh. Guru lebih menekankan pada aspek nilai karakter kejujuran, percaya diri, dan ketelitian kepada peserta didik pada saat berlangsungnya ulangan.

B. Pembahasan

1. Pendidikan Karakter Pada Perencanaan Pembelajaran Matematika. Berdasarkan paparan hasil penelitian tentang pendidikan karakter secara terpadu dalam pembelajaran matematika di SMP Muhammadiyah I

Temanggung, maka menurut peneliti sudah memenuhi standar sebuah perencanaan pembelajaran.

Perencanaan pembelajaran matematika dilakukan 2 (dua) kali, pertama dilakukan oleh sekolah ,kedua dikembangkan oleh guru yang mengampu mata pelajaran sesuai dengan kondisi kelas masing-masing. Di dalam kurikulum KTSP mulai diterapkan nilai-nilai karakter kemudian dilanjutkan pada Silabus dan RPP yang minimal harus dituliskan nilai-nilai karakter misalnya jujur, tanggungjawab, mandiri dan nilai-nilai karakter lainnya. Pihak sekolah melalui kepala sekolah menginstruksikan kepada semua guru termasuk guru matematika untuk membuat atau memodifikasi Silabus dan RPP dengan nilai-nilai karakter yang relevan. Hal tersebut berdasarkan hasil wawancara dengan wakil kepala sekolah bidang kurikulum.

Penyusunan perencanaan pembelajaran matematika yang berbasis pendidikan karakter sangat urgen untuk mewujudkan keberhasilan dalam pembelajaran terutama pada penanaman nilai-nilai karakter. Karena belajar matematika adalah berlatih berpikir logis, rasional, kritis, jujur, efektif dan efisien. Sehingga bisa dikatakan bahwa proses pembelajaran matematika tidak akan pernah lepas dari pengembangan nilai-nilai karakter peserta didik. Apabila peserta didik mampu menerapkan nilai-nilai karakter tersebut, maka matematika akan menjadi suatu pelajaran yang bermakna dalam kehidupannya. Oleh karena itu guru harus mempersiapkan perencanaan pembelajarannya secara matang.

Guru Matematika kelas VIII A dan VIII B SMP Muhammadiyah I Temanggung merencanakan pembelajaran matematika berbasis karakter yang dituangkan dalam Silabus dan RPP. Silabus merupakan rencana pembelajaran pada suatu dan/atau kelompok mata pelajaran/tema tertentu yang mencakup standar kompetensi, kompetensi dasar, materi pokok pembelajaran, kegiatan pembelajaran, indikator, penilaian, alokasiwaktu, dan sumber/bahan/alat belajar. Sehingga silabus itu penjabaran dari standar kompetensi dan kompetensi dasar ke dalam materi pokok pembelajaran, kegiatan pembelajaran, dan indikator pencapaian kompetensi untuk penilaian. Dalam Silabus Matematika Kelas VIII semester I dengan Standar Kompetensi ALJABAR- memahami bentuk aljabar, relasi, fungsi, dan persamaan garis lurus pada SMP Muhammadiyah I Temanggung, guru menyisipkan nilai-nilai karakter pada kolom kegiatan pembelajaran, kemudian dipertegas di fokus pada nilai-nilai karakter yang diharapkan tersebut.

Adapun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) merupakan rencana yang menggambarkan prosedur dan pengorganisasian pembelajaran untuk mencapai satu kompetensi dasar yang ditetapkan dalam Standar Isi dan dijabarkan dalam Silabus. Lingkup RPP paling luas mencakup 1(satu) Kompetensi Dasar yang terdiri dari 1 (satu) indikator atau beberapa indicator untuk 1 (satu) kali pertemuan atau lebih. Didalam RPP secara rinci harus dimuat Tujuan Pembelajaran, Materi Pembelajaran, Metode Pembelajaran, Langkah-langkah Kegiatan Pembelajaran, Sumber Belajar, dan Penilaian.

Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) Matematika Kelas VIII Semester I dengan Standar Kompetensi Memahami bentuk Aljabar, relasi, fungsi, dan persamaan garis lurus pada SMP Muhammadiyah I Temanggung, guru sudah menyisipkan nilai-nilai karakter yang diharapkan pada komponen Tujuan Pembelajaran. Sehingga dalam pelaksanaan pembelajaran di kelas guru berpedoman pada RPP yang telah disusun, karena isi yang tertuang didalamnya berkaitan dengan aktifitas pembelajaran dalam upaya pencapaian penguasaan suatu Kompetensi Dasar. Melalui perencanaan pembelajaran yang baik ,guru lebih mudah dalam melaksanakan pembelajaran dan memudahkan peserta didik belajar.

Berdasarkan pengamatan peneliti, ada nilai-nilai karakter yang belum tertuang dalam perencanaan pembelajaran, tetapi nilai itu selalu ditanamkan pada peserta didik, yaitu nilai religi us dan nilai keteladanan .Nilai religiusitas nampak pada kebiasaan doa bersama dan salam yang dilakukan sebelum dan sesudah pembelajaran.Sedangkan nilai keteladanan terlihat pada sikap dan perilaku guru yang berpenampilan rapi dan datang ke kelas tepat waktu, sehingga peserta didik mengikuti kebiasaan perilaku baik yang dilakukan oleh guru.

Adapun langkah-langkah yang dilakukan oleh guru matematika dalam menyusun perangkat pembelajaran khususnya RPP dan Silabus ;pertama, menjelang awal tahun ajaran baru bersama-sama dengan guru-guru mata pelajaran yang lain membahas secara umum yang ,pelajaran yang lain ,masing-masing menyusun RPP dan silabus yang disesuaikan dengan kondisi kelas

dengan perubahan seperlunya. RPP dan Silabus yang disusun sudah sesuai dengan panduan pengembangan perencanaan pembelajaran yang dikeluarkan oleh Kemendikbud; ketiga ,mengidentifikasi dan mengelompokkan kompetensi yang akan dicapai setelah proses pembelajaran; keempat mengembangkan materi standar dengan mengembangkan rencana pelaksanaan pembelajaran dilanjutkan dengan merencanakan penilaian; kelima, analisis Standar

Dokumen terkait