b. Sesudah Decentralisatie Wet 1903 (UU Desentralisasi 1903) Berdasarkan keadaan yang tersebut pada Wet tanggal 23 Juli
B. Penegakan Hukum Administrasi Negara
Menurut Ridwan H.R., hukum merupakan sarana yang di dalamnya terkandung nilai atau konsep tentang keadilan, kebenaran, kemanfaatan sosial, dan sebagainya. Kandungan hukum ini bersifat abstrak. Menurut Satjipto Rahardjo, penegakan hukum pada hakikatnya merupakan pe-negakan ide atau konsep yang abstrak itu. Pepe-negakan hukum merupakan usaha untuk mewujudkan ide-ide tersebut menjadi kenyataan. Soerjono Soekanto mengatakan bahwa penegakan hukum adalah kegiatan menyerasikan hubungan nilai-nilai yang terjabarkan di dalam kaidah/ pandangan nilai yang mantap dan sikap tindak sebagai rangkaian pen-jabaran nilai tahap akhir untuk menciptakan (sebagai social engineering), memelihara dan mempertahankan (sebagai social control) kedamaian pergaulan hidup. Penegakan hukum secara konkret adalah berlakunya hukum positif dalam praktik sebagaimana seharusnya patut ditaati.
Jika hakikat penegakan hukum itu mewujudkan nilai atau kaidah yang memuat keadilan dan kebenaran, penegakan hukum tidak hanya menjadi tugas dari para penegak hukum yang sudah dikenal secara konvensional, tetapi menjadi tugas dari setiap orang.
Penegakan hukum merupakan proses yang melibatkan banyak hal. Oleh karena itu, keberhasilan penegakan hukum akan dipengaruhi oleh hal-hal tersebut. Secara umum, sebagaimana dikemukakan oleh Soerjono Soekanto, ada lima faktor yang memengaruhi penegakan hukum, yaitu: 1. hukum itu sendiri;
2. penegak hukum, yaitu pihak-pihak yang membentuk ataupun yang menerapkan hukum;
3. sarana atau fasilitas yang mendukung penegakan hukum;
4. masyarakat, yaitu lingkungan tempat hukum tersebut berlaku atau diterapkan;
5. kebudayaan, yaitu sebagai hasil karya, cipta, dan rasa yang didasar-kan pada karsa manusia di dalam pergaulan hidup.
Kelima faktor tersebut saling berkaitan karena merupakan esensi dari penegakan hukum serta merupakan tolok ukur efektivitas penegakan hukum. Satjipto Rahardjo mengemukakan bahwa agar hukum berjalan atau dapat berperan dengan baik dalam kehidupan masyarakat, harus diperhatikan hal-hal berikut.
1. Problem yang dihadapi sebaik-baiknya termasuk di dalamnya me-ngenali dengan saksama masyarakat yang hendak menjadi sasaran dari penggarapan tersebut.
2. Nilai-nilai yang ada dalam masyarakat. Hal ini penting dalam hal
social engineering itu hendak diterapkan pada masyarakat dengan
sektor-sektor kehidupan majemuk, seperti tradisional, modern, dan perencanaan. Pada tahap ini ditentukan nilai-nilai dari sektor yang dipilih.
3. Hipotesis-hipotesis dan memilih yang paling layak untuk dapat di-laksanakan.
4. Jalannya penerapan hukum dan mengukur efek-efeknya.
J.B.J.M. ten Berge menyebutkan beberapa aspek yang harus diper-hatikan atau dipertimbangkan dalam rangka penegakan hukum, yaitu: 1. peraturan tidak membiarkan ruang bagi perbedaan interpretasi; 2. ketentuan perkecualian harus dibatasi secara minimal;
3. peraturan diarahkan pada kenyataan yang secara objektif dapat ditentukan;
4. peraturan harus dapat dilaksanakan oleh mereka yang terkena peraturan itu dan mereka yang dibebani dengan (tugas) penegakan (hukum).
1. Penegakan Hukum dalam Hukum Administrasi
Negara
Menurut P. Nicolai dan kawan-kawan, sarana penegakan hukum administrasi berisi: (a) pengawasan bahwa organ pemerintahan dapat melaksanakan ketaatan pada atau berdasarkan undang-undang yang ditetapkan secara tertulis dan pengawasan terhadap keputusan yang meletakkan kewajiban kepada individu; (b) penerapan kewenangan sanksi pemerintahan. Pendapat ini hampir senada dengan Ten Berge, seperti dikutip Philipus M. Hadjon, yang menyebutkan bahwa instrumen penegakan hukum administrasi meliputi pengawasan dan penegakan sanksi. Pengawasan merupakan langkah preventif untuk memaksakan kepatuhan, sedangkan penerapan sanksi merupakan langkah represif untuk memaksakan kepatuhan.
Dalam suatu negara hukum, pengawasan terhadap tindakan pemerintah dimaksudkan agar pemerintah menjalankan aktivitasnya sesuai dengan norma-norma hukum, sebagai suatu upaya preventif, dan dimaksudkan untuk mengembalikan pada situasi sebelum terjadi-nya pelanggaran norma-norma hukum, sebagai suatu upaya represif. Pengawasan segi hukum dan segi kebijaksanaan terhadap tindakan pemerintah dalam hukum administrasi negara adalah dalam rangka memberikan perlindungan bagi rakyat.
Di samping pengawasan, sarana penegakan hukum lainnya adalah sanksi. Sanksi merupakan bagian penting dalam setiap peraturan perundang-undangan. J.B.J.M. ten Berge menyebutkan bahwa sanksi merupakan inti dari penegakan hukum administrasi. Sanksi diletakkan pada bagian akhir setiap peraturan.
Dalam hukum administrasi negara, penggunaan sanksi administrasi merupakan penerapan kewenangan pemerintahan, dan kewenangan ini berasal dari aturan hukum administrasi tertulis dan tidak tertulis. Pada umumnya, memberikan kewenangan kepada pemerintah untuk menetapkan norma-norma hukum administrasi tertentu, diiringi pula dengan memberikan kewenangan untuk menegakkan norma-norma itu melalui penerapan sanksi bagi mereka yang melanggar norma-norma hukum administrasi tersebut. J.J. Oosternbrink mengatakan sanksi dalam hukum administrasi, yaitu “alat kekuasaan yang bersifat hukum publik yang dapat digunakan oleh pemerintah sebagai reaksi atas ketidakpatuhan terhadap kewajiban yang terdapat dalam norma hukum
administrasi negara.” Berdasarkan definisi ini, ada empat unsur sanksi dalam hukum administrasi negara, yaitu alat kekuasaan ( machtmiddelen ), bersifat hukum publik ( publiekrechtelijke), digunakan oleh pemerintah (overheid), sebagai reaksi atas ketidakpatuhan ( reactie op niet-naleving).
Ditinjau dari segi sasarannya, dalam hukum administrasi dikenal dua jenis sanksi, yaitu sanksi reparatoir ( reparatoire sancties ) dan sanksi punitif (punitieve sancties). Sanksi reparatoir atau sanksi yang diterapkan sebagai reaksi atas pelanggaran norma, yang ditujukan untuk mengembalikan pada kondisi semula atau menempatkan pada situasi yang sesuai dengan hukum ( legale situatie). Dengan kata lain, mengembalikan pada keadaan semula sebelum terjadinya pelanggaran, sedangkan sanksi punitif adalah sanksi yang semata-mata ditujukan untuk memberikan hukuman ( straffen) pada seseorang. Contoh dari sanksi reparatoir adalah paksaan pemerintahan ( bestuursdwang ) dan pengenaan uang paksa (dwangsom ), sedangkan contoh dari sanksi punitif adalah pengenaan denda administrasi ( bestuursboete ).
Di samping dua jenis sanksi tersebut, ada sanksi lain yang oleh J.B.J.M. ten Berge disebut sebagai sanksi regresif (regressieve sancties), yaitu sanksi yang diterapkan sebagai reaksi atas ketidakpatuhan terhadap ketentuan-ketentuan yang terdapat pada ketetapan yang diterbitkan. Sanksi ini ditujukan pada keadaan hukum semula, sebelum diterbitkannya ketetapan. Contoh sanksi regresif adalah penarikan, perubahan, dan pe-nundaan suatu ketetapan. Ditinjau dari segi tujuan diterapkannya sanksi, sanksi regresif ini tidak begitu berbeda dengan sanksi reparatoir. Sanksi reparatoir dikenakan terhadap pelanggaran norma hukum administrasi secara umum, sedangkan sanksi regresif hanya dikenakan terhadap pe-langgaran ketentuan-ketentuan yang terdapat dalam ketetapan.
2. Macam-macam Sanksi dalam Hukum Administrasi
Negara
Secara umum, dikenal beberapa macam sanksi dalam hukum admi-nistrasi, yaitu:
a. paksaan pemerintahan ( bestuursdwang );
b. penarikan kembali keputusan yang menguntungkan (izin, subsidi, pembayaran, dan sebagainya);
c. pengenaan uang paksa oleh pemerintah ( dwangsom ); d. pengenaan denda administratif ( administratieve boete ).
Macam-macam sanksi tersebut tidak selalu dapat diterapkan secara keseluruhan pada suatu bidang administrasi negara tertentu. Sanksi paksaan pemerintahan, misalnya tidak dapat diterapkan dalam bidang kepegawaian dan ketenagakerjaan. Akan tetapi, dapat terjadi dalam suatu bidang administrasi diterapkan lebih dari keempat macam sanksi tersebut, seperti dalam bidang lingkungan.
Pemahaman terhadap berbagai sanksi tersebut penting dalam kajian hukum administrasi karena menyangkut bukan hanya tentang efektivitas penegakan hukum, cara pemerintah menggunakan kewenangannya dalam menerapkan sanksi, dan prosedur penerapan sanksi, melainkan juga untuk mengukur norma-norma hukum administrasi yang di dalam-nya memuat sanksi telah sesuai dibuat dan relevan diterapkan di tengah masyarakat.
a. Paksaan Pemerintahan ( Bestuursdwang/Politiedwang )
Berdasarkan UU Hukum Administrasi Belanda, paksaan pemerintahan merupakan tindakan nyata yang dilakukan oleh organ pemerintah atau atas nama pemerintah untuk memindahkan, mengosongkan, menghalang-halangi, memperbaiki pada keadaan semula yang telah dilakukan atau sedang dilakukan yang bertentangan dengan kewajiban-kewajiban yang ditentukan dalam peraturan perundang-undangan.Berkenaan dengan paksaan pemerintahan ini, F.A.M. Stroink dan J.G. Steenbeek mengatakan sebagai berikut. Kewenangan paling penting yang dapat dijalankan oleh pemerintah untuk menegakkan hukum admi-nistrasi materiel adalah paksaan pemerintahan. Organ pemerintahan memiliki wewenang untuk merealisasikan secara nyata kepatuhan warga, jika perlu dengan paksaan, terhadap peraturan perundang-undangan ter-tentu atau kewajiban terter-tentu.
Kewenangan paksaan pemerintahan dapat diuraikan dengan se-bagai kewenangan organ pemerintahan untuk melakukan tindakan nyata mengakhiri situasi yang bertentangan dengan norma hukum administrasi negara karena kewajiban yang muncul dari norma itu tidak dijalankan atau sebagai reaksi dari pemerintah atas pelanggaran norma hukum yang dilakukan warga negara. Paksaan pemerintahan dilihat sebagai suatu bentuk eksekusi nyata, dalam arti langsung dilaksanakan tanpa perantaraan hakim ( parate executie), dan biaya yang berkenaan dengan pelaksanaan paksaan pemerintahan ini secara langsung dapat dibebankan kepada pihak pelanggar.
Salah satu ketentuan hukum yang ada adalah bahwa pelaksanaan
bestuursdwang atau paksaan pemerintahan wajib didahului dengan
surat peringatan tertulis, yang dituangkan dalam bentuk KTUN. Surat peringatan tertulis ini harus berisi hal-hal berikut.
Paksaan pemerintahan sama dengan keputusan tata usaha negara keputusan untuk apabila perlu akan bertindak bagi organ pemerintahan sudah harus pasti. Hal ini harus ternyata dari formulasi yang pasti dan dari penyebutan pasal-pasal yang memuat paksaan pemerintahan.
2) Organ yang berwenang harus disebut
Peringatan harus memberitahukan organ berwenang yang mem-berikannya. Apabila tidak demikian, peringatan tidak dianggap sebagai keputusan TUN, dan pembanding tidak dapat diterima.
3) Peringatan harus ditujukan kepada orang yang tepat
Peringatan harus ditujukan pada orang yang sedang atau telah me-langgar ketentuan undang-undang, dan yang berkemampuan mengakhiri keadaan yang terlarang itu. Dalam banyak hal, peringatan harus ditujukan pada pemilik sesuatu benda, tetapi dalam beberapa hal (sekaligus) pada penyewa atau pemakai benda tersebut.
4) Ketentuan yang dilanggar jelas
Harus dinyatakan dengan jelas ketentuan yang telah atau akan di-langgar.
5) Pelanggaran nyata harus digambarkan dengan jelas
Syarat ini muncul dari yurisprudensi, yaitu pembeberan yang jelas dari keadaan atau tingkah laku yang bertentangan dengan ketentuan undang-undang. Jadi, yang menjadi soal di sini adalah aspek nyata dari pelanggaran.
6) Peringatan harus memuat penentuan jangka waktu
Pemberian beban harus ternyata dengan jelas jangka waktu yang diberikan kepada yang bersangkutan untuk melaksanakan beban itu. Jangka waktu harus mempunyai titik permulaan yang jelas. Jangka waktu tidak boleh digantungkan pada kejadian-kejadian tidak pasti pada ke-mudian hari.
7) Pemberian beban jelas dan seimbang
Pemberian beban harus jelas dan seimbang. Beban tidak boleh me-muat kriteria samar. Selain itu, beban tidak boleh tidak seimbang dengan keadaan atau tingkah laku terlarang dan harus dapat dilaksanakan.
8) Pemberian beban tanpa syarat
Pemberian beban harus tidak bersyarat. Dari sudut kepastian hukum, pemberian beban tidak boleh bergantung pada kejadian tidak pasti pada kemudian hari.
9) Beban mengandung pemberian alasannya
Pemberian beban harus ada alasannya. Titik tolaknya adalah bahwa peringatan sama seperti keputusan memberatkan lainnya, harus diberi alasan yang baik.
10) Peringatan memuat berita tentang pembebanan biaya
Pembebanan biaya paksaan pemerintahan harus dimuat dalam surat peringatan.