Alih Kode dan Campur Kode
5. Penelitian terdahulu
Ada beberapa penelitian yang membahas mengenai alih kode dan campur kode. Dalam penelitian ini dipaparkan penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Fujimura Kayo-Wilson (2013) dengan tema 第二言語話者の談話における「コ-ドスイッチング」・「コ-ドミ キシング」の必要性-英国に住む日本人の場合- (dai ni gengo washa no danwa ni okeru
“kodo suicchinggu” dan “kodo mikishinggu” no hitsuyousei (eikoku ni sumu nihonjin no ba-ai)). Penelitian ini membahas tentang alih kode dan campur kode yang dilakukan oleh orang
Jepang yang tinggal di Inggris. Penelitian ini menggunakan metode penelitian lapangan, dengan merekam pembicaraan yang dilakukan sesama orang Jepang, dan meneliti tentang fungsi penggunaan alih kode dan campur kode dalam percakapan tersebut. Hasilnya pemilihan kosa kata dalam pembicaraan erat kaitannya dengan berbagai peristiwa yang terjadi dalam masyarakat. Selain itu, penggunaan alih kode dan campur kode dapat berguna untuk menekankan makna dalam suatu isi pembicaraan maupun kesan dari pembicara, baik kesan positif maupun kesan negatif dalam suatu topik.
Perbedaan penelitian ini dengan penelitian terdahulu adalah responden penelitian orang Jepang yang tinggal di Malang dan hal yang dianalisa adalah jenis yang dominan serta penyebab yang dominan dalam penggunaan alih kode maupun campur kode dalam suatu topik pembicaraan.
6. Pembahasan
6.1 Alih kode percakapan orang Jepang yang tinggal di Malang
Dari data percakapan oleh responden penelitian ditemukan peristiwa alih kode yang berjumlah 12 peristiwa yang terdiri dari tiga jenis alih kode, yaitu alih kode intern-situasional,
ekstern-situasional, dan ekstern-metaforis. Berikut ini adalah pembahasannya. (1) Alih kode intern-situasional
Seperti dipaparkan pada bagian terdahulu bahwa alih kode intern merupakan peristiwa alih kode yang berhubungan dengan bahasa sendiri namun dapat juga berhubungan dengan variasi dan ragam bahasa. Berikut ini disampaikan alih kode internal dari perakapan antara orang Jepang dan orang Indonesia.
B (Ind) : What’s the different between udon… ‘Apa bedanya dengan udon…’ K (Jpg) : 弾力? (Danryoku?)‘Kenyal?’
M (Jpg) : ちょっと硬い。硬いか。Hard か。(Chotto katai. Katai ka. Hard
ka.)‘Agak keras. Keras? Hard?’
K (Jpg) : Hard じゃなくて。(Hard janakute).‘tidak keras…’
A (Jpg) : な ん て い う ん で し ょ う ね 、 弾 力 っ て 。 (Nante iun deshoune,
danryoku tte) ‘Apa ya danryoku itu?’
Ma (Jpg) : 饂飩ですけど、香川のはちょっと硬い。(Udon desukedo, Kagawa
no ha chotto katai). ‘Udon, tapi Udon Kagawa itu agak keras’
Berdasarkan data percakapan di atas, di sini dipaparkan mengenai alih kode yang terjadi tersebut. Perlu disampaikan bahwa percakapan tersebut membicarakan tentang sanuki udon. Sanuki udon merupakan makanan khas dari Perfektur Kagawa. B (Ind) menanyakan tentang apa yang membedakan antara udon di Jepang pada umumnya dengan udon di Kagawa. Pertanyaan ini cukup sulit bagi K (Jpg) dan kawan-kawannya, sehingga mereka langsung mendiskusikannya sendiri dengan berbicara dalam bahasa Jepang, untuk mencari padanan kata yang tepat mengenai arti danryoku yang dalam bahasa Indonesia-nya bermakna“kenyal”.
Dari percakapan tersebut terjadi peristiwa alih kode intern, yaitu percakapan antara K, M, dan A sesama orang Jepang. Peristiwa alih kode dilakukan oleh M, yang awalnya menggunakan ragam non formal saat berbicara dengan K, yaitu saat berbicara ‘Chotto katai.
Katai ka. hard ka’ yang berarti “Agak keras. Keras? Hard?”, lalu menggunakan ragam formal
saat berbicara dengan B (Ind) saat berbicara ‘Udon desukedo, Kagawa no wa chotto katai’ yang berarti “ Udon, tapi di Kagawa itu agak keras”. Alih kode ini termasuk dalam alih kode situasional, karena meskipun menggunakan ragam bahasa yang berbeda namun topik di dalamnya tetap sama. Penyebabnya adalah identitas kelompok, sebab mereka langsung berubah kode ke bahasa Jepang saat berbicara dengan sesame orang Jepang.
(2) Alih kode Ekstern-Situasional
Dari data percapakan antara orang Indonesia dan orang Jepang, peristiwa alih kode ekstern-situasional yang terjadi sebanyak 10 kali. Seperti dituturkan sebelumnya bahwa alih kode ekstern merupakan alih kode yang terjadi dalam bahasa sendiri dan bahasa asing. Berikut ini salah satu contoh alih kode ekstern-situasional yang terdapat pada percakapan orang Jepang dengan orang Indonesia.
K (Jpg) : Aa.. yayaya.. ada 敬語.。私はかずきです。(B. Indonesia & Jepang) Aa.. yayaya.. ada keigo. Watashi ha Kazuki desu.
‘Aa.. yayaya.. ada bahasa halus. Nama saya Kazuki’ S (Ind) : Ya, banyak ya..
K (Jpg) : Banyak, tetapi saya berbicara dengan teman-teman, 何とか私 はかずき~ だよ。
Banyak, tetapi saya berbicara dengan teman-teman, nantoka watashi ha
Kazuki… dayo.
‘Banyak, tetapi saya berbicara dengan teman-teman, namaku Kazuki’ Percapakan tersebut awalnya, B (Ind), S (Ind), dan K (Jpg) membicarakan tentang penggunaan tidak dan nggak dalam bahasa Indonesia, yaitu untuk situasi formal dan tidak formal. Karena topiknya adalah tentang penggunaan kata dalam ragam formal dan informal, maka Kazuki juga memberi contoh hal tersebut dalam bahasa Jepang, yaitu penggunaan desu dan dayo dalam kalimat. Terjadilah alih kode ekstern di dalam percakapan tersebut, yaitu dari
bahasa Indonesia ke bahasa Jepang. Pengalihan kode ini terjadi karena K (Jpg) langsung menggunakan bahasa Jepang untuk memberikan contoh. Selain itu, karena topiknya tidak berubah, yaitu tentang ragam bahasa, maka percakapan ini termasuk alih kode situasional. Penyebabnya adalah membicarakan topik tertentu, sebab topik mengenai ragam bahasa tertentu memang lebih tepat jika menggunakan contoh langsung dengan bahasa tersebut.
(3) Alih kode Ekstern-Metaforis
Dari data yang diperoleh, peristiwa alih kode ini hanya ditemui satu kali. Berikut pembahasannya lebih lanjut :
B (Ind) : Cari 被験者 sulit…(Cari hikensha sulit…) ‘Cari responden sulit…’ K (Jpg) : Aa.. yayaya… 被験者..‘…..Aa.. yayaya… hikensha..’
B (Ind) : Bahasa Indonesianya Responden.
K (Jpg) : Responden. Saya Responden. 何か日本語で話すこと?
Responden. Saya Responden. Nanika nihon go de hanasu koto?
‘Responden. Saya Responden. Ingin membicarakan apa dalam Bahasa Jepang?’
B (Ind) : 何でもいい.. (Nandemo ii..) ‘Apa saja boleh..’
Pada perbincangan awal, K (Jpg)dan B (Ind) sedang membicarakan tentang kosakata baru untuk K (Jpg), yaitu hikensha yang dapat berarti responden. Setelah itu, K (Jpg) langsung mengajak dengan menggunakan bahasa Jepang untuk menanyakan kira-kira topik apa yang dapat mereka bicarakan dalam bahasa Jepang.
Salah satu ciri dari alih kode metaforis adalah terjadinya perubahan topik dalam pembicaraan. Perubahan topik yang terjadi yang dilakukan oleh K (Jpg) termasuk dalam alih kode metaforis, sebab penutur mengubah topik dari pembicaraan tentang definisi responden ke topik tentang pembicaraan bebas dalam bahasa Jepang.
6.2 Campur kode percakapan orang Jepang yang tinggal di Malang
Pada penelitian ini ditemukan banyak sekali peristiwa campur kode dan penyebab terjadinya peristiwa campur kode juga akan dipaparkan di sini. Berikut ini contohnya:
Contoh 1:
K (Jpg) : eh, apa nama? B (Ind) : Sugar glider
S (Ind) : Seperti tupai, tupai terbang
K (Jpg) : Bahasa Jepang, ももんが‘Bahasa Jepang, momonga’
Percakapan tersebut terjadi ketika sedang melintasi tempat hewan-hewan kecil di Pasar Burung, K (Jpg) menunjuk pada suatu hewan dan bertanya hewan apa itu. B (Ind) menjawab bahwa itu adalah sugar glider atau sejenis tupai terbang. K (Jpg) langsung menanggapi kembali dan berkata bahwa sugar glider di Jepang memiliki nama momonga.
Percampuran kode dilakukan oleh Kazuki ini adalah campur kode ke luar, sebab Kazuki mencampur kode ke dalam bahasa Jepang. Hal ini dilakukan dengan sengaja untuk memberi informasi kepada B (Ind) dan S (Ind). Sedangkan penyebabnya adalah membicarakan topik tertentu. Dalam kalimat di atas, topik yang dibicarakan adalah sugar glider dalam bahasa Jepang.
Contoh
B (Ind) : Discount してよ。Discount shiteyo.‘Diskon dong.’ C (Jpg) : え、これ discount よ。もともと seratus とか
E, kore discount yo. Moto moto seratus toka
‘Eh, ini sudah diskon lho. Harga awalnya seratus’
Pada pembicaraan di atas, terjadi kegiatan tawar- menawar suatu barang antara B (Ind) dan C (Jpg). Saat menolak untuk ditawar, C (Jpg) melakukan campur kode saat mengungkapkan tentang harga atau uang. Campur kode yang dilakukan oleh C (Jpg) merupakan campur kode ke luar, sebab C (Jpg) mencampur ke bahasa Indonesia saat mengungkapkan harga asli suatu
barang, yaitu “seratus (ribu rupiah)” daripada dengan bahasa Jepang, yaitu ‘1000 yen’. Hal ini menjadi lebih mudah dan efisien bagi orang asing dalam memahami suatu harga jika dihitung dalam nominalnya sendiri.
7. Kesimpulan
Berdasarkan pada percakapan antara orang Jepang dan Indonesia, peristiwa alih kode didominasi oleh responden yang masih baru/belum lama tinggal di Malang (Ka (Jpg), Ko (Jpg), M (Jpg) dan A (Jpg)), yaitu antara 1-2 bulan. Percakapan dalam kelompok Ko (Jpg) memiliki jumlah penutur paling banyak, yaitu sebanyak 5 orang, sehingga peristiwa alih kode lebih mendominasi dalam percakapan. Selain itu, alih kode banyak dilakukan ke dalam bahasa ibu , yaitu bahasa Jepang, karena lebih mudah untuk mengungkapkan sesuatu.
Sedangkan pada peristiwa campur kode, responden yang tinggal antara 1-2 bulan dan 1 tahun, memiliki hasil yang beragam. Namun, C (Jpg) melakukan campur kode terbanyak. Hal ini karena selama satu tahun tinggal di Malang, , C (Jpg) lebih banyak berinteraksi dengan orang Indonesia, sehingga walaupun berbicara dalam bahasa Jepang kepada temannya yang orang Indonesia namun dalam kalimatnya banyak dicampur dengan bahasa Indonesia.
Daftar Pustaka
Cakrawati, Dias. 2011. Analysis of code switching and code mixing in the teenlit canting by
Dyan Nuranindya. Semarang: Universitas Diponegoro
Chaer, Abdul & Leonie, Agustina. 2010. Sosiolinguistik: Perkenala Awal. Jakarta: Rineka Cipta. Fujimura, Kayo & Wilson. 2013. Dai ni gengo washa no danwa ni okeru kodo suicchinggu-
kodo mikishinggu no hitsuyousei (eikoku ni sumu nihonjin no ba-ai)). Yasuda Woman
University.
Suciyatmi, Faridah. 2012. Alih Kode dan campur kode dalam komik detektif conan. Tidak dipublikasikan.