BAB II LANDASAN TEORI
A. Kajian Pustaka
5. Pendidikan Karakter
a. Pengertian Pendidikan Karakter
Menurut Suparno (2015:29) pendidikan karakter merupakan pendidikan yang bertujuan untuk membantu agar siswa-siswa mengalami, memperoleh, dan memiliki karakter kuat yang diinginkan. Secara lebih dalam, Komara (2018:24) menyatakan bahwa pendidikan karakter merupakan pendidikan nilai, budi pekerti, moral, dan watak, yang bertujuan untuk mengembangkan kemampuan siswa dalam memberikan keputusan baik dan buruk, memelihara apa yang baik, dan mewujudkan kebaikan itu dalam kehidupan sehari-hari dengan sepenuh hati. Pendidikan karakter secara rinci dijelaskan oleh pendapat dari Zubaedi (2011:25), yaitu pendidikan karakter adalah pendidikan budi pekerti plus, atau program pengajaran yang bertujuan mengembangkan watak dan tabuat peserta didik dengan cara menghayati nilai-nilai keyakinan masyarakat sebagai kekuatan moral dalam kehidupan melalui kejujuran, dapat dipercaya disiplin, dan kerja sama yang menekankan ranah afektif tanpa meninggalkan ranah kognitif dan ranah keterampilan.
Berdasarkan pemaparan beberapa ahli di atas, peneliti melihat persamaan bahwa pendidikan karakter adalah proses pendidikan yang menekankan ranah afektif dengan tujuan mengembangkan nilai moral peserta didik sebagai bekal kehidupannya. Dalam pendidikan karakter terdapat tiga unsur penting, yaitu pengetahuan, perasaan, dan perilaku moral.
b. Nilai dan Deskripsi Nilai Pendidikan Karakter
Fokus kebijakan pendidikan pada kurikulum 2013 mengarah pada kecakapan abad 21, yaitu literasi, kompetensi, dan karakter. Guna melaksanakan pendidikan karakter pada kurikulum 2013, pemerintah menyelenggarakan Gerakan Penguatan Pendidikan Karakter (PPK). Berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 87 tahun 2017, PPK adalah gerakan pendidikan di bawah tanggung jawab satuan pendidikan untuk memperkuat karakter peserta didik melalui harmonisasi olah hati, olah rasa, olah pikir, dan olah raga dengan pelibatan dan kerja sama antara satuan pendidikan, keluarga, dan masyarakat. Pada pasal 3 Peraturan Presiden Nomor 87 tahun 2017, menyatakan bahwa terdapat lima karakter utama menjadi prioritas pengembangan PPK, yaitu religius, nasionalisme, integritas, mandiri, dan gotong royong. Pemaparan nilai dan deskripsi nilai lima karakter utama pada pendidikan karakter berdasar PPK diuraikan pada Tabel 2.1.
Tabel 2.1 Nilai dan Deskripsi Nilai Karakter pada Pendidikan Karakter
Karakter Nilai Deskripsi Nilai
Religius
Toleransi
Sikap dan Tindakan yang menghargai perbedaan agama, suku, etnis, pendapat, sikap, dan Tindakan orang lain yang berbeda dari dirinya.
Cinta Damai
Sikap, perkataan, dan Tindakan yang menyebabkan orang lain merasa senang dan aman atas kehadiran dirinya.
Persahabatan
Tindakan yang memperlihatkan rasa senang berbicara, bergaul, dan bekerja sama dengan orang lain.
Peduli Lingkungan
Sikap dan tindakan yang selalu berupaya mencegah kerusakan pada lingkungan alam di sekitarnya dan mengembangkan upaya-upaya untuk memperbaiki kerusakan alam yang sudah terjadi.
Nasionalis
Disiplin
Tindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan patuh pada berbagai ketentuan dan peraturan.
Cinta Tanah Air
Cara berpikir, bertindak, dan berwawasan yang menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas diri dan kelompoknya.
Mandiri
Kerja Keras
Perilaku yang menunjukkan upaya sungguh-sungguh dalam mengatasi berbagai hambatan belajar dan tugas serta menyelesaikan tugas dengan sebaik-baiknya.
Rasa Ingin Tahu
Sikap dan Tindakan yang selalu berupaya untuk mengetahui lebih mendalam dan meluas dari sesuatu yang dipelajarinya, dilihat, atau didengar.
Kreatif
Berpikir dan melakukan sesuatu untuk menghasilkan cara atau hasil baru dari sesuatu yang telah dimiliki.
Berani
Bertindak secara benar pada saat menghadapi kesulitan dan mengikuti hati nurani daripada pendapat orang banyak.
Integritas
Jujur
Perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan dirinya sebagai orang yang selalu dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan, dan pekerjaan.
Adil
Melaksanakan keadilan sosial, kewajaran, dan persamaan, bekerja sama dengan orang lain, memahami keunikan dan nilai-nilai dari setiap individu di dalam masyarakat.
Tanggung Jawab
Sikap dan perilaku seseorang untuk melaksanakan tugas dan kewajibannya, yang seharusnya ia lakukan, terhadap diri sendiri, masyarakat, dan lingkungan (alam, sosial, budaya), negara, dan Tuhan YME.
Gotong
Royong Kerja sama
Tindakan menghargai semangat Kerja sama dan bahu membahu menyelesaikan persoalan bersama.
Demokratis
Cara berpikir, bersikap, dan bertindak yang menilai sama hak dan kewajiban dirinya dan orang lain.
Peduli Sosial
Sikap dan tindakan yang selalu memberi bantuan pada orang lain dan masyarakat yang membutuhkan.
Berdasarkan uraian nilai pada pendidikan karakter yang dipaparkan di atas, peneliti menggunakan enam nilai sikap sesuai pembelajaran pada tema 3. Pada setiap pembelajaran kelas II tema 3, nilai pendidikan karakter telah ditentukan berdasarkan indikator pada Kompetensi Inti 2. Keenam nilai tersebut adalah jujur, bertanggung jawab, peduli, disiplin, percaya diri, dan santun. Keenam nilai tersebut digunakan sebagai pedoman pembuatan cerita pada setiap pembelajaran.
c. Unsur Penting Pendidikan Karakter
Ryan dan Lickona (1992:15) menyatakan bahwa terdapat 3 unsur penting dalam pendidikan karakter, yaitu pengertian moral, perasaan moral, dan tindakan moral. Ketiga unsur ini berkaitan dan perlu diperhatikan bahwa nilai moral memerlukan perasaan moral agar menjadi tindakan moral.
1) Pengertian moral adalah kemampuan untuk mengambil gagasan seseorang, rasionalitas moral (alasan mengapa harus melakukan hal tersebut) dan pengertian terhadap dirinya sendiri. Unsur dalam pengertian moral adalah pengetahuan tentang nilai moral, alasan moral,
strategi pengambilan keputusan, gambaran situasi dalam suatu keputusan , dan bagaimana cara memutuskan.
2) Perasaan moral meliputi kesadaran akan yang baik atau tidak, harga diri, sikap empati, perasaan mencintai kebaikan, kontrol diri, dan rendah hati. Perasaan moral ini perlu diperhatikan karena hal ini mempengaruhi seseorang dengan mudah atau sulit untuk bertindak baik atau tidak baik.
3) Tindakan moral meliputi kemampuan untuk mengaplikasikan keputusan dan perasaan moral ke tindakan konkret, kemauan, dan kebiasaan. Tanpa disertai kemampuan yang kuat, orang tidak akan melakukannya. Dalam dunia Pendidikan kemauan perlu ditingkatkan. Berdasarkan pernyataan ahli di atas, peneliti mengetahui bahwa dalam pendidikan karakter terdapat tiga unsur penting, yaitu pengetahuan moral, perasaan moral, dan perilaku moral. Pada penelitian ini, buku cerita bergambar menjadi sarana dalam pelaksanaan pendidikan karakter sejalan dengan unsur pengertian moral. Siswa akan mengetahui nilai-nilai moral dari nasihat pada cerita yang telah dibaca oleh siswa. Setelah melakukan kegiatan membaca, siswa akan melakukan refleksi. Hal ini sejalan dengan unsur perasaan moral. Dimana, siswa akan melihat apa yang telah dilakukannya dan menyadari apakah itu hal yang baik atau sebaliknya.
d. Tujuan Pendidikan Karakter di Pendidikan Sekolah
Menurut Kesuma (2011:9) pendidikan karakter di sekolah memiliki tujuan sebagai berikut.
1) Memfasilitasi penguatan dan pengembangan nilai-nilai tertentu sehingga terwujud dalam perilaku anak, baik ketika proses sekolah maupun setelah proses sekolah.
Penguatan dan pengembangan memiliki makna bahwa pendidikan karakter di sekolah merupakan sebuah proses yang membawa peserta didik untuk memahami dan merefleksi bagaimana suatu nilai menjadi penting untuk diwujudkan dalam kehidupan manusia. Selain itu, penguatan juga mengarahkan proses pendidikan pada proses pembiasaan yang disertai oleh logika dan refleksi atas proses dan dampak dari proses pembiasaan yang dilakukan sekolah. Dengan kata lain, proses pendidikan harus dilakukan secara kontekstual.
2) Mengoreksi perilaku peserta didik yang tidak bersesuaian dengan nilai-nilai yang dikembangkan oleh sekolah.
Pendidikan karakter memiliki sasaran untuk meluruskan perilaku anak yang negatif menjadi positif. Proses pelurusan tersebut merupakan pengoreksian perilaku melalui proses pedagogis, bukan dengan paksaan atau pengkondisian yang tidak mendidik. Proses pedagogis dalam pengoreksian perilaku dilakukan dengan mengarahkan pola pikir anak,
keteladanan lingkungan sekolah dan rumah, dan proses pembiasaan berdasarkan tingkat dan jenjang sekolahnya.
3) Membangun koneksi yang harmoni dengan keluarga dan masyarakat dalam memerankan tanggung jawab pendidikan karakter secara bersama.
Proses pendidikan di sekolah harus dihubungkan dengan proses pendidikan di keluarga. Apabila pendidikan karakter hanya terbatas pada interaksi antara guru dengan siswa, pencapaian berbagai karakter yang diharapkan akan sulit untuk diwujudkan. Penguatan perilaku merupakan suatu hal yang menyeluruh (holistik), tidak hanya suatu cuplikan dari rentangan waktu yang dimiliki oleh anak.
Berdasarkan pemaparan ahli di atas, peneliti mengetahui bahwa terdapat tiga tujuan pendidikan karakter di sekolah, yaitu memfasilitasi pengembangan dan penguatan nilai-nilai kehidupan, mengoreksi perilaku siswa, serta membangun koneksi antara sekolah, keluarga, dan masyarakat. Ketiga tujuan pendidikan karakter tersebut menjadi dasar peneliti dalam mengembangkan buku cerita bergambar bagi siswa SD kelas II sebagai media pelaksanaan pendidikan karakter.