Sungai-sungai besar di Sumatera merupakan bagian dari jaringan sungai purba yang ada sejak kala Plestosen. Sungai-sungai tersebut ada yang bermuara di bagian baratlaut Pulau Sumatera, Kepulauan Andaman, serta ada juga yang bermuara di sebelah timur Pulau Natuna (Peta 1). Sungai-sungai tersebut adalah (Voris 2000:1164)
a. Sungai Simpang Kanan (Tamiang), Aceh b. Sungai Wampu, Sumatera Utara
c. Sungai Panai (Barumun), Sumatera Utara d. Sungai Rokan, Riau
e. Sungai Kampar, Riau
g. Sungai Batanghari (Sumatera Barat-Jambi) h. Sungai Musi (Sumatera Selatan)
Pada sungai-sungai tersebut telah ditemukan situs arkeologi periode paleolitik hingga neolitik. Situs-situs bukit kerang ditemukan di pesisir timur Sumatera bagian utara dan berada di sekitar Sungai Wampu dan Sungai Simpang Kanan (Tamiang). Situs Bukit Kerang Pangkalan (Aceh Tamiang, Aceh) merupakan salah satu situs yang berada di sekitar aliran sungai Simpang Kanan (Tamiang). Situs bukit kerang lainnya yang berada di sekitar aliran Sungai Wampu adalah Situs Bukit Kerang Pasar VIII Sukajadi, Situs Bukit Kerang Pasar III Dondong, dan Situs Bukit Kerang Dusun V Paya Rengas (Langkat, Sumatera Utara). Satu situs bukit kerang lain di sekitar Sungai Wampu juga ditemukan di Tandem Hilir (Deli Serdang, Sumatera Utara) (Peta 2).
Pada situs-situs bukit kerang tersebut ditemukan adanya artefak-artefak berperiode mesolitik dan menunjukkan pengaruh budaya Hoabinh. Artefak batu
Sumateralith merupakan temuan menjadi salah satu penandanya. Hasil pentarikhan
situs di pesisir tersebut berada pada rentang waktu berkisar 12.885±131bp** sampai 7.340 ± 360 bp (Boedhisampurno dan Filippis 1991:5). Penelitian yang dilakukan oleh Balai Arkeologi Sumatera Utara di Bukit Kerang Pangkalan juga menunjukkan hasil pentarikhan yang sama dengan hasil penelitian terdahulu, yaitu 12.000-3.000 bp (Wiradnyana 2011:115).
Situs-situs bukit kerang merupakan gambaran kondisi situs arkeologi di wilayah pesisir. Penelitian untuk menelusuri keberadaan situs arkeologi di wilayah hulu sungainya juga telah dilakukan. Salah satunya adalah adanya kesamaan budaya yang ditemukan di hulu sungai Wampu, tepatnya di Bukit Lawang. Pada lokasi tersebut ditemukan Gua Kampret dan Gua Marike dan memiliki budaya yang sama yaitu Hoabinh yang ditunjukkan dengan adanya temuan kapak batu Sumateralith. Lokasi lain yang menggambarkan kesamaan budaya antara pesisir dan pedalaman juga ditemukan aliran sungai Belumai, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara. Pada aliran sungai tersebut ditemukan Situs Bukit Kerang Percut di pesisir dan Gua Rampah Penen di pedalaman (hulu). Artefak yang ditemukan juga menunjukkan budaya Hoabinh (Wiradnyana 2012) (lihat juga Peta 2)
** bp (before present) artinya sebelum sekarang. Untuk penulisan pertanggalan yang belum dikalibrasi menggunakan huruf kecil (bp), ketika sudah dikalibrasi ditulis dengan huruf besar (BP)
Setiawan (2014) telah melakukan penelitian di hulu sungai Simpang Kanan (Tamiang) sebagai upaya menjajaki adanya situs arkeologi yang mungkin terkait dengan keberadaan Situs Bukit Kerang Pangkalan (Aceh Tamiang, Aceh). Pada penelitian tersebut diperoleh data adanya empat buah gua, namun tidak ada indikasi pemanfaatannya sebagai hunian. Temuan artefaktual juga tidak ditemukan pada gua-gua tersebut.
Salah satu temuan menarik di wilayah pedalaman Sumatera bagian utara adalah Situs Loyang Mendale dan Loyang Ujung Karang (Aceh Tengah, Aceh). Kedua situs ini berada di pinggiran danau Laut Tawar yang merupakan hulu sungai Peusangan yang bermuara di pesisir timur Sumatera. Temuan di kedua situs tersebut menunjukkan adanya hunian yang intensif setidaknya sejak 8.000 bp dan bercorak budaya Hoabinh. Pada situs tersebut juga ditemukan adanya manuport berupa cangkang kerang laut yang merupakan ‘komoditas’ wilayah pesisir (Wiradnyana 2016:132-133). Penelitian lanjutan untuk menjajaki ada tidaknya situs arkeologi di sepanjang Sungai Peusangan telah dilakukan namun belum mendapatkan situs arkeologi yang dapat menjawab masalah hubungan pedalaman dengan pesisir timur Sumatera. Penelitian pada tiga aliran sungai lain yang berhulu di sekitar wilayah Aceh Tengah, yaitu Kreung Aceh, Wih Delung dan Sungai Jambuaye telah dilakukan namun belum juga dapat memberikan gambaran tentang hubungan hulu-hilir. Gua-gua yang ditemukan berpotensi dijadikan sebagai lokasi hunian namun tidak ditemukan adanya indikasi pemanfaatan sebagai hunian pada periode prasejarah (Setiawan 2013:77 Peta3).
Situs arkeologi yang ditemukan di bagian utara Pulau Sumatera menunjukkan adanya kecenderungan penggunaan situs terbuka di wilayah pesisir dan menggunakan gua sebagai hunian di wilayah pedalaman. Namun, tidak menutup kemungkinan adanya situs-situs terbuka juga digunakan di wilayah pedalaman atau di wilayah ‘antara’.
Temuan periode paleolitik di Sumatera bagian utara, sampai saat ini baru ditemukan dua situs, yaitu Sungai Muzoi, Pulau Nias, Sumatera Utara dan Hulu Sungai Kuantan (Sungai Lembu). Pada kedua lokasi tersebut ditemukan alat-alat batu paleolitik berupa kapak perimbas dan kapak penetak. Temuan tersebut berada pada bagian pinggir sungai dan pada situs terbuka. Tarikh pertanggalan untuk kedua situs ini juga belum diperoleh (Wiradnyana 2011:9-17, lihat Peta 4).
Salah satu sungai yang juga berada di wilayah Sumatera Barat dan Riau yang memiliki temuan situs arkeologi adalah Batang Sinamar. Batang (Sungai) Sinamar memiliki hulu di bagian utara, Kabupaten Agam dan mengalir ke selatan hingga ke
wilayah Sijunjung dan menjadi hulu sungai Inderagiri (Kuantan) yang bermuara di pesisir timur Sumatera (Peta 4). Pada penelitian yang dilakukan oleh Balai Arkeologi Medan sejak tahun 2010 hingga 2015 di Kabupaten Lima Puluh Kota dan Kabupaten Tanah Datar ditemukan adanya gua-gua yang berpotensi sebagai hunian. Kandungan arkeologis yang ditemukan berada pada periode paleometalik hingga periode kolonial (Susilowati dkk, 2012a; Susilowati dkk, 2012b, Susilowati dkk, 2014).
DAS Batang Sinamar merupakan salah satu daerah yang berpotensi untuk ditemukannya situs arkeologi dari periode pra-neolitik (mesolitik dan paleolitik). Asumsi tersebut muncul dengan memperhatikan adanya temuan-temuan yang cukup tua, antara 80.000-60.000 bp dan salah satunya teridentifikasi sebagai Homo
sapiens. Hal itu terungkap pada penelitian fosil-fosil yang ditemukan oleh Eugene
Dubois pada tahun 1889 di Gua Lida Ajer, Gua Sibrambang, dan Gua Jambu. Ketiga gua tersebut berada dekat dengan Batang Sinamar (Hooijer 1947; Vos 1983; Aziz dkk,1995; Vos 2014; Setiawan, dan Susilowati 2016: 1-19).