• Tidak ada hasil yang ditemukan

Teknik Pengembangan Destinasi Pariwisata

BAB V PENUTUP 5.1 Kesimpulan

DAFTAR PUSTAKA

2.1.6 Teknik Pengembangan Destinasi Pariwisata

Menurut Pitana dan Diarta (2009:134) pengembangan destinasi pariwisata memerlukan teknik perencanaan yang baik dan tepat. Teknik pengembangan itu harus menggabungkan beberapa aspek penunjang kesuksesan pariwisata. Aspek-aspek tersebut adalah aspek aksesibilitas

(transportasi dan saluran pemasaran), karakteristik infrastruktur pariwisata, tingkat interaksi sosial, keterkaitan/kompatibilitas dengan sector lain, daya tahan akan dampak pariwisata, tingkat resistensi kominitas lokal, dan sekitarnya.

1. Daya Dukung (carrying Capacity)

Teknik yang sering digunakan dalam pengembangan destinasi pariwisata adalah carrying capacity (daya dukung kawasan). Menurut Inskeep (1991) dalam Pitana dan Diarta (2009:134) carrying capacity

didefinisikan sebagai berikut :

“The maximum number of people who can use a site without an

unacceptable alteration in the physical environment, without an unacceptable decline in the quality of ecperience gained by visitor, and without an unacceptable adverse impact on the

society, economy, and culture of the tourism area”

Berkaitan dengan gagasan pariwisata bekualitas ini yang sesungguhnya merupakan salah satu strategi untuk mewujudkan

pembangunan yang lestari atau berkesinambungan adalah “daya dukung” (carrying capacity). Daya dukung tidak lain dari suatu konsep yang ingin membatasi pembangunan pada suatu level/tingkat yang tidak akan berakibat rusaknya lingkungan (alam dan budaya). Pembangunan yang melampaui daya dukung sehingga terjadi kerusakan lingkungan (alam dan budaya) pasti akan menimbulkan masalah sosial dan ekonomi. Untuk dunia pariwisata, kerusakan lingkungan jelas akan dirasakan sebagai suatu degredasi atas kehebatan suatu Negara/daerah tujuan wisata, sehingga daya pikatnya akan menurunkan dan kurang

dihargai oleh wisatawan. Oleh sebab itu konsep daya dukung ini telah diterima secara luas di seluruh dunia sebagai salah satu pertimbangan penting dalam perencanaan pengembangan pariwisata.

2. Recreational Carrying Capacity (RCC)

RCC diakui sebagai model utama mengelola dampak akibat kunjungan wisatawan menurut Richardson dan Fluker dalam Pitana dan Diarta (2009:137), yang didefinisikan sebagai berikut :

“A management method based on the level of recreational use that an area can sustain without an unacceptable degree of

deterioration of the reseource or of the recreation experience”

Dampal dari pembangunan dan pengembangan destinasi wisata (baik tipe, lokasi, dan kualitiasnya) pada lingkungan diteliti dan diidentifikasi tingkat kritisnya. Contohnya, tingkat kritis suatu destinasi wisata mengacu pada jumlah orang yang mengunjungi kawasan tersebut pertahun atau perhari atau persekali kunjungan.

3. Recreational Opportunity Spectrum (ROS)

ROS perama kali di perkenalkan oleh Clarke dan Stanley dari the United States Forest Service pada tahun 1979 Butler dan Waldbrook (1991) dalam Pitana dan Diarta (2009:138), ROS merupakan teknik identifkasi karakteristik dari suatu kawasan atau destinasi dengan

setting yang berbeda dan memadukannya dengan peluang rekreasi untuk keuntungan terbaik bagi penggunan kawasan/destinasi dan

lingkungan. Buits dan Hoots dalam Pitana dan Diarta (2009:138) mendifinisikan ROS sebagai berikut:

“a range of opportunities that the public or private sectors can provide to meet a diversity of visitor activity in a park. It requires identification of different settings and matching them with the recreational opportunities that generate the best benefits to users and the environment.”

Yang pertama harus dilakukan dalam ROS adalah menentukan karaktertik destinasi atau wilayah yang akan dikembangkan sebagai daerah rekreasi/wisata. Daerah tertentu mungkin sangat bervariasi dan mempunyai spectrum yang berbeda. Misalnya, sebuah taman nasional mempunyai spectrum aksesibilitas mulai dari level mudah dijangkau dan dengan fasilitas yang memadai sampai dengan kondisi yang terpencil, terisolasi, dan tanpa fasilitas penunjang.

4. Limits of Acceptable Change (LAC)

Limits of Acceptable Change (LAC) menolak anggapan bahwa semakin besar pemanfaatan suatu destinasi akan menyebabkan semakin besar dampak yang ditimbulkannya. Pemikiran dibalik hal ini adalah bahwa perubahan merupakan suatu keniscayaan sebagai konsekuensi pemakai daya sumber daya dan oleh karenanya sebua framework

diperlukan untuk mengelola masalah yang terjadi berdasarkan seberapa jauh perubahan tersebut dapat diterima. Ketika batas perubahan yang dapat diterima sudah tercapai, berarti kapasitas sebuah destinasi juga telah tercapai. Manajemen harus menerapkan tindakan strategis untuk

mempertahankan destinasi dari pemakaian lebih lanjut, misalnya dengan pembatasan pemakaian.

Limits of Acceptable Change didefinisikan sebagai berikut:

“a technique for determining when the area’s capacity under

current management practices has been reached. The proposition behind it is that change is an evitable consequence of resource use and a framework is required to tackle management problems on the basis of how much change is acceptable” menurut Richardson dan Fluker (2004) dalam Pitana dan Diarta, (2009:141).

Landford (2000) dalam Pitana dan Diarta, (2009: 142),

berdasarkan studi dikawasan ekowisata Pantai Hanauma Bai Hawai’I,

menyimpulkan bahwa suatu kawasan wisata harus memiliki daya dukung alamiah yang tidak boleh dilampai jika mengiginkan keberlanjutannya, masalahnya adalah kesulitan dalam menentukan seberapa besar perubahan yang diizinkan terhadap tiga komponen daya dukung kawasan tersebut, yaitu sumber daya alam, kualitas pengalaman berwisata, dan keberadaan serta arah manajemen pengelolaan.

5. Visitor Impact Management Model (VIMM)

VIMM pertama kali berkembang di Amerika pada akhir tahun 80-an sebagai versi sederh80-ana dari LAC. Dalam konsep ini, carrying capacity tidak menjadi fokus utama tetapi lebih difokuskan pada keterkaitan antara perencanaan, pengawasan, dan pengambilan keputusan. Menurut Loomis dan Graete dalam Pitana dan Diarta, (2009:143), VIMM didefinisikan sebagai berikut:

“A management system based on statements of objecttives, research an monitoring to determine environment and social condition.

A range og management strategies to deal with the impact is then

generated”

VIMM menyadari bahwa mengunjung/wisatawan bukan satu-satunya yang menyebabkan dampak pada destinasi. Manajemen yang efektif harus berbuat lebih dari sekedar RCC tetapi melibatkan pertimbangan ilmiah dalam pengambilan keputusan.

6. Visitor Experience and Resource Protection Model (VERP)

Titik awal VERP dimulai dengan menentukan cakupan pengalaman wisatawan yang dapat ditawarkan dalam sebuah destinasi/kawasan, dan menentukan tunjukan yang ingin diwujudkan berkenaan dengan kondisi sumber daya destinasi. VERP menggunakan

zoning untuk menentukan penggunaan dan manajemen strategi yang tepat untuk areal berbeda dalam kawasan/destinasi. Menurut Richardson dan Fluker (2004) dalam Pitana dan Diarta, (2009:144) didefinisikan sebagai berikut:

“An expantion of the VIMM with the addition of zoning and legislative link with the region’s management plant”

Proses VERP disusun berdasarkan pengalaman terhadap model lain. Tetapi menolak carrying capacity yang spesifik dan pembatasan jumlah kunjungan sebagai penentu kondisi sosial dan ekologi. Dalam VERP terjadi peralihan filosofis pengukuran, dari filosofis mengukuran yang maksimum ke filosofis pengukuran kondisi yang opotium, sehingga VERP menolak konsep carrying capacity dan limitasi.

7. Visitor Activity Management Program (VAMP)

VAMP merupakan system manajamen yang berusaha mengubah orientasi dari produk. Misalnya, objek dan kunjungan/wisatawan kepada orientasi peasaran dengan penekanan pada pemenuhan kebutuhan dan keinginan konsumen. Untuk diperlukan perubahan budaya pada manajemen pengelolaan destinasi. Visitor activity management program (VAMP) didefinisikan sebagai berikut:

“A management system with an emphasis on marketing, deciding what people want in a park, then developing and marketing specific

experience to match the wants” menurut Richardson dan Fluker (2004) dalam Pitana dan Diarta, (2009:145)

VAMP pertama kali diperkenalkan di Kanada tahun 1990-an dengan menekankan pada pengambilan keputusan tentang apa yang orang/wisatawan inginkan di objek/destinasi tertentu.

8. Tourism Opportunity Spectrum (TOS)

Butler dan Waldbrook (1991) dalam Pitana dan Diarta, (2009:145) memperkenalkan teknik perencanaan ekowisata yang dikenal dengan tourism Opportunity Spectrum (TOS). Secara detail, TOS menganut asumsi bahwa spectrum pengukuran dan penilaian indikator perencanaan yang digunakan haruslah:

1) Dapat diamati dan diukur

2) Secara langsung dapat dikendalikan dibawah manajemen control 3) Terkait langsung dengan preferensi wisatawan dan mempengaruhi

4) Mempunyai karakteristik dengan kondisi tertentu

2.1.7 PERDA Kota Serang No. 14 Tahun 2014 Tentang Rencana Induk