E. SILPA DAN PEMBIAYAAN
2. Pembiayaan Daerah
a. Keseimbangan Primer [Pendapatan- (Belanja-Belanja Bunga)]
Pada tahun 2018 keseimbangan primer yang terendah tercatat pada Kabupaten Bulungan. Hal tersebut dimungkinkan terjadi karena realisasi belanja APBD (tidak termasuk belanja bunga) pada tahun 2018 mengalami peningkatan cukup besar sedangkan realisasi pendapatan APBD mengalami peningkatan namun tidak terlalu besar sehingga masih belum mampu menutupi seluruh belanja.
Grafik 3.11
Keseimbangan Primer Kaltara Tahun 2016-2018 (Triliun Rp)
Sumber: LRA Un-audited Provinsi, Kabupaten, Kota se-Kaltara (diolah)
Dapat dilihat pada Grafik 3.11 bahwa pada tahun 2018 mayoritas pemda di Kaltara menunjukkan keseimbangan primer positif. Keseimbangan primer positif yang cukup besar tercatat pada Provinsi Kaltara. Hal tersebut terjadi karena ketika realisasi belanja Provinsi Kaltara tahun 2018 turun Rp. 126,385 milyar dibandingkan belanja tahun 2017, berbanding terbalik dengan meningkatnya realisasi pendapatan sebesar Rp. 177,009 milyar dibandingkan pendapatan tahun 2017. Penurunan belanja yang paling signifikan tercatat pada pos belanja modal.
0,0
0,1
-0,1
0,1
0,2
-0,2 -0,1
0,0
-0,1
0,2
0,0
-0,2 0,2
0,0
-0,1
0,0
0,0
0,0
Prov. Kaltara Tarakan Bulungan Malinau Nunukan Tana Tidung 2016 2017 2018
Annual Fiscal Regional Report
Kalimantan Utara
70
A. LAPORAN KEUANGAN PEMERINTAH KONSOLIDASIAN
Laporan Keuangan Pemerintah Konsolidasian (LKPK) yang disusun Kanwil Ditjen Perbendaharaan Provinsi Kalimantan Utara pada periode 2018 menunjukkan kondisi peningkatan realisasi baik dari sisi Belanja maupun Pendapatan dari realisasi tahun 2017.
Tabel 4.1
Tabel Laporan Realisasi Anggaran Konsolidasian Tingkat Wilayah Provinsi Kalimantan Utara Tahun 2018 (juta Rp)
Uraian 2018 2017
Pemerintah
Pusat Pemerintah
Daerah Konsolidasi Kenaikan Konsolidasi
PENDAPATAN NEGARA 2,226,177 7,304,320 3,200,802 48.19% 2,159,960
I. Penerimaan Perpajakan 2,045,885 497,268 2,543,153 146.93% 1,029,918 II. Penerimaan Negara Bukan Pajak 180,292 432,247 625,720 -37.17% 995,937
III. Penerimaan Hibah 31,929 31,929 -70.87% 109,594
IV Pendapatan Transfer 6,342,876 0 -100.00% 24,512
BELANJA NEGARA 9,466,651 7,247,479 10,384,436 0.22% 10,362,139
I. Belanja Pemerintah 3,136,956 6,523,910 9,660,866 0.92% 9,572,979
II. Transfer 6,329,695 723,569 723,569 18.78% 609,160
Surplus (Defisit) Anggaran (A - B) -7,240,474 56,841 -7,183,634 -12.42% -8,202,179
Pembiayaan 0 199,347 199,347 -53.47% 428,395
I. Penerimaan Pembiayaan Daerah 224,853 224,853 -48.36% 435,395 II. Pengeluaran Pembiayaan Daerah 25,506 25,506 264.37% 7,000 Sisa Lebih (Kurang) Pembiayaan Anggaran -7,240,474 256,188 -6,984,287 -10.16% -7,773,784
Sumber: LKPK Kanwil DJPb Provinsi Kalimantan Utara
Dari sisi pendapatan konsolidasian, nominal realisasi yang tecatat pada tahun 2018, mengalami kenaikan yang sangat besar sebesar 48.19%. Kenaikan ini disumbangkan oleh kenaikan penerimaan pajak yang mengalami peningkatan sebesar Rp1,513.2 miliar dibandingkan dengan tahun 2017 hal ini tidak berlaku untuk penerimaan bukan pajak (PNBP) yang mengalami penurunan sebesar
BAB IV
PERKEMBANGAN DAN ANALISIS
ANGGARAN KONSOLIDASIAN
Rp370.2 miliar. Walaupun PNBP mengalami penurunan yang cukup signifikan pada tahun 2018 tetapi pendapatan konsolidasian masih menunjukkan angka yang positif dikarenakan kenaikan pajak yang cukup besar.
B. PENDAPATAN KONSOLIDASIAN
Total pendapatan konsolidasian tingkat wilayah Provinsi Kalimantan Utara mengalami kenaikan dari Rp2,159.9 miliar pada tahun 2017 menjadi Rp3,200.8 miliar di tahun 2018.
1. Analisis Proporsi dan Perbandingan
Komposisi pendapatan konsolidasian pada tahun 2018, masih menempatkan kelompok perpajakan sebagai kontributor terbesar, diikuti PNBP dan Hibah.
Kelompok pendapatan transfer mengalami penurunan yg sangat signifikan, begitu pula dengan kelompok hibah.
Grafik 4.1
Komposisi Pendapatan Konsolidasian Tahun 2017-2018 dan Komposisi Pusat dan Daerah Tahun 2018 (Miliar Rp)
Sumber: LKPK Kanwil DJPb Provinsi Kalimantan Utara
Pada periode pelaporan dari sebagian besar pendapatan perpajakan berasal dari Pemerintah Pusat, yaitu sebesar Rp2,045.8 miliar dari total penerimaan pajak sebesar Rp2,543.2 miliar atau sebesar 80.45%. Kontribusi pemerintah daerah untuk penerimaan pajak ialah sebesar Rp497.3 miliar atau sebesar 19.55%. Kondisi yang sebaliknya terjadi pada PNBP Konsolidasian, dimana kontribusi Pemerintah Daerah lebih dominan. Untuk tahun 2018 pendapatan transfer konsolidasian mengalami penurunan menjadi Rp0 sementara Hibah dan Transfer seluruhnya bersumber dari Pemerintah Daerah. Pendapatan transfer daerah merupakan penerimaan yang berkontribusi paling besar terhadap pendapatan daerah dan proporsinya mencapai 86.84% dari totalnya.
1.030 2.543
996 110 626
0 25
2017 2018
Pajak PNBP Hibah Transfer
2.046
497
180 32 432
6.343
Pusat Daerah
Pajak PNBP Hibah Transfer
Annual Fiscal Regional Report
Kalimantan Utara
72 2. Analisis Perubahan
Grafik 4.2
Perbandingan Penerimaan Perpajakan Pusat dan Daerah Terhadap Penerimaan Perpajakan Konsolidasian Tahun 2018 (juta Rp)
Sumber: LKPK Kanwil DJPb Provinsi Kalimantan Utara
Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah memiliki sharing masing-masing sebesar 80,16% dan 19,84 atas penerimaan perpajakan dalam negeri yang terealisasi di tahun 2018. Sementara pajak pedagangan internasional seluruhnya bersumber dari Pemerintah Pusat. Pertumbuhan ekonomi di provinsi termuda ini terus berlanjut sejak 2017, hal ini bisa dilihat dari pertumbuhan penerimaan perpajakan. Kenaikan penerimaan pajak akan meningkatkan pengeluaran pemerintah sehingga dapat meningkatkan kenaikan produk domestik bruto.
3. Rasio Pajak
Rasio Pajak Konsolidasian terhadap PDRB di wilayah Kalimantan Utara tahun 2018 mengalami kenaikan menjadi 2.95% atau lebih dari 50% dibanding tahun 2017 hal ini berkorelasi positif dengan PDRB yang tercatat juga mengalami kenaikan yang signifikan.
Tabel 4.2
Tabel Rasio Pajak terhadap PDRB Kalimantan Utara Tahun 2017-2018 (Miliar Rp)
INDIKATOR 2018 2017
Penerimaan Perpajakan Konsolidasian 2.543 1.029
PDRB Kalimantan Utara 86.324 77.406
Rasio Pajak 2.95% 1.33%
Sumber: LKPK Kanwil DJPb Provinsi Kalimantan Utara & BPS Kaltim
2.008.965 36.920
497.268
Pajak DN Pajak Perdag. Int.
Pusat Daerah
Kenaikan PDRB di regional ini yang diikuti pula oleh kenaikan penerimaan perpajakan, hal ini mengindikasikan adanya aktivitas perekonomian di Kalimantan Utara mengalami pekembangan yang pesat. Indikator tersebut dapat dilihat dari meningkatnya penerimaan perpajakan dan PDRB Kalimantan Utara yang berbanding lurus dengan tingkat kenaikan rasio perpajakan.
4. Analisis Pertumbuhan Ekonomi Terhadap Perubahan Realisasi Pendapatan Konsolidasian
Tabel 4.3
Tabel Realisasi Pendapatan Konsolidasian Pusat dan Daerah Kalimantan Utara Tahun 2017-2018 ( Rp)
Uraian Penerimaan 2017 2018
Realisasi Realisasi Kenaikan
Perpajakan 1,029,917,529,414 2,532,571,556,854 146.93%
PNBP 995,937,152,463 625,719,545,776 -37.17%
Total 2,025,854,681,878 3,168,872,526,917 56.42%
PDRB ADHK 54,534,510,000,000 57,772,450,000,000 5.94%
Sumber: LKPK Kanwil DJPb Provinsi Kalimantan Utara & BPS Kaltara
Pada tahun 2018 PDRB ADHK Provinsi Kalimantan Utara mencapai Rp57.772 miliar atau dengan kata lain tumbuh 5.94 % dari PDRB Tahun 2017. Pada periode yang sama, pendapatan pajak yang terhimpun di regional Kalimantan Utara baik yang diterima Pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah tercatat mengalami kenaikan yang sangat signifikan, yaitu sebesar Rp1,513.2 miliar atau sebesar 146.93% dari tahun sebelumnya. Penurunan PNBP yang terjadi secara persentase terlihat sangat besar akan tetapi secara nominal tidak sebesar peningkatan yang terjadi pada penerimaan perpajakan sehingga neraca pendapatan daerah menjadi lebih baik di bandingkan dengan neraca tahun 2017. Total penerimaan yang mengalami peningkatan dan total ADHK yang juga mengalami peningkatan menunjukkan adanya peningkatan perekonomian di Kalimantan Utara dan akan membantu provinsi termuda ini dalam mewujudkan kemandirian daerah dalam menjalani otonomi daerah.
C. BELANJA KONSOLIDASIAN
Pada akhir tahun 2018, total realisasi Belanja Konsolidasian Pemerintah Pusat dan Daerah di wilayah Kalimantan Utara mengalami kenaikan sebesar 0,4% dari realisasi tahun sebelumnya. Nominal realisasi yang tercatat turun dari sebesar Rp10,362.1 miliar ditahun 2017 menjadi Rp10,399,9 miliar pada periode pelaporan.
Annual Fiscal Regional Report
Kalimantan Utara
74 1. Analisis Proporsi dan Perbandingan
Dalam 2 tahun terakhir, lebih dari separuh total realisasi belanja konsolidasian terserap pada sektor belanja operasional yaitu belanja pegawai dan belanja barang.
Pada tahun 2018 proporsi realisasi Belanja Operasional mengalami kenaikan dari sebesar 55.58% di tahun 2017, menjadi 64.14% pada tahun 2018. Hal lain yang dapat diketahui ialah porsi belanja produktif yaitu belanja modal mengalami hal yang sebaliknya. Realisasi belanja modal konsolidasian tercatat sebesar 39.13% pada tahun 2017, mengalami penurunan menjadi 33.33% di tahun 2018.
Grafik 4.3
Komposisi Belanja Konsolidasian Tanpa Transfer Antara Pusat dan Daerah Tahun 2018 (juta Rp)
Sumber: LKPK Kanwil DJPb Provinsi Kalimantan Utara
Porsi belanja yang bersumber dari pemerintah daerah senantiasa lebih dominan dari Pemerintah Pusat. Hal ini dapat dilihat dari belanja pemerintah daerah yang memiliki proporsi 65.48% dari keseluruhan belanja konsolidasi. Fokus belanja Pemerintah Pusat di tahun 2018 berada pada sektor produktif. Hal ini tercermin dari kontribusi Belanja Modal Pemerintah Pusat yang mencapai 47.71% dari total belanja pemerintah pusat. Dengan membesarnya belanja operasional dan berkurangnya belanja modal dapat membebani stabilitas keuangan daerah dan dapat menjadikan menghambat laju pembangunan daerah.
631.887 1.002.596 1.496.513 5.961
2.423.574 2.138.157 1.640.878 26.247 286.876 6.561 1.617
Pegawai Barang Modal Subsidi Hibah Bansos Belanja tak
terduga Pusat Daerah
2. Analisis Perubahan
Grafik 4.4
Komposisi Belanja Konsolidasian Tanpa Transfer Tahun 2017-2018 (juta Rp)
Sumber: LKPK Kanwil DJPb Provinsi Kalimantan Utara
Tren belanja pada periode 2017-2018, mengalami perubahan. Pada tahun 2017 belanja modal berkontribusi paling besar terhadap total belanja konsolidasian, tetapi pada tahun 2018 tren itu berubah dan belanja barang menjadi belanja dengan kontribusi terbesar terhadap belanja konsolidasian. Kenaikan belanja pada tahun 2018 ini terjadi pada hampir semua belanja kecuali belanja modal dan belanja hibah.
Belanja modal mengalami penurunan sebesar 7.04% dari tahun sebelumnya dan belanja hibah mengalami penurunan sebesar 32.75%. sedangkan yang mengalami kenaikan paling besar ialan belanja barang dengan kenaikan persentase sebesar 51.14% atau sebesar Rp1.062.7 miliar. Belanja modal memberikan kontribusi sebesar 33 % dari total keseluruhan belanja konsolidasian.
3. Analisis Rasio Belanja Operasi Konsolidasian Terhadap Total Belanja Konsolidasian
Tabel 4.4
Tabel Rasio Belanja Operasi Konsolidasian Terhadap Total Belanja Konsolidasian Kalimantan Utara Tahun 2017-2018 (Rp)
Uraian 2017 2018
Konsolidasian Rasio Konsolidasian Rasio
Belanja Operasi 5,618,911,041,519 54.23% 6,196,213,442,665 59.67%
Total Belanja & Transfer 10,362,139,107,142 10,384,435,546,693
Sumber: LKPK Kanwil DJPb Provinsi Kalimantan Utara
Rasio belanja operasi konsolidasian mengalami peningkatan dari 54.23% di tahun 2017 menjadi 59.67% di tahun 2018. Semakin meningkatnya rasio belanja ini, menunjukkan alokasi belanja yang terdiri dari belanja pegawai dan belanja barang
32%
Annual Fiscal Regional Report
Kalimantan Utara
76 Kalimantan Utara. Alokasi belanja operasi sebaiknya menunjukkan tren penurunan dari tahun ke tahun, serta memfokuskan belanja modal pada sektor-sektor produktif yang memiliki daya ungkit lebih besar terhadap perekonomian.
D. SURPLUS/DEFISIT
1. Komposisi Surplus/Defisit Konsolidasian dan Rasio
Pada tahun 2018, defisit pemerintah konsolidasian di regional Kalimantan Utara mencapai minus Rp7,183.6 miliar. Penyumbang terbesar defisit tersebut berasal dari APBN diwilayah Kaltara yang mencapai Rp7,240,5 miliar. Adapun agregat APBD Pemerintah Daerah se-Kalimantan Utara surplus sebanyak Rp50.8 miliar. Adapun Rasio defisit konsolidasian terhadap PDRB di Kalimantan Utara minus 8.32%.
Tabel 4.5
Tabel Rasio Surplus/Defisit Konsolidasian Terhadap PDRB Kalimantan Utara Tahun 2017 (Rp) Uraian
Surplus/Defisit Rasio
terhadap PDRB
Realisasi Komposisi
Pemerintah Pusat (7,240,474,315,909) 100.79% -8.39%
Pemerintah Daerah 56,840,671,935 (0.79)% 0.07%
Konsolidasian (7,183,633,643,974) 100.00% -8.32%
Sumber: LKPK Kanwil DJPb Provinsi Kalimantan Utara
Defisit pada tahun 2018 sebesar Rp7,183.6 miliar menurun dibandingkan defisit yang terjadi di tahun 2017, yaitu sebesar Rp Rp8,202.2 miliar. Begitu pula dengan persentasenya dari 10.60% menjadi 8.32% pada tahun 2018. Menurunnya defisit ini menunjukkan konsistensi pemerintah daerah untuk mewujudkan kemandirian keuangan daerah.
2. Perbandingan Rasio Surplus/Defisit Antar Kabupaten / Kota
Grafik 4.5
Grafik Surplus/Defisit Konsolidasi Tahun 2018 (Miliar Rp)
Sumber: LKPK Kanwil DJPb Provinsi Kalimantan Utara
-2.155 -1.913 754 -1.372 -1.951 -604
66
-41
0
-103
22 15
-2.089 -1.955 755 -1.475 -1.928 -589
-2.500
Provinsi Kaltara Bulungan Tarakan Nunukan Malinau Tana Tidung APBN APDB KONSOLIDASI
Sebagaimana diketahui sebelumnya bahwa kondisi kesimbangan umum atau surplus/defisit konsolidasian di wilayah Kalimantan Utara berada pada posisi minus (defisit). Jika dirinci per Kabupaten/Kota, defisit konsolidasian tertinggi terjadi di Pemprov. Kalimantan Utara sebesar minus Rp2,089 miliar. Kondisi yang berbeda dengan daerah lainnya terjadi di Kota Tarakan, dimana terjadi surplus konsolidasian sebesar Rp755 miliar yang bersumber dari surplus APBN yang tercatat sebesar Rp754 miliar pada akhir 2018. Terjadinya surplus diduga karena realisasi Belanja APBD yang hanya terserap 74.85% dari alokasi dan juga dikarenakan adanya penerimaan pajak yang menembus angka Rp2.000 miliar.
E. ANALISIS KONTRIBUSI PEMERINTAH DALAM PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO
Kontribusi belanja pemerintah dalam pembentukan PDRB tahun 2018 meningkat menjadi 10.53% dari 8.68% pada tahun 2017. Nominal belanja pemerintah pada tahun 2018 tercatat sebesar Rp9,086.6 miliar, naik dari realisasi belanja di tahun lalu yang mencapai Rp6,717.7 miliar. Kondisi ini menggambarkan kenaikan belanja pemerintah berkorelasi positif dengan laju PDRB di Kalimantan Utara mengalami pertumbuhan di tahun yang sama.
Tabel 4.6
Tabel Kontribusi Pemerintah dalam Pembentukan PDRB Kalimantan Utara Tahun 2018 (Rp)
URAIAN 2017 2018
PDRB (ADHB) 77,406,460,000,000 86,324,070,000,000
Belanja Pemerintah 6,717,754,991,838 9,660,866,161,454
Kontribusi Belanja Pemerintah 8.68% 11.19%
Investasi Pemerintah 3,644,131,530,275 25,506,000,000
Kontribusi Investasi Pemerintah 4.71% 0.03%
Sumber: LKPK Kanwil DJPb Provinsi Kalimantan Utara & BPS Kalimantan Utara
Kondisi untuk kontribusi investasi pemerintah tidak jauh berbeda dengan belanja pemerintah. Kontribusi investasi pemerintah juga terus mengalami penurunan, pada tahun 2017 investasi pemerintah berkontribusi sebesar 0.03%, mengalami penurunan sebesar 4.68% dari periode sama di 2017 sebesar 4.71%. Penurunan ini disebabkan karena kebijakan pemerintah daerah dalam penyertaan modal di BUMD yang dikurangi. Hal itu terjadi mungkin dikarenakan laba yang dihasilkan oleh BUMD yang mengecil atau pemda mempunyai kebijakan untuk melakukan penjajakan ektensifikasi penyertaan modal di BUMD lainnya.
Annual Fiscal Regional Report
Kalimantan Utara
78 Keunggulan dan potensi setiap daerah merupakan modal untuk mencapai tujuan bersama yang menjadi target RPJMN dan RPJMD, yaitu menciptakan masyarakat yang makmur dan sejahtera. Kemakmuran dan kesejahteraan diharapkan dapat terwujud secara merata sehingga tidak hanya dinikmati sekelompok atau segolongan masyarakat tapi dirasakan dan dinikmati seluruh kelompok masyarakat.
A. KEUNGGULAN REGIONAL
Sebagai provinsi termuda di Indonesia dan merupakan Beranda Negara karena termasuk wilayah perbatasan di sebelah utara, regional Kaltara memiliki berbagai keunggulan yang merupakan potensi dalam rangka mencapai tujuan-tujuan pembentukan provinsi ini.
1. Letak geografis, Provinsi Kalimantan Utara memiliki lokasi yang sangat strategis dan menguntungkan, karena daerahnya di lewati oleh alur pelayaran yang termasuk dalam kategori Alur Laut Kawasan Indonesia II (ALKI II) yang sering dilewati oleh kapal-kapal yang berlayar dari perairan Indonesia ke alur pelayaran internasional meliputi Kawasan Malaysia, Filipina, Brunei, Singapore dan negara-negara ASEAN, serta negara-negara Asia Pasifik seperti Hongkong, China, Korea Selatan dan Jepang. Lokasi geografis regional yang berada di jalur ini sangat mendukung pengembangan sarana transportasi dalam rangka kegiatan ekspor/perdagangan/transhipment antar daerah, antar pulau bahkan antar negara. Ekspor dengan tujuan benua Asia bisa langsung melalui selat Makassar ke Laut Cina Selatan untuk mencapai negara Tiongkok, India atau negara Asia Lainnya.
2. Provinsi Kalimantan Utara dianugerahi potensi perairan baik laut maupun perairan umum (sungai, rawa dan danau) yang besar. Provinsi Kalimantan Utara bersama-sama dengan Provinsi Sulawesi Tengah dan Sulawesi Utara, berhadapan langsung dengan Laut Sulawesi yang merupakan WPP-716 (Wilayah Pengelolaan Perikanan). Sumber daya ikan di WPP-716 diperkirakan
BAB V
KEUNGGULAN DAN POTENSI EKONOMI
SERTA TANTANGAN FISKAL REGIONAL
mempunyai potensi lestari sebanyak 333,60 ribu ton/tahun dan sampai sekarang belum dimanfaatkan secara optimal. Selain itu provinsi Kalimantan Utara dengan panjang pantai 3.995 km atau 0,5% dari total panjang pantai di Indonesia, tentunya merupakan potensi lahan untuk kegiatan budidaya perikanan baik perikanan darat, payau maupun laut.
Saat ini pemanfaatan potensi baru mencapai 20 %. Jika didukung kebijakan yang tepat (misalnya kredit usaha rakyat / dana bergulir untuk pengadaan/peningkatan sarana tangkap berupa kapal dan alat tangkap, maka diyakini bisa menjadi salah satu sektor andalan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, khususnya nelayan/pesisir. Pada saat mencapai kualitas dan kuantitas tangkapan yang layak ekspor, maka keberadaan kawasan industri pengolahan hasil laut dan pelabuhan ekspor akan menjadikan hasil laut sebagai komoditas ekspor andalan penghasil devisa
3. Luas wilayah daratan yang mencapai 63.888,7 km2 didominasi oleh kawasan pegunungan dan perbukitan dengan kontur kemiringan yang cukup terjal sebagian besar dimanfaatkan sebagai hutan lindung. Terdapat hutan yang mendunia dengan sebutan Heart of Borneo yaitu Hutan Lindung Kayan Mentarang yang luasnya + 1,5 juta Ha, yang terletak di 2 Kabupaten yaitu Kabupaten Malinau dan Kabupaten Nunukan. Meski didominasi kawasan pegunungan dan perbukitan, Provinsi Kalimantan Utara juga memiliki lahan pertanian potensial dengan luas sebesar 115.721,57 Ha (RPJMD 2016-2021) di mana luas lahan yang belum termanfaatkan secara optimal mencapai 101.456,51 Ha. Tentunya hal ini menjadi suatu hal memerlukan fokus untuk terus dikembangkan dengan strategi perluasan dan pengembangan areal dan diikuti dengan upaya 1) pengembangan industri pengolahan hasil pertanian dan perkebunan yang menjadi unggulan, misalnya pabrik kakao dan kelapa serta pabrik CPO serta produk turunannya; dan 2) pembangunan infrastruktur yang membuka konektivitas dari daerah pertanian dan perkebunan ke daerah industri pengolahan atau ke pelabuhan pengiriman tujuan ekspor.
Selain keunggulan diatas yang bersifat gifted, Kalimantan Utara pada tahun 2018 mengulang prestasi tahun 2017, yaitu sebagai ‘Provinsi yang angka pertumbuhan ekonominya tertinggi di seluruh Provinsi di Pulau Kalimantan’ (Humas Pemprov Kaltara, 2019). Berdasarkan dari data BPS pertumbuhan ekonomi (y-o-y) pada triwulan IV tahun 2018 terhadap tahun 2017 mencapai 7.69% sedangkan pertumbuhan ekonomi (c-to-c) mencapai angka 6.04%.
Annual Fiscal Regional Report
Kalimantan Utara
80 Meningkatnya angka pertumbuhan ekonomi menunjukkan barang dan jasa yang diproduksikan oleh masyarakat bertambah atau terjadinya kenaikan kapasitas produksi barang dan jasa yang terbentuk didalam kenaikan pendapatan domestik bruto. Menurut Sadono Sukirno pertumbuhan ekonomi tersebut merupakan salah satu indikator keberhasilan pembangunan. Dengan demikian makin tingginya pertumbuhan ekonomi biasanya makin tinggi pula kesejahteraan masyarakat, meskipun terdapat indikator yang lain yaitu distribusi pendapatan.
B. SEKTOR UNGGULAN
Sektor unggulan suatu daerah dapat diidentifikasi dengan berbagai cara, salah satunya dengan mencermati lapangan usaha yang menjadi penyumbang terbesar Produk Domestik Regional Bruto. Disamping itu dapat dipertimbangkan pula tren perkembangan sektor tersebut dalam perekonomian regional atau proyeksi berdasarkan kondisi dan perkembangan terkini perekonomian global, nasional maupun regional. Bab ini akan membahas beberapa sektor yang memberikan kontribusi besar terhadap PDRB di wilayah Provinsi Kalimantan Utara. Berikut struktur PDRB triwulan IV 2018.
Grafik 5.1
PDRB menurut lapangan usaha atas harga Konstan tahun 2018 (miliar rupiah)
Sumber: Data BPS, diolah
Berdasarkan grafik diatas 4 besar kontributor PDRB ialah sektor pertambangan dan penggalian; pertanian, kehutanan, dan perikanan; konstruksi; dan perdagangan.
Sektor-sektor tersebut berkontribusi sebesar 68.19% terhadap PDRB Kalimantan Utara.
38
401453395456316568361.3791.6902.9513.7265.4026.2497.081 9.977 16.088 Pengadaan Listrik dan Gas
Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah,Jasa Kesehatan dan Kegiatan SosialJasa Keuangan dan AsuransiJasa PerusahaanJasa LainnyaReal Estat Penyediaan Akomodasi dan Makan MinumPertanian, Kehutanan dan PerikananTransportasi dan PergudanganPertambangan dan PenggalianAdministrasi PemerintahanInformasi dan KomunikasiIndustri PengolahanJasa PendidikanPerdaganganKonstruksi
1. Pertambangan dan Penggalian
Tabel 5.1
Pertumbuhan pertambangan dan penggalian tahun 2016-2018 (miliar rupiah)
Lap Usaha Nominal Pertumbuhan
2016 2017 2018 2017 2018
Pertambangan &
penggalian 14,545.60 15,443.86 16,088.37 6.18% 4.17%
Sumber: Data BPS, diolah
Struktur perekonomian Kalimantan Utara pada tahun 2018 didominasi oleh lapangan usaha pertambangan dan penggalian dengan kontribusi sebesar 27.85%.
pertumbuhan dari tahun ke tahun (y-o-y) juga selalu mengalami peningkatan. Pada tahun 2016 sektor ini berkontribusi terhadap PDRB sebesar Rp14,545.60 miliar dan meningkat menjadi 15,443.86 miliar pada tahun 2017. Tahun 2017 sektor ini mengalami pertumbuhan sebesar 6.18%. Begitu pula pada tahun berikutnya sektor ini mengalami peningkatan kontribusi terhadap PDRB menjadi Rp16,088.37 miliar atau mengalami mengalami pertumbuhan sebesar 4.17% dibanding tahun sebelumnya.
Lapangan usaha pertambangan dan penggalian mengalami peningkatan karena dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu permintaan penggalian yang meningkat dan peningkatan komoditas batubara. Permintaan penggalian lainnya (pasir, batu dll) mengalami peningkatan memberikan dampak terjadinya peningkatan terhadap produksi. Komoditas batubara juga mengalami pertumbuhan yang membaik hal ini disebabkan oleh adanya kenaikan harga batubara sehingga mendorong peningkatan volume produksi batubara. Selain itu juga disebabkan karena semakin menguatnya permintaan batubara dari negara mitra dagang utama seperti India dan Tiongkok. Komoditas batubara memberikan kontribusi yang sangat besar terhadap lapangan usaha Penggalian dan Pertambangan. Berikut tabel besaran kontribusi batubara.
Tabel 5.2
Kontribusi Batubara dan Migas Terhadap Pertambangan dan Penggalian (Miliar Rupiah) No Keterangan Pertambangan
dan Penggalian Batubara
Dari data tersebut komoditas batubara merupakan kontributor utama terhadap lapangan usaha penggalian sehingga komoditas ini memegang peranan yang sangat besar terhadap pertumbuhan perekonomian di Kalimantan Utara. Batubara
Annual Fiscal Regional Report
Kalimantan Utara
82 dan migas memberikan kontribusi sebesar Rp11,028.37 miliar atau 68.55% dari total kontribusi terhadap pertambangan dan penggalian
2. Pertanian Kehutanan dan Perikanan
Potensi lapangan usaha di sektor pertanian, kehutanan dan perikanan sangat besar.
Untuk pertanian dan perkebunan diseluruh kabupaten di Kalimantan Utara mempunyai lahan yang sangat potensial. Berdasarkan data dari BPS luas lahan sawah di Kalimantan Utara sebesar 30.445.50 hektar (Provinsi Kalimantara Utara Dalam Angka 2018). Luas lahan sawah ini mengalami peningkatan dibanding tahun 2016 yang seluas 30.269 hektar.
Berikut tabel rincian luas lahan sawah di Kalimantan Utara.
Tabel 5.3
Luas Lahan Sawah di Provinsi Kalimantan Utara Per Kab/Kota (dalam hektar) No Kabupaten/ Kota Sawah Irigasi Sawah non irigasi Jumlah
1 Malinau 2,067.20 7,743.00 6,810.20
2 Bulungan 10,021.30 7,430.00 17,451.30
3 Tana Tidung 205.50 204.00 409.50
4 Nunukan 5,334.60 377.00 5,711.60
5 Tarakan 69.90 - 62.90
Total 17,691.50 12,754,00 30,445.50
Sumber: Data BPS, (Provinsi Kalimantan Utara dalam angka 2018)
Kabupaten Bulungan memiliki lahan persawahan paling luas di antara daerah di Kalimantan Utara dengan luas 17,451.30 hektar atau 57% dari keseluruhan wilayah persawahan di Kalimantan Utara, sedangkan lahan paling kecil terletak di Kota Tarakan. Hal ini disebabkan pembangunan Kota Tarakan tidak untuk diprioritaskan sebagai lahan pertanian melakukan sebagai sentral bisnis dan industri di Kalimantan Utara.
Untuk lahan perkebunan dan ladang Kalimantan Utara memiliki luas lahan 196,617 hektar. Berikut tabel rincian luas kebun dan ladang di Kalimantan Utara.
Tabel 5.4
Luas Lahan Kebun dan Ladang di Provinsi Kalimantan Utara Per Kab/Kota (dalam hektar) No Kab/ Kota Tegal/Kebun Ladang/Huma Sementara tidak
diusahakan
1 Malinau 6,231.00 4,743.00 -
2 Bulungan 11,674.00 29,899.00 102,014.00
3 Tana Tidung 567.00 408.00 1,522.00
4 Nunukan 13,064.00 3,565.00 17,338.00
5 Tarakan 4,924.00 - 668.00
Total 36,460.00 38,615.00 121,542.00
Sumber: Data BPS, (Provinsi Kalimantan Utara dalam angka 2018)
Luas kebun dan ladang dari tahun 2016 ke tahun 2017 tidak mengalami perubahan berarti, pada tahun 2016 lahan kebun dan ladang di Kalimantan Utara seluas 75,068 hektar menjadi 75,075 hektar pada tahun 2017. Sedangkan lahan menganggur mengalami penurunan yang sangat besar, yaitu 47,966 hektar atau 28.3%.
Sedangkan untuk tahun 2018 potensi untuk areal tanam baru untuk padi luasnya mencapai 13,770 hektar sedangkan untuk jagung luasnya mencapai 6,420 hektar sehinggal total area tanam baru kedua tanaman tersebut mencapai 20,200 hektar.
Berikut tabel rincian area tanam baru di Kalimantan Utara.
Tabel 5.5
Area Tanam Baru Padi dan Jagung di Provinsi Kalimantan Utara (dalam hektar) No Keterangan Kab. Bulungan Kab. Malinau Kab. Nunukan
1 Padi 10.170 1.000 2.100
2 Jagung 3.360 750 1.000
Total 13.530 1.750 3.100
sumber: Balai Besa Peramalan Organisme Pengganggu Tumbuhan (BPPOT) dimuat dalam tribunnews, 2019)
sumber: Balai Besa Peramalan Organisme Pengganggu Tumbuhan (BPPOT) dimuat dalam tribunnews, 2019)