• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V PENUTUP 5.1 Kesimpulan

DAFTAR PUSTAKA

2.2 Penelitian Terdahulu

Untuk bahan pertimbangan dalam penelitian ini, peneliti mencantumkan hasil penelitian terdahulu yang pernah penulis baca. Penelitian terdahulu ini bermanfaat dalam mengolah atau memecahkan masalah yang timbul dalam Strategi Pengembangan Kawasan Strategis Pariwisata Daerah Banten Lama Kota Serang. Walaupun fokus dan lokusnya tidak sama persis tetapi sangat membantu peneliti menemukan sumber-sumber pemecahan masalah dalam ranah Strategi Pengembangan Kawasan Strategis Pariwisata Daerah Banten Lama Kota Serang. Di bawah ini adalah hasil penelitian yang peneliti baca:

Peneliti yang di lakukan oleh Fani Mutia Hanum dengan judul Implementasi Rencana Strategis Pengembangan dan Pelestarian Banten Lama di Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Banten. Pada penelitian tersebut dijelaskan Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi rencana strategis pengembangan dan pelestarian destinasi wisata cagar budaya Banten Lama belum

baik, Disbudpar Provinsi Banten hanya memprioritaskan Banten Lama dalam renstra dinas 2012-2017, namun dalam pelaksanaannya sejak 2012-2014 belum ada kegiatan kearah pengembangan Banten Lama karena masalah kepemimpinan, kewenangan dan masalah anggaran. Pengembangan Banten Lama oleh Disbudpar Provinsi Banten baru akan dilakukan pada tahun 2015 saja.

Penelitian lainnya yaitu oleh Ian Asrandy dengan judul Strategi Pengembangan Objek Wisata Air Terjuan Bissapu di Kabupaten Bantaeng. Pada Penelitian tersebut dijelaskan bahwa Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa strategi pengembangan yang dilakukan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Bantaeng adalah Strategi sebagai Rencana. Adapun beberapa implementasi strategi pengembangan yang teridentifikasi yang dilakukan yakni, (1) Pengembangan yang dilakukan harus terfokus pada satu titik, (2) Keterlibatan semua elemen-elemen yang terkait, (3) Mengidentifikasi secara menyeluruh terhadap obyek yang akan dikembangkan, (4) Melakukan pelatihan-pelatihan baik pemandu wisata, pelaku wisata, dan pengelola wisata, (5) koordinasi yang terus dilakukan kepada pemerintah dan warga sekitar kawasan obyek wisata.

Penelitian lainnya yaitu oleh Fauzi Wijaya dengan judul Strategi Dinas Pemuda Olah Raga dan Pariwisata Kabupaten Lebak dalam pengelolaan pantai sawarna di Kecamatan Bayah. Pada Penelitian tersebut dijelaskan Hasil penelitian bahwa strategi Dinas Pemuda Olah Raga dan Pariwisata dalam pengelolaan Pantai Sawarna di Kecamatan Bayah belum optimal karena minimnya sumber daya manusia serta latar belakang pendidikan yang tidak sesuai jabatan, minimnya pengawasan ke Pantai Sawarna, minimnya anggaran untuk pengelolaan Pantai

Sawarna, rendahnya promosi untuk Pantai Sawarna, terancamnya budaya lokal oleh wisatawan luar. Saran dalam penelitian yaitu mengajukan penambahan pegawai atau staff jurusan ilmu pariwisata, Merealisasikan program pengelolaan pariwisata di Pantai Sawarna, membuat iklan dan informasi publik mengenai pariwisata di Pantai Sawarna, melaksanakan kegiatan pemberdayaan masyarakat yang berkaitan dengan pariwisata dan budaya lokal.

Penelitian lainnya yaitu oleh Risa Safitrianjani dengan judul Strategi Pemasaran Persuasif PT. Taman Wisata Candi Untuk Mencapai Target Pendapatan Pada Obyek Wisata Candi Borobudur, Prambanan dan Ratu Roko. Pada Penelitian tersebut dijelaskan Hasil penelitian bahwa PT. Taman Wisata Candi dalam menjalankan kegiatan komunikasi persuasive menggunakan program promosi aktif dan pasif. Dimana program promosi aktif yang dirangkai dalam

“program kegiatan promosi pariwisata candi” berisi delapan kegiatan aktif promosi seperti travel dialog, Exhibition, Converensi Pers, Talk Show, Wisata Wartawan, Gathering dan seminar. Kegiatan yang dijalankan tersebut juga mengandung tiga kegiatan yang saling berkaitan dalam komunikasi pemasaran yaitu promosi, publikasi dan periklanan. Sedangkan kegiatan promosi pasif yang dijalankan ialah dengan pembuatan dan pemanfaatan media tool. Disamping kegiatan promosi, publikasi dan periklanan PT. Taman Wisata Candi juga menjalankan kegiatan pemasaran seperti direct marketing dan penjualan personal yang seluruh kegiatan tersebut termasuk dalam kegiatan promotion mix. PT. Taman Wisata Candi juga menggunakan fasilitas internet sebagai media promosi dan interaksi dengan publik. Kesimpulan dari kegiatan ini adalah jika dilihat dari

strategi komunikasi persuasif sudah berjalan dengan baik yaitu dengan menggunakan seluruh konsep dan teori dalam komunikasi pemasaran yaitu

promotion mix. Target pendapatan sesungguhnya yang ditetapkan belum dapat tercapai namun pendapatan yang diterima dari tahun 2009-2010 mengalami peningkatan, hal ini menunjukkan bahwa program-program promosi yang dijalankan PT. Taman Wisata Candi sudah cukup efektif karena pandapatan yang diterima pada tahun 2010 mengalami kenaikan. Dilihat dari kemasan wisata yang ditampilkan pun sangat unik dan berbeda dengan produk wisata yang lain yaitu mengedepankan legenda yang sangat sulit ditemukan di objek wisata lain. Pendapatan wisatan candi belum mencapai target yang ditetapkan, hal ini terkait dengan kurangnya optimalisasi potensi objek wisata yang belum tergali dan kurangnya pemahaman masyarakat mengenai pariwisata.

Penelitian lainnya yaitu oleh Salsabila Firdausy dengan judul Strategi Pengembangan Desa Borobudur Sebagai Destinasi Pariwisata (Miniatur Studi Kasus Pengembangan Kawasan Strategis Pariwisata Nasional Candi Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Pada Penelitian tersebut dijelaskan Hasil penelitian bahwa Strategi Pengebangan Desa Borobudur sebagai Destinasi Pariwisata, antara lain: (1) Pembentukan desa wisata berbasis alam dan budaya perdesaan; (2) Pembentukan Pokdarwis; (3) Pembuatan Paket Wisata; (4) Pembentukan pola kerja sama antar-stakeholder terkait; (5) Pengembangan amenitas dan fasilitas pendukung; (6) Pengembangan aksesibilitas; dan (7) Penguatan kapasitas masyarakat lokal. Dari tujuh strategi tersebut, kelompok strategi yang sangat strategis, yaitu strategi nomor 1, 2, 3; kelompok cukup

strategis, yaitu stategi nomor 4 dan 5; dan kelompok kurang strategis, yaitu strategi nomor 6 dan 7. Selanjutnya, strategi pengembangan Desa Borobudur memperhatikan aspek (1) kesejahteraan masyarakat lokal, (2) manfaat ekonomi, dan (3) keterpaduan antar-sektor, antar-daerah, dan antar-pemangku kepentingan. Saran yang dapat penulis berikan, antara lain: Diperlukan kebijakan ketat untuk mengendalikan pengembangan kawasan Borobudur, misalnya dengan pembuatan masterplan; (2) Diperlukan penentuan prioritas dalam pengambilan kebijakan terkait pengembangan Desa Borobudur; (3) Diperlukan badan pengelola kawasan Borobudur yang terpadu, menyertakan partisipasi masyarakat, dan harmonisasi berbagai aspek; (4) Diperlukan sistem bagi hasil pendapatan Taman Wisata Candi Borobudur, khususnya bagi Pemerintah Daerah Kabupaten Magelang; serta (5) Diperlukan tekad dan komitmen yang kuat dari masyarakat dan stakeholder terkait untuk bersama-sama mengembangkan Desa Borobudur.