• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V PENUTUP 5.1 Kesimpulan

DAFTAR PUSTAKA

2.1.5 Pengembangan Destinasi Pariwisata

Menurut (Andi, 2001:261) mengatakan Pengembangan mengisyaratkan suatu proses evolusi dengan konotasi positif atau

dikaitkan dengan dua hal, yakni: “Proses” dan “tingkat” perkembangan

sesuatu.

Selanjutnya menurut (Andi, 2001:261) mengatakan pengembangan pariwisata merupakan kata yang cukup tinggi penggunaannya di Negara manapun dan level apapun, tetapi kelihatannnya difahami secara berbeda-beda. Pengembangan pariwisata pada mulanya dikembangkan karena mempunyai landasan filosofis. (Muljadi,2012:24) mengatakan pariwisata sangat mengandalkan adanya keunikan, kekhasan, kelokalan, dan keaslian alam dan budaya yang tumbuh dalam masyarakat.

Terdapat empat misi dalam kepariwisataan Indonesia menurut Muljadi (2012:26). Empat misi tersebut berangkat dari sebuah konsepsi bahawa kepariwisataan memiliku tuntutan untuk mengendalikan diri, yang mengutamakan manusia sebagai subjek sentral. Kepariwisataan berorientasi dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat, sehingga kekuatan inti pariwisata Indonesia berada di tangan rakyat atau disebut pembangunan kepariwisataan berbasis masyarakat (community Based Tourism Development). Di bawah ini adalah empat misi Kepariwisataan Indonesia:

1. Pemberdayaan dan peningkatan peran serta masyarakat dalam pengembangan kepariwisataan.

2. Pemanfaatan kebudayaan untuk kepariwisataan guna kepentingan agama, pendidikan, ilmu pengetahuan, ekonomi, persatuan dan kesatuan, serta persahabatan antar bangsa.

3. Pengembangan produk kepariwisataan yang berwawasan lingkungan bertumpu pada budaya daerah, pesona alam, pelayanan prima, dan berdaya saing global.

4. Pengembangan SDM Kepariwisataan yang sehat, berakhlak mulia dan professional yang mampu berkiprah di arena International.

Untuk dapat melakukan pengembangan yang sebaik-baiknya, maka kata kunci pengembangan pariwisata menurut Menurut (Andi, 2001:263) yaitu sebagai berikut:

1. Perencanaan

Pada umumnya semua pihak menyadari, bahwa pariwisata harus dikembangkan dan dikelola secara terkendali, terintegrasi dan berkesinambungan berdasarkan rencana yang matang. Dengan caraini maka pariwisata dapat member manfaat ekonomi yang berarti begi suatu Negara/daerah tanpa menimbulkan masalah lingkungan dan sosial yang serius. Merencanakan pengembangan pariwisata pada semua tingkat (nasional, regional, dan lokal) sangatlah penting untuk mencapai keberhasilan dalam pembangunan dan pengelolaan pariwisata. Salah satu cara untuk mewujudkan pengembangan yang berkesinambungan adalah melalui pendekatan perencanaan pelestarian lingkungan. Perencanaan yang berorientasi pada pelestarian lingkungan mempersyaratkan, bahwa segala sesuatu yang termasuk elemen lingkungan haruslah dengan teliti disurvey, dianalisa dan dipertimbangkan sebelum menentukan tipe tempat yang paling sesuai untuk dikembangkan.

2. Pelaksanaan

Setelah ada perencanaan tentunya rencana itu harus dilaksanakan, pelaksanaan suatu rencana melibatkan semua pihak (pemerintah dan swasta).Keterlibatan semua pihak itu lebih diperlukan untuk pelaksanaan rencana pengembangan pariwisata, karenakarakter pariwisata yang lintas sektoral dan lintas disiplin ilmu pengetahuan.Dalam kaitan ini semakin luas dipraktekkan pembuatan pedoman pelaksanaan (implementation manual), yang dijadikan sebagai pegangan bagi aparatur pemerintahan mengenai prosedur dan cara-cara pelaksanaan suatu rencana. Adapun unsur-unsur pokok pelaksanaan suatu rencana pengembangan pariwisata meliputi : Pengesahan rencana, pentahapan program, penerapan zonasi (Zoning), dan penerapan standar pengembangan.Untuk melaksanakan suatu rencana dengan efektif, diperlukan tekad dan dukungan politik yang kuat terhadap pengembangan pariwisata berdasarkan rencana yang telah disahkan disertai kepemimpinan yang berwibawa pada jajaran pemerintahan dan pihak swasta. Dalam kaitan ini penting sekali adanya kejelasan mengenai peran yang harus dimainkan oleh jajaran pemerintahan, pihak swasta dan badan usaha milik Negara/daerah.

3. Pengendalian

Pengendalian yang didalamnnya tercakup pengertian pemantauan dan pengawasan haruslah merupakan bagian integral dari rencana dan pelaksanaan pengembangan pariwisata.Dalam melakukan pengendalian itu berbagai hal perlu dipantau misalnya perkembangan pelaksanaan

program, khususnya program kerja atau target tahunan, harus dipantau secara berkesinambungan.Jumlah kedatangan dan karakteristik wisatawan perlu dicatat untuk mengetahui apakah sasaran-sasaran (jumlah dan sumber wisatawan) dapat dicapai atau perlu diadakan revisi/penyesuaian.Bila diperlukan, survey khusus harus dilakukan untuk mengetahui tingkat kepuasan dan persepsi wisatawan terhadap produk-produk pariwisata yang dijual.Pengendalian yang efektif sangat diperlukan untuk pembangunan jangka panjang dan menjamin pengelolaan pariwisata yang berkesinambungan sepanjang masa.

Pengembangan pariwisata seperti yang telah dijelaskan di atas menyampaikan bahwa setiap pengembangan pariwisata tentunya memiliki landasan filosofis sehingga pariwisata tersebut memiliki ciri khas yang membedakan dengan pariwisata lain. Selain itu membangun konsep mengenai pengembangan pariwisata tentu tidak semudah membalikan telapak tangan dan tidak hanya mementingkan keuntungan besar yang akan diperoleh saja, tapi Konsep pengembangan pariwisata dibuat didasarkan untuk kepentingan masyarakat, dan tentunya konsep ini harus matang baik dari segi perencanaan, pelaksanaan, dan pengendaliaanya. Selain itu kesimpulan dari pengembangan pariwisata di atas, begitu ditekankan mengenai pengembangan pariwisata berbasis pelestarian lingkungan, dengan memanfaatkan kekhasan, atau keunikan budaya lokal.

Berdasarkan Undang-Undang No. 10 Tahun 2009 tentang Pariwisata Pasal 6: Pembangunan kepariwisataan dilakukan berdasarkan asas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 yang diwujudkan melalui pelaksanaan rencana pembangunan kepariwisataan dengan memperhatikan keanekaragaman, keunikan, dan kekhasan budaya dan alam, serta kebutuhan manusia untuk berwisata. Pasal 8: 1) Pembangunan kepariwisataan

dilakukan berdasarkan rencana induk pembangunan kepariwisataan yang terdiri atas rencana induk pembangunan kepariwisataan nasional, rencana induk pembangunan kepariwisataan provinsi, dan rencana induk pembangunan kepariwisataan kabupaten/kota. 2) Pembangunan kepariwisataan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan bagian integral dari rencana pembangunan jangka panjang nasional. Pasal 11: Pemerintah bersama lembaga yang terkait dengan kepariwisataan menyelenggarakan penelitian dan pengembangan kepariwisataan untuk mendukung pembangunan kepariwisataan. serta (Pasal 12: 1) Aspek-aspek penetapan kawasan strategis pariwisata. pengertian wisata adalah kegiatan perjalanan yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang dengan mengunjungi tempat tertentu untuk tujuan rekreasi, pengembangan pribadi, atau mempelajari keunikan daya tarik wisata yang dikunjungi dalam jangka waktu sementara. Pengertian wisatawan adalah orang yang melakukan wisata, sedangkan kepariwisataan adalah keseluruhan kegiatan yang terkait dengan pariwisata dan bersifat multidimensi serta multidisiplin yang muncul sebagai wujud kebutuhan setiap orang dan Negara serta interaksi antara wisatawan, Pemerintah, Pemerintah Daerah, dan pengusaha.