BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian
1. Prosedur Pengembangan Buku Cerita Bergambar
Prosedur pengembangan yang dilakukan pada penelitian ini adalah prosedur penelitian dan pengembangan Borg dan Gall yang dijelaskan oleh Sugiyono (2015:408). Langkah penelitian dan pengembangan , yaitu 1) potensi dan masalah, 2) pengumpulan data, 3) desain produk, 4) validasi desain, 5) revisi desain, 6) uji coba produk, 7) revisi produk, 8) uji coba pemakaian, 9) revisi produk, 10) produksi massal. Peneliti menggunakan langkah pertama hingga keenam langkah karena keterbatasan subjek yang dimiliki oleh peneliti. Berdasarkan kondisi nyata, dalam pelaksanaan uji coba terdapat keterbatasan waktu. Pada penelitian-penelitian terdahulu tidak mencakup keseluruhan langkah, hanya menggunakan beberapa langkah karena adanya keterbatasan waktu, biaya, dan subjek.
a. Potensi dan Masalah
Penelitian ini diawali dengan adanya temuan data oleh peneliti. Peneliti menemukan bahwa Indonesia menduduki peringkat ke-74 dari total 79 negara yang berpartisipasi dalam survei PISA. Capaian membaca siswa
Indonesia pada tahun 2018 sebanyak 371 poin (Schleicher, 2018:6). Poin yang diperoleh tersebut masih di bawah rata-rata. Perlu adanya usaha dari setiap lapisan masyarakat agar kemampuan membaca siswa di Indonesia mencapai poin di atas rata-rata. Kemampuan literasi diperlukan untuk meningkatkan kemampuan kognitif, meningkatkan taraf hidup, dan menjadikan seseorang lebih berbudaya (Dewayani, 2017: 11-12). Berdasarkan data tersebut peneliti pengamatan terhadap siswa, guru, dan sekolah, serta menganalisis kebutuhan guru dan siswa. Analisis kebutuhan dilakukan untuk mengetahui potensi dan permasalahan yang terjadi di lapangan. Potensi yang terdapat di SD KK adalah adanya pembelajaran pendidikan karakter dan ruang perpustakaan. Masalah yang dialami guru dan siswa adalah koleksi buku yang tidak terawat dan minimnya media pembelajaran pendidikan karakter. Analisis kebutuhan dilakukan melalui observasi perpustakaan dan wawancara terhadap guru wali kelas II SD KK. Observasi dan wawancara ini dilakukan guna melihat kondisi nyata yang terjadi di lapangan dan mengidentifikasi adanya masalah yang terjadi di lapangan.
Peneliti melakukan observasi di perpustakaan SD Kanisius Kadirojo (KK) pada tanggal 22 Februari 2020. Observasi dilakukan pada pagi hari sebelum pembelajaran dimulai hingga akhir pembelajaran kedua. Observasi dilakukan guna mengetahui kebutuhan pada sekolah secara langsung dan pasti terkait dengan penyediaan dan penggunaan buku cerita bergambar. Hal
tersebut menjadi penting pada penelitian ini agar dapat menghasilkan produk yang sesuai dengan kebutuhan siswa dan guru.
Peneliti juga melakukan wawancara kepada guru wali kelas II di SD KK pada tanggal 22 Februari 2020. Wawancara dilakukan guna mengetahui kemampuan aktivitas siswa kelas II SD KK dalam melakukan kegiatan literasi dan pendidikan karakter. Hal tersebut bertujuan agar pengembangan buku cerita bergambar berbasis literasi dan pendidikan karakter dapat sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan siswa dalam melaksanakan kegiatan literasi dan pendidikan karakter.
1) Hasil Observasi Analisis Kebutuhan
Peneliti melakukan observasi berdasarkan kisi-kisi yang telah dibuat. Kisi-kisi observasi memiliki empat indikator yang dijabarkan menjadi tiga belas pernyataan. Indikator pertama dijabarkan menjadi enam pernyataan tentang ketersediaan buku cerita bergambar bagi siswa kelas II SD. Indikator kedua dijabarkan menjadi tiga pernyataan tentang penggunaan buku cerita bergambar bagi siswa kelas II SD. Indikator ketiga dijabarkan menjadi dua pernyataan mengenai kegiatan literasi di sekolah. Indikator keempat dijabarkan menjadi dua pernyataan tentang upaya pengembangan dan pelaksanaan kegiatan literasi di sekolah.
Berdasarkan hasil observasi, peneliti dapat mengetahui bahwa buku cerita bergambar pada SD KK disediakan sekolah melalui pengajuan proposal pada beberapa penerbit buku. Hal tersebut memungkinkan buku-buku tidak diperbaharui setiap tahun. Buku-buku tersebut disimpan dan dipajang hanya
di perpustakaan sekolah. Buku-buku belum disediakan dan dipajang pada setiap ruang-ruang kelas. Buku-buku yang ada di perpustakaan diletakkan di rak yang mudah dijangkau siswa, namun sampul buku cerita tidak tampak karena disusun berderet. Buku cerita bergambar yang tersedia di perpustakaan SD KK meliputi cerita petualangan, fabel, fantasi, cerita rakyat, dan dongeng. Kondisi buku cerita bergambar yang tersedia tidak disampul dengan menggunakan plastik, sehingga buku menjadi mudah koyak dan berdebu. Peneliti juga menemukan buku cerita bergambar dengan halaman yang hilang. Hal tersebut membuat siswa kurang tertarik untuk membaca dan kurang lengkap dalam mendapatkan informasi atau membaca cerita.
Siswa kelas II SD KK jarang menggunakan buku cerita bergambar dalam pembelajaran. Siswa membaca buku cerita bergambar di sekolah dalam kegiatan literasi pada Jam Literasi yang telah ditentukan, bukan melalui kegiatan 15 menit membaca. Siswa kelas II melakukan kunjungan perpustakaan pada jam literasi, yaitu hari Selasa selama 40 menit. Dalam durasi 40 menit, siswa melakukan aktivitas membaca dan menulis kembali isi cerita yang telah dibaca dalam buku khusus untuk Jam Literasi. Siswa kelas II SD KK telah mampu menemukan pesan moral dari buku cerita bergambar yang telah dibaca, walaupun dengan bantuan guru. Guru juga mendampingi siswa yang belum lancar membaca. Terdapat dua siswa kelas II SD KK yang belum lancar membaca.
2) Hasil Wawancara Analisis Kebutuhan
Peneliti melakukan wawancara analisis kebutuhan dengan guru wali kelas sesuai dengan pedoman kisi-kisi wawancara yang telah dibuat. Kisi-kisi wawancara dengan guru memiliki tujuh indikator yang dijabarkan menjadi dua puluh lima butir pertanyaan. Indikator pertama terdiri dari lima pertanyaan mengenai ketersediaan buku cerita bergambar untuk siswa kelas II. Indikator kedua dijabarkan menjadi dua pertanyaan mengenai penggunaan buku cerita bergambar bagi siswa kelas II. Indikator ketiga dijabarkan menjadi lima pertanyaan mengenai desain buku cerita bergambar untuk siswa kelas II. Indikator keempat dijabarkan menjadi empat pertanyaan tentang pelaksanaan kegiatan literasi. Indikator kelima dijabarkan menjadi empat pertanyaan tentang capaian Gerakan Literasi Sekolah pada kelas bawah. Indikator keenam dijabarkan menjadi dua pertanyaan tentang pelaksanaan pendidikan karakter. Indikator ketujuh dijabarkan menjadi dua pertanyaan mengenai usaha guru dalam melaksanakan pendidikan karakter.
Berdasarkan hasil wawancara dengan guru wali kelas II SD KK, peneliti mengetahui bahwa buku cerita bergambar hanya terdapat di perpustakaan sekolah, tidak tersedia di dalam ruang kelas. Jumlah buku cerita bergambar yang tersedia tidak mencukupi kebutuhan siswa. Isi buku cerita bergambar yang ada telah sesuai dengan perkembangan siswa dan memuat pesan moral, namun kondisi buku cerita bergambar yang tersedia kurang terawat. Hal tersebut dibuktikan dengan adanya buku cerita bergambar yang tidak lengkap halamannya. Dengan kondisi buku cerita bergambar tersebut,
siswa menjadi rancu terhadap isi cerita karena ada bagian cerita yang hilang dan pesan moral dalam cerita menjadi kurang jelas.
Buku cerita bergambar digunakan pada kegiatan Jam Literasi dan dalam muatan pelajaran Bahasa Indonesia. Kegiatan yang dilakukan pada Jam Literasi adalah menyimak cerita, membaca cerita, dan mendiskusikan isi cerita. Kegiatan tersebut didukung oleh kemampuan siswa kelas II SD KK yang telah mampu memahami isi cerita dengan membaca atau menyimak, merasakan apa yang dialami oleh tokoh cerita, dan menyampaikan kembali isi bacaan. Tetapi guru dan siswa tidak selalu dapat melakukan hal-hal tersebut karena keterbatasan waktu yang dimiliki. Selain itu, buku cerita bergambar juga digunakan dalam muatan pelajaran Bahasa Indonesia. Guru memanfaatkan buku cerita bergambar untuk mengembangkan nilai moral siswa dengan kegiatan membaca bersama siswa satu kelas dan membahas bacaan tersebut. Guru wali kelas memaparkan bahwa kegiatan literasi yang dilakukan tidak hanya membaca di perpustakaan sekolah pada hari Selasa. Pada hari Rabu dan Kamis, guru mengajak siswa melakukan kegiatan berhitung sebagai kegiatan literasi matematik.
Berdasarkan wawancara dengan guru, buku cerita bergambar yang paling digemari siswa adalah cerita tentang petualangan dan fantasi. Tokoh yang dihadirkan dalam cerita adalah tokoh yang lebih dewasa dari siswa, seperti seorang putri atau pangeran. Guru juga memaparkan ukuran buku cerita bergambar yang cocok bagi siswa adalah setengah dari ukuran kertas A4. Tulisan yang terdapat di dalam buku cerita menggunakan penulisan huruf
“a” dengan menggunakan “payung” dan penulisan huruf “g” seperti angka sembilan dengan ukuran sebesar 16 pt (point) atau 0,56 cm (sentimeter).
Pada pelaksanaan pendidikan karakter, SD KK telah memberikan fasilitas dengan menghadirkan adanya pelajaran pendidikan karakter. Guru wali kelas memanfaatkan berbagai media siswa sebagai usaha dalam melaksanakan pendidikan karakter. Guru memanfaatkan buku cerita bergambar, video pendek dan kegiatan tanya jawab untuk mengembangkan nilai moral siswa. Guru melakukan observasi untuk melihat perkembangan perilaku moral siswa. Guru telah membantu siswa mengembangkan nilai moral dan melihat perkembangan perilaku moral siswa, namun guru belum membantu siswa mengembangkan perasaan moral melalui kegiatan refleksi. b. Pengumpulan Data
Pada tahap ini peneliti telah mendapatkan hasil wawancara dan observasi. Berdasarkan hasil wawancara dan observasi, peneliti melihat siswa kelas II dan guru wali kelas di SD KK memerlukan sebuah buku cerita bergambar berbasis literasi dan pendidikan karakter guna melaksanakan kegiatan literasi dan pembelajaran pendidikan karakter. Peneliti merancang produk berupa buku cerita bergambar berbasis literasi dan pendidikan karakter bagi siswa SD kelas II pada pembelajaran Tema 3.
Selanjutnya peneliti melakukan studi pustaka guna menemukan dasar rencana penelitian dan pengembangan produk melalui buku, internet, dan berbagai sumber lain. Berdasarkan hasil studi pustaka, peneliti menemukan pengertian literasi, Gerakan Literasi Sekolah, kriteria buku cerita bergambar,
dan pelaksanaan Pendidikan Karakter di Sekolah Dasar yang dijabarkan pada bab II. Peneliti mengembangkan hasil studi pustaka sebagai dasar penyusunan instrumen penelitian berupa kuesioner validasi produk.
c. Desain Produk
Setelah melakukan pengumpulan data, peneliti merancang desain produk berdasarkan studi pustaka tentang langkah pembuatan dan kriteria buku cerita bergambar yang dilakukan oleh peneliti. Widayati (2020:141) menyatakan bahwa terdapat beberapa langkah yang perlu diperhatikan dalam pembuatan buku cerita bergambar. Langkah-langkah tersebut yaitu, mengetahui target pembaca buku, penentuan jenis ilustrasi gambar, merangkai kalimat pada naskah cerita dengan jelas dan tepat, serta menentukan bentuk huruf. Hadipranoto (2006:7) menambahkan bahwa pemeriksaan cerita pada orang yang ahli dalam cerita anak atau orang yang dekat dengan dunia anak penting dalam pembuatan buku cerita bergambar.
Kriteria diperoleh berdasarkan kriteria buku cerita bergambar beberapa ahli. Menurut Rokhmansyah (2014:50) cerita anak mengandung tema yang mendidik, alurnya lurus, tidak berbelit-belit, menggunakan setting yang ada di sekitar atau ada di dunia anak, tokoh dan penokohan mengandung peneladanan yang baik, gaya bahasanya mudah dipahami, mampu mengembangkan bahasa anak, menggunakan sudut pandang yang tepat, dan imajinasi masih dalam jangkauan anak. Selanjutnya, Nurgiyantoro (2016:155) memaparkan bahwa kriteria buku cerita bergambar, yaitu materi mudah dipahami anak, menggunakan bahasa yang sederhana sehingga dapat
dibaca dan dipahami anak, mempertimbangkan kesederhanaan kosa kata dan struktur kalimat, mampu meningkatkan kekayaan kosakata, bahasa, dan kemampuan berbahasa anak, menghadirkan ilustrasi cerita untuk memperkuat apa yang dikisahkan, serta mengangkat tema dan persoalan kehidupan manusia. Kemudian, Dewayani (2017:73) menjelaskan kriteria buku cerita bergambar bagi pembaca awal (siswa SD kelas rendah), yaitu menggunakan bahasa dan struktur yang sederhana, tokoh cerita berpikir selayaknya pembaca, memiliki cerita yang menarik, dan alur cerita disajikan melalui ilustrasi.
Peneliti menggunakan kriteria-kriteria tersebut dalam pengembangan produk. Kriteria yang digunakan yaitu bahasa yang digunakan sederhana sehingga isi cerita mudah dipahami siswa, alur cerita yang lurus dan jelas, penokohan yang mengesankan, ilustrasi yang mendukung narasi, serta adanya pesan moral. Peneliti mengawali dengan pemetaan karakter yang terdapat di pembelajaran tema 3 kelas II. Karakter tersebut didapatkan dari indikator Kompetensi Inti (KI) 2. Karakter yang ditentukan berdasarkan pemetaan karakter tersebut dihadirkan dalam cerita pada setiap pembelajaran. Karakter atau nilai tersebut menjadi pesan moral dari cerita yang disajikan. Karakter yang menjadi pesan moral cerita dituliskan di bagian kanan atas halaman judul cerita. Hal tersebut menjadi alat bantu guru dalam menentukan pesan moral cerita serta dalam melakukan diskusi dengan siswa.
Setelah mengetahui langkah pembuatan dan kriteria buku cerita bergambar, peneliti mengawali pengembangan buku cerita bergambar dengan
menentukan target pembaca buku cerita bergambar. Pada penelitian ini buku cerita ditujukan kepada siswa kelas II yang melakukan pembelajaran pada tema 3: “Tugasku Sehari-Hari”. Siswa kelas II memiliki rentang usia delapan sampai dengan sembilan tahun. Dimana telah dijelaskan pada bab II, siswa yang berusia delapan sampai dengan sembilan tahun memiliki karakteristik khusus, yaitu senang bermain, bergerak, bekerja sama dalam kelompok, patuh pada aturan, senang meniru, senang membanding-bandingkan, dan berpikir argumentatif. Maka, peneliti menyusun isi cerita dengan memperhatikan peta karakter yang terdapat pada pembelajaran tema 3 siswa kelas II. Peta karakter digunakan sebagai acuan untuk mencapai tujuan pendidikan karakter di sekolah sebagaimana telah dijelaskan pada bab II.
Langkah kedua dalam pengembangan buku cerita adalah menentukan jenis ilustrasi yang akan digunakan dalam buku cerita. Ilustrasi yang cocok digunakan dalam buku cerita bergambar adalah aliran realistik dan ilustrasi kartun (Widayati, 2020:141). Kemudian, peneliti memilih ilustrasi kartun pada ilustrasi buku cerita karena lebih mudah dibaca dan sesuai dengan karakteristik siswa kelas II. Siswa kelas II memiliki karakteristik senang meniru dan sulit memahami isi pembicaraan orang lain (Hosnan, 2016:59). Maka ilustrasi kartun yang ditampilkan di dalam buku cerita bergambar yang dikembangkan harus jelas dan tidak ambigu. Penggambaran suasana dan objek perlu digambar dengan detail.
Kemudian peneliti melakukan merangkai naskah cerita dengan kalimat yang jelas dan tepat. Widayati (2020:141) menjelaskan bahwa kalimat yang
digunakan dalam naskah cerita harus langsung pada fokus cerita agar siswa lebih mudah memahami alur yang ada. Alur cerita yang jelas dibutuhkan bagi anak karena anak selalu memiliki rasa keingintahuan yang lebih besar dari orang dewasa (Lukens, 2003:97). Maka alur cerita yang digunakan dalam buku cerita bergambar adalah maju, sehingga alur cerita menjadi lurus dan jelas. Selain kalimat yang efektif dan alur cerita, peneliti juga memperhatikan karakteristik siswa kelas II. Siswa kelas II memiliki karakter senang meniru, maka tokoh dalam cerita haruslah memiliki peneladanan yang baik bagi pembaca (siswa).
Langkah selanjutnya yang dilakukan peneliti adalah memilih jenis huruf yang akan digunakan dalam buku cerita bergambar. Pemilihan jenis huruf didasari oleh buku cerita bergambar yang dikembangkan ditujukan untuk siswa yang telah lancar membaca. Selain itu pemilihan jenis huruf didasari dari hasil wawancara dengan guru wali kelas.
Kemudian, langkah terakhir dalam penyusunan buku cerita adalah memberikan kepada orang yang dekat dengan dunia siswa kelas II untuk diperiksa. Pemeriksaan ini dilakukan agar peneliti mendapatkan masukan tentang naskah cerita yang telah dibuat. Cerita yang telah tersusun selanjutnya dinilai oleh guru kelas dan ahli psikologi. Cerita dinilai berdasarkan kesesuaian isi cerita dengan karakter siswa kelas II. Peneliti melakukan revisi cerita yang kurang sesuai.
d. Validasi Desain
Validasi desain dilakukan untuk menilai rancangan produk (Sugiyono, 2015:414). Validasi desain akan dilakukan oleh ahli psikologi, guru kelas, dan guru literasi. Ahli psikologi menilai isi cerita berdasarkan psikologi perkembangan anak. Guru kelas dan guru literasi menilai isi cerita dan kesesuaian dalam kegiatan literasi dan pendidikan karakter pada siswa kelas II. Validasi tersebut bertujuan untuk mengetahui apakah produk telah mencapai tujuan, memenuhi kebutuhan, dan memperoleh kritik dan saran untuk pengembangan produk.
1) Hasil Validasi Ahli Psikologi
Ahli psikologi yang memvalidasi produk dalam penelitian ini adalah Ibu Elisabeth Desiana Mayasari, S.Psi., M.A. proses validasi dilakukan pada tanggal 2 April 2020. Indikator yang dinilai adalah desain produk, isi cerita dan anatomi produk. Validator menilai kesesuaian produk dengan psikologi perkembangan siswa.
Setelah melakukan proses validasi, didapatkan hasil skor rata-rata 3,87. Skor rata-rata tersebut kemudian dikonversikan pada skala 4 yang telah ditentukan oleh peneliti. Berdasarkan konversi pada skala 4, produk buku cerita bergambar termasuk dalam kategori sangat baik. Validator menyatakan bahwa produk telah layak untuk diujicobakan. Selain mendapatkan hasil skor rata-rata, peneliti juga mendapatkan hasil berupa komentar dan revisi sebagai berikut.
Tabel 4.1 Komentar Dan Revisi Tulisan yang Menjadi Satu
Ahli psikologi memberikan satu komentar untuk memperbaiki buku cerita bergambar agar layak digunakan oleh siswa kelas II SD. Komentar tersebut menjadi dasar peneliti untuk melakukan revisi produk. Komentar yang diberikan berkaitan dengan ketelitian penulisan. Terdapat dua kata yang menjadi satu, sehingga kata tersebut tidak memiliki arti. Peneliti melakukan perbaikan dengan memberikan spasi pada kedua kata yang menjadi satu, sehingga kalimat dapat dibaca dengan lebih jelas.
2) Hasil Validasi Guru Wali Kelas II
Guru wali kelas II SD KK yang memvalidasi produk dalam penelitian ini adalah Ibu RP. Proses validasi dilakukan pada tanggal 19 Mei 2020. Indikator yang diberi nilai adalah desain produk, isi cerita, dan anatomi produk. Hasil validasi yang didapatkan dari guru wali kelas II SD KK menunjukkan produk memperoleh skor rata-rata 3,58. Skor tersebut kemudian dikonversikan dalam skala 4 yang telah ditentukan peneliti. Hasil konversi tersebut menunjukkan bahwa produk pada penelitian ini termasuk
Komentar Revisi
Terdapat dua kata yang menjadi
satu. Peneliti memberikan spasi pada kedua kata yang menjadi satu
ke dalam kategori sangat baik. Guru wali kelas II SD KK menyatakan bahwa produk sudah layak untuk diujicobakan.
Berdasarkan hasil validasi, guru wali kelas II SD KK memberikan beberapa komentar untuk memperbaiki buku cerita bergambar agar layak digunakan sebagai media dalam melaksanakan kegiatan literasi dan pendidikan karakter untuk siswa kelas II SD. Komentar tersebut menjadi dasar bagi peneliti untuk merevisi produk. Komentar pertama yang diberikan oleh guru wali kelas II adalah tentang tata letak isi buku cerita. Terdapat tulisan yang tumpang tindih dengan gambar. Maka peneliti melakukan revisi produk sebagai berikut.
Tabel 4.2 Komentar dan Revisi Tata Letak Isi Buku
Komentar Revisi
Terdapat tulisan yang tumpang
tindih dengan gambar. Peneliti mengatur kembali penulisan teks dengan gambar agar tidak terdapat tulisan dan gambar yang tumpang tindih.
Kemudian, komentar kedua yang diberikan oleh guru wali kelas II adalah tentang ilustrasi buku cerita. Terdapat ilustrasi yang memiliki garis dan pewarnaan kurang rapi, serta warna yang kurang menarik. Maka peneliti melakukan revisi produk sebagai berikut.
Tabel 4.3 Komentar dan Revisi Ilustrasi
Komentar Revisi
Garis dan pewarnaan kurang rapi. Peneliti menggambar dan mewarnai kembali gambar yang kurang rapi.
Warna gambar kurang menarik. Peneliti mengganti warna gambar dengan warna yang lebih mencolok.
3) Data Validasi Guru Literasi dan Revisi Produk
Proses validasi juga dilakukan oleh seorang guru literasi dari SD yang berbeda. Guru tersebut adalah Ibu F, seorang guru literasi dan seorang pustakawan. Proses validasi dilakukan pada tanggal 9 April 2020. Indikator yang dinilai adalah desain produk, isi cerita, dan anatomi produk. Validator menilai kesesuaian produk buku cerita bergambar dengan kegiatan literasi bagi siswa kelas II SD.
Berdasarkan proses validasi, didapatkan hasil berupa skor rata-rata dan komentar untuk perbaikan. Pada proses validasi oleh guru literasi, produk buku cerita bergambar mendapatkan skor rata sebesar 3,87. Skor rata-rata tersebut kemudian dikonversikan pada skala 4 yang telah ditentukan oleh peneliti dan termasuk pada kategori sangat baik. Peneliti juga mendapatkan hasil validasi berupa komentar dan revisi.
Validator memberikan sebuah komentar untuk memperbaiki buku cerita bergambar agar layak digunakan oleh siswa kelas II SD. Komentar tersebut menjadi dasar peneliti untuk melakukan revisi produk buku cerita bergambar. Komentar yang diberikan adalah warna ilustrasi kurang cerah. Oleh sebab itu, peneliti melakukan pewarnaan ulang pada gambar yang memiliki warna kurang cerah. Berikut komentar dan hasil revisi berdasarkan hasil validasi guru literasi.
Tabel 4.4 Komentar dan Revisi Pewarnaan Ilustrasi
Komentar Revisi
Warna ilustrasi gambar kurang
cerah. Peneliti memberi warna ulang gambar.
Sebelum Revisi Sesudah Revisi
Gambar pada kolom kiri adalah gambar sebelum melalui proses revisi dan gambar kolom kanan adalah gambar setelah melalui proses revisi. Nampak pada kolom kiri warna baju seorang laki-laki pada gambar pertama dan warna baju seorang pedagang pada gambar kedua terlihat kurang menarik. Peneliti melakukan perbaikan dengan mewarnai ulang gambar dan menghasilkan gambar ilustrasi pada kolom bagian kanan.
e. Revisi Produk
Revisi produk dilakukan berdasarkan hasil validasi desain berupa informasi kuantitatif dan kualitatif tentang produk buku cerita. Revisi produk dilakukan oleh peneliti setelah mendapatkan kritik dan saran dari hasil validasi validator. Peneliti menggunakan hasil validasi sebagai acuan dalam
melakukan perbaikan. Revisi dilakukan untuk memperbaiki kekurangan dari produk yang telah divalidasi.
Berdasarkan hasil validasi oleh ahli psikologi, peneliti mendapatkan komentar berkaitan dengan ketelitian penulisan. Terdapat dua kata yang menjadi satu, sehingga kata tersebut tidak memiliki arti. Peneliti melakukan