Selain penelitian yang telah dilakukan oleh Balai Arkeologi Bali berdasarkan data prasasti Bali Kuno yang dilakukan di Julah dan Sangsit untuk mencari pelabuhan kuno yang dimaksud dalam prasasti, kegiatan penelitian lainnya yang dilakukan telah dilakukan di daerah Sembiran dan Pacung jauh sebelumnya. Sembiran dan Pacung adalah dua desa yang terletak saling berdekatan yang terletak di pantai utara Bali, Kecamatan Tejakula, Kabupaten Buleleng. Sembiran dan Pacung terletak 1 Km dari Desa Julah saat ini (Anonim 1995:6).
Penelitian oleh Wayan Ardika dan Peter Bellwood di Sembiran dan Pacung pada tahun 1987-1989 dan 1990-2008 di Sembiran dan Pacung Buleleng menghasilkan temuan yang semakin memperkuat dugaan kontak Bali dengan dunia luar, khususnya India. Ekskavasi yang dilakukan berhasil menemukan fragmen tembikar hias rolet (rouletted ware) yang berasal dari India (Ardika & Bellwood 1991:223). Pecahan tembikar rolet yang ditemukan di Sembiran dan Pacung bervariasi dalam hal warna dan bentuk hias roletnya. Motif segitiga, diamon, titik, dan motif wedges merupakan tembikar Arikamedu dan ditemukan pula di situs lain di India dan Sri Lanka seperti Asatanikota, Salihundam dan Anuradhapura (Ardika & Bellwood 1991:223). Analisis difraksi sinar X (X ray diffraction analysis) yang telah dilakukan menemukan bahwa komposisi pecahan tembikar rolet yang ditemukan di Sembiran sangat berbeda dari sampel tanah dari Situs Sembiran dan tembikar lokal (Ardika & Bellwood 199:224). Berdasarkan pertanggalan AMS radiocarbon, salah satu pecahan tembikar impor dengan temper sekam padi berasal dari 2660 tahun yang lalu (Ardika & Bellwood
1991:235). Tembikar lokal yang ditemukan di Sembiran mirip dengan tembikar yang ditemukan di Situs Gilimanuk. Berdasarkan analisis difraksi sinar X, menghasilkan bahwa tembikar Sembiran dan Gilimanuk tersusun atas mineral temper yang sama. Artefak lainnya yaitu manik-manik. Sebagian besar manik-manik berwarna merah atau coklat kemerahan gelap atau biasa disebut mutisalah. Secara umum, nampak sangat mirip dengan yang ditemukan di Khuan Lukpad, Thailand Selatan (Ardika & Bellwood 1991:220). Tipe manik-manik mutisalah juga ditemukan dalam jumlah banyak di Situs Gilimanuk.
Indonesia terkenal sebagai daerah penghasil rempah-rempah. Miller (1969:51) menuliskan daftar rempah-rempah yang disebutkan dalam teks klasik yang diduga berasal Asia Tenggara pada masa Kekaisaran Romawi, seperti cengkeh, kayu manis, dan cendana. Semua bukti tersebut mengacu pada kesimpulan bahwa selama awal masehi, Bali mungkin terletak pada lalu lintas perdagangan utama yang mengirim rempah-rempah, kayu harum, dari Maluku dan Nusatenggara ke pelabuhan di Indonesia bagian barat. Pelabuhan tersebut termasuk Sembiran, barangkali dikunjungi oleh baik oleh saudagar dari India maupun Indonesia.
Ardika (2008:155) menyatakan semua bukti mengindikasikan Sembiran dan wilayah di sekitarnya mungkin merupakan sebuah pelabuhan kuno di pesisir timur laut Bali pada awal masehi hingga abad XII. Sembiran mungkin berlokasi pada jalur perdagangan antara Indonesia bagian barat dan timur. Belum diketahui mengapa situs ini tidak difungsikan lagi sebagai pelabuhan setelah abad XII.
Penelitian lainnya dilakukan di Pacung dan Sembiran oleh Dr. Ambra Calo dari Australian National University dan Dr. Bagyo Prasetyo dari Pusat Arkeologi Nasional pada tahun 2012-2013, sebagaimana tulis dalam artikel berjudul “Pantai Utara Bali: Lokasi Strategis Jaringan Perdagangan Awal di Kawasan Asia“, penelitian ini memberikan bukti yang meneguhkan dugaan bahwa Sembiran dan Pacung menjadi kawasan yang cukup ramai sebagai tempat persinggahan dalam jaringan awal perdagangan kawasan Asia. Telah terjadi kontak pertama sekitar 2.100 tahun yang lalu antara India dengan masyarakat di wilayah Asia Tenggara.***
Pemilihan Sembiran dan Pacung dalam penelitian mereka adalah adanya 20 lempeng prasasti dari tahun 922-1121 Masehi pernah ditemukan di tempat ini, kemudian pada tahun 1965 prasasti tersebut dipindahkan ke Desa Julah dan ***
Sembiran, masing-masing 10 buah. Julah saat ini merupakan sebuah desa yang letaknya 1 km dari Sembiran. Berdasarkan prasasti tersebut terungkap kehidupan masyarakat yang berlangsung di Julah. Julah dan sekitarnya pernah terlibat dalam perdagangan maritim pada awal abad X-XII. Secara geografis, Sembiran dan Pacung merupakan bagian dari Julah Kuno jika dilihat dari prasasti yang ada.
Hasil penelitian tim gabungan ini adalah di Sembiran pada tahun 2012 dan 2013 menghasilkan konsentrasi tembikar India dan cetakan perunggu produk lokal dan deretan dinding batu yang diisi dengan pecahan tembikar yang dilepa dengan bahan dari koral. Ekskavasi yang dilakukan di Pacung pada tahun 2012 menghasilkan data berupa kubur delapan individu manusia. Hasil ekskavasi ini membantu dalam mengisi kekosongan bukti-bukti jaringan perdagangan di pelabuhan kuno pantai utara Bali. Temuan berupa tembikar romano roulleted pada lapisan kubur di Pacung sama dengan tembikar yang ditemukan pada situs pelabuhan Arikamedu di pantai tenggara India. Kubur yang di temukan di Pacung dibekali dengan manik-manik kaca dan artefak perunggu yang berasal dari Vietnam. Hubungan dengan Vietnam telah berlangsung pada akhir abad II Sebelum Masehi-I Masehi yang ditunjukkan oleh adanya pengaruh Dinasti Han (Tiongkok) pada tembikar dengan teknik tatap dan tekan jala gaya Han, yang sama dengan tembikar gaya Han dari Vietnam utara dan selatan. Tembikar Sembiran gaya Han ditemukan berasosiasi dengan tipe lain kemungkinan berasal dari daratan Asia
Selain sejumlah fragmen tembikar di kedua situs tersebut, ditemukan pula manik-manik, kaca dan gelang perunggu dalam konteks dengan penguburan. Hasil analisis komposisi data manik-manik kaca dan gelang perunggu menunjukkan erat kaitannya dengan Vietnam atau setidaknya dari suatu tempat di daratan Asia Tenggara, India, atau Romawi. Bukti tentang produk lokal pencetakan perunggu juga ditemukan di Sembiran, berupa cetakan dari bahan batuan tufa volkanik. Satu buah serupa dengan cetakan nekara Pejeng dan sebuah lagi dengan cetakan kapak perunggu dengan tipe corong
Hasil penelitian yang telah dilakukan, baik oleh Balai Arkeologi Bali, I Wayan Ardika dan Peter Bellwood, begitu pula penelitian bersama antara Dr. Ambra Calo dan Dr. Bagyo Prasetyo telah menghasilkan data tentang keberadaan masyarakat yang telah bertempat tinggal di sepanjang pantai utara Bali. Data-data artefaktual
hasil ekskavasi memperkuat data prasasti Bali Kuno yang menyebutkan tentang keberadaan pelabuhan kuno Julah dan Manasa.
Sebagaimana teori Polanyi dan Holder yang menyatakan bahwa pertukaran terjadi pada pasar tradisional di mana para pelaku tidak memiliki ikatan sosial tertentu yang mewajibkan mereka untuk melakukan pertukaran dan dimungkinkan adanya tawar-menawar. Dapat dikatakan bahwa kemungkinan besar di pelabuhan ini terjadi pertukaran barang (barang jadi maupun barang baku) yang cukup besar dari daerah luar yang dibuktikan dari hasil penelitian yang telah dilakukan dan data prasasti.
Pelabuhan Julah sebagaimana disebutkan dalam prasasti masih dapat diidentifikasi saat ini sebagai Desa Julah dengan bukti adanya Pura Bale Agung tempat menyimpan prasasti Sembiran. Namun saat ini Julah bukanlah sebuah pelabuhan. Dilihat dari adanya Pura Bale Agung dan penyebutan dalam prasasti, kemungkinan wilayah Julah sebagai wilayah pelabuhan dan pusat kerajaan pada masa Bali Kuno menguasai Manasa (Sangsit saat ini), Sembiran dan Pacung. Pelabuhan yang berkembang saat ini di Kabupaten Buleleng adalah Pelabuhan Sangsit, yang kemungkinan adalah pelabuhan Manasa Kuno. Pelabuhan Sangsit digunakan sebagai tempat bongkar muat ikan dan dibangun Pusat Pendaratan Ikan dengan fasilitas yang cukup lengkap
Selama ini penelitian yang dilakukan di pantai utara Bali dilakukan di daerah yang berdekatan dengan Julah dan Manasa sebagaimana yang disebutkan dalam prasasti. Kegiatan penelitian di daerah lain, seperti yang berdekatan dengan Situs Pulau Menjangan, Situs Pulaki dan Situs Kalanganyar belum pernah dilakukan secara intensif. Situs-situs ini membuka peluang untuk penelitian lebih lanjut berkaitan dengan pelabuhan dan migrasi flora dan fauna.
Penutup
Kawasan pantai Bali Utara memiliki tinggalan budaya masa lampau yang berasal dari masa prasejarah hingga masa klasik. Mengenai pelabuhan kuno di pantai utara Bali, data prasasti memberikan informasi tentang keberadaan pelabuhan Julah dan Manasa. Kegiatan penelitian yang dilakukan hingga saat ini telah memberikan data tentang keberadaan masyarakat yang beraktivitas di sepanjang pantai yaitu di Pantai Julah, Pantai Sangsit, Desa Pacung, dan Desa Sembiran. Dapat dikatakan
bahwa kawasan tersebut adalah kawasan pelabuhan kuno di pantai utara Bali sejak milenium pertama tarikh Masehi hingga saat ini, di mana saat ini Pelabuhan Sangsit menjadi pusat perdagangan antar pulau di pantai utara Bali.
Daftar Pustaka
Anonim. 1995. Ekskavasi Arkeologi di Situs Sembiran, Kecamatan Tejakula, Kabupaten Buleleng. Denpasar: Balai Arkeologi Denpasar.
---. 1998. Ekskavasi Situs Sangsit, Kecamatan Sawan, Kabupaten Buleleng. Denpasar: Balai Arkeologi Denpasar.
Anonim. 2009. Penelitian Pelabuhan Kuno di Kecamatan Tejakula, Kabupaten Buleleng. Denpasar: Balai Arkeologi Denpasar.
Ardika, I Wayan. 2008. “Archaeological Traces of the Early Harbour Town”, dalam Brigitta Hauser-Schäublin dan I Wayan Ardika (Eds). Burials, Texts and
Rituals: Ethnoarchaeological Investigations in North Bali, Indonesia: hlm.
149-155. Gottingen: Universitätsverlag Göttingen.
Ardika, I Wayan & Peter Bellwood. 1991. “Sembiran: The Beginnings of Indian Contact with Bali”, dalam Antiquity 65:221-231.
Bagus, A A Gde. 2009. “Pabean Sangsit Indikasi Pelabuhan Manasa Kuno di Kabupaten Buleleng”, dalam Forum Arkeologi III:24-42.
---. 2010. “Segara Julah Indikasi Pelabuhan Julah Kuno di Buleleng”, dalam
Forum Arkeoologi I:145-162.
Goris, R. 1954. Prasasti Bali I. Bandung: Masa Baru.
Soejono, R.P. 1962.”Preliminary Notes on New-Finds of Lower Palaeolithic Implement from Indonesia”, dalam Asian Perspective V/2, 1961:217-232. Suantika, I Wayan. 1996. “Kawasan Pantai Utara Pulau Bali Makna dan Peranannya
Dalam Persentuhan Budaya di Masa Lampau”, dalam Forum Arkeologi I:71-82.
Suarbhawa, I Gusti Made. 2010.”Perdagangan pada Masa Bali Kuno: Berdasarkan Sumber-Sumber Prasasti”, dalam Forum Arkeologi 23 (2):215-236.
Sutaba, I Made. 1976. “Megalithic Traditions in Sembiran, North Bali”, dalam
Aspects of Indonesian Archaeology no.4. Jakarta: Pusat Penelitian Purbakala
dan Peninggalan Nasional.
http://setjen.kemdikbud.go.id/arkenas/contents/read/article/dntvfs_1421654726/ pantai-utara-bali-lokasi-strategis-jjaringan-perdagangan-awal-di-kawasan-asia